7cloud.asia – Polusi plastik merupakan salah satu ancaman lingkungan paling serius yang dihadapi planet Bumi dan makhluk hidup yang menghuninya.
Namun, Kepala Cabang Sumber Daya dan Pasar Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Elisa Tonda mengatakan polusi plastik adalah masalah yang dapat diatasi.
“Melakukan hal itu tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan manusia dan planet, tetapi juga membuka sejumlah peluang ekonomi.” ujarnya
Salah satunya mengekang polusi dari produk plastik sekali pakai dan mendesain ulang produk plastik agar lebih tahan lama.
Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, berikut ini adalah tinjauan lebih dekat tentang apa itu polusi plastik, mengapa hal itu menjadi masalah besar, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Bisakah daur ulang saja mengakhiri krisis polusi plastik?
Daur ulang tidak akan mampu mengakhiri krisis akibat polusi plastik. Hanya sekitar 9 persen plastik yang benar-benar didaur ulang, menurut sebuah studi dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Baca: Pertanyaan yang sering muncul terkait polusi plastik
Dilansir unep.org, ada beberapa alasan untuk itu. Banyak produk plastik tidak dirancang untuk digunakan kembali dan didaur ulang. Beberapa terlalu tipis untuk didaur ulang, sementara yang lain hanya dapat didaur ulang sekali atau dua kali.
Banyak negara kekurangan infrastruktur untuk mengumpulkan dan mendaur ulang sampah plastik.
Namun mungkin masalah terbesarnya: sistem daur ulang tidak dapat mengimbangi ledakan sampah plastik. Produksi plastik global meningkat dua kali lipat antara tahun 2000 dan 2019.
Bagaimana dunia dapat mengatasi polusi plastik?
Masyarakat dunia perlu berpikir besar. Itu berarti melihat lebih jauh dari sekadar daur ulang dan menemukan cara untuk membatasi masalah lingkungan dan kesehatan yang disebabkan oleh polusi plastik.
Ini berarti melihat setiap tahap kehidupan produk, dari produksi, desain, dan konsumsi hingga pembuangannya. Ini dikenal sebagai pendekatan siklus hidup. Dalam praktiknya, itu berarti mengurangi ketergantungan kita pada produk plastik sekali pakai.
Untuk itu masyarakat dunia harus mendesain ulang produk plastik agar lebih awet, tidak terlalu berbahaya, dan dapat digunakan kembali serta didaur ulang.
Baca: Upaya Dunia mengakhiri polusi plastik
Artinya, menemukan alternatif plastik dalam berbagai produk. Dan, ini berarti mencegah plastik mencemari lingkungan.
Muncul pertanyaan, apakah cara ini tidak mahal? Jawabannya adalah belum tentu. Pemerintah, perusahaan, kelompok nirlaba, dan masyarakat di seluruh dunia telah meluncurkan solusi inovatif untuk mengakhiri polusi plastik.
Dan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan siklus hidup dapat menghemat biaya sosial dan lingkungan dunia hingga 4,5 triliun dolar hingga tahun 2040.
“Kita harus berhenti menganggap solusi polusi plastik sebagai beban,” kata Tonda. “Itu adalah investasi untuk masyarakat dan planet yang sehat—hal-hal yang akan memberikan keuntungan bagi generasi mendatang.”
Apa yang dilakukan dunia untuk mengatasi polusi plastik? Banyak negara menangani polusi di tingkat nasional dengan undang-undang yang dirancang untuk mengendalikan penggunaan produk plastik sekali pakai dan memaksa produsen plastik untuk bertanggung jawab jangka panjang atas produk mereka.
Namun, karena polusi plastik merupakan masalah lintas batas, kerja sama internasional menjadi sangat penting. Itulah sebabnya negara-negara kini tengah merundingkan perjanjian global untuk mengakhiri polusi plastik.
Baca: Upaya perusahaan global dalam mengurangi sampah plastik
Komite Negosiasi Antarpemerintah – yang bertugas mengembangkan kesepakatan tersebut—akan bertemu untuk bagian kedua dari sesi kelimanya dari tanggal 5 hingga 14 Agustus 2025 di Jenewa, Swiss.
Para ahli mengatakan bahwa pembicaraan tersebut merupakan pengakuan para pemimpin dunia atas parahnya krisis polusi plastik dan perlunya perjanjian yang mengikat secara hukum untuk mengatasinya.
Ada begitu banyak urgensi untuk mengatasi polusi plastik. Tanpa tindakan tegas, masalah polusi plastik hanya akan bertambah buruk.
Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan bahwa pada tahun 2060, sampah plastik akan meningkat hampir tiga kali lipat menjadi satu miliar ton per tahun.
Jika tren saat ini terus berlanjut, hal ini akan menyebabkan peningkatan polusi plastik, dengan hampir setengah dari sampah plastik yang baru dihasilkan dibuang ke tempat pembuangan akhir, dibakar, atau hilang ke lingkungan.
Baca: Sirkularitas sangat dibutuhkan untuk atasi polusi plastik

Leave a Reply