7cloud.asia – Pperubahan iklim berdampak nyata terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak sehingga harus ada rencana mitigasi yang mempertimbangkan sudut pandang anak.
Hal ini mendesak dilakukan, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan termasuk negara yang rentan terdampak perubahan iklim
Menurut Indeks Risiko Iklim Anak yang dikeluarkan UNICEF pada 2021, Indonesia berada di peringkat ke-46 dari 195 negara dengan faktor iklim dan lingkungan yang tinggi.
Tingkat keparahan atau kerentanan Indonesia terhadap dampak perubahan iklim tercatat yaitu 8,1, sedangkan indeks kerentanan anak tercatat 4,2.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum saat membuka Seminar Nasional Multi Sektor dan Kickf Off Generasi Iklim di Jakarta, Kamis (25/4/2024) mengatakan anak merupakan kelompok paling rentan.
“Dampak kekeringan berkepanjangan yang berulang berpengaruh terhadap kelompok rentan termasuk anak-anak,” ujarnya dikutip Antaranews.
Dampak nyata perubahan iklim yang dirasakan anak-anak di antaranya infeksi saluran pernapasan akut sehingga menyebabkan mereka tidak dapat masuk sekolah.
“Kerawanan pangan sebagai dampak kekeringan yang berkontribusi pada kemiskinan dan mendorong peningkatan pernikahan anak serta prevalensi stunting,” tambahnya.
Hasil itu didasarkan pada kajian yang dilakukan Save The Children pada 2023 terkait aksi adaptasi dan antisipatif perubahan iklim di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat dengan fokus wilayah Sumba Timur, Lombok Barat dan Kupang.
Membacakan pidato Menko PMK Muhadjir Effendy, Woro juga mencontohkan kekeringan yang berkala sebagai salah satu dampak perubahan iklim juga membuat anak-anak dilibatkan dalam pengambilan air dengan jarak jauh.
Kondisi itu selain mengganggu kegiatan sekolah tetapi juga memberikan tekanan kepada keluarga.
Dampak krisis iklim, ujarnya, menjelaskan bahwa anak-anak menanggung beban yang berat dan tidak proporsional karena tumbuh dalam situasi yang mengancam.
Baca Juga: Pakar: Perubahan Iklim dan Kenaikan Suhu Bumi Picu Risiko Penyakit Musiman
“Kondisi ini diperberat dengan anak memiliki faktor-faktor yang membuatnya lebih rentan secara fisik, sosial dan ekonomi. Dengan demikian, krisis iklim adalah juga krisis hak-hak anak,” ujarnya.
Untuk itu, perlu dilakukan penyiapan resiliensi anak agar dapat beradaptasi dan melaksanakan peran lebih sesuai dengan perubahan yang terjadi.
Selain itu juga perlu dilakukan langkah terobosan baru supaya bisa hidup dengan layak.
Dia menyatakan setelah terselenggaranya Seminar Nasional dan Kick Off tersebut penting ada tindaklanjut dalam bentuk advokasi, diseminasi, kampanye penyadaran, serta dukungan publik untuk merespon dan meningkatkan resiliensi.

Leave a Reply