Perubahan Iklim dan Lonjakan Jumlah Penduduk Membuat Pertanian Vertikal Makin Dilirik

Written by

in

7cloud.asia – Metode produksi pangan atau pertanian modern yang ada saat ini pada akhirnya akan menjadi tidak berkelanjutan seiring dengan bertambahnya populasi dunia.

Pada saat yang sama, perubahan iklim mempersulit bercocok tanam, beternak, dan menangkap ikan dengan cara yang sama dan di tempat yang sama.

Kekeringan dan banjir menjadi semakin sering dan parah akibat perubahan iklim menimbulkan ancaman terhadap ketahanan pangan global, serta tekanan bagi petani dan peternak.

Suhu laut yang lebih hangat diperkirakan akan menyebabkan perubahan wilayah jelajah banyak spesies ikan dan kerang, sehingga berpotensi mengganggu ekosistem.

Kekeringan parah saat ini melanda sejumlah wilayah di dunia seperti India, Pakistan, dan Afrika, dan curah hujan di wilayah tersebut juga semakin berkurang.

Baca: Pertanian regeneratif sukses ubah daerah gersang di Portugal

Di Afrika, antara 75 juta hingga 250 juta orang diperkirakan akan kehilangan air untuk keperluan rumah tangga dan budidaya pada tahun akhir dekade 2020an

Kondisi ini bisa mengakibatkan penurunan produksi pertanian di benua tersebut sebesar 50 persen.

Tren penurunan ini diperkirakan akan terus berlanjut selama beberapa dekade mendatang, menurut laporan terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)

Akibatnya, semua mata beralih ke pertanian vertikal untuk menghasilkan lebih banyak hasil panen setiap tahun dan mengurangi tekanan pada pertanian dan lahan subur yang masih tersisa.

Meskipun ada banyak cara untuk mendefinisikan praktik pertanian baru ini, secara sederhana, pertanian vertikal adalah praktik di mana tanaman pangan diproduksi di daerah yang cenderung miring.

Baca: Perubahan iklim mendorong pengembangan pertanian regeneratif

Tidak seperti pertanian tradisional, yang menanam tanaman dalam satu lapisan, cara inovatif bernama pertanian vertikal ini memproduksi pangan dalam lapisan vertikal dan bertumpuk.

Pertanian vertikal ini dapat digunakan dengan baik pada berbagai struktur seperti peti pengiriman atau gedung pencakar langit dan memiliki potensi besar dalam hal output dan pengurangan emisi terkait pangan.

Selain itu, pertanian vertikal juga bisa menghemat atau mengatr penggunaan sumber daya secara optimal.

Ambil selada misalnya. Jika Anda menanamnya di lahan dengan metode pertanian konvensional, Anda akan menggunakan sekitar 259 liter air lebih banyak dibandingkan menggunakan metode pertanian vertikal hemat air.

Manfaat lainnya, karena umumnya berada di dalam ruangan maka pertanian vertikal cenderung lebih tahan dalam beragam cuaca.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *