Mengintip Kinerja TPA Benowo, Surabaya yang Sukses Ubah Sampah Menjadi Energi Listrik

Written by

in

7cloud.asia – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, meminta masyarakat turut berperan dalam upaya mengurangi volume sampah yang dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA), melalui pemilahan dan pengurangan sampah dari rumah masing-masing.

Langkah ini, kata Eri, akan mendukung target pemerintah kota Surabaya mengurangi volume sampah setiap harinya yang dibuang ke TPA Benowo.

“Saya berharap penduduk ini juga berkurang ya sampahnya itu ya berkurang, belajar mulai memilah mulai sampah dari awal, mengurangi penggunaan plastik, sehingga sampahnya tidak bertambah terus,” sebutnya.

Eri mengatakan, saat ini jumlah sampah yang dibawa ke tempat pembuangan akhir sampah atau TPA Benowo setiap harinya sebanyak 1.600 ton. Angka itu belum termasuk sampah dari warga pendatang yang bekerja di Surabaya.

Volume sampah sebesar ini ini disumbang oleh sekitar 3,2 juta jiwa penduduk Surabaya. Dengan memilah sampah dan ekonomi sirkuler, volume sampah ini diharapkan bisa dikurangi.

Baca: Mengenal Sistem RDF, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan

Eri menjelaskan, saat ini di masing-masing kelurahan sudah ada 5 RW yang menerapkan pemilahan sampah dari rumah

“Sehingga target kita tidak 1.600 ton lagi, tapi dengan mulai pemilahan sampah yang ada di RW-RW, juga dengan bank sampah, dengan TPS3R, maka target kita menjadi 1.400 ton (sampah di Surabaya per-hari),“ imbuhnya.

TPA Benowo sejak sembilan tahun terakhir telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), yang mampu menghasilkan sekitar 12 Megawatt listrik dari sampah.

Pengolahan sampah ini menggunakan metode gasifikasi dan sanitary landfill gas.
Inovasi ini berhasil mengurangi volume sampah dengan menghasilkan energi listrik.

Direktur Utama PT Sumber Organik Agus Nugroho Santoso mengatakan instalasi pengubah sampah menjadi energi listrik yang dikelolanya ini memanfaatkan semua jenis sampah untuk dijadikan energi, mulai sampah organik hingga non-organik.

Baca: Tunda Pembangunan ITF Sunter, Pemprov DKI Jakarta Fokus pada Pengolahan Sampah RDF

“Jadi, sampah di sini itu komposisinya organik kurang lebih 55-60 persen, sisanya sampah non-organik yang masuk ke TPA sini. Makanan juga masuk semua, dari restoran, dari mana semuanya masuk sini juga,” kata Agus Nugroho Santoso.

Agus mengakui, komposisi sampah organik masih lebih banyak dibandingkan sampah non-organik yang dibuang ke TPA Benowo. Padahal, katanya, sampah non-organik lebih banyak menghasilkan kalori yang dapat diubah menjadi energi listrik.

Melalui sampah, PT Sumber Organik mendapatkan dana sekitar Rp. 80 Milyar rupiah dari menjual listrik ke PLN.

“Lebih banyak yang non-organik, karena kan lebih gampang dibakar. Kalau yang sampah makanan kan nilai kalorinya lebih rendah. Tapi, dengan komposisi sampah yang masuk ini, akan membentuk nilai kalori rata-rata yang mana bisa dapat diproses buat dibakar,” jelasnya.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat mengunjungi pembangkit listrik tenaga sampah di TPA Benowo, Selasa (7/1/2025), menyebut model pengelolaan sampah dengan mengubahnya menjadi energi listrik dapat menjadi contoh solusi mengatasi masalah sampah di berbagai daerah di Indonesia.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *