Tag: kesehatan mental

  • Pemkot Jakpus Sediakan Layanan Kesehatan Mental untuk Para Caleg

    Pemkot Jakpus Sediakan Layanan Kesehatan Mental untuk Para Caleg

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Jakarta Pusat menyediakan fasilitas dan layanan kesehatan jiwa di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan rumah sakit (RS) bagi peserta Pemilu 2024 yang gagal terpilih.

    “Untuk antisipasi, kami sudah menyiapkan layanan di puskesmas dan rumah sakit,” kata Kepala Suku Dinas Kesehatan (Kasudinkes) Jakarta Pusat Risma Sari saat dihubungi di Jakarta, Jumat (26/1/202).

    Fasilitas ataupun layanan kesehatan mental ini sebagai antisipasi bagi peserta pemilu yang gagal terpilih terutama calon legislatif (caleg) mengingat tingkat stres yang tinggi.

    Baca: DPR minta semua petugas KPPS dilindungi BPJS

    Risma menyebut jika ada kasus tersebut maka layanan gawat darurat kesehatan mental sudah disiapkan di puskesmas wilayah Jakarta Pusat.

    Lalu, jika ada kasus khusus karena perlu dilakukan rawat inap, maka akan dirujuk ke rumah sakit.

    Lebih lanjut, Risma menjelaskan faktor yang menyebabkan caleg atau peserta pemilu stres saat gagal atau kalah itu dapat terjadi karena adanya harapan tinggi yang tidak terpenuhi, sementara segala upaya dan sumber daya sudah dilakukan.

    Baca: Koalisi Pemilu Bersih nilai Jokowi langgar UU Pemilu

    Hal yang perlu disadari, kata Risma yakni pemilu merupakan kontestasi yang pastinya ada menang dan kalah.

    Konsekuensi tersebut sudah seharusnya ditanamkan sejak awal terhadap seluruh peserta pemilu baik caleg maupun capres.

    “Kalau dari pengalaman pemilu sebelumnya, di wilayah Jakarta Pusat belum pernah ditemukan atau belum ada laporan,” ujar Risma.

    Baca: Diduga salahgunakan fasilitas negara untuk kampanye, Prabowo dilaporkan ke Bawaslu 

    Risma berharap seluruh caleg, tim sukses (timses) Pemilu 2024, ataupun peserta pemilu lainnya bahkan pendukung pun harus bisa melaksanakan proses pemilihan dengan bijak.

    Sehingga Pemilu 2024 dapat berjalan lancar dan tetap terjaga kesehatan fisik ataupun mentalnya.

    Sebelumnya, anggota Komisi E DPRD DKI Abdul Aziz meminta Pemerintah Provinsi DKI meningkatkan fasilitas kesehatan (faskes) jiwa bagi peserta pemilu sebagai antisipasi jika mengalami kegagalan.

    Baca: Mahfud akan mundur dari jabatannya sebagai MenkoPolhukham 

    “Kami mengimbau Dinas Kesehatan DKI melakukan langkah-langkah antisipatif menyiapkan fasilitas kesehatan menjelang pemilu,” kata Aziz saat dihubungi di Jakarta, Selasa (23/1/2024).

    Pernyataan ini sebagai evaluasi dari Pemilu 2019 agar penanganan kesehatan jiwa caleg yang stres karena gagal menjadi lebih baik pada 2024 ini.

     

  • Selalu Merasa Stres Saat Berangkat Kerja? Waspadai Kesehatan Mental Kamu

    Selalu Merasa Stres Saat Berangkat Kerja? Waspadai Kesehatan Mental Kamu

    7cloud.asiaI dont like Monday. Istilah ini kerap digunakan orang untuk menggambarkan sindrom yang dialami pekerja usai libur akhir pekan.

    Merasa stres saat harus kembali bekerja memang sering dihadapi pekerja. Tapi jika stres itu dirasakan hampir setiap hari, maka kamu harus berhati-hati.  

    Dokter spesialis jiwa di RSUD Tarakan Jakarta dr Zulvia Syarif SpKJ mengatakan penyebab seseorang selalu merasa stres saat berangkat bekerja, salah satunya karena kondisi kesehatan mental yang tidak fit. 

    “Mungkin enggak ada diagnosis gangguan mental, tapi sebenarnya lagi enggak sehat secara kesehatan mental,” kata dia dalam seminar daring pada Jumat seperti dilansir antaranews.com.

    Gangguan kesehatan mental itu, menurut Zulvia, bisa karena susah tidur, mungkin setiap mau berangkat kerja stres, setiap mau datang ke tempat kerja rasanya berat banget.

    Baca: Kiat menjaga kesehatan mata buat mereka yang sering bekerja di depan komputer

    Ia menambahkan, gangguan kesehatan mental atau seseorang yang tak sehat secara mental bisa saja masih berpikir soal pekerjaan bahkan saat dia berinterkasi dengan keluarganya di rumah.

    Zulvia menuturkan seseorang yang sehat secara mental bukan hanya diukur dari sekadar dia tidak depresi, bipolar dan sebagainya, namun lebih pada kemampuan dia memahami kelebihan dan kekurangan dirinya.

    Juga bagaimana seseorang mampu menghadapi tekanan, mampu produktif dan berkontribusi untuk masyarakat.

    “Even orang yang punya diagnosis gangguan mental tetapi kalau dia bisa produktif, bisa mengatasi tekanan hidup, dia bisa dibilang sehat mental,” kata dia pula.

    Ditambahkannya, penyebab kesehatan mental seseorang khususnya yang berstatus karyawan bisa terganggu, salah satunya lingkungan kerja yang menuntut atau budaya organisasi yang tidak mendorong pegawai untuk maju.

    Baca: Tidur siang sejenak bagus untuk kesehatan mental dan otak

    Alasan lainnya, ada pembiaran perundungan, pelecehan, dan budaya menyalahkan yang semuanya menyebabkan pegawai lebih tegang dan stres di tempat kerja.

    Kemudian bisa juga dari jam kerja yang terlalu panjang, tidak ada batasan jelas, harus ready setiap saat, di rumah lagi cuti lagi liburan tetap ngurusin pekerjaan, itu juga bisa membuat seseorang tertekan.

    “Jadi enggak sehat secara kesehatan mental nya,” kata Zulvia.

    Di sisi lain, ada juga kontribusi dari individu yakni terkait cara dia bisa mengelola waktu dengan baik, cara berinteraksi dengan rekan kerja dan pimpinan atau orang yang dilayani.

    Lalu, apa solusi guna mengatasi masalah mental seperti stres di tempat kerja dan seseorang dalam kondisi tidak bisa mengubah kondisi di tempat kerja?

    Baca: Ini yang terjadi jika kita tak cukup tidur

    Maka Zulvia menawarkan dua solusi, yakni menerima atau meninggalkannya yakni dengan kata lain berhenti bekerja.

    “Nah take it itu caranya, pekerjaan terlalu berat, pimpinan tidak menyenangkan atau rekan kerjanya tidak asik, kalau gitu kita perlu belajar untuk beradaptasi, kita menerima situasi itu lalu beradaptasi,” ujar dia lagi.

    Menurut dia, cara untuk beradaptasi yakni mengubah cara respons diri. Saat seseorang merasa pekerjaannya terasa begitu menekan, cobalah hadapi dengan lebih ringan, yakni tidak menganggap ini 100 persen kehidupannya.

    Zulvia memahami saat bekerja, terkadang seseorang ingin bersungguh-sungguh dengan pekerjaannya.

    Namun, saat dia merasa hidupnya sama dengan pekerjaan, maka saat ada kegagalan di pekerjaan misalnya dimarahi atasan atau melakukan kesalahan, maka dia merasa hidupnya.

    Padahal sebenarnya tidak. Oleh karena itu, imbuh Zulvia, mengubah cara berpikir menjadi penting.

    Sumber: Antaranews.com

  • Cermati Gejala Stres Akibat Gangguan Kesehatan Mental di Tempat Kerja

    Cermati Gejala Stres Akibat Gangguan Kesehatan Mental di Tempat Kerja

    ruangkota,com – Para pekerja diingatkan agar mewaspadai masalah kesehatan mental di tempat kerja agar tak mengganggu produktivitas.

    Dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta, dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ mengatakan kondisi kesehatan mental sangat penting untuk produktivitas kerja.

    “Mungkin seseorang tidak ada diagnosis gangguan mental, tapi, sebenarnya sedang tidak sehat secara mental. Ada yang seperti itu, jadi harus diwaspadai,” kata Zulvia dalam webinar “Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja” seperti dilansir Antaranews.com beberapa waktu lalu.

    Zulvia menjelaskan gejala gangguan mental yang dialami seseorang terkait pekerjaan umumnya meliputi sulit tidur, stres akibat tekanan pekerjaan, kehilangan motivasi untuk memulai pekerjaan, hingga interaksi dengan keluarga berkurang lantaran banyaknya pekerjaan.

    Menurut dia, gejala-gejala tersebut berdampak pada tingkat produktivitas kerja yang semakin menurun.

    Gejala gangguan kesehatan mental dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain tuntutan pekerjaan yang tinggi, budaya organisasi yang tidak kondusif, budaya perundungan, hingga pelecehan menyebabkan seseorang merasa tertekan dan mengalami stres.

    Tidak hanya itu, jam kerja yang terlalu panjang juga menyebabkan seseorang mengalami kelelahan dan berakibat pada kesehatan mental.

    “Harus siap setiap saat padahal lagi di rumah, lagi cuti, lagi liburan, tapi, masih mengurus pekerjaan. Ini yang membuat pekerja merasa tertekan, jadi, tidak sehat secara mental,” kata Zulvia.

    Sang dokter menyarankan seseorang yang merasa mengalami stres pekerjaan disarankan untuk melakukan sedikit hal yang berbeda saat berada di lingkungan kerja dengan tujuan agar dia merasa nyaman.

    Apabila cara itu kurang efektif, pekerja disarankan untuk cuti untuk menyegarkan pikiran sehingga siap bekerja kembali pada waktunya.

    “Ambil rute beda ke tempat kerja, atau naik moda transportasi yang berbeda. Bisa juga dengan membuat lingkungan kerja semakin ceria lewat musik atau menghias tempat kerja,” kata dia.

    Cara terakhir untuk mengatasi gangguan mental adalah berkonsultasi dengan psikolog agar dapat ditangani secara tepat.

    “Mungkin ingin cerita, mengeluarkan unek-unek supaya lebih lega. Mungkin cara ini membantu seseorang lebih bijaksana dalam mengambil keputusan di tempat kerja,” ujar dia.

  • Dear Pekerja, Tidur Cukup Bagus untuk Kesehatan Fisik dan Mental

    Dear Pekerja, Tidur Cukup Bagus untuk Kesehatan Fisik dan Mental

    7cloud.asia – Menjalankan aktivitas cukup tidur dan berkualitas tidak boleh terlewatkan karena kegiatan itu dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang.

    Researcher & Health Educator Nutrifood Research Center Rendy Dijaya seperti tertulis dalam jurnal NutriClassNews Vol. 59 mengatakan, Jurnal JAMA Psychiatry terdapat data yang menunjukkan bahwa pola tidur night owls terkait dengan risiko depresi hingga 2 kali lebih tinggi.

    “Tetapi mengingat kondisi kesehatan mental juga dapat mempengaruhi pola tidur, sulit menentukan mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi akibat dari kedua faktor ini,” katanya dikutip Antaranews.com beberapa waktu lalu.

    Istilah night owls mengacu untuk orang-orang yang tidur lebih larut namun bangun tidur lebih siang.

    Sedangkan istilah early birds mengacu untuk mereka yang terbiasa tidur lebih awal namun bangun lebih pagi.

    Baca Juga: Simak! Waktu Tidur Ideal dan Kapan Waktunya

    Data lain pada tahun 2018 menunjukkan bahwa para early birds memiliki risiko depresi lebih rendah hingga 27%.

    Hal ini kemudian mendorong penelitian lebih lanjut yang menemukan bahwa memajukan waktu tidur 1 jam lebih awal dengan durasi tidur yang tetap dapat membantu menurunkan risiko depresi hingga 23%.

    Semisal seseorang yang terbiasa tidur pukul 1 pagi dan bangun pukul 8 pagi, kemudian mengubah jam tidur menjadi pukul 12 malam dan bangun pukul 7 pagi, maka risiko depresi teramati lebih rendah.

    Jika waktu tidur dimajukan 2 jam lebih awal dengan durasi tidur tetap, maka risiko depresi teramati mencapai 40% lebih rendah.

    Memajukan waktu tidur dan bangun lebih pagi dapat membantu menjaga kesehatan mental pada para night owls.

    Baca Juga: Menata Kamar Tidur Berdasar Feng Shui

    Diperkirakan, hal ini dapat terkait dengan paparan sinar matahari yang bisa lebih banyak didapat saat kita bangun lebih awal.

    “Langkah yang dapat dicoba antara lain rutin berolahraga, meredupkan cahaya di malam hari, serta membatasi screen time pada malam hari,” imbuh Rendy.

    Selain dapat mempengaruhi kondisi mental, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa tidur yang cukup dan berkualitas ternyata juga berkaitan dengan umur yang lebih panjang.

    Jurnal American College of Cardiology’s Annual Scientific Session menunjukkan bahwa kurang tidur berkaitan dengan pola makan yang lebih tidak sehat, masalah berat badan, peningkatan risiko penyakit, dan kesehatan emosional yang lebih buruk.

    Selain itu, penelitian terhadap 172.321 responden menunjukkan bahwa sebanyak 8% kasus kematian dari semua penyebab dapat terkait dengan kebiasaan tidur yang tidak baik.

    Baca Juga: Kenali Penyebab Kurang Tidur dan Gangguan Kualitas Tidur

    Sedangkan mereka yang memiliki semua aspek kualitas tidur yang baik teramati memiliki risiko kematian akibat segala penyebab hingga 30% lebih rendah.

    Kualitas tisur juga menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 21% lebih rendah, serta risiko kematian akibat kanker hingga 19% lebih rendah apabila dibandingkan dengan yang tidak dan hanya memiliki 1 aspek kualitas tidur yang baik.

    Angka harapan hidup juga teramati lebih tinggi, yaitu 4.7 tahun lebih tinggi untuk pria dan 2,4 tahun lebih tinggi untuk wanita pada mereka yang memiliki semua aspek kualitas tidur baik.

    Di bawah ini terdapat beberapa kebiasaan sehari-hari untuk membangun pola tidur yang baik:

    1. Membuat jadwal tidur dan bangun tidur yang teratur setiap hari termasuk di akhir pekan dan menghindari perbedaan waktu tidur yang mencapai lebih dari 1 jam antar hari.

    2. Menghindari makan besar di dekat waktu tidur. Jika dirasa perlu, pilih kudapan ringan yang sehat.

    3. Memperbanyak aktivitas fisik dan sebisa mungkin meluangkan waktu di luar ruangan.

    4. Menghindari tidur siang di sore hari dan batasi waktu tidur siang maksimal 20 menit.

    Sumber:Antaranews.com

    5. Menjaga ruang tidur sejuk, gelap, dan tenang.

  • 4 Langkah Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Mental

    4 Langkah Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Beberapa tahun belakangan masyarakat makin sadar akan pentingnya kondisi kesehatan mental. 

    Masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan fisik tetapi juga mempengaruhi produktivitas kerja.

    Bagi Anda yang merasakan ada masalah dengan kondisi kesehatan mental, psikolog dewasa Chuck Schaeffer Ph.D memberikan solusi untuk mengatasinya.

    Dilansir di laman Psychology Today, Senin (29/4/2024), Chuck merekomendasikan empat langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kekuatan mental Anda baik di tempat kerja maupun di rumah.

    Baca Juga: Dear Pekerja, Tidur Cukup Bagus untuk Kesehatan Fisik dan Mental

    1. Prioritaskan latihan harian

    Jika Anda ingin meningkatkan daya ingat, meningkatkan regulasi emosi, meningkatkan perhatian di kemudian hari tanpa secangkir kopi, atau bahkan jika Anda ingin mencegah demensia dan penyakit Alzheimer, latihan fisik secara konsisten akan menjaga kesehatan mental dan kebugaran Anda.

    “Saat Anda berlatih olahraga setiap hari, Anda memulihkan otak dan sistem saraf untuk mengatasi stres dan melindungi diri dari depresi dan kecemasan,”tulisnya.

    Olahraga ke gym atau hanya berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah Anda secara teratur setiap hari maka akan memperkuat otak dan meningkatkan kekuatan sistem saraf yang menenangkan.

    Buntutnya, Anda dapat dengan cepat mengatasi rasa cemas dan panik tanpa harus memikirkannya.

    Baca Juga: Cermati Gejala Stres Akibat Gangguan Kesehatan Mental di Tempat Kerja

    2. Ukur suhu emosional

    Kemampuan Anda untuk memahami dan memprediksi emosi sepanjang hari berdampak signifikan pada kesejahteraan finansial dan emosional.

    Dengan meluangkan waktu lima menit setiap hari untuk merenungkan kondisi emosi saat ini dan apa yang mungkin memengaruhinya, Anda dapat meningkatkan kecerdasan emosional.

    Merasakan banyak emosi pada saat yang sama adalah hal yang biasa, jadi jangan berfokus pada satu emosi saja. Cobalah memberi label sebanyak yang Anda bisa rasakan saat mengukur suhu emosi Anda.

    Kunci untuk mengukur suhu emosi adalah belajar menerima emosi apa pun yang Anda rasakan tanpa menghakimi.

    Penerimaan dapat dibangun seperti otot—semakin sering Anda berlatih mengukur suhu emosi, semakin mudah Anda menerimaannya.

    Baca Juga: Selalu Merasa Stres Saat Berangkat Kerja? Waspadai Kesehatan Mental Kamu

    3. Berlatih jalan mindfulness

    Dikenal sebagai jalan penuh kesadaran, ini adalah praktik berjalan perlahan dan memperhatikan sensasi berbeda di tumit, lengkungan, dan jari kaki di setiap langkah Anda.

    Jika ingin lebih fokus, lepaskan kaus kaki dan sepatu dan perhatikan tekstur dan perasaan rumput yang berbeda saat kaki menyentuh tanah dalam satu langkah.

    Latihan ini memungkinkan Anda memusatkan perhatian hanya pada satu hal. Ingat anda hanya diajak memperhatikan, tanpa menghakimi.

    Praktik mindfulness bisa memperkuat sistem saraf, meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan mental sehingga dapat mengatasi kecemasan dan stres secara efektif.

    Saat melatih mindfulness, Anda melatih sistem saraf untuk lebih cepat tenang, rileks, dan memfokuskan pikiran saat sedang dilanda stres dan kecemasan.

    Untuk langkah yang satu ini, Anda hanya perlu meluangkan waktu lima menit untuk berjalan sendiri melewati ruang hijau seperti halaman belakang rumah, taman, atau lapangan atletik.

    Baca Juga: Hampir Separuh Kelompok Usia Produktif adalah Generasi Sandwich, Ini Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

    4. Mendapatkan akses kesehatan mental fisik

    Hal terbaik yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kekuatan mental adalah datang ke profesional seperti konselor, terapis, atau psikolog untuk memeriksa kesehatan mental.

    Anda perlu memantau kesehatan mental untuk melacak dan membantu mengatasi kesulitan atau masalah apa pun yang mungkin Anda temui.

    Anda bahkan dapat memulai pengobatan perilaku seperti terapi untuk membantu mengatasi kecemasan dan depresi sehingga Anda dapat berkembang di tempat kerja dan di lingkungan sosial Anda.

  • Riset: Kegiatan Sederhana Berbasis Alam Tingkatkan Kesehatan Mental Siswa.

    Riset: Kegiatan Sederhana Berbasis Alam Tingkatkan Kesehatan Mental Siswa.

    7cloud.asia – Hasil penelitian baru yang dilakukan oleh tim riset dari North Carolina State University menunjukkan bahwa kegiatan sederhana berbasis alam dapat meningkatkan kesehatan mental siswa.

    Kegiatan berbasis alam juga mengurangi stres, kecemasan, dan depresi di kalangan remaja.

    Antaranews.com melansir Medical Daily, menyebutkan bahwa menurut hasil penelitian tersebut, mengikuti sesi pengamatan burung selama 30 menit lima kali setiap pekan bisa meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan mental.

    Kegiatan alam ini disebutkan dalam laporan yang dilansir pada Senin (6/5/2024) juga disebut bisa mengurangi tekanan psikologis di kalangan mahasiswa.

    Baca Juga: Nikmati Sesi Slow Living di Alam Terbuka

    Tim peneliti juga mendapati aktivitas sederhana yang mudah dijalankan itu bisa memberikan kesejahteraan subjektif yang lebih baik dan mengurangi tekanan dibandingkan dengan bentuk-bentuk paparan alam yang lain, seperti berjalan-jalan di alam.

    “Ada banyak riset tentang kesejahteraan pada masa pandemi yang menunjukkan bahwa remaja dan mahasiswa yang paling kesulitan. Khususnya pelajar dan mahasiswa, tampaknya itu kelompok yang kesusahan dalam menjangkau alam dan mendapatkan manfaat tersebut,” kata Nils Peterson, salah satu penulis hasil studi dari North Carolina State University.

    “Pengamatan burung adalah salah satu cara yang paling umum dilakukan manusia untuk berinteraksi dengan satwa liar…, dan kampus menyediakan tempat untuk mengakses aktivitas tersebut bahkan di lingkungan perkotaan,” katanya.

    Dalam risetnya, para peneliti melibatkan 112 peserta siswa yang dibagi dalam tiga kelompok: kelompok kontrol, kelompok jalan-jalan di alam, dan kelompok mengamati burung yang ditugasi mengikuti lima sesi mengamati burung selama 30 menit.

    Baca Juga: 4 Langkah Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Mental

    Mereka kemudian dievaluasi menggunakan survei WHO-5, alat dengan lima pertanyaan untuk menilai kesejahteraan pada skala nol hingga lima berdasarkan perasaan selama dua minggu terakhir.

    Meskipun semua kelompok menunjukkan peningkatan skor WHO-5, kelompok pengamat burung yang memulai dengan skor lebih rendah berakhir mendapatkan skor lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.

    Dengan menggunakan daftar pertanyaan serupa untuk mengukur tekanan, para peneliti juga mendapati kegiatan yang bersentuhan dengan alam, khususnya pengamatan burung dan jalan-jalan di alam, dapat memicu penurunan tekanan psikologis.

    Hasil penelitian itu mendukung gagasan bahwa mengamati burung membantu meningkatkan kesehatan mental dan membuka banyak jalan untuk penelitian di masa depan.

    Baca Juga: Minimalisme Tak Hanya Menata Kekacauan Mental Tapi Menjadikan Hidup Dalam Kendali Anda

    Hal ini termasuk studi untuk mengetahui mengapa mengamati burung membantu orang merasa lebih baik.

  • Survei: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Miliki Masalah Kesehatan Mental

    Survei: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Miliki Masalah Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Survei yang dilakukan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menemukan ada masalah serius dengan kondisi kesehatan mental remaja di Indonesia.

    Survei itu mengungkap satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10 sampai dengan 17 tahun memiliki masalah kesehatan mental. Angka tersebut setara dengan 15,5 juta remaja.

    Gangguan kesehatan mental yang paling banyak dialami oleh remaja adalah gangguan cemas, fobia sosial, gangguan depresi mayor, gangguan perilaku, gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian (ADHD).

    Hal itu cukup mengkhawatirkan mengingat hampir 20 persen dari total penduduk Indonesia berada dalam rentang usia 10–19 tahun.

    Baca: Usia kritis kesehatan mental

    Pendiri Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) Ruth Andriani mengatakan gangguan kesehatan mental pada siswa dapat menyebabkan gangguan emosi, kesulitan dalam berkonsentrasi, stres hingga depresi.

    “Itu sebabnya peran guru dan sekolah sangat diberikan, terutama dalam memberikan dukungan psikologis awal atau Psychological First Aid (PFA) pada masalah kesehatan mental siswa,” ujar Ruth di Jakarta, Minggu (12/5/2024)

    Karena kondisi ini, KGSB bersama dengan Konsultan Psikologi Pelangi dan alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, melakukan pelatihan PFA bagi guru

    Pelatihan ini bertujuan untuk membekali para tenaga pendidik dengan kemampuan pertolongan pertama pada masalah kesehatan mental anak.

    Baca: Langkah sederhana jaga kesehatan mental 

    Psikolog dari Konsultan Psikologi Pelangi dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul, Lita Patricia Lunanta menambahkan bahwa tujuan dari PFA adalah untuk mengembalikan rasa aman,

    PFA juga bertujuan menetapkan hubungan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

    PFA ini juga untuk mengembalikan perasaan diri mampu untuk mengatasi keadaan dan menolong diri.

    “PFA dapat dilakukan di mana saja. Idealnya segera dilakukan saat kontak pertama dengan klien atau biasanya segera setelah musibah. Tetapi kalau baru ketahuan, bisa juga beberapa hari atau minggu bahkan beberapa bulan kemudian,” jelas Lita.

    Baca: Pentingnya mengenali kesehatan mental sejak dini

    Prinsip utama dari PFA adalah look (pantau), listen, dan link atau lihat, dengarkan, dan tautkan.

    Pada tahap lihat, penting bagi guru untuk terlebih dahulu menilai keadaan dari peristiwa yang sedang terjadi serta tentang (profil) siswa yang membutuhkan bantuan.

    Pada tahapan dengar, asesmen yang diberikan antara lain dengan mendengarkan, mengerti, mengeksplorasi, mendorong, dan mencari solusi.

    Guru harus serius memperhatikan dan mendengarkan siswa tersebut secara aktif, mampu memahami perasaannya, bisa menenangkannya terkait situasi krisis yang tengah mereka derita, menanyakan apa kebutuhan dan kekhawatiran mereka

    Baca: Film tentang kesehatan mental

    Guru juga diharapkan mampu membantu menyelesaikan kebutuhannya yang mendesak dan memecahkan permasalahannya.

    Tahap akhir yakni tautkan, yakni menghubungkan siswa dengan orang atau pihak lain sesuai dengan kebutuhannya.

    Bila siswa membutuhkan penanganan medis dapat dirujuk ke dokter. Bila siswa membutuhkan konseling lebih lanjut bisa dirujuk ke konselor atau psikolog.

    Bila sudah ada gangguan psikologis yang membutuhkan pengobatan lebih lanjut bisa dirujuk ke psikiater.

    Sumber:Antaranews.com

  • Riset: Konsumsi Ganja Bisa Memicu Masalah Kesehatan Mental

    Riset: Konsumsi Ganja Bisa Memicu Masalah Kesehatan Mental


    7cloud.asia – Sebuah studi menyatakan bahwa konsumsi ganja berpotensi dapat menggandakan risiko seorang remaja terkena episode psikotik atau masalah kesehatan mental.

    Dilansir dari Medical Daily, Rabu (15/5/2024), penggunaan ganja secara teratur dikaitkan dengan risiko masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi.

    Penelitian itu menemukan masalah kesehatan mental akibat konsumsi ganja meningkat hampir dua kali lipat di awal masa dewasa pengonsumsinya.

    Dalam studi sebelumnya, konsentrasi Tetrahidrokanabinol (THC) dalam ganja dikatakan meningkat sebesar 14 persen dalam lima dekade terakhir.

    Sementara pada studi terbaru University of Bath yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Addiction, para peneliti meneliti hubungan antara psikosis remaja dini dan potensi ganja

    Baca: Pro kontra penggunaan ganja untuk pengobatan

    Riset ini dilakukan dengan menggunakan studi Children of the 90s, yang memiliki data sekitar 14.000 orang sejak mereka lahir.

    Para peserta ditanyai tentang penggunaan ganja saat mereka berada di usia antara 16 hingga 18 tahun.

    Mereka juga ditanyai tentang jenis utama ganja dan kejadian pengalaman psikotik seperti halusinasi atau delusi pada usia 24 tahun.

    Peneliti menemukan beberapa temuan penting yakni pengalaman psikotik batu meningkat pada 6,4 persen remaja pengguna ganja.

    Angka ini dua kali lebih besar jika dibandingkan dengan non pengguna ganja yang tercatat hanya 3,8 persen.

    Baca: Mungkinkah Indonesia legalkan ganja

    Kemudian saat membandingkan penggunaan ganja dengan potensi tinggi dan rendah, para peneliti mencatat bahwa 10,1 persen remaja dengan potensi tinggi melaporkan pengalaman psikotik baru.

    Sementara hanya 3,8 persen pada remaja dengan potensi rendah mengalami hal yang sama.

    Menurut penulis utama studi, Dr. Lindsey Hines dari Departemen Psikologi Universitas Bath, kaum muda yang menggunakan ganja dengan potensi lebih tinggi dua kali lebih mungkin mengalami pengalaman yang terkait dengan psikosis, seperti halusinasi dan delusi.

    “Yang penting, kaum muda yang kami tanyai belum pernah melaporkan pengalaman ini sebelum mulai menggunakan ganja.“

    “Bukti bahwa penggunaan ganja dengan potensi lebih tinggi dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental,” kata dia.

    Baca: Legalisasi ganja untuk pengobatan kembali digugat

    Berdasarkan temuan studi tersebut, para peneliti kini menyerukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji dampak jangka panjang dari ganja dengan potensi tinggi.

    Mereka juga mrekomendasikan untuk mengambil langkah-langkah untuk mengurangi potensi ganja yang tersedia bagi kaum muda.

    Temuan-temuan ini menunjukkan betapa pentingnya memahami dampak jangka panjang dari penggunaan ganja dengan potensi yang lebih tinggi pada generasi muda.

    “Kita perlu meningkatkan penyampaian pesan dan informasi yang tersedia bagi generasi muda mengenai dampaknya pada penggunaan ganja di abad ke-21,” kata Hines.

    Sumber: Antaranews.com

  • Dear Orang Tua, Rawat Kesehatan Mental Anak dengan Ucapan Positif

    Dear Orang Tua, Rawat Kesehatan Mental Anak dengan Ucapan Positif

    7cloud.asia – Menggunakan kata-kata baik dari orang tua untuk membimbing anak dapat memiliki dampak yang kuat terhadap kesehatan mental.

    Kesehatan mental yang baik pada gilirannya akan membentuk kesejahteraan anak di masa yang akan datang.

    Ditulis laman Hindustan Times, Jumat (17/5/2024), Psikoterapis Mansi Poddar mengatakan ketika umpan balik menyoroti upaya dan kemajuan hal itu memvalidasi upaya anak merayakan pertumbuhan mereka.

    “Hal ini membangun kepercayaan diri dan citra diri yang positif. Daripada mengatakan ‘pekerjaan bagus’, lebih baik ‘Saya menyukai cara kamu menggunakan warna berbeda dalam gambar itu’,” katanya.

    Baca: Pentingnya ajarkan perbedaan sejak dini

    Mansi Poddar mengungkapkan umpan balik dengan komentar positif dapat membawa kegembiraan sejati dalam pembelajaran dan pencapaian anak.

    Hal ini memupuk kecintaan terhadap pembelajaran dan motivasi diri. Beri apresiasi pada kerja keras yang dilakukan seorang anak.

    Menurutnya, anak-anak belajar mengidentifikasi dan mengelola emosinya ketika orang tua memberikan umpan balik yang mengakui perasaannya.

    Ini memupuk kecerdasan emosional, dan berfokuslah pada bagaimana perilaku mereka memengaruhi Anda seperti saat anak bisa berbagi mainan dengan temannya.

    Baca: Pola asuh bisa cegah bullying di sekolah

    Mansi menambahkan, merayakan upaya demi tantangan akan membantu meningkatkan ketahanan pada anak.

    Tanggapan sederhana seperti, ‘Saya tahu ujian itu sulit, tetapi kamu terus berusaha!’, dapat membuat perbedaan besar.

    ”Di sini anak-anak belajar bahwa kesalahan adalah batu loncatan, bukan kemunduran. Hal ini membangun ketabahan dan kemampuan untuk bangkit kembali dari kemunduran,” jelasnya.

    Sementara itu Psikoterapis Sandy Dias Andrade mengatakan ketika orang tua berbicara kasar, kritis, tidak sabar, anak akan merasa dirinya tidak baik-baik saja dan tidak merasa dicintai.

    Baca: Menumbuhkan semangat belajar pada anak

    Validasi dan memberi semangat tidak hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata namun juga saat melihat anak dan melalui sentuhan.

    Melalui sentuhan, ujarnya, kita dan dalam cara kita berhubungan dengan mereka, dalam beberapa cara itu memvalidasi siapa mereka pada tingkat keberadaan yang lebih dalam. Mereka merasa dilihat apa adanya.

    Hal ini membangun kenyamanan alami dan rasa percaya diri dalam diri mereka sendiri dan dalam kebersamaan dengan orang lain dan di dunia, sebagaimana adanya.

    ”Kita harus bertindak sebagai cerminan jiwa batin mereka,” katanya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Riset Temukan Adanya Kaitan Kesehatan Mental dengan Konsumsi Keju

    Riset Temukan Adanya Kaitan Kesehatan Mental dengan Konsumsi Keju

    7cloud.asia – Riset yang dilakukan tim peneliti dari Shanghai Jiao Tong University School of Medicine mendapati adanya kaitan kuat antara kesehatan mental dan konsumsi keju.

    Studi soal kaitan antara kesehatan mental dan konsumsi keju ini berskala cukup besar, yakni melibatkan 2,3 juta orang,

    Antaranews.com melansir siaran New York Post, menulis penelitian yang dipimpin oleh Profesor Tian-Ge Wang menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kesehatan mental dan ketahanan terhadap stres kuat tampaknya mengonsumsi lebih banyak keju.

    Dalam artikel yang terbit Selasa (18/6/2024) itu memaparkan, dengan menggunakan 33 faktor yang menghubungkan kesehatan mental dengan penuaan fisik, para peneliti menemukan bahwa keju tidak secara langsung bertanggung jawab atas umur panjang.

    Baca: Batasi konsumsi kopi untuk kesehatan mental kamu

    Namun, konsumsi keju dan buah yang lebih banyak merupakan kontributor utama terhadap tingginya skor kesejahteraan.

    Faktanya, mereka yang melaporkan mengonsumsi camembert dan keju sejenis memiliki dampak positif 3,67 persen terhadap faktor penuaan yang sehat tersebut.

    Para ahli sepakat mozzarella merupakan salah satu jenis keju yang baik untuk kesehatan.

    “Ini sumber protein dan kalsium yang baik dan bahkan mengandung probiotik yang dapat bermanfaat bagi kesehatan usus dan kekebalan tubuh,” kata Cheng-Han Chen, dokter ahli kardiologi bersertifikat, kepada Parade.

    Baca: Tidur cukup terbukti bagus untuk kesehatan mental

    Dia menambahkan, keju mozzarella segar juga memiliki lemak jenuh dan natrium lebih rendah dibandingkan keju lainnya sehingga bagus untuk kesehatan.

    Sementara penelitian lainnya mengungkap bahwa konsumsi keju juga membantu mencegah osteoporosis dan meningkatkan kekebalan tubuh.

    Keju yang terbuat dari susu, mengandung protein, kalsium, dan vitamin D yang baik untuk kesehatan tulang.

    Hasil penelitian tim dari Shanghai Jiao Tong University School of Medicine menunjukkan bahwa orang dengan kesejahteraan mental yang lebih baik cenderung menjadi lebih sehat seiring bertambahnya usia.

    Baca: Empat langkah sederhana untuk merawat kesehatan mental

    Para peneliti juga mendapati pengaruh signifikan pilihan gaya hidup seperti menonton TV, merokok, dan menggunakan obat-obatan terhadap penuaan.

    Profesor Tian-Ge WangIa menyampaikan bahwa mempertahankan gaya hidup aktif, membatasi menonton TV, dan menghindari merokok dapat meningkatkan fungsi kognitif dan mencegah penyakit umum.

    Sumber: Antaranews.com