Tag: daur ulang

  • Bisa Rusak Ekosistem, Kenali Simbol Daur Ulang dan Jenis Plastik Sebelum Menggunakannya

    Bisa Rusak Ekosistem, Kenali Simbol Daur Ulang dan Jenis Plastik Sebelum Menggunakannya

    7cloud.asia – Sejak ditemukan seabad silam, plastik menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia.

    Plastik digunakan untuk beragam hal seperti botol kemasan, pembungkus makanan, peralatan kebutuhan rumah tangga, peralatan otomotif, wadah penyimpanan, dan berbagai kegunaan lainnya.

    Namun, di balik segudang manfaatnya plastik punya dampak negatif. Ini karena plastik butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai. Sehingga limbah plastik yang dibuang sembarangan juga mengancam keseimbangan ekosistem sungai dan laut. 

    Limbah plastik yang dibuang sembarangan dapat menghambat intensitas resapan air ke dalam tanah.

     

    Alasan inilah yang mendorong dilakukan kampanye besar-besaran untuk meninggalkan  plastik sekali pakai dan mengurangi sebanyak mungkin penggunaan plastik, seiring dengan kampanye untuk mendaur ulang plastik.

    Baca: Cara Coldplay agar turnya ramah lingkungan

    Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana mengenali bahwa plastik yang kita gunakan bisa didaur ulang atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan ini, adalah dengan mengenali simbol-simbol daur ulang yang biasa disematkan produsen dalam produk plastik yang mereka hasilkan.

    Simbol tersebut biasanya berbentuk segitiga dengan angka di dalamnya dan terletak di bagian bawah kemasan plastik. Simbol itu sangat penting untuk mengenali keamanan dan apakah jenis plastik tersebut dapat didaur ulang atau tidak. 

    Beberapa simbol plastik daur ulang yang perlu kita ketahui:

    1. PETE (1)

    Jenis plastik ini hanya bisa digunakan sekali pakai. Tidak disarankan untuk menggunakan berulang kali, terutama mengisinya dengan air hangat karena lapisan polimer dan zat karsinogenik pada plastik dapat larut atau lepas dan menyebabkan kanker pada organ tubuh manusia.

    Sebisa mungkin hindari menggunakan plastik jenis ini, karena menggunakannya berarti kamu akan menambah beban bagi lingkungan.

    Baca: 5 syarat agar sebuah produk masuk kategori ramah lingkungan

    1. HDPE (2)

    Simbol ini digunakan untuk sebuah plastic yang terbuat dari high desity polyethylene yang biasanya digunakan untuk gallon air minum, botol shampo, dan plastik kemasan tebal lainnya.

    Jenis plastik ini termasuk golongan plastik yang cukup aman digunakan berulang kali karena paling sering didaur ulang dengan nilai ekonomi dan proses daur ulang yand sederhana.

    Kamu juga bisa mengumpulkan plastik jenis ini dan memberikannya kepada pemulung untuk didaur ulang.

    1. PVC (3)

    Barang-barang plastik yang terbuat dari plastik polyvinyl chloride ini sering juga disebut dengan “plastik beracun” karena mengandung berbagai macam bahan kimia beracun yang dapat larut dan berbahaya bagi kesehatan.

    Sehingga perlu dihindari menggunakan jenis plastik ini untuk kemasan makanan dan minuman.

    Baca: Aksi lima anak muda asal Bandung ini layak ditiru

    1. LDPE (4)

    Jenis plastik ini terbuat dari bahan low density polyethylene yang bersifat elastis, memiliki daya tahan yang lama dan dapat digunakan untuk berulang kali. Biasanya terdapat pada kantong plastik (kresek), kantong plastik sampah, tas belanja, hingga bungkus makanan.

    1. PP (5)

    Simbol ini digunakan untuk plastik yang terbuat dari polypropylene. Barang plastik dengan simbol ini baik digunakan sebagai tempat makanan maupun minuman karena terbuat dari polypropylene yang sangat kuat dan cukup aman digunakan meski pada suhu yang panas.

    1. PS (6)

    Plastik jenis ini terbuat dari polystyrene yang banyak digunakan sebagai tempat makan syrofoam, tempat telur, sendok/garpu plastik, foam packaging hingga bahan bangunan (bahan flooring). Plastik ini dapat mengeluarkan styrene yang merupakan zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker.

    1. Other (7)

    Penggunaan jenis plastik ini untuk makanan atau minuman sangat berbahaya karena bisa menghasilkan racun Bisphenol-A (BPA) yang bisa menimbulkan kerusakan pada beberapa organ dan menggangu hormone tubuh. Simbol ini biasanya digunakan pada plastic untuk botol minum bayi, botol minum olahraga, smartphone cases, dan compact disk 

    Baca: Tips mudik yang ramah lingkungan

    Itu adalah simbol dan jenis plastik yang perlu diketahui sebelum menggunakannya. Hati-hati ya saat menggunakan kemasan plastik pada makanan/minuman anda. Yuk bersama-sama memulai untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai demi bumi dan lingkungan yang lebih sehat.

    Guna mengurangi dampak negatif dari limbah plastik yang berlebihan, kini muncul berbagai upaya untuk melakukan daur ulang (recycling). Limbah plastik diolah kembali menjadi bahan baru yang bisa digunakan lagi. 

    Ketimbang membuat barang baru, daur ulang plastik akan mengurangi sampah dan polusi, mengurangi penggunaan bahan baku yang diambil dari alam, mengurangi kebutuhan energi dan emisi gas rumah kaca 

     

    Sumber:

    https://zerowaste.id/knowledge/simbol-dan-jenis-plastik/

  • Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

    Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

    7cloud.asia – Sejumlah produsen yang menggunakan kemasan plastik mengklaim dan menggencarkan iklan telah menerapkan ekonomi sirkular.

    Namun demikian, klaim perapan ekonomi sirkular ini belum bisa dikatakan benar jika produknya belum menggunakan plastik hasil daur ulang (rPET). Ini karena konsep ekonomi sirkular terbaik adalah model Close Loop atau menjadikan hasil plastik daur ulang kembali sebagai bahan kemasan.

    Demikian salah satu topik yang diangkat dalam webinar bertema “Akuntabilitas Program Pengelolaan Sampah Plastik Produsen” yang diselenggarakan secara daring oleh Aliansi Profesi Jurnalis Indonesia (APJI), Rabu (15/6/2023).

    Ujang Solihin “Uso” Sidik, Kasubdit Tata Laksana Produsen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, penarikan kembali dan daur ulang botol-botol plastik itu merupakan bagian penting dari ekonomi sirkular.

    Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastik

    Menurutnya, langkah ini ada arahan kebijakan atau semacam directive dalam pengelolaan sampah plastik, namun belum secara tegas dinyatakan sebagai mandatory.

    “Tapi, directive ke depan bahwa kemasan-kemasan botol-botol plastik AMDK, baik yang kecil maupun ukuran besar atau galon itu harus mengandung recycle content, harus mengandung bahan daur ulang,” ujarnya.

    Uso menambahkan, di Uni Eropa, tahun depan recycle content itu sudah 25% harus mandatory.

    “Jadi, produk-produk yang berbasis kemasan PET tidak bisa dipasarkan di seluruh negara Eropa kalau tidak mengandung 25% bahan daur ulang di dalam kemasan,” ungkapnya.

    Baca: Pemerintah-produsen dan konsumen harus bahu membahu tangani sampah plastik

    Karena, kata Uso, dalam prinsip pendauran ulang atau recycle, produsen wajib untuk melakukan pendauran ulang produk atau kemasan produk yang mereka hasilkan melalui
    penarikan kembali.

    “Jadi, post costumer packaging itu harus ditarik lagi, dikumpulkan lagi oleh para produsen untuk kemudian masuk ke jalur daur ulang. Tentunya harus dipastikan di awal bahwa kemasan itu memang kemasan yang layak, mudah didaur ulang,” tandasnya.

    Uso menegaskan, ketika bicara daur ulang, yang ideal itu adalah model close loop (botol harus kembali ke botol) dan dan bukan open loop atau down cycle (botolnya dari daur ulang
    menjadi produk lain).

    Dia menyebutkan sudah ada beberapa produsen terutama produsen yang menghasilkan produk minuman dengan wadah kemasan plastik PET yang sudah menerapkan model close loop atau recycle PET.

    Baca: Botol kaca dan botol plastik, mana yang lebih ramah lingkungan?

    “Berdasarkan data kami, yang sudah bergerak ke sana itu Danone Aqua atau Danone Indonesia yang produknya bermerk Aqua. Kemudian yang sudah bergerak ke arah sana juga, tapi ini baru tahap awal atau rencana dan mereka sudah bangun pabrik juga yaitu Coca Cola dengan produk PET. Yang lainnya belum, baru dua itu,” tuturnya.

    Bisuk Abraham Sisungkunon, Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) mengatakan esensi dari ekonomi sirkular kadang
    hanya terbatasi oleh yang namanya pendauran ulang. Padahal, lanjutnya, sebetulnya sirkulasi ekonomi jauh lebih luas.

    “Kita ingin menghasilkan sebuah close loop. Jadi diupayakan agar produsen itu bisa menarik lagi bekas kemasan plastiknya sehingga itu bisa masuk lagi ke dalam siklus produksi. Hal ini
    bisa mengurangi jumlah sampah yang akan tertumpuk di TPS itu akan menjadi lebih sedikit daripada yang sebelumnya,” ujarnya.

    Baca: Robries, cara unik daur ulang sampah plastik

    Guru Besar Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, Mochamad Arief Budihardjo mengatakan, menjadi tantangan bagi industri AMDK untuk menerapkan model close loop sebagai realialisasi ekonomi sirkular.

    Karena, menurutnya, pada saat berbicara tentang close loop, itu akan kembali lagi menjadi sebuah kemasan seperti yang didesain pada awalnya atau air minum menjadi kemasan air minum lagi.

    “Tidak semua industri siap menerapkan konsep ini karena membutuhkan sebuah tantangan. Karenanya perlu mulai dipikirkan bagaimana kita bisa meng-encourage konsumen kita atau pengguna produk ini untuk mengembalikan atau untuk terlibat dalam sebuah close loop system,” ucapnya.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace, menyambut baik dengan adanya dorongan kepada produsen AMDK untuk menerapkan model circular close loop.

    Menurutnya, dengan daur ulang menjadi produk yang sama akan jauh lebih baik karena tidak perlu lagi mencari atau mengambil sumber daya yang baru.

    “Tapi memang pada praktiknya di lapangan tentu ini tidak mudah. Tapi, sebenarnya model sirkuler yang ideal itu adalah ketika didaur ulang yaitu menjadi resource yang sama, itu akan bertahan menjadi satu produk yang sama,” katanya.

    Baca: Plastik ramah lingkungan yang ada di Indonesia

    Reza Andreanto, Ketua Umum PRAISE dan juga Sustainability Manager TetraPak Indonesia bahkan mengutarakan bahwa dalam konteks ekonomi sirkular, model close loop ini levelnya lebih tinggi.

    Tapi, menurutnya, untuk bisa mengarah ke model close loop ini dibutuhkan proses mengingat pengendaliannya di masyarakat itu juga cukup berat.

    “Kalau di lapangan ini tantangan cukup besar sehingga pelaksanaannya tidak bisa diterapkan secara otomatis tapi harus bertahap,” tukasnya.

    Penulis: Charles Maruli Siahaan

  • Unilever Akan Tingkatkan Pemrosesan Sampah Plastik

    Unilever Akan Tingkatkan Pemrosesan Sampah Plastik

     

    7cloud.asia – Unilever Indonesia akan meningkatkan pengumpulan dan pemrosesan sampah plastik pada tahun ini setelah berhasil memproses 62.360 ton sampah plastik pada 2022.

    “Angkanya masih dibahas, tetapi pasti akan ditingkatkan,” kata Kepala Divisi Environment dan Sustainability Yayasan Unilever Indonesia, Maya Tamimi di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (27/09/2023).

    Ketika menjawab pertanyaan seberapa besar kebutuhan plastik Unilever Indonesia pada tahun 2022, Maya mengatakan angka 62.360 ton itu sudah di atas kebutuhan plastik perusahaannya.

    Baca: Gunakan tumbler, langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan

    Artinya, sampah plastik yang diproses perusahaan itu melalui mitra dan kelompok binaan sudah di atas penggunaan plastik oleh perusahaan itu per tahun.

    Capaian pemrosesan 62.360 sampah plastik berasal dari pengumpulan sampah anorganik dari Bank Sampah binaan Unilever Indonesia dan jaringannya yang jumlahnya mencapai lebih dari 28.633 ton.

    Lalu dari hasil pemrosesan 33.727 ton sampah plastik di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) bersama para mitra.

    Baca: Infrastrutur guna ulang sudah disiapkan dari sekarang

    Sepanjang 2022 fasilitas refill yang terdapat di Bank Sampah binaan Unilever Indonesia berhasil mengurangi 1,6 ton penggunaan virgin plastic.

    Upaya Unilever Indonesia melatih dan memberi stimulan kepada lebih dari 4.000 Bank Sampah, Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), pengepul, telah meningkatkan kapasitas mereka mengelola sampah daur ulang.

    Dari seluruh titik kumpul sampah plastik tersebut, jumlah penjualan sampah plastik oleh mitra program mencapai lebih dari Rp95 miliar.

    Baca: Konsep guna ulang lebih efektif kurangi smpah plastik

    Salah satu mitra Unilever Indonesia adalah fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Cilacap yang menghasilkan Energi Baru Terbarukan (EBT) 70-80 ton per hari. 

    Proyek ini merupakan hasil kerjasama Unilever dengan Dinas Lingkungan Hidup Cilacap dan PT Solusi Bangun Indonesia.

    Komitmen Unilever Indonesia untuk penanganan sampah plastik di hulu dengan mendesain produk yang lebih bijak dalam penggunaan plastik baik dalam hal jumlah penggunaan plastik maupun jenis plastiknya.

    Baca: Pada 2030, Starbucks tak akan gunakan gelas sekali pakai

    Di tengah, mendorong kolaborasi pengumpulan dan pemrosesan sampah, sembari mendorong perubahan perilaku masyarakat.

    Antara lain dengan membina lebih dari 4.000 Bank Sampah di 11 provinsi yang dapat diakses secara digital melalui Google My Business dan Duitin.

    Kemudian membantu konsumen lebih bijak menggunakan plastik melalui berbagai inisiatif, seperti Program U-Refill berupa penyediaan fasilitas refill station di 300 Bank Sampah binaan yang tersebar di Jabodetabek dan Jawa Timur.

    Baca: Beragam aplikasi untuk penerapan konsep guna ulang

    Di hilir, Unilever Indonesia berinvestasi mengatasi masalah sampah kemasan plastik di bagian akhir pengolahan sampah.

    Langkah ini termasuk membantu meningkatkan kapasitas pengumpulan dan pengelolaan sampah di dua fasilitas RDF menjadi EBT yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dinas lingkungan hidup setempat.

    Sumber: Antaranews

  • Negara-negara ASEAN Sepakat Perkuat Kerjasama Mengatasi Polusi Plastik

    Negara-negara ASEAN Sepakat Perkuat Kerjasama Mengatasi Polusi Plastik

    7cloud.asia – Polusi plastik masih menjadi permasalahan bagi negara anggota ASEAN. Karena itu perlu berbagai upaya dalam menanganinya. Salah satunya menetapkan standar kemasan plastik yang dapat didaur ulang.

    Rekomendasi ini disampaikan oleh Direktur Penanganan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar dalam ASEAN Conference for Combating Plastic Pollution (ACCPP) di Jakarta.

    Pertemuan yang berlangsung 17 Oktober 2023 lalu ini merupakan kolaborasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dan KLHK serta Sekretariat ASEAN (ASEC).

    Rekomendasi lainnya adalah mendukung kerja sama ASEAN pada ASEAN Working Group on Environmentally Sustainable Cities (AWGESC), untuk menggabungkan tingkat daur ulang sebagai salah satu kriteria Penghargaan Kota Berkelanjutan Lingkungan ASEAN.

    “Mengembangkan standar di masing-masing negara ASEAN dan standar regional ASEAN untuk meningkatkan model bisnis reuse/refill sebagai alternatif untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai,” urai Novrizal.

    ASEAN, lanjut Novrizal, perlu memainkan peran penting untuk menyuarakan suara dan posisinya sebagai kawasan yang memiliki banyak kesamaan, dalam proses negosiasi Internasional Legally Binding Instrument (ILBI) mengenai polusi plastik.

    Selain itu, ASEAN perlu mengintegrasikan ekonomi sirkular ke dalam sistem perdagangan, keuangan dan investasi, dengan menetapkan insentif ramah lingkungan bagi sektor swasta.

    Dalam rilis KLHK, kegiatan ACCPP juga didukung oleh National Plastic Action Partnership (NPAP) dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA).

    Tujuannya mengeksplorasi potensi inisiatif dalam penguatan peran negara anggota ASEAN guna mendukung upaya penanganan polusi plastik, termasuk di laut. 

    Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi Instrumen LHK, Ary Sudijanto menjelaskan ACCPP merupakan bagian dari komitmen Indonesia sebagai Ketua ASEAN.

    Indonesia mengkoordinasikan suara dalam melawan polusi plastik dan sampah laut secara regional melalui Pernyataan Ketua KTT ASEAN ke-43.. Selain itu, ACCPP ini merupakan kesempatan strategis untuk menggalang rekomendasi demi menemukan kondisi regional yang memungkinkan mengatasi pencemaran plastik.

    ACCP juga akan mengharmonisasikan misi AMS dalam menghadapi negosiasi zero-draft Global Plastic Treaty pada INC-3.

    “Sebelum inisiatif ILBI, ASEAN telah mengambil tindakan nyata untuk memerangi polusi plastik dalam bentuk Deklarasi Bangkok mengenai Sampah Laut di kawasan ASEAN dan Kerangka Aksi ASEAN mengenai Sampah Laut,” jelas Ary.

    “Kemarin seluruh anggota ASEAN berpartisipasi dalam pertemuan koordinasi untuk membahas dan berbagi pandangan persamaan dan perbedaan prioritas sebagai persiapan pertemuan INC-3 berikutnya yang diselenggarakan di Nairobi, Kenya bulan depan,” tambahnya.

    Dalam forum ACCP juga dibahas penguatan commonalities dari aspek teknis terkait material alternatif, mendorong penerapan produksi dan konsumsi berkelanjutan (sustainable consumption and production) dan skema financial.

    Indonesia ikut mendorong ASEAN untuk melakukan kajian dampak ekonomi yang menyeluruh khususnya terkait dengan keberadaan industri plastik di negara berkembang sebagai bagian dari pembangunan.

    Selain itu, ACCP juga membahas aspek teknis, seperti lingkup pencemaran plastik, bahan aditif plastik terkait microplastik dan nanoplastik, chemical yang digunakan pada proses produksi, penggunaan single use plastic dan isu EPR.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Perusahaan Asal Swedia Kembangkan Fasilitas Daur Ulang Limbah Tekstil

    Perusahaan Asal Swedia Kembangkan Fasilitas Daur Ulang Limbah Tekstil

    7cloud.asia – Sebuah perusahaan Swedia, Sysaf berhasil mengembangkan fasilitas daur ulang limbah tekstil yang efektif. Fasilitas daur ulang limbah tekstil ini diyakini sebagai yang pertama di dunia.

    Fasilitas daur ulang limbah tekstil ini menjawab harapan Parlemen Eropa akan aturan baru mengenai limbah tekstil diberlakukan pada tahun 2028, dan mengerem apa yang disebut “fast fashion”.

    Fast fashion adalah istilah yang merujuk pada bisnis pakaian yang bergerak dengan cepat namun memberi dampak buruk bagi lingkungan karena memicu limbah tekstil.

    Singkat kata, limbah tekstil yang dihasilkan di blok tersebut kelak harus lebih mudah digunakan kembali, diperbaiki dan didaur ulang.

    Namun, upaya untuk mewujudkan fasilitas daur ulang limbah tekstil itu bukanlah hal mudah.

    Baca: Mengungkap sisi gelap fast fashion bagi lingkungan

    Salah satu kendalanya adalah proses pemilahan limbah tekstil yang menjadi elemen penting daur ulang, yang seringkali rumit dan memakan waktu sehingga membutuhkan biaya besar.

    Sebuah perusahaan di Swedia memberikan jawaban atas masalah tersebut. Perusahaan bernama Sysaf itu membangun fasilitas daur ulang berskala besar pertama di dunia.

    Fasilitas daur ulang milik Syaf ini  secara otomatis memilah-milah limbah tekstil, yang disebut SIPTEX (Swedish innovation platform for textile sorting). Anna Vilén, ketua tim komunikasi Sysav membanggakan fasilitas itu.

    “Kami mengelola limbah tekstil yang begitu banyak dan sangat tercampur. Di sini kami dapat memilah-milah berdasarkan seratnya, sehingga mempermudah proses daur ulang. Prosesnya cepat dan akurat, dan berlangsung secara otomatis.”

    Baca: Dampak buruk fast fashin pada lingkungan

    Fasilitas berteknologi tinggi di pinggiran kota Malmo, Swedia Selatan, ini dapat memilah hingga 4,5 ton limbah tekstil per jam dengan memanfaatkan cahaya inframerah.

    Sensor-sensor yang terpasang kemudian dapat mengidentifikasi jenis serat pada limbah itu dan memilah-milahnya secara otomatis dengan menggunakan udara bertekanan.

    “Mesin ini dapat memberi tahu kami dengan tepat komposisi serat apa. Jadi, yang kita punya pada akhirnya adalah tumpukan-tumpukan kain dengan kemurnian tertentu.”

    “Misalnya 95 persen kapas, yang bisa didaur ulang secara kimia pada langkah berikutnya,” kata Ville.

    Baca: Melawan fast fashion dengan slow fashion

    Benarkah yang dilakukan SIPTEX bisa mengatasi limbah tekstil? Banyak kritikus meragukannya, termasuk Else Skjold, seorang profesor di Akademi Seni Rupa Kerajaan Denmark.

    Ia mengatakan, apa yang dilakukan fasilitas itu tidak sepenuhnya mengatasi limbah tekstil.

    Ia menyarankan, yang seharusnya dilakukan industri tekstil adalah berhenti memproduksi dan menjual bahan-bahan murah secara luas.

    “Ada pemikiran bahwa daur ulang limbah tekstil sama dengan ekonomi sirkular. Kenyataannya, ekonomi sirkular menuntut tekstil berkualitas tinggi, yang dapat didaur ulang berulang kali untuk jangka waktu yang sangat lama.

    “Hal ini tidak mereka lakukan dan hingga saat ini belum ada,” jelasnya.

    Sekitar 5,8 juta ton tekstil dibuang di Uni Eropa setiap tahunnya, atau setara dengan 11 kilogram per orang.

    Sementara konsumsi tekstil meningkat hampir dua pertiganya menjelang tahun 2030.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Kerap Membahayakan Lingkungan, BRIN Kembangkan Daur Ulang Baterai Bekas

    Kerap Membahayakan Lingkungan, BRIN Kembangkan Daur Ulang Baterai Bekas

    7cloud.asia – Sampah baterai mengandung logam berat yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan. Karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan metode daur ulang baterai bekas.

    Dalam rilisnya, Peneliti Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Octia Flowerin mengatakan daur ulang baterai bekas biasanya dilakukan dengan tiga cara.

    Yaitu dengan menggunakan metode pirometalurgi, hidrometalurgi, dan daur ulang langsung agar baterai bekas itu tak mencemari lingkungan.

    Metode Pirometalurgi adalah metode daur ulang baterai bekas dengan cara memanaskan baterai bekas pada suhu tinggi. Metode ini menghasilkan logam murni, tetapi membutuhkan energi yang besar.

    Baca: Daur ulang limbah tekstil

    Metode hidrometalurgi yang dilakukan dengan cara melarutkan logam dari baterai bekas menggunakan larutan kimia.

    Cara ini bisa menghasilkan logam murni dengan energi yang lebih rendah dibandingkan dengan pirometalurgi.

    Sedangkan metode daur ulang secara langsung dilakukan dengan cara mengubah baterai bekas menjadi katoda baterai baru. 

    Metode ini kebutuhan energinya paling rendah, tetapi hanya dapat dilakukan pada baterai jenis tertentu.

    Baca: Daur ulang sampah plastik

    Cara yang dikembangkan oleh Octia dan timnya adalah mengembangkan metode daur ulang baterai bekas menggunakan hidrometalurgi dan penelitian asam askorbat.

    “Metode ini menghasilkan logam murni dengan efisiensi yang tinggi dan energi yang rendah,” ujar Octia yang juga anggota peneliti dalam Kelompok Riset Material Fungsional Dimensi Rendah.

    Untuk mengembangkan metode ini, lanjut Octia, pihaknya bekerja sama dengan Osaka University, Kumamoto University, Ming Chi University of Technology di Taiwan, Institut Teknologi Bandung, hingga UPSI Malaysia.

    Dia berharap penelitian ini nantinya dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada industri pertambangan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Ada Layanan Daur Ulang di Ajang Java Jazz Festival 2024 dari BNI

    Ada Layanan Daur Ulang di Ajang Java Jazz Festival 2024 dari BNI

    7cloud.asia – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menyediakan layanan daur ulang botol plastik dan kaleng bekas di ajang Java Jazz Festival 2024.

    Adapun ajang Java Jazz Festival 2024 berlangsung tiga hari di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, dari 24 sampai 26 Mei.

    Recycle vending machine di ajang Java Jazz Festival 2024 adalah mesin canggih yang memungkinkan pengunjung menukarkan sampah botol plastik atau kaleng dengan poin plus.

    “Poin plus ini kemudian dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik, seperti e-voucher, e-wallet, atau donasi melalui aplikasi BNI Mobile Banking,” kata SEVP Digital Business BNI Rian Kaslan.

    Baca Juga: Berdampak Positif untuk Lingkungan, DPR Minta KLHK Siapkan Stimulus Fiskal di Sektor Daur Ulang Sampah

    “Program ini sekaligus sebagai penekanan bahwa BNI selalu mendukung upaya pelestarian lingkungan dalam segala aktivitasnya,” katanya sebagaimana dikutip dalam siaran pers perusahaan di Jakarta, Sabtu (25/5/2024).

    Penyediaan layanan daur ulang botol dan kaleng bekas di ajang BNI Java Jazz Festival 2024 ditujukan untuk mengajak pengunjung membantu penanganan sampah selama acara.

    Layanan penukaran botol dan kaleng bekas melalui mesin otomatis disediakan bagi pengunjung Java Jazz Festival 2024 yang menggunakan aplikasi BNI Mobile Banking dan telah terdaftar di akun POIN+.

    Baca Juga: Di TPS di Jakarta Selatan Ini, Waktu Membuang Sampah Dibatasi Pukul 05:00-09:30 WIB Saja

    Dilansir Antaranews.com, Rian menjelaskan, satu botol plastik atau kaleng bekas dapat ditukarkan dengan 50 POIN+.

    Dan setiap orang maksimal dapat menukarkan 20 botol plastik atau kaleng bekas dengan 1.000 POIN+ dalam sehari.

    Nasabah akan menerima kode kupon dan QR melalui email yang terdaftar. Scan QR atau input kode kupon pada vending machine yang tersedia.

    “Jadi, tukarkan POIN kalian dengan beragam produk makanan atau minuman di BNI Java Jazz Festival 2024,” katanya.

  • Perdebatan Guna Ulang vs Daur Ulang Kemasan Plastik di Uni Eropa

    Perdebatan Guna Ulang vs Daur Ulang Kemasan Plastik di Uni Eropa

    7cloud.asia – Bulan Maret 2024 mengakhiri salah satu pertarungan kebijakan yang paling kontroversial di Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir, yakni antara daur ulang versus guna ulang kemasan plastik.

    Banyak yang berharap Peraturan Pengemasan dan Limbah Pengemasan (PPWR) akan menandai pertarungan sengit untuk mengakhiri era kemasan sekali pakai di Uni Eropa sekaligus beralih ke sistem guna ulang.

    Upaya mengakhiri kemasan sekali pakai ditandai dengan lobi besar-besaran para pendukung daur ulang di ruang-ruang kekuasaan, guna memastikan bahwa daur ulang tetap menjadi prioritas dalam pengelolaan limbah Uni Eropa dan bukan sistem guna ulang.

    Namun, jika dilihat lebih dalam, narasi yang ada bukan semata-mata tentang kekalahan. Seperti halnya di banyak sektor kehidupan, kesepakatan tentang guna ulang ini adalah revolusi diam-diam yang dimulai dari hal kecil dan terus tumbuh.

    Penggunaan kembali atau guna ulang –sebuah istilah yang dulunya hanya sekadar istilah pinggiran dalam dialog lingkungan hidup– kini menjadi buah bibir semua orang.

    Uni Eropa mencatat rekor 177 kilogram sampah kemasan sekali pakai per orang pada tahun 2020, sehingga tuntutan masyarakat ditambah dengan bukti ilmiah bahwa sistem penggunaan kembali dapat dikurangi.

    Baca: KTT Plastik Ottawa tak lahirkan kesepakatan pengurangan produksi plastik

    Apa yang dilakukan di Eropa untuk mencapai tujuan ini adalah dengan melakukan upaya-upaya nyata yang berbasis komunitas dan menghasilkan dampak nyata.

    Cerita selanjutnya adalah cetak biru penggunaan kembali yang dibuat oleh Reuse Vanguard Project (RSVP) yang memberikan peluang nyata bagi kota-kota di Eropa untuk melokalisasi kebijakan lingkungan hidup, meningkatkan keterlibatan masyarakat.

    Upaya penerapkan sistem guna ulang telah diterapkanvsejumlah kota di Eropa, seperti Paris (Prancis), Rotterdam dan Aarhus (Belanda). Ini akan kita ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Kita tahu sekarang ada alasan bisnis untuk menggunakan kembali. Namun sistem guna ulang yang efektif bergantung pada desain sistem yang kuat yang dapat ditingkatkan oleh PPWR.

    Infrastruktur yang kuat termasuk jaringan pengantaran, logistik pengembalian, dan fasilitas pencucian, serta tata kelola yang ketat yang menetapkan aturan operasional yang jelas, sangat penting untuk efektivitas sistem guna ulang.

    Kepadatan populasi yang lebih besar hanya akan meningkatkan efisiensi dan kelayakan ekonomi dari sistem guna ulang ini.

    Baca: Perbedaan sistem guna ulang dengan daur ulang

    Inisiatif RSVP bertujuan untuk menetapkan target penggunaan kembali yang spesifik untuk industri dan memperkenalkan pajak atas kemasan sekali pakai, dengan tujuan menyeluruh yaitu Mencapai pengurangan sampah sebesar 15 persen pada tahun 2030.

    Ketika kita merenungkan pemilu di Eropa, pertaruhan terhadap kebijakan lingkungan hidup yang progresif masih tetap tinggi.

    Kemajuan yang mengkhawatirkan dari kelompok sayap kanan memberikan tantangan terhadap upaya yang sedang berjalan, namun dengan dukungan dari kota-kota seperti Rotterdam, Aarhus, dan Paris, masih akan ada peluang untuk mencapai tujuan tersebut.

    Komitmen untuk memperjuangkan sistem guna ulang dan kelestarian lingkungan hidup menyuntikkan energi untuk perjuangan ini.

    Mengingat pentingnya masalah ini, perlu dedikasi yang lebih kuat untuk tidak hanya melestarikan namun juga memajukan apa yang telah dicapai.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, Penulis: Nathan Dufour, kepala Zero Waste Europe’s.

     

  • NEWBitumen, Produk Perkerasan Jalan dari Sampah Plastik yang Tidak Dapat Didaurulang

    NEWBitumen, Produk Perkerasan Jalan dari Sampah Plastik yang Tidak Dapat Didaurulang

    7cloud.asia – NEWBitumen, demikian nama yang diterakan pada bahan perkerasan jalan yang menggunakan plastik yang dianggap tidak dapat didaur ulang.

    NEWBitumen merupakan produk dari perusahaan rintisan teknologi asal Singapura, Magorium yang didirikan Oh Chu Xian. NEWBitumen disebut turut menjadikan Singapura lebih hijau.

    Lewat Magorium, Oh yang kini berusia 29 tahun, mengembangkan teknologi baru untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan perkerasan jalan atau pevemen yang disebut NEWBitumen.

    Solusi inovatif ini mengolah berbagai jenis sampah plastik termasuk yang terkontaminasi, seperti limbah medis dari rumah sakit.

    “Sampah ini, sejak lama, dianggap tidak dapat didaur ulang, baik di Singapura maupun di belahan dunia lainnya. Namun kami telah mampu melakukannya dan mengalihkan puluhan ribu kilogram sampah plastik dari insinerasi di Singapura,” terang Oh seperti dilansir straitstimes.com.

    Prestasi Magorium ditoreh pada tahun 2022, dengan mengalihkan lebih dari 8.000 kilogram sampah plastik dari pembakaran untuk finishing jalan masuk hijau di DBS Newton Green dengan menggunakan NEWBitumen.

    Dengan Magorium, Oh bertujuan untuk membangun masa depan yang berkelanjutan dengan memungkinkan dunia usaha dan pengembang membuang sampah plastik mereka secara bertanggung jawab, cepat, dan terjangkau.

     

    Baca: Robries mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai tinggi

    Hal ini penting, tegas Oh, karena 95 persen sampah plastik di Singapura tidak dapat didaur ulang.

    “Misi saya adalah meningkatkan laju daur ulang Singapura dengan menggunakan plastik sebagai sumber daya, bukan memperlakukannya sebagai sampah.”

    Tumbuh dalam bisnis keluarga yang memproduksi bahan-bahan untuk pembangunan jalan, menjadi peletak dasar bagi “misi” Oh.

    “Bisnis keluarga saya mengajarkan saya pada sektor lingkungan binaan dan bagaimana sebagian besar infrastruktur yang dibangun mengorbankan sumber daya pertambangan dari bumi kita,” demikian Oh berbagi.

    Ditambah dengan kesadarannya bahwa negara-negara seperti Singapura tidak memiliki kemampuan daur ulang yang kuat –mengekspor sebagian besar limbahnya dan membakar sisanya– hal ini memicu keinginannya untuk mencari solusi.

    Dia lalu mendirikan Magorium pada tahun 2019 sebagai wirausaha sosial, untuk memastikan usahanya memberi dampak positif bagi sosial dan lingkungan sekitarnya.

    “Usaha sosial mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa kita menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang sesuai, sekaligus meningkatkan pendapatan dan keuntungan. Ini menciptakan lapisan akuntabilitas tambahan.”

    Baca: SIKLUS tawarkan solusi efektif untuk kurangi sampah plastik

    Membuat terobosan baru
    Oh mulai mengembangkan teknologi untuk menciptakan NEWBitumen sejak delapan tahun lalu. Namun, tak mudah baginya untuk meyakinkan para veteran industri mengenai kelayakannya NEWBitmen ini.

    Metode konstruksi yang bergantung pada sumber daya alam bumi, seperti minyak mentah, untuk membuat material sudah sedemikian terpatri di kalangan pelaku industri ini membuat perubahan menjadi sulit.

    “Ada perasaan meremehkan dan menolak mencoba sesuatu yang baru baik di sektor pengelolaan limbah maupun lingkungan hidup,” katanya, meskipun ia memahami keengganan mereka untuk mengambil risiko.

    “Namun, karena kita hidup dalam iklim di mana perubahan semakin diperlukan untuk bertahan hidup, saya yakin inilah saatnya untuk memperbaiki sesuatu yang rusak,” tambahnya.

    Tidak terpengaruh, Ms Oh bertahan dan akhirnya menyelesaikan proyek pertama Magorium pada tahun 2020 – membangun jalan masuk ke tempat parkir pabrik menggunakan NEWBitumen.

    “Untuk meyakinkan pemilik agar mau mencoba, kami memberikan diskon, memberikan garansi untuk memperbaiki keadaan jika terjadi kesalahan, dan menawarkan laporan pengujian untuk menunjukkan bahwa jalan baru akan berfungsi seperti jalan normal,” kenangnya.

    “Setelah itu, kami mulai menjadi lebih kredibel di mata para profesional yang lebih tua dan berpengalaman.”

    Satu kemenangan kecil membuahkan kemenangan lain, dan Magorium dianugerahi DBS Foundation Grant pada tahun 2021. Setelah itu Magorium terus mengembangkan sayapnya.

    Baca: Aplikasi belanja Kecipir terapkan sistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

  • Coldplay Olah Sampah Platik Kali Cisadane untuk Vynil Album Terbarunya, Moon Music

    Coldplay Olah Sampah Platik Kali Cisadane untuk Vynil Album Terbarunya, Moon Music

    7cloud.asia – Band legendaris asal Inggris, Coldplay seolah tak pernah kehabisan akal untuk menginspirasi dunia untuk membuat aksi keren bagi lingkungan.

    Baru-baru ini Coldplay merilis album terbaru bertajuk Moon Music dalam format vinyl atau piringan hitam yang terbuat dari sampah plastik dari Sungai Cisadane, Jawa Barat, Indonesia.

    Selain dari Indonesia, material vynil dalam album ke-10 Coldplay yang diberi tajuk “Moon Music” tersebut berasal dari sampah plastik di Sungai Klang, Selangor, Malaysia.

    Uniknya, vinyl khusus “Moon Music” yang terbuat dari plastik daur ulang itu dapat menembus cahaya saat terkena sinar.

    Tidak hanya itu, Coldplay juga merilis “Moon Music” dalam bentuk CD. Album tersebut dikatakan sebagai album CD pertama di dunia yang dirilis dalam bentuk EcoCD dan dibuat dari 90 persen bahan polikarbonat daur ulang.

    Baca: Coldplay sumbang kapal pemungut sampah di Sungai Cisadane

    Dilansir dari Malay Mail, Sabtu (5/10/2024), vokalis Coldplay Chris Martin mengatakan, setiap keping vinyl dari album seberat 140 gram tersebut berasal dari sembilan sampah botol plastik PET.

    Bahan baku sampah plastik untuk dijadikan viny Coldplay disuplai dari gerakan The Ocean Cleanup yang menerjunkan kapal pembersih sampah di Sungai Klang dan Sungai Cisadane.

    The Ocean Cleanup merupakan lembaga nirlaba yang didirikan oleh warga negara Belanda, Boyan Slat, pada 2013 dengan tujuan untuk mengatasi polusi plastik di sungai.

    The Ocean Cleanup kemudian menyebar ke Malaysia, Indonesia, Republik Dominika, Vietnam, Thailand, dan Amerika Serikat

    Coldplay sendiri sebelumnya sudah bekerja sama dengan The Ocean Cleanup untuk menerjunkan kapal pembersih sungai, antara lain ke Indonesia dan Malaysia.

    Baca: Konser ramah lingkungan ala Coldplay

    Rencana Coldplay untuk merilis album fisik dalam format vinyl yang terbuat dari sampah plastik ternyata sudah diumumkan dari jauh-jauh hari.

    Melansir Euronews pada 19 Juni 2024, Kompas.com menulis Coldplay menyatakan vinyl tersebut akan menjadi album pertama di dunia yang terbuat dari sampah plastik.

    Vinyl yang terbuat dari sampah plastik diklaim dapat mereduksi emisi karbon sampai 85 persen dalam proses produksinya dibandingkan vinyl pada umumnya.

    Selain itu, daur ulang sampah plastik untuk dijadikan vinyl dapat mencegah lebih dari 25 metrik ton bahan baku plastik.

    Slat menyampaikan, Coldplay merupakan mitra yang luar biasa bagi The Ocean Cleanup. Dia mengaku gembira bahwa sampah plastik yang berhasil mereka kumpulkan dapat menjadi material rilisan fisik dari band ternama.

    Baca: Sneaker vokalis Coldplay dibuat dari 70 sepatu tua

    Dalam wawancara itu Slat menegaskan, pihaknya selalu memastikan plastik yang dikumpulkan tidak akan pernah kembali lagi ke laut adalah hal yang penting bagi misi The Ocean Cleanup.

    “Dan saya sangat antusias untuk melihat bagaimana kami akan terus berinovasi dengan Coldplay dan mitra kami lainnya untuk membersihkan lautan dari plastik bersama-sama,” tutur Slat.

    Dikutip dari Billboard, Jumat (4/10/2024), album “Moon Music” berisikan 20 lagu pilihan (termasuk pertunjukan langsung) dengan tajuk utama “feelslikeimfallinginlove”.

    Tidak sendiri, Coldplay juga berkolaborasi dengan musisi lainnya untuk beberapa judul lagu, salah satunya “We Pray” bersama Little Simz, Burna Boy, Elyanna, dan TINI.