Tag: perubahan iklim

  • Simak Aktivitas dengan Jejak Karbon Tinggi yang Memicu Perubahan Iklim

    Simak Aktivitas dengan Jejak Karbon Tinggi yang Memicu Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Ancaman perubahan iklim semakin nyata. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa perubahan iklim terus berlangsung dengan cepat adalah perubahan suhu global yang meningkat dari tahun ke tahun.

    Data dari Copernicus Climate Change Service (CCCS) bahkan menunjukkan suhu rata-rata global tahun 2023 mencapai rekor tertinggi, menyebabkan gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan.

    Peningkatan suhu global dan perubahan iklim ini tak lepas dari berbagai aktivitas manusia yang belakangan makin tinggi jejak karbon yang dihasilkan.

    Jejak karbon adalah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh individu, aktivitas, produk, atau bahkan sebuah negara.

    Emisi gas rumah kaca inilah yang menjadi penyebab utama perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca yang paling sering diukur adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O).

    Baca: Dampak limbah elektronik pada lingkungan

    Makin tinggi jejak karbon yang dihasilkan maka makin besar pula dampaknya terhadap lingkungan.

    Mungkin, Anda bertanya-tanya apa saja contoh aktivitas manusia yang menghasilkan jejak karbon? Berikut beberapa di antaranya, yang dirangkum dari berbagai sumber:

    1. Transportasi
    Penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil seperti motor dan pesawat terbang dapat menghasilkan CO2 Konsumsi energi: Penggunaan listrik, gas untuk memasak juga dapat menghasilkan CO2.

    2. Produksi makanan
    Penggunaan pupuk nitrogen pada pertanian hingga proses distribusi makanan dapat menghasilkan gas metana dan nitrogen oksida.

    3. Konsumsi barang
    Membeli barang-barang baru akan menghasilkan sampah. Pun demikian dengan proses produksinya juga menghasilkan jejak karbon

    Baca: KLHK targetkan emisi nol dari sektor sampah pada 2050

    4. Penggunaan listrik
    Proses pembangkitan listrik juga memiliki jejak karbon yang besar, hal ini karena sebagian besar pasokan listrik di Indonesia bersumber dari PLTU batu bara.

    5. Penggunaan pendingin udara
    Pemanfaatan pendingin rumah secara teratur akan menambah sekitar 1,5 ton setara CO2 jejak karbon.

    6. Sampah makanan
    Sampah makanan menghasilkan gas metana (CH4) yang lebih berbahaya dibanding karbondioksida (CO2)

    Dengan mengetahui aktivitas apa saja yang menyebabkan jejak karbon meningkat, maka kita bisa membuat berbagai pilihan yang lebih sadar berorientasi terhadap lingkungan.

    Misalnya saja dengan melakukan penghematan energi, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, memilih produk ramah lingkungan, dan juga mendukung energi bersih.

    Untuk menghindari kenaikan suhu global sebesar 2 derajat Celsius, jejak karbon per tahun harus turun di bawah angka 2 ton pada 2050 nanti.

    Mencapai angka itu tentu tidak bisa tercapai dalam semalam sehingga mengurangi jejak karbon menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga Bumi dari perubahan iklim dan kelestarian lingkungan.

    Baca: Penerapan standar Euro IV mampu turunkan sumber polusi udara hingga 70 persen

  • Perubahan Iklim Berdampak pada Produksi Kopi Dunia, Ngopi Jadi Lebih Mahal

    Perubahan Iklim Berdampak pada Produksi Kopi Dunia, Ngopi Jadi Lebih Mahal

    7cloud.asia – Perubahan iklim ternyata berpengaruh besar pada pasokan kopi dunia, karena kondisi cuaca yang berubah menjadi tak lagi ramah pada petani kopi di sejumlah negara penghasil kopi, termasuk Indonesia.

    Indonesia, yang dikenal sebagai produsen kopi robusta mulai merasakan dampak dari perubahan iklim ini yakni menurunnya produksi kebun kopi.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi kopi Indonesia mengalami penurunan, dari 771 ribu ton pada 2022 menjadi 756,1 ribu ton pada 2023.

    Meskipun harga di pasar global naik, tantangan bagi para petani kopi lokal justru semakin besar. Kenaikan harga kopi memberi keuntungan, tetapi biaya produksi yang ikut meroket membuat keuntungan tersebut cepat terkikis.

    Petani kecil terjebak di antara naiknya biaya dan menurunnya produksi, situasi yang membuat banyak pihak khawatir akan keberlanjutan industri kopi tanah air.

    Indonesia, yang dulu disegani sebagai produsen kopi, kini menghadapi tantangan besar. Dengan produktivitas yang tertinggal jauh dibandingkan Brasil dan Vietnam, kebutuhan akan peremajaan tanaman dan perbaikan infrastruktur pertanian semakin mendesak.

    Jika tidak segera diatasi, ada risiko bahwa Indonesia akan kehilangan posisi strategisnya di pasar global dan mungkin terpaksa mengimpor kopi untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat.

    Baca: Upaya mempertahankan produksi kopi Indonesia di tengah perubahan iklim

    Namun, di tengah kesulitan ini, harapan belum sepenuhnya pupus. Pemerintah dan pelaku industri mulai fokus pada peremajaan kebun, peningkatan teknik budidaya, serta strategi menghadapi perubahan iklim.

    Sementara Vietnam, pesaing terdekat Indonesia, mengalami kondisi cuaca yang lebih bersahabat sehingga produksi kopi robusta Vietnam naik.

    Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam mencatat nilai ekspor kopi Vietnam melonjak menjadi 100,3 persen (yoy) dan menghasilkan 623 juta dolar AS (Rp9,7 triliun) pada Januari 2024.

    Dilansir Antaranews.com, dari segi volume, ekspor kopi Vietnam melonjak sebanyak 61,6 persen dengan total pengiriman mencapai 230 ribu ton selama Januari.

    Produksi kopi Vietnam diharapkan dapat membantu menstabilkan pasar kopi dunia yang terguncang oleh ketidakpastian di Brasil yang disebabkan perubahan pola cuaca.

    Langit Brasil yang biasanya membawa harapan di tengah ladang kopi, kini berubah menjadi ancaman bagi industri ini.

    Curah hujan yang datang setelah musim kering panjang tak mampu mengembalikan kondisi pohon kopi di Minas Gerais, negara bagian penghasil kopi terbesar di Brasil.

    Baca: Petani kopi kehilangan produksi akibat perubahan iklim

    Dilansir dari Reuters, meski hujan mulai turun, para agronomis dan petani pesimis akan hasil panen 2025.

    “Akan ada kerugian, hasilnya tak akan besar,” ujar Alysson Fagundes dari Fundacao Procafe.

    Dalam situasi ini, pohon kopi yang kehilangan daun dan energi diprediksi sulit menghasilkan buah yang optimal.

    Kekeringan yang terjadi di Brasil telah mengguncang pasar kopi global. Harga kopi arabika melonjak, mencapai level tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

    Tak hanya itu, harga gula juga ikut terkerek, menciptakan gelombang harga yang tak hanya dirasakan di Brasil, namun juga menyentuh Indonesia.

    Namun, dampak buruk kekeringan di Brasil tetap memberikan efek domino, mengingat negara tersebut masih menjadi salah satu penentu utama pasokan kopi dunia.

    Bagi Brasil, curah hujan yang terlambat bukanlah kabar baik. Banyak petani memilih untuk memangkas pohon mereka, berharap untuk pemulihan yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

    Namun, proses ini berarti tidak akan ada panen pada 2025 dan harapan baru hanya akan datang pada 2026.

    “Kebun kami seperti di ruang perawatan intensif, butuh waktu sebelum benar-benar pulih.” ungkap seorang petani Brasil.

    Sumber:CNBC/Antaranews.com

     

  • Mengintip Cara Kota-kota di Kolombia Merestorasi Lingkungannya

    Mengintip Cara Kota-kota di Kolombia Merestorasi Lingkungannya

    7cloud.asia – Daerah perkotaan memiliki dampak yang tidak proporsional terhadap hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, dan juga perubahan iklim.

    Dicatat dalam laporan tahun 2021 dari UNEP, Daerah perkotaan menyumbang setidaknya 60 persen emisi karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global.

    Daerah perkotaan juga mencatat 75 persen penggunaan sumber daya, serta menghasilkan sekitar 60 persen limbah yang mencemari lingkungan global.

    Mengingat dampaknya yang sangat besar, wilayah perkotaan merupakan kunci dalam memecahkan banyak permasalahan lingkungan hidup dan menahan laju perubahan iklim, kata para pengamat.

    “Kota merupakan kontributor sekaligus korban degradasi lingkungan, namun juga merupakan pusat inovasi dan kepemimpinan,” kata Mirey Atallah, Kepala Cabang Adaptasi dan Ketahanan UNEP.

    Mirey menegaskan, iklim global sedang berubah banyak kota yang akan menghadapi masa depan suram yang ditandai dengan kejadian cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

    Baca: Barranquilla, kisah sukses sebuah kota merestorasi lingkungannya yang tercemar

    Karena itu tak ada pilihan lain, agar kota-kota di dunia beradaptasi dan mencegah agar kerusakan itu tidak semakin parah.

    Ia menambahkan, “Saat kita mendekati COP16, penting bagi kita untuk menyadari peran penting kota dalam membentuk masa depan berkelanjutan bagi semua orang.”

    Terkait upaya adaptasi ini, kota-kota di Kolombia layak menjadi contoh. Salah satunya adalah kota Barranquilla telah meluncurkan upaya ambisius untuk memulihkan rawa, saluran air, dan ruang hijau di sekitar kota.

    Para pejabat setempat berharap upaya ini, yang sebagian didukung oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), akan menciptakan perlindungan terhadap angin kencang dan gelombang besar laut.

    Barranquilla, dalam beberapa tahun terakhir, telah memasukkan kembali alam ke dalam tatanan perkotaannya.Proses yang dikenal sebagai restorasi ekosistem ini dipandang sebagai kunci untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.

    Program ini juga efektif membantu warga kota menghadapi ancaman lingkungan lainnya seiring rusaknya alam.

    Baca: Menata Ulang kota-kota di dunia untuk atasi pemanasan global

    Lain lagi yang dilakukan Medellín, kota terbesar kedua di Kolombia. Otoritas Medellin menanam ribuan pohon dari 215 spesies asli di sepanjang jalan dan saluran air kota.

    Penanamanan pohon ini sukses mengubah jalanan di Medellin menjadi koridor hijau yang menghubungkan ruang alami di kota dan berkontribusi terhadap ketahanan ekosistem.

    Studi kasus menemukan bahwa penanaman pohon di perkotaan membantu meningkatkan kualitas udara dan mengurangi suhu hingga 4°C di beberapa daerah.

    Hal ini dianggap penting karena perkotaan mengalami apa yang dikenal sebagai efek pulau panas (heat island effect), yang menjadikan wilayah tersebut lebih hangat dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya.

    Cerita sukses lainnya dilakukan kota Cali, yang saat ini menjadi tuan rumah konferensi keanekaragaman hayati dunia, COP16.

    Baca: Solusi kota-kota dalam mengatasi pemanasan global

    Cali yang berlokasi di wilayah Valle del Cauca yang memiliki keanekaragaman hayati, juga menerapkan solusi berbasis alam.

    Dilintasi oleh 10 sungai, Cali memiliki 12 taman dengan keanekaragaman hayati dan 61 lahan basah, rumah bagi hampir 600 spesies burung.

    Salah satu inisiatif utama Cali adalah Pakta Satwa Liar yang bertujuan untuk membatasi perdagangan satwa liar ilegal dan mencegah kepemilikan spesies eksotik.

    Proyek lain yang dilakukan Kota Cali adalah Wildlife Monitoring Platform, sebuah sistem akses terbuka berbasis sains untuk membantu pihak berwenang mengendalikan spesies invasif.

  • Pendidikan Perubahan Iklim Harus Libatkan Berbagai Pihak

    Pendidikan Perubahan Iklim Harus Libatkan Berbagai Pihak

    7cloud.asia – Pendidikan perubahan iklim sangat diperlukan untuk mencegah dampak berkelanjutan perubahan iklim.

    Sebuah studi tahun 2022 di China mengungkapkan bahwa pendidikan perubahan iklim dapat mendorong kebiasaan remaja melakukan aktivitas yang minim emisi karbon agar seimbang dan ramah lingkungan.

    Selain membentuk kebiasaan ramah lingkungan, dalam banyak kasus, praktik pendidikan perubahan iklim sejak dini berpotensi mendorong kesadaran dan perilaku anak agar terhindar dari paparan penyakit akibat perubahan iklim.

    Pendidikan perubahan iklim sejak dini menjadi salah satu cara terbaik mengurangi risiko bencana (mitigasi) akibat perubahan iklim di masa depan.

    Sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di jurnal PLOS ONE mengungkapkan, jika sebanyak 16 persen siswa SMP-SMA di sejumlah negara berpendapatan menengah dan tinggi mempelajari dan menerapkan pendidikan perubahan iklim, maka dunia berpeluang menghindari emisi 19 gigaton karbon dioksida pada 2050.

    Manfaat pendidikan perubahan iklim mungkin baru bisa dirasakan dalam puluhan tahun mendatang, termasuk dalam mencegah penyebaran penyakit pada anak.

    Baca: Aksi iklim di Indonesia meningkat tapi belum pengaruhi kebijakan

    Namun, edukasi dan praktiknya harus dimulai sejak dini dari sekarang dengan melibatkan banyak pihak, di antaranya:

    1. Keluarga
    Pendidikan perubahan iklim bisa diterapkan dari unit terkecil, yaitu keluarga. Contohnya, orang tua bisa mengedukasi anak soal bahaya cuaca panas bagi kesehatan dan membatasi mereka bermain di luar ruangan saat terik.

    Anak juga bisa dibiasakan untuk disiplin menggunakan masker saat keluar rumah untuk menghindari risiko terkena gangguan pernapasan akibat polusi.

    2. Sekolah
    Di lingkungan sekolah, eksekusi praktik pendidikan perubahan iklim perlu disinergikan dengan semua elemen, termasuk komite sekolah, pimpinan satuan pendidikan, pegawai, guru, siswa, penjaga kantin, dan satpam.

    Tujuannya adalah agar edukasi ini tidak berhenti pada tataran pengetahuan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam keseharian seluruh awak sekolah.

    Komite sekolah misalnya, bisa bekerja sama dengan pimpinan satuan pendidikan untuk mendorong pengembangan kebijakan, program, dan fasilitas ramah iklim, seperti perbanyak wastafel untuk mendorong kebiasaan cuci tangan dengan sabun.

    Baca: Kota Kopenhagen kembangkan wisata ramah lingkungan

    Ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit infeksi lewat makanan akibat perubahan iklim.

    Dampak perubahan iklim pada makanan yang bisa membahayakan kesehatan tersebut bisa disampaikan pula lewat pembelajaran transformatif dan didiskusikan secara terbuka oleh guru dan siswa di kelas.

    3. Fasilitas kesehatan
    Di fasilitas kesehatan, dokter dan tenaga kesehatan lainnya perlu terus menggalakkan rekomendasi tambahan agar pasien menerapkan aksi iklim untuk mencegah penyebaran penyakit.

    Gerakan kesehatan ini bisa dipromosikan secara langsung kepada keluarga yang memiliki anak.

    Contoh gerakan kesehatan yang dimaksud, seperti penerapan 3M Plus untuk cegah DB dan penggunaan masker untuk cegah bahaya polusi.

    Seruan aksi iklim ini juga bisa dilakukan lewat poster dan brosur dengan tampilan visual menarik yang bisa dibagikan kepada masyarakat.

    Bukti ilmiah soal efektivitas pendidikan perubahan iklim dalam mencegah penyakit pada anak secara langsung mungkin belum ada.

    Namun, lewat sederet pendidikan perubahan iklim secara menyeluruh yang dilakukan sejak dini, risiko penularan penyakit maupun dampak berkelanjutan perubahan iklim yang akan dirasakan generasi mendatang diharapkan bisa berkurang.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
    Annisaa Fitrah Umara, (Lecturer, Universitas Muhammadiyah Tangerang), Rully Angraeni Safitri (Dosen, Universitas Muhammadiyah Tangerang), Siti Latipah (Dosen, Universitas Muhammadiyah Tangerang)

  • Pendidikan Perubahan Iklim pada Anak Bantu Cegah Penyakit Menular

    Pendidikan Perubahan Iklim pada Anak Bantu Cegah Penyakit Menular

    7cloud.asia – Minimnya pendidikan perubahan iklim dapat mendorong individu melakukan kegiatan yang bisa meningkatkan emisi gas rumah kaca, seperti membuang sampah sembarangan, menggunakan barang yang sulit terurai, pemakaian kendaraan berbahan bakar fosil, dan lainnya.

    Karena itu, edukasi sangat diperlukan untuk mencegah dampak berkelanjutan perubahan iklim.

    Sebuah studi tahun 2022 di China mengungkapkan bahwa pendidikan perubahan iklim dapat mendorong kebiasaan remaja melakukan aktivitas yang minim emisi karbon agar seimbang dan ramah lingkungan.

    Selain membentuk kebiasaan ramah lingkungan, dalam banyak kasus, praktik pendidikan perubahan iklim sejak dini berpotensi mendorong kesadaran dan perilaku anak agar terhindar dari paparan penyakit akibat perubahan iklim.

    Contohnya, pengetahuan soal bahaya demam berdarah (DB)—salah satu penyakit yang kasusnya meningkat akibat perubahan iklim–dapat mendorong anak dan orang tua lebih gencar menerapkan praktik 3M Plus.

    Praktik ini terdiri dari menguras dan menutup rapat tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air, serta mencegah risiko gigitan nyamuk lewat beragam kegiatan, seperti memakai kelambu dan obat nyamuk saat tidur.

    Baca: Catatan kritis terhadap panduan pendidikan iklim yang dirilis pemerintah

    Contoh lainnya, pengetahuan soal bahaya cuaca panas terhadap kesehatan, membuat anak lebih memilih bermain di dalam rumah dan perbanyak minum air saat suhu sedang tinggi.

    Begitu pula kesadaran soal bahaya polusi udara bisa mendorong anak-anak menggunakan masker saat berada di luar rumah, sehingga mengurangi risiko terkena gangguan pernapasan.

    Meskipun berpotensi besar untuk mencegah penyakit, pendidikan perubahan iklim sayangnya belum masuk kurikulum pendidikan sekolah secara umum di skala global.

    Padahal, pendidikan perubahan iklim sangat dibutuhkan anak-anak yang menjadi salah satu kelompok paling rentan terdampak penyakit akibat perubahan iklim.

    Di Indonesia, pendidikan perubahan iklim baru masuk kurikulum pendidikan nasional hanya kurang dari sepekan sebelum pergantian pemerintahan baru.

    Lantas, seberapa besar potensi pendidikan perubahan iklim dalam mencegah penyakit pada anak?

    Baca: Pendidikan iklim di Indonesia belum tepat sasaran

    Pentingnya pendidikan perubahan iklim
    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), sebelumnya merilis Panduan Pendidikan Perubahan Iklim.

    Kepala BSKAP, Anindito Aditomo mengungkapkan bahwa pendidikan perubahan iklim sangat diperlukan untuk membentuk kesadaran dan pemahaman anak sejak dini sehingga mereka dapat berperan aktif merespons perubahan iklim.

    Edukasi soal perubahan iklim sejak dini memang menjadi salah satu cara terbaik mengurangi risiko bencana (mitigasi) akibat perubahan iklim di masa depan.

    Sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di jurnal PLOS ONE mengungkapkan, jika sebanyak 16 persen siswa SMP-SMA di sejumlah negara berpendapatan menengah dan tinggi mempelajari dan menerapkan pendidikan perubahan iklim, maka dunia berpeluang menghindari emisi 19 gigaton karbon dioksida pada 2050.

    Berpotensi cegah penyebaran penyakit
    Hingga saat ini, belum ada penelitian yang secara spesifik mengkaji efektivitas pendidikan perubahan iklim dalam mencegah penyakit pada anak.

    Namun, sejumlah studi melaporkan bahwa pendidikan perubahan iklim bermanfaat mengubah kesadaran dan perilaku anak. Kebiasaan ini pada akhirnya diharapkan dapat mengurangi risiko anak terkena penyakit akibat perubahan iklim.

    Untuk mencegah dampak berkelanjutan tersebut, Panduan Pendidikan Perubahan Iklim menekankan bahwa edukasi perlu dilakukan di semua sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, maupun keluarga.

    Baca: Agar pendidikan memberi solusi bagi perubahan iklim 

    Sebelum panduan tersebut terbit, sejumlah sekolah telah menerapkan pendidikan perubahan iklim. Salah satunya adalah praktik pendidikan perubahan iklim melalui kegiatan kami sebagai upaya pencegahan penyakit pada anak.

    Kegiatan ini melibatkan 47 orang santri berusia 11-14 tahun di Yayasan Yatim Bait Al-Qur’a Mulia, Tangerang Selatan.

    Dilakukan dalam dua kali pertemuan, kami melaksanakan pendidikan perubahan iklim melalui focus group discussion (FGD)—sebuah grup diskusi dengan pembahasan terfokus.

    Melalui FGD, para santri memeroleh sejumlah informasi soal perubahan iklim, termasuk penyebab dan tanda perubahan iklim, jenis penyakit yang disebabkannya, serta upaya pencegahan penyakit tersebut.

    Kami juga membekali para santri seputar praktik pemilahan sampah anorganik dan pengolahan sampah organik menjadi kompos.

    Setelah memperoleh pendidikan perubahan iklim, kami mengharapkan para santri dapat menjaga kesehatannya sembari memupuk kesadaran dan perilaku lebih ramah lingkungan.

    Baca: Aksi iklim di Indonesia meningkat tapi belum pengaruhi kebijakan

    Ini termasuk membuat lubang resapan biopori, memilah sampah anorganik, dan mengolah sampah organik menjadi kompos.

    Langkah-langkah ini untuk menghindari penumpukan maupun pembakaran sampah yang mencemari udara—sehingga memerburuk perubahan iklim dan memicu masalah pernapasan pada anak.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
    Annisaa Fitrah Umara, (Lecturer, Universitas Muhammadiyah Tangerang), Rully Angraeni Safitri (Dosen, Universitas Muhammadiyah Tangerang), Siti Latipah (Dosen, Universitas Muhammadiyah Tangerang)

  • Kontradiksi China: Penghasil Emisi Terbesar Tetapi Juga Pahlawan Melawan Perubahan Iklim

    Kontradiksi China: Penghasil Emisi Terbesar Tetapi Juga Pahlawan Melawan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – China adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

    Tetapi China juga merupakan pemimpin global dalam mengembangkan sumber-sumber yang disebut teknologi hijau, seperti tenaga surya dan angin. Jadi, apakah China merupakan masalah atau solusi dalam perang melawan perubahan iklim?

    Menjelang konferensi iklim COP29 di Baku, Azerbaijan, posisi China yang tampaknya kontradiktif dalam perang melawan perubahan iklim mulai terlihat.

    Lebih dari 80 persen energi China diproduksi menggunakan bahan bakar fosil, dengan ketergantungan yang besar pada batu bara.

    Produksi batu bara negara itu memecahkan rekor tahun lalu, dan lebih banyak pembangkit listrik tenaga batu bara yang sedang dibangun di China.

    Baca: WMO sebut polusi udara di China menurun

    Meskipun demikian, emisi karbon China kemungkinan akan mencapai puncaknya pada 2025, lima tahun lebih cepat dari target awal yakni pada tahun 2030.

    Profesor riset asosiasi dan penjabat direktur Pusat Keberlanjutan Global di Universitas Maryland, Yiyun Cui menyebut, hal ini terutama didorong oleh perkembangan teknologi hijau yang sangat cepat, khususnya tenaga surya dan angin.

    ”Kami melihat penyebaran kendaraan listrik sangat cepat. [Hal ini] juga didorong oleh menurunnya permintaan untuk banyak produk yang membutuhkan banyak energi seperti bahan konstruksi karena perlambatan ekonomi dan restrukturisasi,” kata Cui.

    Laporan terbaru dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih, sebuah organisasi penelitian dan kebijakan yang berbasis di Finlandia, menunjukkan bahwa pada kuartal ketiga tahun ini, emisi batu bara China meningkat.

    Namun peningkatan tersebut diimbangi oleh pengurangan emisi yang disebabkan oleh produksi baja, semen, dan minyak, akibat melambatnya ekonomi China.

     

    Baca: Cara pemerintah China menurunkan emisi karbon

    Sementara itu, China adalah pemimpin global dalam membangun kapasitas energi terbarukan.

    Jumlah energi yang dipasok oleh pembangkit listrik tenaga angin dan surya yang dibangunnya, ketika mulai beroperasi, diperkirakan akan menjadi dua kali lipat dari gabungan seluruh dunia, cukup untuk memberi daya pada seluruh Korea Selatan.

    Selama beberapa tahun terakhir, Beijing telah mendorong serangkaian kebijakan nasional, termasuk mengalokasikan lahan untuk membangun pembangkit listrik tenaga angin dan meningkatkan penggunaan panel surya atap.

    Lauri Myllyvirta, peneliti senior di Asia Society Policy Institute, dilansir VOA News mengatakan bahwa kebijakan ini telah merangsang ekonomi hijau China dan merupakan kepentingan Beijing untuk mengekspor teknologi hijau.

    Lauri mengatakan, ada banyak antusiasme dari pemerintah daerah, bank-bank negara, investor swasta untuk proyek-proyek tenaga surya dan angin, karena proyek-proyek tersebut menguntungkan terutama setelah kontraksi pasar real estat.

    ”Semua pemain ini mencari target baru untuk investasi dan sumber pertumbuhan,” kata Myllyvirta.

    Baca: PLTU batu bara ditusing sebagai sumber utama polusi udara

    Industri tenaga surya China, misalnya, mengalami kelebihan pasokan, yang mengancam akan membuat harga peralatan tetap rendah selama bertahun-tahun mendatang.

    Ketika negara-negara seperti Amerika Serikat memperingatkan adanya ancaman terhadap produksi lokal, Cui mengatakan hal itu membebankan biaya untuk transisi energi global, terutama bagi negara-negara di belahan bumi selatan.

    Negara-negara akan mengajukan rencana iklim baru awal tahun depan untuk mencapai Tujuan Perjanjian Paris yakni untuk membatasi kenaikan suhu global.

    “Sebagai penghasil emisi terbesar di dunia, komitmen China diharapkan menjadi “sangat penting bagi upaya iklim global,” kata Myllyvirta.

    COP29 akan berlangsung dari 11 November hingga 22 November di Azerbaijan. (Sumber: VOA Indonesia)

  • Dialog Greenfaith Indonesia: Warga Jawa Barat Makin Rasakan Dampak Perubahan Iklim

    Dialog Greenfaith Indonesia: Warga Jawa Barat Makin Rasakan Dampak Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim telah dirasakan warga Jawa Barat. Dan, isu perubahan iklim juga menjadi perhatian warga Jawa Barat dalam penyelenggaraan Pilkada 2024 ini.

    Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa dampak perubahan iklim telah mengancam kawasan pesisir utara Jawa Barat, di mana sekitar 700 hektare lahan tenggelam akibat kenaikan permukaan air.

    Di lapangan, masyarakat terus memperjuangkan keadilan lingkungan guna menghadang laju perubahan iklim.

    Demikian terungkap dalam dialog tentang transisi energi yang berkeadilan yang digelar pada Jumat (25/10/2024) oleh GreenFaith Indonesia bekerja sama dengan GreenFaith Jepang serta WALHI Jawa Barat.

    Dialog ini dihelat di Kota Bandung menghadirkan pembicara anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, LBH Bandung, akademisi, organisasi masyarakat sipil.

    Viktor Permana, akademisi sekaligus peneliti dari Universitas Padjadjaran memaparkan hasil survei terbarunya, di mana isu perubahan iklim kini menjadi perhatian utama bagi warga Jawa Barat menjelang Pilkada 2024.

    Hasil survei menunjukkan bahwa 84,1 persen responden mendukung transisi energi dan berharap para calon pemimpin daerah memasukkan isu lingkungan dalam program mereka.

    Dari sisi kebijakan, Wulandari dari Perkumpulan Inisiatif mengungkapkan bahwa anggaran publik Jawa Barat untuk energi terbarukan masih minim dibandingkan dengan pendapatan dari energi fosil.

    Baca: Agama dan gender syokong adaptasi iklim warga Pantura di Jawa Barat

    “Pendapatan daerah dari energi fosil mencapai Rp 2 triliun, sementara energi terbarukan hanya menyumbang 0,5 persen dari total PAD,” ungkap Wulandari.

    Menurutnya, transisi energi masih menghadapi tantangan berat dari sisi pendanaan dan prioritas anggaran. Di sisi lain, dengan beralihnya transisi energi yang jadi permasalahan adalah merupakan PAD tertinggi.

    Kendaraan bermotor merupakan sumber PAD yang paling tinggi. Beralih ke kendaraan listrik, tanpa pajak, sehingga PAD berkurang, itu yang harus dipikirkan ke depan.

    Dalam Peraturan Daerah Jawa Barat, ditargetkan porsi energi terbarukan mencapai 20 persen pada tahun 2025 dan 28 persen pada tahun 2050 sesuai dengan Perda No. 2 Tahun 2019.

    Maulida dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung menjelaskan bahwa pihaknya telah mendampingi masyarakat dalam menggugat izin lingkungan PLTU yang dikeluarkan di Cirebon dan Indramayu.

    LBH juga aktif mengedukasi publik melalui media sosial dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya PLTU dan pentingnya energi terbarukan.

    Ahab Sihabudin, anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PKS, menegaskan bahwa kebijakan transisi energi harus diwujudkan pada tingkat daerah, tidak hanya menjadi wacana pusat.

    “Potensi energi terbarukan di Jawa Barat mencapai 200 gigawatt, dan pemerintah pusat perlu memfasilitasi peralihan ini,” ujarnya.

    Baca: Dampak PLTU Indramayu pada lingkungan dan kesehatan masyarakat

    Sementara itu, Heri Ukasah dari Fraksi Gerindra menyatakan dukungannya terhadap upaya transisi energi.

    Menghadapi tantangan ini, Direktur Eksekutif GreenFaith Internasional, Fletcher Harper menjelaskan ebagai organisasi multi-agama yang berfokus pada isu keadilan iklim Greenfaithvakan terus menyalakan harapan dan membangun fondasi kuat bagi perjuangan.

    “Perubahan iklim adalah tantangan global yang nyata, dan kita tidak dapat menutup mata. Seluruh masyarakat dunia harus bersama-sama menghadapi krisis ini,” ujar Flecher.

    Menurutnya, perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan, melainkan juga seruan moral yang harus dijawab oleh seluruh komunitas beragama. Karena itu dibutuhkan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara.

    Perjuangan melawan perubahan iklim, ujarnya, memerlukan inovasi teknologi, keadilan sosial, serta dukungan moral dari seluruh umat beragama di dunia.

    Hening Parlan, Direktur GreenFaith Indonesia, saat membuka acara menyampaikan bahwa GFI berfokus pada transisi energi yang adil dan bertanggung jawab.

    Upaya ini tidak berjalan sendiri; GFI bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah (NGO), komunitas masyarakat, dan pemerintah untuk mempercepat transisi menuju energi ramah lingkungan di Indonesia.

    “Sebagai insan beragama, kewajiban kita adalah merawat bumi,” tegas Hening, menyoroti bahwa semua ajaran agama mendorong umatnya untuk melindungi bumi sebagai tanggung jawab moral bersama.

    Salah satu inisiatif penting adalah rencana penutupan PLTU Indramayu dan Cirebon. Bila penutupan PLTU ini berhasil, diharapkan bisa menjadi contoh, sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia serius dalam menekan emisi karbon.

  • Penanggulangan Perubahan Iklim: Apa yang Bisa Diharapkan dari COP 29 Baku

    Penanggulangan Perubahan Iklim: Apa yang Bisa Diharapkan dari COP 29 Baku

    7cloud.asia – Dunia akan menggelar konferensi iklim atau COP 29 di Baku, Azerbaijan, pada 11-12 November 2024 mendatang.

    COP 29 akan menjadi konferensi yang menentukan, khususnya bagi pendanaan iklim global. Berdasarkan negosiasi-negosiasi sebelumnya, KTT perubahan iklim PBB diharapkan dapat memastikan pendanaan dan upaya-upaya menuju keadilan iklim.

    Adapun fokus pembahasan COP 29 terletak pada kemampuan negara-negara yang paling rentan untuk beradaptasi dan pulih dari dampak buruk perubahan iklim.

    Earth.Org mengkaji elemen-elemen penting COP 29, yakni perubahan lanskap pendanaan iklim, pengembangan target keuangan baru, Dana Kerugian dan Kerusakan (loss and damage fund), dan dampaknya terhadap keadilan iklim global.

    COP 29 yang akan datang ini, merupakan COP terbaru yang diadakan setiap tahun sejak tahun 1995, terjadi pada saat dunia menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin memburuk, baik dalam intensitas maupun frekuensi.

    Baca: Menakar komitmen iklim pemerintahan Prabowo di COP 29

    Suhu bumi yang terus meningkat dengan dampak buruk termasuk gelombang panas yang mematikan, kebakaran hutan, banjir, dan angin topan.

    Konsensus ilmiahnya jelas: waktu hampir habis untuk membatasi suhu Bumi hingga 1,5C di atas tingkat pra-industri, yang merupakan target yang ditetapkan oleh para pemimpin dunia dalam Perjanjian Paris tahun 2015 untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim.

    Inti dari setiap diskusi di COP 29 akan dipusatkan pada bagaimana kerja sama internasional harus ditingkatkan untuk mengatasi masalah-masalah mendesak ini.

    KTT Baku diharapkan menjadi “COP keuangan” yang fokus pada memobilisasi triliunan dolar yang diperlukan untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

    Pendanaan iklim telah menjadi isu yang kontroversial dan kritis dalam negosiasi iklim global, dan COP 29 menawarkan peluang bagi negara-negara untuk menghitung ulang komitmen keuangan mereka dan mengadopsi target baru.

    Baca: COP 28 berakhir tanpa mandat tegas akhiri bahan bakar fosil

    Dalam beberapa tahun terakhir, janji negara-negara maju untuk membantu negara-negara berkembang dalam mengatasi perubahan iklim berturut-turut gagal terwujud.

    Misalnya, janji sebesar 100 miliar dolar per tahun, yang dibuat pada COP15 tahun 2009, seharusnya menjadi uang muka pendanaan iklim jangka panjang. Namun, perkiraan menunjukkan bahwa realisasi pendanaan iklim masih jauh di bawah target.

    Faktanya, laporan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang diterbitkan pada bulan Mei menunjukkan bahwa hanya sekitar 83 miliar dolar yang telah dimobilisasi pada tahun 2020, sehingga jumlah yang dijanjikan masih jauh dari kebutuhan hingga tahun 2022.

    COP 29 direncanakan untuk mengisi kesenjangan tersebut dan menunjukkan jalan baru dengan menetapkan Tujuan Kuantifikasi Kolektif Baru (NCQG) yang lebih ambisius dan realistis terkait pendanaan iklim.

    Namun KTT ini juga bertujuan untuk memperbaiki mekanisme penyaluran dana, sehingga dana dapat disalurkan tepat pada tempat yang paling dibutuhkan negara dan masyarakat.

    Konferensi ini juga akan mengoperasionalkan Dana Kerugian dan Kerusakan yang dibentuk pada COP27 untuk memberikan bantuan keuangan kepada negara-negara yang paling menderita kerugian akibat perubahan iklim.

     

  • Mengulik Pembahasan Pendanaan Perubahan Iklim di COP 29

    Mengulik Pembahasan Pendanaan Perubahan Iklim di COP 29

    7cloud.asia – Pendanaan perubahan iklim atau pendanaan iklim akan menjadi pembahasan utama Konferensi Iklim ke-29 atau COP 29 di Baku, Azerbaijan pada 11-12 November mendatang.

    Pendanaan iklim adalah sebuah denotasi yang mencakup semua sumber daya keuangan publik dan swasta yang disalurkan untuk kegiatan-kegiatan yang berupaya memitigasi dampak perubahan iklim dan memungkinkan negara-negara beradaptasi terhadap dampak-dampaknya.

    Pendanaan iklim ini menjadi penting untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris karena dana ini memungkinkan mitigasi –yang berarti pengurangan emisi gas rumah kaca– dan peningkatan ketahanan iklim di negara-negara yang paling rentan.

    Dua bidang prioritas yang paling membutuhkan pendanaan iklim adalah mitigasi dan adaptasi. Mitigasi melibatkan upaya untuk mengurangi atau menghindari emisi gas rumah kaca tertentu.

    Mitigasi ini antara lain melibatkan investasi pada teknologi energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, dan mendukung proyek penangkapan dan penyimpanan karbon.

    Adaptasi, di sisi lain, ditujukan untuk membantu negara-negara menghadapi dampak perubahan iklim melalui, antara lain, membangun pertahanan terhadap banjir, pengelolaan sistem air yang lebih baik, dan praktik pertanian yang berketahanan iklim.

    Baca: Apa yang Bisa Diharapkan dari COP 29 dalam menanggulangi perubahan iklim

    Skala tantangannya sangat besar. Menurut Bank Dunia, negara-negara berkembang akan membutuhkan 4,5 triliun dolar per tahun pada tahun 2030 untuk memenuhi target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

    Meskipun hal ini terjadi, kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim semakin besar. Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh peristiwa cuaca ekstrem – yang sebagian besar diperburuk oleh perubahan iklim – diperkirakan mencapai 329 miliar dolar secara global pada tahun 2021, menurut laporan Weather, Climate, and Catastrophe Insight dari Aon.

    Meskipun kebutuhannya meningkat, aliran pendanaan iklim masih jauh di bawah kebutuhan. Salah satu hambatan utama dalam meningkatkan pendanaan iklim adalah kurangnya kepercayaan antara negara maju dan berkembang.

    Beberapa negara berkembang berpendapat bahwa ketidakmampuan negara-negara kaya untuk memenuhi komitmen keuangan mereka melemahkan kerja sama global dalam bidang iklim.

    Masalah kepercayaan ini adalah sesuatu yang harus dihadapi COP 29, terutama melalui diskusi mengenai NCQG.

    Target Pendanaan Iklim yang Baru
    Dari semua hasil yang diharapkan dari COP 29, mungkin yang paling ditunggu-tunggu adalah pengembangan NCQG mengenai pendanaan iklim.

    Baca: Menakar komitmen iklim pemerintahan Prabowo di COP 29

    Tujuan untuk memobilisasi 100 miliar dolar setiap tahunnya bagi negara-negara berkembang, yang ditetapkan sejak tahun 2009, secara luas dianggap tidak cukup untuk menanggapi keadaan darurat iklim yang semakin meningkat.

    NCQG harus berupaya untuk melampaui angka tersebut dan menyelaraskan pendanaan iklim dengan kebutuhan nyata negara-negara yang berada di garis depan dalam dampak iklim.

    Oleh karena itu, COP 29 diharapkan akan menghasilkan target finansial yang lebih ambisius, realistis, dan dapat dicapai yang benar-benar mencerminkan skala tantangan global.

    Menurut perkiraan, jika tujuan baru ini mampu mendukung transisi dunia menuju masa depan yang rendah karbon dan berketahanan iklim, maka dana yang dibutuhkan harus berjumlah triliunan dolar, bukan miliaran dolar.

    Permasalahan utama yang harus diatasi pada COP29 adalah siapa yang berkontribusi terhadap tujuan baru ini.

    Baca: COP 28 berakhir tanpa mandat tegas mengakhiri bahan bakar fosil

    Beban pendanaan iklim biasanya sebagian besar ditanggung oleh negara-negara maju, hal ini mencerminkan fakta bahwa negara-negara maju mempunyai tanggung jawab terbesar terhadap emisi gas rumah kaca global.

    Namun selama dua dekade terakhir, sejumlah negara yang biasanya termasuk dalam kelompok negara berkembang telah menjadi penghasil emisi besar, terutama China.

    Akibatnya, semakin besar tekanan yang diberikan kepada negara-negara tersebut dalam hal tanggung jawab pendanaan iklim global.

    Perdebatan lainnya adalah mekanisme pelacakan dan pencairan dana. Banyak negara berkembang mengkritik sistem ini sebagai sistem yang tidak transparan dan tidak dapat dipahami, sehingga tidak dapat diakses.

    Oleh karena itu, COP 29 menawarkan platform untuk mendiskusikan sistem tersebut guna memobilisasi dan mendistribusikan dana dengan lebih baik.

  • Kemenangan Donald Trump Dinilai Akan Berdampak Buruk pada Aksi iklim Dunia

    Kemenangan Donald Trump Dinilai Akan Berdampak Buruk pada Aksi iklim Dunia

    7cloud.asia – Dunia bereaksi terhadap kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden atau Pilpres AS yang dipastikan pada hari Rabu (6/11/2024).

    Kembali terpilihnya Donald Trump dinilai akan berdampak negatif pada aksi menanggulangi perubahan iklim atau aksi yang berlangsung saat ini.

    Para analis dan komentator mempertimbangkan apa arti kepresidenan periode kedua Donald Trump bagi perjuangan melawan perubahan iklim atau aksi iklim di dalam dan di luar Amerika.

    Dalam sebuah pernyataan, Partai Hijau Irlandia Utara menggambarkan hasil Pilpres AS ini sebagai hal yang “sangat meresahkan,” dan mengisyaratkan “kekacauan dan kerusakan” dari masa kepresidenan Trump terhadap aksi iklim secara global.

    Sementara itu, Pusat Hukum Lingkungan Internasional mengatakan kemenangan Trump akan mempunyai “dampak besar” terhadap perlindungan lingkungan, aksi iklim dan hak asasi manusia.

    Baca: Sekutu AS di Asia Was-was dengan kembali terpilihnya Donald Trump

    Dan Lashof, Direktur AS di World Resources Institute, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu bahwa “tidak dapat disangkal bahwa kembalinya kepemimpinan Trump akan menghambat upaya nasional untuk mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan.”

    Analisis Carbon Brief yang diterbitkan pada bulan Maret menemukan bahwa kemenangan kedua Trump dalam pemilu dapat menambah 4 miliar ton emisi AS pada tahun 2030.

    Angka ini setara dengan gabungan emisi tahunan Uni Eropa dan Jepang.

    “Kita hanya bisa berharap bahwa Donald Trump akan mengesampingkan teori konspirasi dan mengambil tindakan tegas untuk mengatasi krisis iklim yang layak diterima rakyat Amerika,” tambah Lashof.

    Negara ini juga akan gagal memenuhi janji pengurangan emisinya dengan “margin yang besar,” menurut Carbon Brief, dimana emisi akan turun hanya 28 persen dari tingkat emisi tahun 2005 pada akhir dekade ini.

    Baca: Simak pidato kemenangan Donald Trump

    Berdasarkan Perjanjian Paris, AS berkomitmen untuk mencapai pengurangan sebesar 50-52 persen pada saat itu.

    “Kita siap memasuki masa yang jauh lebih gelap dan lebih menakutkan, yang konsekuensinya akan kita alami seumur hidup, bahkan hanya dari perspektif iklim,” kata Alexandria Ocasio-Cortez, pemimpin organisasi tersebut.

    Kelompok ini tergolong progresif dan pendukung Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat yang dikenal sebagai “Pasukan.”

    “Saya harap saya dapat mengatakan bahwa kita dapat memperbaiki semua kerusakan yang harus kita tanggung, tetapi ada beberapa hal yang tidak dapat kita pulihkan. Kita tidak akan pulih setelah suhu pemanasan melebihi 1,5 derajat celcius, atau 2 derajat celcius.

    Dan kita akan menanggung konsekuensinya sepanjang sisa hidup kita,” kata Ocasio-Cortez, yang pada Selasa (5/11/2024) memenangkan pemilu kembali mewakili Bronx di New York. Sumber: Earth.org