Tag: perubahan iklim

  • Kemenhut Ingatkan Perubahan Iklim Berdampak pada Ketahanan Pangan Akuatik

    Kemenhut Ingatkan Perubahan Iklim Berdampak pada Ketahanan Pangan Akuatik

    7cloud.asia – Pengendali Ekosistem Hutan dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Dedi Candra mengungkapkan bahwa perubahan iklim menghasilkan dampak terhadap ketahanan pangan akuatik atau makanan yang berasal dari air seperti ikan, kerang, tanaman laut, dan lainnya.

    Dedi menilai, perubahan iklim merupakan masalah yang mendesak karena dapat mempengaruhi suhu wilayah laut, tingkat keasaman air laut, dan keberlangsungan ekosistem perairan yang akan berdampak terhadap produksi pangan akuatik.

    “Ketahanan pangan akuatik dan perubahan iklim pasti sangat erat hubungannya dan ada pengaruhnya terhadap suhu lautan, tingkat keasaman, dan ekosistem perairan. Ini tentunya akan berdampak terhadap produksi pangan akuatik seperti ikan, kerang, dan tanaman laut,” kata Dedi dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Senin (9/12/2024)

    Oleh karena itu, dia mendorong diterapkannya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

    Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan ini merupakan upaya pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan.

    Juga, implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan.

    Selain itu, kebijakan untuk menangani perubahan iklim juga dinilai penting agar kerentanan terhadap ketahanan pangan dapat diatasi.

    Menurutnya, menjaga ketahanan pangan akuatik dari ancaman perubahan iklim harus melibatkan banyak sektor, di samping sektor perikanan juga melibatkan sektor lain seperti kehutanan dan lingkungan hidup.

    “Dicari mitigasinya dan dicari pola yang tepat bagaimana kita melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim yang terjadi,” imbuhnya.

    Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam pidato pelantikannya menekankan pentingnya aksi kolektif untuk mengatasi isu lingkungan.

    Isu lingkungan yang dimaksud Prabowo seperti perubahan iklim hingga transisi energi hijau demi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam KTT G20 di Brasil.

    Kepala Negara menjelaskan bahwa Indonesia merasakan dampak langsung perubahan iklim, termasuk kenaikan permukaan laut di pesisir utara Jawa yang berdampak pada ratusan ribu hektare lahan produktif.

    Hal ini, ujarnya, akan memperburuk kemiskinan dan kelaparan. Oleh karena itu, bagi Indonesia tidak ada alternatif lain.

    “Kami berkomitmen penuh untuk mengambil langkah-langkah besar guna mengurangi suhu iklim untuk menyelamatkan lingkungan dan mengatasi situasi tersebut,” tegasnya.

     

  • Presiden Targetkan Pendanaan Rp 1000 Triliun dari Perdagangan Karbon

    Presiden Targetkan Pendanaan Rp 1000 Triliun dari Perdagangan Karbon


    7cloud.asia – Presiden Prabowo Subianto memasang target pendanaan hijau sebesar seribu triliun rupiah (65 miliar dolar) dari perdagangan karbon hingga 2028.

    Ambisi  dari perdagangan karbon ini merupakan upaya Prabowo dalam menangani masalah perubahan iklim serta mendorong pertumbuhan ekonomi hijau di dalam negeri.

    Secara sederhana, perdagangan karbon adalah mekanisme pasar untuk membatasi emisi gas rumah kaca yang terus naik. Dalam pasar karbon, pemerintah akan menetapkan batas jumlah emisi yang dapat dihasilkan oleh perusahaan (dikenal dengan istilah cap).

    Jika melebihi batas tersebut, perusahaan harus membeli izin (trade) dari pihak lain yang memiliki kredit karbon dengan harga pasar.

    Transaksi atau perdagangan karbon ini dapat dilakukan melalui bursa karbon maupun secara langsung antarpihak.

    Baca: Agar perdagangan karbon tak jadi ajang greenwashing

    Target yang ditetapkan pemerintah ini memang cukup ambisius. Namun, sejatinya angka seribu triliun itu masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan potensi bursa karbon Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp3 ribu triliun.

    Dan upaya untuk mencapai target tersebut pun belum tentu semulus yang direncanakan pemerintah.

    Meski tren perdagangan karbon global kian meningkat, ada banyak kritik dari akademisi maupun pegiat lingkungan terkait efektivitas mekanisme ini dalam meredam emisi gas rumah kaca.

    Apalagi, nilai pajak karbon maupun harganya di Indonesia masih jauh dari nilai ideal untuk membatasi pemanasan global.

    Pasar karbon bukan pembenar
    Indonesia berpeluang untuk terus mengembangkan pasar dari perdagangan karbon. Namun, perdagangan karbon, terutama dari sektor alam, tidak boleh menjadi alasan untuk mengkompensasi penggunaan bahan bakar fosil terus-menerus.

    Baca: Perdagangan karbon berpotensi memperparah ketidakadilan

    Pemerintah patut mencatat bahwa pasar karbon saat ini baru mencakup 24 persen dari total emisi karbon yang dihasilkan aktivitas manusia pada 2023.

    Indonesia perlu berkontribusi untuk memangkas emisi sisanya, baik dengan pelestarian hutan dan laut, bisnis ramah lingkungan, maupun peningkatan energi bersih.

    Pasar karbon adalah salah satu usaha, dari sekian banyak upaya lainnya untuk menahan laju emisi gas rumah kaca yang semakin memperparah perubahan iklim. Inilah yang perlu menjadi pekerjaan besar Prabowo setidaknya lima tahun ke depan.

    Untuk itulah, pemerintahan Prabowo perlu mencermati dinamika serta kritik atas kebijakan ini. Harapannya, perdagangan karbon Indonesia bisa betul-betul bermanfaat bagi pelestarian Bumi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Dalam tulisan ini, penulis merekomendasikan tiga langkah strategis yang bisa diambil pemerintah untuk mengembangkan regulasi dan kerangka mekanisme pasar karbon yang bersaing dan terpercaya.

    Apa saja rekomendasi yang diberikan akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Denny Gunawan (Postdoctoral Research Associate, ARC Training Centre for the Global Hydrogen Economy, Particles and Catalysis Research Laboratory, UNSW Sydney)

  • RI Bakal Mendata Keanekaragaman Hayati Flora dan Fauna yang Terancam Punah pada 2025

    RI Bakal Mendata Keanekaragaman Hayati Flora dan Fauna yang Terancam Punah pada 2025

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup akan melakukan pendataan nasional terhadap keanekaragaman hayati flora dan fauna yang terancam punah pada tahun 2025.

    Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Sub-Direktorat Pengawetan Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badi’ah, dalam webinar Cengkerama Iklim Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLH bertajuk “Keanekaragaman Hayati dalam Perubahan Iklim” di Jakarta, Selasa (10/12/2024)

    Badi’ah mengungkapkan bahwa sebaran keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna nasional, sangat luas yang menghuni sedikitnya 93,219 juta hektare dari total lahan Indonesia.

    Masing-masing tersebar di Pulau Sumatera sebanyak 22 spesies flora/fauna, Pulau Jawa 25 spesies, Kalimantan 14 spesies, Sulawesi 16 spesies, Maluku delapan spesies, Bali – Nusa Tenggara 15 spesies, dan Papua sembilan spesies.

    KLH mencatatkan secara rinci kekayaan keanekaragaman hayati spesies terestrial di Indonesia meliputi 9,7 persen tumbuhan berbunga, 15 persen mamalia, sembilan persen reptil, enam persen amfibi, 17 persen burung, dan sembilan persen ikan air tawar di dunia.

    Baca: Eksplorasi di Taman Nasional Kerinci Seblat temukan 100 jenis flora langka

    Bahkan, kata dia, berdasarkan data yang dihimpun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2023 Indonesia sebagai negara kepulauan juga memiliki empat dari 25 keanekaragaman hayati laut di dunia.

    “Namun kita belum mengetahui berapa indeks ancaman kepunahan pada spesies yang ada akibat kondisi dari peningkatan suhu global dan perubahan iklim saat ini,” kata Badi’ah.

    Menurut dia, organisasi konservasi keanekaragaman hayati dunia (UNCBD) memprakirakan 44 persen spesies karang perairan hangat dan 50 persen ekosistem bakau global bakal punah pada 2050 jika peningkatan suhu tidak dapat dikendalikan.

    Adapun organisasi iklim dunia (WMO) melaporkan kenaikan suhu global saat ini berada pada angka 1,45 derajat Celcius atau nyaris mencapai 1,5 derajat Celcius yang merupakan ambang normal suhu yang disepakati global dalam forum Paris Aggrement 2015.

    Mantan Kepala Balai Konservasi Kepulauan Seribu ini menilai kondisi peningkatan suhu global tersebut akan berdampak signifikan pada keanekaragaman hayati di Indonesia.

    Baca: WWF sebut jumlah satwa liar turun 73 persen dalam 50 tahun terakhir

    Hal ini ditandai dari keterlambatan musim hujan Indonesia medio 2024-2025 sebagaimana diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berdasarkan analisa KLH juga mulai menimbulkan gangguan pada pola migrasi, masa berkembang biak hingga penyerbukan pada tumbuhan di wilayah Indonesia.

    “Perubahan habitat sangat vital bagi keberadaan spesies, rinciannya akan dilakukan pendataan dengan menjadikan strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati atau IBSAP sebagai acuan,” ujarnya.

    Ancaman terhadap hilangnya keanekaragaman hayati telah diingatkan Platform Sains-Kebijakan Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (the Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services/IPBES) pada 2019 lalu

    Dalam laporan itu disebutkan, sekitar 1.000.000 spesies hewan dan tumbuhan semakin terancam punah dalam beberapa dekade terakhir.

    Baca: Populasi harimau liar di dunia meningkat signifikan

    Ringkasan laporan terbaru yang disetujui pada sesi ke-7 Pleno IPBES yang berlangsung pada 29 April hingga 4 Mei 2019 di Paris, Prancis, tersebut berdasarkan peninjauan sistematis sekitar 15.000 sumber ilmiah dan pemerintah.

    Laporan tersebut, untuk pertama kalinya juga menggambarkan pengetahuan masyarakat adat dan lokal, khususnya masalah yang relevan dengan keberadaan dan kondisi mereka.

    Ketua IPBES Sir Robert Watson dalam keterangan tertulis diterima Antara di Jakarta, Senin mengatakan bukti luar biasa dari Penilaian Global IPBES, dari berbagai bidang pengetahuan yang berbeda telah menghadirkan gambaran yang tidak menyenangkan.

    “Kesehatan ekosistem tempat kita dan semua spesies lain bergantung hidup memburuk lebih cepat daripada sebelumnya. Kita mengikis fondasi ekonomi, mata pencaharian, keamanan pangan, kesehatan dan kualitas hidup kita di seluruh dunia,” katanya saat itu seperti dilansir Antaranews.

  • Perubahan Iklim Akibatkan Permukaan Laut RI Naik Hingga 1,2 Sentimeter per Tahun

    Perubahan Iklim Akibatkan Permukaan Laut RI Naik Hingga 1,2 Sentimeter per Tahun


    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, tinggi muka laut di Indonesia diperkirakan naik 0,8-1,2 sentimeter (cm) per tahun.

    Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Klimatologi Pusat Litbang BMKG Donaldi Permana mengatakan, kenaikan permukaan air laut tersebut tak bisa dilepaskan karena sebab perubahan iklim.

    “Ini signifikan karena berdampak kepada hilangnya beberapa pulau kecil di wilayah Indonesia atau daerah kota di pesisir,” kata Donaldi dalam seminar virtual terkait iklim berkelanjutan, sebagaimana dilansir Antara beberapa waktu lalu.

    Donaldi menambahkann, perubahan iklim juga membuat suhu rata-rata di Indonesia naik antara 0,45 hingga 0,75 derajat celsius.

    Baca: Penurunan Tanah, Kenaikan Permukaan Air Laut dan Perubahan Iklim Perburuk Banjir Rob di Jakarta

    Sementara itu, suhu rata-rata global juga meningkat selama 10 tahun terakhir yakni 2014-2023 mencapai 1,20 plus minus 0,12 derajat celsius di atas periode tahun 1850-1900.

    Selain itu, perubahan iklim juga mengakibatkan sekitar 5,8 juta kilometer (km) persegi wilayah perairan Indonesia berbahaya kepada kapal nelayan, khususnya yang berukuran kurang dari 10 gross tonage (GT).

    Kemudian, sebanyak 18.000 km garis pantai diperkirakan masuk kategori rentan akibat perubahan iklim itu dan perubahan curah hujan sekitar 75 milimeter per bulan.

    Dia menjelaskan, peningkatan suhu itu menyebabkan pemanasan global terutama akibat tingginya konsentrasi karbon dioksida karena konsumsi energi fosil seperti batu bara dan minyak bumi yang masif.

    Baca: Perubahan Iklim Bebani Penduduk Miskin di Pesisir Jakarta

    Selain itu, pembukaan lahan yang menyebabkan deforestasi untuk memenuhi tingginya pertumbuhan penduduk dunia.

    Suhu yang meningkat itu turut memperparah pencairan es di kutub utara dan selatan, yang mendorong kenaikan muka laut secara global mencapai sekitar 4,72 milimeter per tahun pada periode Januari 2013 sampai Desember 2022.

    “Yang terdampak lebih awal kenaikan tinggi muka laut adalah negara di wilayah iklim tropis dibandingkan negara di belahan bumi utara dan selatan,” ucap Donaldi.

    Untuk menahan laju pemanasan global, perlu berbagai upaya mitigasi di antaranya dengan mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan bahan bakar fosil kemudian beralih menggunakan energi bersih.

    Selain itu, gerakan penghijauan, hemat penggunaan listrik, hingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi juga diperlukan.

  • Perubahan Iklim dan Lonjakan Jumlah Penduduk Membuat Pertanian Vertikal Makin Dilirik

    Perubahan Iklim dan Lonjakan Jumlah Penduduk Membuat Pertanian Vertikal Makin Dilirik

    7cloud.asia – Metode produksi pangan atau pertanian modern yang ada saat ini pada akhirnya akan menjadi tidak berkelanjutan seiring dengan bertambahnya populasi dunia.

    Pada saat yang sama, perubahan iklim mempersulit bercocok tanam, beternak, dan menangkap ikan dengan cara yang sama dan di tempat yang sama.

    Kekeringan dan banjir menjadi semakin sering dan parah akibat perubahan iklim menimbulkan ancaman terhadap ketahanan pangan global, serta tekanan bagi petani dan peternak.

    Suhu laut yang lebih hangat diperkirakan akan menyebabkan perubahan wilayah jelajah banyak spesies ikan dan kerang, sehingga berpotensi mengganggu ekosistem.

    Kekeringan parah saat ini melanda sejumlah wilayah di dunia seperti India, Pakistan, dan Afrika, dan curah hujan di wilayah tersebut juga semakin berkurang.

    Baca: Pertanian regeneratif sukses ubah daerah gersang di Portugal

    Di Afrika, antara 75 juta hingga 250 juta orang diperkirakan akan kehilangan air untuk keperluan rumah tangga dan budidaya pada tahun akhir dekade 2020an

    Kondisi ini bisa mengakibatkan penurunan produksi pertanian di benua tersebut sebesar 50 persen.

    Tren penurunan ini diperkirakan akan terus berlanjut selama beberapa dekade mendatang, menurut laporan terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)

    Akibatnya, semua mata beralih ke pertanian vertikal untuk menghasilkan lebih banyak hasil panen setiap tahun dan mengurangi tekanan pada pertanian dan lahan subur yang masih tersisa.

    Meskipun ada banyak cara untuk mendefinisikan praktik pertanian baru ini, secara sederhana, pertanian vertikal adalah praktik di mana tanaman pangan diproduksi di daerah yang cenderung miring.

    Baca: Perubahan iklim mendorong pengembangan pertanian regeneratif

    Tidak seperti pertanian tradisional, yang menanam tanaman dalam satu lapisan, cara inovatif bernama pertanian vertikal ini memproduksi pangan dalam lapisan vertikal dan bertumpuk.

    Pertanian vertikal ini dapat digunakan dengan baik pada berbagai struktur seperti peti pengiriman atau gedung pencakar langit dan memiliki potensi besar dalam hal output dan pengurangan emisi terkait pangan.

    Selain itu, pertanian vertikal juga bisa menghemat atau mengatr penggunaan sumber daya secara optimal.

    Ambil selada misalnya. Jika Anda menanamnya di lahan dengan metode pertanian konvensional, Anda akan menggunakan sekitar 259 liter air lebih banyak dibandingkan menggunakan metode pertanian vertikal hemat air.

    Manfaat lainnya, karena umumnya berada di dalam ruangan maka pertanian vertikal cenderung lebih tahan dalam beragam cuaca.

  • Perubahan Iklim Menaikkan Pasar Pemukiman Kumuh di Pantura

    Perubahan Iklim Menaikkan Pasar Pemukiman Kumuh di Pantura

    7cloud.asia – Pesisir pantai utara Jawa (Pantura), rumah bagi lebih dari 50 juta orang, merupakan salah satu kawasan yang mengalami dampak perubahan iklim.

    Mayoritas dari warga Pantura menghuni rumah yang kurang layak, bahkan masuk kategori kumuh. Sehari-hari mereka menghadapi banjir rob, krisis air bersih, dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

    Meski tak sedikit warga Pantura yang berpindah—bahkan bedol desa, studi terbaru yang dilakukan tim dari Universitas Diponegoro (Undip) menunjukkan bahwa banjir di pesisir telah memicu geliat pasar perumahan baru yang terus berkembang di daerah rawan banjir.

    Pasar ini terbentuk akibat penurunan sekitar 3 persen harga rumah di kawasan Pantura, khususnya Pekalongan, Jawa Tengah. Tren ini mengundang masyarakat berpenghasilan rendah untuk membeli kemudian tinggal di daerah berisiko.

    Dalam tulisan sebelumnya telah dipaparkan temuan tim peneliti dari Undip bagaimana perubahan iklim telah menaikkan pasar pemukiman kumuh di Pantura.

    Dalam tulisan ini, akan diulas bagaimana rumah rawan bencana di Pantura tetap diminati, karena dirasakan masih menguntungkan.

    Temuan tim peneliti dari Undip mengindikasikan adanya tindakan spekulasi yang dilakukan oleh masyarakat berpenghasilan rendah untuk membeli rumah di daerah rawan banjir tapi aman karena lokasi pilihan mereka jauh dari pantai.

    Literatur global menjelaskan fenomena ini sebagai “disinvestasi” yang kemudian memengaruhi dinamika perubahan dan penurunan lingkungan perumahan.

    Aksi masyarakat berpengasilan rendah untuk membeli rumah di daerah rawan tetapi aman ini merupakan akibat logis terhadap skema pasar terkait daya beli penduduk di permukiman tersebut.

    Di satu sisi, kebutuhuan akan hunian murah sangat tinggi, tapi di sisi lain mereka tak sanggup memberi hunian layak karena keterbatasan ekonomi.

    Meskipun harus rutin menghadapi banjir, penghuni pemukiman di pesisir ini juga tetap mendapatkan sejumlah manfaat turunan.

    Sebab, daerah pesisir merupakan lokasi berkumpulnya fasilitas perkotaan seperti sekolah, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan yang mendukung pemenuhan kebutuhan warga.

    Tak hanya di Indonesia, fenomena ini juga terjadi di Mumbai, India,. Di sana, masyarakat berupaya untuk menghuni rumah di kawasan kumuh yang rentan banjir di Mumbai—bahkan sampai memaksa penghuni aslinya untuk berpindah.

    Upaya adaptasi bencana via pasar properti
    Studi kami semakin memperkuat gagasan bahwa kebijakan penataan pasar properti dalam upaya adaptasi perubahan iklim sangatlah penting.

    Tak hanya di daerah pesisir, penataan pasar perumahan juga semestinya berlaku di dataran tinggi yang rawan bencana banjir bandang dan longsor.

    Pada umumnya, keputusan membeli rumah setiap keluarga berdasarkan pada pertimbangan ekonomi. Mereka menginginkan mendapatkan manfaat sebesar-besarnya di balik keterbatasan finansial rumah tangga.

    Pemerintah dapat memanfaatkan pertimbangan untuk melibatkan para calon pembeli sebelum membuat keputusan.

    Pemerintah bisa melihat gagasan yang disampaikan oleh Tatiana Filatova, akademisi dari University of Twente. Tatiana menyarankan pemerintah untuk menambahkan komponen adaptasi terhadap bencana, contohnya risiko biaya perawatan rumah terdampak banjir.

    Strategi ini membuat masyarakat dapat melihat risiko biaya yang akan timbul dari perolehan rumah yang sekilas terlihat murah.

    Dengan perubahan harga, para calon pembeli akan berpikir rasional untuk memutuskan apakah akan tinggal di daerah rawan bencana dengan adanya beban biaya tambahan akibat bencana di masa depan.

    Tentunya alokasi atas kebencanaan ini tidak bisa disepelekan jumlahnya.

    Ini adalah sinyal agar para calon pembeli berpikir lebih rasional berdasarkan faktor-faktor ekonomi sebelum berinvestasi di lokasi berisiko.

    Upaya menambahkan komponen harga dapat kita terapkan dengan berbagai cara. Salah satu contohnya adalah kewajiban membeli asuransi rumah bagi calon pembeli di zona rawan banjir.

    Upaya lainnya bisa juga melalui pemberlakuan disinsentif, seperti pembatasan pembangunan infrastruktur yang berpotensi mengundang para calon pembeli.

    Instrumen pasar itu bisa menjadi pelengkap aturan negara untuk mengendalikan perkembangan rumah di daerah rawan bencana. Sebab, aturan itu terkadang terkunci baik oleh administrasi, politik ataupun tumpang tindihnya kebijakan.

    Sebaliknya, pemerintah bisa memberikan insentif pembangunan rumah di daerah aman. Dalam hal ini, program subsidi perumahan bisa menjadi opsi yang baik agar masyarakat berpenghasilan rendah bisa mengakses rumah murah di daerah aman.

    Upaya mengatur pasar properti meningkatkan perencanaan tata ruang lebih luas dalam menyikapi perubahan iklim.

    Harapannya, pengaturan ini tak hanya menjadi instrumen mitigasi bencana, tetapi juga langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang efektif.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: S Sariffuddin, Asisten professor, Universitas Diponegoro (Undip)

  • Perubahan Iklim Berdampak pada Pasar Properti di Pantura

    Perubahan Iklim Berdampak pada Pasar Properti di Pantura

    7cloud.asia – Pesisir pantai utara Jawa atau Pantura yang menjadi rumah bagi lebih dari 50 juta orang, merupakan salah satu kawasan yang mengalami dampak perubahan iklim.

    Mayoritas dari warga Pantura menghuni rumah yang kurang layak, bahkan masuk kategori kumuh. Sehari-hari mereka menghadapi banjir rob, krisis air bersih, dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

    Meski tak sedikit warga Pantura yang berpindah—bahkan bedol desa, studi terbaru yang dilakukan tim dari Universitas Diponegoro (Undip) menunjukkan bahwa banjir di pesisir telah memicu geliat pasar perumahan baru yang terus berkembang di daerah rawan banjir.

    Pasar ini terbentuk akibat penurunan sekitar 3 persen harga rumah di kawasan Pantura, khususnya Pekalongan, Jawa Tengah. Tren ini mengundang masyarakat berpenghasilan rendah untuk membeli kemudian tinggal di daerah berisiko.

    Geliat pasar rumah di tengah banjir
    Analisis tim Undip yang terbit di International Journal of Disaster Risk Reduction itu menemukan bahwa salah satu pasar properti baru berada di daerah rawan banjir terus bertumbuh sekitar 1,2 persen per tahun.

    Dalam studi ini, tim dari Undip menggunakan data penjualan 1.029 unit rumah selama 2015 – 2020 dan 1,9 juta data pajak rumah (SPPT) dalam rentang tahun 1993 – 2020 di Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

    Baca: Perubahan iklim perburuk banjir rob di Jakarta

    Daerah ini—terletak di daerah pinggir utara Pekalongan—termasuk kawasan kumuh karena jarak antar rumah yang saling berhimpitan dan ukuran bangunan yang kecil serta cenderung seragam.

    Kawasan kumuh juga terlihat dari kapasitas listrik kebanyakan rumah di daerah tersebut, yakni sebesar 450 – 900 volt ampere (VA).

    Perubahan kepemilikan rumah, berdasarkan analisis tim atas data bea atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan (BPHTB), ditandai oleh pergantian nama pemilik.

    Dari data itu, tim menyimpulkan bahwa rumah yang mereka tempati adalah rumah yang dijual oleh pemilik sebelumnya.

    Adapun para penjual ini merupakan penduduk setempat yang telah tinggal lebih dari 30 tahun kemudian berpindah ke tempat yang lebih aman dari banjir.

    Kepergian mereka, sebagaimana temuan dalam penelitian berbeda, berhubungan dengan bencana pesisir di Pantura.

    Baca: Perubahan iklim bebani penduduk miskin di Jakarta

    Perpindahan ini kemudian menarik para pembeli—mayoritas merupakan pendatang yang sebelumnya tinggal di daerah pinggiran.

    Studi lainnya mencatat bahwa selama kurun 2014-2017, harga rumah di daerah ini sempat naik hingga 12,4 persen. Namun, selama 2018-2020, harga properti di daerah rawan banjir terus menurun sebesar 2,4 hingga 3 persen.

    Tim peneliti lantas mengelaborasi pemodelan genangan banjir pesisir yang sebelumnya dilakukan oleh lembaga kemanusiaan MercyCorps pada 2001.

    Analisis data kemudian diperkuat dengan pemantauan daerah genangan air di pesisir dengan citra satelit Sentinel 1 yang kami olah menggunakan Google Earth Engine.

    Selanjutnya, tim membandingkan perubahan luasan pasar rumah di daerah berisiko dengan perubahan luasan genangan banjir pesisir. Luasan pasar properti kami dapatkan melalui analisis klaster ruang.

    Sementara luasan banjir diukur berdasarkan zona genangan air permukaan menggunakan sistem informasi geografis (GIS).

    Baca: Menata kampung pesisir yang adaptif pada perubahan iklim

    Dari data 2015 – 2020 dan analisis spasial tersebut, peneliti melihat pertumbuhan pasar properti lebih cepat dibandingkan zona genangan air permukaan.

    Hal ini mengindikasikan bahwa pasar properti di daerah banjir yang dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah telah meluas bahkan melebihi area genangan banjir yang cenderung tetap.

    Karena keterbatasan ekonomi, pembeli rumah di kawasan ini tidak mampu merenovasi rumah dan memperbaiki lingkungan untuk beradaptasi dengan banjir dan penurunan muka tanah.

    Alhasil, selain bertumbuh, pasar properti telah bertransformasi dari rumah layak huni menjadi rumah kumuh. Karena terus menerus dilanda banjir, kualitas lingkungan perumahan ini kian menurun.

    Selain itu, pasar ini ikut berkontribusi terhadap peningkatan kerentanan pesisir karena terus bertumbuh di daerah berisiko terdampak banjir.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: S Sariffuddin, Asisten professor, Universitas Diponegoro (Undip)

  • Seperti Ini Dampak Polusi Udara pada Kesehatan dan Ekonomi Global

    Seperti Ini Dampak Polusi Udara pada Kesehatan dan Ekonomi Global

    7cloud.asia – Dampak kesehatan terkait dampak perubahan iklim saat ini berada pada tingkat terburuk sejak pemantauan dan pelaporan dimulai pada tahun 2015.

    Menurut laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change tahun 2024, 10 dari 15 indikator paparan, bahaya dan dampak kesehatan terkait perubahan iklim, mencetak rekor tertinggi.

    Indikator yang diukur, antara lain termasuk panas ekstrem, dampak curah hujan, kejadian cuaca ekstrem, penyakit menular. 

    Paparan dan dampak polusi udara dan kualitas udara yang buruk sangatlah parah. Laporan tersebut mengidentifikasi peningkatan sebesar 31 persen dalam jumlah orang yang terpapar pada konsentrasi partikel tinggi antara tahun 2003 dan 2018.

    Paparan polusi udara meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular, kanker, dan diabetes.

    Sekitar 8,4 juta kematian dilaporkan, akibat polusi udara pada tahun 2021. Fakta ini menjadikan polusi udara sebagai faktor risiko kematian tertingi kedua setelah tekanan darah tinggi dan sebelum tembakau.

    Baca: Bahan Bakar Euro IV mampu turunkan sumber polusi udara hingga 70 Persen

    Dampaknya sangat terasa di negara-negara berkembang, yang memiliki angka kematian akibat polusi udara yang jauh lebih tinggi.

    Sementara itu, polusi udara dan angka kematian ini mendorong perbaikan secara dramatis di negara-negara maju di wilayah barat, termasuk Inggris, AS, dan negara-negara anggota Uni Eropa bagian barat.

    Kondisi ini sebagian disebabkan oleh peralihan dari batu bara ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

    Hambatan Transisi Energi
    Tanpa dukungan keuangan yang memadai dari negara-negara kaya, negara-negara berkembang yang mengalami pertumbuhan penduduk yang pesat, industrialisasi dan peningkatan permintaan energi mungkin terpaksa terus menggunakan bahan bakar fosil, terutama batu bara, untuk mendukung kelanjutan pertumbuhan ekonomi.

    Sejauh ini, batu bara masih menyumbang emisi karbon dioksida paling besar dibandingkan sumber bahan bakar mana pun di dunia dan tetap mendominasi di Asia, sama seperti Amerika Serikat.

    Sementara negara-negara Uni Eropa dan Inggris sebagian besar sudah beralih ke minyak, gas alam, dan sumber energi terbarukan.

    Baca: Transportasi publik harus dibenahi untuk atasi polusi udara di Jakarta

    Subsidi, produksi, dan impor batu bara di India mencapai rekor tertinggi dalam 6 bulan pertama tahun 2024 karena tingginya permintaan energi selama terjadinya cuaca panas ekstrem yang terjadi di negara ini pada musim panas ini.

    Di sisi lain, dunia dihadapkan pada kurangnya pendanaan iklim global yang tersedia untuk mendukung transisi energi ramah lingkungan

    KTT iklim PBB COP29 baru-baru ini di Baku, Azerbaijan, menghasilkan komitmen dari negara-negara kaya untuk berkontribusi minimal 300 miliar dolar per tahun pada tahun 2035 untuk membantu transisi energi di negara-negara berkembang.

    Dana ini diharapkan dapat mendorong transisi ke energi ramah lingkungan, mempersiapkan diri, dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

    Meskipun perjanjian baru ini melipatgandakan komitmen tahunan sebelumnya sebesar $100 miliar, namun jumlah tersebut jauh di bawah 1,3 triliun dolar per tahun yang menurut para ahli dibutuhkan oleh negara-negara berpenghasilan rendah.

    Baca: PBB serukan setop bahan bakar fosil untuk tangani polusi udara

    Selain dekarbonisasi, hanya 0,5 persen pendanaan iklim yang dialokasikan untuk proyek-proyek yang melindungi atau meningkatkan kesehatan manusia dari bahaya iklim seperti polusi dan kualitas udara yang buruk.

    Sebuah laporan dari Forum Ekonomi Dunia meneliti bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada kesehatan dan ekonomi global berdasarkan skenario “yang paling mungkin” dari Panel Internasional tentang Perubahan Iklim.

    Penelitian ini melakukan simulasi apa yang akan terjadi akibat kenaikan suhu global sebesar 2,7C dibandingkan suhu pra-industri pada tahun 2100.

    Laporan tersebut menyimpulkan bahwa perubahan iklim dapat berdampak pada kesehatan dan perekonomian global. menyebabkan tambahan 14,5 juta kematian per tahun akibat banjir, panas ekstrem, dan polusi udara.

    Yang terakhir ini diproyeksikan menjadi penyumbang terbesar dengan hampir 9 juta kematian tambahan per tahun.

  • Perubahan Iklim dan Pemanasan Global Berdampak Nyata pada Ekonomi Dunia

    Perubahan Iklim dan Pemanasan Global Berdampak Nyata pada Ekonomi Dunia

    7cloud.asia – Sebuah laporan dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) meneliti bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada kesehatan dan ekonomi global berdasarkan skenario “yang paling mungkin” dari Panel Internasional tentang Perubahan Iklim.

    Penelitian ini melakukan simulasi apa yang akan terjadi akibat kenaikan suhu global sebesar 2,7°C dibandingkan suhu pra-industri pada tahun 2100.

    Adapun angka 2,7°C ini didasarkan pada pengukuran suhu global dan berbagai simulasi yang dikaitkan dengan data emisi karbon secara global.

    Laporan WEF tersebut menyimpulkan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim dapat berdampak pada kesehatan dan perekonomian global.

    Perubahan iklim dapat menyebabkan tambahan 14,5 juta kematian per tahun akibat banjir, panas ekstrem, dan polusi udara.

    Baca: Dampak kenaikan suhu Bumi hingga 2°C pada pola cuaca

    Yang terakhir ini diproyeksikan menjadi penyumbang terbesar dengan hampir 9 juta kematian tambahan per tahun.

    Total kerugian ekonomi bisa mencapai 12,5 triliun dolar, dan sistem layanan kesehatan global diperkirakan mengeluarkan biaya tambahan sebesar 1,1 triliun dolar akibat perubahan iklim pada pertengahan abad ini.

    Untungnya, hal ini hanyalah proyeksi, dan masih ada waktu untuk menginvestasikan sumber daya yang diperlukan untuk menghindari dampak terburuk pada perekonomian dan kesehatan masyarakat.

    Penelitian tersebut menunjukkan bahwa manfaat berinvestasi dalam aksi iklim dan pengurangan polusi udara kini dapat memberikan hasil yang jauh lebih besar daripada biaya di mukanya.

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Misalnya, Undang-Undang Udara Bersih AS diperkirakan memberikan manfaat ekonomi sebesar 30 dolar untuk setiap dolar yang diinvestasikan dalam pengendalian polusi udara.

    Manfaat dari pengendalian polusi tersebut antara lain adalah peningkatan produktivitas ekonomi, pengurangan biaya perawatan kesehatan dan penyakit kronis serta rentang hidup yang lebih lama.

    Berinvestasi dalam mitigasi perubahan iklim dan ketahanan iklim juga menghasilkan penghematan yang signifikan.

    Kamar Dagang Amerika Serikat menemukan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan dalam ketahanan dan kesiapsiagaan bencana menghemat 13 dolar dalam dampak ekonomi, kerusakan dan biaya pembersihan setelah peristiwa cuaca ekstrem.

  • Cara Warga Kota Berkontribusi pada Lingkungan: Berempati dalam Mengonsumsi

    Cara Warga Kota Berkontribusi pada Lingkungan: Berempati dalam Mengonsumsi

    7cloud.asia – Siti Maemunah dari Mama Aleta Foundation mengatakan warga kota bisa berkontribusi pada lingkungan dan upaya menahan laju perubahan iklim lewat caranya mengonsumsi.

    Ditemui di sebuah acara di Jakarta beberapa waktu lalu, Siti Maemunah mengatakan dalam setiap barang yang kita konsumsi atau alat yang kita gunakan, ada dampak lingkungan dan ongkos yang harus ditanggung oleh orang lain di tempat lain.

    Dia lantas mencontohkan, dalam produksi satu gram emas ada 2,1 ton limbah yang dibuang ke lingkungan, yang dampaknya dirasakan warga di sekitar tambang dan lokasi produksinya.

    “Karena itu, sudah seharusnya warga kota membuka ruang empati terhadap keterhubungan barang yang dikonsumsinya daerah lain dan warganya di sana,“ ujarnya.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Dia melihat, saat ini mayoritas orang melihat kota dan desa sebagai dua entitas yang berbeda dan sama sekali tidak berhubungan.

    Warga kota, ujarnya, perlu mengkoreksi cara pandang ini karena desa dan kota memiliki kaitan erat. Apa yang dikonsumsi dan dilakukan warga kota akan berdampak pada warga desa.

    Banyak orang melihat kota sebagai titik kesejahteraan, di mana semua bisa diakses dengan mudah. Akibatnya, orang-orang berbondong-bondong ke kota yang dikelola dan berjalan dengan tanpa batas

    Kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun dan mengakibatkan tidak terbangunnya empati dari konsumen pada penghasil barang yang dikonsumsinya

    “Padahal sejahtera yang sebenarnya itu tergantung pada sejauh mana kita menerima sebatas apa kondisi kita,“ ujarnya.

    Baca: Lima ciri produk ramah lingkungan

    Karena itu, sudah semestinya warga kota bertanggung-jawab dan punya etika untuk mengurangi konsumsi agar dampak yang ditanggung orang lain bisa ditekan seminimal mungkin.

    Selain itu, dia juga menekankan pentingnya ruang-ruang kolektif untuk membeli produk-produk komunitas -bukan untuk memperkaya diri- tetapi untuk mendorong roda ekonomi wilayah sekitarnya.

    Dalam kondisi perubahan iklim yang sudah di depan mata, warga kota perlu merefleksi keterhubungannya dengan wilayah-wilayah yang harus membayar ongkos yang diakibatkan barang yang dikonsumsinya.

    “Bahwa ada ongkos yang tidak kita bayar tetapi harus ditanggung oleh orang lain,“ tandasnya.