Tag: banjir

  • Mungkinkah Jakarta dan Sekitarnya Terbebas dari Banjir?

    Mungkinkah Jakarta dan Sekitarnya Terbebas dari Banjir?

    7cloud.asia – Banjir besar yang melanda Jabodetabek pada awal Maret 2025 menjadi perhatian sekaligus pengingat keras bahwa penanganan banjir selama ini belum tuntas sehingga menyebabkan kejadian yang berulang.

    Momentum banjir Jabodetabek selanjutnya menjadi studi kasus yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) pada 18-20 Maret 2025 lalu.

    Usulan rekomendasi yang telah disampaikan pada Rakornas PB kemudian ditandaklanjuti dengan diskusi “Ngopi Bareng BNPB road to Adexco 2025 ” bertajuk “Bisakah Jabodetabek bebas banjir?”.

    Membuka diskusi, Kepala Subdirektorat Penegakan Hukum dan Penanganan Sengketa Penataan Ruang Wilayah II Kementerian ATR/BPN Audrei Winny Cynthiasari menyoroti pedoman cetak biru dalam rencana penggunaan lahan.

    Menurutnya, penyusunan tata ruang dalam upaya pengurangan risiko bencana perlu mempertimbangkan kawasan rawan bencana serta analisa daya dukung dan tampung lingkungan. Hal ini penting untuk menghasilkan rencana tata ruang yang mengakomodasi kebutuhan tata ruang pada lokasi tertentu.

    Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Diminta Rigid dalam Perencanaan Pembangunan untuk Cegah Banjir Besar Terulang di Bekasi

    Untuk mengurangi risiko banjir misalnya, penerapan zero delta Q dapat diupayakan untuk mengurangi limpasan. Zero delta Q merupakan konsep pengelolaan sumber daya air dengan cara menahan atau menampung limpasan air permukaan.

    Penertiban tata ruang sudah diupayakan melalui pengaturan tata ruang hingga penggunaannya berdasarkan jenis aktivitas. Namun, celah penyalahgunaan ruang tetap terjadi di lapangan.

    Upaya pembinaan dilakukan untuk monitoring penyalahgunaan lahan terus dilakukan melalui penegakan hukum, tidak hanya pada pelanggarannya, namun juga pengembalian lingkungan yang terdampak dari pelanggaran.

    Selain penataan ruang, upaya pengurangan risiko banjir juga membutuhkan peran infrastruktur yang memadai. Direktur Sungai dan Pantai Kementerian PUPR Dwi Purwantoro mengatakan pola penataan sangat berpengaruh terhadap pola aliran air.

    Di Jabodetabek, pertumbuhan penduduk yang pesat mengakibatkan kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan kebutuhan lainnya meningkat. Saat ini tutupan lahan di wilayah Jabodetabek sudah mencapai lebih dari 80 persen.

    Baca Juga: Greenpeace: Banjir Jabodetabek Jadi Bukti Nyata Ancaman Krisis Iklim

    Hal ini berarti aliran air yang bisa masuk ke tanah hanya 20%. Keadaan ini jauh dari kata ideal yang seharusnya resapan air ke tanah sebanyak 60-70 persen.

    Upaya mitigasi struktural telah dilakukan oleh pemerintah pusat, melalui pembangunan dry dam di Ciawi (Ciliwung dan Jakarta) dan Cimahi. Kedua dam ini mampu mereduksi 22 persen, masih ada 16 kilometer yang belum tertanggul.

    Selain itu juga percepatan pelaksanaan pembebasan tanah untuk memitigasi melalui pembangunan infrastruktur. Pada area hulu, Pemerintah tengah membangun delapan titik kolam retensi untuk penampungan air hujan di wilayah puncak.

    Dari segi mitigasi non struktural, Direktur Mitigasi Bencana BNPB Berton Suar Panjaitan menyampaikan bahwa Pemerintah Pusat melalui BNPB melakukan koordinasi lintas pihak pelaku-pelaku seperti Kementerian/Lembaga, dunia usaha, non pemerintahan, media dan masyarakat.

    Selain itu, upaya pengurangan risiko banjir juga dilakukan melalui pedoman mitigasi banjir, penguatan desa tangguh bencana bersama pemerintah darah, serta edukasi dan simulasi evakuasi kejadian dengan keterlibatan masyarakat.

    Baca Juga: Bukan Hanya Karena Krisis Iklim, Banjir Jabodetabek Juga Dipicu Tata Ruang yang Amburadul

    Pengurangan risiko bencana dengan pendekatan kearifan lokal memegang peranan penting dalam membangun kesadaran masyarakat.

    Komitmen pemerintah pusat dan daerah sangat penting dalam upaya penanganan banjir. Komitmen ini tidak hanya terkait anggaran namun juga koordinasi seluruh pelaku kebencanaan termasuk para pelaku dunia usaha.

    Mewujudkan Jabodetabek bebas banjir membutuhkan perencanaan yang komprehensif dengan melibatkan semua sektor.

    Salah satu bentuk upaya kolaboratif pengurangan risiko non struktural adalah melalui Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (Adexco 2025).

    Kegiatan ini akan menjadi wadah bertemunya berbagai unsur penanggulangan bencana termasuk pihak swasta yang bergerak dalam bidang peralatan dan layanannya kebencanaan.

    Kegiatan yang akan diselenggarakan pada bulan September mendatang dilengkapi muatan edukasi melalui seminar kebencanaan. Seluruh lapisan dan unsur masyarakat dapat hadir untuk meningkatkan wawasan kebencanaan.

    Baca Juga: IAI Jakarta Rekomendasikan 8 Langkah Cegah Banjir Besar Kembali Terulang di Jabodetabek

  • Mendesain Kota Responsif terhadap Banjir dengan Teknologi Komputasi Dinamika Fluida

    Mendesain Kota Responsif terhadap Banjir dengan Teknologi Komputasi Dinamika Fluida

     

    7cloud.asia – Banjir merupakan bencana alam yang paling umum dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Dan, perubahan iklim telah mengakibatkan bencana banjir makin sering dan intens terjadi.

    Antara tahun 2000 hingga 2019, banjir menyumbang 44 persen dari semua bencana yang tercatat di seluruh dunia.

    Seperti peristiwa ekstrem lainnya seperti kekeringan dan badai, perubahan iklim membuat banjir lebih sering terjadi dan lebih parah.

    Sayangnya, sebagian besar kota di dunia tidak dirancang dengan baik untuk ketahanan banjir.

    Salah satu contohnya adalah sistem drainase yang burukdi ibu kota Uni Emirat Arab, Dubai  membuatnya sangat rentan terhadap banjir, seperti yang terjadi pada tahun 2024.

    Baca: Teknologi CFD bangun ketahanan kota terhadap udara panas

    Kabar baiknya, pengembangan teknologi komputasi dinamika fluida (Computational Fluid Dinamics/CFD) dapat mensimulasikan bagaimana air akan mengalir melalui kota selama hujan ekstrem atau pasang surut.

    Simulasi ini sangat penting untuk merancang pertahanan banjir, sistem air hujan hijau, dan apa yang disebut infrastruktur “kota spons”, yang menyerap air alih-alih mengalirkannya ke laut

    Ambil contoh Rotterdam; beberapa bagian kota berada 7 meter di bawah permukaan laut, sehingga rentan terhadap banjir dan kenaikan permukaan laut.

    Dilansir earth.org, kota terbesar kedua di Belanda ini telah menggunakan teknologi komputasi dinamika fluida (CFD) untuk mensimulasikan aliran air dan risiko banjir.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan

    Berbekal pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana banjir dapat dan akan merembes ke kota, para perencana kota Rotterdam telah membangun koridor “hijau biru” – aliran air dan area yang dibuat untuk menampung kelebihan air.

    Mereka telah merancang tempat parkir bawah tanah yang dapat menampung curah hujan, dan bahkan merekayasa struktur terapung yang dirancang agar tangguh jika terjadi banjir.

    Struktur ini menggunakan platform yang dapat mengapung dan sistem penahan yang fleksibel agar tetap stabil di atas air. Misalnya, beberapa rumah dirancang untuk mengapung di atas lambung beton yang dipasang di pantai.

    Dengan semakin meluasnya kota ke wilayah pesisir, teknologi komputasi dinamika fluida atau CFD akan terbukti menjadi alat yang sangat berharga untuk merancang kota yang tahan banjir di masa mendatang.

    Baca: Upaya sektor konstruksi temukan solusi atasi perubahan iklim

  • Fenomena Kemarau Basah, Apa Saja Dampaknya?

    Fenomena Kemarau Basah, Apa Saja Dampaknya?

    7cloud.asia – Fenomena kemarau basah yang kini tengah terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia membawa dampak di berbagai bidang. Salah satunya bidang pertanian.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) memprediksi kemarau basah berlangsung hingga Agustus 2025.

    Fenomena kemarau basah sebagai indikator perubahan iklim kian terasa di Indonesia. Sejumlah dampak yang muncul akibat fenomena ini, yaitu:

    Baca: Mengapa musim kemarau 2025 lebih pendek?

    1. Bidang Pertanian

    Bagi petani yang biasa menjadwalkan menanam di musim kemaru bisa kesulitan jika hujan masih sering turun. Sebab lahan menjadi mudah tergenang dan tanaman menjadi rusak.

    1. Bidang Kesehatan

    Hujan yang masih sering turun menyebabkan munculnya genangan air dan lingkungan menjadi lembab. Kondisi ini memicu berbagai penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), leptospirosis, influenza dan infeksi saluran pernapasan.

    1. Bencana Alam

    Kondisi cuaca hujan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan banjir lokal, longsor atau banjir bandang yang dapat mengakibatkan kerugian materi bahkan mengancam keselamatan.

    Transportasi pun juga menjadi lumpuh akibat adanya bencana alam. Karena biasanya akses jalan terputus akibat longsor. Kondisi jalan juga tergenang air yang menyulitkan warga dalam beraktifitas.  

    Baca: Mengenal fenomena kemarau basah

    Adanya berbagai dampak tersebut, BMKG mengajak masyarakat sadar dan peduli terhadap lingkungan. Salah satunya menjaga kebersihan lingkungan.

    Selain itu, pemerintah daerah juga perlu menyusun strategi mitigasi dan penyesuaian terhadap perubahan iklim dan pola cuaca yang makin tidak menentu. Dengan demikian dampak kemarau basah dapat diminimalisir.

     

  • Laporan Copernicus Sebut Eropa Alami Bencana Terburuk Akibat Perubahan Iklim pada Tahun Lalu

    Laporan Copernicus Sebut Eropa Alami Bencana Terburuk Akibat Perubahan Iklim pada Tahun Lalu

    7cloud.asia – Negara-negara Eropa mengalami “dampak serius” dari cuaca ekstrem dan perubahan iklim pada tahun 2024, menurut laporan baru yang diterbitkan April lalu.

    Data yang dikumpulkan oleh Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa Copernicus dan Organisasi Meteorologi Dunia mengungkapkan, daratan Eropa dilanda badai “yang sering kali dahsyat” yang memicu banjir paling luas sejak 2013.

    Eropa Barat terkena dampak paling parah, di mana tahun 2024 tercatat sebagai salah satu di antara sepuluh tahun terbasah sejak 1950.

    Diperkirakan 413.000 orang terkena dampak, dan sedikitnya 335 orang kehilangan nyawa.

    Peristiwa penting termasuk banjir mematikan di Valencia, sebuah provinsi di Spanyol timur. Curah hujan hingga 500 milimeter (20 inci) – setara dengan satu tahun untuk beberapa lokasi – turun hanya dalam delapan jam pada akhir Oktober, menjebak orang-orang di rumah dan mobil mereka.

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global capai 2°C

    Badai yang belum pernah terjadi sebelumnya itu dipicu oleh air laut yang lebih hangat dari biasanya yang kemungkinan terjadi setidaknya 50 hingga 300 kali lebih besar akibat perubahan iklim.

    Menurut laporan tersebut, suhu permukaan laut di seluruh Eropa 0,7°C di atas rata-rata dan Laut Mediterania 1,2°C di atas rata-rata tahun lalu.

    Banjir tersebut menewaskan sedikitnya 232 orang di seluruh wilayah, menjadikannya peristiwa terkait cuaca paling mematikan tahun ini.

    Sebulan sebelumnya, hujan deras yang sama memicu banjir dahsyat di delapan negara di Eropa tengah dan timur.

    Perubahan iklim juga telah meningkatkan kemungkinan dan intensitas badai yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang merenggut sedikitnya 19 nyawa.

    Baca: Pemanasan suhu Bumi mampaui ambang batas 1,5°C

    Sebagai akibat dari peristiwa banjir ini dan lainnya, 30 persen jaringan sungai Eropa melampaui ambang batas banjir “tinggi” selama tahun itu, sementara 12 persen melampaui ambang batas banjir “parah”, ungkap laporan hari Selasa.

    Perubahan iklim mengintensifkan siklus air, membawa curah hujan yang lebih deras dan kemudian memicu banjir besar

    Saat permukaan laut menghangat, udara di atasnya pun ikut menghangat, yang menyebabkan air terbawa ke tempat yang lebih tinggi untuk membentuk awan, dan meninggalkan zona tekanan rendah di bawahnya yang menyebabkan lebih banyak udara masuk.

    Kondisi ini kemudian memicu angin kencang atau bahkan badai. Laporan tersebut menyebut, semakin hangat udara, semakin banyak air yang dapat ditampungnya

    Di mana untuk setiap satu derajat Celsius pemanasan tambahan, udara dapat menahan 7 persen lebih banyak uap air.

    Baca: Uni Eropa dorong pengurangan emisi hingga 90 persen

  • Tanggul Sungai Tuntang Jebol, Puluhan Ribu Rumah di Demak Tergenang Banjir Selama Berhari-hari

    Tanggul Sungai Tuntang Jebol, Puluhan Ribu Rumah di Demak Tergenang Banjir Selama Berhari-hari

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jebolnya tanggul Sungai Tuntang dapat memicu banjir berkepanjangan dan berdampak masif di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bencana banjir masih berdampak luas di Kabupaten Demak sejak tanggul Sungai Tuntang jebol pada 17 Mei 2025 lalu.

    “Sebanyak 37 desa di lima kecamatan terdampak langsung, dengan jumlah populasi terdampak sekitar 10.104 Kepala Keluarga (KK),” kata dia, Kamis (19/6/2025) di Jakarta.

    Ia memaparkan banjir tersebut juga menimbulkan dampak kerusakan materi yang signifikan.

    Baca: Banjir di Demak tak akan memicu terbentuknya kembali Selat Muria

    Data yang diterima BNPB menyebutkan bahwa kerusakan material akibat banjir terjadi pada lebih dari 10.000 rumah warga, 39 fasilitas pendidikan terganggu, dan sekitar 730 hektare lahan pertanian tergenang air.

    “Serta fasilitas umum seperti pasar, kantor, tempat ibadah, dan akses jalan, juga ikut terdampak akibat banjir itu,” imbuhnya.

    Menurut dia, sebagai bentuk respons cepat yang dilakukan tim BPBD Kabupaten Demak bersama instansi lainnya sudah melakukan penanganan darurat, termasuk penutupan tanggul, pompanisasi di titik kritis, serta pendistribusian logistik dan alat berat.

    Namun pihaknya menilai upaya percepatan pemulihan tanggul atau infrastruktur serupa lainnya dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana lanjutan harus tetap diprioritaskan.

    Baca: Cara nelayan di Demak atasi kenaikan permukaan laut

    Hal ini, kata dia, karena Demak tidak hanya berhadapan dengan bahaya banjir dari luapan aliran sungai, tetapi juga banjir pesisir atau rob, yang sampai saat ini masih terjadi khususnya di wilayah pesisir utara Jawa (Pantura).

    “Genangan air rob masih terjadi di kawasan Pantura. Banjir di sejumlah wilayah, seperti Desa Sayung dan Kalisari, kini mulai surut, dibantu pompanisasi di titik kritis sebagai bentuk respon yang dilakukan tim BPBD Demak,” kata Abdul Muhari.

    Banjir di Demak ini semakin sering terjadi beberapa tahun terakhir. Selain perubahan iklim, kondisi ini juga disebabkan masifnya pembangunan berbagai proyek pemerintah seperti kawasan industri maupun pembangunan jalan tol Semarang-Demak.

    Baca: Kawasan industri dan pembangunan Tol Semarang-Demak persempit ruang tangkap nelayan

  • Tangani Banjir di Lima Kecamatan, Kabupaten Halmahera Selatan Tetapkan Status Tanggap Darurat

    Tangani Banjir di Lima Kecamatan, Kabupaten Halmahera Selatan Tetapkan Status Tanggap Darurat

    7cloud.asia – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Selatan, Maluku Utara, menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari untuk mempercepat penanganan banjir yang melanda daerah itu.

    Dilansir Antaranews.com, ribuan orang warga terdampak banjir dan seorang balita dilaporkan meninggal. Adapun korban banjir tersebar di lima kecamatan di Halmahera Selatan

    Dalam keterangan yang dilansir Senin (23/6/2025), Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan status tanggap darurat mulai berlaku sejak Minggu dini hari (23/6/2025),

    Status tanggap darurat ini ditetapkan setelah banjir merendam permukiman warga di lima kecamatan akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur selama beberapa hari terakhir.

    Baca: Peringatan dini “Siaga Hujan Lebat” di Indonesia Timur hingga 26 Juni 2025

    Data yang diterima BNPB mencatat sebanyak 4.182 Kepala Keluarga (KK) atau 13.965 jiwa mengungsi dari 15 desa yang tersebar di enam kecamatan yakni Bacan, Bacan Selatan, Gane Barat, Gane Timur, Gane Timur Selatan, dan Gane Barat Selatan.

    “Selain ribuan warga terdampak, satu balita berusia dua tahun dilaporkan meninggal dunia karena terbawa arus dan satu orang mengalami luka akibat tersengat listrik,” kata Abdul Muhari.

    BNPB juga melaporkan banjir mengakibatkan 1.522 rumah terendam. Selain itu empat rumah mengalami kerusakan berat, tiga rumah rusak ringan.

    Banjir juga mengakibatkan dua jembatan mengalami rusak berat, satu jembatan rusak ringan, serta satu bronjong sepanjang 40 meter ikut terdampak.

    Menurut Abdul, tinggi muka air di lokasi terdampak bervariasi mulai dari 20-150 centimeter. Kondisi ini menghambat aktivitas warga dan membuat sebagian besar wilayah terdampak sulit dijangkau tanpa perahu atau kendaraan khusus.

    Baca: Tren bencana banjir di Indonesia semakin mengkhawatirkan

    BNPB telah mengoordinasikan dukungan logistik bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.

    Adapun kebutuhan mendesak bagi para penyintas saat ini meliputi makanan siap saji, selimut, terpal, tikar, pakaian layak pakai, serta perlengkapan bayi dan balita.

    Abdul mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan di wilayah tersebut masih berpotensi tinggi.

    Warga juga diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan kanal komunikasi resmi pemerintah.

    Sebelumnya BMKG telah merilis peringatan dini Siaga (Hujan lebat) di sejumlah wilayah di Indonesia bagian tengah dan timur termasuk Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

    Baca: Cuaca ekstrem makin sering terjadi akibat perubahan iklim

  • Warga Pesisir Jakarta Diminta Mewaspadai Banjir Rob dalam Dua Hari ke Depan

    Warga Pesisir Jakarta Diminta Mewaspadai Banjir Rob dalam Dua Hari ke Depan

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi terjadinya banjir rob dalam satu hingga dua hari ke depan.

    “Dari prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG, ada kemungkinan satu-dua hari ini ada rob. Permukaan air naik, sekaligus hujan,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo saat dijumpai di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Senin (7/7/2025)

    Mengantisipasi kemungkinan banjir rob ini, Pramono telah memerintahkan Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta beserta seluruh tim untuk selalu siaga dan mempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk mengatasi banjir.

    Pramono berharap, banjir bersamaan seperti yang terjadi Minggu malam (6/7/2025) tak terjadi lagi.

    Baca: Hujan lebat berpotensi terjadi di Jawa Barat hari ini

    Dia mengatakan, Jakarta pada Minggu malam (6/7/2025) tercatat ada tiga banjir bersamaan yakni banjir rob, banjir kiriman dan akibat hujan.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat, hingga Senin (7/7/2025) pagi banjir di Jakarta meluas ke 109 RT yang mengakibatkan ratusan warga harus mengungsi.

    Kepala Pelaksana BPBD Jakarta Isnawa Adji mengatakan, genangan terjadi di 109 RT dan 3 ruas jalan,

    Data banjir itu dihimpun per pukul 06.00 WIB. Sebaran titik banjir ada di 17 RT di Jakarta Pusat, 15 RT di Jakarta Barat, 30 RT di Jakarta Selatan, dan 47 RT di Jakarta Timur.

    “Saya meminta untuk bersiap mengatasi itu. Supaya pengalaman kita semalam tidak terulang. Kejadian semalam itu menunjukkan bahwa sebenarnya, apa ya, di luar nalar gitu,” kata Pramono.

    Baca: Kenaikan permukaan air laut dan perubahan iklim perburuk banjir rob di Jakarta

    Pemprov DKI Jakarta juga telah menyiapkan sejumlah alat-alat untuk mengatasi banjir.

    Hal itu seperti 202 lokasi pompa stasioner dengan jumlah 605 unit. Kemudian pompa mobil di lima wilayah, masing-masing 100 unit.

    “Bahkan pompa-pompa apung yang kecil-kecil, semua sudah dibagi tadi malam. Kemudian alat-alat berat kurang lebih 202 unit,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Air Ika Agustin Ningrum.

    Selain itu, Ika mengatakan Jakarta juga terus melakukan pengerukan kali meski bukan di musim panas.

    Sebagai salah satu langkah antisipasi banjir, Pemprov DKI Jakarta selalu berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memantau curah hujan.

    Baca: Perubahan iklim bebani penduduk miskin di Pesisir Jakarta

  • Kali Irigasi Bekasi Tengah Dikeruk untuk Cegah Banjir di Jakarta

    Kali Irigasi Bekasi Tengah Dikeruk untuk Cegah Banjir di Jakarta

    7cloud.asia – Pengerukan kali, terutama di daerah perbatasan juga menjadi prioritas utama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani banjir di Jakarta.

    “Saya sudah memutuskan bahwa pengerukan di pinggir-pinggir Jakarta ini segera dilakukan karena menjadi prioritas utama,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meninjau pengerukan Kali Irigasi Bekasi Tengah, Cakung, Jakarta Timur, Senin (7/7/2025).

    Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan banjir dan pengairan di wilayah tersebut berjalan optimal.

    Pramono menjelaskan, irigasi di Kali Irigasi Bekasi Tengah ini awalnya dibangun pemerintah pusat untuk mengatasi banjir dan sebagai sumber pengairan.

    Namun, seiring berjalannya waktu, perawatan Kali Irigasi Bekasi Tengah ini beralih menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mengatasi masalah banjir yang kerap terjadi.

    Baca: Warga Pesisir Jakarta diminta mewaspadai banjir rob

    Pengerukan Kali Irigasi Bekasi Tengah di Cakung ini dilakukan sepanjang 5,3 kilometer. Aliran ini melewati tiga kelurahan yang terdiri dari Kelurahan Ujung Menteng, Kelurahan Cakung Timur dan Cakung Barat.

    Aliran Kali Irigasi Bekasi Tengah ini berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum.

    Pada 2025, beberapa kegiatan pengerukan dilakukan di sepanjang aliran Kali Irigasi Bekasi Tengah atau inspeksi PAM. Di antaranya pengerukan Kali Irigasi Bekasi Tengah segmen A dari Kanal Banjir Timur sampai gerbang Perum Metland Ujung Menteng.

    Pengerukan ini dilakukan sejak 12 Februari hingga 19 Mei 2025. Sedangkan volume terkeruk mencapai 5.753 meter kubik dengan panjang 1.100 meter.

    Kemudian pengerukan Kali Irigasi Bekasi Tengah segmen B dari gerbang Perum Metland hingga Kali Cakung Drain. Pengerukan ini sedang berjalan dengan rencana volume yang akan dikeruk sebanyak 10.147 meter kubik dengan panjang 4200 meter.

    Baca: Pramono Anung akan lanjutkan program normalisasi Sungai Ciliwung

    Pramono menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI terus menyisir daerah rawan banjir untuk dilakukan langkah preventif, salah satunya melalui pengerukan aliran sungai di berbagai titik di Jakarta.

    Selain pengerukan, juga direncanakan perbaikan turap saluran penghubung irigasi di Jalan Inspeksi PAM, Kelurahan Cakung Barat, sepanjang 386 meter dengan tinggi turap dirancang mencapai tiga meter.

    Terkait banjir yang terjadi sejak Minggu (6/7) malam, Gubernur Pramono menyebut jajaran Dinas SDA dan para wali kota di lima wilayah telah berkoordinasi untuk memantau dan melakukan langkah cepat dalam menangani genangan.

    Pihak Pemprov, ujar Pramono, meminta Dinas SDA untuk siaga. Pengalaman sejak semalam menunjukkan bahwa kinerja kita sudah baik. Khususnya dalam menjaga kawasan strategis agar tidak terdampak.

    “Sekitar pukul 12 malam, semua genangan sudah tertangani dengan baik, dan pagi ini semuanya berjalan lancar,” jelasnya.

    Baca: Pengerukan sungai dan danau di Jakarta berlanjut hingga Agustus 2025

  • BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Jabodetabek dan Sejumlah Wilayah Lainnya Hingga Sepekan ke Depan

    BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Jabodetabek dan Sejumlah Wilayah Lainnya Hingga Sepekan ke Depan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem masih berpotensi melanda wilayah Jabodetabek dan wilayah lainnya hingga sepekan ke depan. Masyarakat diimbau waspada.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers secara daring menjelaskan intensitas hujan yang terjadi dalam sepekan mendatang diperkirakan lebih dari 100 milimeter (mm) per hari, bahkan mencapai 150 mm per hari di daerah Puncak, Jawa Barat.

    “Pada sepekan ke depan, BMKG mewaspadai cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah, terutama di Pulau Jawa bagian barat dan tengah, termasuk Jabodetabek”, jelas Dwikorita.

    Baca: Liburan panjang sekolah, waspada cuaca ekstrem

    Selain wilayah Jabodetabek, cuaca ekstrem juga berpotensi melanda wilayah Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, termasuk Mataram; Maluku bagian tengah, serta Papua bagian tengah dan utara.

    Selanjutnya Dwikorita memaparkan kondisi cuaca seperti ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer. Seperti lemahnya monsun Australia dan hangatnya suhu muka laut menyebabkan kelembaban udara tinggi, terutama di wilayah selatan Indonesia.

    Selain itu BMKG juga memantau adanya Gelombang Atmosfer Kelvin yang aktif melintas di pesisir utara Jawa dan Laut Jawa disertai perlambatan dan belokan angin di Jawa bagian barat dan selatan yang memicu penumpukkan massa udara.

    Baca: BMKG pastikan musim kemarau 2025 mundur

    “Labilitas atmosfer lokal juga terpantau kuat dan mempercepat pertumbuhan awan-awan hujan,” katanya.

    Kemudian periode tanggal 10 hingga 12 Juli, potensi hujan akan bergeser ke wilayah bagian tengah dan timur.

    Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti longsor, banjir, banjir bandang, pohon tumbang yang dapat muncul sewaktu-waktu akibat cuaca ekstrem tersebut.

     

  • Pemprov DKI Jakarta Segera Lanjutkan Proyek Normalisasi Kali Ciliwung

    Pemprov DKI Jakarta Segera Lanjutkan Proyek Normalisasi Kali Ciliwung

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan segera lanjutkan proses normalisasi Kali Ciliwung guna mengantisipasi banjir yang kerap terjadi di ibu kota.

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, normalisasi Ciliwung segera dilanjutkan setelah empat penetapan lokasi sudah disetujui.

    ”Dari 14 penlok, empat sudah ditandatangani. Dua di Jakarta Selatan dan dua di Jakarta Timur,” kata Pramono Anung saat dijumpai di Tanggul Inspeksi Kali Ciliwung, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (8/7/2025).

    Untuk kelanjutan normalisasi Kali Ciliwung. Pemprov Jakarta diketahui sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp98 miliar.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jakarta Ika Agustin Ningrum mengungkapkan bahwa anggaran tersebut masih berpotensi bertambah seiring dengan pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2025 bersama DPRD DKI Jakarta.

    Baca: Pramono Anung akan lanjutkan program normalisasi Kali Ciliwung

    Selanjutnya, Pramono Anung meminta jajarannya agar melakukan pendekatan dengan warga secara terus menerus. Pramono juga tak mau pendekatan dengan warga dilakukan secara kekuasaan atau tidak baik.

    Oleh karena itu, dia ingin pendekatan selalu dilakukan demi kenyamanan bersama. Dia mencontohkan, di sekitar Tanggul Inspeksi Kali Ciliwung Rawajati, daerah tersebut memang sudah tidak layak huni.

    “Dari sini kan terlihat bahwa sungainya jauh di atas tempat warga. Jadi, ketika terjadi bocor atau tanggulnya jebol, pasti warga akan terbenam karena memang airnya sudah jauh di atas permukiman warga,” kata Pramono.

    Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Ika Agustin mengatakan pembayaran kepada warga akan segera diselesaikan oleh tim pengadaan lahan dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

    “Kemungkinan bulan depan sudah melakukan pembayaran. Kemudian sudah kami koordinasikan dengan Kementerian PU. Justru tinggal menunggu Kementerian PU untuk melakukan pekerjaan fisik,” kata Ika.

    Baca: KLH percepat rehabilitasi wilayah hulu Kali Ciliwung

    Diketahui proyek normalisasi Kali Ciliwung dimulai sejak era Gubernur Joko Widodo. Namun normalisasi kembali tersendat dalam beberapa tahun terakhir.

    Salah satu hambatan utamanya adalah penolakan dari warga yang bermukim di bantaran sungai dan belum tuntasnya proses relokasi.

    Normalisasi Kali Ciliwung merupakan program kerja sama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

    Data terbaru menunjukkan, dari total rencana normalisasi Kali Ciliwung total sepanjang 33,69 kilometer, baru sekitar 17,17 kilometer yang telah diselesaikan.

    Sisanya, yakni sepanjang 16,52 kilometer, belum bisa dikerjakan karena belum rampungnya proses pembebasan lahan.

    Baca: Sodetan Kali Ciliwung belum efektif cegah banjir