7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta melaksanakan pelatihan bagi para pendamping bank sampah di seluruh kelurahan. Langkah ini merupakan upaya mewujudkan target satu Rukun Warga (RW) punya satu bank sampah aktif di wilayah Jakarta.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat gerakan memilah sampah dari sumbernya, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan, para pendamping bank sampah akan bekerja intensif selama dua bulan untuk membentuk sekaligus mengaktifkan kembali bank-bank sampah di wilayah masing-masing.
Menurutnya, keberadaan bank sampah menjadi sarana pengelolaan sampah yang efektif karena warga tidak hanya diajak memilah dan mengurangi sampah dari rumah, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pengelolaannya.
“Jakarta memiliki potensi besar menjadi kota percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Indonesia. Jika seluruh RW memiliki bank sampah aktif dan warga konsisten memilah sampah dari rumah, maka kita tidak hanya menjaga kebersihan kota, tetapi juga membangun Jakarta yang berkelanjutan,” ujar Asep, Selasa (21/10/2025) di Jakarta.
Baca: Puluhan bank sampah di Jakarta Pusat tak aktif beroperasi
Pada Desember 2024, terdapat 2.287 bank sampah yang terdaftar di 1.878 RW di lima wilayah di Jakarta. Dari jumlah tersebut, 1.435 bank sampah tercatat aktif, sementara sisanya tidak.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya untuk meningkatkan jumlah dan efektivitas bank sampah di setiap RW, serta menambah infrastruktur pengolahan sampah seperti TPS 3R.
Sementara itu, Ketua Bank Sampah Budhi Luhur, Tutik Sri Susilowati, menekankan bahwa bank sampah bukan sekadar tempat menimbang atau menjual sampah, tetapi juga wadah kebersamaan warga dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan.
“Bank sampah adalah ruang belajar bagi masyarakat untuk menumbuhkan perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan. Karena itu, sosialisasi, pembinaan, dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pengelolaan sampah berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata,” ungkapnya.
Senada, Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), Wilda Yanti, menegaskan pentingnya peran pendamping dalam memastikan optimalnya pengelolaan bank sampah di setiap wilayah.
Baca: Industri daur ulang kekurangan suplai sampah plastik
Menurutnya, komunikasi yang baik dengan warga serta edukasi berkelanjutan tentang pentingnya memilah sampah dari rumah merupakan kunci utama keberhasilan program ini.
“Dengan semakin banyak bank sampah yang aktif, warga Jakarta dapat berdaya melalui ekonomi hijau berbasis komunitas, sekaligus membantu mengurangi beban sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang,” tutup Wilda.
Berdasarkan data di Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN),
timbulan sampah di DKI Jakarta timbulan sampah di DKI Jakarta tahun 2024 mencapai
3.171.247,45 ton per tahun atau 8.664,61 ton per hari.
Adapun trend timbulan sampah ini meningkat dari tahun ke tahun. Sampah yang dihasilkan tersebut didominasi oleh sampah mudah terurai sebanyak 49,87 persen diikuti dengan Plastik sebesar 22,95 persen dan kertas sebesar 17,24 persen.
Adapun komposisi terbesar berasal dari sampah rumah tangga, komersial, dan industri.

Leave a Reply