7cloud.asia – Ancaman perubahan iklim semakin nyata. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa perubahan iklim terus berlangsung dengan cepat adalah perubahan suhu global yang meningkat dari tahun ke tahun.
Data dari Copernicus Climate Change Service (CCCS) bahkan menunjukkan suhu rata-rata global tahun 2023 mencapai rekor tertinggi, menyebabkan gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan.
Peningkatan suhu global dan perubahan iklim ini tak lepas dari berbagai aktivitas manusia yang belakangan makin tinggi jejak karbon yang dihasilkan.
Jejak karbon adalah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh individu, aktivitas, produk, atau bahkan sebuah negara.
Emisi gas rumah kaca inilah yang menjadi penyebab utama perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca yang paling sering diukur adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O).
Baca: Dampak limbah elektronik pada lingkungan
Makin tinggi jejak karbon yang dihasilkan maka makin besar pula dampaknya terhadap lingkungan.
Mungkin, Anda bertanya-tanya apa saja contoh aktivitas manusia yang menghasilkan jejak karbon? Berikut beberapa di antaranya, yang dirangkum dari berbagai sumber:
1. Transportasi
Penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil seperti motor dan pesawat terbang dapat menghasilkan CO2 Konsumsi energi: Penggunaan listrik, gas untuk memasak juga dapat menghasilkan CO2.
2. Produksi makanan
Penggunaan pupuk nitrogen pada pertanian hingga proses distribusi makanan dapat menghasilkan gas metana dan nitrogen oksida.
3. Konsumsi barang
Membeli barang-barang baru akan menghasilkan sampah. Pun demikian dengan proses produksinya juga menghasilkan jejak karbon
Baca: KLHK targetkan emisi nol dari sektor sampah pada 2050
4. Penggunaan listrik
Proses pembangkitan listrik juga memiliki jejak karbon yang besar, hal ini karena sebagian besar pasokan listrik di Indonesia bersumber dari PLTU batu bara.
5. Penggunaan pendingin udara
Pemanfaatan pendingin rumah secara teratur akan menambah sekitar 1,5 ton setara CO2 jejak karbon.
6. Sampah makanan
Sampah makanan menghasilkan gas metana (CH4) yang lebih berbahaya dibanding karbondioksida (CO2)
Dengan mengetahui aktivitas apa saja yang menyebabkan jejak karbon meningkat, maka kita bisa membuat berbagai pilihan yang lebih sadar berorientasi terhadap lingkungan.
Misalnya saja dengan melakukan penghematan energi, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, memilih produk ramah lingkungan, dan juga mendukung energi bersih.
Untuk menghindari kenaikan suhu global sebesar 2 derajat Celsius, jejak karbon per tahun harus turun di bawah angka 2 ton pada 2050 nanti.
Mencapai angka itu tentu tidak bisa tercapai dalam semalam sehingga mengurangi jejak karbon menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga Bumi dari perubahan iklim dan kelestarian lingkungan.
Baca: Penerapan standar Euro IV mampu turunkan sumber polusi udara hingga 70 persen









