7cloud.asia – Saat sebagian penduduk bumi menghadapi krisis pangan, dunia juga menghadapi masalah lingkungan yang dipicu oleh limbah makanan.
Limbah makanan memang menjadi masalah serius bagi lingkungan. Gas metana yang dilepas limbah makanan disebut lebih besar dampaknya pada pemanasan global ketimbang emisi karbon dari bahan bakar fosil.
Mirisnya, sepertiga dari makanan yang dimaksudkan untuk konsumsi manusia – sekitar 1,3 miliar ton – terbuang menjadi limbah makanan yang selanjutnya memicu masalah bagi ligkungan.
Baca: Masalah lingkungan terbesar: pemanasan global
Jumlah ini cukup untuk memberi makan untuk 3 miliar orang. Limbah makanan dan kehilangan makanan menyumbang sepertiga emisi gas rumah kaca setiap tahunnya.
Jika angka emisi yang dihasilkan limbah makanan ini diibaratkan sebuah negara, maka limbah makanan akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga, setelah Tiongkok dan Amerika Serikat.
Pemborosan dan kehilangan pangan menjaid limbah makanan terjadi pada tahapan yang berbeda di masing-masing negara berkembang dan maju.
Baca: Masalah lingkungan terbesar: kebijakan yang salah
Di negara berkembang, 40% limbah makanan terjadi pada tingkat pascapanen dan pengolahan.
Sedangkan di negara maju, 40% limbah makanan terjadi di tingkat ritel (rantai penjualan) dan konsumen.
Di tingkat ritel, banyak sekali makanan yang terbuang menjadi limbah hanya karena alasan estetika.
Baca: Mungkinkah dunia mewujudkan zero emision?
Faktanya, di AS, lebih dari 50% dari seluruh produk yang dibuang di AS dilakukan karena dianggap “terlalu jelek” untuk dijual kepada konsumen.
Data ini berarti, sekitar 60 juta ton buah-buahan dan sayuran terbuang menjadi limbah makanan. Dan, ini terjadi untuk di AS saja.
Kondisi inilah yang menyebabkan kerawanan pangan masuk dalam salah satu masalah lingkungan terbesar di tahun 2023 ini.
Baca : Perkebunan monokultur salah satu penyumbang terbesar deforestasi
Apa masalah lingkungan terbesar di tahun 2023, ikuti di tulisan selanjutnya.
Sumber: earth.org

Leave a Reply