Tag: kopi

  • Perubahan Iklim Turunkan Produksi Kopi: Pemerintah Didesak Turun Tangan

    Perubahan Iklim Turunkan Produksi Kopi: Pemerintah Didesak Turun Tangan

    7cloud.asia – Kopi merupakan salah satu jenis tanaman primadona di Indonesia. Sebagai negara pengekspor terbesar ke-4 di dunia–setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, biji kopi asal Indonesia menjangkau negara-negara Eropa, negara-negara Timur Tengah, dan Amerika Serikat.

    Namun, perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi terjaganya produksi kopi Indonesia.

    Permasalahan budi daya yang dihadapi petani selama dan pascapandemi, ditambah dengan dampak perubahan iklim, membuat kelimpungan petani kopi di sejumlah daerah.

    Studi pun mengamini petani kopi swadaya di negara berkembang kerap kesulitan mengatasi dampak perubahan iklim karena mereka tidak memiliki sumber daya untuk mencari pemasukan tambahan demi menjamin kesejahteraan keluarga mereka.

    Oleh karena itu, perlu campur tangan pemerintah mengatasi berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

    Pemerintah, misalnya, perlu memperkuat pengawasan untuk memastikan distribusi pupuk yang tepat sasaran. Titik-titik kerawanan penyimpangan perlu diberantas. Perlu ada sanksi tegas terhadap penyalahgunaan penyaluran pupuk bersubsidi.

    Baca: Menjaga produksi kopi Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim

    Di sisi lain, kelembagaan petani juga perlu penguatan. Berdasarkan wawancara, saat ini posisi tawar petani dalam penentuan harga jual kopi sangat rendah.

    Pembeli, yang mayoritas adalah pedagang besar, memiliki kuasa yang besar dalam menentukan harga. Lantaran margin yang kecil, petani hanya sedikit merasakan manfaat kenaikan harga kopi.

    Sebaliknya, adanya penurunan harga akan langsung menghantam perekonomian mereka karena minimnya modal usaha untuk memupuki tanaman.

    Oleh sebab itu, perlu dibentuk lembaga yang berfungsi menstabilkan harga kopi di tingkat petani, misalnya dengan menampung produk pada saat panen raya.

    Meski demikian, upaya mengatasi dampak perubahan iklim dan instabilitas harga jual dan harga sarana produksi pertanian tidak selamanya dapat bergantung pada pemerintah.

    Petani harus didorong untuk meningkatkan nilai tambah produk kopi mereka dengan pengolahan lanjutan.

    Baca: Petani kopi kehilangan produksi

    Pengolahan produk memberikan dua keuntungan sekaligus. Pertama, meningkatkan harga jual dan margin keuntungan yang lebih besar.

    Kedua, adanya penyerapan tenaga kerja selama proses pengolahan kopi meliputi proses pengupasan, pengeringan, pembuatan bubuk kopi, bahkan penjual produk kopi siap saji.

    Pemerintah dan swasta dapat membantu penyediaan mesin pengolah kopi dengan skema hibah atau pinjaman berbunga rendah. Perlu bantuan lembaga keuangan resmi pemerintah selama proses ini.

    Pasalnya, petani cenderung langsung menjual kopi setelah panen untuk mendapatkan uang tunai.

    Perubahan iklim merupakan sebuah keniscayaan. Bukan tidak mungkin hal yang sama bisa menimpa petani-petani kopi lain di Indonesia.

    Yang dapat kita lakukan adalah beradaptasi dan meredam dampaknya, serta meningkatkan ketangguhan petani kecil kita.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Ary Widiyanto (Peneliti Ahli Madya BRIN). Penulis berterimakasih kepada Dr. Sanudin dan Eva Fauziyah, M.Sc. (peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN) yang telah berkontribusi terhadap tulisan ini.

  • Tantangan Petani Kopi Gayo: Perubahan Iklim hingga Kurangnya Dukungan Pemerintah

    Tantangan Petani Kopi Gayo: Perubahan Iklim hingga Kurangnya Dukungan Pemerintah

    7cloud.asia – Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah tersohor dengan produk kopinya. Sekitar 80 persen pasokan bahan baku kopi Starbucks—perusahaan kedai kopi terbesar dunia—merupakan jenis Arabika yang berasal dari Gayo.

    Namun di balik harum dan nikmat khas kopi yang telah mendunia itu, tersimpan kisah perjuangan berat para petani. Gurihnya bisnis kopi Gayo tidak bisa dinikmati oleh para pekerja di belakangnya.

    Hasil penelitian kami (belum dipublikasi) dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada sepanjang 2023-2024 mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang membebani para petani kopi Gayo, dari perubahan iklim yang menyebabkan produktivitas menurun, hingga sistem pasar yang tidak berpihak pada mereka.

    1. Penurunan produksi akibat perubahan iklim
    Perubahan iklim telah meningkatkan suhu permukaan udara yang mengubah pola curah hujan di Dataran Tinggi Gayo.

    Selama 30 tahun terakhir, data Stasiun Meteorologi Sutan Iskandar Muda menunjukkan adanya tren peningkatan laju suhu udara sebesar 0,3°C/sepuluh tahun.
    Sementara menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tengah, curah hujan mengalami penurunan dari 5558,8 mm pada 2015 menjadi 2310,38 mm pada 2023.

    Kondisi ini menyebabkan lokasi kebun kopi pada area ketinggian 800-1200 meter di atas permukaan laut (MDPL) tidak lagi optimal menghasilkan kopi Arabika berkualitas.

    Perubahan iklim yang menyebabkan kemarau ekstrem juga membuat tanaman kopi susah berbunga dan memudahkan penyebaran penyakit.

    Dapatkan rangkuman isu terkini langsung dari editor-editor kami
    Hal ini tidak hanya menyebabkan penurunan produktivitas kopi, tapi juga berisiko gagal panen. Alhasil, petani merugi, penghasilan mereka turun drastis.

    Baca: Perubahan iklim pengaruhi produksi kopi dunia

    2. Pasar yang tidak adil
    Sebagian besar petani Gayo menjual kopi mereka dalam bentuk cherry alias buah kopi mentah, yang harganya jauh lebih rendah dibandingkan kopi yang sudah diolah.

    Sebagai perbandingan, harga kopi dalam bentuk cherry hanya dihargai Rp15 ribu/kilogram. Sebanyak 11 kilogram ceri kopi dapat diolah menjadi 1 kilogram bubuk kopi yang harganya bisa mencapai Rp450 ribu/kilogram.

    Keterbatasan peralatan produksi menjadi penyebab utama petani tidak bisa mandiri mengolah kopi hasil panen mereka.

    Pengolahan pascapanen membutuhkan banyak peralatan canggih dan mahal seperti pulper (mesin pengupas kulit kopi), alat fermentasi, pencucian, hingga pengeringan. Petani kecil tentu tidak mampu membeli peralatan tersebut yang diperburuk minimnya akses terhadap permodalan.

    Kondisi infrastruktur dasar seperti jalanan di daerah yang rusak kian memperburuk keadaan. Petani terpaksa menjual hasil panen kepada pengepul yang bersedia menjemput bola.

    Walhasil, para pengepul atau tengkulak bisa seenaknya menentukan harga ketika bernegosiasi dengan petani karena berada di atas angin.

    Sementara petani harus segera menjual hasil panen agar tidak busuk. Akibatnya, pada saat panen raya, harga kopi pasti anjlok karena kelebihan suplai dan sebaliknya harga naik ketika suplai terbatas—hasil penjualan kopi sering kali tidak cukup menutup biaya produksi.

    Saat posisi petani terjepit, para pengepul lokal atau rentenir justru mengambil kesempatan.

    Mereka datang menawarkan pinjaman dengan bunga tinggi, membuat petani semakin bergantung. Pada akhirnya banyak petani kopi yang terjebak dalam siklus utang yang tidak bisa diputus.

    Baca: Masalah lingkungan di balik budidaya kopi Gayo

    3. Tipu-tipu sertifikasi
    Persyaratan sertifikasi produk menjadi penghalang besar bagi petani untuk bisa masuk ke pasar global atau menjual biji kopi langsung ke konsumen akhir.

    Sertifikasi produk seperti fair trade, organik, atau Geographical Indication (GI) mensyaratkan standar yang sangat tinggi. Di antaranya, mengharuskan kualitas dan kuantitas produk harus stabil, yang tentu membutuhkan biaya besar.

    Petani harus membayar pelatihan, penilaian, dan pengawasan—sesuatu yang sulit mereka jangkau. Jadi, lagi-lagi ujungnya petani kembali bergantung pada pengepul lokal dengan imbalan harga yang rendah.

    “Bagi kami petani, bersertifikat atau tidak, harga cherry tetap sama segitu saja. Kami tidak tahu harga premium yang dijanjikan oleh sertifikasi untuk siapa” —Raje, petani kopi Gayo.

    4. Kelembagaan bisnis yang lemah
    Di Kabupaten Aceh Tengah, terdapat beberapa koperasi yang seharusnya bisa menjadi perantara antara petani dan pasar untuk memastikan harga jual kopi yang adil. Namun dalam praktiknya, para petani merasa bahwa koperasi tidak mewakili kepentingan mereka.

    Harga kopi yang ditetapkan koperasi sering kali terlalu rendah, dengan sistem pembagian keuntungan dan pengelolaan keuangan yang kurang transparan. Kesenjangan akses dan informasi membuat tidak semua anggota koperasi terlibat dalam pengambilan keputusan.

    Pemerintah daerah melalui Peraturan Gubernur Aceh Nomor 32 Tahun 2022 tentang Pedoman Tata Kelola Kopi Arabika Gayo sebagai Kopi Spesialti telah menetapkan Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) bertanggung jawab sebagai penjamin mutu, rantai pasok, dan keberlanjutan usaha kopi

    Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan petani kopi di Gayo harus berjuang sendiri.

    Baca: Mempertahankan produksi kopi Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim

    5. Kurangnya dukungan pemerintah
    Dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri kopi berkelanjutan, termasuk pemberian insentif, pendidikan, pelatihan bagi petani kopi Arabika Gayo masih sangat minim.

    Dalam penelitian yang kami lakukan, tercatat hanya ada enam pelatihan dengan 18 peserta per sesi yang dilakukan sepanjang 2022–2024. Angka ini sangat kecil dibandingkan jumlah petani kopi di Aceh Tengah yang mencapai 39.475 orang

    Kami juga menemukan banyak petani masih menggunakan bahan tanam seadanya dan bibit yang tidak berkualitas serta tidak mampu menerapkan manajemen kebun yang baik.

    Tak ayal, produktivitas kebun kopi pun rendah. Rata-rata produktivitas kebun kopi di lokasi penelitian hanya 800 kg per hektare, jauh dari potensi optimal Arabika Gayo yang seharusnya bisa mencapai 1,5 ton per hektare.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
    Ari Susanti (Dosen di Fakultas Kehutanan UGM, Universitas Gadjah Mada)
    Cut Maila Hanum (Dosen STIK Pante Kulu Aceh)
    Dahlan Dahlan (Dosen, Universitas Syiah Kuala)
    Arsy Widowangi dari Fakultas Kehutanan UGM berkontribusi dalam riset ini sebagai asisten peneliti.

  • Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Kopi Dunia

    Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Kopi Dunia

    7cloud.asia – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim,

    Hal ini karena hasil pertanian berubah seiring dengan interaksi faktor-faktor iklim seperti suhu, pola curah hujan, lamanya musim tanam, serta hama dan penyakit yang dipicu perubahan iklim.

    Seiring memburuknya perubahan iklim, pasokan pangan, kualitas pangan, dan mata pencaharian petani pun ikut memburuk.

    Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya peristiwa cuaca ekstrem akibat perubahan iklim telah menyebabkan anjloknya hasil panen global.

    Perubahan iklim telah memberikan dampak negatif yang substansial terhadap pasokan pangan dunia, meningkatkan harga, dan memengaruhi ketahanan pangan, dan situasinya diperkirakan akan semakin memburuk.

    Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan global

    Dilansir Earth.org, kenaikan suhu dan perubahan pola cuaca memengaruhi tiga tanaman pangan terpopuler di daerah tropis yakni pisang, kopi dan coklat Dalam artikel sebelumnya telah dibahas soal dampak perubahan iklim pada petani pisang.

    Dalam artikel ini, kita akan mengulas tentang dampak perubahan iklim pada petani kopi.

    Brasil dan Vietnam adalah produsen kopi terbesar di dunia, masing-masing menyumbang 39 persen dan 16 persen dari total produksi kopi dunia.

    Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara tersebut telah terdampak oleh peristiwa cuaca ekstrem yang parah akibat perubahan iklim, begitu pula panen kopi mereka.

    Tahun lalu, Brasil mengalami tahun terkeringnya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1950, dengan ketinggian air di banyak sungai di Lembah Amazon turun ke titik terendah sepanjang sejarah.

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi produksi pisang dunia

    Penelitian yang diterbitkan pada bulan April menunjukkan bahwa Brasil mengalami embun beku yang dahsyat pada tahun 2021, diikuti oleh kekeringan parah pada tahun 2023, yang berdampak parah pada panen kopi, terutama Arabika.

    Kopi Arabika merupakan salah satu dari dua jenis biji kopi utama yang dikonsumsi di seluruh dunia bersama Robusta.

    Di negara bagian Minas Gerais, Brasil, misalnya, kekeringan yang berlebihan akibat kondisi kekeringan yang tidak normal telah mengurangi pertumbuhan vegetatif cabang, yang sangat penting bagi pohon untuk menghasilkan buah dalam jumlah besar.

    Sebaliknya, pada tahun 2024, hujan lebat yang tidak normal akibat Badai Tropis Trami memengaruhi provinsi-provinsi utama penghasil kopi di Vietnam tepat di awal musim panen.

    Ini menjadi dilema bagi para petai, karena jika dibiarkan terlalu lama setelah matang, kualitas biji kopi akan terpengaruh.

    Baca: Perubahan iklim dan anomali cuaca pengaruhi produksi kopi Indonesia

    Serupa dengan pisang, kopi juga terganggu oleh hama dan penyakit, yang menyebar seperti api akibat peningkatan suhu dan kelembapan.

    Misalnya, karat daun kopi, salah satu ancaman terbesar bagi tanaman kopi di daerah-daerah penghasil kopi utama di dunia, lebih mungkin menyebar dengan cepat di lingkungan yang hangat dan lembap, sehingga merusak pohon kopi.

    Pada tahun 2020, para peneliti menemukan bahwa perubahan iklim akan mengurangi area yang cocok untuk menanam kopi – baik Arabika maupun Robusta – sekitar 50 persen pada pertengahan abad ini.

    Tanpa intervensi, Vietnam diperkirakan dapat kehilangan setengah dari area produksi kopi Robusta saat ini pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.

    Kondisi ini akan berdampak khususnya pada petani kecil, yang memasok sekitar 95 persen kopi nasional Vietnam.

    Baca: Penerapan pertanian cerdas iklim bagus untuk lingkungan

  • Apakah Kita Mampu Beli ‘Rumah Mungil’ Kalau Puasa Gak Beli Kopi?

    Apakah Kita Mampu Beli ‘Rumah Mungil’ Kalau Puasa Gak Beli Kopi?

    7cloud.asia – Banyak konten influencer finansial yang sesumbar kalau seseorang berhemat seperti puasa beli kopi, maka dia bisa lebih sejahtera.

    Kata mereka, dengan menerapkan gaya hidup frugal, orang bisa menyisihkan uang untuk menabung, investasi, sampai membayar DP rumah utamanya rumah mungil di tengah mahalnya biaya hidup di perkotaan.

    Tapi anggapan ini justru dibantah oleh sejumlah akun di media sosial. Akun TikTok @santirasyalleia, misalnya. Dia menganggap meski telah menahan beli kopi selama setahun, banyak orang tetap tak akan mampu membayar uang muka rumah mungil dengan harga pasaran saat ini.

    Konten semacam ini menunjukkan fenomena generasi muda yang kesulitan memiliki rumah. Sebagai akademisi yang berfokus pada isu individu kelas menengah kota-kota besar, penulis mendapati rumah mungil (tiny house) bisa menjadi alternatif solusi atas masalah ini.

    Tentu pertanyaan besarnya: apakah rumah mungil mampu mengatasi isu ketidakmampuan generasi kita dalam memiliki rumah? Sayangnya tidak sepenuhnya.

    Isu kepemilikan rumah generasi muda
    Melansir BPS dan Rumah123.com, daya beli pekerja di kota-kota besar di Indonesia tidak mampu mengejar harga rumah di pasaran.

    Akibatnya, sekitar 5,8 juta rumah tangga Milenial dan hampir 500 ribu rumah tangga Gen Z belum memiliki rumah.

    Pengembang pun mengantisipasi tren ini dengan memunculkan tren baru berupa tiny house atau rumah mungil. Laporan Kompas menyatakan, pada 2024, permintaan rumah berukuran di bawah 60 meter persegi meningkat secara signifikan di berbagai kota besar di Indonesia.

    Baca: Gerakan rumah mungil sedang ngetren

    Sayangnya, dengan kondisi ekosistem perumahan saat ini, sebenarnya tiny house bukan menjadi pilihan ideal yang sesuai dengan gaya hidup Zilenial (Gen Z dan Milenial). Bagi mayoritas mereka, tiny house merupakan opsi tunggal untuk bisa memiliki hunian permanen.

    Tren rumah mungil
    Di berbagai negara, tiny house atau rumah mungil digadang-gadang menjadi solusi perumahan bagi keluarga kecil yang dinamis maupun bagi para tunawisma.

    Banyak juga yang berpendapat bahwa tren tiny house akan mengubah paradigma bermukim penduduk perkotaan yang padat.

    Di Indonesia, yang sering disebut dengan tiny house adalah rumah tapak dengan luas lahan kurang dari 60 meter persegi.

    Rumah-rumah ini tersebar tidak hanya di kawasan pusat perkotaan di mana lahan memang sangat terbatas, tapi juga di kota-kota pinggiran seperti Tangerang dan Bekasi.

    Meski begitu, harga rumah-rumah ini tidak semungil ukurannya. Misalnya di Jakarta Barat, rata-rata harga rumah berukuran di bawah 60 meter persegi sudah mencapai Rp1,25 miliar per unit.

    Di Medan, Bekasi, dan Tangerang, median harga rumah berukuran sama masing-masing mencapai Rp470 juta, Rp575 juta, dan Rp789 juta.

    Seberapa layak rumah mungil? Pada 2019, para peneliti dari Institute for Housing and Urban Development, Erasmus University Rotterdam mengembangkan framework evaluasi kelayakan rumah tinggal yang menyasar berbagai aspek.

    Baca: Hunian dengan konsep micro living jadi pilihan masyarakat Urban

    Dua aspek penting yang sangat relevan untuk kelayakan hunian di antaranya adalah ketersediaan dan keterjangkauan.

    Dalam aspek ketersediaan, sebuah hunian dianggap memadai jika tersedia di lokasi yang sesuai permintaan.

    Misalnya, jika backlog (selisih angka rumah dengan kebutuhan rumah) hunian tertinggi para Zilenial ada di Jakarta, maka rumah mungil yang berlokasi di daerah Maja atau Tenjo tentu tidak bisa dianggap ideal.

    Sebab, rumah di daerah ini mengharuskan para Zilenial untuk menempuh perjalanan dari rumah ke kantor hingga 1,5 jam setiap hari.

    Sementara dalam aspek keterjangkuan, harga unit harus juga sesuai dengan daya beli dan aspek-aspek finansial lainnya.

    Sebagai contoh, hunian dengan luas kurang dari 60 m2 di Surakarta memiliki median harga Rp470 juta per unit. Harga tersebut memang lebih murah jika dibandingkan dengan kota besar lainnya.

    Akan tetapi, jika kita mengacu ke upah minimum Surakarta sebesar Rp2,4 juta pada 2025, maka harga tersebut tidak lagi bisa dianggap terjangkau.

    Di Indonesia, rumah mungil yang murah juga perlu kita waspadai. Sebab, bisa jadi rumah-rumah dengan harga yang terlalu murah malah menimbulkan pengeluaran tambahan saat sudah kita huni.

    Baca: Harga rumah makin mahal, haruskah kita punya hunian sendiri?

    Contohnya, saat ini banyak konten rumah mungil di media sosial tentang renovasi rumah subsidi dengan luas lahan yang terbatas (40 hingga 60 m2). Kebutuhan renovasi muncul karena sebagian besar rumah tersebut hanya memiliki ventilasi udara dan pencahayaan di bagian depan.

    Akhirnya ruangan di dalam rumah harus selalu menggunakan lampu, AC, atau kipas angin sepanjang hari agar nyaman dihuni.

    Kondisi tersebut tidak sejalan dengan standar rumah sehat yang mengharuskan rumah memiliki bukaan di sisi depan dan belakang. Tujuannya agar udara dan sinar matahari dapat masuk ke dalam bangunan dan mengalir dengan bebas.

    Dengan desain dan inovasi yang ciamik, Tiny house sebenarnya bisa dikembangkan menjadi solusi hunian yang terjangkau tanpa mengorbankan aspek kelayakan.

    Di Tokyo, misalnya, para arsitek dan pengembang tidak hanya membangun rumah yang “kecil” ukuran semata, tetapi juga memanfaatkan teknologi dan inovasi desain rumah, material bangunan, dan teknik konstruksi terbaru yang mendukungnya sehingga menjadi rumah sehat dan layak huni.

    Perlu sentuhan pemerintah
    Apabila tren rumah mungil akan diadopsi sebagai salah satu solusi hunian, pemerintah perlu memastikan pasokannya secara memadai. Kehadiran pemerintah juga krusial untuk mengontrol laju harga pasar.

    Pemerintah perlu bekerja sama dengan pengembang, arsitek, dan akademisi untuk mewujudkan inovasi standar desain rumah tinggal mungil yang sehat dan layak huni dengan harga yang tetap terjangkau.

    Dari segi permintaan, perlu ada program-program pembiayaan dan melebarkan strategi finansial bagi para Zilenial untuk meningkatkan daya beli mereka.

    Tentunya, masalah daya beli ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan berhenti membeli kopi.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Issa Tafridj (PhD Researcher, Institute for Housing and Urban Development Studies, Erasmus University Rotterdam, Universitas Pembangunan Jaya)

  • JICC 2025, Ekosistem Industri Kopi dan Filosofi di Balik Secangkir Kopi

    JICC 2025, Ekosistem Industri Kopi dan Filosofi di Balik Secangkir Kopi

    7cloud.asia – Buat Anda pencinta kopi, jangan lewatkan momen Jakarta International Coffee Conference atau JICC 2025 yang berlangsung mulai Kamis (6/11/2025) hingga Sabtu (8/11/2025) di Jakarta.

    Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mengungkapkan Jakarta bangga menjadi tuan rumah JICC 2025 yang merupakan ajang bergengsi ini karena mempertemukan para pelaku kopi dari hulu hingga hilir.

    Momentum ini menjadi sarana berbagi gagasan, membangun jejaring, serta memperkuat ekosistem kopi yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing global.

    “Penyelenggaraan JICC 2025 menunjukkan kesiapan Jakarta menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional dan internasional. Ini juga menegaskan peran Jakarta sebagai kota global yang kolaboratif, kompetitif, dan berkelanjutan,” ujar Rano saat menghadiri pembukaan JICC 2025 di Gedung A. A. Maramis, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.

    JICC 2025 yang berlangsung selama tiga hari, diramaikan rangkaian acara menarik, seperti konferensi yang menghadirkan pembicara inspiratif dari dalam dan luar negeri, edukasi dan pengembangan kapasitas pelaku industri kopi, SCAI Awards sebagai bentuk apresiasi bagi kontribusi insan kopi Indonesia.

    Baca: Apa anak muda mampu beli rumah jika puasa gak beli kopi

    Juga Art & Exhibition yang menampilkan karya dan inovasi kreatif dalam dunia kopi, Indonesia Latte Art Championship 2025/2026 yang merupakan ajang bergengsi bagi para barista terbaik, serta Soundpresso pengalaman relaksasi yang memadukan kopi, kreativitas, dan komunitas.

    Nah, buat Anda yang serius menekuni bisnis kopi ada Coffee Market, ruang promosi dan jejaring bisnis bagi pelaku usaha.

    Sebagai pecinta kopi, Rano menyampaikan pandangannya tentang filosofi di balik secangkir kopi yang menyimpan perjalanan panjang, tentang dedikasi para petani, proses yang teliti, serta seni dan inspirasi yang lahir dari aroma dan rasa yang khas.

    ”Melalui konferensi ini, kita merayakan kekayaan pengalaman sekaligus semangat kreativitas yang tumbuh di sekitarnya,” ujarnya.

    Baca: Perubahan iklim dan anomali cuaca turunkan produksi kopi Indonesia

    Lebih lanjut, Wagub Rano menegaskan komitmen Pemprov DKI untuk terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, termasuk industri kopi.

    Upaya tersebut dilakukan melalui dukungan bagi talenta muda, perluasan akses pasar bagi UMKM, serta pengembangan coffee tourism corridors yang memperkenalkan pengalaman kopi khas Jakarta dan Indonesia ke dunia.

    Pemprov DKI ingin memastikan setiap biji kopi membawa kesejahteraan bagi petani, pelaku usaha, dan masyarakat luas tak hanya di Jakarta.

    “Mari manfaatkan momentum ini untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, agar kopi Indonesia semakin dikenal, bernilai, dan dicintai, baik di tingkat nasional maupun global,” pungkasnya.

  • Petani Kopi di Lampung Barat Merintis Pengolahan Kopi yang Tahan Perubahan Iklim

    Petani Kopi di Lampung Barat Merintis Pengolahan Kopi yang Tahan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Indonesia merupakan salah satu negara produsen kopi terbesar dunia. Sayangnya, mayoritas produksi kopi masih menggunakan cara tradisional yang mengandalkan alam.

    Kondisi ini juga terjadi di Lampung Barat, kawasan penyumbang ekspor kopi robusta terbesar kedua di Indonesia.

    Karena bergantung dengan alam, petani kopi di daerah ini harus menghadapi tantangan mendasar, yakni dalam pengeringan biji kopi.

    Dalam cara tradisional, pengeringan mengandalkan sinar matahari yang dapat memakan waktu berminggu-minggu, bahkan hingga sebulan penuh apabila cuaca tidak menentu.

    Akibatnya, selain ancaman gagal panen, petani selalu dihantui risiko kualitas biji kopi menurun karena terlalu lembab dan kontaminasi mikroorganisme.

    Risiko tersebut tidak hanya membuat harga kopi di tingkat petani berfluktuasi liar. Jika anomali cuaca meluas di Lampung Barat, maka ekspor komoditas ini juga akan terganggu.

    Adaptasi teknologi pengering untuk menjamin produktivitas
    Untuk menjawab isu ini, tim dari Institut Teknologi Sumatra (Itera) berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) merintis pengembangan mesin pengering kopi berbasis polymer super absorbent (PSA).

    Program ini berjalan dengan dukungan pendanaan yang telah diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program Skema Kosabangsa tahun anggaran 2025.

    Baca: Dampak perubahan iklim pada produksi kopi dunia

    Uji teknis alat ini melibatkan Gabungan Kelompok Tani Kopi Mukti Tani yang diketuai Kendro Haryanto di Pagar Dewa, Lampung Barat yang beranggotakan sekitar 30 petani untuk melihat proses uji coba pengeringan biji kopi menggunakan mesin ini.

    Sederhananya, mesin pengering bisa menjamin suhu ideal (60°C) yang dibutuhkan untuk proses pengeringan kopi. Alhasil, proses pengeringan yang biasanya menghabiskan waktu berhari-hari bisa tuntas dalam waktu 16-18 jam saja.

    Selain itu, alat ini juga sukses mempertahankan kadar air di bawah 12 persen. Batas tersebut memenuhi standar komoditas kopi ekspor seperti Cina yang menerima kopi dengan batas kadar air 8-12 persen.

    Karena pasokan gas dan bahan bakar minyak yang tergolong langka di Lampung Barat, mesin ini bisa dimodifikasi untuk menggunakan gas hasil pembakaran sekam padi. Penggunaan sekam padi juga bermanfaat untuk mengurangi limbah sekam padi yang menumpuk di halaman rumah.

    Sistem monitoring komoditas
    Melalui wawancara dengan tim, untuk lebih memudahkan petani kopi melakukan monitoring suhu dan kelembaban, mesin PSA yang dirancang ditambahkan sistem monitoring.

    Oleh karena itu, tim juga mengembangkan sistem monitoring berbasis internet of things (IoT) untuk memantau proses pengeringan secara real-time dari jarak jauh.

    Sistem yang dinamakan SIMOKO (Sistem Monitoring Pengering Biji Kopi), berfungsi sebagai mata dan otak alat pengering bagi petani. Sistem ini bisa mengukur dan memantau suhu serta kelembaban biji kopi dan alat pengering real-time dari jarak jauh.

    Data yang terekam selama sistem aktif bisa memudahkan petani dalam pengambilan keputusan berbasis data yang akurat. Alhasil, petani bisa memastikan biji kopi dikeringkan pada kondisi ideal, yang secara langsung meningkatkan kualitas dan konsistensi produk.

    Baca: Perubahan iklim dan anomali cuaca turunkan produksi kopi Indonesia

    Pengembangan selanjutnya
    Pengembangan mesin pengering kopi dan sistem monitoring ini memang masih perlu pengembangan lanjutan. Sistem monitoring misalnya, masih terkendala kestabilan jaringan internet di kawasan Lampung Barat.

    Yang paling mendasar ada pada permohonan paten yang masih dalam tahap proses penyelesaian atas teknologi yang diciptakan oleh Akhmad Zainal Abidin dari ITB. Paten berguna untuk memastikan teknologi ini tidak diklaim pihak lain.

    Kapasitas pengeringan juga perlu diuji coba dalam skala yang lebih besar, yaitu tonase (ton). Meskipun dalam uji coba terakhir tidak ada masalah, kapasitas pengeringan yang dilakukan hanya sebanyak 80 kilogram.

    Untuk memastikan proses pengeringan kopi makin optimal, rancangan sistem juga akan ditingkatkan kompleksitasnya. Nantinya mesin pengering akan diletakan di fasilitas green house atau rumah kaca.

    Meletakkan mesin pengering di dalam green house bisa meningkatkan utilitas mesin karena manajemen pembuangan hawa panas yang dihasilkan bisa disirkulasikan langsung kembali ke mesin menggunakan metode sirkulasi pembuangan internal.

    Setidaknya dampak strategis program ini sudah bisa memastikan kualitas produksi kopi yang lebih baik. Pun, para petani setempat juga bisa menerima adanya inovasi produksi seperti ini.

    Yang tidak kalah penting, edukasi juga akan terus ditingkatkan untuk meningkatkan literasi penerapan teknologi produksi para petani kopi di Pagar Dewa.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Hendry Wijayanti, Dosen Biologi, Institut Teknologi Sumatera. Hendry Wijayanti menerima dana dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi.

  • Paradoks Kopi: Turunkan Risiko Kematian Dini Tapi Bisa Mendongkrak Kolesterol

    Paradoks Kopi: Turunkan Risiko Kematian Dini Tapi Bisa Mendongkrak Kolesterol

    7cloud.asia – Data goodstats.id mencatat, Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan konsumsi kopi terbesar di dunia. Total konsumsi kopi di Indonesia mencapai 4,8 juta kantong yang setiap kantong beratnya 60 kilogram pada 2024/2025.

    Saat ini, minum kopi bukan sekadar menghilangkan rasa mengantuk namun menjadi bagian dari gaya hidup.

    Berbagai penelitian global menunjukkan bahwa minum kopi tanpa gula dalam dosis sedang (3–5 cangkir sehari) dapat menurunkan risiko kematian dini.

    Kebiasaan ini juga berkaitan erat dengan berkurangnya risiko penyakit kronis seperti diabetes, stroke, masalah jantung, gangguan pernapasan, kepikunan, hingga jenis kanker tertentu seperti kanker hati dan rahim.

    Namun demikian, terdapat suatu paradoks yang telah ditemukan dari penelitian selama lebih dari tiga dekade, di mana konsumsi kopi dapat menyebabkan peningkatan kadar lipid darah.

    Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa semakin banyak konsumsi kopi dalam sehari dapat meningkatkan kadar kolesterol, trigliserida dan kolesterol jahat (LDL).

    Senyawa yang bertanggung jawab atas fenomena ini bukanlah kafein, melainkan kandungan lipid yang dikenal sebagai senyawa diterpen, yang juga ditemukan dalam kopi.

    Secara kimiawi, kopi memang merupakan campuran kompleks yang mengandung lebih dari seribu senyawa bioaktif yang dapat memiliki efek fisiologis beragam pada tubuh manusia.

    Baca: Minum 2 sampai 3 cangkir kopi sehari bagus untuk kesehatan jantung

    Senyawa dalam kopi yang paling dikenal adalah kafein, yang diketahui memiliki efek stimulan, dan memberikan kekentalan, kekuatan, serta 10 persen dari rasa pahit kopi.

    Secara struktur kimia, diterpen merupakan senyawa hidrokarbon yang tersusun dari empat unit isoprena dengan rumus dasar C5H8.

    Senyawa diterpen utama kopi, cafestol dan kahweol, umumnya berada dalam bentuk ester asam lemak. Cafestol dan kahweol memiliki struktur tetrasiklik diterpenoid yang sangat lipofilik (suka lemak).

    Kadar diterpen ini sangat bervariasi bergantung pada jenis kopinya. Kopi Arabika umumnya mengandung cafestol dan kahweol dalam jumlah yang hampir setara, sementara kopi Robusta memiliki kadar cafestol yang lebih rendah dan hampir tidak mengandung kahweol.

    Selama proses pemanggangan (roasting) dengan suhu tinggi, sebagian besar diterpen ini tetap stabil dan tidak mengalami degradasi. Oleh karena itu, potensi peningkatan kolesterol ini tetap ada dalam biji kopi sangrai yang siap dikonsumsi.

    Mekanisme diterpen dalam meningkatkan kolesterol terjadi di dalam sel hati (hepatosit) melalui jalur yang cukup kompleks. Secara garis besar, cafestol dapat menghambat enzim yang bertanggungjawab pada proses pembentukan asam empedu dari kolesterol.

    Ketika enzim ini dihambat, penggunaan kolesterol tubuh menjadi berkurang, sehingga kolesterol menumpuk di dalam hati.

    Sebagai akibatnya, hati akan menurunkan jumlah reseptor LDL pada permukaan selnya. Penurunan jumlah reseptor LDL ini mengakibatkan pembersihan LDL dari sirkulasi darah menjadi tidak efisien, sehingga kadar kolesterol LDL dalam darah meningkat secara signifikan.

    Baca: Batasi konsumsi kopi dan kafein untuk tidur yang berkualitas

    Studi klinis menunjukkan bahwa konsumsi 10 mg cafestol per hari dapat meningkatkan kolesterol total sekitar 5 mg/dL dalam waktu singkat. Efek ini bersifat reversibel (dapat berbalik), di mana penghentian konsumsi diterpen akan mengembalikan profil lipid ke tingkat normal.

    Pengaruh metode seduh
    Lalu apakah mulai sekarang kita harus mengurangi konsumsi kopi? Tidak juga.

    Penelitian lain menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan suhu air yang digunakan saat menyeduh kopi menghasilkan perbedaan signifikan pada kadar diterpen dalam secangkir kopi.

    Metode penyeduhan yang melibatkan kontak langsung antara bubuk kopi dan air mendidih tanpa menggunakan filter menghasilkan kadar diterpen tertinggi. Contohnya adalah kopi rebus ala Skandinavia, kopi tubruk, dan kopi yang dibuat dengan metode French Press.

    Dalam metode French Press, saringan logam yang digunakan memiliki pori-pori yang terlalu besar untuk bisa menahan tetesan minyak berukuran mikro yang mengandung diterpen dalam ekstrak kopi.

    Metode espresso, meskipun menggunakan tekanan tinggi, menghasilkan kadar diterpen yang relatif moderat karena waktu kontak air dan bubuk kopi yang sangat singkat.

    Satu cangkir kopi espresso rata-rata mengandung sekitar 1 mg cafestol, jauh lebih rendah dibandingkan kopi tubruk yang bisa mencapai 4-6 mg per cangkir.

    Kopi instan memiliki kadar diterpen yang sangat rendah karena proses pembuatannya di pabrik, seperti freeze-drying atau spray-drying, dapat memisahkan sebagian besar fraksi lipid yang mengandung diterpen.

    Baca: Warung kopi jadi ruang ketahanan sosial saat bencana di Aceh

    Penggunaan suhu air yang lebih rendah, seperti pada metode cold brew, juga cenderung menghasilkan diterpen lebih sedikit dibandingkan metode seduh panas.

    Namun, karena waktu ekstraksi cold brew yang sangat lama (12–24 jam), sebagian fraksi lipid tetap dapat terbawa ke dalam konsentrat kopi.

    Oleh karena itu, bagi konsumen kopi yang memiliki masalah kolesterol, pemilihan metode seduh kopi dapat menjadi salah satu intervensi gaya hidup.

    Filter kertas
    Penggunaan kertas filter merupakan metode paling efektif untuk menghilangkan hampir seluruh kandungan diterpen dalam kopi.

    Fenomena ini terjadi karena adanya proses pemisahan secara mekanik dan perbedaan karakter fisikokimia antara minyak kopi dan serat kertas.

    Kertas filter kopi umumnya terbuat dari serat selulosa yang memiliki struktur jalinan benang yang sangat rapat dengan ukuran pori yang kecil.

    Diterpen dalam kopi berada dalam bentuk tetesan kecil minyak dalam air saat proses ekstraksi berlangsung. Ketika cairan kopi melewati filter, tetesan minyak yang bersifat hidrofobik (takut air) ini akan terperangkap di dalam pori-pori kertas.

    Selain itu, terdapat gaya adsorpsi di mana molekul lipid akan menempel pada permukaan serat selulosa melalui interaksi hidrofobik.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa filter kertas mampu menahan lebih dari 95% cafestol dan kahweol yang terekstraksi dari bubuk kopi.

    Sebagai perbandingan, filter yang terbuat dari logam atau nilon tidak memiliki kemampuan menahan lipid yang sama karena permukaannya yang tidak berpori halus dan sifat materialnya yang kurang efektif mengikat lipid.

    Baca: Batasi konsumsi kopi untuk beli rumah mungil

    Penggunaan filter kertas terbukti dalam berbagai studi kohort dapat mencegah kenaikan kolesterol LDL pada peminum kopi berat.

    Hal ini menjadikan kopi filter, seperti V60 dan coffee drip, sebagai pilihan utama untuk konsumsi kopi yang lebih aman.

    Sebagai kesimpulan, konsumsi kopi tetap aman selama memperhatikan campuran kopi, frekuensi minum kopi, serta metode ekstraksi kopinya.

    Meskipun memiliki potensi risiko terhadap peningkatan kadar kolesterol LDL, risiko ini dapat dimitigasi sepenuhnya melalui pemilihan metode penyeduhan yang tepat.

    Inovasi dalam teknologi pangan dan pengetahuan akan teknik filtrasi memungkinkan pecinta kopi untuk tetap menikmati manfaat antioksidan kopi tanpa mengorbankan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

    Bagi praktisi kesehatan dan farmasi, memberikan edukasi mengenai perbedaan kopi filter dan non-filter merupakan langkah preventif yang sederhana namun berdampak besar bagi pasien dengan dislipidemia.

    Dislipidemia adalah suatu kondisi ketidakseimbangan kadar lemak dalam darah, ditandai dengan peningkatan kolesterol jahat (LDL), trigliserida, atau penurunan kolesterol baik (HDL).

    Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap potensi terapi dari diterpen dalam dosis terkontrol untuk kondisi medis lainnya.

    Penulis: Apt Erny Sagita MFarm PhD, adalah Dosen Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI), Anggota Klaster Riset Kosmetik dan Suplemen FFUI

  • Simak Cara Aman dalam Mengonsumsi Kopi

    Simak Cara Aman dalam Mengonsumsi Kopi

    7cloud.asia – Mengonsumsi 2 hingga 3 cangkir kopi disebut bagus untuk kesehatan. Namun, sejumlah penelitian menemukan bahwa semakin banyak konsumsi kopi dalam sehari dapat meningkatkan kadar kolesterol, trigliserida dan kolesterol jahat (LDL).

    Senyawa yang bertanggung jawab atas fenomena ini bukanlah kafein, melainkan kandungan lipid yang dikenal sebagai senyawa diterpen, yang juga ditemukan dalam kopi.

    Meskipun memiliki potensi risiko terhadap peningkatan kadar kolesterol LDL, efek samping kopi ini dapat dimitigasi sepenuhnya melalui pemilihan metode penyeduhan yang tepat.

    Dosen Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI), Apt Erny Sagita MFarm PhD mengatakan, konsumsi kopi tetap aman selama memperhatikan campuran kopi, frekuensi minum kopi, serta metode ekstraksi kopinya.

    Dalam tulisannya di Antaranews.com, anggota Klaster Riset Kosmetik dan Suplemen FFUI
    ini memaparkan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan suhu air yang digunakan saat menyeduh kopi menghasilkan perbedaan signifikan pada kadar diterpen dalam secangkir kopi.

    Metode penyeduhan yang melibatkan kontak langsung antara bubuk kopi dan air mendidih tanpa menggunakan filter menghasilkan kadar diterpen tertinggi. Contohnya adalah kopi rebus ala Skandinavia, kopi tubruk, dan kopi yang dibuat dengan metode French Press.

    Dalam metode French Press, saringan logam yang digunakan memiliki pori-pori yang terlalu besar untuk bisa menahan tetesan minyak berukuran mikro yang mengandung diterpen dalam ekstrak kopi.

    Metode espresso, meskipun menggunakan tekanan tinggi, menghasilkan kadar diterpen yang relatif moderat karena waktu kontak air dan bubuk kopi yang sangat singkat.

    Baca: Kopi bisa mendongkrak kadar kolesterol

    Satu cangkir kopi espresso rata-rata mengandung sekitar 1 miligram cafestol, jauh lebih rendah dibandingkan kopi tubruk yang bisa mencapai 4-6 miligram per cangkir.

    Kopi instan memiliki kadar diterpen yang sangat rendah karena proses pembuatannya di pabrik, seperti freeze-drying atau spray-drying, dapat memisahkan sebagian besar fraksi lipid yang mengandung diterpen.

    Penggunaan suhu air yang lebih rendah, seperti pada metode cold brew, juga cenderung menghasilkan diterpen lebih sedikit dibandingkan metode seduh panas.

    Namun, karena waktu ekstraksi cold brew yang sangat lama (12–24 jam), sebagian fraksi lipid tetap dapat terbawa ke dalam konsentrat kopi.

    Oleh karena itu, bagi konsumen kopi yang memiliki masalah kolesterol, pemilihan metode seduh kopi dapat menjadi salah satu intervensi gaya hidup.

    Filter kertas
    Penggunaan kertas filter merupakan metode paling efektif untuk menghilangkan hampir seluruh kandungan diterpen dalam kopi.

    Fenomena ini terjadi karena adanya proses pemisahan secara mekanik dan perbedaan karakter fisikokimia antara minyak kopi dan serat kertas.

    Kertas filter kopi umumnya terbuat dari serat selulosa yang memiliki struktur jalinan benang yang sangat rapat dengan ukuran pori yang kecil.

    Baca: Minum 2 sampai 3 cangkir kopi sehari tingkatkan kesehatan jantung

    Diterpen dalam kopi berada dalam bentuk tetesan kecil minyak dalam air saat proses ekstraksi berlangsung. Ketika cairan kopi melewati filter, tetesan minyak yang bersifat hidrofobik (takut air) ini akan terperangkap di dalam pori-pori kertas.

    Selain itu, terdapat gaya adsorpsi di mana molekul lipid akan menempel pada permukaan serat selulosa melalui interaksi hidrofobik.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa filter kertas mampu menahan lebih dari 95 persen cafestol dan kahweol yang terekstraksi dari bubuk kopi.

    Sebagai perbandingan, filter yang terbuat dari logam atau nilon tidak memiliki kemampuan menahan lipid yang sama karena permukaannya yang tidak berpori halus dan sifat materialnya yang kurang efektif mengikat lipid.

    Penggunaan filter kertas terbukti dalam berbagai studi kohort dapat mencegah kenaikan kolesterol LDL pada peminum kopi berat.

    Hal ini menjadikan kopi filter, seperti V60 dan coffee drip, sebagai pilihan utama untuk konsumsi kopi yang lebih aman.

    Inovasi dalam teknologi pangan dan pengetahuan akan teknik filtrasi memungkinkan pecinta kopi untuk tetap menikmati manfaat antioksidan kopi tanpa mengorbankan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

     

  • Bahaya di Balik Kebiasaan Takeaway: Cangkir Kopi Sekali Pakai Lepaskan Ribuan Partikel Mikroplastik

    Bahaya di Balik Kebiasaan Takeaway: Cangkir Kopi Sekali Pakai Lepaskan Ribuan Partikel Mikroplastik

     

    7cloud.asia – Pukul 07.45 pagi. Kamu membeli kopi takeaway di kafe langganan, sembari menggenggam gelas hangat, menyeruput sedikit, lantas bergegas ke kantor.

    Kamu mungkin menganggap gelas kopi itu tidak berbahaya, hanya wadah praktis yang membungkus asupan kafein harian.

    Tapi beda ceritanya kalau gelas tersebut terbuat dari plastik atau memiliki lapisan plastik tipis di bagian dalamnya. Besar kemungkinan gelas itu melepaskan langsung ribuan pecahan plastik berukuran sangat kecil ke dalam minumanmu.

    Secara global, orang-orang di dunia menggunakan 500 miliar gelas minuman panas sekali pakai tiap tahun.

    Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Hazardous Materials: Plastics, penulis dan beberapa rekan peneliti mengkaji bagaimana gelas-gelas ini bereaksi saat terpapar panas.

    Hasilnya, kami menemukan panas merupakan faktor utama yang mendorong pelepasan mikroplastik. Bahan gelas juga sangat menentukan seberapa banyak partikel mikroplastik yang dilepaskan.

    Apa itu mikroplastik?

    Mikroplastik adalah pecahan kecil plastik berukuran sekitar 1 mikrometer hingga 5 milimeter. Bayangkan partikel debu hingga biji wijen, kira-kira dalam rentang itulah ukurannya.

    Mikroplastik bisa terbentuk ketika benda plastik yang lebih besar terurai, atau terlepas langsung dari produk plastik saat digunakan. Partikel-partikel ini kemudian berakhir di lingkungan, masuk ke makanan kita, dan pada akhirnya ke dalam tubuh kita.

    Baca: Restoran dan kafe di sejumlah negara mulai tinggalkan alat sekali pakai

    Sampai saat ini, kita belum memiliki bukti yang benar-benar pasti tentang seberapa banyak mikroplastik yang bertahan di dalam tubuh manusia.

    Apalagi penelitian di bidang ini sangat rentan terhadap kontaminasi, sehingga sulit mengukur secara akurat partikel sekecil itu di jaringan tubuh manusia.

    Para ilmuwan juga masih berupaya memahami dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang. Penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Namun, ada baiknya kita memahami muasal cemaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.

    Suhu berperan penting

    Saya dan rekan-rekan pertama-tama melakukan meta-analisis—yakni sintesis statistik dari berbagai penelitian yang sudah ada—dengan menganalisis data dari 30 studi yang sudah melalui proses telaah sejawat (peer-review).

    Kami meninjau bagaimana plastik pada umumnya seperti polietilena dan polipropilena bereaksi dalam berbagai kondisi. Satu faktor yang paling menonjol dibandingkan yang lain adalah suhu.

    Semakin tinggi suhu cairan di dalam wadah, umumnya semakin banyak mikroplastik yang dilepaskan.

    Dalam studi-studi yang kami telaah, jumlah partikel yang dilaporkan berkisar antara ratusan hingga lebih dari 8 juta partikel per liter, tergantung pada jenis bahan dan desain penelitian.

    Menariknya, “lama perendaman”—yakni berapa lama minuman berada di dalam gelas—tidak selalu menjadi faktor yang konsisten memengaruhi pelepasan mikroplastik. Hal ini menunjukkan bahwa durasi minuman di dalam gelas plastik, tidak seberpengaruh suhu awal cairan saat pertama kali terpapar plastik.

    Baca: Kisah sukses penerapan sistem guna ulang di bisnis restoran dan kafe

    Menguji 400 gelas kopi

    Untuk melihat bagaimana hal ini terjadi di dunia nyata, kami mengumpulkan 400 gelas kopi dari dua jenis utama di sekitar Brisbane, Australia.

    Kami mengumpulkan gelas plastik berbahan polietilena. Gelas kertas berlapis plastik ini tampak seperti kertas biasa, tetapi memiliki lapisan plastik tipis di bagian dalamnya.

    Kami mengujinya pada suhu 5°C (suhu kopi dingin) dan 60°C (suhu kopi panas). Kedua jenis gelas sama-sama melepaskan mikroplastik, tetapi hasilnya menunjukkan dua hal berbeda.

    Pertama, bahan sangat menentukan. Gelas kertas berlapis plastik melepaskan lebih sedikit mikroplastik dibandingkan gelas yang sepenuhnya terbuat dari plastik, baik pada suhu dingin maupun panas.

    Kedua, panas memicu peningkatan pelepasan mikroplastik yang signifikan. Pada gelas plastik murni, peralihan dari air dingin ke air panas meningkatkan pelepasan mikroplastik sekitar 33 persen.

    Jika seseorang meminum 300 mililiter kopi (seukuran cangkir kecil biasa) per hari dari gelas plastik berbahan polietilena, maka ia berpotensi menelan sekitar 363 ribu partikel mikroplastik setiap tahun.

    Lalu, mengapa panas begitu berpengaruh?

    Dengan menggunakan pencitraan resolusi tinggi, kami memeriksa dinding bagian dalam gelas dan menemukan bahwa gelas plastik murni memiliki permukaan yang jauh lebih kasar ketimbang gelas kertas yang dilapisi plastik.

    Tekstur yang lebih kasar membuat partikel lebih mudah terlepas. Panas mempercepat proses tersebut dengan melunakkan plastik serta menyebabkan pemuaian dan penyusutan, sehingga menciptakan lebih banyak ketidakteraturan pada permukaan yang pada akhirnya terpecah lalu masuk ke dalam minuman kita.

    Mengelola risiko

    Kamu tidak harus sepenuhnya meninggalkan kebiasaan membeli kopi takeaway di pagi hari, tetapi kamu bisa mengganti wadahnya untuk mengurangi risiko.

    Untuk minuman panas, gunakan gelas pakai ulang berbahan stainless steel, keramik, atau kaca, karena bahan-bahan ini tidak melepaskan mikroplastik.

    Jika kamu terpaksa menggunakan gelas sekali pakai, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa gelas kertas berlapis plastik umumnya melepaskan lebih sedikit partikel dibandingkan gelas plastik murni—meskipun keduanya tidak sepenuhnya bebas mikroplastik.

    Terakhir, karena panas adalah faktor utama pemicu pelepasan plastik, hindari menuangkan cairan yang benar-benar mendidih langsung ke dalam wadah berlapis plastik.

    Minta barista menyiapkan kopi dengan suhu sedikit lebih rendah sebelum dituangkan ke gelas, sehingga menurunkan tekanan fisik pada lapisan plastik dan mengurangi paparan mikroplastik secara keseluruhan.

    Dengan memahami bagaimana suhu dan pilihan bahan saling berinteraksi, kita bisa merancang produk yang lebih baik sekaligus membuat pilihan yang lebih bijak untuk asupan kafein harian kita.


    Professor Chengrong Chen berkontribusi dalam artikel ini.


    Xiangyu Liu, Research Fellow, School of Environment and Science and Australian Rivers Institute, Griffith University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Dorong Pengembangan Kopi Nasional, BAM DPR: Mampu Sejahterakan Petani Sekaligus untuk Konservasi Lingkungan

    Dorong Pengembangan Kopi Nasional, BAM DPR: Mampu Sejahterakan Petani Sekaligus untuk Konservasi Lingkungan

    7cloud.asia – Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR menggelar Festival Aspirasi dengan tema “Kopi sebagai Tanaman Pangan, Konservasi, dan Industri” sebagai upaya menjaring aspirasi masyarakat sekaligus mendorong pengembangan sektor perkopian nasional.

    Menurut Ketua BAM DPR Ahmad Heryawan, tema perkopian dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari aspek ekonomi, lingkungan, hingga industri.

    Karena itu, pengembangan kopi perlu dilakukan secara menyeluruh dari hulu (penanaman) hingga hilir (penyajian ke konsumen).

    “Festival aspirasi ini sifatnya mengejar aspirasi masyarakat. Maka kemudian terpikirkan bahwa kopi layak diangkat sebagai tema spesifik. Maka muncullah tema kopi sebagai tanaman pangan, konservasi, dan industri,” ujarnya saat membuka Festival Aspirasi BAM DPR di Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/7/2026).

    Aher menilai kopi perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah karena mampu meningkatkan kesejahteraan petani lebih cepat dibanding sejumlah komoditas pertanian lainnya.

    Baca: Perubahan Iklim dan Anomali Cuaca Turunkan Produksi Kopi Indonesia

    Politisi PKS itu mengatakan pemerintah selama ini lebih banyak memberikan perhatian kepada komoditas pangan seperti padi, jagung, dan kedelai.

    Padahal, menurutnya, kopi merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani dalam waktu lebih cepat.

    Saya harus menyatakan, ujarnya, kopi adalah salah satu komoditas hortikultura yang paling cepat menyejahterakan masyarakat petani. Kalau satu hektare kopi diurus dengan baik bisa menghasilkan rata-rata tiga ton per tahun.

    “Dengan harga sekitar Rp20 ribu per kilogram, nilainya bisa mencapai Rp60 juta per hektare. Bandingkan dengan padi, tidak ada apa-apanya,” katanya.

    Oleh karena itu, Aher mendorong pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pengembangan komoditas kopi, baik melalui kebijakan maupun dukungan anggaran.

    Baca: Menjaga Produksi Kopi Indonesia di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

    “Salah besar kalau perhatian kita kurang terhadap kopi. Ketika cerita pangan, ceritanya baru padi, jagung, dan kedelai. Tentu ini sangat diperlukan untuk pangan kita, tetapi dalam konteks kesejahteraan, kopi jauh lebih cepat membangun kesejahteraan masyarakat petani,” tegasnya.

    Selain bernilai ekonomi, Aher menambahkan kopi juga memiliki fungsi konservasi karena dapat tumbuh berdampingan dengan tegakan pohon di kawasan hutan.

    Menurutnya, karakteristik tersebut menjadikan kopi sebagai komoditas yang tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan.

    “Kopi adalah tanaman konservasi yang justru bisa menguatkan kehutanan kita. Kopi tidak bisa tumbuh di lahan yang terbuka seratus persen karena hanya memerlukan sekitar 50 sampai 60 persen sinar matahari. Dengan demikian, kopi tumbuh baik di sela-sela tegakan pohon,” pungkasnya

    Dalam kesempatan itu Aher mendorong pemerintah membentuk badan yang secara khusus mengelola komoditas kopi nasional hingga siap menembus pasar ekspor.

    Baca: Negara Harus Bereskan Masalah Mendasar Petani Kopi

    Menurutnya, kehadiran lembaga tersebut diperlukan agar pengelolaan kopi tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.

    Potensi besar Indonesia sebagai negara penghasil kopi, ujar Aher, perlu didukung tata kelola yang baik hingga ke tahap pemasaran internasional agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.

    “Di tingkat hilir juga ada persoalan stabilitas harga. Saat yang sama juga perlu ada semacam badan kopi yang bertugas mengelola komoditas kopi sehingga layak untuk menjadi kopi ekspor. Ini perlu bimbingan kan, karena tentu ketika ekspor ya mereka di luar negeri punya persyaratan, termasuk syarat higienis dan lain-lain,” ujarnya.

    Dia menambahkan, keberadaan badan pengelola kopi akan membantu petani dan pelaku usaha memenuhi standar ekspor, sekaligus memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar global.

    Ditegaskannya, pengelolaan kopi tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan negara mulai dari aspek pembinaan, peningkatan kualitas produk, hingga membuka akses pasar internasional.

    “Akhirnya itulah pengelolaan kopi dari mulai ke hulu, tengah, sampai ke hilir, sampai ke ekspornya dipermudah, ada badan ekspornya. Itu perlu ada peran pemerintah, peran negara, negara hadir demi untuk menghadirkan kopi yang berkualitas dari hulu sampai ke hilir yang tentu dampaknya akan hadir kesejahteraan bagi masyarakat luas,” jelasnya.