Tag: kesehatan

  • Rencana Tambah Layer Cukai Rokok Dinilai Perparah Kemiskinan dan Krisis Kesehatan

    Rencana Tambah Layer Cukai Rokok Dinilai Perparah Kemiskinan dan Krisis Kesehatan

    7cloud.asia – Rencana pemerintah menambah layer cukai rokok yang mulai berlaku pada Juni 2026 mendapat penolakan dari pegiat pengendalian tembakau.

    Kebijakan tersebut dinilai tidak sejalan dengan tujuan cukai sebagai instrumen pengendalian konsumsi rokok dan justru berpotensi memperluas kecanduan di masyarakat.

    Sekretaris Jenderal Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Tulus Abadi, menilai penambahan layer cukai akan mendorong fenomena downtrading, yakni peralihan konsumen ke produk rokok yang lebih murah. Dampaknya, harga rokok semakin bervariasi di pasaran dan pengawasan pemerintah menjadi semakin sulit.

    Downtrading ini jadi mudah dijangkau anak-anak serta masyarakat prasejahtera dengan harga yang lebih murah,” kata Tulus saat menjadi pembicara dalam pelatihan jurnalis yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bertema Di Balik Layer Cukai: Membongkar Narasi, Kepentingan, dan Dampak Kebijakan Tembakau di Indonesia, beberapa waktu lalu.

    Baca: Komnas Pengendalian Tembakau Ingatkan Beban Kesehatan yang Tinggi Akibat Rokok

    Menurut Tulus, kebijakan tersebut berisiko memperbesar jumlah perokok baru, terutama dari kalangan generasi muda dan kelompok ekonomi rentan. Padahal, saat ini pemerintah sudah menerapkan delapan layer cukai yang dinilai rumit untuk diawasi.

    “Delapan layer cukai sekarang sulit diawasi pemerintah, apalagi tambah satu layer dan kebijakan ini juga bertentangan dengan filosofi cukai yaitu pengendalian tembakau,” kata mantan ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ini.

    Tidak hanya berdampak pada kesehatan, dia juga menyebut konsumsi rokok dapat memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga. Data Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) tahun 2019 menunjukkan setiap kenaikan pengeluaran rokok sebesar 1 persen meningkatkan risiko kemiskinan hingga 6 persen.

    Belanja rokok bahkan menjadi penyebab kemiskinan terbesar kedua setelah beras. PKJS-UI mencatat enam dari sepuluh rumah tangga mengalokasikan 10,7 persen pengeluaran untuk rokok, lebih tinggi dibanding bahan pokok sebesar 10,4 persen, buah dan sayur 6,7 persen, serta daging 6,5 persen.

    Baca: Menunda Kenaikan Cukai Rokok Bikin Negara Tambah Tekor

    Pada kesempatan itu, Tulus juga menyoroti dampak rokok bersifat multisektoral. Kandungan nikotin pada rokok konvensional maupun rokok elektronik (vape) dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan.

    Selain itu, rokok juga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis seperti stroke, kanker, penyakit jantung, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hingga diabetes.

    Anak yang terpapar asap rokok juga disebut memiliki risiko stunting lebih tinggi dibanding anak dari keluarga non-perokok.

    Senada dengan Tulus, Project Lead for Tobacco Control Center Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Beladenta Amalia pada kesempatan yang sama menilai penambahan layer baru hanya akan memperparah fenomena downtrading dan memperluas pasar rokok murah.

    Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan jumlah perokok, khususnya generasi muda dan masyarakat berpenghasilan rendah.

    Baca: Larangan Penjualan Rokok di Sekitar Sekolah Tetap Berlaku

    Dampak lanjutannya adalah membengkaknya beban ekonomi negara akibat biaya kesehatan dan kerugian sosial yang ditimbulkan konsumsi rokok.

    Karena itu, CISDI bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil menolak rencana penambahan layer cukai rokok tersebut.

    Beladenta mengatakan, apabila kebijakan tetap diberlakukan pada Juni 2026, koalisi masyarakat sipil akan memperketat pengawasan implementasinya serta terus mendorong rekomendasi kepada pemerintah untuk meminimalkan dampak negatif yang ditanggung masyarakat.

    “Bahkan bila perlu kita juga akan menempuh jalur hukum melalui judicial review, tapi itu masih dalam kajian,” tegas Beladenta.

  • Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Ratusan Pemuda Turun ke CFD Desak Pemerintah Putus Pengaruh Industri Rokok

    Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Ratusan Pemuda Turun ke CFD Desak Pemerintah Putus Pengaruh Industri Rokok

    7cloud.asia – Ratusan pemuda yang tergabung dalam Koalisi Save Our Surroundings (SOS) menggelar aksi dalam kegiatan Car Free Day (CFD) di Jakarta, Minggu (7/6/2026), untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS).

    Mereka mendesak pemerintah untuk memutus pengaruh industri rokok. Selain itu mereka menyerukan gaya hidup sehat tanpa rokok kepada masyarakat yang tengah beraktivitas di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

    Dalam aksi kali ini, koalisi yang terdiri dari 50 organisasi tersebut menyoroti tingginya angka perokok di Indonesia yang terus meningkat.

    Berdasarkan Riset Kesehatan Indonesia (Riskesdas) 2023, jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai lebih dari 70,2 juta jiwa, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah konsumen tembakau terbesar ketiga di dunia setelah China dan India.

    Baca: Rencana Penambahan Layer Cukai Rokok Perparah Kemiskinan

    Perwakilan Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), Lazuardi Hakiman Hanif, mengatakan bahwa generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terpapar promosi rokok.

    “Remaja yang terpapar iklan rokok memiliki peluang 1,67 kali lebih besar menjadi perokok aktif,” kata Lazuardi.

    Menurutnya, hasil pemantauan Dewan Perwakilan Remaja (DPRemaja) di wilayah Cilincing, Matraman, dan Tanah Abang menemukan sedikitnya 86.541 anak terpapar asap rokok setiap hari serta dikelilingi 254 titik iklan rokok.

    Lazuardi menilai strategi pemasaran produk tembakau dan vape yang dikemas dengan tema petualangan dan gaya hidup modern berpotensi menjerat generasi muda dalam adiksi nikotin. Kondisi tersebut dinilai mengancam kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

    Baca: Sejumlah Museum Mulai Terapkan Kawasan Bebas Rokok

    Sementara itu, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Prof. Hasbullah Thabrany, mengkritik pemerintah yang dinilai belum serius mengendalikan konsumsi rokok dan rokok elektronik.

    Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan cukai rokok sebagai sumber penerimaan negara, sementara dampak kesehatan yang ditimbulkan terus meningkat.

    “Kami menuntut perubahan frontal. Setiap tahun sekitar 290 ribu orang meninggal akibat rokok, tetapi pengendaliannya masih belum menjadi prioritas,” tegas Hasbullah.

    Baca: Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Beban Kesehatan yang Muncul Akibat Tembakau Meningkat

    Dia juga menyoroti pesatnya pertumbuhan konsumsi rokok elektronik yang disebut meningkat hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade terakhir.

    Bahkan penyalahgunaan narkotika melalui vape yang kini marak terjadi seharusnya menjadi alarm serius yang harus segera direspons pemerintah.

    Dalam peringatan HTTS tahun ini, Koalisi SOS mengusung tema “Bongkar Jebakannya” yang menyoroti bahaya nikotin sintetis, pentingnya larangan penggunaan perisa pada produk tembakau, serta penolakan terhadap pengaruh industri rokok dalam kebijakan publik.

     

  • El Niño Juga Memicu Polusi Udara yang Mengancam Kesehatan, Apa yang Perlu Disiapkan?

    El Niño Juga Memicu Polusi Udara yang Mengancam Kesehatan, Apa yang Perlu Disiapkan?

     

    7cloud.asia – Indonesia diprediksi kembali menghadapi El Niño kuat dalam waktu dekat. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

    Kemunculan El Niño di Tanah Air nyaris selalu menimbulkan dampak serupa: musim kemarau jadi lebih panjang, curah hujan berkurang, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat.

    Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa dampak El Niño tak berhenti pada persoalan cuaca dan ketersediaan air saja. Fenomena iklim ini juga menimbulkan polusi akibat perubahan dinamika atmosfer.

    Dalam strategi kesiapsiagaan bencana, pemerintah sepatutnya memperhatikan perburukan kualitas udara akibat perubahan iklim karena akan memengaruhi kesehatan masyarakat secara langsung. 

    Kadar PM2,5 meningkat selama El Niño

    Salah satu indikator utama kualitas udara adalah konsentrasi PM2,5. Partikel debu berukuran sangat kecil (kurang dari 2,5 mikrometer) ini dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru, bahkan mencapai sistem peredaran darah.

    Paparan PM2,5 telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan, asma, dan penyakit paru kronis. Lebih dari itu, PM2,5 juga bisa menyebabkan penyakit pembuluh darah-jantung, stroke, hingga kematian dini.

    Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat bertahan lama di atmosfer dan berpindah jauh dari sumber emisinya. 

    Di Asia Tenggara, kadar PM2,5 selama musim kemarau biasanya meningkat akibat kombinasi emisi kendaraan, aktivitas industri, pembakaran biomassa, dan kebakaran hutan.

    Selama episode El Niño 2023–2024 di Asia Tenggara, hampir seluruh kota besar yang kami amati memiliki kualitas udara yang tidak memenuhi pedoman harian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Di Jakarta dan Hanoi, Vietnam, misalnya, tingkat ketebalan polusi melebihi 100 mikrogram per meter kubik (µg/m³). 

    Atmosfer juga berperan kendalikan PM2,5

    Penelitian kami menunjukkan bahwa sumber emisi bukan satu-satunya faktor yang menentukan tinggi-rendahnya konsentrasi PM2,5. Kami menemukan bahwa perubahan dinamika monsun berperan penting dalam mengendalikan konsentrasi PM2,5.

    Monsun merupakan sistem sirkulasi atmosfer musiman yang memengaruhi arah dan kekuatan angin di kawasan Asia Tenggara. Dalam kondisi normal, monsun mengangkut dan menyebarkan polutan sehingga tidak menumpuk pada satu wilayah tertentu.

    Selama El Niño, perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik mengubah karakteristik monsun dan pola sirkulasi atmosfer regional. Perubahan tersebut memengaruhi kemampuan atmosfer dalam mengencerkan dan membawa polutan.

    Akibatnya, konsentrasi PM2,5 dapat meningkat bahkan ketika perubahan sumber emisi tidak terlalu besar. Dengan kata lain, kualitas udara tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak polutan dilepaskan ke atmosfer, tetapi juga bagaimana kondisi atmosfer mengendalikan pergerakan polutan tersebut.

    Gangguan kesehatan akibat polusi meningkat

    Temuan ini membantu menjelaskan mengapa beberapa wilayah di Asia Tenggara mengalami penurunan kualitas udara selama El Niño, meskipun tidak selalu disertai peningkatan emisi yang signifikan.

    Bagi masyarakat Indonesia, kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat polusi udara bersamaan dengan risiko kekeringan dan kebakaran.

    Temuan kami juga menunjukkan bahwa dampak El Niño terhadap kualitas udara tidak terbatas pada PM2,5.


    Kami melakukan penelitian di Jawa Barat selama musim kemarau 2023 yang bertepatan dengan episode El Niño.

    Hasilnya, konsentrasi nitrogen dioksida (NO2) di wilayah perkotaan tetap berada pada level tinggi sepanjang periode pengamatan dan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan.

    Kondisi atmosfer yang lebih panas dan kering selama El Niño diduga mengurangi proses pengenceran dan pembersihan polutan di udara sehingga mendukung akumulasinya.

    Akibatnya, masyarakat rentan terpapar berbagai jenis polutan udara secara bersamaan—baik partikulat maupun polutan gas—yang sama-sama berisiko menimbulkan dampak kesehatan.

     

    Pentingnya peringatan kesehatan dini

    Dari perspektif kesehatan masyarakat, peningkatan risiko paparan polutan udara selama El Niño menuntut kesiapan sistem kesehatan yang lebih adaptif.

    Fasilitas layanan kesehatan dapat mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus penyakit pernapasan dan kardiovaskular yang sering dikaitkan dengan paparan polusi udara.

    Selain itu, tenaga kesehatan di tingkat layanan primer perlu memiliki akses terhadap informasi kualitas udara yang mudah dipahami dan dapat digunakan dalam komunikasi risiko kepada masyarakat. Hal ini penting terutama bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

    Edukasi mengenai langkah perlindungan sederhana juga dapat membantu mengurangi risiko kesehatan. Contohnya, membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan memperhatikan informasi kualitas udara harian.

    Integrasi antara informasi iklim, kualitas udara, dan sistem kesehatan juga dapat mendukung kesiapsiagaan yang lebih proaktif, bukan hanya responsif.

    Karena itu, peringatan dini El Niño seharusnya tidak hanya sebatas peringatan cuaca, tetapi juga peringatan kesehatan. Semakin dini risiko kualitas udara diantisipasi, makin besar peluang untuk melindungi masyarakat dari dampak kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah.


    Putri Nilam Sari, Assistant Professor of Environmental Health, Universitas Andalas

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Jangan Anggap Sepele Gusi Berdarah, Bisa Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    Jangan Anggap Sepele Gusi Berdarah, Bisa Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    7cloud.asia – Masalah gusi kerap dianggap gangguan ringan. Padahal, gusi yang tidak terawat dapat menjadi sumber peradangan kronis yang berisiko memengaruhi organ tubuh lainnya.

    Disela-sela acara Pepsodent Gum Expert Lab di Jakarta beberapa waktu lalu, drg. Ines Augustina Sumbayak, Sp.Perio menjelaskan, infeksi pada gusi yang dibiarkan terus menerus dapat memicu peningkatan sel inflamasi dalam tubuh.

    “Gusi yang tidak terawat secara terus menerus itu, bakteri dan produk-produk peradangan akan terus berada di dalam aliran darah. Dengan kondisi itu, inflamasi akan semakin tinggi dan bisa berdampak menjadi fokus infeksi,” jelas Ines.

    Baca: Mahasiswa UGM Temukan Gel Pencegahan Karies Gigi

    Menurutnya, kondisi tersebut membuat kesehatan gusi memiliki keterkaitan dengan sejumlah penyakit lain, termasuk gangguan jantung. Jalur penyebarannya dapat terjadi melalui pembuluh darah yang membawa bakteri maupun zat peradangan ke organ lain.

    “Makanya kesehatan gusi sering dikaitkan dengan penyakit jantung. Dari pembuluh darahnya bisa terhubung ke jantung,” katanya.

    Tak hanya jantung, masalah gusi juga memiliki hubungan dua arah dengan diabetes. Kondisi gusi yang mengalami peradangan dapat memperburuk kondisi tubuh, sementara penderita diabetes juga lebih rentan mengalami gangguan pada jaringan gusi.

    “Untuk diabetes ada hubungan dua arah. Gusi yang tidak terawat bisa berpengaruh terhadap diabetes, begitu juga diabetes membuat seseorang lebih mudah mengalami masalah gusi,” terangnya.

    Baca: Penyakit Gaya Hidup Kini Juga Mengincar Anak

    Salah satu tanda paling umum penyakit gusi adalah gusi berdarah. Jika dibiarkan, lanjut Ines, peradangan dapat terus berlangsung dan menjadi ancaman bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    “Kalau gusi berdarah dibiarkan terus menerus, peradangan itu akan terus menempel pada pembuluh darah kita. Ini berbahaya karena bisa menjadi fokus infeksi ke depannya,” kata Ines.

    Fokus infeksi juga dapat munculnya gangguan lain, seperti pada kulit. “Infeksi meningkat, otomatis sel inflamasi meningkat, lalu bisa termanifestasi pada kulit atau sistem imun,” ujarnya.

    Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan gusi masih rendah. Banyak yang baru datang ke dokter gigi ketika sudah mengalami nyeri atau kerusakan gigi, sementara tanda awal seperti gusi berdarah sering diabaikan.

    Baca: Pekerjaan Rumah Kesehatan Anak Indonesia Belum Usai

    Padahal, lanjut Ines, gusi yang sehat menunjukkan tubuh dalam kondisi lebih baik karena jumlah sel inflamasi lebih rendah.

    “Semakin sehat gusi seseorang, itu pertanda sel inflamasinya tidak banyak. Artinya kondisi kesehatannya lebih baik,” katanya.

    Selain itu, Ines mengingatkan, penyakit gusi bukan hanya masalah orang dewasa. Anak-anak pun juga dapat mengalaminya, bahkan sejak usia dini.

    “Jangan heran kalau anak usia tiga atau empat tahun terkena penyakit gusi. Bisa karena cara perawatan gigi yang kurang tepat atau daya tahan tubuh yang rendah,” jelasnya.

    Untuk mencegahnya, masyarakat perlu memperbaiki kebiasaan sederhana, mulai dari cara menyikat gigi yang benar, menjaga asupan nutrisi, hingga menerapkan pola hidup sehat.

  • Stres Diam-Diam Mengancam Rambut, Kerontokan di Usia Muda Makin Banyak Terjadi

    Stres Diam-Diam Mengancam Rambut, Kerontokan di Usia Muda Makin Banyak Terjadi

    7cloud.asia – Rambut rontok kerap dianggap persoalan sepele. Namun ketika terjadi terus-menerus, terutama pada usia muda, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius.

    Dokter spesialis dermatologi dan venereologi dr. Elisabeth Ryan, Sp.DVE, mengungkapkan kerontokan rambut pada usia dua puluhan kini semakin banyak ditemukan dengan berbagai penyebab. Salah satu pemicu yang sering luput diperhatikan adalah stres.

    “Genetik dan hormon menjadi faktor terbesar dengan kontribusi sekitar 35 persen dari seluruh kasus. Setelah itu stres 24 persen, kekurangan nutrisi 15 persen, infeksi kulit kepala 14 persen, efek samping obat atau penyakit 7 persen, serta kondisi pascamelahirkan dan PCOS sekitar 5 persen,” ungkap Elisabeth di Jakarta beberapa waktu lalu.

    Baca: Cara Keramas Agar Lebih Ramah Lingkungan

    Menurutnya, banyak orang baru mencari pertolongan ketika rambut sudah mengalami penipisan cukup parah. Padahal, keterlambatan diagnosis dapat memperkecil peluang pemulihan.

    “Folikel yang masih aktif jauh lebih mudah dirangsang untuk tumbuh kembali. Menunda penanganan berarti kehilangan kesempatan itu,” katanya.

    Meski demikian, Elisabeth mengingatkan tidak semua rambut rontok berarti gangguan kesehatan. Rambut rontok dalam jumlah tertentu masih merupakan kondisi normal. Umumnya, rambut yang rontok berada di kisaran 50 hingga 100 helai per hari.

    Baca: Jangan Anggap Sepele Masalah Gusi, Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    Bagi masyarakat yang sulit menghitung jumlah rambut yang rontok, ia menyarankan memperhatikan jumlah rambut yang terkumpul.

    “Kalau bingung, lihat saja dari genggaman tangan. Kalau sudah terlihat lebih banyak atau lebih rimbun terkumpul, itu bisa menjadi tanda tidak normal,” katanya.

    Lebih jauh, Elisabeth menjelaskan pola kerontokan rambut memiliki perbedaan antara pria dan perempuan. Pada pria, kerontokan biasanya dimulai dari garis rambut yang semakin mundur dan penipisan di area ubun-ubun.

    Kondisi ini dapat muncul sejak usia 20-an akibat pengaruh hormon DHT (dihidrotestosteron) serta faktor genetik.

    Baca: Penyakit Gaya Hidup Kini Mengincar Anak Indonesia

    Sementara pada perempuan, kerontokan lebih sering terlihat dari bagian tengah kepala yang semakin menipis dan melebar. Pemicu dapat berkaitan dengan perubahan hormon, PCOS, menopause, stres, hingga kekurangan nutrisi.

    Jika kerontokkan terjadi, Elisabeth menegaskan masyarakat sebaiknya tidak langsung mencoba berbagai terapi tanpa mengetahui penyebabnya.

    “Kerontokan rambut itu tidak semuanya sama. Terapi yang salah bisa memperburuk kondisi dan hanya menghabiskan waktu serta uang,” tegasnya.

    Menurut dia, pemeriksaan dan diagnosis menjadi langkah penting agar penanganan sesuai dengan penyebab. Sebab, rambut yang sehat bukan hanya persoalan penampilan, tetapi juga dapat menjadi gambaran kondisi tubuh secara keseluruhan.

  • Obesitas Berisiko Memicu Gangguan Reproduksi hingga Alzheimer

    Obesitas Berisiko Memicu Gangguan Reproduksi hingga Alzheimer

    7cloud.asia – Kelebihan berat badan atau obesitas berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan, termasuk sistem reproduksi (kesuburan).

    Menurut Dokter spesialis penyakit dalam dr. M. Vardian Mahardika, hal ini terjadi karena obesitas dapat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan memicu kondisi Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) maupun endometriosis.

     

    PCOS) adalah kelainan hormonal pada wanita usia subur yang ditandai dengan tiga ciri utama: siklus haid tidak teratur, tingginya hormon androgen (hormon pria), dan adanya kista (kumpulan kantung folikel kecil) pada ovarium.

    Sedangkan endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim.

    Jaringan ini dapat menempel pada ovarium, saluran tuba, usus, atau kandung kemih. Saat siklus haid, jaringan ini ikut menebal dan berdarah, tetapi terperangkap sehingga memicu nyeri hebat dan peradangan.

    Vardian memaparkan, dalam banyak kasus obesitas datang tiba-tiba dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis, itu juga bisa terjadi karena kondisi obesitas.

    ”Jadi perempuan-perempuan mulai harus lebih aware dengan yang namanya obesitas,” kata Vardian, kepada media Maret lalu.

    Dokter yang menamatkan pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Brawijaya itu mengatakan saat perempuan memasuki fase perimenopause di usia 45–50 tahun ke atas, kadar hormon mulai menurun.

    Pada fase ini, berbagai penyakit lebih mudah muncul, terlebih jika sebelumnya mengalami obesitas.

    Selain itu, Vardian menambahkan bahwa hal penting yang perlu disoroti adalah definisi obesitas itu sendiri, lantaran banyak orang hanya berpatokan pada berat badan atau BMI (IMT).

    Padahal, BMI belum tentu mampu menggambarkan distribusi lemak dan komposisi tubuh secara menyeluruh.

    “Makanya banyak orang yang badannya kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika kita cek lingkar perutnya, perbandingan lingkar perut dengan lingkar paha, tinggi badan, ternyata lemaknya sudah tinggi dan masuk ke kategori obesitas,” tutur dia.

    Vardian menyampaikan, sejak tahun 2022 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menekankan bahwa obesitas ini sebagai penyakit kronis.

    Hal ini lantaran penderita obesitas kerap memiliki berbagai penyakit penyerta, termasuk berkaitan dengan demensia dan Alzheimer.

    “Kalau orang dibiarkan obesitas terus menerus, potensi terjadinya pikun atau Alzheimer itu akan meningkat. Turun ke pernapasan, orang obesitas biasanya masuk ke sleep apnea (henti napas saat tidur), ngorok,” ujar dia.

    Dia juga menyampaikan obesitas meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Pada organ jantung sendiri, penderita obesitas lebih rentan mengalami serangan jantung hingga gagal jantung.

    Obesitas, lanjut Vardian juga menjadi faktor risiko terbesar diabetes tipe 2, fatty liver yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati, batu empedu, serta penurunan libido bisa terjadi karena enzim pada jaringan lemak mengubah testosteron menjadi estrogen, beban sendi.

    Jadi, ujarnya, membahas obesitas itu sangat kompleks. Dia menegaskan, WHO sudah meng-highlight obesitas bukan hanya faktor risiko tapi penyakit kronis, sehingga penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi.

    ”Enggak sesimpel itu. Harus ada peran dokter, lifestyle modification, farmakologi (obat-obatan), dan mungkin operasi bariatrik,” imbuh dia.

  • Cuaca Panas Ekstrem Dapat Memicu Heatstroke: Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

    Cuaca Panas Ekstrem Dapat Memicu Heatstroke: Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

    7cloud.asia – Cuaca panas ekstrem yang terjadi saat El Nino dapat memicu gangguan kesehatan, bahkan yang terburuk dapat memicu heatstroke yang mematikan.

    Kelompok lansia, anak-anak, penderita obesitas, diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, pekerja lapangan, serta atlet memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit terkait panas karena kemampuan tubuh mereka dalam mengatur suhu tidak seefektif orang sehat pada umumnya.

    Heatstroke atau sengatan panas merupakan kondisi darurat medis yang dapat ditandai dengan gangguan fungsi otak seperti kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga hilang kesadaran.

    Kondisi heatstroke ini sangat fatal karena merusak fungsi organ vital (otak, jantung, ginjal) jika tidak segera didinginkan.

    Dilansir Hindustan Times, dokter spesialis kegawatdaruratan dan trauma dari Medanta Noida, Dr. Santosh Pandey memaparkan perbedaan heat exhaustion dan heastroke.

    Baca: Lima Cara untuk Tetap Sehat Saat Cuaca Panas Ekstrem

    “Heat exhaustion dan heatstroke berada dalam spektrum yang sama, tetapi heatstroke merupakan keadaan darurat medis,” kata Pandey, dikutip Kamis (25/6/2026)

    Ia menjelaskan seseorang yang mengalami heat exhaustion umumnya masih sadar dan responsif meski merasakan keringat berlebih, lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram otot, dan denyut nadi cepat.

    Namun, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke ketika suhu inti tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan mulai memengaruhi fungsi otak.

    “Tanda peringatannya meliputi kebingungan, disorientasi, bicara pelo, kejang, hilang kesadaran, atau perilaku yang tidak biasa,” ujarnya.

    Menurut Pandey, perubahan kondisi mental merupakan tanda paling penting untuk mengenali heatstroke dan membedakannya dari kelelahan akibat panas.

     

    Baca: El Niño Memicu Panas Ekstrem, Ini Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

    Dalam kesempatan itu Pandey juga meluruskan anggapan bahwa semua penderita heatstroke pasti berhenti berkeringat. Menurut dia, sebagian pasien, terutama yang mengalami heatstroke akibat aktivitas fisik berat, masih dapat berkeringat.

    “Kulit panas dan kering memang bisa menjadi tanda heatstroke yang sudah lanjut, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan diagnosis,” katanya.

    Pandey menjelaskan tubuh biasanya mendinginkan diri melalui penguapan keringat. Namun, saat terpapar panas ekstrem, mekanisme pendinginan dapat gagal sehingga suhu tubuh meningkat cepat dan berisiko merusak organ.

    Jika menemukan seseorang yang diduga mengalami heatstroke, Pandey menyarankan segera menghubungi layanan medis darurat dan memindahkan korban ke tempat yang teduh atau berpendingin udara.

    Pakaian yang berlebihan perlu dilepas, lalu tubuh didinginkan menggunakan air dingin, handuk basah, kipas angin, atau kompres es yang ditempatkan di leher, ketiak, dan selangkangan.

    Baca: Kencangkan Suara untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    “Jika korban masih sadar dan mampu menelan, berikan sedikit demi sedikit cairan dingin. Jangan memaksa memberi minum apabila korban kebingungan atau tidak sadar,” katanya.

    Pandey menambahkan perendaman seluruh tubuh dalam air dingin dapat menjadi metode efektif untuk menangani heatstroke berat jika dilakukan dengan benar.

    Namun, prioritas utama tetap menurunkan suhu tubuh secepat mungkin sambil menunggu bantuan medis tiba.

    Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara dan kelembapan tinggi karena kondisi tersebut menghambat penguapan keringat yang menjadi mekanisme utama pendinginan tubuh.

    Pandey menambahkan, olahraga luar ruangan sebaiknya dilakukan saat matahari terbit ketika suhu dan paparan radiasi matahari masih rendah.

    “Kurangi intensitas olahraga saat gelombang panas dan segera berhenti jika muncul pusing, kelelahan berlebihan, sakit kepala, mual, atau sesak napas yang tidak biasa,” ujar Pandey.

  • Menuju Nol Kematian Demam Berdarah Dengue 2030: Diperlukan Pembenahan Tata Laksana Klinis

    Menuju Nol Kematian Demam Berdarah Dengue 2030: Diperlukan Pembenahan Tata Laksana Klinis

    7cloud.asia – Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angka kematian akibat dengue di Indonesia telah menurun dari 0,9 persen pada 2021 menjadi 0,4 persen pada 2025. Angka penularan juga turun dari 92 kasus per 100.000 penduduk pada 2024 menjadi 57 kasus per 100.000 penduduk pada 2025.

    Namun demikian, Indonesia tetap tercatat sebagai negara dengan kasus demam berdarah dengue tertinggi di Asia Tenggara dan kedua tertinggi di dunia, serta menyumbang sekitar 17 persen dari total kematian dengue global pada 2025.

    Demikian terungkap dalam seminar dan workshop ASEAN Dengue Day (ADD) 2026 bertajuk “Menuju Nol Kematian Dengue 2030: Antara Impian atau Kenyataan?” yang berlangsung di Auditorium FK-KMK UGM, Senin (29/6/2026) lalu.

    Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor dan Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun, Ditjen Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan, dr. Fadjar SM Silalahi mengatakan, meski angka kasus mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan agar tidak terjadi lonjakan kasus di masa mendatang.

    “Kalau kita lihat (data), Indonesia memiliki beban dengue tertinggi di Asia Tenggara. Ini menunjukkan betapa persoalan dengue ini harus terus menjadi perhatian kita,” katanya. 

    Dalam kesempatan itu dosen Departemen Kesehatan Anak FK-KMK UGM, Dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K) menekankan pentingnya tata laksana klinis dalam menekan angka kematian akibat dengue.

    Baca: Menekan Penularan Malaria dan Demam Berdarah di Tengah Tantangan Perubahan Iklim

    Menurutnya, perjalanan penyakit dengue berlangsung singkat dan dinamis sehingga diagnosis dini, pemantauan kondisi klinis, serta penanganan yang tepat menjadi faktor krusial untuk mencegah keterlambatan penanganan.

    “Dengue adalah penyakit infeksi akut, karena waktunya praksis tidak akan lebih dari 2 minggu, berbeda dengan HIV dan malaria yang bisa sampai berbulan-bulan,” ungkap Ida.

    Lebih jauh, Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam menangani dengue justru berada pada fase awal ketika gejala penyakit tersebut sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lainnya yang juga banyak ditemukan di Indonesia.

    Selain tata laksana klinis, penguatan sistem rujukan juga dinilai berperan penting dalam menekan angka kematian.

    Dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM, Dr. Diah Ayu Puspandari menyoroti masih banyak pasien yang langsung datang ke rumah sakit tanpa terlebih dahulu mengakses layanan primer.

    “Dari hasil kajian yang kami peroleh, ada sekitar 21,8 persen pasien yang langsung ke akses fasilitas kesehatan rujukan langsung, tanpa melalui puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP),” jelasnya sembari menunjukkan data hasil kajian tim FKKMK UGM.

    Baca: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah Dengue

    Kondisi tersebut, lanjut Diah, berdampak pada meningkatnya biaya pelayanan kesehatan.

    Karena itu, diperlukan penguatan peran FKTP, koordinasi antarfasilitas kesehatan, ketersediaan transportasi rujukan, peningkatan kapasitas fasilitas rujukan, serta pemanfaatan data dan sistem informasi agar pasien dapat dirujuk secara tepat waktu sehingga risiko kasus berat maupun kematian dapat ditekan.

    “Ini implikasinya adalah ke biaya pelayanan yang lebih tinggi,” ungkapnya.

    Dari sisi pembiayaan, Guru Besar FK UI, Prof. Hasbullah Thabrany menyampaikan bahwa target nol kematian dengue tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan layanan klinis maupun sistem rujukan.

    Menurutnya, diperlukan dukungan pendanaan kesehatan yang memadai, efektif, dan efisien agar berbagai strategi pengendalian dengue dapat berjalan secara optimal. “Namun, coba kita lihat, apakah pendanaan untuk publik di bidang kesehatan sudah cukup?” tanyanya.

    Menurutnya, pendanaan publik melalui pemerintah dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memiliki peran penting untuk memastikan upaya promotif, preventif, hingga kuratif dapat berlangsung secara berkelanjutan.

    Menurutnya, terdapat hubungan antara besarnya pendanaan dengan tingginya kasus dengue. “Angka kasus dan kematian tinggi ada korelasinya dengan pendanaan yang rendah,” papar Dosen Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI tersebut.

  • Dua Kematian Akibat Heatstroke di Akhir Juni: Penyakit Akibat Perubahan Iklim Adalah Nyata

    Dua Kematian Akibat Heatstroke di Akhir Juni: Penyakit Akibat Perubahan Iklim Adalah Nyata

    7cloud.asia – Dalam waktu kurang dari dua pekan pada Juni 2026, dua orang dilaporkan meninggal dunia diduga karena mengalami heatstroke.

    Korban pertama merupakan peserta ajang lari maraton, sementara korban lainnya adalah peserta Pelatihan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).

    Dua kematian akibat heatstroke tersebut menjadi pengingat bahwa paparan panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan rasa tidak nyaman, tetapi juga mengancam kesehatan.

    Heatstress dan heatstroke telah menjadi ancaman kesehatan yang nyata, tetapi masih banyak anggota masyarakat yang belum menyadari. Gangguan kesehatan akibat cuaca panas ini juga belum mendapat perhatian yang memadai dalam kebijakan kesehatan publik.

    Dipaparkan dalam webinar yang diselenggarakan LaporIklim beberapa waktu lalu, heatstress merupakan kondisi ketika tubuh mulai kesulitan membuang panas akibat kombinasi suhu lingkungan, kelembapan udara, paparan sinar matahari, maupun aktivitas fisik.

    Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat exhaustion atau bahkan heatstroke, yaitu keadaan darurat medis ketika suhu inti tubuh meningkat drastis dan mulai merusak organ-organ vital.

    Tanpa penanganan cepat, heatstroke dapat menyebabkan kegagalan organ hingga kematian.

    Baca: Kenali Gejala dan Cara Mengatasi Heatstroke

    Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Herawati Sudoyo menegaskan bahwa paparan panas ekstrem harus dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan cuaca.

    Menurutnya, saat suhu lingkungan meningkat, tubuh akan bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal melalui pelebaran pembuluh darah dan penguapan keringat.

    Namun, ketika mekanisme tersebut tidak lagi mampu mendinginkan tubuh, seseorang dapat mengalami heat stress hingga heatstroke yang mengancam jiwa.

    “Panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan isu kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat dicegah apabila kita mengenali risikonya, melindungi kelompok rentan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini.”

    Herawati menjelaskan bahwa heatstress ditandai dengan keringat berlebih, kelelahan, kram otot, pusing, dan dehidrasi.

    Apabila paparan panas terus berlanjut hingga suhu inti tubuh melebihi 40°C, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke yang menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal akibat respons peradangan sistemik.

    Selain berdampak pada kesehatan fisik, paparan suhu panas juga dapat memengaruhi kesehatan mental.

    Baca: Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

    Suhu tinggi dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu kualitas tidur, memicu kebingungan hingga penurunan kesadaran, dan pada kasus berat berpotensi menyebabkan kerusakan otak permanen.

    “Panas ekstrem telah menjadi salah satu penyebab utama kematian yang berkaitan dengan cuaca (weather-related deaths), sehingga memerlukan perhatian serius dari sektor kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan.”

    Dua kematian yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua pekan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu mulai memandang paparan panas sebagai isu kesehatan publik yang memerlukan edukasi, sistem peringatan dini, serta kesiapsiagaan lintas sektor.

    “Kita tidak dapat menghentikan cuaca yang semakin panas, tetapi kita dapat mengurangi dampaknya. Literasi kesehatan adalah perlindungan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa bagi setiap keluarga,” tandasnyaa

    Selain faktor kesehatan individu, risiko paparan panas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kota-kota yang dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi beton dan aspal cenderung menyerap dan menyimpan panas lebih lama.

    Kondisi ini memicu fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan), yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya dan meningkatkan risiko heat stress bagi masyarakat.

    Karena itu, Eksekutif Direktur Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan bahwa adaptasi terhadap suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu.

    “Cara rumah, lingkungan, dan kota dirancang turut menentukan tingkat paparan panas yang dialami warga,” tegasnya.

    Baca: Wujudkan Hunian dan Kawasan Rendah Emisi Bersama BeCool