7cloud.asia – Indonesian Plastics Recyclers (IPR) menyebutkan industri daur ulang di dalam negeri membutuhkan sebanyak dua juta ton sampah plastik per tahun, sementara pasokan baru terpenuhi satu juta ton.
Menurut dia diperlukan kolaborasi antarsektor untuk memenuhi kebutuhan sampah plastik tersebut, namun sampah plastik yang masuk harus memenuhi kriteria tertentu agar dapat diterima oleh industri untuk dilakukan daur ulang.
“Saat ini, industri masih kekurangan satu juta ton sampah plastik, sehingga membuka peluang besar bagi Bank Sampah untuk berperan lebih aktif,” kata, Ketua Umum IPR Ahmad Nuzuluddin dalam keterangannya Februari lalu.
Kolaborasi itu dibutuhkan dari semua lini baik produsen-konsumen maupun pemerintah. Mulai dari produsen yang bertanggung jawab untuk mengolah kembali kemasan bekas pakainya dari konsumen.
Masyarakat sebagai konseumen bertanggung jawab membuang dan memilah sampah, bank sampah yang mengumpulkan dan memilah sampah sesuai dengan nilai guna ulangnya.
Baca: Sampah plastik dibahas di World Economic Forum
Juga pendaur ulang yang bertanggung-jawab mengolah kembali kemasan-kemasan plastik agar dapat digunakan kembali dan punya nilai jual baru. Serta pemerintah sebagai pengambil kebijakan.
“Meskipun kami tidak pernah menolak barang yang dikirimkan oleh Bank Sampah, pengelompokan dan penyortiran yang lebih teliti masih dibutuhkan agar nilai sampah yang masuk ke industri tidak berkurang,” ujarnya.
Jika semua komponen daur ulang bergerak bersama, tambahnya, hal itu tidak hanya bisa mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) tetapi juga menggerakkan perekonomian secara lebih efektif.
Terkait hal itu produsen air minum dalam kemasan AQUA berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) beserta para mitra menggelar kegiatan Lelang Sampah
Lelang sampah ini untuk menjadikan sampah yang telah dipilah dan dikumpulkan di Bank Sampah Unit (BSU) sebagai komoditas yang bernilai jual.
Baca: Emisi sampah plastik bakal lampaui emisi batu bara
Menurut Public Affairs and Sustainability Director Danone Indonesia Astri Wahyuni, kegiatan Lelang Sampah menjadi momentum untuk mempertemukan para pegiat Bank Sampah dengan para offtaker (pembeli) agar sampah yang telah dikumpulkan itu menjadi komoditas dan memiliki nilai jual.
“Inisiatif dan inovasi lelang sampah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” katanya.
Astri menambahkan atas berbagai upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan bersama para mitra telah berhasil mengumpulkan lebih dari 22.000 ton sampah plastik per tahun.
Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Ade Palguna Ruteka, mengapresiasi sekaligus menilai hal itu merupakan langkah dan komitmen yang baik dari produsen air minum.
Dia berharap hal itu dapat menjadi contoh yang menginspirasi bagi perusahaan-perusahaan lain.
“Ke depannya, kami berencana untuk melaksanakan kegiatan ini secara rutin dan mengundang lebih banyak pihak untuk bergabung, termasuk Bank Sampah, Buyer/Offtaker, dan perusahaan penghasil kemasan plastik lainnya, guna bersama-sama menciptakan solusi yang lebih besar dan lebih berkelanjutan,” katanya.
Baca: Perjalanan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global









