7cloud.asia – Perempuan dan kelompok rentan menjadi korban yang paling merasakan dampak krisis iklim.
Untuk memberdayakan perempuan dan kelompok rentan lain dalam menghadapi krisis iklim, United Evangelical Mission (UEM) dan GreenFaith Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung berbagai aksi iklim.
Komitmen untuk menguatkan perempuan dalam menghadapi krisis iklim ini disampaikan Advocacy Officer UEM, Irma Riana Simanjutak, di sela training Keadilan Gender dan Iklim yang berlangsung 21-22 Maret 2024 di Pematang Siantar, Sumatera Utara.
“UEM telah mendukung dan membantu korban kerusakan lingkungan akibat krisis iklim, salah satunya masyarakat adat untuk dapat mempertahankan hak ulayatnya,” ujarnya
Training ini diselenggarakan bersama oleh United Evangelical Mission (UEM) Region Asia, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan GreenFaith Indonesia,
Baca: Milenial dan Gen Z bisa jadi kelompok penekan industri agar lebih ramah lingkungan
Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, disebutkan setidaknya 50 orang mahasiswa dan pemuda asal Pematang Siantar, Balige dan Laguboti mengikuti pelatihan ini.
Tak terkecuali perwakilan organisasi Islam setempat.
Pendeta Debora Sinaga, Kepala Departemen Diakonia HKBP menyampaikan pihaknya berkomitmen untuk menahan laju krisis iklim.
Komitmen ini tercantum dalam konfesi atau dokumen pengakuan untuk melawan kerusakan lingkungan sebagai bagian dari suara kenabian gereja.
“HKBP bersama dengan lembaga lintas iman telah lama berjuang untuk menyelamatkan lingkungan melalui kampanye, pendidikan lingkungan dan bahkan ikut dalam aksi penutupan PT.IIU beberapa puluh tahun lalu,” ungkapnya..
Lebih lanjut, Pdt. Debora menyebutkan tantangan yang dihadapi akan semakin berat. Karena itu dibutuhkan kerjasama dan networking, agar berjuang bersama menghadapi kerusakan lingkungan demi mewujudkan keadilan iklim dan gender.
Baca: Antusiasme Gen Z untuk ikut terlibat dalam aksi iklim masih rendah
Dalam pelatihan ini peserta mendapatkan materi tentang lingkungan, sejak era kolonial hingga era industri yang mengksploitasi sumber daya alam sehingga berdampak pada keadilan gender.
Dalam kesempatan itu juga disampaikan bagaimana agama meletakkan isu lingkungan, dalam tajuk Faith and Climate Justice: Pandangan Islam dan Kristen.
Sementara di hari kedua, peserta berlatih membangun pemikiran untuk gerakan
berbasis agama dan contoh yang dapat dilakukan, membangun pesan atau strategi komunikasi aksi iklim.
David Effendi, fasilitator dari GreenFaith Indonesia menemukan ekspresi antar generasi, keadilan
gender, komitmen, dan kolaborasi lintas usia terjalin dengan baik dalam pelatihan ini.
Pelatihan ini memotivasi peserta untuk terlibat langsung dalam aksi nyata untuk mengantisipasi krisis iklim seperti yang diungkapkan Ruth Sianipar dan Yogi Siahaan
Baca: Riset mengungkap anak muda sadar akan ancaman krisis iklim tapi enggan beraksi
“Setelah mempelajari Climate and Gender Justice, saya semakin yakin bahwa perubahan yang kita butuhkan ada di tangan kita sendiri, dan kita memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan yang berarti,” kata Ruth, mahasiwa dari Sekolah Tinggi Bilblevrouw.
Hal serupa diungkapkan oleh Yogi peserta dari Persekutuan Naposobulung Distrik V Sumatera Timur.
“Training ini sangat membuka wawasan baru bagi saya, terima kasih kepada para narasumber yang telah membagikan ilmunya,” ujarnya .
Sebagai penutup, Koordinator Greenfaith Indonesia, Hening Parlan mengapresiasi
antusiasme dari para peserta yang hadir dari kalangan kampus teologi dan aktivis lingkungan di organisasi keagamaan.
“Yang paling menarik, para peserta pelatihan sangat cepat untuk merespon apa yang akan dilakukan di kemudian hari, dan EUM juga siap memberikan support untuk project kecil mereka yang akan kita bawa untuk kampanye Faith for Climate Justice pada Mei 2024 mendatang,” ujarnya.
Baca: Seperti ini media memotret aksi lingkungan anak muda
Hening juga berharap kampanye ini tidak hanya membawa dampak pada masyarakat lokal tetapi gaungnya bisa dampak hingga tingkat internasional.
Pelatihan Keadilan Gender dan Iklim ini adalah kegiatan ketujuh yang diadakan GreenFaith Indonesia bekerja sama dengan sejumlah organisasi keagamaan dalam serial pelatihan Keadilan Iklim yang sebelumnya berlangsung di Jakarta, Tangerang, dan Salatiga.
Kegiatan ini memadukan metode materi pengetahuan, diskusi dan penyusunan rencana aksi, yang disampaikan secara hybrid, di luar dan dalam jaringan sepanjang Januari – Maret 2024.
Rencana aksi dari seluruh kegiatan ini akan serentak dilakukan pada pekan kampanye Faith for Climate Justice pada Mei 2024 secara global bersama jaringan GreenFaith.
Baca: Bumi butuh aksi nyata untuk mencegah kerusakan lingkungan









