Tag: sampah

  • Kementerian Lingkungan Hidup: Setidaknya Ada 306 TPA yang Layak Ditutup Karena Kelola Sampah dengan Sistem Pembuangan Terbuka

    Kementerian Lingkungan Hidup: Setidaknya Ada 306 TPA yang Layak Ditutup Karena Kelola Sampah dengan Sistem Pembuangan Terbuka

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (LH) membidik sebanyak 306 tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah di seluruh Indonesia ditutup karena menerapkan sistem pembuangan terbuka.

    Sistem pengelolaan sampah dengan sistem pembuangan terbuka ini dinilai berdampak buruk atau bahkan membahayakan lingkungan.

    Pengelolaan sampah dengan sistem pembuangan terbuka sebenarnya tidak lagi diperkenankan berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

    Hal itu diatur di pasal 44 UU Pengelolaan Sampah yang menyebutkan, pemerintah daerah harus menutup TPA sampah dengan sistem pembuangan terbuka maksimal lima tahun sejak diundangkan pada 2008 atau seharusnya pada 2013.

    Baca: Upaya Pemkot Semarang menuju kota nol sampah

    Adapun salah satu TPA yang akan ditutup karena masih menerapkan sistem pembuangan terbuka adalah TPA Suwung, Denpasar, Bali.

    “Tidak boleh lagi membuang sampah di TPA tapi sampah harus selesai di hulu,” kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (4/1/2024)

    Ia menargetkan penutupan TPA Suwung Denpasar ini dapat dilakukan pada 2026.

    Menteri LH menyebutkan alasan penutupan tersebut karena TPA seluas 32,46 hektare itu karena masih beroperasi secara open dumping atau tempat pengelolaan sampah di cekungan tanah terbuka tanpa ditutup atau dilapisi dengan tanah.

    Pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dan saat ini pihaknya sedang menyusun termasuk opsi pengelolaan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.

    “Ini sedang dibangun,” ucap Menteri Hanif.

    Di Indonesia, lanjut dia, total ada 550 TPA, sebanyak 306 atau sekitar 54,44 persen di antaranya masih menerapkan open dumping.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta fokus pada pengolahan sampah RDF

    Mengutip data Global Waste Management Outlook 2024, Hanif menyebutkan masih ada sekitar 38 persen sampah secara global tidak dikelola dengan baik sehingga berkontribusi terhadap krisis perubahan iklim.

    Sampah yang tidak terkelola dengan baik juga menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan timbulan sampah.

    Di Indonesia, kata dia, timbulan sampah pada 2023 mencapai sekitar 56,63 juta ton dengan realisasi pengelolaan sampah baru mencapai 39 persen.

    “Sehingga masih ada 60 persen sampah belum dikelola baik di seluruh Indonesia,” katanya.

    Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bali I Made Teja ketika menerima kunjungan Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup Bagus Hariyanto di TPA Suwung pada November 2024 menyebutkan pihaknya berencana merelokasi TPA itu ke TPA Temesi, Kabupaten Gianyar.

    Saat ini, kondisi TPA Suwung atau Regional Sarbagita itu sudah penuh dengan tumpukan sampah menggunung hingga diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 35 meter di atas permukaan laut.

    Berdasarkan data Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Sampah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, rata-rata volume sampah di TPA itu per hari mencapai sekitar 1.100-1.200 ton berasal dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.

  • KLH Segera Terbitkan Surat Paksaan Penutupan TPA yang Terapkan Open Dumping

    KLH Segera Terbitkan Surat Paksaan Penutupan TPA yang Terapkan Open Dumping

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup akan segera menerbitkan surat paksaan perbaikan pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang melakukan pembuangan sampah terbuka (open dumping) dalam beberapa bulan ke depan

    Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menargetkan pada bulan Januari, Februari, semua TPA yang masih menerapkan open dumping harus sudah diterbitkan paksaan pemerintah dari menteri.

    “Dengan paksaan pemerintah itu ada jadwal yang harus ditepati, kalau tidak, dia akan kena perdata dan pidana,” kata Hanif ditemui media usai pelantikan pejabat tinggi madya KLH di Jakarta, Senin (6/1/2025).

    Dia mengatakan bahwa upaya pemaksaan dan penutupan TPA yang masih melakukan open dumping itu bukan untuk menakuti-nakuti pihak terkait.

    Kebijakan ini ditujukan untuk mengubah paradigma pemerintah daerah dalam mengelola sampah, mengingat pengelolaan samaph yang buruk akan berdampak pada lingkungan hidup.

    Baca: KLH sebut ada 306 TPA layak ditutup karena terapkan open dumping

    “Salah satu dampaknya adalah air lindi di beragam TPA karena mengandung konsentrasi senyawa organik dan anorganik,” ujarnya.

    Menurut dia, penerbitan surat paksaan pemerintah itu sesuai dengan tugas dari KLH/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) untuk melakukan kontrol terhadap lingkungan.

    KLH juga bertanggung-jawab mendukung penyelenggaraan pengelolaan sampah di tingkat pemerintah daerah dapat berjalan dengan semestinya untuk lingkungan hidup yang sehat.

    Dia mengingatkan bahwa upaya pengelolaan sampah sendiri harus dimulai tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari mengubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat.

    Dengan kombinasi tersebut maka dapat diwujudkan upaya pengurangan dan pengelolaan sampah yang diharapkan itu.

    Baca: Upaya pemerintah kota Semarang menuju kota nol sampah

    “Mulai dari membangun di masyarakat sampai di hilirnya. Itu semua sudah ada, tinggal kita serius tidak melaksanakannya. Itu bukan yang mustahil,” katanya.

    Sebelumnya, Hanif mengatakan pihaknya membidik 306 TPA di seluruh Indonesia akan ditutup karena menerapkan sistem open dumping.

    Pada November 2024, KLH/BPLH telah melakukan penertiban TPA liar yang masih melakukan pembuangan sampah secara open dumping dan pembakaran secara terbuka termasuk TPA liar Limo di Depok, Jawa Barat

    TPA liar di Limo ini sudah beroperasi secara ilegal sejak 2009.

  • BRIN Tekankan Pentingnya TPA Kategori Sanitary Landfill Mengelola Air Lindi

    BRIN Tekankan Pentingnya TPA Kategori Sanitary Landfill Mengelola Air Lindi

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sri Wahyono mengingatkan pentingnya tempat pemrosesan akhir (TPA) mengelola air lindi yang mengandung cemaran yang dihasilkan dari pembusukan sampah.

    Mengolah dan mencegah air lindi masuk ke tanah secara langsung harus dilakukan mengingat dapat mencemari lingkungan karena kandungan yang di dalamnya.

    Dalam diskusi daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa (7/1/2025) Peneliti Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Sri Wahyono menekankan pentingnya keberadaan lapisan kedap air di dasar dari TPA untuk mencegah air lindi mencemari tanah.

    Lapisan kedap air lindi ini harus diwujudkan saat membangun lahan urug saniter (sanitary landfill) di TPA.

    “Sehingga nanti air lindi atau air sampah itu tidak langsung meresap tetapi diarahkan dan kemudian disalurkan, biasanya di bawah ada saluran air lindi,” ujar Wahyono.

    Air lindi yang ditampung itu kemudian harus ditangani lebih lanjut untuk menurunkan kandungan pencemar di dalamnya.

    Baca: KLH akan segera rilis surat perintah penutupan TPA yang masih terapkan sistem open dumping

    Air lindi dapat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia karena mengandung berbagai macam kontaminan berbahaya, seperti logam berat dan senyawa organik

    Menurut Wahyono, diperlukan juga instalasi saluran pengumpulan gas dihasilkan dari sampah seperti metana dan pemanfaatannya.

    Gas metana, yang sangat mudah terbakar dan masuk dalam gas rumah kaca penyebab perubahan iklim, dihasilkan dari sampah organik yang menumpuk di TPA.

    “TPA ternyata dari isu global adalah nomor enam penyumbang gas rumah kaca terbesar di dunia. Sehingga kini muncul zero waste, zero emission dalam rangka mencegah TPA yang kita punya gas rumah kacanya lepas begitu saja,” ujarnya.

    Untuk menghindari hal itu, kata dia, dapat dilakukan dengan menangkap dan memanfaatkan gas metana menjadi sumber energi sembari mencegah masuknya sampah organik di beragam TPA yang ada di Indonesia.

    “TPA ramah lingkungan dengan cara perataan, pemadatan dan pelapisan tanah juga diperlukan untuk mencegah vektor penyakit yang dapat timbul di lokasi,” katanya.

    Baca: KLH sebut 306 TPA masih terapkan sistem open dumping

    Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum (PU), saat ini terdapat 328 TPA di Indonesia dengan 58 di antaranya masuk dalam kategori sanitary landfill,

    162 TPA controlled landfill dan 111 TPA masuk dalam kategori open dumping atau masih melakukan pembuangan sampah secara terbuka tanpa pengolahan lebih lanjut.

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2023, sampai 24 Juli 2024 timbunan sampah secara nasional mencapai 31,9 juta ton.

    Data ini berdasarkan input dari 290 kabupatan dan kota seluruh Indonesia. Sebagian sampah itu bisa dikelola, selebihnya tidak.

    Menurut Bagian Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah pada Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RID) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Oetami Dewi, 63,3 persen atau 20,5 juta ton sampah itu terkelola. Sisanya 35,67 persen atau 11,3 juta ton tidak terkelola.

  • Mengintip Kinerja TPA Benowo, Surabaya yang Sukses Ubah Sampah Menjadi Energi Listrik

    7cloud.asia – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, meminta masyarakat turut berperan dalam upaya mengurangi volume sampah yang dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA), melalui pemilahan dan pengurangan sampah dari rumah masing-masing.

    Langkah ini, kata Eri, akan mendukung target pemerintah kota Surabaya mengurangi volume sampah setiap harinya yang dibuang ke TPA Benowo.

    “Saya berharap penduduk ini juga berkurang ya sampahnya itu ya berkurang, belajar mulai memilah mulai sampah dari awal, mengurangi penggunaan plastik, sehingga sampahnya tidak bertambah terus,” sebutnya.

    Eri mengatakan, saat ini jumlah sampah yang dibawa ke tempat pembuangan akhir sampah atau TPA Benowo setiap harinya sebanyak 1.600 ton. Angka itu belum termasuk sampah dari warga pendatang yang bekerja di Surabaya.

    Volume sampah sebesar ini ini disumbang oleh sekitar 3,2 juta jiwa penduduk Surabaya. Dengan memilah sampah dan ekonomi sirkuler, volume sampah ini diharapkan bisa dikurangi.

    Baca: Mengenal Sistem RDF, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan

    Eri menjelaskan, saat ini di masing-masing kelurahan sudah ada 5 RW yang menerapkan pemilahan sampah dari rumah

    “Sehingga target kita tidak 1.600 ton lagi, tapi dengan mulai pemilahan sampah yang ada di RW-RW, juga dengan bank sampah, dengan TPS3R, maka target kita menjadi 1.400 ton (sampah di Surabaya per-hari),“ imbuhnya.

    TPA Benowo sejak sembilan tahun terakhir telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), yang mampu menghasilkan sekitar 12 Megawatt listrik dari sampah.

    Pengolahan sampah ini menggunakan metode gasifikasi dan sanitary landfill gas.
    Inovasi ini berhasil mengurangi volume sampah dengan menghasilkan energi listrik.

    Direktur Utama PT Sumber Organik Agus Nugroho Santoso mengatakan instalasi pengubah sampah menjadi energi listrik yang dikelolanya ini memanfaatkan semua jenis sampah untuk dijadikan energi, mulai sampah organik hingga non-organik.

    Baca: Tunda Pembangunan ITF Sunter, Pemprov DKI Jakarta Fokus pada Pengolahan Sampah RDF

    “Jadi, sampah di sini itu komposisinya organik kurang lebih 55-60 persen, sisanya sampah non-organik yang masuk ke TPA sini. Makanan juga masuk semua, dari restoran, dari mana semuanya masuk sini juga,” kata Agus Nugroho Santoso.

    Agus mengakui, komposisi sampah organik masih lebih banyak dibandingkan sampah non-organik yang dibuang ke TPA Benowo. Padahal, katanya, sampah non-organik lebih banyak menghasilkan kalori yang dapat diubah menjadi energi listrik.

    Melalui sampah, PT Sumber Organik mendapatkan dana sekitar Rp. 80 Milyar rupiah dari menjual listrik ke PLN.

    “Lebih banyak yang non-organik, karena kan lebih gampang dibakar. Kalau yang sampah makanan kan nilai kalorinya lebih rendah. Tapi, dengan komposisi sampah yang masuk ini, akan membentuk nilai kalori rata-rata yang mana bisa dapat diproses buat dibakar,” jelasnya.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat mengunjungi pembangkit listrik tenaga sampah di TPA Benowo, Selasa (7/1/2025), menyebut model pengelolaan sampah dengan mengubahnya menjadi energi listrik dapat menjadi contoh solusi mengatasi masalah sampah di berbagai daerah di Indonesia.

  • Menu Makan Bergizi Gratis Tidak Sesuai Selera Siswa Picu Timbulan Sampah Organik

    Menu Makan Bergizi Gratis Tidak Sesuai Selera Siswa Picu Timbulan Sampah Organik

    7cloud.asia – Program makan bergizi gratis yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, mulai diterapkan di sejumlah daerah, termasuk di Jawa Timur pada Senin (6/1/2025)

    Aktivis Komunitas Nol Sampah Surabaya, Hanie Ismail sempat memantau pelaksanaannya di sejumlah sekolah di Sidoarjo yang dimulai sejak Senin (6/1/2025) kemarin.

    Ia menemukan adanya sisa makanan karena menu makan siang bergizi yang tidak sesuai dengan selera sejumlah siswa.

    Menurut Hanie, peningkatan volume sampah dari sisa makanan perlu diminimalisir, diantaranya dengan mengedukasi siswa untuk menghabiskan makanan, atau membawa pulang sisa makanan yang tidak habis.

    Selain mengurangi timbulnya sampah organik baru, Hanie mengingatkan sekolah untuk menyediakan fasilitas pengolahan sampah sisa makanan.

    Dilansir VOA Indonesia, Hanie mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa nanti bakal ada sampah-sampah dari sisa-sisa makanan itu yang semakin meningkat.

    Baca: Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis Harus Transparan untuk Cegah Korupsi

     

    Dia mengusulkan pihak sekolah menyediakan fasilitas pengelolaan sampah organik, untuk mengolah sisa makanan dari program makan bergizi gratis ini.

    ”Dan itu menjadi poin tersendiri, bahwa sebenarnya sekolah sudah mampu untuk mengelola sampah yang dihasilkan oleh si warga di sekolah itu sendiri. Tapi, yang pasti kita harus reduce dulu, mengurangi tidak menghasilkan sampah,” kata Hanie Ismail.

    Seperti diketahui sampah makanan berdampak serius pada lingkungan karena sangat berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

    Saat membusuk di tempat pembuangan sampah, ia menghasilkan gas rumah kaca yang disebut metana, yang lebih berbahaya daripada karbondioksida.

    Gas rumah kaca juga dikeluarkan dalam produksi dan transportasi makanan. Emisi dari kendaraan yang mengangkut makanan menghasilkan karbondioksida (CO₂)

    Baca: Program Makan Siang Gratis Bisa Berdampak Positif pada Ekonomi

    Kelebihan jumlah gas rumah kaca seperti metana, CO₂ dan CFC menyerap radiasi infra merah dan memanaskan atmosfer bumi, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

    Penjabat Gubernur Jawa Timur Adhi Karyono mengatakan akan memastikan dinas-dinas terkait untuk memitigasi persoalan-persoalan yang muncul pada program pemberian makan bergizi gratis di sekolah

    Tidak terkecuali menyiapkan pengelolaan sampah yang ditimbulkan dari sisa makanan.

    Kita, ujarnya, akan koordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup, sementara ini masih dengan Dinas Pendidikan karena lokasinya ada di sekolah. Saya minta, otomatis dari Dinas Lingkungan Hidup,

    “Tetapi saat ini saya minta Dinas Pendidikan untuk memonitor semua persoalan yang terkait dengan pemberian makanan gratis di sekolah, termasuk dengan bagaimana pengelolaan sampahnya,” kata Adhi Karyono.

  • Kurangi Timbulan Sampah, DLH Kota Batam Hindari Penggunaan Alat Sekali Pakai di Program Makan Bergizi Gratis

    Kurangi Timbulan Sampah, DLH Kota Batam Hindari Penggunaan Alat Sekali Pakai di Program Makan Bergizi Gratis

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Kepulauan Riau mendorong program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa SD, SMP, hingga SMA/sederajat tidak menggunakan alat makan sekali pakai.

    Dilansir Antaranews.com pada Jumat (10/1/2025) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Herman Rozie mengatakan hal itu sangat penting guna mengurangi penumpukan sampah.

    Ia mengatakan jika program Makan Bergizi Gratis menggunakan plastik atau styrofoam maka dapat menciptakan masalah besar jika tidak ditangani dengan baik.

    “Saya mengharapkan dengan makan siang gratis ini, misalnya ada 10 ribu anak sekolah, makan siang gratisnya bagus, tapi sampahnya harus dikelola,” kata Herman.

    Baca: Makan Bergizi Gratis picu timbulan sampah makanan

    Adapun beberapa solusi yang dapat diterapkan salah satunya dengan menggunakan wadah makan yang bisa dipakai berulang-ulang.

    “Saya sudah sampaikan, bisa nggak jangan memakai tempat makan sekali pakai. Kalau bisa seperti katering itu,” kata dia.

    Kemudian untuk alternatif lain yang disarankan Dinas Lingkungan Hidup adalah menyediakan fasilitas bank sampah di sekolah.

    “Dengan begitu limbah yang dihasilkan dapat dikelola dengan lebih baik. Kalau tidak, ya di sekolah harus ada bank sampah. Karena kalau tidak dikelola seperti itu, bakal kerepotan kita,” ujar Herman.

    Baca: Perhimpunan Guru kritisi program Makan Bergizi Gratis

    Ia mengingatkan pengelolaan lingkungan harus menjadi perhatian bersama, agar program MBG tidak meninggalkan dampak buruk berupa penumpukan sampah.

    Herman mengatakan dalam sehari masyarakat Kota Batam menghasilkan 1.200 ton sampah, belum termasuk sampah rumah makan, industri, hingga mal.

    Sebelumnya, Dinas Pendidikan Kota Batam menyampaikan empat sekolah di Batam siap menerima program Makan Bergizi Gratis pada 13 Januari 2025.

    Kepala Disdik Kota Batam Tri Wahyu Rubianto mengatakan empat sekolah tersebut adalah SDN 010 Batam Kota, SDN 003 Batam Kota, SDN 006 Batam Kota, dan SMPN 30 Batam.

  • Kurangi Sampah, Dietplastik Indonesia Dukung Program MBG yang Gunakan Wadah Guna Ulang

    Kurangi Sampah, Dietplastik Indonesia Dukung Program MBG yang Gunakan Wadah Guna Ulang

    7cloud.asia – Dietplastik Indonesia menyoroti upaya untuk mendorong penggunaan ulang wadah untuk menekan timbulan sampah plastik seperti yang dilakukan di program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu diperluas karena merupakan praktik yang baik.

    “(Di program) Makan Bergizi Gratis ternyata banyak sekolah yang sudah pakai wadah guna ulang, pakai stainless steel, itu dipakai sekolah nanti diambil lagi oleh pengelola katering atau dapur umumnya, itu nanti dicuci dan besoknya dikembalikan lagi ke sekolah. Itu salah satu model yang memang perlu kita perbanyak,” kata Deputi Direktur Dietplastik Indonesia Rahyang Nusantara dalam acara diseminasi Studi Pendahuluan Peta Jalan Guna Ulang.

    Baca: DLH Batam kurangi alat makan sekali pakai dalam MBG

    “Makan Bergizi Gratis dengan sistem reuse itu sudah sangat bagus dan perlu dilanjutkan dan diperkuat,” tambahnya.

    Sistem guna ulang wadah yang sudah dijalankan dalam MBG itu merupakan salah satu jenis sistem pemanfaatan kembali yang perlu terus didorong, katanya.

    Hal itu mengingat mendesain kemasan saja tidak cukup untuk menyebarluaskan kebiasaan tersebut, tapi memerlukan sistem yang menjamin praktiknya.

    “Sebetulnya desain kemasan saja tidak cukup jadi kita perlu memikirkan bagaimana kemasan yang didesain untuk digunakan ulang itu tidak jadi single use. Makanya kita perlu sistem untuk bisa memastikan kemasan tersebut benar-benar digunakan berulang kali secara maksimal,” jelasnya.

    Baca: Menu MBG yang tak sesuai selera memicu sampah organik

    Beberapa model yang dapat digunakan untuk memastikan penggunaan kembali wadah secara efektif termasuk sistem tertutup (closed loop) yang digunakan di tempat acara, restoran atau fasilitas lain di mana kemasan dapat dikumpulkan dan dibersihkan di tempat tersebut.

    Terdapat pula sistem terbuka (open loop) di mana produk yang dibeli dan dikonsumsi di tempat lain, kemasannya dapat dikumpulkan melalui sistem logistik yang dikembangkan seperti yang sudah dicontohkan melalui MBG.

    Dia menjelaskan juga sistem e-commerce yang sudah memfasilitasi pengembalian dan pemanfaatan kembali kemasan dengan layanan pengiriman barang yang dibeli daring.

    Bisa digunakan pula, jelasnya, sistem layanan berlangganan produk, di mana kemasan dipinjamkan dan dikembalikan sebagai bagian dari jasa langganan serta melakukan isi ulang di toko (reffil).

    (Antaranews)

     

  • Pemprov Daerah Khusus Jakarta Maksimalkan Jakarta Recycle Centre untuk Olah Sampah Makanan

    Pemprov Daerah Khusus Jakarta Maksimalkan Jakarta Recycle Centre untuk Olah Sampah Makanan

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup Daerah Khusus Jakarta akan memaksimalkan pengoperasian Jakarta Recycle Center atau JRC di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

    Jakarta Recycle Center ini akan terus didorong menjadi salah satu fasilitas pengolahan sampah mudah terurai termasuk sampah makanan.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, di  Jakarta Recycle Centre, sampah mudah terurai diolah menjadi kompos dan produk lain melalui teknologi biokonversi.

    Asep menegaskan tentang pentingnya pemilahan sampah mudah terurai, material daur ulang, dan residu dalam sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) di Jakarta.

    Baca: Kemasan produk ramah lingkungan masih jadi tantangan

    Asep menyoroti pentingnya pengelolaan sampah makanan ini, yaitu makanan yang masih layak konsumsi, namun tidak dikonsumsi karena alasan estetika atau kelebihan stok serta makanan yang tidak habis termakan.

    “Sampah makanan ini bisa disalurkan ke yayasan sosial atau panti asuhan. Ini adalah langkah kecil yang memberikan dampak besar,” katanya dikutip Antaranews.com, Jumat (24/1/2025)

    Di sisi lain, sampah makanan yang tidak bisa dimanfaatkan akan diolah menjadi kompos atau melalui proses biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF).

    Asep menegaskan bahwa evaluasi rutin terhadap praktik pemilahan sampah di sektor horeka diperlukan untuk memastikan efektivitas pelaksanaannya.

    Ia pun berharap upaya ini mampu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan meningkatkan tingkat daur ulang di DKI Jakarta.

    Baca: Pemkot Jakarta Pusat dorong warga memilah sampah rumah

    “Target kami, setidaknya 10-15 persen timbulan sampah Jakarta yang disumbangkan sektor horeka ini dapat diminimalkan dan tidak berakhir di TPA,” kata Asep.

    Ketua Umum Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta, Sutrisno Iwantono menegaskan komitmen sektor horeka untuk mendukung upaya pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

    “Isu lingkungan hidup telah menjadi perhatian global. Kami berkomitmen untuk mematuhi prinsip-prinsip pengelolaan yang ramah lingkungan tanpa mengabaikan keberlanjutan operasional hotel dan restoran,” kata Sutrisno.

    Sutrisno berharap bahwa langkah konkret dalam pengelolaan sampah mudah terurai dapat meningkatkan daya saing sektor horeka di Jakarta sebagai destinasi pariwisata global.

  • Hari Peduli Sampah Nasional: Aksi Bersih-bersih Bagus Tapi Tak Memadai Atasi Masalah Sampah

    Hari Peduli Sampah Nasional: Aksi Bersih-bersih Bagus Tapi Tak Memadai Atasi Masalah Sampah

    7cloud.asia – Pandawara Group berkolaborasi dengan sejumlah pihak membersihkan sampah di Sektor 8 Sungai Citarum.

    Dalam aksi membersihkan sampah ini Pandawara Group sudah berkomunikasi secara informal dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat

    Kegiatan bersih-bersih sampah di Sungai Citarum ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke salah satu sungai yang paling tercemar di Indonesia tersebut.

    KLH mengapresiasi langkah Pandawara Group yang membersihkan sampah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sembari mengingatkan bahwa isu pengelolaan sampah harus diselesaikan di hulu.

    Dalam konferensi pers Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025 di Jakarta, Senin (3/2/2025), Direktur Pengelolaan Sampah KLH Novrizal Tahar menyampaikan aksi ini tidak cukup.

    Baca: Menyelesaikan masalah sampah plastik dengan ekonomi sirkular

    “Kalau seperti ini terus menerus juga tidak bisa. Kita kan bukan menyelesaikan persoalan ember bocor. Tapi bagaimana kita menambalnya supaya ember itu tidak bocor,” jelas Novrizal dikutip dari Antaranews.com.

    KLH, ujar Novrizal, sudah berkomunikasi dengan Pandawara, yang merupakan kelompok pemuda yang bergerak dalam isu lingkungan dan sampah, untuk masuk juga dalam upaya mengurangi sampah di hulu.

    “Untuk clean up oke, itu persoalan sudah ada di lapangan, tapi juga sekaligus menyadarkan. Tapi yang lebih penting juga kita masuk ke hulu, bagaimana kita mulai mencegah penggunaan barang sekali pakai, kemudian memilah sampahnya di rumah, sampahnya dibawa ke bank sampah, atau bisa tidak kompos di rumah itu menjadi lifestyle,” katanya.

    Secara khusus dia menyoroti keberhasilan kampanye membawa botol minuman yang kini sudah menjadi gaya hidup bagi banyak masyarakat yang mendukung upaya pengurangan sampah plastik sekali pakai.

    Baca: Saset menyumbang terbesar Sampah Plastik, apa yang harus dilakukan pemerintah

    Kampanye itu sudah dimulai sejak periode 2015-2016 dan kini semakin meluas. Namun demikian, hingga kini belum ada kebijakan serius dari pemerintah untuk mengurangi produksi plastik.

    Novrizal mendorong agar pemilahan sampah dan mengompos juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup baru, yang dapat menekan timbulan sampah organik yang mendominasi jenis sampah berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik KLH, jumlah timbulan sampah pada 2023 dari 375 kabupaten/kota mencapai 40,1 juta ton.

    Dari jumlah tersebut, sampah organik sisa makanan mengisi 39,62 persen atau 15,9 juta ton dari total timbulan, diikuti sampah plastik di posisi kedua dengan besaran 19,15 persen atau 7,6 juta ton.

  • 6 Langkah Sederhana untuk Jalani Gaya Hidup Minim Sampah alias Zero Waste

    6 Langkah Sederhana untuk Jalani Gaya Hidup Minim Sampah alias Zero Waste

    7cloud.asia – Anjuran untuk menjalani gaya hidup minim sampah atau zero waste makin gencar dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

    Ya, masalah sampah sudah menjadi isu atau masalah serius yang dihadapi perkotaan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

    Dampak buruk sampah terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat telah mendorong lahirnya berbagai inisiatif masyarakat, salah satunya adalah tren gaya hidup zero waste yang semakin populer.

    Apa itu gaya hidup zero waste? Gaya hidup zero waste merupakan pola hidup yang berorientasi pada pengurangan produksi sampah dengan cara bijak dalam mengonsumsi.

    Satu kunci penting gaya hidup zero waste adalah semaksimal mungkin menggunakan perangkat sekali pakai. Gerakan zero waste mendorong individu untuk lebih selektif dalam mengonsumsi dan memaksimalkan siklus hidup sumber daya agar produk dapat digunakan kembali.

    Zero waste bukan hanya sekadar mendaur ulang sampah, tetapi juga menerapkan prinsip Refuse (Menolak), Reduce (Mengurangi), dan Reuse (Menggunakan kembali) sebelum akhirnya melakukan Recycle (Mendaur ulang) dan Rot (Mengolah sampah organik menjadi kompos).

    Baca: Agar Reuse, Reduce dan Recycle Sampah nggak sekadar slogan

    Berikut cara sederhana untuk menerapkan gaya hidup zero waste seperti dirangkum dari berbagai sumber:

    1. Memanfaatkan barang bekas
    Salah satu langkah pertama dalam menerapkan zero waste adalah mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang yang tidak terpakai.

    Misalnya, pakaian lama dapat diolah menjadi tas belanja atau produk lain yang lebih bermanfaat. Dengan cara ini, produksi sampah rumah tangga dapat dikurangi secara signifikan.

    2. Membeli dan mengonsumsi makanan secukupnya
    Sampah makanan merupakan salah satu penyumbang terbesar limbah domestik. Untuk mengurangi limbah ini, belilah makanan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan agar tidak ada makanan yang terbuang.

    Selain itu, membawa wadah makanan sendiri saat membeli makanan juga dapat membantu mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.

    3. Cerdas sebagai konsumen modern
    Menjadi konsumen yang bijak berarti mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap pembelian yang dilakukan.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Hindari membeli barang yang tidak diperlukan dan pilih produk yang dapat digunakan dalam waktu lama. Dengan demikian, jumlah sampah yang dihasilkan dapat diminimalkan.

    4. Membawa botol minum atau tumbler
    ​​​​​​​Menggunakan botol minum atau tumbler pribadi merupakan cara sederhana untuk mengurangi sampah plastik dari botol sekali pakai.

    Banyak tempat kini mengizinkan pelanggan membawa wadah minuman sendiri, sehingga kebiasaan ini menjadi semakin mudah untuk diterapkan.

    5. Memilah sampah dapur dan mengolahnya menjadi kompos
    Sampah dapur yang berupa bahan organik dapat dipisahkan dan diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanah.

    Sementara itu, sampah plastik dan bahan lain yang sulit terurai dapat dikumpulkan untuk didaur ulang, sehingga limbah yang berakhir di TPA bisa berkurang.

    6. Pilih produk ramah lingkungan
    Banyak produsen kini mulai memproduksi barang dengan konsep ramah lingkungan.

    Sebagai konsumen, Anda dapat mendukung tren ini dengan memilih produk yang memiliki sertifikasi ramah lingkungan atau dibuat dari bahan yang mudah didaur ulang atau alami.

    Gaya hidup zero waste bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

    Meskipun tidak ada yang bisa menjalani gaya hidup ini secara sempurna, setiap langkah kecil yang dilakukan dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan.