Tag: anak

  • Simak cara Mencegah Diabetes Sejak Bayi dalam Kandungan

    Simak cara Mencegah Diabetes Sejak Bayi dalam Kandungan

    7cloud.asia – Kasus diabetes anak di Indonesia terus meningkat dan telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan pada Januari 2023 jumlah kasus diabetes anak naik tujuh puluh kali lipat dibandingkan tahun 2010.

    Telah banyak riset yang menyerukan pembatasan jumlah asupan gula per hari pada anak untuk mencegah diabetes pada anak.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama menggaungkan pentingnya aktivitas fisik pada anak dan mewaspadai adanya kandungan gula tersembunyi pada makanan dan minuman berpemanis.

    Namun, eskalasi jumlah kasus diabetes itu belum mendorong pendekatan pencegahan diabetes anak yang lebih baru, yakni upaya preventif sejak masa kehamilan ibu.

    Kementerian Kesehatan dan profesional kesehatan masyarakat perlu segera mempertimbangkan pencegahan diatebes pada anak sejak dalam kandungan.

    Baca: Apakah penyintas diabetes sama sekali nggak boleh mengonsumsi gula

    Dampak gula darah tinggi saat hamil
    Sebuah penelitian pada 2019 menyatakan ibu hamil dengan gula darah tinggi memiliki risiko kesehatan pada diri dan bayinya.

    The International Association of Diabetes and Pregnancy Study Groups (IADPSG) membuat batasan bahwa gula darah ibu hamil masuk kategori tinggi saat gula puasanya 92mg/dl.

    Ini artinya satu jam setelah diberi cairan glukosa dalam tes toleransi glukosa oral (TTGO) mencapai 180mg/dl, atau dua jam setelah TTGO angkanya 153mg/dl.

    Dampak tinggi gula darah bisa terjadi dalam jangka pendek maupun panjang.

    Dampak jangka pendek pada ibu di antaranya adalah mempersulit proses persalinan akibat bayi besar serta meningkatnya risiko terjadinya persalinan caesar dan preeklampsia.

    Sedangkan efek negatif jangka panjangnya adalah ibu berisiko tujuh kali lipat untuk terkena diabetes tipe 2 pada masa mendatang.

    Baca: Olah raga pada sore hari bagu suntuk penderita diabetes tipe 2

    Pada bayi, dampak jangka pendek yang terjadi bisa berupa stillbirth (lahir mati), lahir prematur, ataupun hipoglikemi (gula darah rendah) saat lahir.

    Selain itu, dampak jangka panjangnya adalah bayi yang lahir akan lebih mudah mengalami obesitas pada usia anak, dan lebih berisiko mengalami diabetes.

    Oleh karena itu, mengelola gula darah ibu pada masa kehamilan adalah satu hal kecil tetapi berdampak besar bagi masa depan anak.

    Bila gula darah ibu hamil yang tinggi bisa dikelola dengan baik, maka dengan sendirinya risiko anak terkena diabetes pun dapat diminimalkan.

    Pada masa hamil, tubuh ibu menggunakan insulin secara kurang efektif (resistensi insulin) yang menyebabkan naiknya gula darah. Keadaan ini disebut diabetes gestasional.

    Biasanya masyarakat menganggap ini adalah perubahan biasa yang akan hilang saat bayi lahir, atau lazimnya disebut ‘bawaan bayi’. Padahal, kondisi ini sebagian ada yang hilang setelah persalinan, tetapi juga ada yang menetap.

    Menurut riset pada 2015, kondisi ibu hamil dengan gula darah tinggi bisa ditangani dengan beberapa cara.

    Baca: Pro kontra penggunaan ganja untuk kesehatan

    Pertama, modifikasi gaya hidup yang bisa dilakukan meliputi perubahan pola makan, pengaturan berat badan selama hamil dan aktivitas fisik.

    Seorang ibu hamil dengan gula darah tinggi perlu mendapatkan informasi dan pengetahuan seputar pengaturan makanan mereka.

    Sebaiknya tenaga kesehatan tidak hanya memberi saran umum untuk sekadar mengurangi nasi dan gula, seperti yang selama ini sering kita dengar.

    Namun perlu informasi spesifik yang menjelaskan jenis dan jumlah makanan yang sebaiknya ibu hamil konsumsi.

    Kedua, pilihan makanan yang tepat akan menentukan keberhasilan diet sehat ibu.

    Makanan bergizi seperti sayuran, biji-bijian dan protein sangat penting bagi ibu. Makanan yang mengandung tinggi gula dan karbohidrat sederhana sebaiknya dihindari.

    Konsumsi buah perlu menjadi perhatian karena beberapa buah mengandung gula alami yang tinggi.

    Baca: Cara mengurangi risiko autoimun

    Hal-hal tersebut di atas membantu ibu mengelola berat badannya selama hamil. Perubahan pola makan ini adalah hal yang gampang-gampang susah.

    Pola makan seseorang adalah kebiasaan yang telah terbentuk dalam kurun waktu lama yang biasanya sulit untuk dimodifikasi.

    Oleh sebab itu, ibu hamil perlu mendapat dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan untuk mengubah pola makan.

    Manfaat olahraga rutin dan obat
    Selain perubahan pola makan, ibu hamil dengan gula darah tinggi perlu melakukan aktivitas fisik secara rutin.

    Olahraga ringan seperti jalan pagi dapat membantu mencegah terjadinya lonjakan gula darah.

    Sayangnya, masih jarang kita lihat ibu hamil yang melakukan aktivitas fisik. Kehamilan seringkali dipandang sebagai masa rentan, karena ibu hamil dianggap dalam kondisi ‘lemah’.

    Baca; Dampak polusi udara, dari ISPA hingga serangan jantung

    Sehingga, ibu hamil disarankan untuk istirahat dan tidak melakukan hal-hal yang berbau ‘fisik’ demi keselamatan ibu dan bayi.

    Padahal, di atas kertas, lebih dari 50% ibu hamil dengan diabetes gestasional dapat dikelola dengan modifikasi gaya hidup.

    Bila cara-cara di atas ternyata tidak berhasil menurunkan kadar gula darah ibu ke level yang diinginkan, maka jalan lain yang bisa diambil adalah menggunakan obat-obatan.

    Sebuah penelitian melaporkan bahwa obat oral penurun gula terbukti aman bagi ibu hamil. Meski demikian, hal ini masih menjadi perdebatan.

    Pilihan lain yang dapat diambil adalah dengan terapi insulin. Cara ini dipercaya aman dan efektif untuk pengelolaan gula darah selama kehamilan.

    Jika kondisi gula darah tinggi pada kehamilan ditangani dengan baik, ibu dan bayi dapat memperoleh manfaat kesehatan.

    Ibu dapat terhindar dari berbagai komplikasi kehamilan, dan menurunkan risiko mengalami diabetes di masa depan.

    Sedangkan bagi bayi, pengelolaan gula darah ibunya dapat membantu mengurangi risiko terjadinya kegemukan dan diabetes pada masa kanak-kanak. Langkah ini adalah tawaran ‘investasi’ untuk kesehatan ibu dan anak Indonesia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis Ririn Wulandari PhD Student at School of Healthcare, University of Leeds

     

  • Vaksinasi dan Jaga Jarak Cegah Mycoplasma Pneumonia pada Anak

    Vaksinasi dan Jaga Jarak Cegah Mycoplasma Pneumonia pada Anak

    7cloud.asia – Rutin vaksinasi dan jaga jarak dengan penderita  menjadi dua cara untuk mencegah anak terinfeksi mycoplasma pneumonia.

    Hal ini diungkapkan Dokter spesialis pulmonologi dan respirasi paru RS Permata Cibubur dr. Januar Habibi, B.Med.Sc, Sp.P, menanggapi penyebaran mycoplasma pneumonia di Jakarta

    “Vaksinasi, menjaga jarak dengan orang yang sakit mycoplasma pneumonia, tidak berpergian ketika sakit, datang ke dokter dan mendapatkan perawatan jika dibutuhkan,” ujar Januar seperti dikutip Antaranews.com.

    Baca: Kasus mycoplasma pneumonia di Jakarta

    Januar mengatakan mycoplasma pneumonia menyebar dari orang ke orang melalui droplet di udara ketika seseorang batuk atau bersin.

    Menurut Januar, mycoplasma pneumonia tidak hanya menyerang anak-anak usia sekolah, namun, juga orang dewasa.

    Oleh karena itu, untuk mencegah penyakit tersebut, perlu diterapkan kembali protokol kesehatan seperti memakai masker dengan ukuran yang sesuai atau tidak kebesaran.

    Baca: Kasus Covid-19 melonjak, warga diminta terapkan protokol kesehatan

    Menjaga ventilasi udara tetap baik dan makan makanan bergizi juga menjadi cara terbaik mencegah berbagai infeksi bakteri seperti mycoplasma pneumonia.

    “Pastikan kembali kualitas ventilasi udara yang baik, cuci tangan dengan rutin, mengonsumsi makanan dengan nutrisi seimbang,” kata Januar.

    Mycoplasma pneumonia, tulis Januar, memiliki gejala yang hampir sama dengan COVID-19 yaitu infeksi yang menyerang sistem pernapasan yang mengakibatkan batuk, demam dan sesak nafas.

    Baca: Seperti ini protokol kesehatan saat endemi COVID 19

    Gejala itu juga bisa diperkuat dengan temuan abnormal saat melakukan rontgen dada dan pengambilan foto toraks.

    Januar juga mengatakan vaksinasi penguat COVID-19 yang masih tersedia sekarang tidak secara langsung berhubungan dengan pencegahan infeksi mycoplasma pneumonia.

    Sesuai arahan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gejala pneumonia oleh bakteri mycoplasma umumnya lebih ringan dan dapat diobati dengan antibiotika.

    Baca: Dampak kualitas udara pada kesehatan anak

    Saat ini Kementerian Kesehatan sedang menindaklanjuti enam laporan mycoplasma pneumonia di Jakarta

    Kemenkes saat sedang mengadakan penyelidikan epidemiologi untuk memutus penularan penyakit mycoplasma pneumonia  di masyarakat.

    Enam kasus mycoplasma pneumonia di Jakarta itu dialami oleh pasien dengan rentang usia 3 sampai 13 tahun.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Menyoal Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran: Ada Risiko Kesehatan di Balik Program Ini

    Menyoal Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran: Ada Risiko Kesehatan di Balik Program Ini

    7cloud.asia – Program makan siang gratis yang ditawarkan pasangan capres/cawapres Prabowo-Gibran menuai prokontra.

    Cawapres nomor urut dua, Gibran Rakabuming Raka membela program makan siang gratis ini di depan relawan di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, 10 Desember 2023.

    Pasangan Gibran, calon Presiden Prabowo Subianto, juga menyatakan angka negara yang sama yang memberikan program makan siang gratis walau tidak menyebut jumlah penerima manfaat.

    “Program makan siang dan susu gratis untuk anak-anak sudah dijalankan oleh 76 negara dan dirasakan manfaatnya oleh 400 juta anak. Jadi bukan program yang mengada-ada.”

    Lantas, benarkah pernyataan Prabowo-Gibran soal program makan siang gartis  ini?

    Baca: Beda cara Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo tangani kemiskinan

    The Conversation Indonesia bersama peneliti kesehatan publik Universitas Airlangga Ilham Akhsanu Ridlo memeriksa kebenaran klaim Gibran dan Prabowo tentang program makan siang dan susu gratis untuk anak-anak sekolah dasar telah dijalankan oleh 76 negara dan dirasakan manfaatnya oleh 400 juta siswa.

    Ilham mengutip sebuah laporan terbitan tahun lalu dari Global Child Nutrition Foundation (GCNF) berjudul School Meal Programs Around the World: Results from the 2021 Global Survey of School Meal Programs.

    Laporan ini menunjukkan bahwa, dari 139 negara yang disurvei, 125 di antaranya memiliki setidaknya satu program pemberian makanan berskala besar di sekolah dasar dan sekolah menengah.

    Jumlah ini lebih banyak dari angka 76 negara yang disebutkan oleh Gibran dan Prabowo.

    Laporan itu menyatakan bahwa setidaknya 330,3 juta anak menerima makanan sekolah mulai 2020. Persentase dari seluruh usia anak sekolah dasar dan menengah yang menerima program ini adalah 27%.

    Baca: Ganjar Mahfud akan perbaiki mekanisme penyaluran Bansos dengan gunakan KTP Sakti

    Dari sisi geografis, proporsi penerima program makan di sekolah di Amerika Latin/Karibia mencapai 55%, lalu Eropa, Asia Tengah, Amerika Utara (44%); Asia Selatan, Asia Timur, dan Pasifik (26%); dan Afrika Sub-Sahara (26%).

    Angka ini menunjukkan proporsi siswa di negara berpendapatan tinggi lebih tinggi dibanding siswa di negara berpendapatan rendah dan menengah.

    Sementara itu, laporan pada 2022 dari World Food Program, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi pangan, menyatakan bahwa dari sampel data 176 negara diperoleh angka 418 juta anak menerima manfaat dari program makanan di sekolah.

    Jumlah ini 30 juta lebih banyak dibanding 388 juta anak yang mendapatkan manfaat serupa sebelum pandemik pada awal 2020.

    Dalam aspek usia, dari jumlah tersebut sekitar 41% merupakan anak sekolah dasar yang mendapatkan makanan gratis atau bersubsidi.

    Dalam aspek pendapatan, program ini menjangkau 61% anak usia sekolah di negara berpendapatan tinggi, 48% di negara berpendapatan menengah atas.

    Baca: Tes calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Sementara, di negara berpendapatan rendah, hanya 18% siswa yang menerima makanan di sekolah setiap hari.

    Secara global, investasi untuk pemberian makan di sekolah pada 2022 diperkirakan antara US$47-48 miliar (hampir Rp729-745 triliun), dengan biaya rata-rata US$64 (sekitar Rp993 ribu) per anak per tahun.

    Sumber pendanaannya lebih dari 98% dari dalam negeri, atau anggaran masing-masing negara.

    Potensi risiko kesehatan pada anak yang perlu diperhatikan
    Walau program ini bertujuan untuk meningkat gizi anak, sejumlah riset menunjukkan ada kekhawatiran mengenai potensi risiko kesehatan yang terkait dengan program makanan sekolah.

    Sebuah penelitian di Stanford menyoroti keberadaan bisphenol A (BPA), bahan kimia beracun, dalam makanan sekolah.

    Bahan ini menimbulkan risiko terutama bagi anak-anak berpenghasilan rendah yang bergantung pada makanan yang didanai pemerintah.

    Baca: Ganjar akan evaluasi Omnibus Law UU Cipta Kerja

    Selain itu, penyertaan makanan ultra-proses (makanan dari pabrik yang melalui banyak tahap pengolahan) dalam makanan sekolah telah dikaitkan dengan penyakit kronis seperti obesitas dan penyakit kardiovaskular.

    Ada juga kekhawatiran tentang dampak potensial dari makanan sekolah terhadap indeks massa tubuh (BMI) siswa dan kualitas makanan secara keseluruhan, sehingga perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak tersebut secara menyeluruh.

    Kesimpulan: programnya benar ada tapi angkanya berbeda-beda
    Meskipun esensi klaim Gibran dan Prabowo mengenai adopsi program makanan sekolah secara luas adalah akurat, angka-angka spesifik mengenai jumlah negara dan penerima manfaat tidak sepenuhnya selaras dengan data dari sumber-sumber yang otoritatif.

    Selain itu, potensi risiko kesehatan yang terkait dengan program-program ini, seperti paparan BPA dan konsumsi makanan ultra-proses, menambah kerumitan dalam evaluasi program-program ini.

    Hal ini menggarisbawahi perlunya perencanaan dan pemantauan yang cermat untuk memastikan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak penerima manfaat program makan siang gratis.

    Selain itu, pertimbangan potensi risiko kesehatan terkait dengan program-program ini sangat penting untuk pemahaman yang komprehensif tentang dampaknya.

  • Musim Hujan, Orangtua Harus Waspada Penyakit yang Sering Menyerang Anak

    Musim Hujan, Orangtua Harus Waspada Penyakit yang Sering Menyerang Anak

    7cloud.asia – Musim hujan telah tiba. Sejumlah penyakit biasa menyerang anak saat musim hujan. Orangtua harus mewaspadai hal tersebut.

    “Jadi untuk di musim hujan ini, satu adalah pada penyakit demam berdarah. Angkanya biasa cenderung naik di bulan-bulan ini Januari, Februari,” ujar Dokter Spesialis Anak, dr Ari Prayogo seperti dikutip Antaranews.

    Penyakit lain yang harus diwaspadai saat musim hujan adalah diare. “Hujan, sumber air tanah tidak bersih, lalu kemudian jadi mudah menyebar bakteri penyebab diare,” katanya.

    Baca: Dampak kualitas udara yang buruk terhadap anak

    Dokter yang praktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta ini juga menjelaskan pada masa-masa ini angka kasus demam berdarah dan diare di berbagai rumah sakit biasanya cenderung meningkat.

    Sementara penyakit lainnya seperti batuk, pilek, dan influenza, menurutnya bukan disebabkan oleh cuaca yang berubah menjadi dingin.

    “Batuk pilek sebetulnya kaitan khusus dengan hujan tidak ada. Sekarang menjadi meningkat karena selalu diingatkan sempat ada libur panjang  sehingga perhatian orang di situ. Anak, orang dewasa baik yang sehat maupun sakit kumpul menjadi satu,” jelasnya.

    Baca: Stunting jadi sorotan di pilpres 2024

    Memang, Ari mengakui peralihan cuaca juga dapat berpengaruh kepada daya tahan tubuh anak. Tetapi kegiatan yang padat dan kurangnya istirahat pada anak lah yang menyebabkan penyakit dan anak menjadi tidak nyaman.

    Karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat, khususnya para orang tua untuk tetap menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    Orangtua harus membiasakan mencuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan alat makan, serta memakai masker bila hendak berpergian.

    “Pastikan hidrasi cukup, cukup minum air putih, saluran napas bersih, jauh dari asap rokok, juga lingkungan tidak pengap dengan sirkulasi udara yang terbuka,” katanya.

     

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kasus Anak dengan Polio Kembali Ditemukan di Jawa, Pemerintah Diminta Segera Bertindak

    Kasus Anak dengan Polio Kembali Ditemukan di Jawa, Pemerintah Diminta Segera Bertindak

    7cloud.asia – Sebanyak tiga anak di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah dilaporkan menderita lumpuh layu akut (acute flaccid paralysis/AFP) yang disebabkan oleh Virus Polio Tipe 2.

    Selain itu, dari hasil laboratorium di wilayah sekitar mereka, terdapat sembilan anak lain yang dinyatakan positif walau tidak menunjukkan gejala polio.

    Ditemukannya kembali kasus polio, menimbulkan rasa khawatir di tengah masyarakat. Sebab, ini menjadi tanda bahwa polio kembali mengancam kesehatan bagi anak-anak. 

    Menyikapi kembali munculnya polio, anggota Komisi IX DPR  Netty Prasetiyani mendorong pemerintah untuk kembali menggerakkan berbagai komponen pencegahan untuk mencapai target vaksinasi polio minimal 95 persen.

    Baca: Waspadai penyakit yang menyerang anak saat musim hujan

    Pasalnya, selama ini, masih banyak daerah yang cakupan vaksinasi polionya masih di bawah 50 persen.

    “Kenapa? karena satu saja kejadian polio maka kita bisa menyebut sebagai Kejadian Luar Biasa,” ujar Netty Selasa (16/1/2024) seperti dilansir Parlementaria.

    Lebih lanjut, Netty juga meminta pemerintah mengevaluasi kesiapan daerah dan bagaimana masing-masing daerah merespon Polio yang kembali mewabah.

    “Nah yang kedua, pemerintah juga harus melakukan upaya meminimalisasi disinformasi atau hoaks yang beredar seputar vaksinasi. Karena saya yakin beberapa daerah cakupannya rendah juga karena disebabkan adanya disinformasi yang belum selesai,” jelasnya. 

    Netty menekankan pentingnya pelibatan tokoh masyarakat termasuk penggunaan media arus utama untuk terus mengedukasi masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi Polio.

    Baca: Dampak kualitas udara pada kesehatan anak

    Termasuk juga penguatan Posyandu sebagai salah satu upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat, serta distribusi vaksin yang belum merata di setiap daerah, termasuk daerah 3T.

    “Perlu dilihat ya seperti apa distribusi vaksin yang sebetulnya ini juga menjadi komitmen pemerintah untuk bisa menuntaskan beberapa penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin,” tutup Netty.

    Senada, anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto juga meminta pemerintah segera melakukan deteksi dini terhadap infeksi virus Polio agar tidak menyebar luas.

    Menurut Edy, Puskesmas dan Posyandu bisa dikerahkan untuk menjadi garda depan jika ada kasus anak lumpuh layu akut (Acute Flaccid Paralysis/AFP).

    “Memang tidak semua kasus lumpuh layu karena polio. Namun, dibutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan,” terang Edy. 

    Baca: Perubahan iklim dan pemanasan dorong perkembangan nyamuk penyebar penyakit

    Karenanya, Edy berharap, jika ada  yang menemukan kasus polio, jangan disembunyikan.

    “Harus segera dilaporkan untuk  di investigasi, agar virusnya tidak menjangkit anak yang lain,” tegasnya.

    Selain deteksi dini untuk mencegah penyebaran virus polio, Edy juga mendorong pelaksanaan Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio.

    PIN Polio mulai dilakukan pemerintah tanggal 15 Januari 2024 perlu didorong agar dapat menyentuh angka 95 persen dari target populasi.

    “Anak usia 0 sampai tujuh tahun, sudah imunisasi polio atau belum, harus ikut Sub PIN Polio. Mari sama-sama sukseskan dan manfaatkan Sub PIN ini. Kita kepung virus Polio dengan vaksinasi Polio agar Indonesia bebas polio lagi,” imbuhnya.

    Baca: Kondisi lingkungan juga bisa picu stunting

    Edy berjanji akan terus mengawasi capaian Sub PIN Polio. Ia pun berharap, capaian 95 persen pelaksanaan vaksinasi ini tidak hanya di tingkat provinsi tetapi hingga ke Desa dan Kabupaten.

    “Tidak boleh ada ketimpangan capaian target vaksinasi, ini perlu dukungan dan sosialisasi yang masif,”kata Edy.

    Indonesia pernah mendapat predikat bebas polio pada tahun 2014. Adanya kasus ini harus menjadi cerminan untuk memperbaiki diri.

    Salah satu yang harus diperhatikan menurut Edy adalah distribusi vaksin polio. Hal ini tidak hanya soal ketersediaan vaksin hingga ke daerah. Namun juga menjaga kualitasnya.

    “Jika ada satu daerah dengan cakupan vaksinasi tidak maksimal, maka akan jadi potensi untuk munculnya polio atau penyakit lain,” pungkasnya. 

  • Sikap Permisif Pada Kenakalan Anak dan Kurang Disiplin Memicu Bullying

    Sikap Permisif Pada Kenakalan Anak dan Kurang Disiplin Memicu Bullying

    7cloud.asia – Mendidik anak untuk berlaku disiplin dan tidak permisif pada kenakalan anak penting dilakukan sejak anak masih kecil, untuk mencegah bullying.

    Pasalnya lingkungan psikososial anak yang yang permisif dan kurang membiasakan sikap disiplin bisa menjadi penyebab anak merasa boleh berbuat nakal dan berlaku seenaknya.

    KSM Psikiatri RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K) mengatakan lingkungan sekolah atau rumah permisif membuat anak merasa jadi kalau berbuat nakal nggak apa-apa.

    “Kadang anak melakukan ke orang lain karena kebiasaan lingkungannya. Atau bisa juga karena faktor sekolah kurang mendisiplinankan membuat anak bisa berbuat seenaknya karena tanpa konsekuensi yang jelas,” jelas Tjhin dalam diskusi daring yang diikuti di Jakarta, Senin (15/1/2024).

    Baca: Pola asuh pada anak sangat besar pengaruhnya pada perilaku bullying

    Ia mengatakan anak pelaku bullying atau perundung memang sering kali adalah anak yang terlihat lebih nakal atau lebih nekat, dan bisa jadi anak yang memiliki kecenderungan khusus seperti hiperaktif.

    Anak menjadi berbuat nakal karena tidak ada konsekuensi yang jelas dari pihak orang tua atau guru terhadap perbuatannya, dan merasa lebih kuat dari lawannya yang menjadi korban perundungan.

    Pengalaman masa kecil yang pernah menjadi korban, juga bisa menjadi dampak seseorang melakukan perundungan.

    Hal itu berdampak pada perilakunya ketika dewasa dan selalu mencari cara untuk menekan korbannya.

    Baca: Orang tua bisa memutus rantai bullying dari rumah

    “Pengalaman masa kecil terhadap bullying bisa berdampak pada perkembangan kepribadian seseorang, ada pengaruhnya, kalau dewasa perlu konsultasi ada masalah atau gangguannya apa,” katanya.

    Selain itu, anak dengan kecenderungan khusus seperti gangguan mental dan perilaku hiperaktif impulsif atau ADHD juga bisa menjadi korban perundungan sekaligus menjadi pelaku perundungan.

    Karena anak tersebut tidak bisa mengontrol perilaku seperti tidak bisa diam dan bisa mendorong temannya.

    Pelaku yang selalu melakukan perundungan meskipun sudah didamaikan, kata Tjhin, perlu dikonsultasikan karena nanti bisa jadi masalahnya tidak akan selesai dan korban akan terus bertambah.

     

    Baca: KPAI desak pengesahan RUU Pengasuhan Anak

    Pelaku tersebut perlu mendapatkan konsultasi terkait masalah atau gangguan yang dialaminya.

    Ia mengatakan dampak perundungan pada korban terutama anak bisa dibilang tidak main-main.

    Korban bisa timbul berbagai masalah emosi, perilaku, dan berbagai macam kondisi mental yang berujung cemas, depresi dan kegagalan baik akademis maupun kehidupan sosial di sekolah.

    Sejauh ini Tjhin mengatakan belum ada penelitian apakah pelaku perundungan bisa sembuh dan tidak mengulang perbuatannya.

    Baca: Kasus bunuh diri pada anak perlu perhatian serius

    Namun dukungan keluarga serta peran serta guru di sekolah sangat dibutuhkan guna membina anak yang menjadi perundung maupun korban agar masing-masing bisa berdamai.

    Ia menegaskan pentingnya peran guru atau siswa lainnya untuk melihat ada tidaknya dukungan siswa yang mengalami bullying,

    “Kalau bicara keluarga kita harus lihat apakah keluarga itu bisa memberikan dukungan atau penentraman juga nggak terhadap siswa yang mengalami bullying,” katanya.

    Sumber: Antaranews.com.

  • Anak Kondisi Stunting Dapat Diperbaiki dengan Syarat Ini

    Anak Kondisi Stunting Dapat Diperbaiki dengan Syarat Ini

    7cloud.asia – Kondisi anak yang sudah masuk dalam kategori stunting sebenarnya masih dapat diperbaiki jika orangtua dapat memenuhi nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) atau sampai anak usia dua tahun dan rajin monitor asupan gizi anak.

    Hal ini dijelaskan oleh pakar nutrisi bayi dan anak RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Nita Azka Nadhira S.Gz seperti yang dilansir Antaranews.

    “Jadi kalau sudah ada rambu-rambu berat badan naiknya tidak sesuai, pertambahan panjang badannya tidak optimal itu sudah langsung bisa kontrol ke dokter spesialis anak atau bisa diperbaiki sebelum dia usia dua tahun, jangan sampai terlambat,” jelas Nita.

    Stunting adalah kondisi masalah kesehatan kronis yang terjadi sejak dalam kandungan.

    Baca: Program Ganjar-Mahfud cegah stunting

    Kondisi stunting harus segera ditangani sebelum lewat usia dua tahun, sangat sulit untuk dikembalikan ke tumbuh kembang yang optimal.

    Jika setelah usia dua tahun, lanjut Nita, nutrisi anak baru diperbaiki dengan memberi makan yang banyak maka anak malah jadi kegemukan karena tinggi badan yang tidak proporsional.

    Kondisi anak yang mengalami stunting berbeda dengan stunted atau hanya bertubuh pendek.

    Jika anak stunted karena pertumbuhan tinggi badan yang kronis, orang tua bisa langsung periksa ke dokter anak.

    Untuk mencegah terjadinya stunting, gizi ibu saat merencanakan kehamilan harus maksimal agar dapat menjadi bekal bayi yang akan dikandungnya. Sehingga perkembangan bayi tumbuh dengan baik.

    Baca: Stunting jadi sorotan di pilpres 2024

    “Setelah bayi lahir orang tua berperan penting memberikan kecukupan ASI dan kemudian MPASI nya dicukupkan hingga usia dua tahun, jadi lengkap sehingga tidak ada masa-masa terlewat,” terang Nita.

    Anak yang telah mencapai usia 6 bulan, sebaiknya tidak hanya mengonsumsi ASI tetapi juga perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI).

    Jika kombinasi MPASI dan ASI tidak diberikan secara optimal dan berat badan tidak kunjung baik tapi tidak segera dikoreksi lama-lama tinggi badan tidak ikut bertambah dan dikhawatirkan masuk kategori stunting.

    Sebelumnya World Health Organization (WHO) mengatakan ada tiga syarat pemberian MPASI.

    Pertama tepat waktu usia 6 bulan, kedua diberikan cukup atau adekuat secara konsistensi, varian dan jumlah makanan.

    Baca: Tunda usia perkawinan cegah stunting

    Ketiga disiapkan dengan cara yang higienis agar mencegah infeksi dan terakhir berikan MPASI dengan cara yang benar dan lingkungan yang kondusif.

    Sementara porsi MPASI yang harus disesuaikan mulai dari 6-8 bulan adalah 70 persen masih dari ASI dan 30 persen dari MPASI. Usia 9-11 50 persen dari ASI dan 50 persen dipenuhi dari MPASI.

    Kemudian, saat menginjak usia 1-2 tahun, ASI diberikan hanya 30 persen dan sisanya dipenuhi dari MPASI.

    Reporter: Nurakhmayani

    .

  • KPAI Dukung Kebijakan Cuti Ayah Diatur di UU Kesejahteraan Ibu dan Anak

    KPAI Dukung Kebijakan Cuti Ayah Diatur di UU Kesejahteraan Ibu dan Anak

    7cloud.asia – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendukung kebijakan cuti ayah untuk menguatkan peran ayah di keluarga dan memastikan anak memiliki tumbuh kembang yang baik.

    Seperti diketahui cuti ayah masuk dalam UU Kesejahteraan Ibu dan Anak yang disahkan DPR baru-baru ini 

     

    “Cuti ayah ini dapat mengkonsentrasikan pasangan dalam mengawasi kondisi bayi, terutama saat perencanaan, jelang dinyatakan hamil, mulai memberdayakan diri pada bayi berumur 0 bulan,” kata Wakil Ketua KPAI Jasra Putra seperti dikutip Antaranews.com. 

    Baca: Peran ayah dalam pengasuhan anak

    Sebenarnya, ujar Jasea, diharapkan ada program sampai dua tahun atau 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yang disebut periode emas tumbuh kembang anak,

    Menurut Jasra Putra, dengan cuti ayah diharapkan ada peran kuat, kohesi, keterikatan yang dilakukan ayah terhadap pengasuhan anak.

    Dengan cuti ayah, laki-laki ikut mengendong, memandikan, mengganti popok bayi, bangun malam dalam ikut mendukung tumbuh kembang anak.

    Baca: RUU kesejahteraan Ibu dan Anak resmi disahkan

    Ia menambahkan cuti ayah juga dapat memberikan dampak positif terhadap ibu hamil, karena ayah dapat terus memberikan dukungan saat ibu menjalani kehamilan.

    Menurut Jasra, cuti ayah dapat mengurangi dampak mental, emosi, tekanan psikologis, dampak kesendirian ibu hamil (bumil) membesarkan anaknya dalam kandungan.

    “Kita juga melihat berbagai kisah tantrum atau baby blues yang terjadi pada ibu, yang menyebabkan ancaman dan kerentanan untuk anak,” kata Jasra.

    Baca: Satu dari setiap anak Indonesia alami stunting

    Selain itu, menurutnya, cuti ayah juga mencegah terjadinya perceraian yang biasanya disebabkan oleh masalah kemiskinan, disfungsi keluarga, dan ketidaktahuan mengurus anak.

    Oleh karena itu, pihaknya sangat mendukung bila pemerintah menerapkan kebijakan cuti ayah. “KPAI sangat mengapresiasi bila negara melakukan intervensi langsung dengan cuti ayah,” katanya.

    Dalam UU Kesejahteraan Ibu dan Anak, nantinya cuti melahirkan akan berlaku hingga 6 bulan dan berhak mendapatkan upah secara penuh hingga 4 bulan dan 75% dari upah untuk bulan kelima dan keenam. 

    Baca: Banyak perempuan dipaksa menjalankan fungsi reproduksi tanpa henti

    Selanjutnya cuti ayah juga akan diberikan hingga 2 hari untuk menjaga kesehatan istri dan anak. Kemudian setiap anak yang baru lahir wajib mendapatkan pendampir air susu ibu sesuai standar hingga 6 bulan, mendapatkan jaminan gizi dan memperoleh pelayanan kesehatan yang baik.

  • Dampak Kecemasan Sosial pada Anak dan Cara Mengatasinya

    Dampak Kecemasan Sosial pada Anak dan Cara Mengatasinya

    7cloud.asia – Kecemasan sosial perlu menjadi kewaspadaan para orang tua. Pasalnya, kecemasan pada anak tak hanya membuat anak  menjadi pemalu tapi juga bisa mengganggu tumbuh kembang anak.

    Kecemasan sosial dapat menyebabkan anak tak percaya diri dan cenderung menghindari situasi sosial yang akan memengaruhi kehidupan sehari-hari sehingga lebih sulit untuk mendapat teman hingga berprestasi di sekolah.

    Aktivis Anak dan Konsultan Kesetaraan Gender di The Design Village, Mamta Sahai dalam wawancara dengan HT Lifestyle mengatakan, Kecemasan sosial dapat berdampak signifikan pada anak-anak dalam berbagai cara.

    Anak-anak yang cemas secara sosial mungkin kesulitan untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas, dan merasa sulit untuk berteman atau menjaga persahabatan karena takut akan penilaian sosial atau penolakan.

    Akibatnya, mereka mungkin mengalami perasaan kesepian dan isolasi,” katanya 

    Baca: KPAI dukung hak cuti ayah

    Ia juga mengungkapkan bahwa secara fisik, kecemasan sosial dapat muncul pada anak-anak melalui gejala seperti sakit perut, sakit kepala, keringat, gemetar, atau kemerahan saat dalam situasi sosial.

    Dilansir Hindustan Times, Senin, kecemasan sosial pada anak-anak bisa dipicu sejumlah hal.

    Oleh karena itu, penting bagi orang tua, guru, dan orang lain yang peduli terhadap anak-anak untuk memahami apa yang penyebab kecemasan.

     

     

    Rendahnya kepercayaan dan penghargaan pada diri sendiri bisa timbul dari ketakutan konstan akan penilaian negatif, sehingga secara perlahan merusak kepercayaan diri dan harga diri seorang anak dari waktu ke waktu.

    Identifikasi dini dan intervensi yang tepat, seperti terapi kognitif-perilaku atau pelatihan keterampilan sosial dapat membantu anak-anak mengelola kecemasan sosial dan meningkatkan kualitas hidupnya.

    Baca: Peran ayah dalam pengasuhan anak

    Ketika orang tua mengetahui hal itu, mereka dapat membantu anak-anak merasa lebih baik dan belajar cara mengatasi kecemasan.

    Dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung dapat membantu anak-anak merasa lebih percaya diri dan mampu mengatasi situasi sosial.

     

    Menurut mamta, menghindar dari situasi sosial yang membuatnya merasa tak nyamanumum terjadi pada anak-anak dengan masalah kecemasan sosial,

    Hal ini bisa mengakibatkan kesempatan anak untuk bersosialisasi, belajar, dan tumbuh secara pribadi terlewatkan.

    Mengatasi kecemasan sosial adalah proses bertahap yang sering melibatkan kombinasi strategi bantuan diri, terapi profesional, dan dukungan dari teman dan keluarga.

    Salah satu strategi yang membantu adalah berlatih teknik relaksasi, yang dapat mencakup belajar untuk menantang dan mengubah kembali pikiran negatif atau keyakinan tentang diri sendiri dan interaksi sosial.

    Baca: Test calistung dihapus dari seleksi masuk SD 

    Menurut dia, terapi kognitif-perilaku (CBT) bisa sangat membantu dalam mengatasi kecemasan sosial.

    “Salah satu pendekatan yang efektif adalah secara bertahap mengekspos diri pada situasi sosial penyebab ketakutan, mulai dari yang kurang menakutkan dan secara bertahap meningkatkan levelnya,” ujarnya.

    Selain itu, tambahny, penting untuk menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai untuk diri sendiri dalam situasi sosial.

    Untuk rayakan kemajuan yang berhasil dicapai, tidak peduli sekecil apapun itu kemajuan ituterlihat

    Adapun, mencari bantuan profesional juga penting. Pertimbangkan terapi dari profesional kesehatan mental berlisensi, seperti seorang psikolog.

    Dalam beberapa kasus, obat mungkin diresepkan untuk membantu mengurangi gejala kecemasan sosial.

    Mamta mengingatkan bahwa mengatasi kecemasan sosial adalah perjalanan, dan kemajuan secara bertahap, sehingga diperlukan kesabaran dengan diri sendiri dan rayakan kesuksesan dalam perjalanan tersebut.

  • Perubahan Iklim Berdampak Nyata pada Kesejahteraan dan Perilaku Anak

    Perubahan Iklim Berdampak Nyata pada Kesejahteraan dan Perilaku Anak

    7cloud.asia – Pperubahan iklim berdampak nyata terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak sehingga harus ada rencana mitigasi yang mempertimbangkan sudut pandang anak.

    Hal ini mendesak dilakukan, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan termasuk negara yang rentan terdampak perubahan iklim

    Menurut Indeks Risiko Iklim Anak yang dikeluarkan UNICEF pada 2021, Indonesia berada di peringkat ke-46 dari 195 negara dengan faktor iklim dan lingkungan yang tinggi.

    Tingkat keparahan atau kerentanan Indonesia terhadap dampak perubahan iklim tercatat yaitu 8,1, sedangkan indeks kerentanan anak tercatat 4,2.

    Baca Juga: Bisa Ditiru, Aktivis Lingkungan Korea Selatan Ramai-ramai Gugat Pemerintah agar Lebih Serius Tangani Perubahan Iklim

    Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum saat membuka Seminar Nasional Multi Sektor dan Kickf Off Generasi Iklim di Jakarta, Kamis (25/4/2024) mengatakan anak merupakan kelompok paling rentan.

    “Dampak kekeringan berkepanjangan yang berulang berpengaruh terhadap kelompok rentan termasuk anak-anak,” ujarnya dikutip Antaranews.

    Dampak nyata perubahan iklim yang dirasakan anak-anak di antaranya infeksi saluran pernapasan akut sehingga menyebabkan mereka tidak dapat masuk sekolah.

    “Kerawanan pangan sebagai dampak kekeringan yang berkontribusi pada kemiskinan dan mendorong peningkatan pernikahan anak serta prevalensi stunting,” tambahnya.

    Baca Juga: BMKG Perkirakan Permukaan Laut Indonesia Naik 1,2 Centimeter Per Tahun Sebagai Dampak Perubahan Iklim

    Hasil itu didasarkan pada kajian yang dilakukan Save The Children pada 2023 terkait aksi adaptasi dan antisipatif perubahan iklim di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat dengan fokus wilayah Sumba Timur, Lombok Barat dan Kupang.

    Membacakan pidato Menko PMK Muhadjir Effendy, Woro juga mencontohkan kekeringan yang berkala sebagai salah satu dampak perubahan iklim juga membuat anak-anak dilibatkan dalam pengambilan air dengan jarak jauh.

    Kondisi itu selain mengganggu kegiatan sekolah tetapi juga memberikan tekanan kepada keluarga.

    Dampak krisis iklim, ujarnya, menjelaskan bahwa anak-anak menanggung beban yang berat dan tidak proporsional karena tumbuh dalam situasi yang mengancam.

    Baca Juga: Pakar: Perubahan Iklim dan Kenaikan Suhu Bumi Picu Risiko Penyakit Musiman

    “Kondisi ini diperberat dengan anak memiliki faktor-faktor yang membuatnya lebih rentan secara fisik, sosial dan ekonomi. Dengan demikian, krisis iklim adalah juga krisis hak-hak anak,” ujarnya.

    Untuk itu, perlu dilakukan penyiapan resiliensi anak agar dapat beradaptasi dan melaksanakan peran lebih sesuai dengan perubahan yang terjadi.

    Selain itu juga perlu dilakukan langkah terobosan baru supaya bisa hidup dengan layak.

    Dia menyatakan setelah terselenggaranya Seminar Nasional dan Kick Off tersebut penting ada tindaklanjut dalam bentuk advokasi, diseminasi, kampanye penyadaran, serta dukungan publik untuk merespon dan meningkatkan resiliensi.