Wujudkan Nol Emisi pada 2060, BRIN Kembangkan Riset Peta Ekosistem Energi Hidrogen

Written by

in

7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN telah melakukan riset dalam peta ekosistem energi hidrogen sebagai salah satu upaya mencapai target nol emisi pada 2060 .

Riset pengembangan ekosistem energi hidrogen yang dilakukan BRIN mulai dari penguasaan teknologi kunci, yaitu pengembangan material fuel cell dan elektrolisis, teknologi penyimpanan hidrogen, produksi energi hidrogen hijau

Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian mengatakan, pihaknya juga telah mengembangkan pemanfaatan energi hidrogen sebagai bahan bakar di sektor transportasi.

Amarulla mengatakan, target nol emisi pada 2060 harus dilakukan dengan mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan dan atau mengurangi emisi gas rumah kaca (greenhouse gas/GHG) seperti CO2.

Upaya tersebut merupakan bagian komitmen global untuk mencegah peningkatan suhu global hingga di bawah 1,5 derajat Celsius, melalui pengurangan sebesar satu miliar ton CO2 ekuivalen per tahun (Gt CO2e/year) pada 2030 hingga enam Gt CO2e/year pada 2050.

Baca: Mengenal enrgi hidrogen hijau dan potensinya

“Dengan menggunakan hidrogen sebagai sumber energi, Indonesia dapat menjadi pemasok pasar global dalam industri hidrogen,” ujarnya sebagaimana dikutip di laman resmi brin.go.id.

Sementara, Profesor Riset Bidang Teknologi Proses Elektrokimia pada Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN Eniya Listiani Dewi.

Menurutnya, titik kritis dalam pengurangan emisi karbon pada sektor industri dan transportasi adalah adopsi teknologi dan praktik berkelanjutan serta rendah emisi karbon.

Hal ini memerlukan pergeseran yang signifikan dari metode produksi dan penggunaan energi tradisional yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

“Untuk mencapai pengurangan emisi karbon, industri harus berinvestasi dalam sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air, serta teknologi dan proses yang efisien dalam penggunaan energi,” ujarnya.

Baca: Manfaat energi hidrogen hijau dalam transisi energi

Profesor Riset pada Pusat Riset Teknologi Industri Proses dan Manufaktur BRIN Bambang Widarsono mengungkapkan, Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen.

Dari jumlah tersebut, 18 diantaranya berstatus produktif penghasil minyak dan gas bumi (migas), sementara sisanya berstatus belum produktif.

Cekungan produktif, menurut Bambang, merupakan tempat penyimpanan yang tepat untuk gas rumah kaca, baik sebagai hasil samping dari produksi energi hidrogen maupun yang lainnya.

Demikian juga keberadaan akuifer (saline aquifer) pada seluruh cekungan tersebut juga dapat menjadi target Carbon Capture and Storage (CCS) yang baik.

“Dengan dimilikinya potensi penyimpan gas rumah kaca yang besar, Indonesia berkesempatan besar turut serta dalam peningkatan tren penggunaan hidrogen, sekaligus memenuhi komitmen nol emisi,” ujarnya.

Di sisi lain, Professor Riset pada Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup BRIN Irhan Febijanto menilai, adanya pemanfaatan bioCNG di sektor energi dan transportasi akan mendorong terjadinya transisi energi menuju pemanfaatan energi bersih.

Hal ini, ujarnya, tentu akan beririsan dengan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca.  

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *