Tag: BRIN

  • Wujudkan Nol Emisi pada 2060, BRIN Kembangkan Riset Peta Ekosistem Energi Hidrogen

    Wujudkan Nol Emisi pada 2060, BRIN Kembangkan Riset Peta Ekosistem Energi Hidrogen

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN telah melakukan riset dalam peta ekosistem energi hidrogen sebagai salah satu upaya mencapai target nol emisi pada 2060 .

    Riset pengembangan ekosistem energi hidrogen yang dilakukan BRIN mulai dari penguasaan teknologi kunci, yaitu pengembangan material fuel cell dan elektrolisis, teknologi penyimpanan hidrogen, produksi energi hidrogen hijau

    Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian mengatakan, pihaknya juga telah mengembangkan pemanfaatan energi hidrogen sebagai bahan bakar di sektor transportasi.

    Amarulla mengatakan, target nol emisi pada 2060 harus dilakukan dengan mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan dan atau mengurangi emisi gas rumah kaca (greenhouse gas/GHG) seperti CO2.

    Upaya tersebut merupakan bagian komitmen global untuk mencegah peningkatan suhu global hingga di bawah 1,5 derajat Celsius, melalui pengurangan sebesar satu miliar ton CO2 ekuivalen per tahun (Gt CO2e/year) pada 2030 hingga enam Gt CO2e/year pada 2050.

    Baca: Mengenal enrgi hidrogen hijau dan potensinya

    “Dengan menggunakan hidrogen sebagai sumber energi, Indonesia dapat menjadi pemasok pasar global dalam industri hidrogen,” ujarnya sebagaimana dikutip di laman resmi brin.go.id.

    Sementara, Profesor Riset Bidang Teknologi Proses Elektrokimia pada Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN Eniya Listiani Dewi.

    Menurutnya, titik kritis dalam pengurangan emisi karbon pada sektor industri dan transportasi adalah adopsi teknologi dan praktik berkelanjutan serta rendah emisi karbon.

    Hal ini memerlukan pergeseran yang signifikan dari metode produksi dan penggunaan energi tradisional yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

    “Untuk mencapai pengurangan emisi karbon, industri harus berinvestasi dalam sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air, serta teknologi dan proses yang efisien dalam penggunaan energi,” ujarnya.

    Baca: Manfaat energi hidrogen hijau dalam transisi energi

    Profesor Riset pada Pusat Riset Teknologi Industri Proses dan Manufaktur BRIN Bambang Widarsono mengungkapkan, Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen.

    Dari jumlah tersebut, 18 diantaranya berstatus produktif penghasil minyak dan gas bumi (migas), sementara sisanya berstatus belum produktif.

    Cekungan produktif, menurut Bambang, merupakan tempat penyimpanan yang tepat untuk gas rumah kaca, baik sebagai hasil samping dari produksi energi hidrogen maupun yang lainnya.

    Demikian juga keberadaan akuifer (saline aquifer) pada seluruh cekungan tersebut juga dapat menjadi target Carbon Capture and Storage (CCS) yang baik.

    “Dengan dimilikinya potensi penyimpan gas rumah kaca yang besar, Indonesia berkesempatan besar turut serta dalam peningkatan tren penggunaan hidrogen, sekaligus memenuhi komitmen nol emisi,” ujarnya.

    Di sisi lain, Professor Riset pada Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup BRIN Irhan Febijanto menilai, adanya pemanfaatan bioCNG di sektor energi dan transportasi akan mendorong terjadinya transisi energi menuju pemanfaatan energi bersih.

    Hal ini, ujarnya, tentu akan beririsan dengan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca.  

  • Ada Perbedaan Data Perdagangan Ikan Hias Laut Indonesia, Peneliti BRIN Sebut Perlu Ada Koreksi dan Klarifikasi

    Ada Perbedaan Data Perdagangan Ikan Hias Laut Indonesia, Peneliti BRIN Sebut Perlu Ada Koreksi dan Klarifikasi

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Kunto Wibowo mengatakan, hingga saat ini data ikan hias laut sulit sekali diakses, termasuk Indonesia.

    Sehingga para ahli di dunia melakukan berbagai pendekatan untuk mendapatkan data jenis hingga volume perdagangan ikan hias laut.

    ”Ini guna menetapkan prioritas konservasi dan manajemen ikan hias laut ini.
    Hasilnya, bisa benar, bisa juga salah. Namun harapannya bisa mendekati,” ungkap Kunto.

    Di Indonesia, hasil pendataan yang dilakukan Yayasan LINI dan pihak asosiasi eksportir ikan hias (Asosiasi Koral, Kerang, dan Ikan Hias Indonesia – AKKII dan Indonesia Ornamental Fish Exporters Association – INOFE) mencatat sebanyak 616 spesies ikan hias laut yang diperdagangkan Indonesia di pasar global.

    Namun berdasarkan kajian CITES dan UNEP WCMC, Indonesia dilaporkan memasarkan sebanyak 1175 spesies atau sekitar 62% dari total spesies ikan hias laut yang diperdagangkan dunia.

    Mengomentari perbedaan data perdagangan ikan hias laut Indonesia dengan hasil studi CITES-UNEP WCMC, Kunto yang sejak tahun 2010 fokus meneliti biodiversitas ikan laut ini memberikan tanggapannya.

    Baca Juga: Indonesia Pasok 62 Persen dari Total Spesies Ikan Hias Laut yang Diperdagangkan Dunia

    Mungkin saja, ujarnya, terjadi kesalahan identifikasi. Karena selama ini pelaku perdagangan ikan hias melakukan identifikasi menggunakan foto atau gambar bukan melalui pengamatan dan pengukuran spesimen.

    “Sehingga bisa saja dua spesies berbeda dihitung menjadi satu spesies yang sama (terjadi pengurangan). Atau justru sebaliknya, satu spesies dihitung menjadi dua spesies berbeda sehingga double counting,” ujar Kunto seperti dikutip di laman resmi BRIN.

    Karena itu dia mengusulkan perlunya koreksi.

    “Kondisi ini tentunya perlu koreksi, misal dengan memastikan kebenaran tatanama ikan hias laut melalui identifikasi langsung dari berbagai jenis spesimen yang diperdagangkan. Disinilah bidang ilmu biosistematika bekerja,” tegas Kunto.

    Dikonfirmasi lebih lanjut terkait dampak yang akan timbul dari kesalahan identifikasi ini, peneliti yang menamatkan pendidikan doktoral di negeri Sakura tersebut memberikan pandangan.

    Kunto menegaskan, spesies hingga level genetik merupakan unit terkecil dalam upaya konservasi atau manajemen. Jika tidak ada koreksi dan klarifikasi maka akan terjadi kesalahan juga dalam prioritisasi konservasi dan manajemen.

    Baca Juga: Sambut Hari Laut Sedunia, KKP Gelar Aksi Bersih Pantai Serentak di 23 Kabupaten/Kota di Indonesia.

    “Akibatnya tentu akan berdampak bagi para pelaku perdagangan MOF itu sendiri. Misal ikan tidak lagi dapat diperdagangkan karena statusnya terancam punah padahal melimpah di alam,” ungkap Kunto.

    Sebagai upaya koreksi terhadap biodiversitas perdagangan ikan hias laut, saat ini Indonesia memiliki project riset yang berjudul “Indonesia Marine Ornamental Fishes in New Paradigm (Indonesia Mantap)”.

    Kegiatan ini dilakukan dibawah kerja sama BRIN dengan LPDP Kementerian Keuangan RI pada skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) serta dukungan para stakeholder pelaku perdagangan MOF di Indonesia.

    Selaku Ketua Tim Indonesia Mantap, Kunto menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan updating status biodiversitas, valuasi perdagangan, dan kondisi sosial ekonomi perdagangan ikan hias laut sebagai dasar pemetaan masalah dan merumuskan arah kebijakan pengelolaan serta perdagangan MOF di Indonesia.

    Sehingga tidak hanya kajian biodiversitas saja, namun juga terdapat riset sosial ekonomi para pelaku perdagangan ikan hias laut.

    “Kegiatannya ya mulai dari koleksi spesimen, preparasi spesimen, dokumentasi, koleksi DNA, identifikasi spesies berdasarkan morfologi maupun molekuler, penyimpanan koleksi ikan hias laut di Museum Zoological Bogoriense, hingga publikasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan ke depan,” tutur Kunto.

    Baca Juga: Pertanyakan Penundaan Penangkapan Ikan Terukur, DPR Minta KKP Lindungi Nelayan Tradisional

    Ia menambahkan, untuk sosial ekonomi sendiri akan dikaji permasalahan mata pencaharian para pelaku usaha, pemetaan pengetahuan nelayan terhadap kondisi sumberdaya, musim penangkapan, regulasi, termasuk mengkaji nilai perdagangan ikan hias laut di Indonesia.

    Untuk mengupas lebih lanjut inisiatif Indonesia Mantap dan peranan biosistematika dalam mendukung perdagangan, manajemen dan konservasi, Kunto Wibowo memaparkan detail kegiatan tersebut pada Simposium Innovations in Sustainable Aquatics: Balancing Hobby with Conservation pada 7 Juni 2024 lalu

    Acara ini diselenggarakan Yayasan LINI, Nusatic 2024, dan didukung Kementerian Kelautan dan Perikanan.

    Kunto berharap seluruh stakeholder perdagangan ikan hias laut di Indonesia dapat bergerak bersama untuk mendukung inisiatif ini demi menjaga kelestarian dan keberlanjutan perdagangan MOF Indonesia di pasar global.

    Dengan adanya inisiatif Indonesia Mantap ini, dirinya berharap masyarakat Indonesia termasuk nelayan, pengepul, pecinta ikan, hingga eksportir bisa turut berpartisipasi dengan mengambil contoh yang terjadi di Jepang.

    “Di Jepang, antusiasme warga terkait pengungkapan jenis ikan sangatlah tinggi, bahkan di tingkat nelayan sekalipun. Ketika mereka menemukan ikan yang tidak dikenal, mereka dengan penuh semangat akan segera membawanya ke museum untuk diidentifikasi,” tutup Kunto.

    Sumber:brin.go.id

  • BRIN Temukan Kontaminasi Bahan Aktif Obat di Sungai Citarum

    BRIN Temukan Kontaminasi Bahan Aktif Obat di Sungai Citarum

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan adanya kontaminasi bahan aktif obat atau APIs di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu di Jawa Barat.

    Peneliti Kelompok Riset Ekotoksikologi Perairan Darat, Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Rosetyati Retno Utami melalui keterangan di Jakarta, Senin (8/7/2024) mengungkapkan penelitian dilakukan dengan menghitung konsumsi obat masyarakat.

    Seperti konsentrasi bahan aktif obat yang diminum, frekuensi penggunaan obat, jumlah obat yang dikonsumsi, dan berapa lama masa sakit responden dalam setahun.

    “Kemudian kami akan mengestimasi seberapa banyak dari rata-rata penggunaan itu dengan ekstrapolasi terhadap jumlah penduduk di suatu DAS.

    Baca Juga: World Water Forum ke-10: UNDP Luncurkan Alat Pengolahan Air di Sungai Citarum

    Hasilnya, untuk bahan kimia aktif dapat dilihat bahwa ternyata paracetamol dan amoxcillin menjadi APIs dengan penggunaan paling besar di DAS Citarum Hulu,” kata Rosetyati.

    Rosetyati menemukan penggunaan antibiotik di DAS Citarum Hulu cukup besar, dengan penggunaan paracetamol menjadi posisi tertinggi berjumlah 460 ton per tahun serta amoxcillin 336 ton per tahun.

    Adapun sumber-sumber kontaminasi bahan aktif obat yang mungkin masuk ke dalam Sungai Citarum, kata dia, bisa teridentifikasi dari kegiatan peternakan yang dinilai banyak menggunakan obat-obatan dan juga hormon yang bertujuan meningkatkan hasil peternakan.

    Juga penggunaan obat rumah tangga, industri, dan sistem pengelolaan limbah obat di rumah sakit yang mungkin terdapat kebocoran, sehingga dapat mengakibatkan masuknya obat ke ekosistem akuatik.

    Baca Juga: Atasi Pulau Sampah di Aliran Sungai Citarum, Pemprov Jabar Kerahkan Alat Berat

    Ia menambahkan penanganan masyarakat setempat atas penggunaan bahan aktif obat tersebut dinilai masih kurang, sehingga menimbulkan risiko terhadap pencemaran ekosistem akuatik.

    “Jika terjadi kontaminasi di perairan/ekosistem akuatik, tentu saja akan membahayakan bagi organisme akuatik dan juga kesehatan manusia,” ujarnya.

    Menanggapi temuan BRIN tersebut Plt Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Luki Subehi menekankan perilaku masyarakat terhadap penanganan penggunaan obat.

    Termasuk dalam praktik pembuangan obat yang tidak lagi terpakai penting untuk menjadi perhatian lebih lanjut.

    Baca Juga: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam Kondisi Kritis, Mungkinkah Dikembalikan Ke Kondisi Normal?

    Menurutnya, tingkat populasi masyarakat yang tinggi di wilayah sekitar DAS menjadikan hal tersebut menjadi penting agar tidak menambah faktor-faktor yang dapat mencemari sungai.

    “Dengan informasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya pola perilaku yang tidak mencemari badan air/sungai dan praktik yang lebih baik dalam pengelolaan limbah obat-obatan,” kata Luki Subehi.

    Sumber:Antaranews.com

  • Riset BRIN: Sumber Air Baku Hulu Sungai Citarum Masih Aman

    Riset BRIN: Sumber Air Baku Hulu Sungai Citarum Masih Aman

    7cloud.asia – Tim peneliti dari Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyimpulkan sumber air baku masyarakat di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai Citarum masih alamiah.

    Hasil data ilmiah BRIN berupa konsentrasi bromide alami pada sumber air baku di wilayah hulu Sungai Citarum di bawah ambang batas bromida pada air tanah adalah 0.5 mg/L (Permenkes RI No 2 Tahun 2023; WHO 2009).

    Sumber air baku masyarakat yang terletak pada wilayah hulu Sungai Citarum yang masih alamiah, di daerah hulu masih relatif aman, jauh dari pengaruh antropogenik dan tidak terdeteksi dari pencemaran bromida.

    “Namun di beberapa titik sumber air di wilayah yang dekat dengan wilayah pertanian dan industri aktif memiliki nilai bromida di atas ambang batas dan perlu penelitian lebih lanjut,” jelas Rizka Rizka Maria, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) dilansir laman resmi BRIN.

    BRIN, ujar Rizka, melakukan penelitian terhadap kumpulan sampel air tanah untuk memahami konsentrasi bromida dalam air tanah dan untuk mengidentifikasi sumbernya.

    Baca Juga: Ekspedisi BRIN Temukan Polusi Mikroplastik di Sungai Citarum Sudah Mengkhawatirkan

    Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan untuk mengetahui distribusi bromida alami pada air tanah.

    “Hasil penelitian ini berfungsi sebagai informasi data dasar untuk mengetahui jejak perunutan bromida pada air tanah dan sebagai pelacak jika ditemukan nilai bromat yang melebihi ambang batas pada air minum dalam kemasan,” terang Rizka.

    Penggunaan air minum dalam kemasan menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan air minum pada masyarakat. Kualitas air minum dalam kemasan menjadi salah satu hal utama yang harus diperhatikan.

    Akhir akhir ini isu pencemaran bromat pada air minum dalam kemasan sangat meresahkan masyarakat.

    Senyawa bromat (BrO3–) bukan senyawa almiah yang normal berada di air. Bromat memiliki ciri khas tidak berasa, tidak berwarna dan terbentuk pada saat air minum disterilkan dengan proses ozonasi.

    Baca Juga: BRIN Temukan Kontaminasi Bahan Aktif Obat di Sungai Citarum

    “Bromida alami yang terdapat dalam sumber air minum bereaksi dengan ozon pada saat proses disinfeksi akan menghasilkan senyawa bromat,” sebut Rizka.

    Rizka menjelaskan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan bromat pada air minum, antara lain kandungan pH sumber air, pada air dengan pH tinggi maka reaksi pembentukan bromat akan lebih cepat dibandingkan pada air dengan suhu rendah.

    Konsentrasi ion bromida juga berpengaruh. Semakin tinggi ion bromide maka makin besar kemungkinan terbantuk bromat pada saat proses ozonasi.

    Jumlah ozon yang digunakan saat proses disinfeksi dan waktu reaksi dan durasi kontak antara ozon dan ion bromida juga berpengaruh.

    “Semakin lama waktu reaksi maka semain banyak bromate yang terbentuk,” ucap Rizka.

    Pencemaran air tanah oleh bromida biasanya bersumber dari proses fumigasi di sektor pertanian.

    Baca Juga: World Water Forum ke-10: UNDP Luncurkan Alat Pengolahan Air di Sungai Citarum

    Salah satu alasan penghentian atau penghapusan penggunaan metil bromid adalah karena adanya fakta bahwa gas methyl bromide merusak atmosfer bumi sehingga dalam jangka panjang berdampak pada kerusakan lingkungan secara global.

    Selain itu metil bromide juga berdampak serius kepada kesehatan bagi mereka yang terpapar dalam waktu lama. Dampaknya bagi kesehatan bisa ditandai dengan mual-mual, kelelahan yang berlebihan, gangguan mental dan bahkan efek neurologis lainnya.

    Dilansir health.ny.gov,kandungan bromat dalam air minum berpengaruh pada kesehatan. Penelitian mengungkap, orang yang menelan bromat dalam jumlah besar mengalami gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

    Bromat dalam konsentrasi tinggi juga berpengaruh pada ginjal, sistem saraf, dan gangguan pendengaran. Namun, orang-orang ini terpapar bromat dalam kadar ribuan kali lebih banyak daripada yang didapat dari air minum pada standarnya.

    Paparan bromat dalam kadar tinggi dalam jangka panjang juga menyebabkan kanker pada tikus. Apakah bromat dapat menyebabkan kanker pada manusia masih belum diketahui.

    Baca Juga: Maraknya Industri Air Minum dalam Kemasan Sembunyikan Krisis Air Global

    Beberapa orang mungkin berisiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat paparan bromat atau memiliki kekhawatiran terhadap kehamilan atau bayi yang sedang disusui.

    Karena bromat dapat menyebabkan dampak kesehatan pada ginjal, ada kemungkinan bahwa mereka yang memiliki kondisi ginjal yang sudah ada sebelumnya dapat berisiko lebih tinggi.

    Informasi tentang dampak bromat pada kesehatan reproduksi terbatas, tetapi tidak menunjukkan adanya kekhawatiran pada tingkat yang mendekati standar air minum.

    Selain kesehatan manusia, potensi dampak lingkungan dari pembentukan bromat dalam sistem perairan juga mendorong penelitian.

  • Seperti Ini Dampak Perubahan Iklim terhadap Masyarakat Kota

    Seperti Ini Dampak Perubahan Iklim terhadap Masyarakat Kota

    7cloud.asia – Perubahan iklim sangat memengaruhi lingkungan, ekosistem bumi, kehidupan, serta kesejahteraan manusia yang tinggal di planet Bumi.

    Salah satunya, perubahan iklim berpengaruh terhadap ketersediaan sumber daya air sehingga berdampak sangat besar pada pembangunan dan keamanan manusia.

    Dampak perubahan iklim terutama pada sumber daya air akan diulas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam webinar Professor Talk bersama para pakar pada Selasa (23/7/2024).

    Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian mengungkapkan dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air di antaranya meliputi krisis air bersih perkotaan, kerawanan pangan, meningkatnya frekuensi penyakit, perubahan pola curah hujan dan kerawanan bencana.

    “Dalam periode 2010-2017, terjadi peningkatan 887 kejadian bencana hidrometeorologi dengan bencana iklim hidrologi antara lain banjir, longsor, kekeringan, angin puting beliung, kebakaran hutan, gelombang pasang dan abrasi,” ujarnya.

    Baca: Daftar website yang bisa jadi rujukan info tentang perubahan iklim

    Sementara itu Profesor Riset Bidang Meteorologi, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan, perubahan iklim telah berdampak pada meningkatnya permukaan air laut.

    Pada tahun 2010 muka air laut telah meningkat sebanyak 0,4 meter dan hal ini berdampak pada hilangnya daratan seluas 7.408 km2.

    Diperkirakan pada tahun 2050 muka air laut akan meningkat sebanyak 0.56 meter yang akan menyebabkan hilangnya luas daratan Indonesia sekitar 30.120 km2.

    “Dampak perubahan iklim tidak terbatas pada keberlangsungan sumber daya air semata, melainkan pada penentuan kalender tanam, hilangnya pulau-pulau kecil, banjir dan lain sebagainya,“ ujarnya.

    Baca: Peran pendidikan dalam upaya mengatasi perubahan iklim

    Eddy menambahkan, diperkirakan tahun 2100 Indonesia akan kehilangan 115 pulau-pulau berukuran sedang yang berada di Provinsi Sumatera Utara sampai ke Papua Barat.

    Pada kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Utama Pengelolaan DAS, Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Irfan Budi Pramono mengatakan Solusi Berbasis Alam (Nature Based Solutions) mempunyai potensi yang besar untuk mengatasi masalah sumber daya air seiring dengan perubahan iklim.

    Di mana paradigma pengaturan air yang semula dari ‘mengalirkan’ menjadi ‘meresapkan’ ke dalam tanah.

    “NBS ini bukan satu-satunya cara untuk mengatasi masalah sumber daya air, namun akan melengkapi solusi-solusi lainnya seperti melengkapi dan mengoptimalkan fungsi grey infrastruktur,” ungkapnya.

    Baca: Peran anak muda dalam upaya mengatasi perubahan iklim

    Irfan menambahkan, penerapan NBS dalam pengelolaan sumber daya air seiring dengan perubahan iklim perlu melibatkan banyak pihak baik pemerintah maupun masyarakat.

    Secara umum perubahan iklim berpengaruh terhadap sumber daya air baik langsung atau tidak langsung antara lain meningkatnya intensitas curah hujan pada musim basah, meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.

    Tanda perubahan iklim juga terlihat dari berkurangnya curah hujan dan debit sungai pada musim kemarau serta bertambah panjangnya periode musim kering, meningkatnya temperatur yang diikuti gelombang panas, perubahan ekosistem dan layanan ekosistem,

    Perubahan iklim juga memicu meningkatnya intensitas dan frekuensi badai, serta meningkatnya tinggi gelombang, abrasi pantai, dan meluasnya kawasan yang terpengaruh intrusi air laut.

  • BRIN Sebut Ada Kaitan Fenomena Aphelion dan Bediding

    BRIN Sebut Ada Kaitan Fenomena Aphelion dan Bediding

    7cloud.asia – Sejak awal Juli, beberapa wilayah di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara mengalami penurunan suhu secara ekstrem atau bediding.

    Fenomena ini memiliki kaitan dengan fenomena belahan selatan Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari atau aphelion.

    Hal ini diungkapkan oleh Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan beberapa waktu lalu.

    Menurutnya kaitan antara bediding dan aphelion memang tidak secara langsung.

    “Sekilas memang iya, seperti tidak ada kaitannya, karena memang jauh sekali jika dibandingkan dengan dampak yang terjadi di beberapa kota di Indonesia,” jelas Eddy.

    Baca: Ini penyebab udara dingin di musim kemarau

    Melansir Antaranews, Eddy menjelaskan beberapa wilayah Indonesia di bumi bagian selatan dan bertipe monsunal seperti Pulau Jawa, Bali, serta Nusa Tenggara mengalami penurunan suhu udara pada 15 Juli lalu.

    Seperti Bandung yang suhunya turun mencapai suhu terendahnya tahun ini dengan 15 derajat celsius, di mana suhu udara pada belakangan ini tercatat di sekitar 22 derajat celsius.

    Sementara untuk wilayah Indonesia yang berada di bumi bagian utara seperti Medan dan Pontianak hanya mengalami penurunan yang sedikit dan tidak signifikan, dari sekitar 28 derajat menjadi 24-25 derajat celsius. 

    Baca: Ini dampak bediding bagi pertanian dan peternakan

    Eddy menyebut peristiwa itu terjadi setelah adanya aphelion, yang pasti terjadi setahun sekali sebelum tanggal 8 Juli.

    “Jika memang (informasi) ini hoaks, maka pertanyaannya adalah apakah ada satu atau dua kota, khususnya di kawasan timur Indonesia yang suhu udaranya jauh di bawah suhu terendahnya, jauh sebelum terjadinya aphelion,” terangnya.

    Selanjutnya Eddy membenarkan penurunan suhu yang terjadi akibat bertiupnya udara dingin dari wilayah Australia seperti yang diberitakan selama ini.

    Namun, ia mengungkapkan udara dingin dari wilayah Australia tersebut bertiup dari wilayah Kutub Selatan yang menjadi lebih dingin.

    Akibat fenomena aphelion tersebut yang menyebabkan wilayah bumi bagian selatan tidak mendapatkan panas matahari sama sekali.

    Baca: Suhu dingin landa Gunung Gede, para pendaki harus waspada

    “Dugaan saya, boleh dicek, hampir semua kawasan bertipe monsunal khususnya, yang mengalami fenomena suhu rendah, sebagian besar terjadi setelah peristiwa aphelion muncul, karena adanya lag-time atau jeda waktu,” tegas Eddy.

    Karena itu, dia meminta kepada para periset untuk kembali mendiskusikan hal tersebut dengan tidak hanya berfokus pada hembusan udara dingin dari Australia tetapi juga diikuti dengan penelitian sebab lainnya.

    “Dengan kata lain, evolusi pergerakan semu Matahari terhadap Bumi akan diikuti dengan evolusi suhu permukaan bumi. Polanya mirip, namun ada jeda waktu,” ujarnya.

     

  • Peneliti BRIN: Tidak Bisa Dipastikan Kapan Gempa Megathrust akan Terjadi

    Peneliti BRIN: Tidak Bisa Dipastikan Kapan Gempa Megathrust akan Terjadi

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nuraini Rahma Hanifa menyatakan tidak ada waktu pasti soal kapan gempa Megathrust terjadi di Indonesia.

    Hanifa membenarkan bahwa peristiwa Megathrust memang benar ada. Tapi, jika ada informasi tentang tanggal, bulan, dan tahun kapan gempa akan terjadi maka bisa dipastikan itu hoaks.

    “Bisa terjadi, kapan? mau lima menit lagi, 100 tahun lagi, itu bisa terjadi,” kata Nuraini dalam gelar wicara tentang Megathrust yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (30/8/2024) seperti dilansir Antaranews.com.

    Meskipun belum dapat diprediksi secara spesifik, Nuraini memaparkan bencana gempa besar seperti Megathrust bisa terjadi lagi di waktu yang akan datang, karena bencana tersebut pernah ada di wilayah Indonesia sejak zaman dahulu.

    Adapun lokasi bencana ini, jelas dia, diprakirakan bisa terjadi di sebelah barat Pulau Sumatera hingga selatan Pulau Jawa.

    Baca: BMKG diminta siapkan langkah mitigasi atasi megathrust

    Pasalnya, daerah tersebut merupakan daerah pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia yang rawan akan guncangan.

    Lebih lanjut, Nuraini memaparkan adanya siklus tertentu pada gempa-gempa besar, seperti gempa Megathrust. Ia menyebut semakin besar gempanya, maka akan semakin lama juga siklusnya.

    Menurut dia, gempa besar yang melanda Aceh yang terjadi pada 2004 yang lalu memiliki siklus hingga 600 tahun sekali.

    Meski demikian, siklus tersebut hanya berlaku di titik gempa yang sama, sehingga masing masing titik memiliki siklus gempanya masing-masing.

    “Pergerakan lempeng itu bisa kita ukur, besar energi juga, tapi bagaimana caranya dilepaskan kita gak tahu. Jadi bisa saja dilepaskan seperti gempa Pangandaran yang (kekuatannya) kecil-kecil, bisa juga besar seperti gempa Aceh,” ujarnya.

    Nuraini melanjutkan, masing-masing daerah atau tempat juga memiliki pergeseran.

    Baca: Mengenal 16 titik megathrust di Indonesia

    Sebagaimana pulau jawa yang memiliki potensi pergeseran lempeng bumi rata-rata sebesar 6centimeter per tahun, dengan siklus gempa yang diprakirakan terjadi setiap 400-600 tahun sekali, serta potensi pergeseran lempeng yang bisa dikeluarkan secara bertahap, maupun secara sporadis.

    Kalau 400 tahun dikali 6centimeter maka 24meter ya, kalau 24m itu dia mau gerak sekaligus, kita sudah menghitung kita mendapatkan angka (potensi gempa) pada skala 8,8 Magnitudo, itu kalau satu segmen Selat Sunda.

    “Tapi kalau satu segmen Pulau Jawa, maka dia berada pada 9 Magnitudo, mirip seperti gempa Aceh dan Jepang,” ungkapnya.

    Namun demikian, dengan kekuatan gempa yang sama seperti di Aceh, Nuraini menyoroti Jepang memiliki korban jiwa yang lebih sedikit, yaitu sekitar 1/10 dari korban jiwa yang ada di Aceh.

    Oleh karenanya, ia menekankan seluruh pihak untuk bekerja sama dalam upaya mitigasi bencana yang tepat, sehingga dapat mengurangi risiko kebencanaan untuk dapat menyelamatkan nyawa lebih banyak lagi jika terjadi gempa.

    Sumber:Antaranews.com

  • BRIN Rekomendasikan Pendekatan Ekoregion dalam Pengelolaan Sampah Plastik

    BRIN Rekomendasikan Pendekatan Ekoregion dalam Pengelolaan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah dengan pendekatan ekoregion dapat diterapkan sebagai salah satu langkah untuk mengatasi isu sampah plastik di wilayah Indonesia yang luas.

    Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova menjelaskan, pendekatan ekoregion adalah pendekatan dalam satu kawasan ekologi.

    “Sebenarnya paling mudah kita lihatnya satu dari area Sumatera saja, area Jawa saja, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Maluku, dan area Nusa Tenggara saja,” kata Reza dalam diskusi yang diadakan BRIN di Jakarta, Rabu (11/9/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Reza menambahkan, pihaknya merekomendasikan kepada pemerintah, pertama, kita harus punya minimal RDF per masing-masing wilayah ekoregion tersebut.

    Baca: Mengenal RDF, teknik pengelolaan sampah plastik menjadi energi

    Refuse Derived Fuel (RDF) adalah teknik pengelolaan sampah anorganik yang diolah untuk menghasilkan listrik atau digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil.

    Sampah diolah menjadi lebih kecil atau dibentuk pellet yang kemudian digunakan menjadi bahan bakar.

    Jika tidak memungkinkan dibangun fasilitas RDF, kata Reza, maka dapat dilakukan penambahan insinerator per ekoregion tersebut.

    Hal ini untuk memastikan sampah atau limbah dapat diolah tanpa harus dibawa melalui perjalanan antar-pulau yang akan menimbulkan biaya tambahan.

    Baca: Jakarta lebih memilih RDF ketimbang ITF untuk pengelolaan sampah plastik

    Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN itu memberi contoh bagaimana untuk melakukan pengelolaan sampah yang dihasilkan di wilayah timur Indonesia terkadang harus dibawa ke Pulau Jawa agar dapat dimanfaatkan ulang sebagai bahan bakar atau bahan baku produk daur ulang.

    Dengan demikian, katanya, maka selain mendukung upaya pengurangan sampah di wilayah masing-masing, juga menghasilkan bahan baku yang dibutuhkan oleh industri di Indonesia.

    Saat ini sekitar 20-30 persen kebutuhan bahan baku sampah plastik dan kertas di Indonesia masih dipenuhi melalui impor.

    Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah nasional mencapai 38,5 juta ton pada 2023 dengan sekitar 37,71 persen diantaranya belum terkelola atau sekitar 14,5 juta ton.

    Sumber:Antaranews.com

  • BRIN: Sampah Plastik Indonesia terbawa ke Perairan Afrika Selatan

    BRIN: Sampah Plastik Indonesia terbawa ke Perairan Afrika Selatan

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova mengatakan sampah plastik yang berakhir di perairan tidak hanya berdampak kepada lingkungan sekitar, tapi juga dapat berakhir di benua lain.

    Menurut penelitian BRIN, sampah plastik yang berasal dari kegiatan di Indonesia sekitar 10-20 persen akan berakhir di perairan internasional dan bahkan bisa hanyut sampai ke Afrika Selatan dalam periode sekitar satu tahun.

    “Jadi sampah yang kita impor dalam tanda petik bukan sesuatu yang baik, tapi malah jadi buruk,” ujar Peneliti Pusat Oseanografi BRIN itu dDalam diskusi membahas kebocoran sampah plastik di laut diadakan di Jakarta, Rabu (11/9/2024).

    Reza mengatakan pengelolaan sampah di Tanah Air masih belum optimal dengan masih terjadi kebocoran sampah yang berakhir di laut Indonesia.

    Menurutnya 70 persen sampah plastik yang mencemari perairan berasal dari aktivitas manusia di daratan.

    Baca: BRIN rekomendasikan konsep ekoregion dalam mengelola sampah plastik

    Berdasarkan data BRIN, kata dia, jenis sampah plastik yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia adalah plastik sekali pakai seperti plastik sachet, kantong plastik, botol minuman, dan sedotan.

    Sampah-sampah tersebut membutuhkan ratusan tahun untuk terurai, mencemari laut, dan merusak habitat biota laut.

    Tapi wilayah yang paling terdampak bocornya sampah ke perairan adalah lingkungan sekitar, termasuk bahaya mikroplastik yang dapat terlepas ke lingkungan dari sampah tersebut.

    Dia menjelaskan penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah terdeteksi pada semua sampel air dan sedimen dan ditemukan pada berbagai spesies ikan dan kerang yang dikonsumsi masyarakat.

    Untuk penanganan, pihaknya tengah meninjau potensi pengelolaan dari proses bioremidiasi, yaitu penggunaan organisme seperti mikroba untuk membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

    “Jadi ketika sampah sudah bocor ke lingkungan, apa yang kita lakukan? Kita coba cari mikroba apa yang paling tepat untuk bisa memakan dalam tanda petik si sampah plastik itu,” katanya.

    Baca: Pengurangan sampah plastik harus dari hulunya

    Dia juga mengusulkan, potensi pengelolaan secara ekoregion dengan memperbanyak fasilitas di daerah-daerah Indonesia, mengingat ujung tombak pengelolaan sampah berada di pemerintah daerah.

    BRIN sendiri terus melakukan penelitian untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan mendaur ulang sampah plastik.

    Salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi penginderaan jarak jauh, sensor bawah air serta kecerdasan buatan untuk memetakan sebaran sampah plastik secara lebih akurat.

    Menurut data Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), telah terjadi penurunan sampah plastik yang bocor ke lautan dari 615.675 ton pada 2018 menjadi 359.061 ton pada 2023 atau turun 41,68 persen.

    Pemerintah memiliki target penurunan sampah plastik yang berakhir di laut sebesar 70 persen sampai dengan 2025.

    Sumber:Antaranews.com

  • BRIN Finalisasi Tinjauan terhadap Tujuh Cagar Biosfer di Indonesia

    BRIN Finalisasi Tinjauan terhadap Tujuh Cagar Biosfer di Indonesia

    7cloud.asia – Saat ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan tinjauan berkala terhadap tujuh cagar biosfer di Indonesia guna melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati dengan mengintensifkan tinjauan berkala terhadap pengelolaan Cagar Biosfer.

    Indonesia memiliki 20 cagar biosfer yang telah dikukuhkan oleh Man and Biosphere (MAB) badan budaya PBB, UNESCO.

    Cagar biosfer ini memainkan peran penting dalam melindungi kawasan konservasi hutan tropis dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.

    Cagar biosfer berfungsi sebagai wadah tata kelola pengelolaan lingkungan hidup yang diakui UNESCO, dengan landasan riset yang kuat, penguatan tata kelola pemerintahan, dan koordinasi dengan pemangku kepentingan pada setiap cagar biosfer yang ada di Indonesia.

    Setiap cagar biosfer harus ditinjau kembali keberadaannya setiap sepuluh tahun sekali agar UNESCO dapat memberikan penilaian terhadap kegiatan pengelolaan yang telah dilakukan.

    Baca: BRIN tinjau tujuh cagar biosfer di Indonesia

    Program ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas konservasi berbasis lanskap, sejalan dengan dinamika lingkungan yang berubah, kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan lingkungan serta tantangan sosial ekonomi.

    Tujuh cagar biosfer yang akan melaporkan tinjauannya pada 2024 adalah Leuser, Siberut, Bromo Tengger Semeru Arjuno, Tanjung Puting, Takabonerate, Lore Lindu, dan Komodo.

    Ketua Komite Nasional MAB Indonesia Maman Turjaman menjelaskan, dalam pengembangan Cagar Biosfer sangat penting pendekatan berbasis lanskap yang menekankan pentingnya memahami kawasan konservasi sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas.

    Ini termasuk kawasan penyangga dan kawasan transisi yang melibatkan aktivitas manusia.

    Dalam cagar biosfer, wilayah inti dapat dilindungi secara ketat, sementara kawasan penyangga dan transisi diatur untuk memastikan penggunaan lahan yang berkelanjutan.

    Baca: Temu pengelola Kebun Raya di Indonesia

    “Dengan tinjauan berkala, dapat diidentifikasi intervensi yang lebih tepat sasaran, mulai dari pengelolaan kehati, peningkatan nilai sosial dan ekonomi hingga penyelesaian konflik manusia-satwa liar,” ujar Maman.

    Tinjauan berkala ini lanjut Maman, akan mengevaluasi berbagai aspek pengelolaan cagar biosfer.

    Tinjauan termasuk perlindungan sumber daya alam, tata kelola ekosistem, pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta pelibatan masyarakat lokal.

    Tinjauan ini juga membantu program mitigasi perubahan iklim yang diterapkan sejalan dengan kebijakan pemerintah dan agenda global, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Perjanjian Paris.

    Sumber:brin.go.id