Tag: bank sampah

  • Pengembangan Bank Sampah di Pulau Seribu Kurangi Sampah Hingga 80 Persen

    Pengembangan Bank Sampah di Pulau Seribu Kurangi Sampah Hingga 80 Persen

    7cloud.asia – Pengembangan Bank Sampah di Pulau Kelapa Kabupaten Kepulauan Seribu Provinsi Jakarta berhasil menekan volume sampah rumah tangga yang dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS) hingga 80 persen.

    Petugas Pendamping Bank Sampah dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Seribu Zainal, dilansir Antaranews.com Kamis (24/4/2025) mengatakan, keberhasilan ini beriringan dengan meningkatnya kesadaran warga dalam memilah sampah dari rumah.

    Sejak 2018, Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu memang intensif melakukan pendampingan terkait pengelolaan sampah rumah tangga dan mendorong berdirinya bank sampah.

    “Alhamdulillah, sekarang warga sudah mulai sadar dan memilah sampah langsung dari rumah. Sampah organik, anorganik, hingga limbah B3 sudah mulai dipisahkan sejak dari sumbernya,” kata Zainal.

    Dia menjelaskan bahwa konsistensi warga dalam menjalankan program pengelolaan sampah semakin membaik dalam satu tahun terakhir.

    Sedikitnya saat ini sudah ada 108 rumah tangga di wilayah itu yang terlibat aktif dalam proses pemilahan sampah.

    Baca: Puluhan bank sampah di Jakarta Pusat tidak aktif

    Suku Dinas Lingkungan Hidup dalam hal ini berkolaborasi dengan para mitra strategis, seperti Yayasan Wahana Visi Indonesia (WVI) untuk menggerakkan Bank Sampah di pulau itu.

    Bentuk komitmen yang diberikan yayasan dalam kolaborasi tersebut seperti bantuan fasilitas berupa troli, gerobak, sepatu boot, hingga memberikan segenap kegiatan edukasi-padat karya dari pengelolaan sampah yang menyasar para ibu-ibu rumah tangga di Pulau Kelapa dan sekitarnya

    “Lebih baik, ya. Sebelum adanya pendampingan ini, seluruh sampah rumah tangga dibuang langsung ke TPS tanpa pemilahan, bahkan sebagian dibuang ke laut atau sampah kiriman yang dibawa arus sampai ke pulau kami ini,” ungkapnya.

    Dia menyebutkan bahwa jumlah produksi sampah rumah tangga di wilayahnya mencapai 200 hingga 300 kilogram per hari, jumlah sampah ini belum termasuk sampah kiriman dari daerah sekitar yang hanyut terbawa ombak laut.

    Para anggota Bank Sampah dan warga di Pulau Kelapa sudah mulai terlatih untuk memilah sebagian besar sampah seperti plastik, kertas, kardus dan sejenisnya untuk dijual ke pengepul atau sampah itu diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomis sekaligus daya tarik bagi wisatawan.

    Sementara untuk sampah residu seperti puntung rokok dan pembalut atau sejenisnya yang tidak dapat dimanfaatkan akan ditampung di TPS, lalu setiap akhir pekan menggunakan kapal dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Bantar Gebang.

    Baca: Sebanyak 343 Pemda diminta serius dalam mengelola sampah

    “Tidak semua jenis sampah lagi yang keluar dari pulau kami ini, sudah berkurang karena diproses semua, 80 persen lah pengurangannya dari adanya Bank Sampah ini,” katanya.

    Zainal berharap ke depan dapat dibangun sebuah tempat permanen sebagai pusat aktivitas Bank Sampah untuk meningkatkan efisiensi dan ketahanan infrastruktur.
    Meski memberikan dampak yang sangat positif, kondisi bangunan Bank Sampah ini masih sangat sederhana hanya berdinding papan triplek dan beratap dari asbes bekas.

    “Kalau hujan atau angin kencang, bangunan yang ada sekarang sangat rentan rusak. Makanya kami butuh bangunan gedung permanen agar aktivitas bank sampah bisa berjalan lebih optimal,” cetusnya.

    Lurah Pulau Kelapa Muslim, menambahkan bahwa wilayahnya kini menjadi salah satu yang terbaik dalam pengelolaan bank sampah, baik di tingkat Kepulauan Seribu maupun Provinsi DKI Jakarta.

    “Indikator penilaiannya meliputi kelengkapan administrasi, fasilitas yang memadai, serta adanya sistem simpan pinjam bagi nasabah bank sampah,” kata Muslim.

    Ia menyebutkan bahwa meski hasilnya tidak besar, bank sampah telah memberikan tambahan penghasilan bagi warga yang dikumpulkan secara berkala dan biasanya diambil saat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

    “Semua dilakukan secara mandiri oleh masyarakat kami. Tidak ada anggaran khusus yang disiapkan untuk kegiatan ini. Saya apresiasi sekali semua dukungan yang diberikan mitra,” ujarnya

    Baca: Plus minus RDF Rorotan dalam pengelolaan sampah

  • Mengintip Cara Beroperasi Bank Sampah Sehati di Jakarta Selatan

    Mengintip Cara Beroperasi Bank Sampah Sehati di Jakarta Selatan

    7cloud.asia – Bank Sampah Sehati (BSS) di RW 08, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, setiap bulan rata-rata berhasil mengumpulkan sampah daur ulang sebanyak 2,5 ton.

    Pendamping BPS RW Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Selatan, Novalia Magdalena mengatakan, bank sampah di RW 08 ini terdapat di 14 titik.

    “Penimbangan dilakukan satu minggu dua kali, setiap Selasa dan Kamis dengan cara jemput bola ke masing-masing lokasi,” ujarnya, Selasa (3/6/2025).

    Nova merinci, untuk kategori sampah beling dihargai Rp 300 per kilogram, kardus minimal Rp 1.700 per kilogram. Kemudian, untuk sampah plastik Rp 800-4.000 per kilogram. Sementara, besi dan tembaga mencapai Rp 60.000 rupiah per kilogram.

    Baca: Bank sampah di Pulau Seribu kurangi sampah hingga 80 persen

    “Semoga dengan pemilahan sampah rumah tangga yang baik akan menciptakan lingkungan yang bersih. Hasil penjualan sampah yang bisa didaur ulang ini juga dapat meningkatkan perekonomian warga,” terangnya.

    Sementara itu, Ketua Bank Sampah Sehati RW 08, Kelurahan Lenteng Agung, Acing Mamim menjelaskan, di Bank Sampah Sehati ini sudah terdapat lebih dari 300 nasabah dari 14 RT.

    Dalam satu bulan, imbuh Acing, sampah terkumpul bisa mencapai 2,5 ton yang selanjutnya akan dilakukan pilah untuk ditimbang dan sebagian lagi digunakan untuk meningkatkan kreatifitas melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).

    “Alhamdulillah, dengan kegiatan bank sampah yang rutin ini, lingkungan RW 08 semakin bersih dan warganya mempunyai penghasilan tambahan,” tandasnya.

    Bank Sampah Sehati merupakan salah satu bank sampah percontohan di Jakarta Selatan

    Baca: Puluhan bank sampah di Jakarta Pusat tidak aktif

  • Pemkot Jakarta Pusat Dorong Sekolah dan Perkantoran Memilah Sampah

    Pemkot Jakarta Pusat Dorong Sekolah dan Perkantoran Memilah Sampah

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Jakarta Pusat mendorong pihak sekolah dan perkantoran di wilayahnya untuk aktif memberikan contoh baik dalam pengelolaan sampah.

    saat menghadiri pengukuhan pengurus bank sampah yang tergabung dalam Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepsi) PT Pegadaian se DKI Jakarta, Wali kota Jakarta Pusat, Arifin meminta sekolah dan perkantoran mulai memilah sampah.

    Arifin juga mengajak pengurus bank sampah terus aktif mengedukasi warga untuk memilah sampah dari rumah, guna mewujudkan Jakarta sebagai kota global.

    “Kami tidak berhenti sebatas membentuk kelembagaan di setiap RW, namun terus mendorong agar bank sampah aktif beroperasi,” ujar Arifin, di Hotel Rivoli, Jalan Kramat Raya, Kamis (7/8/2025).

    Baca: Industri daur ulang kekurangan suplai sampah plastik

    Pada kesempatan ini, Arifin mengucapkan selamat kepada pengurus Forsepsi yang terus bergerak untuk menyadarkan warga melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, sehingga Jakarta menjadi kota yang bersih, nyaman dan sehat.

    Saat ini, 387 RW di Jakarta Pusat telah terbentuk pengurus bank sampah. Namun, tidak semua bank sampah yang ada aktif beroperasi.

    Menurut data Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, pada Februari lalu tercatat 413 Bank Sampah Unit telah berdiri di Jakarta Pusat.

    Adapun jumlah Bank Sampah Unit setiap RW bervariasi antara satu hingga ada yang sampai tiga unit. Namun diakuinya dari sejumlah Bank Sampah Unit yang ada tidak semuanya beroperasi maksimal.

    Baca: Puluhan bank sampah di Jakarta Pusat tidak beroperasi

    Dari total 413 Bank Sampah Unit yang ada hanya 342 yang telah beroperasi maksimal. Sedangkan sisanya sebanyak 71 Bank Sampah Unit lainnya termasuk dalam kategori tidak aktif.

    SudinLH Jakarta Pusat akan terus melakukan penguatan ke Bank Sampah Unit yang termasuk kategori tidak aktif dan berkordinasi dengan jajaran kelurahan untuk terus melakukan pemantauan.

    Sementara Deputy Operasional Kanwil 9 Jakarta II, Indra Firmansyah menuturkan, sampah yang dikelola merupakan sesuatu yang berguna dan menghindari dari bahaya.

    “Sampah menjadi emas merupakan program luar biasa karena tidak ada di dunia yang tidak bermanfaat. Semoga hari ini sebagai awal kebahagian warga Jakarta untuk mendisiplinkan agar tidak lagi membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

  • Atasi Bank Sampah Tidak Aktif, Dinas Lingkungan Hidup DKI Gelar Pelatihan untuk Pendamping

    Atasi Bank Sampah Tidak Aktif, Dinas Lingkungan Hidup DKI Gelar Pelatihan untuk Pendamping

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta melaksanakan pelatihan bagi para pendamping bank sampah di seluruh kelurahan. Langkah ini merupakan upaya mewujudkan target satu Rukun Warga (RW) punya satu bank sampah aktif di wilayah Jakarta.

    Program tersebut menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat gerakan memilah sampah dari sumbernya, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam ekonomi sirkular berbasis lingkungan.

    Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan, para pendamping bank sampah akan bekerja intensif selama dua bulan untuk membentuk sekaligus mengaktifkan kembali bank-bank sampah di wilayah masing-masing.

    Menurutnya, keberadaan bank sampah menjadi sarana pengelolaan sampah yang efektif karena warga tidak hanya diajak memilah dan mengurangi sampah dari rumah, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pengelolaannya.

    “Jakarta memiliki potensi besar menjadi kota percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Indonesia. Jika seluruh RW memiliki bank sampah aktif dan warga konsisten memilah sampah dari rumah, maka kita tidak hanya menjaga kebersihan kota, tetapi juga membangun Jakarta yang berkelanjutan,” ujar Asep, Selasa (21/10/2025) di Jakarta.

    Baca: Puluhan bank sampah di Jakarta Pusat tak aktif beroperasi

    Pada Desember 2024, terdapat 2.287 bank sampah yang terdaftar di 1.878 RW di lima wilayah di Jakarta. Dari jumlah tersebut, 1.435 bank sampah tercatat aktif, sementara sisanya tidak.

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya untuk meningkatkan jumlah dan efektivitas bank sampah di setiap RW, serta menambah infrastruktur pengolahan sampah seperti TPS 3R.

    Sementara itu, Ketua Bank Sampah Budhi Luhur, Tutik Sri Susilowati, menekankan bahwa bank sampah bukan sekadar tempat menimbang atau menjual sampah, tetapi juga wadah kebersamaan warga dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan.

    “Bank sampah adalah ruang belajar bagi masyarakat untuk menumbuhkan perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan. Karena itu, sosialisasi, pembinaan, dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pengelolaan sampah berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata,” ungkapnya.

    Senada, Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), Wilda Yanti, menegaskan pentingnya peran pendamping dalam memastikan optimalnya pengelolaan bank sampah di setiap wilayah.

    Baca: Industri daur ulang kekurangan suplai sampah plastik

    Menurutnya, komunikasi yang baik dengan warga serta edukasi berkelanjutan tentang pentingnya memilah sampah dari rumah merupakan kunci utama keberhasilan program ini.

    “Dengan semakin banyak bank sampah yang aktif, warga Jakarta dapat berdaya melalui ekonomi hijau berbasis komunitas, sekaligus membantu mengurangi beban sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang,” tutup Wilda.

    Berdasarkan data di Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN),
    timbulan sampah di DKI Jakarta timbulan sampah di DKI Jakarta tahun 2024 mencapai
    3.171.247,45 ton per tahun atau 8.664,61 ton per hari.

    Adapun trend timbulan sampah ini meningkat dari tahun ke tahun. Sampah yang dihasilkan tersebut didominasi oleh sampah mudah terurai sebanyak 49,87 persen diikuti dengan Plastik sebesar 22,95 persen dan kertas sebesar 17,24 persen.

    Adapun komposisi terbesar berasal dari sampah rumah tangga, komersial, dan industri.

  • Dari Bank Sampah, Petugas PPSU di Cibubur Jakarta Timur Raih Jutaan Rupiah

    Dari Bank Sampah, Petugas PPSU di Cibubur Jakarta Timur Raih Jutaan Rupiah

    7cloud.asia – Program pemilahan sampah dan pembentukan bank sampah di Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur mulai menunjukkan hasil nyata.

    Tak sekadar urusan kebersihan, pengelolaan sampah lewat bank sampah ini bahkan mampu menghasilkan jutaan rupiah dari sampah anorganik.

    Lurah Cibubur, Rony Abdullah mengatakan, seluruh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang berjumlah 82 orang diwajibkan menyetor sampah anorganik setiap bulan.

    Rony menjelaskan, sampah yang dikumpulkan berasal dari berbagai sumber, mulai dari rumah masing-masing, hasil menyapu jalan sesuai wilayah tugas, hingga lingkungan sekolah.

    Baca: Banyak bank sampah di Jakarta yang tidak aktif

    Pihak keluarahan menargetkan, setiap petugas PPSU mnimal menyetor lima kilogram sampah. Namun, dalam praktiknya jumlah sampah yang dikumpulkan jauh melebihi target.

    “Semua dikumpulkan dan dikelola melalui bank sampah kelurahan,” ujarnya, Selasa (14/4/2026) dilansir dari beritajakarta.id.

    Menurutnya, penimbangan yang dilakukan dua pekan sekali. Dalam satu kali penimbangan, volume sampah mencapai 400 hingga 1.000 kilogram dengan nilai penjualan berkisar antara Rp3,5 juta hingga Rp4 juta.

    “Uang yang terkumpul tidak langsung dibagikan, baru pada akhir tahun hasil tersebut dibagikan kepada petugas PPSU sesuai kontribusi masing-masing.

    Baca: Puluhan bank sampah di Jakarta Pusat tidak aktif beroperasi

    Selain itu, dana juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, bakti sosial, hingga kegiatan rekreasi bersama,” ungkapnya.

    Ia menuturkan, program ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi beban sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang yang selama ini menjadi lokasi pembuangan utama sampah Jakarta.

    Sementara itu, salah seorang petugas PPSU Kelurahan Cibubur, Adi Prima mengaku program ini membuatnya lebih semangat bekerja dan rutin mengumpulkan sampah dari berbagai sumber, termasuk dari SDN Cibubur 03.

    “Adanya bank sampah ini membuat kami senang, selain mendukung program pemerintah juga bisa menghasilkan tambahan uang buat kami,” tandasnya.

  • Open Dumping Bakal Dihentikan pada Agustus: Jadi Tantangan Bagi Pemprov DKI Jakarta dalam Pengelolaan Sampah

    Open Dumping Bakal Dihentikan pada Agustus: Jadi Tantangan Bagi Pemprov DKI Jakarta dalam Pengelolaan Sampah

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelang diberlakukannya penghentian praktik open dumping pada Agustus mendatang.

    Kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang semakin terbatas karena itu hanya akan menerima sampah residu. Kondisi ini membuat pengelolaan sampah dari sumbernya harus segera diperkuat.

    Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike menilai, penanganan sampah tidak lagi bisa mengandalkan pola lama yang berfokus pada pengangkutan ke tempat pemrosesan akhir.

    Menurutnya, pengelolaan sampah harus dilakukan menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

    “Persoalan sampah sudah menjadi pekerjaan rumah dari periode ke periode. Karena itu, penyelesaiannya tidak bisa hanya mengandalkan hilir. Hulu dan tengahnya juga harus diselesaikan melalui gerakan yang lebih masif dan terukur,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).

    Yuke menjelaskan, Pergub Nomor 77 Tahun 2020 telah mengamanatkan pengelolaan sampah di tingkat Rukun Warga melalui bank sampah.

    Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi volume sampah sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

    Menurutnya, sejumlah fasilitas pengolahan yang telah tersedia juga perlu dioptimalkan, seperti RDF Bantargebang, RDF Rorotan, dan TPS3R.

    RDF Rorotan yang dirancang mampu mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari, misalnya, masih beroperasi di bawah kapasitas ideal.

    Ia menilai, tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan waktu untuk memenuhi target penghentian open dumping. Ke depan, sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir harus terlebih dahulu diolah sehingga hanya menyisakan residu.

    “Kondisi ini berdampak pada berkurangnya ritase pengangkutan sampah ke Bantargebang sehingga di sejumlah wilayah proses pengangkutan menjadi lebih lambat,” katanya.

    Yuke mengapresiasi langkah Pemprov DKI melalui program Jaga Jakarta Bersih yang mendorong pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

    Namun, menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kesiapan masyarakat serta sistem pengelolaan yang mampu menampung hasil pemilahan sampah.

    Selain memperkuat fasilitas pengolahan, Komisi D juga mendorong pengembangan ekonomi sirkular melalui pengolahan kompos dan budidaya maggot.

    Sebab itu, Dinas Lingkungan Hidup (LH) diminta memetakan bank sampah, komunitas pengolah sampah, serta potensi pasar bagi hasil olahan tersebut.

    Di sisi lain, Yuke menekankan pentingnya keterlibatan sektor swasta serta pemanfaatan teknologi dan digitalisasi data pengelolaan sampah hingga tingkat RW agar kebutuhan armada dan fasilitas pengolahan dapat dihitung lebih akurat.

    “Jakarta memiliki banyak inovator muda di bidang pengolahan sampah. Potensi seperti ini harus diberikan ruang karena bisa menjadi bagian dari solusi,” ucapnya.

    Yuke juga menyinggung rencana penerapan retribusi persampahan. Dikatakan Yuke, kebijakan tersebut harus dibarengi peningkatan kualitas layanan serta kesiapan infrastruktur yang memadai.

    Selain itu, penerapannya juga perlu dilakukan secara transparan, berkeadilan, dan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

    “Syarat utamanya adalah kesiapan infrastruktur. Ketika pelayanan sudah baik, masyarakat akan lebih mudah menerima kebijakan tersebut,” tandasnya.

    Sementara, sejumlah organisasi lingkungan mengritisi kebijakan Pemprov yang terkesan meletakkan tanggung jawab pengelolaan sampah di level individu atau warga.

    Instruksi Gubernur DKI Jakarta Instruksi Gubernur (Ingub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber sekilas terdengar revolusioner.

    Padahal, di lapangan sudah ada banyak komunitas masyarakat di Jakarta yang sudah mengimplementasikan praktik baik ini jauh sebelum imbauan disosialisasikan.

    Riset yang dilakukan Greenpeace Indonesia (2021) menemukan bahwa sebagian besar masyarakat (70 persen) sudah bersedia untuk beralih ke sistem guna ulang.

    Namun, niat baik ini masih terhambat oleh minimnya alternatif yang dapat dipilih oleh warga untuk mengurangi penggunaan plastik. Greenpeace menilai, perusahaan dan pemerintah yang enggan berinovasi menjadi batu sandungan warga untuk mencapai solusi krisis iklim yang berkelanjutan.

  • DaurKita: Inisiatif Mahasiswa Merespons Krisis Pengelolaan Sampah di Kota Yogyakarta

    DaurKita: Inisiatif Mahasiswa Merespons Krisis Pengelolaan Sampah di Kota Yogyakarta

    7cloud.asia – DaurKita, demikian laman yang menyimpan basis data bank sampah di Yogyakarta untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas penyetoran sampah itu dinamai.

    DaurKita adalah inisiatif yang digagas 12 mahasiswa dari kampus di Yogyakarta dalam merespons krisis pengelolaan sampah dengan menghimpun basis data bank sampah di Kota Yogyakarta.

    Tim DaurKita mengenalkan inisiatif ini dalam workshop Bijak Mengelola Sampah dengan menggandeng Lokalogi by Pramuka UGM pada Sabtu (6/6/2026) lalu.

    DaurKita sebagai salah satu tim yang telah berhasil menyabet dukungan pendanaan dari GIK Advanced Leadership Arena (GALA), mengundang Lokalogi, memperkenalkan opsi gaya hidup baru yang relevan dengan krisis pengelolaan sampah saat ini.

    Menggagas konsep dari mahasiswa untuk mahasiswa, DaurKita yang beranggotakan 12 orang merilis laman berisi daftar nama bank sampah yang berlokasi di Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

    Dengan mengusung bendera Bank Sampah Digital, DaurKita menyediakan 18 nama mitra yang tersebar di 6 kecamatan di Yogyakarta. Terdapat empat jenis sampah yang bisa dikelola oleh mitra DaurKita, yakni sampah organik, anorganik, B3, dan residu.

    Baca: Teknologi Landfill Mining untuk TPA yang Kelebihan Kapasitas

    ”Harapan kami, semoga DaurKita dapat menjembatani teman-teman mahasiswa UGM dengan tempat pengelolaan sampah terdekat. Dengan ini, kendala akses dan informasi itu bisa diredam,” ujar Project Officer DaurKita, Jeffryta Nasya Sanjaya seperti dilansir ugm.ac.id

    Selain diperkenalkan dengan laman berisi daftar nama mitra DaurKita, peserta turut dibekali dengan kerangka berpikir dalam pengelolaan sampah oleh Lokalogi.

    Lokalogi yang telah digagas oleh Pramuka UGM sejak tahun 2024, konsisten membersamai dinamika pengelolaan sampah dalam acara-acara besar mahasiswa, seperti Pionir, Gelex, Porsenigama, Culfest, hingga berbagai konser tahunan.

    Dari berbagai acara ini Lokalogi menghimpun data sampah yang diproduksi oleh pengunjung setelah memilah dan membagi sesuai kategori.

    Salah seorang perwakilan Lokalogi, Yudhistira mengatakan, sampah residu bisa ditekan di hari pertama atau kedua karena jumlah pengunjung belum terlalu banyak.

    ”Biasanya, jumlah lonjakan sampah residu terjadi ketika penutupan acara. Hal ini terjadi karena pengunjung meningkat, sementara Lokalogi Heroes yang memantau tempat sampah jumlahnya terbatas,” terangnya.

    Baca: Status Darurat Sampah yang Diajukan Pemkot Bandung Ditolak

    Menyambut baik inisiatif Tim DaurKita, Abiyyi, salah seorang perwakilan Lokalogi yang lain juga menjelaskan betapa peran bank sampah dan inisiatif memilah individu menjadi penting.

    Bank sampah yang terdesentralisasi adalah intervensi yang diperlukan bagi wilayah dengan sistem pengangkutan yang belum terpilah.

    Kedua, masih terdapat kesenjangan rantai dari konsumen ke pabrik daur ulang, terlebih jumlah pabrik daur ulang masih sangat terbatas, sehingga eksistensi bank sampah dapat menjadi jembatan.

    Ketiga, ketika minat masyarakat untuk memilah masih rendah, maka bank sampah bisa menyediakan insentif.

    “Sampah yang terpilah masih ada harganya, sehingga harusnya bisa dijual meski nilainya turun. Tentunya, tujuan yang sirkuler ini tidak dapat berjalan apabila tidak ada proses pemilahan dari konsumen atau sumber utama,” ungkapnya.

    Baca: Pengelolaan Sampah di Desa Punya Peran Penting