Tag: daur ulang

  • Industri Daur Ulang Kekurangan Suplai Sampah Plastik, Bank Sampah Bisa Mengambil Peran

    Industri Daur Ulang Kekurangan Suplai Sampah Plastik, Bank Sampah Bisa Mengambil Peran

    7cloud.asiaIndonesian Plastics Recyclers (IPR) menyebutkan industri daur ulang di dalam negeri membutuhkan sebanyak dua juta ton sampah plastik per tahun, sementara pasokan baru terpenuhi satu juta ton.

    Menurut dia diperlukan kolaborasi antarsektor untuk memenuhi kebutuhan sampah plastik tersebut, namun sampah plastik yang masuk harus memenuhi kriteria tertentu agar dapat diterima oleh industri untuk dilakukan daur ulang.

    “Saat ini, industri masih kekurangan satu juta ton sampah plastik, sehingga membuka peluang besar bagi Bank Sampah untuk berperan lebih aktif,” kata, Ketua Umum IPR Ahmad Nuzuluddin dalam keterangannya Februari lalu.

    Kolaborasi itu dibutuhkan dari semua lini baik produsen-konsumen maupun pemerintah. Mulai dari produsen yang bertanggung jawab untuk mengolah kembali kemasan bekas pakainya dari konsumen.

    Masyarakat sebagai konseumen bertanggung jawab membuang dan memilah sampah, bank sampah yang mengumpulkan dan memilah sampah sesuai dengan nilai guna ulangnya.

    Baca: Sampah plastik dibahas di World Economic Forum

    Juga pendaur ulang yang bertanggung-jawab mengolah kembali kemasan-kemasan plastik agar dapat digunakan kembali dan punya nilai jual baru. Serta pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

    “Meskipun kami tidak pernah menolak barang yang dikirimkan oleh Bank Sampah, pengelompokan dan penyortiran yang lebih teliti masih dibutuhkan agar nilai sampah yang masuk ke industri tidak berkurang,” ujarnya.

    Jika semua komponen daur ulang bergerak bersama, tambahnya, hal itu tidak hanya bisa mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) tetapi juga menggerakkan perekonomian secara lebih efektif.

    Terkait hal itu produsen air minum dalam kemasan AQUA berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) beserta para mitra menggelar kegiatan Lelang Sampah

    Lelang sampah ini untuk menjadikan sampah yang telah dipilah dan dikumpulkan di Bank Sampah Unit (BSU) sebagai komoditas yang bernilai jual.

    Baca: Emisi sampah plastik bakal lampaui emisi batu bara

    Menurut Public Affairs and Sustainability Director Danone Indonesia Astri Wahyuni, kegiatan Lelang Sampah menjadi momentum untuk mempertemukan para pegiat Bank Sampah dengan para offtaker (pembeli) agar sampah yang telah dikumpulkan itu menjadi komoditas dan memiliki nilai jual.

    “Inisiatif dan inovasi lelang sampah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” katanya.

    Astri menambahkan atas berbagai upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan bersama para mitra telah berhasil mengumpulkan lebih dari 22.000 ton sampah plastik per tahun.

    Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Ade Palguna Ruteka, mengapresiasi sekaligus menilai hal itu merupakan langkah dan komitmen yang baik dari produsen air minum.

    Dia berharap hal itu dapat menjadi contoh yang menginspirasi bagi perusahaan-perusahaan lain.

    “Ke depannya, kami berencana untuk melaksanakan kegiatan ini secara rutin dan mengundang lebih banyak pihak untuk bergabung, termasuk Bank Sampah, Buyer/Offtaker, dan perusahaan penghasil kemasan plastik lainnya, guna bersama-sama menciptakan solusi yang lebih besar dan lebih berkelanjutan,” katanya.

    Baca: Perjalanan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global

  • Kenali 4 Jenis Plastik yang Dapat Didaur Ulang

    Kenali 4 Jenis Plastik yang Dapat Didaur Ulang

    7cloud.asia – Meski tergolong sebagai bahan yang sangat praktis, efisien, dan murah, plastik juga merupakan salah satu masalah terbesar bagi kelestarian lingkungan hidup kita.

    Dalam beberapa dekade terakhir, produksi plastik meroket di mana masyarakat dunia menggunakan plastik 20 kali lebih banyak daripada 50 tahun yang lalu.

    Masalahnya, lebih dari 90 persen sampah plastik berakhir di tempat pembuangan sampah dan masuk ke perairan laut, yang memicu sejumlah besar masalah bagi lingkungan.

    Belakangan, masyarakat dunia didorong untuk mendaur ulang plastik sebagai upaya untuk mengurangi sampah, seperti halnya mencari alternatif yang ramah lingkungan.

    Untuk menumbuhkan kesadaran cara menangani dan membuang plastik setelah digunakan sangat penting dalam mengurangi masalah plastik, kini para produsen menyertakan simbol daur ulang yang dicetak pada produk dan bahan plastik.

    Ada tujuh angka untuk menggolongkan plastik, tetapi yang menarik, angka-angka tersebut tidak sesuai dengan kemampuan plastik untuk didaur ulang. Dan, tak semua jenis plastik dapat didaur ulang.

    Baca: Cara mengurai sampah plastik dengan manfaatkan katalis dan kelembapan udara

    Lantas, plastik apa saja yang dapat didaur ulang? Berikut daftarnya seperti dikutip dari earth.org.

    Polyethylene terephthalate (PET)
    Plastik yang paling umum digunakan untuk kemasan sekali pakai untuk makanan dan minuman adalah PET () – lihat simbol daur ulang #1. Plastik ini kuat, ringan, dan murah untuk diproduksi oleh produsen.

    Dan dapat didaur ulang sepenuhnya. PET adalah plastik yang paling banyak didaur ulang di seluruh dunia dengan lebih dari 1,5 miliar pon plastik PET dikumpulkan dan didaur ulang di AS setiap tahun.

    PET dapat didaur ulang melalui pencucian dan peleburan ulang, dan berisiko rendah terhadap produk yang terurai. Saat ini, tingkat daur ulang PET di Eropa sekitar 52 persen sementara di AS sebesar 31 persen.

    PET daur ulang sering ditemukan dalam botol baru, pakaian seperti bulu polar, karpet, dan kantong tidur.

    High density polietilena (HDPE)
    Kependekan dari polietilena densitas tinggi, HPDE adalah plastik yang lebih kuat dan lebih berat yang tahan terhadap bahan kimia korosif.

    Baca: Indonesia jadi pioner pengolahan sampah plastik dengan teknologi radiasi

    Ini adalah plastik yang populer untuk pembotolan susu, deterjen, pemutih, dan sampo. Plastik ini juga sering ditemukan dalam kantong plastik. HPDE dapat didaur ulang, tetapi selalu tanyakan kepada otoritas setempat.

    Sekitar 12% dari semua kantong plastik dan 28% botol air dan susu didaur ulang di Inggris. HDPE daur ulang sering ditemukan dalam pipa, ubin lantai, lembaran dan plastik film, dan bahkan peti.

    Low Density polietilena (LDPE)
    Sama seperti HDPE, polietilena dengan kepadatan lebih rendah, atau LDPE tidak diterima secara luas dalam sebagian besar program tetapi dapat didaur ulang tergantung pada otoritas setempat.

    Ini adalah plastik keras fleksibel yang ditemukan dalam botol pencet seperti pasta gigi dan kantong roti. LDPE sering menerima kehidupan kedua sebagai pelapis tempat sampah.

    Polipropilena (PP)
    Polipropilena adalah plastik yang dapat didaur ulang dan telah diterima secara luas dalam program daur ulang.

    Karena titik lelehnya yang tinggi, PP sering digunakan sebagai wadah untuk cairan yang lebih hangat dan kemasan yang populer untuk yoghurt dan obat-obatan.

    Pastikan untuk membuang sisa makanan dan cairan sebelum didaur ulang. Anda akan menemukan PP daur ulang berakhir di sapu, sikat, dan baki plastik.

    Baca: Perkembangan pengolahan sampah plastik dengan teknologi radiasi

     

  • Mengenal PVC dan Polistirena: Jenis Plastik yang Tak Dapat Didaur Ulang

    Mengenal PVC dan Polistirena: Jenis Plastik yang Tak Dapat Didaur Ulang

    7cloud.asia – Plastik yang merupakan produk turunan dari minyak bumi tergolong sebagai bahan yang serba guna, sangat praktis, efisien, dan murah.

    Namun, sampah plastik juga merupakan salah satu sumber masalah terbesar bagi kelestarian lingkungan hidup.

    Dalam beberapa dekade terakhir, produksi plastik meroket di mana masyarakat dunia menggunakan plastik 20 kali lebih banyak daripada 50 tahun yang lalu.

    Masalahnya, lebih dari 90 persen sampah plastik berakhir di tempat pembuangan sampah dan masuk ke perairan laut, yang memicu sederet masalah bagi lingkungan.

    Belakangan, masyarakat dunia didorong untuk mendaur ulang plastik sebagai upaya untuk mengurangi sampah, seperti halnya mencari alternatif yang ramah lingkungan.

    Baca: Empat jenis plastik yang dapat didaur ulang

    Sebelum didaur ulang, plastik disortir berdasarkan jenis polimer, baik oleh konsumen maupun oleh pabrik daur ulang untuk memastikan semua kontaminan telah dihilangkan.

    Setelah disortir dan dibersihkan, plastik dapat dicacah atau dicairkan menjadi pelet sebelum akhirnya dicetak menjadi produk baru.

    Ada tujuh angka untuk menggolongkan plastik, tetapi yang menarik, angka-angka tersebut tidak sesuai dengan kemampuan plastik untuk didaur ulang.

    Yang pasti, kemasan atau bahan plastik apa pun yang memiliki simbol #7 dan “Lainnya” tidak termasuk dalam kategori plastik dapat didaur ulang.

    Ini sering kali termasuk polikarbonat (yang mengandung BPA) dan PLA (asam polilaktat). Lantas, plastik apa saja yang tidak dapat didaur ulang? Berikut daftarnya seperti dikutip dari earth.org.

    Baca: Mengurai sampah plastik dengan memanfaatkan katalis dan kelembapan udara

    Polivinil klorida (PVC)
    Polivinil klorida dan vinil tidak dapat didaur ulang karena klorin melepaskan bahan beracun dan larut dalam proses daur ulang.

    Karena merupakan plastik yang lebih kuat dan tahan lama, PVC biasanya digunakan dalam plastik pembungkus, selang, dan sebagian besar botol sampo dan minyak goreng.

    Polistirena (PS)
    Yang paling dikenal sebagai Styrofoam, plastik polistirena adalah salah satu pencemar plastik terburuk.

    Meskipun banyak perusahaan telah beralih ke plastik yang dapat terurai secara hayati, sebagian besar wadah dan kemasan makanan masih menggunakan polistirena, yang tidak dapat didaur ulang.

    PS juga digunakan untuk insulasi, kacang pengemas, dan bahan berbusa apa pun. Jadi, sebaiknya hindari penggunaan produk apa pun yang terbuat dari polietilena.

    Baca: Indonesia jadi pioner pengolahan sampah plastik dengan teknologi radiasi

  • Ekonomi Sirkular: Sejumlah Produsen Mulai Terapkan Daur Ulang Produknya

    Ekonomi Sirkular: Sejumlah Produsen Mulai Terapkan Daur Ulang Produknya

    7cloud.asia – Banyak orang membuat, mengonsumsi, dan membuang barang tanpa menyadari bahwa masih banyak barang yang terbuang menjadi sampah/limbah daripada yang terlihat.

    Sementara beberapa bahan mengalami degradasi dengan setiap upaya daur ulang, bahan lain dapat diubah tanpa henti, tanpa kehilangan nilainya.

    Memahami mana bahan yang dapat didaur-ulang dan tidak, dapat mengubah cara kita membangun, membeli, dan berpikir tentang keberlanjutan.

    Ekstraksi dan pemrosesan material mentah menyumbang hampir setengah dari emisi global. Ekstrasi bahan mentah juga menyumbang lebih dari 90 persen hilangnya keanekaragaman hayati dan tekanan air.

    Melalui perbaikan, pembuatan ulang, penggunaan kembali, daur ulang, dan desain cerdas, ekonomi sirkular dapat secara drastis menurunkan emisi Cakupan 1, 2, dan 3.

    Ekonomi sirkular atau daur ulang juga mengurangi ketergantungan pada ekstraksi sumber daya mentah, dan menyelaraskan produksi dengan batas yang bisa ditolerir planet Bumi.

    Saat prinsip ekonomi sirkular dan daur ulang mendapatkan perhatian secara global, beberapa perusahaan telah membuka jalan dengan solusi yang kreatif dan berdampak tinggi.

    Baca: Empat jenis plastik yang dapat didaur ulang

    Apple: Mendesain untuk Pembongkaran
    Pada tahun 2021, Apple mengumumkan akan menyediakan komponen untuk memperbaiki perangkatnya bagi konsumen perorangan, langkah pertamanya untuk bergabung dengan gerakan hak untuk memperbaiki.

    Perusahaan teknologi tersebut telah berinvestasi besar dalam pemulihan material. Robot internalnya, Daisy, dapat membongkar 200 iPhone per jam, mengambil elemen tanah jarang, emas, dan aluminium dari perangkat lama.

    Material ini kemudian didaur ulang menjadi produk baru, menjaga sumber daya yang berharga dalam siklus tertutup.

    Patagonia: Perbaikan, Penjualan Kembali, Pemakaian Kembali
    Program Worn Wear Patagonia adalah contoh cemerlang dari ekonomi sirkular di sektor tekstil. Pelanggan dapat mengembalikan perlengkapan bekas, yang diperbaiki dan dijual kembali, atau digunakan kembali menjadi desain baru.

    Merek tersebut juga menggunakan poliester daur ulang dan bereksperimen dengan bahan yang sepenuhnya sirkular yang dapat digunakan kembali berkali-kali.

    Baca: Industri daur ulang kekurangan suplai sampah plastik

    IKEA: Furnitur Sebagai Layanan Sirkular
    IKEA sedang menguji coba program yang mendesain furnitur agar dapat dibongkar, diperbarui, dan dijual kembali.

    Perusahaan asal Swedia ini memperkenalkan skema Beli Kembali & Jual Kembali, yang mengubah furnitur lama menjadi pendapatan baru, bukan tempat pembuangan sampah.

    Ini adalah pendekatan produk sebagai layanan yang menempatkan penggunaan kembali sebagai inti dari pengalaman pelanggan.

    Ekonomi sirkular membuat teknologi bersih menjadi lebih bersih
    Sektor energi bersih dibangun atas dasar keberlanjutan, tetapi ironisnya, infrastrukturnya tidak selalu sirkular. Panel surya dan bilah turbin angin menimbulkan tantangan limbah besar-besaran di akhir masa pakainya.

    Panel surya tradisional sulit didaur ulang karena lapisan kaca, silikon, dan logamnya yang rumit. Namun, perusahaan seperti First Solar memelopori daur ulang siklus tertutup, memulihkan hingga 90 persen material (seperti kadmium dan telurium) untuk membuat panel baru.

    Sementara itu, dalam sistem siklus terbuka, kaca dari panel yang dinonaktifkan digunakan kembali menjadi insulasi wol kaca, dan rangka digunakan kembali dalam konstruksi, sehingga memperpanjang masa pakai material di sektor-sektor baru.

    Bilah turbin angin terbuat dari material komposit yang sulit dipecah. Namun, solusinya mulai bermunculan. Siemens Gamesa telah menciptakan RecyclableBlades, yang menggunakan sistem resin yang dapat dilarutkan dan dipulihkan di akhir masa pakainya.

    Dengan cara siklus terbuka, bilah lama telah digunakan kembali menjadi jembatan pejalan kaki, taman skate, dan bahkan elemen arsitektur.

    Beberapa perusahaan menggilingnya menjadi material pengisi untuk produksi semen, sehingga memberikan fungsi baru pada apa yang dulunya merupakan limbah.

     

     

  • Daur Ulang Tak Akan Mampu Imbangi Ledakan Polusi Plastik, Ini yang Harus Dilakukan Dunia

    Daur Ulang Tak Akan Mampu Imbangi Ledakan Polusi Plastik, Ini yang Harus Dilakukan Dunia

    7cloud.asia – Polusi plastik merupakan salah satu ancaman lingkungan paling serius yang dihadapi planet Bumi dan makhluk hidup yang menghuninya.

    Namun, Kepala Cabang Sumber Daya dan Pasar Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Elisa Tonda mengatakan polusi plastik adalah masalah yang dapat diatasi.

    “Melakukan hal itu tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan manusia dan planet, tetapi juga membuka sejumlah peluang ekonomi.” ujarnya

    Salah satunya mengekang polusi dari produk plastik sekali pakai dan mendesain ulang produk plastik agar lebih tahan lama.

    Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, berikut ini adalah tinjauan lebih dekat tentang apa itu polusi plastik, mengapa hal itu menjadi masalah besar, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

    Bisakah daur ulang saja mengakhiri krisis polusi plastik?
    Daur ulang tidak akan mampu mengakhiri krisis akibat polusi plastik. Hanya sekitar 9 persen plastik yang benar-benar didaur ulang, menurut sebuah studi dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

    Baca: Pertanyaan yang sering muncul terkait polusi plastik

    Dilansir unep.org, ada beberapa alasan untuk itu. Banyak produk plastik tidak dirancang untuk digunakan kembali dan didaur ulang. Beberapa terlalu tipis untuk didaur ulang, sementara yang lain hanya dapat didaur ulang sekali atau dua kali.

    Banyak negara kekurangan infrastruktur untuk mengumpulkan dan mendaur ulang sampah plastik.

    Namun mungkin masalah terbesarnya: sistem daur ulang tidak dapat mengimbangi ledakan sampah plastik. Produksi plastik global meningkat dua kali lipat antara tahun 2000 dan 2019.

    Bagaimana dunia dapat mengatasi polusi plastik?
    Masyarakat dunia perlu berpikir besar. Itu berarti melihat lebih jauh dari sekadar daur ulang dan menemukan cara untuk membatasi masalah lingkungan dan kesehatan yang disebabkan oleh polusi plastik.

    Ini berarti melihat setiap tahap kehidupan produk, dari produksi, desain, dan konsumsi hingga pembuangannya. Ini dikenal sebagai pendekatan siklus hidup. Dalam praktiknya, itu berarti mengurangi ketergantungan kita pada produk plastik sekali pakai.

    Untuk itu masyarakat dunia harus mendesain ulang produk plastik agar lebih awet, tidak terlalu berbahaya, dan dapat digunakan kembali serta didaur ulang.

    Baca: Upaya Dunia mengakhiri polusi plastik

    Artinya, menemukan alternatif plastik dalam berbagai produk. Dan, ini berarti mencegah plastik mencemari lingkungan.

    Muncul pertanyaan, apakah cara ini tidak mahal? Jawabannya adalah belum tentu. Pemerintah, perusahaan, kelompok nirlaba, dan masyarakat di seluruh dunia telah meluncurkan solusi inovatif untuk mengakhiri polusi plastik.

    Dan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan siklus hidup dapat menghemat biaya sosial dan lingkungan dunia hingga 4,5 triliun dolar hingga tahun 2040.

    “Kita harus berhenti menganggap solusi polusi plastik sebagai beban,” kata Tonda. “Itu adalah investasi untuk masyarakat dan planet yang sehat—hal-hal yang akan memberikan keuntungan bagi generasi mendatang.”

    Apa yang dilakukan dunia untuk mengatasi polusi plastik? Banyak negara menangani polusi di tingkat nasional dengan undang-undang yang dirancang untuk mengendalikan penggunaan produk plastik sekali pakai dan memaksa produsen plastik untuk bertanggung jawab jangka panjang atas produk mereka.

    Namun, karena polusi plastik merupakan masalah lintas batas, kerja sama internasional menjadi sangat penting. Itulah sebabnya negara-negara kini tengah merundingkan perjanjian global untuk mengakhiri polusi plastik.

    Baca: Upaya perusahaan global dalam mengurangi sampah plastik

    Komite Negosiasi Antarpemerintah – yang bertugas mengembangkan kesepakatan tersebut—akan bertemu untuk bagian kedua dari sesi kelimanya dari tanggal 5 hingga 14 Agustus 2025 di Jenewa, Swiss.

    Para ahli mengatakan bahwa pembicaraan tersebut merupakan pengakuan para pemimpin dunia atas parahnya krisis polusi plastik dan perlunya perjanjian yang mengikat secara hukum untuk mengatasinya.

    Ada begitu banyak urgensi untuk mengatasi polusi plastik. Tanpa tindakan tegas, masalah polusi plastik hanya akan bertambah buruk.

    Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan bahwa pada tahun 2060, sampah plastik akan meningkat hampir tiga kali lipat menjadi satu miliar ton per tahun.

    Jika tren saat ini terus berlanjut, hal ini akan menyebabkan peningkatan polusi plastik, dengan hampir setengah dari sampah plastik yang baru dihasilkan dibuang ke tempat pembuangan akhir, dibakar, atau hilang ke lingkungan.

    Baca: Sirkularitas sangat dibutuhkan untuk atasi polusi plastik

  • Produksi Sampah Singapura Menurun Signifikan dalam 10 Tahun Terakhir

    Produksi Sampah Singapura Menurun Signifikan dalam 10 Tahun Terakhir

    7cloud.asia – Produksi sampah domestik harian di Singapura telah menurun stabil sepanjang satu dekade terakhir, merosot dari 1,05 kilogram per kapita pada 2014 menjadi 0,85 kilogram per kapita pada 2024.

    Menurut data yang dirilis oleh Badan Lingkungan Nasional (National Environment Agency/NEA) Singapura, Rabu (23/7/2025), produksi sampah di lokasi industri dan komersial juga menurun.

    Jumlah sampah nondomestik harian yang dihasilkan per miliar dolar Singapura dari produk domestik bruto (PDB) turun dari sekitar 35 ton pada 2014 menjadi sekitar 23 ton pada 2024.

    Baca: Start Up dari Singapura ubah sampah Makanan jadi produk bernilai tinggi

    Kendati demikian, tingkat daur ulang keseluruhan di Singapura merosot dari 60 persen menjadi 50 persen dalam periode yang sama.

    NEA mengaitkan penurunan tingkat daur ulang tersebut pada dua faktor utama. Pertama, terjadi penurunan volume limbah konstruksi dan pembongkaran bangunan, serta limbah terak bekas.

    Mengingat aliran limbah ini hampir seluruhnya didaur ulang, berkurangnya kuantitas limbah tersebut menyebabkan dampak yang signifikan terhadap tingkat daur ulang secara keseluruhan.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Kedua, tingkat daur ulang kertas menurun dari 52 persen pada 2014 menjadi 32 persen pada 2024, yang didorong oleh berbagai faktor seperti biaya pengumpulan dan pengangkutan dan harga komoditas.

    Ke depannya, badan tersebut menyampaikan bahwa pihaknya akan melanjutkan berbagai upaya untuk mengurangi produksi sampah dan meningkatkan praktik daur ulang.

    Fokus utama akan meliputi makanan, kertas, dan plastik, yang menjadi penyumbang terbesar limbah yang belum didaur ulang di Singapura.

  • Pengembangan Industri Daur Ulang di Aceh dengan Nilai Investasi 1,3 Miliar Dolar

    Pengembangan Industri Daur Ulang di Aceh dengan Nilai Investasi 1,3 Miliar Dolar

    7cloud.asia – PT Aceh Green Industri (AGI) menyatakan akan berinvestasi senilai 1,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) di Aceh dengan membangun fasilitas pengolahan dan pemulihan atau daur ulang tembaga serta litium di Aceh.

    Pelaksana Harian Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh Rahmadhani menyambut baik rencana investasi industri daur ulang ini, dan berjanji akan mempermudah pengurusan izin.

    “Kami menyambut baik rencana investasi ini dan Pemerintah Aceh siap untuk memfasilitasi proses kehadiran industri ini,” katanya, di Banda Aceh, Selasa (26/8/2025) seperti dilansir Antaranews.com

    Ia menjelaskan DPMPTSP Aceh akan memastikan kemudahan dalam pengurusan perizinan yang mencakup izin pendirian pabrik, izin operasi, izin ekspor-impor, izin penggunaan lahan, hingga Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

    Baca: BRIN kembangkan teknologi daur ulang baterai bekas

    Menurut dia, kehadiran proyek strategis di kawasan Aceh Besar itu diproyeksikan akan menciptakan 2.000 lapangan kerja dan secara signifikan mengurangi emisi karbon hingga 2 juta ton per tahun.

    Menurut dia, rencana investasi besar tersebut menjadi agenda utama dalam rapat fasilitasi yang digelar oleh DPMPTSP Aceh.

    Direktur Utama PT Aceh Green Industri, Munawar Khalil menyatakan komitmen investasi tersebut akan direalisasikan setelah semua perizinan dilengkapi oleh perusahaan untuk menjalankan usahanya.

    “Perusahaan siap mendukung proyek pengolahan dan pemulihan baterai lithium dengan melibatkan teknologi ramah lingkungan,” kata Munawar.

    Baca: Bioleaching, teknologi pengolahan bijih nikel secara ramah lingkungan

    PT Aceh Green Industri akan segera melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pengajuan izin dan membangun koordinasi lebih lanjut dengan Bea Cukai, KSOP, dan perusahaan pelayaran.

    Mereka juga akan menggelar pertemuan lanjutan dengan PT Pembangunan Aceh (PEMA) untuk mematangkan persiapan proyek.

    Perwakilan PT AGI, Michael Soh dalam pertemuan tersebut memaparkan bahwa fasilitas tersebut akan menjadi pabrik daur ulang yang 100 persen ramah lingkungan, dengan fokus pada kumparan motor kendaraan listrik (EV) dan baterai lithium-ion.

    Ia mengatakan pembangunan akan dilakukan dalam dua tahap, dimulai dengan pabrik di atas lahan 10 hektare yang ditargetkan beroperasi dalam 10 bulan, diikuti pengembangan di lahan seluas 90 hektare.

    “Proyek ini menggunakan teknologi pemulihan berbasis AI dengan efisiensi hingga 99 persen serta ekstraksi material berkemurnian tinggi yang sesuai standar global,” kata Michael.

  • Industri Daur Ulang Kekurangan Bahan Baku Berkualitas, DPR Dorong Edukasi Pemilahan Sampah

    Industri Daur Ulang Kekurangan Bahan Baku Berkualitas, DPR Dorong Edukasi Pemilahan Sampah

    7cloud.asia – Sektor daur ulang plastik terus didorong pemerintah. Sektor ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan pajak, tetapi juga membantu pengurangan emisi karbon serta volume sampah nasional.

    Sayangnya, industri daur ulang plastik masih menghadapi masalah kualitas impuritas bahan baku lokal yang rendah, sekitar 30-70 persen, sementara bahan impor hanya sekitar 2 persen.

    Anggota Komisi VII DPR Samuel Wattimena menilai, rendahnya kualitas bahan baku daur ulang di dalam negeri berkaitan erat dengan lemahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah.

    “Kita punya banyak tempat sampah terpisah di ruang publik, tapi praktiknya masyarakat tetap mencampur sampah di satu wadah. Sosialisasi dan edukasi di tingkat RT, RW, hingga PKK masih lemah,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII dengan Dirjen IKFT Kementerian Perindustrian dan Asosiasi-Asosiasi di Jakarta, Rabu (12/11/2025).

    Untuk mengatasi hal tersebut, Samuel mendorong kolaborasi antara Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), pemerintah daerah, dan kementerian terkait, terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), guna memperkuat edukasi publik mengenai pengelolaan sampah.

    Baca: Warga Jakarta didorong untuk memilah sampah dari rumah

    “ADUPI sudah bekerja keras di 20 daerah dari 38 provinsi, tapi ini bukan tugas yang bisa mereka pikul sendiri. Diperlukan dukungan dan sinergi dari semua pihak,” tegasnya.

    Legislator dari Dapil Jawa Tengah 1 ini menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran dan edukasi masyarakat dalam pemilahan sampah sebagai langkah nyata menuju penerapan green industry atau industri ramah lingkungan di Indonesia.

    Ia juga mengapresiasi kinerja sektor industri daur ulang yang dinilainya telah memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi nasional.

    “Kalau kita bicara mengenai green industry, apa yang dilakukan ADUPI) ini bisa menjadi awal bagi seluruh industri di Indonesia untuk bertransformasi menuju industri yang lebih ramah lingkungan,” ujar Samuel

    Baca: Upaya Pemprov DKI Jakarta membangun budaya memilah sampah

    Politisi PDI Perjuangan ini juga menyoroti pentingnya inovasi teknologi dalam pengumpulan sampah plastik. Ia mencontohkan beberapa daerah yang telah menerapkan mesin penukar botol plastik dengan insentif seperti tiket atau voucher.

    “Alat semacam ini memang tidak murah, tapi bisa menjadi langkah efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan memperbaiki kualitas bahan daur ulang,” ujarnya.

    Samuel mengaku turut menghadapi persoalan serupa di wilayahnya, seperti di Semarang dan Kendal. Ia berharap isu daur ulang plastik dan pengelolaan sampah dapat menjadi bagian integral dari strategi besar pengembangan industri hijau nasional.

    Informasi tentang jenis plastik yang bisa atau tidak bisa didaur ulang saja masih banyak yang belum diketahui masyarakat. Padahal, pemahaman ini penting agar gerakan green industry benar-benar tumbuh dari kesadaran publik.

    “Saya berharap langkah ADUPI ini bisa menjadi cikal bakal bagi seluruh industri di Indonesia menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan,” pungkasnya.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

  • Sampah Elektronik Menumpuk Karena Produk Elektronik Tidak Dirancang untuk Didaur-ulang

    Sampah Elektronik Menumpuk Karena Produk Elektronik Tidak Dirancang untuk Didaur-ulang

    7cloud.asia – Daur ulang e-waste atau sampah elektronik tidak hanya mencegah zat beracun masuk ke dalam tubuh manusia dan lingkungan, tetapi juga mengurangi dampak lingkungan berbahaya yang ditimbulkan oleh ekstraksi dan penambangan bahan baku baru.

    Selain itu, potensi manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari daur ulang sampah elektronik juga sangat besar. Sampah elektronik yang dibuang pada tahun 2019 saja bernilai lebih dari 57 miliar dolar AS.

    Namun, kabar buruknya, banyak produk elektronik yang dirancang tidak ramah daur ulang. Menurut data Statista, hanya 17,4 persen sampah elektronik yang terdokumentasi didaur ulang pada tahun 2019.

    Dilansir Earth.org, hal ini sebagian disebabkan oleh fakta bahwa banyak perangkat elektronik saat ini tidak dirancang untuk didaur ulang.

    Baca: Sampah elektronik butuh penanganan khusus karena mengandung bahan berbahaya

    Ponsel pintar menjadi lebih ringan dan ramping, dan baterainya tidak lagi dapat dilepas, membuat proses daur ulang menjadi jauh lebih sulit dan padat karya.

    Pemilahan manual mengharuskan pekerja untuk terus-menerus terpapar zat beracun, meskipun dalam kadar rendah, dalam jangka waktu yang lama.

    Sementara itu, perangkat elektronik yang sulit didaur ulang ini membutuhkan fasilitas untuk terus memperbarui mesin mereka agar dapat mengikuti perkembangan teknologi.

    Kondisi ini mengurangi insentif atau dana yang tersedia bagi bisnis untuk mendaur ulang limbah elektronik yang sudah sulit dibongkar.

    Baca: Konsumen perlu suarakan “Hak untuk Memperbaiki“ untuk kurangi sampah elektronik

    Masalah lain yang dihadapi industri daur ulang sampah elektronik adalah, saat ini, hanya 10 dari 60 unsur kimia yang terdapat dalam limbah elektronik yang dapat didaur ulang melalui pemrosesan mekanis.

    Unsur itu antara lain emas, perak, platinum, kobalt, timah, tembaga, besi, aluminium, dan timbal.

    Masih banyak masalah yang perlu diatasi sebelum industri ini dapat mencapai potensi penuhnya, termasuk produsen dan perancang produk elektronik yang lebih ramah daur ulang.

    Selain itu juga dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang pemrosesan mekanis dalam daur ulang unsur-unsur kimia dalam sampah elektronik ini.

  • Seperti Ini Rumitnya Daur Ulang Sampah Elektronik

    Seperti Ini Rumitnya Daur Ulang Sampah Elektronik

    7cloud.asia – Daur ulang sampah elektronik memiliki berbagai manfaat selain melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.

    Daur ulang sampah elektronik juga memiliki manfaat ekonomi yang sangat besar. Sampah elektronik yang dibuang pada tahun 2019 saja bernilai lebih dari 57 miliar dolar AS.

    Sebagian besar bahan penyusun komputer dan ponsel pintar berasal dari mineral tak terbarukan; mendaur ulang bahan-bahan ini dapat mencegah terhentinya pasokan barang-barang konsumsi yang tak terelakkan dalam hidup kita hingga ditemukan penggantinya.

    Meskipun dalam kasus tertentu, sumber daya tak terbarukan tidak selalu langka, daur ulang mineral tak terbarukan yang umum tetap memiliki manfaat ekonomi.

    Namun demikian, daur ulang sampah elektronik jauh lebih rumit daripada daur ulang limbah konvensional. Hal ini karena biasanya produk elektronik dibuat kompak sehingga butuh proses yang lebih rumit.

    Langkah pertama dalam proses daur ulang sampah elektronik adalah pemilahan manual. Setelah sampah elektronik dikumpulkan dan diangkut ke fasilitas daur ulang, petugas memilah sampah elektronik ke dalam kategori berdasarkan jenis dan modelnya.

    Kemudian, semua perangkat elektronik akan diperiksa, dan komponen yang masih berfungsi akan diekstraksi untuk digunakan kembali.

    Komponen-komponen tersebut dapat dijual sebagai komponen terpisah atau digabungkan untuk membentuk ponsel atau komputer baru. Limbah elektronik yang tersisa dan tidak berfungsi akan dikirim ke proses daur ulang.

    Di sini, sampah elektronik dimasukkan ke dalam mesin raksasa dan dicacah menjadi potongan-potongan kecil, tetapi sebelum itu, limbah elektronik harus melalui proses yang disebut de-manufaktur, yaitu tindakan pembongkaran produk menjadi komponen-komponen.

    Prosedur ini bertujuan untuk menghilangkan semua bahan yang berpotensi berbahaya dalam perangkat elektronik yang dapat merusak mesin atau mencemari lingkungan setelah dibuang ke tempat pembuangan akhir.

    Misalnya, toner yang terdapat pada mesin fotokopi sangat mudah terbakar dan meledak, dan tentu saja dapat meledakkan peralatan pemrosesan jika dihancurkan, mengingat banyak hal yang dapat menjadi sumber bahan bakar, seperti plastik. Proses ini sangat penting dan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil.

    Setelah limbah dihancurkan, logam, bagian berharga yang menjadikan daur ulang limbah elektronik sebagai industri yang menguntungkan, akan dipisahkan. Berbeda dengan sesi sebelumnya, proses ini tidak memerlukan pemilahan manual.

    Sebuah magnet raksasa pertama-tama akan menarik semua material feromagnetik, seperti besi dan baja, yang memiliki kerentanan tinggi terhadap magnetisasi.

    Kemudian, pemrosesan mekanis lebih lanjut memisahkan logam dan paduan lainnya berdasarkan hukum fisika yang disebut Arus Eddy.

    Di mana material paramagnetik, material yang tertarik lemah ke magnet, akan terpantul ketika arus listrik diinduksi oleh medan magnet bolak-balik dengan gaya tolak, sementara material non-magnetik lainnya, seperti plastik, akan tetap mengalir.

    Selanjutnya, limbah dipisahkan lebih lanjut dengan air. Pada tahap ini, hampir semua yang tersisa adalah material non-magnetik;

    Material-material tersebut akan melewati mesin lain berisi air, di mana material dengan kepadatan relatif rendah, kebanyakan plastik, akan mengalir, sementara material lain, seperti kaca, akan tenggelam.

    Terakhir, sebelum material daur ulang dijual, perlu diperiksa apakah masih ada material berharga yang tersisa dan menempel pada plastik.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Tin Lok Wu pemerhati isu lingkungan. Ikuti artikel asli di sini.