7cloud.asia – Siti Maemunah dari Mama Aleta Foundation mengatakan warga kota bisa berkontribusi pada lingkungan dan upaya menahan laju perubahan iklim lewat caranya mengonsumsi.
Ditemui di sebuah acara di Jakarta beberapa waktu lalu, Siti Maemunah mengatakan dalam setiap barang yang kita konsumsi atau alat yang kita gunakan, ada dampak lingkungan dan ongkos yang harus ditanggung oleh orang lain di tempat lain.
Dia lantas mencontohkan, dalam produksi satu gram emas ada 2,1 ton limbah yang dibuang ke lingkungan, yang dampaknya dirasakan warga di sekitar tambang dan lokasi produksinya.
“Karena itu, sudah seharusnya warga kota membuka ruang empati terhadap keterhubungan barang yang dikonsumsinya daerah lain dan warganya di sana,“ ujarnya.
Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan
Dia melihat, saat ini mayoritas orang melihat kota dan desa sebagai dua entitas yang berbeda dan sama sekali tidak berhubungan.
Warga kota, ujarnya, perlu mengkoreksi cara pandang ini karena desa dan kota memiliki kaitan erat. Apa yang dikonsumsi dan dilakukan warga kota akan berdampak pada warga desa.
Banyak orang melihat kota sebagai titik kesejahteraan, di mana semua bisa diakses dengan mudah. Akibatnya, orang-orang berbondong-bondong ke kota yang dikelola dan berjalan dengan tanpa batas
Kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun dan mengakibatkan tidak terbangunnya empati dari konsumen pada penghasil barang yang dikonsumsinya
“Padahal sejahtera yang sebenarnya itu tergantung pada sejauh mana kita menerima sebatas apa kondisi kita,“ ujarnya.
Baca: Lima ciri produk ramah lingkungan
Karena itu, sudah semestinya warga kota bertanggung-jawab dan punya etika untuk mengurangi konsumsi agar dampak yang ditanggung orang lain bisa ditekan seminimal mungkin.
Selain itu, dia juga menekankan pentingnya ruang-ruang kolektif untuk membeli produk-produk komunitas -bukan untuk memperkaya diri- tetapi untuk mendorong roda ekonomi wilayah sekitarnya.
Dalam kondisi perubahan iklim yang sudah di depan mata, warga kota perlu merefleksi keterhubungannya dengan wilayah-wilayah yang harus membayar ongkos yang diakibatkan barang yang dikonsumsinya.
“Bahwa ada ongkos yang tidak kita bayar tetapi harus ditanggung oleh orang lain,“ tandasnya.

Leave a Reply