Tag: lingkungan

  • Masalah Lingkungan Terbesar di Tahun 2023: Pemanasan Global (1)

    Masalah Lingkungan Terbesar di Tahun 2023: Pemanasan Global (1)

    7cloud.asia – Perubahan iklim yang kini sudah mengarah menjadi krisis iklim mempunyai banyak faktor yang berperan dalam memburuknya kualitas lingkungan.

    Namun demikian, ada beberapa faktor penyebab perubahan iklim yang butuh perhatian lebih besar dibandingkan faktor lainnya.

    Berikut adalah beberapa masalah lingkungan terbesar di planet Bumi, mulai dari penggundulan hutan dan hilangnya keanekaragaman hayati hingga limbah makanan dan fast fashion yang memicu perubahan iklim.

    Berbagai masalah lingkungan ini akan kita turunkan dalam tulisan bersambung mulai hari ini. 

    Baca: Mungkinkah dunia capai emisi nol pada 2050?

    Pemanasan global yang dipicu emisi karbon yang dihasilkan dari bahan bakar fosil menjadi masalah lingkungan yang menduduki posisi paling atas. 

    Dilansir earth.org, pada Mei 2023, kadar PPM CO2 (bagian per juta) berada pada angka 420,00 dan suhu rata-rata global naik sebesar 1,15 derajat Celcius jika dibandingkan suhu di era pra-industri.

    Tidak diragukan lagi, hal ini merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar dalam hidup kita: ketika emisi gas rumah kaca menyelimuti bumi, panas matahari terperangkap dan menyebabkan pemanasan global.

    Terakhir kali tingkat karbon dioksida (CO2) di planet Bumi setinggi saat ini adalah lebih dari 4 juta tahun yang lalu.

    Baca: Perkebunan monokultur disebut sebagai pemicu deforestasi utama

    Meningkatnya emisi gas rumah kaca telah menyebabkan peningkatan suhu global yang cepat dan terus-menerus, yang pada gilirannya menyebabkan bencana besar di seluruh dunia.

    Mulai dari Australia dan Amerika Serikat yang mengalami kebakaran hutan paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah.

    Hama terutama hama belalang berkeliaran di berbagai belahan dunia. Afrika, Timur Tengah dan Asia, kehancuran tanaman pangan, dan gelombang panas di Antartika yang menyebabkan suhu naik di atas 20C untuk pertama kalinya.

    Para ilmuwan terus-menerus memperingatkan bahwa planet ini telah melewati serangkaian titik kritis yang dapat menimbulkan konsekuensi bencana.

    Baca: Emisi karbon cetak angka tertinggi pada 2023

    Berbagai masalah lingkungan yang dilaporkan terjadi antara lain adalah meningkatnya pencairan lapisan es di kawasan Arktik.

    Para pakar lingkungan juga mencatat, mencairnya lapisan es Greenland dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mempercepat kepunahan massal keenam.

    Dan, meningkatkan penggundulan hutan di Amazon. hutan hujan, hanyalah beberapa di antara masalah lingkungan yang harus segera jadi perhatian. 

    Sumber: earth.org baca artikel asli di sini

  • TPA Rawa Kucing Terbakar, DLH Tangerang Ajak Masyarakat Zero Waste

    TPA Rawa Kucing Terbakar, DLH Tangerang Ajak Masyarakat Zero Waste

    7cloud.asia – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Tangerang masih terbakar. Perlu gaya hidup zero waste dapat bermanfaat untuk mengurangi efek negatif dari penumpukan sampah.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Tihar Sopian seperti yang dikutip Antaranews pada Selasa (24/10/2023).

    “Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk mulai memasifkan penerapan gaya hidup zero waste atau minim sampah. Penerapan gaya hidup zero waste sangat penting dilakukan untuk mengurangi penumpukan sampah di lingkungan sekitar,” urai Tihar.

    baca juga: kebakaran tpa rawakucing tangerang masuki hari ke-5

    Pihaknya, lanjut Tihar, telah mensosialisasikan pentingnya penerapan gaya hidup zero waste. 

    Sosialisasi yang dilakukan seperti pengolahan sampah organik menjadi pupuk, pengolahan sampah plastik menjadi bio solar, tabungan melalui bank sampah, atau hal lainnya yang bernilai ekonomis.

    “Penerapan zero waste juga terbilang sederhana. Masyarakat hanya perlu terbiasa memilah sampah, mendaur ulang sampah, dan memanfaatkan sampah menjadi barang yang lebih berguna,” tambahnya.

    Sementara itu, Sekretaris DLH Kota Tangerang, Dadang Basuki mengatakan pihaknya kini membuat tempat pembuangan sampah darurat sementara.

    Tempat seluas dua hektare ini berada di sisi utara dekat pintu 1 TPA Rawa Kucing. Tujuannya agar sampah yang diangkut petugas dapat tetap dibuang meski TPA Rawa Kucing terbakar.

    “Meski berada di kawasan TPA Rawa Kucing tetapi tidak mengganggu proses pemadaman petugas karena lokasinya aman dari titik api,” ujar Dadang.

    Meski TPA terbakar, tapi Dadang memastikan pengangkutan sampah oleh petugas tetap berjalan seperti biasanya. Sehingga tak ada penumpukan di jalan maupun lokasi lainnya.

    “DLH memastikan pengangkutan sampah berjalan seperti biasa dan normal. Kita hanya mengatur lokasi pembuangan agar tak mengganggu proses pemadaman,” jelasnya.

    baca juga: periode juni-oktober 2023 terjadi 14 kali kebakaran tpa

    Untuk menghindari penumpukkan sampah di lokasi sementara, Dadang juga mengajak masyarakat bisa memilah sampah secara mandiri.

    Sebab, lanjut Dadang, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat mencapai 1.500 ton per hari.

    “Ada program bank sampah dan TPST yang bisa dimanfaatkan warga untuk mengelola sampah sehingga mengurangi pembuangan ke lokasi darurat,” ungkapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Jakarta Hujan, Kualitas Udara Tak Kunjung Membaik

    Jakarta Hujan, Kualitas Udara Tak Kunjung Membaik

    7cloud.asia – Meski beberapa wlayah di Jakarta pada Selasa (24/10/2023) malam diguyur hujan, tetapi tidak membuat kualitas udara membaik. Jakarta masih dalam peringkat 10 besar kualitas udara terburuk di dunia.

    Dilihat dari situs IQAir pada pukul 08.45 WIB, Jakarta berada pada rangking 7 dengan indeks kualitas udara berada pada angka 165 dan status udara tidak sehat.

    Di situs tersebut terpantau di Jakarta nilai konsentrasi polutan utamanya PM 2,5  yang artinya 16.4 kali panduan kualitas udara tahunan WHO.

    Sementara posisi pertama ditempati kota Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara 299 dan urutan kedua adalah New Delhi, India dengan indeks kualitas udara 219.

    Posisi ketiga ditempati kota Hanoi, Vietnam dengan indeks kualitas udara 179. Dan posisi keenam, tepat diatas Jakarta adalah kota Beijing, China dengan indeks kualitas udara 169.

    baca juga: ombudsman butuh langkah komprehensif untuk atasi polusi udara

    Data kualitas udara didapat dari sejumlah kontributor, seperti KLHK, BMKG serta US Department of State.

    Dengan kualitas udara seperti itu, IQAir menyarankan agar masyarakat dapat menggunakan masker saat berada diluar.

    Selain itu, jika memiliki penyaring udara maka dapat menyalakan penyaring udara agar udara dapat jernih kembali.

    Masyarakat juga dihimbau untuk menutup jendela agar dapat menghindari udara kotor dari luar.

    Masyarakat juga dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas di luar ruangan. Apalagi untuk kelompok usia rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan orangtua.

    baca juga: akhir pekan jakarta masuk 3 besar kota terpolusi dunia

    Sementara itu, Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR mengajak masyarakat untuk mengenakan masker kain yang dilapisi filter untuk particulate matter (PM) 2.5 saat polusi udara.

    “Ini bisa jadi solusi murah pada masyarakat yakni masker kain ditambah filter untuk PM 2.5. Ini banyak di toko daring jual filter untuk PM 2.5 harganya Rp10 ribu,” ujar Agus dalam konferensi pers daring di Jakarta, Rabu (23/08/2023).

    Cara ini dianggap dapat melakukan filtrasi sebanyak 95 – 99 persen. Selain itu, masyarakat juga bisa menggunakan N95, KF94 dan masker bedah.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Marak Terjadi Saat Kemarau, KLHK Terapkan 3 Klaster Tangani Karhutla

    Marak Terjadi Saat Kemarau, KLHK Terapkan 3 Klaster Tangani Karhutla

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerapkan tiga klaster utama dalam menangani karhutla secara permanen.

    Selain adanya Instruksi Presiden (Inpres) No.3/2020 tentang Penanggulangan Karhutla, penerapan tiga klaster utama dalam solusi permanen penanganan karhutla menjadi penyebab turunnya jumlah hutan yang terbakar dan titik panas.

    Hal ini dijelaskan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Laksmi Dhewanthi seperti yang dilansir Antaranews.

    “Solusi permanen penanganan karhutla yang pertama berupa upaya penanggulangan berdasarkan analisis cuaca. BMKG sudah menginformasikan bahwa kita akan mengalami kemarau kering jadi sebelum masa krisis sudah dilakukan upaya seperti teknologi modifikasi cuaca,” jelas Laksmi.

    baca juga: kabut asap menyelimuti kota padang imbas kebakaran hutan dan lahan dari empat provinsi

    Klaster kedua yaitu pengendalian operasional dalam sistem Satgas Patroli terpadu di tingkat wilayah yang diperkuat oleh masyarakat, TNI, Polri, BNPB maupun BPBD.

    Lalu klaster terakhir yaitu pembinaan tata kelola lanskap, khususnya dalam ketaatan pelaku konsesi, praktik pertanian, dan penanganan lagan gambut.

    “Kita melakukan upaya pengelolaan lanskap antara lain praktek pembukaan lahan tanpa bakar, kalau pun dengan bakar itu ada teknisnya. Jadi teknisnya membakar balik dan sebagainya agar api bisa terkendali sehingga kebakaran hutan tidak sebesar atau tidak meluas,” ujarnya.

    Ketiga klaster tersebut dianggap telah berhasil menurunkan jumlah lahan yang terbakar dan sebaran titik panas (hotspot) di Indonesia.

    “Alhamdulillah, kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, sebetulnya saat ini dalam kondisi kering dan suhunya lebih tinggi dari 2019, tapi kalau kita lihat jumlah lahan yang terbakar dan kejadian atau sebaran hotspot itu lebih rendah dari pada 2019,” urai Laksmi.

    baca juga: marak kebakaran hutan klhk segel lahan milik pengusaha singapura

    Memang, jumlah hotspot masih dalam proses perhitungan, namun ia yakin jumlah sebaran di tahun 2023 ini jauh berkurang dari sebaran hotspot yang mencapai 5.106 titik pada periode 14-20 September 2019..

    Selain itu, Laksmi menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang selama ini terjadi di Indonesia sangat berdampak terhadap produksi emisi gas rumah kaca.

    Pada tahun 2015 dan 2019 dengan jumlah sebaran karhutla tinggi sangat berkorelasi terhadap peningkatan produksi emisi gas rumah kaca yang juga naik signifikan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Awas, Suhu Panas Hingga 37 Derajat Celcius Bakal Melanda Kota Ini

    Awas, Suhu Panas Hingga 37 Derajat Celcius Bakal Melanda Kota Ini

    7cloud.asia – Suhu panas masih melanda sejumlah kota besar di Indonesia. Bahkan di Surabaya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu udara mencapai 37 derajat celsius.

    Dari laman BMKG, suhu terendah di Kota Pahlawan tersebut berkisar antara 25 derajat celsius dengan tingkat kelembaban 50 hingga 80 persen.

    Selain Surabaya, BMKG juga memperkirakan kota Semarang, Banjarmasin, Makassar mengalami cuaca panas dengan suhu 35 derajat celsius.

    Sedangkan suhu terendah diperkirakan terjadi di Bandung berkisar antara 18 hingga 31 derajat celsius. Kelembaban udara berkisar antara 45 hingga 90 persen.

    baca juga: bmkg: waspada suhu panas landa di kota ini

    Meski demikian, peluang hujan masih terjadi di beberapa wilayah. Bahkan hujan lebat akan mengguyur wilayah Aceh, Bengkulu, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kep. Bangka.

    Hujan lebat juga diperkirakan mengguyur wilayah Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Papua.

    Hujan disertai kilat/petir atau hujan badai juga berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.

    Kondisi ini juga diprediksi terjadi di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Papua Barat.

    baca juga: intensitas hujan tinggi waspada banjir dan longsor di wilayah ini

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, kepala BMKG, Dwikorita Karnawati memperkirakan awal musim hujan akan mundur hingga bulan November 2023.

    Namun, musim hujan kali ini tidak berlangsung serentak di semua wilayah Indonesia.

    “Musim Hujan pada tahun 2023/2024 umumnya akan tiba lebih lambat dibandingkan dengan biasanya. Curah hujan yang turun pada periode musim hujan 2023/2024 pada umumnya diprediksi akan normal dibandingkan biasanya,” urai Dwikorita beberapa waktu lalu.

    Sementara periode puncak musim hujan sendiri diprediksi umumnya terjadi di Januari dan Februari 2024. Tetapi ada beberapa daerah yang diprediksi mengalami curah hujan yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan biasanya.

    baca juga: bmkg musim kemarau berlangsung hingga akhir oktober

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan awal musim hujan umumnya berkaitan erat dengan peralihan Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi Angin Baratan (Monsun Asia).

    Nah, prediksi BMKG, Angin Timuran diprediksi masih tetap aktif hingga November 2023, utamanya di Indonesia bagian Selatan. Sementara itu, Angin Baratan diprediksi akan datang lebih lambat dari normalnya.

    “Sejak mulai muncul pada pertengahan bulan Mei 2023, gangguan iklim El Nino terus berkembang mencapai level El Nino moderat sejak akhir Juli 2023 dan saat ini Indeks El Nino berada pada nilai +1.504. Kondisi El Nino moderate tersebut diprediksi tetap bertahan hingga awal 2024,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Kegagalan Pengambil Kebijakan (2)

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Kegagalan Pengambil Kebijakan (2)

    7cloud.asia – Ekonom ternama, Nicholas Stern menyebut, masalah terbesar terkait lingkungan yakni perubahan iklim salah satunya disebabkan oleh kegagalan penerapan pajak karbon. 

    Selama beberapa tahun belakangan, para ekonom dan pemerhati lingkungan mendesak para pembuat kebijakan untuk menerapkan pajak karbon pada aktivitas yang memicu emisi gas rumah kaca.

    Seperti diketahui emisi gas rumah kaca merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar yang dihadapi penghuni planet bumi. Karena itulah pajak karbon dibutuhkan.

    Jika pajak karbon terhadap kegiatan yang memicu emisi gas rumah kaca tidak dilakukan,  maka ini disebut sebagai kegagalan pasar terbesar.

    Baca Juga: Ahli Geologi: Penataan Kawasan Harus Berbasis Informasi Bahaya Geologi

    Pasalnya pajak karbon akan merangsang inovasi dan pengembangan teknologi rendah emisi karbon.

    Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cepat dan efektif, pemerintah tak hanya harus menaikkan pembiayaan untuk program dan inovasi ramah lingkungan guna menurunkan biaya sumber energi rendah karbon. 

    Pengambil kebijakan juga perlu mengadopsi serangkaian kebijakan lain yang mengatasi kegagalan pasar yang antara lain dengan penerapan pajak karbon.

    Pajak karbon nasional saat ini diterapkan di 27 negara di seluruh dunia, termasuk berbagai negara di UE, Kanada, Singapura, Jepang, Ukraina, dan Argentina.

    Namun, menurut laporan Penggunaan Pajak Energi OECD 2019, struktur pajak saat ini tidak lagi sesuai dengan profil polusi sumber energi.

    Baca Juga: Penduduk Dunia Dekati 10 Miliar Orang, Bagaimana Pemenuhan Kebutuhan Pangannya?

    OECD menyatakan bahwa pajak karbon tidak cukup tegas mengatur produksi batu bara, meskipun pajak karbon terbukti efektif mengatur industri pembangkit listrik. 

    Pajak karbon telah diterapkan secara efektif di Swedia; pajak karbonnya sebesar 127 USD per ton dan telah mengurangi emisi sebesar 25% sejak tahun 1995.

    Berkat pajak karbon ini perekonomian Swedia telah berkembang sebesar 75% dalam periode yang sama.

    Selain itu, organisasi-organisasi semacam Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak cocok untuk menangani krisis iklim: organisasi tersebut dibentuk untuk mencegah terjadinya perang dunia lagi dan tidak sesuai dengan tujuan pengurangan emisi karbon dunia. 

    Ini karena, anggota PBB tidak diberi mandat untuk mematuhi saran atau rekomendasi apapun yang dibuat oleh organisasi tersebut.

    Baca Juga: Agar Reuse, Reduce dan Recycle Sampah Anorganik Nggak Sekadar Slogan

    Salah satu contoh nyata adalah Perjanjian Paris, sebuah kesepakatan bersejarah dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim, menyatakan bahwa negara-negara anggorta perlu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan.

    Hal ini mendesak dilakukan agar kenaikan suhu global berada di bawah 2C pada tahun 2100, dan idealnya di bawah 1,5C.

    Namun penandatanganannya bersifat sukarela, dan tidak ada rujukan nyata sanksi yang bisa dijatuhkan jika ada yang tidak patuh.

    Lebih jauh lagi, isu keadilan iklim masih menjadi isu yang diperdebatkan negara-negara para pihak.

    Pasalnya, negara-negara berkembang diizinkan mengeluarkan lebih banyak emisi agar dapat berkembang hingga pada titik di mana mereka dapat mengembangkan teknologi untuk mengurangi emisi.

    Namun, hal ini memungkinkan beberapa negara, seperti Tiongkok, untuk memanipulasi kondisi ini.

  • BMKG: Cuaca di Jakarta Cerah Berawan Sepanjang Hari

    BMKG: Cuaca di Jakarta Cerah Berawan Sepanjang Hari

    7cloud.asia – Cuaca di sebagian besar wilayah Jakarta pada Kamis (26/10/2023) ini diperkirakan cerah berawan sepanjang hari.

    Dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kamis pagi diprediksi seluruh wilayah DKI Jakarta cerah berawan.

    Kondisi cuaca masih sama pada siang hari kecuali Jakarta Selatan dan Jakarta Timur yang akan berawan.

    Kemudian sebagian besar wilayah Jakarta diperkirakan cerah berawan pada sore hari.

    baca juga: bmkg waspada suhu panas landa di kota ini

    Sementara Jakarta Selatan yang akan berawan dan Jakarta Timur yang berpotensi berawan tebal. Pada malam hari seluruh wilayah ibukota akan cerah berawan.

    Lalu pada Jumat (27/10) dini hari cuaca cerah berawan diperkirakan terjadi di Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Sedangkan Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu akan diprediksi cerah.

    Suhu udara di Jakarta diperkirakan berkisar antara 23 derajat hingga 35 derajat celcius dengan tingkat kelembapan udara diperkirakan berada pada kisaran 50-85 persen.

    BMKG juga memperkirakan hujan lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara dan Papua.

    Angin kencang dengan kecepatan lebih 45 km/jam diprediksi terjadi di wilayah Aceh, Lampung dan Jawa Barat.

    baca juga: bmkg sejumlah kota besar berpeluang diguyur hujan ringan hingga sedang

    Wilayah yang diperkirakan akan berdampak angin kencang yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara dan Papua.

    Hujan disertai petir atau hujan badai juga diprediksi masih akan terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur.

    Wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah juga berpotensi hujan badai.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG mengingat potensi bencana hidrometeorologi.

    Banjir, banjir bandang, dan tanah longsor berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Papua.

    Sedangkan dipreiran, BMKG memperkirakan hujan lebat terjadi di perairan bagian barat Aceh hingga Sumatera Barat, Selat Malaka, Laut Natuna, Selat Makassar Perairan barat Kalimantan Barat, dan Teluk Cenderawasih.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Cuaca Panas Ekstrem Landa Indonesia, Kehidupan Fauna Terdampak

    Cuaca Panas Ekstrem Landa Indonesia, Kehidupan Fauna Terdampak

    7cloud.asia – Beberapa bulan ini Indonesia mengalami cuaca panas ekstrem. Cuaca seperti ini mempengaruhi kelangsungan hidup fauna di Indonesia.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pengembangan dan Pelayanan Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia / Research Center for Climate Change University of Indonesia (RCCC UI), Dr Nurul L Winarni.

    “Dampak yang mungkin dialami oleh fauna di wilayah iklim tropis adalah ketersediaan makanan dan air serta migrasi dan distribusi habitatnya,” ungkap Nurul seperti yang dilansir Antara.

    Selanjutnya Nurul menjelaskan hewan-hewan yang ada di Indonesia memang merupakan jenis hewan yang hidup di daerah tropis, mengikuti iklim Indonesia.

    Hewan-hewan ini merupakan hewan karismatik, seperti harimau, gajah, badak, hingga berbagai jenis burung, reptil, amfibi, ikan, serangga, dan sebagainya.

    baca juga: bmkg waspadai cuaca ekstrem seminggu ke depan

    Namun, cuaca ekstrem ternyata berdampak signifikan terhadap berbagai jenis fauna. Misalnya burung-burung yang tinggal di pegunungan menjadi semakin sempit habitatnya karena pengaruh perubahan suhu yang semakin panas.

    Jenis-jenis hewan eksoterm, seperti amfibi, hewan yang memiliki sensitivitas terhadap perubahan suhu.

    Jika suhu terlalu panas, dapat mempengaruhi kondisi vital, seperti pencernaan, reproduksi, dan metabolisme serta kondisi ketersediaan air pada habitatnya yang mengalami kekeringan.

    “Dengan semakin minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan, fauna seperti burung dan kupu-kupu juga diperkirakan dapat kehilangan habitatnya,” ujarnya.

    Tidak hanya itu, cuaca ekstrem juga berdampak pada ketersediaan pakan satwa tersebut. Tumbuhan memiliki peran penting sebagai sumber makanan bagi hewan.

    baca juga: pertemuan g20 gagal capai kesepakatan pangkas bahan bakar fosil meski krisis iklim di depan mata

    Cuaca panas ekstrem menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah yang mempengaruhi ketersediaan pakan.. Kondisi ini tentu berdampak bagi hewan pemakan tumbuhan.

    Produksi nektar dan buah dapat terpengaruh, termasuk juga pola musim berbunga dan berbuah dapat bergeser. Ini menyebabkan satwa harus dapat mencari alternatif sumber daya lain.

    Menurutnya, fauna yang berpotensi migrasi seperti burung yang melakukan perjalanan musiman.

    Burung yang habitatnya mengalami musim panas ke musim dingin maka akan melakukan migrasi ke daerah yang lebih hangat seperti iklim tropis. Jika musim dingin berakhir, kemudian akan kembali ke tempat habitat awal.

    Sementara untuk hewan yang tinggal di daerah tropis, tidak terjadi migrasi. Namun, hewan tersebut membutuhkan persediaan sumber air yang cukup.

    baca juga: el nino percepat laju lelehnya salju abadi gunung puncak jaya

    Pergerakan hewan mungkin terjadi untuk mencari tempat-tempat yang masih menyediakan makanan, sumber air, dan tempat berlindung. Kompetisi antar satwa berpotensi terjadi untuk memperebutkan sumber daya ini.

    Akibat cuaca panas ekstrem, kebakaran hutan dan lahan terjadi dimana-mana.  Kondisi ini mengancam hilangnya habitat bagi spesies yang hidup di hutan tersebut.

    Selain itu, cuaca ekstrem juga dapat menyebabkan kekeringan pada habitat perairan seperti rawa, sungai, danau. Hal ini dapat mengancam keberadaan jenis-jenis ikan tertentu.

    baca juga: klhk sejumlah spesies baru ditemukan di hutan indonesia

    Jika hal tersebut terjadi dapat berdampak juga pada siklus ekosistem satwa, seperti rantai makanan dan jaring jaring makanan.

    Apabila salah satu rantai makanan hilang, lanjut Nurul, maka mempengaruhi tingkat trofik produsen, konsumen, dekomposer atau pengurai dan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

    Ini dapat terjadi karena adanya perubahan sumber daya makanan yang dapat menyebabkan perubahan komposisi komunitas hewan dalam ekosistem tersebut.

    Akibatnya terjadi kehilangan spesies tertentu atau peningkatan populasi organisme lain yang lebih dominan.

    baca juga: hari spesies terancam punah kapan dan mengapa diperingati
    Karena itu, ada beberapa hal menurut Nurul dapat dilakukan untuk menanggulangi dampak jangka pendek cuaca ekstrem terhadap fauna.

    Diantaranya dengan menyediakan sumber air, mencegah kebakaran hutan, menanam pohon buah dan tanaman berbunga di perkotaan.

    Untuk jangka panjang, dapat melakukan restorasi dan proteksi habitat, menyediakan alternatif habitat khususnya untuk kawasan perkotaan.

    Misalnya dengan menyediakan ruang terbuka hijau seperti taman, termasuk memanfaatkan halaman rumah dan konservasi sumber daya air.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Limbah Makanan

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Limbah Makanan

    7cloud.asia – Saat sebagian penduduk bumi menghadapi krisis pangan, dunia juga menghadapi masalah lingkungan yang dipicu oleh limbah makanan.

    Limbah makanan memang menjadi masalah serius bagi lingkungan. Gas metana yang dilepas limbah makanan disebut lebih besar dampaknya pada pemanasan global ketimbang emisi karbon dari bahan bakar fosil. 

    Mirisnya, sepertiga dari makanan yang dimaksudkan untuk konsumsi manusia – sekitar 1,3 miliar ton – terbuang menjadi limbah makanan yang selanjutnya memicu masalah bagi ligkungan.

    Baca: Masalah lingkungan terbesar: pemanasan global

    Jumlah ini cukup untuk memberi makan untuk 3 miliar orang. Limbah makanan dan kehilangan makanan menyumbang sepertiga emisi gas rumah kaca setiap tahunnya.

    Jika angka emisi yang dihasilkan limbah makanan ini diibaratkan sebuah negara, maka limbah makanan akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga, setelah Tiongkok dan Amerika Serikat.

    Pemborosan dan kehilangan pangan menjaid limbah makanan terjadi pada tahapan yang berbeda di masing-masing negara berkembang dan maju.

    Baca: Masalah lingkungan terbesar: kebijakan yang salah

    Di negara berkembang, 40% limbah makanan terjadi pada tingkat pascapanen dan pengolahan.

    Sedangkan di negara maju, 40% limbah makanan terjadi di tingkat ritel (rantai penjualan) dan konsumen.​

    Di tingkat ritel, banyak sekali makanan yang terbuang menjadi limbah hanya karena alasan estetika.

    Baca: Mungkinkah dunia mewujudkan zero emision?

    Faktanya, di AS, lebih dari 50% dari seluruh produk yang dibuang di AS dilakukan karena dianggap “terlalu jelek” untuk dijual kepada konsumen.

    Data ini berarti, sekitar 60 juta ton buah-buahan dan sayuran terbuang menjadi limbah makanan. Dan, ini terjadi untuk di AS saja. 

    Kondisi inilah yang menyebabkan kerawanan pangan masuk dalam salah satu masalah lingkungan terbesar di tahun 2023 ini. 

    Baca : Perkebunan monokultur salah satu penyumbang terbesar deforestasi

    Apa masalah lingkungan terbesar di tahun 2023, ikuti di tulisan selanjutnya.

    Sumber: earth.org

  • Jumlah Kasus Cacar Monyet Terus Meningkat, Ahli Perkirakan Bisa Tembus 3600 Kasus  

    Jumlah Kasus Cacar Monyet Terus Meningkat, Ahli Perkirakan Bisa Tembus 3600 Kasus  

    7cloud.asia – Jumlah kasus cacar monyet atau monkeypox di Indonesia terus bertambah. Hingga kini terkonfirmasi positif 14 kasus. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat, bahkan hingga tembus 3600 kasus sampai akhir tahun.

    Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Maxi Rein Rondonuwu berdasarkan perkiraan epidemiolog atau ahli dalam bidang investigasi pola dan penyebaran suatu penyakit.

    “Prediksi kita, setelah undang para epidemiolog, mereka lihat rate yang terjadi di Inggris lalu memperkirakan kasus kita dengan jumlah populasi kunci, itu bisa 3.600 orang kalau tidak dilakukan preventif dengan baik,” jelas Maxi seperti yang dilansir CNBC Indonesia. 

    Memang, lanjut Maxi, saat ini sudah ada vaksin cacar monyet. Tetapi yang paling utama adalah melakukan tindakan preventif untuk mencegah penyebaran kasus yang lebih luas.

    baca juga:kasus cacar monyet meningkat pengawasan kesehatan bandara soetta diperketat

    Saat ini Kemenkes tengah melakukan berbagai upaya. Salah satunya memperkuat edukasi kepada kelompok berisiko.

    “Yang pasti harus menerapkan perilaku hidup sehat, jangan melakukan hubungan seks kalau ada gejala, dan lakukan hubungan seks yang aman dengan memakai kondom,” urainya. 

    Kasus cacar monyet merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus monkeypox. Penyakit ini pada tahun 2022 lalu menjadi kekhawatiran dunia.

    Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun lalu menetapkan status darurat untuk penyakit cacar monyet. Tetapi saat itu Indonesia hanya mengonfirmasi satu kasus positif.

    baca juga: kasus cacar monyet di jakarta bertambah dinkes dki imbau masyarakat waspada

    Menurut WHO, tanda dan gejala penyakit cacar monyet umumnya muncul dalam waktu tujuh hari, tetapi dapat muncul mulai satu sampai 21 hari setelah terpapar.

    “Biasanya gejala berlangsung selama dua hingga empat minggu, tetapi bisa berlangsung lebih lama pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah,” sebut WHO.

    Berikut gejala umum penyakit cacar monyet.

    1. Ruam
    2. Demam
    3. Sakit tenggorokan
    4. Sakit kepala
    5. Nyeri otot
    6. Nyeri punggung
    7. Lemas
    8. Pembengkakan kelenjar getah bening

    Biasanya, ruam dimulai sebagai luka yang kemudian melepuh dan berisi cairan. Luka melepuh berisi cairan itu akan terasa gatal atau menyakitkan. Setelah ruam sembuh, lesi akan mengering, membentuk kerak, dan hilang.

    Lesi kulit bisa muncul di telapak tangan atau telapak kaki, wajah, mulut, tenggorokan, selangkangan, area genital, dan anus.

    baca juga: status darurat pendemi covid 19 dicabut apakah masih harus mengenakan masker

    “Beberapa orang juga dapat mengalami pembengkakan yang menyakitkan di sekitar rektum atau rasa sakit dan kesulitan saat buang air kecil,” papar WHO.

    Karena itu, beberapa tindakan pencegahan yang dianjurkan agar terhindari dari penyakit cacar monyet, yaitu:

    • Tidak berganti-ganti pasangan seks
    • Tidak melakukan seks oral, anal, dan vagina atau menyentuh alat kelamin atau anus orang yang terkena cacar monyet
    • Tidak memeluk, memijat, mencium, atau berbicara dari jarak sangat dekat
    • Tidak menyentuh kain dan benda saat berhubungan seks yang digunakan oleh penderita cacar monyet, seperti tempat tidur, handuk, dan mainan seks.

    Reporter: Nurakhmayani