Tag: gempa

  • Indonesia Rawan Gempa, Perhatikan Hal Ini Saat Membangun Rumah

    Indonesia Rawan Gempa, Perhatikan Hal Ini Saat Membangun Rumah

    7cloud.asia – Setidaknya 1400 rumah rusak akibat gempa berkekuatan magnitudo 4,5 yang terjadi di Sumedang, Jawa Barat pada 1 Januari 2024 lalu.

    Hal ini menjadi sorotan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi yang melanda Sumedang ini sebenarnya tidak terlalu kuat.

    BNPB menyoroti teknik pembangunan rumah dan bangunan di Indonesia menyusul banyaknya rumah rusak yang diakibatkan oleh berkekuatan kecil.

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, hal ini menjadi evaluasi karena gempa dengan magnitudo di bawah lima pun saat ini banyak bangunan mengalami kerusakan.

    Baca: Gempa susulan di Sumedang akibatkan ratusan rumah rusak

    “Artinya, mungkin ada yang harus kita evaluasi dengan cara kita membangun rumah,” kata  dalam acara Disaster Briefing yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (8/1/2024).

    Ia mengungkapkan banyaknya kerusakan rumah akibat gempa telah terjadi pada sejumlah kasus, seperti gempa di Lombok dengan magnitudo enam pada 2018 silam merusak lebih dari 70.000 rumah.

    Pun demikian dengan gempa di Cianjur dengan magnitudo 5,6 pada 2022 merusak lebih dari 56.000 rumah, serta yang terbaru gempa di Sumedang dengan magnitudo 4,8 merusak lebih dari 1.400 rumah.

    Untuk itu ia mengajak masyarakat bersama-sama menimbulkan kesadaran untuk menciptakan rumah yang aman dan tahan dari ancaman gempa bumi.

    Baca: Literasi masyarakat soal gempa masih rendah

    Apalagi, jika rumah yang dibangun adalah rumah untuk dijadikan tempat tinggal manusia.

    “Kita memang harus mulai memiliki kesadaran. Sekiranya saya akan membangun rumah untuk keluarga, rumahnya juga harusnya bisa melindungi keluarga, nyaman, juga aman. Ini yang kita harus pahami bersama,” ujar Abdul Muhari.

    Adapun untuk standar bangunan yang tahan gempa, ia menyebutkan saat ini masyarakat dapat melihat langsung berbagai macam contoh dari internet.

    Ia menuturkan berbagai macam model bangunan tahan gempa tersedia di internet, pun demikian dengan biaya yang tinggi atau terjangkau.

    Baca: Lima tahun pasca gempa dan tsunami di Palu

    “Jadi masyarakat tidak perlu takut, ‘mungkin kalau saya memperkuat rumah apakah akan mahal atau tidak?’. Di internet ada yang biayanya sangat ekonomis tapi secara sains sudah terbukti,” ujarnya.

    Diketahui, gempa bumi sebanyak tiga kali di Kabupaten Sumedang pada penghujung tahun 2023 menyebabkan sejumlah kerusakan bangunan dan infrastruktur.

    Seperti, terjadinya keretakan di beberapa lokasi mulai dari terowongan ganda Tol Cisumdawu hingga dinding Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.

    Pada periode pergantian tahun, terjadi tiga kali gempa bumi di Sumedang yakni berkekuatan 4,1 magnitudo pada pukul 14.35 WIB, 3,4 magnitudo pada pukul 15.38 WIB, dan 4,8 magnitudo pada pukul 20.34 WIB.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Gempa 7,5 SR yang Melanda Jepang Akibatkan Daratan Bergeser Lebih 1 Meter

    Gempa 7,5 SR yang Melanda Jepang Akibatkan Daratan Bergeser Lebih 1 Meter

    7cloud.asia – Kekuatan gempa berkekuatan 7,5 SR yang mengguncang Jepang beberapa waktu lalu dapat dilihat dari seberapa besar pergerakan tanahnya.

    Di beberapa tempat permukaan tanah naik lebih dari 4 meter (13 kaki) dan bergeser lebih dari satu meter pasca gempa di Jepang tersebut.

    Jepang yang rawan gempa sudah sangat maju dalam memantau apa yang terjadi ketika tanah berguncang. Itu sebabnya para ahli di Jpang dapat melakukan pengukuran yang begitu presisi.

    Ada jaringan stasiun GPS yang tersebar di titik-titik strategis di seluruh negeri. Saat terjadi gempa bumi, para ilmuwan dapat mengetahui dengan pasti seberapa besar gempa tersebut telah bergerak.

    Lalu setelahnya para ahli segera menunjukkan bagaimana bentang alam telah melengkung dan bergeser.

    Baca: Lebih dari 160 orang tewas akibat gempa Jepang

    Sistem ini menunjukkan bahwa tanah bergerak sejauh 130cm ke arah barat pasca gempa pada hari Senin (1/1/2024).

    Sementara itu, para ilmuwan juga mengawasi Jepang dari luar angkasa, membandingkan citra satelit yang diambil sebelum dan sesudah gempa.

    Pada lintasan terakhirnya, pesawat ruang angkasa ALOS-2 melaporkan bahwa jarak antara dirinya dan tanah telah memendek karena permukaan bumi naik akibat kekuatan getaran.

    Tanah paling banyak bergerak di sisi barat semenanjung Noto. Dasar laut bergeser ke lepas pantai sana, menimbulkan gelombang tsunami setinggi sekitar 80cm.

    Untungnya, pengangkatan tersebut sebenarnya dapat mengurangi dampak gelombang ketika sampai di garis pantai.

    Baca: Cara warga Jepang antisipasi gempa bumi

    Jumlah korban jiwa yang meninggal sangatlah banyak, namun sungguh luar biasa betapa sedikitnya kasus kematian yang terjadi, bahkan ketika pencarian terus dilakukan terhadap mereka yang masih terjebak di dalam reruntuhan.

    Model kerugian dan kerusakan telah memperkirakan jumlah korban jiwa, paling banyak, seratus atau lebih.

    Peristiwa ini patut dibandingkan dengan gempa berkekuatan M7,8 yang melanda Turki tahun 202 lalu.

    Keduanya secara umum serupa dalam hal energi yang dilepaskan, namun jumlah korban tewas di Turki dan Suriah meningkat menjadi 50.000 atau lebih.

    Kembali ke tahun 2010 dan gempa M7 di Haiti. Lebih dari 100.000 orang tewas dalam peristiwa mengerikan itu.

    Baca: Indonesia rawan gempa tetapi literasi masih rendah

    Penjelasan perbedaannya sederhana: kesiapsiagaan Jepang terhadap gempa memang luar biasa.

    Jepang berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama. Ini adalah salah satu daerah yang paling aktif secara seismik di Bumi; negara ini menyumbang sekitar 20% gempa global berkekuatan 6,0 atau lebih besar, dan seismometer mencatat peristiwa tertentu rata-rata setiap lima menit.

    Oleh karena itu, Jepang telah berinvestasi besar dalam membuat infrastruktur dan penduduknya berketahanan.

    Kode bangunan – aturan yang memandu konstruksi – ditegakkan dengan ketat; dan warga sudah terlatih dalam merespons guncangan.

    Jepang juga memiliki salah satu sistem peringatan dini tercanggih di dunia. Para ilmuwan tidak dapat memprediksi waktu dan skala gempa yang akan terjadi.

    Baca: Lebih dari 1000 orang tewas akibat gempa di Afghanistan

    Namun ketika instrumen tersebut sedang berlangsung, maka instrumen tersebut akan memicu pemberitahuan ke TV, radio, dan jaringan seluler.

    Peringatan ini akan tiba bagi sebagian orang yang jauh dari pusat gempa, mungkin 10 hingga 20 detik sebelum terjadinya guncangan paling parah.

    Ini mungkin kedengarannya bukan waktu yang lama, namun pemberitahuan tersebut cukup untuk warga bersiap melakukan berbagai tidak penyelamatan.

    Seperti membuka pintu di stasiun pemadam kebakaran setempat, mengerem kereta berkecepatan tinggi, dan agar semua orang “turun, berlindung, dan bertahan”.

    Sumber: BBC environment

  • Senin Pagi Gunung Semeru Alami 19 Kali Gempa Letusan

    Senin Pagi Gunung Semeru Alami 19 Kali Gempa Letusan

    7cloud.asia – Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mengalami gempa letusan sebanyak 19 kali sejak Senin (22/01/2024) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

    Menurut Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Yadi Yuliandi, 19 kali gempa letusan Gunung Semeru tersebut dengan amplitudo 10 hingga 21 mm. Lama gempa antara 65 hingga 140 detik.

    “Semeru juga mengalami gempa embusan dengan amplitudo 4-6 mm, dan lama gempa 52-75 detik,” ujar Yadi seperti yang dikutip Antaranews.

    Dalam seismograf terekam 2 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 14-39 mm, S-P 15-16 detik dan lama gempa 39-74 detik.

    “Secara visual, Gunung Semeru tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur,” jelasnya. 

    Baca: Gunung Lewotobi Laki-laki erupsi 

    Sebelumnya aktivitas tinggi ditunjukkan oleh gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu pada Minggu (21/01/2024) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.

    Saat itu, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat 69 kali gempa letusan, tiga kali gempa guguran, 13 kali gempa embusan, dua kali harmonik, satu kali gempa vulkanik dan empat kali gempa tektonik jauh.

    Sementara Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Logistik pada Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo status Gunung Semeru berada pada level III atau siaga.

    Dia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

    Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan.

    Baca: Gunung Dukono meletus

    Sebab hal ini berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

    “Kemudian tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” jelasnya.

    Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.

    Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Gempa Magnitudo 6,5 di Laut Jawa, Guncangannya Terasa Hingga ke Kalimantan

    Gempa Magnitudo 6,5 di Laut Jawa, Guncangannya Terasa Hingga ke Kalimantan

    7cloud.asia – Gempa berkekuatan magnitudo 6,5 di Laut Jawa yang terjadi pada Jumat (22/03/2024) sekitar pukul 16.00 WIB tidak hanya terasa di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, tetapi juga terasa hingga ke Kalimantan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tektonik di Laut Jawa ini tidak berpotensi terjadi tsunami.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Daryono mengatakan data terakhir sekitar pukul 16.52 Wita, berdasarkan kejadian dan parameter gempa bumi terjadi di wilayah Laut Jawa pada jarak 114 kilometer arah timur laut Tuban, Jawa Timur, pada kedalaman 12 kilometer.

    Baca: Puluhan rumah rusak akibat gempa di Sumedang

    “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif di Laut Jawa, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser,” jelasnya.

    Dampak gempa bumi, kata dia, berdampak dan dirasakan di Pulau Bawean dengan intensitas V-VI MMI dengan getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, barang-barang/pajangan terpelanting, terjadi kerusakan ringan.

    Daerah Blora, Madura, Gresik, Surabaya, Kabupaten Banjar dengan skala intensitas III-IV MMI (bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah).

    Lalu, daerah Mojokerto, Banjarbaru, Sampit, Banjarmasin, Martapura, Balikpapan, Tanah Grogot, Malang, Lumajang, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Semarang dengan skala intensitas II-III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan akan truk berlalu).

    Baca: Gempa di Bantul rusak ratusan rumah

    Kemudian daerah Yogyakarta, Kulon Progo, Kebumen, Temanggung, Blitar dan Solo dengan skala intensitas II MMI (getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).

    Daryono mengungkapkan berdasarkan laporan dari masyarakat, gempa bumi ini menimbulkan kerusakan di Pulau Bawean.

    Lebih lanjut, dia menjelaskan gempa bumi ini merupakan bagian rangkaian gempa bumi di Laut Jawa dengan kekuatan magnitudo 6,0 yang terjadi pada pukul 12.22 Wita hingga pukul 17.15 Wita.

    Sementara hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 22 aktivitas gempa bumi.

    Baca: Lima tahun setelah gempa Palu

    “Saya mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” katanya.

    Daryono meminta masyarakat yang terdampak getaran agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa, memeriksa dan memastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa.

    Selain itu, masyarakat juga perlu memastikan tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.

    Sumber: Antara

  • Gempa Susulan Mengguncang Hingga 78 Kali di Laut Jawa, Puluhan Rumah Rusak

    Gempa Susulan Mengguncang Hingga 78 Kali di Laut Jawa, Puluhan Rumah Rusak

    7cloud.asia – Puluhan rumah dan fasilitas umum rusak ringan hingga berat akibat gempa dengan magnitudo 6,5 di Laut Jawa yang terjadi pada Jumat (22/03/2024) sekitar pukul 16.00 WIB.

    Berdasarkan rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), puluhan rumah serta fasilitas umum yang rusak tersebut tersebar di berbagai wilayah di Jawa Timur.

    Di Kabupaten Tuban tercatat empat unit rumah rusak berat, empat unit rumah rusak sedang dan dua unit rumah rusak ringan.

    Selain itu terdapat satu balai desa alami kerusakan cukup parah dan satu fasilitas ibadah alami rusak ringan, serta satu kandang milik warga roboh akibat guncangan gempa.

    Selanjutnya di Kabupaten Gresik tercatat 19 unit rumah rusak berat, 61 unit rumah rusak sedang dan 50 unit rumah alami rusak ringan.

    Baca: Gempa di Laut Jawa getarannya hingga ke Kalimantan

    Sejumlah fasilitas umum juga alami kerusakan seperi dua fasliltas Pendidikan rusak ringan, satu fasilitas pendidikan rusak sedang, dua masjid rusak berat, satu musola rusak sedang, satu masjid rusak ringan.

    Di wilayah Gresik, gempa juga berdampak pada satu kantor desa dan satu gedung perkantoran yang mengalami rusak ringan, serta RSUD Umas Mas’ud Sangkapura mengalami kerusakan ringan.

    Untuk wilayah Kabupaten Pamekasan tercatat satu unit rumah warga alami rusak ringan.

    Di Kota Surabaya terdapat dua unit rumah warga alami rusak ringan, RS Unair dan RSUD M Soewandhi alami kerusakan ringan.

    Sementara RSUD Soetrasno di Kabupaten Rembang turut terdampak yang sebabkan pasien dievakuasi keluar gedung.

    Baca: Satu orang tewas dan puluhan orang terluka akibat gempa Bantul

    Tak hanya merusak sejumlah bangunan, gempa juga berdampak pada 143 kepala keluarga di wilayah Jawa Timur.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D memaparkan 143 kepala keluarga tersebut terdiri dari 10 kepala keluarga di Kabupaten Tuban.

    Selain itu, 130 kepala keluarga di Kabupaten Gresik, satu kepala keluarga di Kabupaten Pamekasan dan dua kepala keluarga di Kota Surabaya.

    Saat ini Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus melakukakan penanganan darurat bencana, antara lain melakukan pendataan dan monitoring di sejumlah lokasi, kemudian mendirikan tenda pengungsian di halaman RS Unair Surabaya.

    BPBD juga mengirimkan personil menuju pusat gempa di Pulau Bawean dengan menggunakan kapal dengan membawa kendaraan roda dua, tenda pengungsi, terpal plastik, makanan siap saji guna melakukan penanganan lebih lanjut di wilayah tersebut.

    Baca: Indonesia rawan gempa

    Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Tuban, Jawa Timur menyebut 78 gempa susulan pascagempa yang terjadi di 130 kilometer timur laut Kabupaten Tuban.

    “Sampai saat ini masih ada gempa susulan dan tercatat 78 kali gempa susulan sampai jam 19:42 WIB,” kata Kepala BMKG Tuban Zem Irianto Padama.

    Zem menyebut ada sebanyak tiga kali gempa besar yang dirasakan oleh masyarakat dan mengakibatkan rusaknya rumah.

    Pertama gempa utama berkekuatan magnitudo 6.0 dan gempa susulan ke-6 yang berkekuatan magnitudo 5.3. Lalu, gempa susulan yang ke-22 dengan magnitudo 6.5.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

     

  • BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini fokus melakukan pemetaan sesar di sepanjang Pulau Jawa, yang membentang dari Ujung Kulon hingga Banyuwangi.

    Salah satu tujuan pemetaan sesar Jawa ini adalah untuk memahami dan memetakan potensi risiko bencana gempa di Pulau Jawa. Seprti diketahui, keberadaan sesar ini membuat Pulau Jawa sangat rentan terhadap bencana-bencana geologi yang dapat terjadi.

    Kondisi pulau Jawa dengan populasi terpadat di Indonesia menjadi alasan dilakukannya pemetaan sesar di Pulau Jawa ini.

    Proyek ekspedisi yang dilakukan oleh BRIN tidak hanya memetakan sesar, tetapi juga mencakup pemetaan palung, gunung, dan bukit di bawah laut.

    Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Sonny Aribowo, menjelaskan beberapa wilayah sepanjang pulau Jawa yang telah dilakukan penelitian.

    “Sejauh ini, sesar-sesar di Jawa yang sudah pernah diteliti dan dipublikasikan antara lain Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, Java Back-arc Thrust/Baribis-Kendeng Sesar Opak, Sesar Mataram, Sesar Garsela, Sesar di Karangsambung, dan Sesar Pasuruan,” ungkap Sonny dilansir di laman resmi BRIN.

    Baca: Indonesia termasuk daerah rawan gempa tapi literasi masyarakat masih rendah

    Selain itu, juga dilakukan penelitian terhadap jalur Sesar Rembang-Madura-Kangean Sakala, Somorkoning. Terbukti aktif dilihat dari pergeseran morfologi dan trenching paleoseismologi.

    Beberapa sesar yang sempat menyebabkan kejadian gempa bumi merusak juga masih diteliti oleh peneliti BRIN, seperti sesar di Cianjur, sesar di Sumedang dan sekitarnya.

    Sesar Java Back-arc Thrust sendiri saat ini masih terus dilakukan penelitian lebih lanjut, karena berpotensi merusak daerah perkotaan seperti Semarang dan Surabaya.

    Menurut Sonny, gempa ternyata muncul di daerah yang understudied sebelumnya seperti Cianjur, Sumedang, dan bahkan yang terbaru adalah Laut Jawa di dekat Pulau Bawean.

    “Sejauh ini, pihak BRIN berencana melakukan ekspedisi terestrial di Pulau Jawa, untuk melihat atau mengonfirmasi jalur sesar yang masih belum banyak diperdalam. Ke depannya juga akan ada peta sesar aktif yang cukup detail di Pulau Jawa,” tuturnya.

    Selain itu, lanjut dia, kerja sama dengan beberapa instansi terkait seperti Kementerian PUPR melalui Pusat Studi Gempa Nasional dan BMKG akan menambah peluang teridentifikasi/terkonfirmasi jalur sesar-sesar aktif di Pulau Jawa.

    Baca: Warga diminta perhatikan peta bencana untuk hindari korban  

    “Ditambah adanya harapan untuk pengetahuan dari recurrence interval dari sejarah kegempaan pada masing-masing sesar aktif,” lanjutnya.

    Hasil dari penelitian ini menunjukkan, terdapat banyak sesar aktif besar yang mengapit Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, seperti Sesar Baribis Segmen Tampomas, Sesar Baribis Segmen Ciremai, Sesar Lembang, Sesar Cileunyi Tanjungsari, dan Sesar Garsela.

    Kota-kota penting seperti Cirebon, Bandung, Jakarta, Karawang, dan Indramayu juga terdampak oleh sesar-sesar ini, menyimpan energi berupa swarm earthquake maupun foreshocks.

    Gempa yang terjadi di Sumedang pada Januari lalu menjadi bukti nyata akan keberadaan sesar-sesar aktif ini. Rentang kekuatan gempa yang dapat terjadi di wilayah Sumedang diperkirakan mencapai 6,6 hingga 7 magnitudo.

    “Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk mengumpulkan lebih banyak pengetahuan dan membangun strategi mitigasi yang efektif untuk mengurangi dampak potensial dari bencana gempa di masa depan,” tegasnya.

    Baca: Indonesia rawan gempa, perhatikan hal ini saat membangun rumah

    Langkah BRIN dalam melakukan pemetaan sesar dan BMKG dalam pengembangan mitigasi kebencanaan adalah sebagai respons terhadap bencana gempa di Sumedang. Hal ini juga sejalan dengan upaya global dalam meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi terhadap bencana alam.

    Organisasi internasional seperti United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) secara konsisten mendorong negara-negara untuk meningkatkan pemahaman terhadap potensi bencana alam dan mengembangkan strategi mitigasi yang efektif.

    Mengingat kondisi pulau Jawa yang rawan bencana gempa, Sonny berharap masyarakat mampu mengantisipasi adanya dampak yang ditimbulkan dari terjadinya bencana.

    “Melakukan rekayasa bangunan agar tahan gempa, ini mungkin efektif jika bangunan belum dibangun. Kemudian juga menghindari membangun di sekitar jalur gempa,” imbaunya.

    Sonny berharap pemetaan sesar di Pulau Jawa ini memberikan kontribusi positif dalam upaya global untuk mengurangi risiko bencana alam

    “Dengan hasil penelitian ini, diharapkan upaya mitigasi lebih lanjut dapat dilakukan untuk melindungi masyarakat dan lingkungan dari potensi bencana gempa di Pulau Jawa,” harap Sonny.

  • Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Garut dan Sekitarnya Sejumlah Orang Dilaporkan Terluka

    Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Garut dan Sekitarnya Sejumlah Orang Dilaporkan Terluka

    7cloud.asia – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 yang mengguncang Kabupaten Garut, Jawa Barat dan sekitarnya, Sabtu (27/4/2024) malam mengakibatkan sejumlah orang terluka dan puluhan bangunan rusak.

    Getaran akibat gempa dirasakan di sejumlah wilayah, seperti Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor hingga Serpong.

    Sebanyak 2 warga Kecamatan Pameungpeuk dilaporkan terluka akibat tertimpa reruntuhan bangunan gempa.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    Gempa juga mengakibatkan bangunan Rumah Sakit Pameungpeuk dan sejumlah rumah warga di Kecamatan Cilawu Garut juga mengalami kerusakan.

    Dua warga Pameungpeuk yang mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa material rumah.

    Informasi sementara, gempa bumi juga memicu kerusakan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pameungpeuk.

    Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,5 di Laut Jawa, Guncangannya Terasa Hingga ke Kalimantan

    Sejumlah bangunan rumah di sekitar Dayeuh Manggung, Cilawu juga dilaporkan mengalami kerusakan.

    Meski belum ada laporan secara resmi, akan tetapi foto dan video sudah diterima.

    Adapun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut masih melakukan pendataan, dan belum berikan laporan resmi dampak gempa bumi 6,5 magnitudo yang sempat membuat warga panik berhamburan keluar rumah.

    Baca Juga: Indonesia Masuk Negara yang Paling Sering Dilanda Gempa, Tapi Literasi Masyarakat Masih Rendah

    Hasil analisa BMKG menunjukkan, episenter gempa terletak pada koordinat 6.83 LS dan 107.00 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 12 kilometer timur laut Kota Sukabumi pada kedalaman 5 kilometer.

    “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar cugenang,” ujar Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang Hartanto dalam keterangannya, Sabtu (27/4/2024).

  • Gempa Garut: Sejumlah Fasilitas Publik Rusak

    Gempa Garut: Sejumlah Fasilitas Publik Rusak

    7cloud.asia – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 yang mengguncang Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Sabtu (27/4/2024) pukul 23.29 WIB merusak fasilitas publik di beberapa wilayah yang terdampak.

    BNPB menyebut, sembilan kabupaten dan satu kota terdampak gempa yang berpusat di sekitar Garut tersebut.

    Wilayah yang terdampak gempa adalah Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung Barat. Kemudian, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Bandung, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Sumedang.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengutip laporan dari Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusadalops) BNPB pada Minggu menyebut sejumlah fasilitas publik rusak.

    “Bencana geologi ini juga mengakibatkan kerusakan pada bangunan fasilitas publik seperti tempat ibadah, sekolah, dan sarana kesehatan,” kata Abdul Muhari, Minggu (28/4/2024).

    Data hingga Minggu pagi, tercatat sebanyak 27 Kepala Keluarga (KK) terdampak dari gempa ini.

    Baca Juga: Indonesia Rawan Gempa, Perhatikan Hal Ini Saat Membangun Rumah

    Rincian berdasarkan tingkat kerusakannya meliputi 4 unit rumah rusak berat (RB), 11 unit rumah rusak ringan (RS), 5 unit rumah rusak ringan (RR), serta 7 unit rumah terdampak.

    Dari total jumlah tersebut, kerusakan sebagian besar berada di Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut.

    Rincian kerusakan di tiga wilayah itu meliputi satu unit rumah rusak berat dan tiga unit rumah terdampak di Kabupaten Garut rusak ringan.

    Baca Juga: Hindari Banyak Korban, Ahli Geologi Imbau Masyarakat Patuhi Kawasan Rawan Bencana

    Kemudian, empat unit rusak sedang dan tiga unit rusak ringan di Kabupaten Tasikmalaya, serta lima unit rumah rusak sedang di Kota Tasikmalaya.

    Dari jumlah keluarga yang terdampak, warga terdampak paling banyak berada di Kabupaten Garut dengan rincian tiga orang mengalami luka-luka dan di Kabupaten Tasikmalaya satu orang.

    Adapun gempa yang berpusat di laut dengan kedalaman 70 kilometer dengan titik parameter 8,42 LS dan 107,26 BT tersebut tidak berpotensi tsunami.

  • BNPB: 267 Rumah Warga Rusak Akibat Gempa Garut

    BNPB: 267 Rumah Warga Rusak Akibat Gempa Garut

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 267 rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,2 yang melanda wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Sabtu (27/4/2024) malam.

    “Hingga hari ini, Senin (29/4/2024), total rumah terdampak berjumlah 267 unit,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan yang diterima di Bandung, Senin.

    Abdul mengungkapkan hingga saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dari kabupaten/kota masih melakukan identifikasi tingkat kerusakan maupun pendataan dampak lain pascagempa.

    Adapun rincian berdasarkan tingkat kerusakannya, kata dia, delapan rumah rusak berat, 56 rumah rusak sedang, 191 rumah rusak ringan, 12 rumah terdampak.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    Dari jumlah tersebut, lanjutnya, kerusakan paling banyak terjadi di Kabupaten Bandung sebanyak 51 rumah, Kabupaten Ciamis 46 rumah.

    Sdangkan di Kabupaten Garut 42 rumah, Kabupaten Sukabumi 17 rumah, Kabupaten Tasikmalaya 21 rumah, dan Kota Tasikmalaya sebanyak 24 rumah.

    “Pada rumah terdampak, BNPB masih menunggu informasi dari BPBD yang masih menentukan tingkat kerusakannya,” kata dia.

    Setelah upaya tersebut rampung, BPBD Jawa Barat bersama kabupaten dan kota, lanjut dia, akan segera melakukan perbaikan fasilitas umum, pembersihan materiil dampak dari gempa, serta perbaikan rumah warga.

    Baca Juga: Indonesia Rawan Gempa, Perhatikan Hal Ini Saat Membangun Rumah

    Selain tempat tinggal atau rumah, gempa bumi yang terjadi pada Sabtu malam itu juga merusak fasilitas publik, seperti tempat ibadah, sekolah, perkantoran, dan sarana kesehatan atau rumah sakit.

    Sementara itu BPBD mencatat jumlah korban luka-luka sejumlah 11 orang. Mereka yang luka-luka teridentifikasi di Kabupaten Garut enam orang, Bandung tiga, dan Ciamis dua orang.

    “Hingga kini tidak ada laporan adanya korban jiwa dampak gempa magnitudo 6,2 tersebut,” katanya.

    Seperti diberitakan sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 6,2 yang melanda wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Sabtu (27/4/2024) malam sekitar pukul 23:00 WIB.

    Guncangan akibat gempa dirasakan di sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan sekitarnya.

     

  • BMKG Ingatkan Warga Garut untuk Mewaspadai Dua Sesar Gempa di Wilayah Itu

    BMKG Ingatkan Warga Garut untuk Mewaspadai Dua Sesar Gempa di Wilayah Itu

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan ada dua potensi gempa bumi yakni Sesar Garsela dan Subduksi di laut Kabupaten Garut, Jawa Barat.

    Sesar pemicu gempa ini harus menjadi perhatian dan diwaspadai masyarakat maupun pemerintah Garut, untuk menghindari risiko besar dampak dari kejadian bencana tersebut.

    Hal ini diungkapkan Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung BMKG Teguh Rahayu saat acara Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami di Sekretariat Daerah Pemkab Garut, Rabu (29/5/2024).

    “Ada dua potensi, yang satu dari selatan yang kita namakan subduksi yang dari laut, yang masyarakat mengenal sebagai megathrust. Yang kedua adalah sesar darat yang ada di bawah kita, yang tadi disampaikan (Sesar Garsela),” katanya.

    Baca: BRIN petakan sesar di Pulau Jawa

    Teguh menuturkan dua potensi gempa di laut dan darat itu selama ini masih aktif dan seringkali terjadi gempa bumi. Terakhir gempa dengan kekuatan magnitudo 6,2 terjadi di laut Garut pada 27 April 2024.

    Setiap hari sejak Januari 2024, kata dia, seluruh sesar gempa, termasuk yang ada di Garut, tercatat sudah 600 kali di seluruh Jawa Barat.

    Artinya gempa berpotensi terus terjadi yang tidak dapat diprediksi.

    “Dari Januari saja sampai sekarang kita sudah sekitar 600 (gempa) ya, iya di seluruh wilayah Jawa Barat dari semua potensi,” katanya.

    Baca: Masyarakat diimbau jauhi daerah rawan bencana

    Ia mengatakan khusus potensi gempa bumi di Garut memiliki tingkat risiko yang tentu berbeda antara Sesar Garsela dengan subduksi.

    Namun, yang dinilai akan memiliki dampak besar yaitu gempa darat karena berada di bawah pemukiman penduduk.

    “Itu berada di bawah kita, apalagi kalau kedalamannya dangkal dengan magnitudo besar, itu lebih berbahaya lagi,” kata Teguh Rahayu.

    Ia menyampaikan adanya potensi gempa bumi dan tsunami di Garut itu menjadi perhatian BMKG untuk menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami bagi berbagai elemen masyarakat, yakni pemerintah daerah (pemda), TNI, Polri, media, sukarelawan bencana, dan masyarakat umum.

    Baca: Indonesia rawan gempa, perhatikan hal ini

    Kegiatan itu, kata dia, tujuannya meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Garut terhadap gempa bumi dan tsunami.

    “Terutama dan juga kesiapan pemda yang ada di sini ketika terjadi gempa bumi dan tsunami, karena Garut merupakan wilayah yang berpotensi terjadi gempa bumi,” katanya.

    Ia menegaskan peran BMKG yang selama ini melakukan analisa dan menginformasikan setiap kejadian gempa bumi dan tsunami tidak akan memberikan dampak yang baik untuk menyelamatkan masyarakat, apabila semua elemen masyarakat, termasuk pemerintah tidak menindaklanjutinya.

    Menurut dia, perlu adanya koordinasi dan komunikasi yang cepat dan tepat untuk melakukan tindakan lebih lanjut apabila ada kejadian gempa bumi dan potensi tsunami di daerah.

    Sumber: Antaranews.com