7cloud.asia – Momen Ramadan dan Idulfitri yang secara tren menjadi momen puncak geliat ekonomi Indonesia kemungkinan tidak akan sesuai harapan.
Pemerintah melansir tahun ini jumlah pemudik turun sebesar 24,34 persen dari 193,6 juta orang tahun lalu menjadi 146,48 juta orang saja.
Lesunya perekonomian juga diprediksi Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia. Tahun ini, pertumbuhan penjualan retail yang biasa tumbuh dua digit bisa jadi hanya sekitar satu digit.
Masyarakat pun lebih memilih untuk menghemat pengeluarannya. Hal ini, menurut ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, terjadi karena banyaknya sentimen negatif dari dalam negeri terjadi sejak awal tahun.
Tengok saja tren pelemahan daya beli, perlambatan industri manufaktur, pemutusan hubungan kerja, hingga defisit kas negara di awal tahun.
Perang dagang yang tidak kalah mengkhawatirkan
Belum usai kelesuan ekonomi nasional, perdagangan Indonesia berisiko tertekan akibat dari kebijakan tarif resiprokal pemerintah Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump 2 April lalu.
Belakangan, Trump menunda kebijakan ini selama 90 hari. Namun, penundaan ini tidak berlaku untuk China karena dinilai bersikap menantang.
Bagi AS, Indonesia merupakan salah satu negara yang dianggap merugikan karena defisit yang cukup tinggi. Karena itu bea masuk impor produk Tanah Air ke Amerika Serikat ditingkatkan menjadi 32 persen.
Awalnya tarif komoditas impor Indonesia ke Amerika Serikat dari 0,12 hingga 14,73 persen.
AS merupakan ceruk perdagangan internasional Indonesia dengan tren cuan yang sudah berlangsung sejak berdekade lalu. Bahkan, sejak 2020, Indonesia mencatatkan surplus 10 miliar dolar dari perdagangan dengan negara itu.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus memperkirakan dampak langsung tarif impor AS ke pertumbuhan ekonomi Indonesia tak terlalu besar, sekitar -0,05 persen.
Yang justru perlu kita perhatikan, kata dia, adalah efek tidak langsung akibat terganggunya ritme rantai pasok barang di seluruh dunia internasional.
“AS merupakan salah satu pusat ekonomi dunia, jadi pertumbuhan perdagangan internasional pasti tertekan baik untuk negara yang terkena tarif resiprokal ataupun yang tidak kena seperti Australia dan Rusia,” kata Ahmad.
Gaung perang dagang yang dilantunkan AS juga tidak serta merta membuat slogan Trump “make America great again” (membuat AS hebat kembali) tercapai.
“Defisit perdagangan mereka tidak akan pulih jika mereka berkukuh menjalankan kebijakan tarif tinggi ini. Karena mereka juga memiliki kanker sendiri pada CAD (defisit neraca perdagangan) dan defisit bujet mereka yang butuh pembenahan besar dari dalam diri mereka,” kata Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Chairil Abdini.
Oleh karena itu, Chairil mengatakan semua negara dunia harus bersiap berperang dagang panjang yang penuh ketidakpastian setidaknya selama Presiden Donald Trump menjabat.
Indonesia ketinggalan langkah
Akibat perang dagang, dunia berguncang tidak terkecuali Indonesia. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh rekor terburuk sepanjang masa di angka 17.261 per dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan sempat anjlok hingga kembali menyentuh level di bawah 6.000.
Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM) Teuku Riefky mengatakan pemerintah perlu segera bernegoisasi dengan Amerika Serikat untuk memberi kepastian tarif dan menenangkan pasar domestik.
Negosiasi langsung perlu segera dilakukan karena perundingan ini tidaklah bisa selesai dalam hitungan hari.
Apalagi, Indonesia ketinggalan satu-dua langkah dibandingkan negara lain karena kursi duta besar untuk AS telah kosong selama dua tahun setelah ditinggal Rosan Roeslani yang kala itu diangkat menjadi Wakil Menteri BUMN.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Andi Ibnu Masri Rusli (Economy Editor, The Conversation Indonesia)

Leave a Reply