Tag: pemanasan global

  • Langkah Mitigasi dan Adaptasi terhadap Pemanasan Global Sebesar 2°C

    Langkah Mitigasi dan Adaptasi terhadap Pemanasan Global Sebesar 2°C


    7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya dipaparkan bagaimana pemanasan global sebesar 2°C berdampak pada lingkungan, pola cuaca dan kehidupan manusia.

    Dampak pemanasan global sebesar 2°C akan dirasakan di seluruh aspek masyarakat, mulai dari ketahanan pangan dan air hingga kesehatan dan stabilitas ekonomi.

    Konsekuensi ekonomi dari pemanasan global sebesar 2°C juga sangat besar dan luas. Meskipun beberapa sektor dan wilayah mungkin merasakan manfaatnya, dampak terhadap ekonomi global secara keseluruhan diperkirakan negatif.

    Meningkatnya kerugian akibat peristiwa cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan laut, termasuk kerusakan infrastruktur dan properti, hilangnya produktivitas karena tekanan panas dan dampak kesehatan.

    Pemanasan global sebesar 2°C juga memicu potensi gangguan terhadap rantai pasokan global karena kejadian cuaca ekstrem dan perubahan ketersediaan sumber daya.

    Baca: Dampak pemanasan global sebesar 2°C pada kelestarian lingkungan

    Pemanasan global sebesar 2°C juga berisiko menimbulkan biaya transisi seiring dengan adaptasi perekonomian terhadap masa depan rendah karbon.

    Studi menunjukkan bahwa upaya mitigasi dapat mengurangi kerusakan ekonomi global sebesar triliunan dolar setiap tahunnya pada tahun 2100, dibandingkan dengan skenario bisnis seperti biasa.

    Meskipun dampaknya signifikan, penting untuk dicatat bahwa skenario ini mewakili kemajuan besar dibandingkan skenario pemanasan yang lebih tinggi.

    Untuk mencapai target ini diperlukan transisi yang cepat dan berjangkauan luas dalam sistem energi, lahan, perkotaan, dan industri.

    Adapun strategi mitigasi utama untuk mengantisipasi pemanasan global sebesar 2°C antara lain meliputi:
    – Dekarbonisasi sistem energi secara cepat, transisi ke sumber energi terbarukan.
    – Peningkatan efisiensi energi di semua sektor.
    – Perubahan praktik penggunaan lahan, termasuk pengurangan deforestasi dan perbaikan metode pertanian.
    – Pengembangan dan penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.

    Baca: Dampak pemanasan global sebesar 2°C pada pola cuaca

    Pada saat yang sama, langkah-langkah adaptasi akan sangat penting untuk mengurangi kerentanan sistem manusia dan alam terhadap dampak perubahan iklim.

    Langkah adaptasi terhadap pemanasan global sebesar 2°C ini termasuk:
    – Memperbaiki sistem pengelolaan air dan meningkatkan efisiensi penggunaan air.
    – Mengembangkan varietas tanaman tahan panas dan mendiversifikasi sistem pertanian.
    – Meningkatkan sistem peringatan dini terhadap kejadian cuaca ekstrem.
    – Menerapkan solusi berbasis alam untuk perlindungan pantai dan pengelolaan banjir.
    – Memperkuat sistem kesehatan untuk mengatasi perubahan pola penyakit dan kejadian cuaca ekstrem.

    Suhu planet Bumi yang lebih hangat sebesar 2°C akan menyulitkan seluruh sistem alam dan manusia.

    Peristiwa cuaca ekstrem yang lebih sering dan lebih intens, perubahan pola iklim, kenaikan permukaan laut, dampak terhadap ekosistem –apa pun yang terjadi, konsekuensinya akan sangat luas dan dalam banyak kasus tidak dapat diubah.

    Membatasi pemanasan global memerlukan tindakan global yang segera, besar, dan terkoordinasi untuk mengurangi emisi dan membangun ketahanan terhadap dampak iklim.

    Baca: Dampak pemanasan global sebesar 2°C pada kehidupan manusia

    Hal ini berarti perubahan transformatif dalam cara kita memproduksi dan mengonsumsi energi, mengelola lahan, serta menjalankan perekonomian dan masyarakat.

    Saat masyarakat dunia memasuki dekade penting dalam aksi perubahan iklim, pilihan yang diambil saat ini akan menentukan lanskap dunia yang kita tinggali di masa depan.

    Mengetahui seperti apa dampak pemanasan global sebesar 2°C nantinya dapat membantu kita mengambil tindakan berdasarkan informasi yang akan melindungi planet Bumi dan semua orang yang hidup di dalamnya.

    Sumber:earth.org

  • Badan Meteorologi Australia: Pemanasan Global Mengakibatkan Prediksi La Nina dan El Nino Makin Sulit Dilakukan

    Badan Meteorologi Australia: Pemanasan Global Mengakibatkan Prediksi La Nina dan El Nino Makin Sulit Dilakukan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Australia mengubah cara mereka mengkomunikasikan fenomena iklim seperti El Niño dan La Niña. Alasannya pemanasan global membuat prediksi berdasarkan masa lalu menjadi kurang dapat diandalkan.

    Minggu ini, Badan Meteorologi Australia mengingatkan warga dalam “waspada La Niña” dan mengatakan jika sistem iklim di Pasifik benar-benar berkembang, kemungkinan besar fenomena tersebut hanya berumur pendek dan lemah.

    Secara historis, fenomena La Niña terjadi saat air hangat berkumpul di bagian utara Australia– dikaitkan dengan kondisi yang lebih dingin dan basah di seluruh barat laut Australia hingga tenggara.

    Sementara, fenomena El Niño seringkali diartikan kondisi atmosfer yang lebih hangat dan kering.

    Namun Dr Karl Braganza, manajer nasional layanan iklim di Badan Meteorologi Australia mengatakan, perubahan iklim dan kenaikan suhu lautan membuat pola lama tersebut menjadi kurang dapat diandalkan.

    Perubahan iklim mungkin tidak “menghancurkan” hal tersebut, katanya, “tetapi frekuensi ketidakkonsistenan iklim dengan apa yang kita lihat di masa lalu akan semakin meningkat”.

    Badan Meteorologi Australia menerbitkan informasi terkini secara berkala mengenai “pendorong iklim” seperti El Niño, La Niña, dan kondisi di Samudera Hindia yang dapat mempengaruhi curah hujan.

    Braganza mengatakan pihaknya mendorong masyarakat untuk melihat perkiraan jangka panjangnya daripada terlalu bergantung pada pemahaman berdasarkan masa lalu.

    Selama dekade terakhir, Badan Meteorologi Australia telah mengembangkan versi yang disebut “model dinamis” untuk prakiraan jangka panjang 90 hari.

    Versi saat ini, ACCESS-S, melakukan pengamatan terhadap lautan dan atmosfer, termasuk perubahan konsentrasi gas rumah kaca, dan menghasilkan prakiraan berdasarkan fisika.

    Braganza mengatakan model statistik lama yang berdasarkan prediksi pada pengamatan sejarah “berfungsi dengan baik dalam iklim yang stasioner”, namun model dinamis ini sekarang lebih berguna.

    “Ini tidak bergantung pada masa lalu, tapi pada informasi terkini.”

    Braganza mencontohkan El Niño tahun lalu. El Niño secara historis dikaitkan dengan kondisi panas dan kering, tetapi setelah awal musim panas, terjadi hujan lebat pada bulan Desember dan Januari.

    “Model dinamis menangkap hujan tersebut,” kata Braganza.

    Seperti kebanyakan prakiraan cuaca, kata Braganza, ACCESS-S tidak dapat memberikan akurasi 100persen: semakin jauh jaraknya, hasilnya juga semakin tidak akurat.

    Model ini digunakan terus-menerus dan memberikan perkiraan jangka panjang berdasarkan hasil 99 model yang dijalankan yang memberikan kemungkinan curah hujan dan suhu di atas atau di bawah rata-rata.

    “Ini adalah perkiraan yang bersifat probabilistik, jadi ketika Anda mengatakan ada kemungkinan 70persen curah hujan di atas rata-rata, itu juga berarti ada kemungkinan 30persen curah hujan di bawah rata-rata,” katanya.

    Ia menambahkan, “Masyarakat perlu menggunakannya untuk melindungi risiko mereka, dibandingkan menggunakannya untuk memandu seluruh operasi mereka.”

    Braganza mengatakan pihaknya menyadari bahwa beberapa komunitas mengembangkan ekspektasi mereka sendiri terhadap curah hujan atau suhu “berdasarkan pengetahuan mereka tentang sejarah” yang menjadi pemicu iklim seperti El Niño yang seringkali lebih kering.

    Jika kami mengatakan, ‘ada El Niño’, kami menemukan bahwa masyarakat membuat prakiraan curah hujan sendiri,” katanya.

    Cuaca Australia dipengaruhi oleh tiga kali La Niña yang jarang terjadi pada tahun 2020 hingga 2023, diikuti oleh El Niño yang berakhir pada bulan April.

    La Niña adalah fase El Niño Southern Oscillation (Enso) yang terkait dengan suhu permukaan laut yang lebih dingin dari rata-rata di wilayah Pasifik khatulistiwa.

    Biro tersebut mengatakan minggu ini bahwa suhu permukaan laut global merupakan rekor terpanas setiap bulannya, mulai April 2023 hingga Juni 2024.

    Juli dan Agustus tahun ini hanya sedikit lebih rendah dari rekor suhu tahun lalu, “tetapi jauh lebih hangat dibandingkan tahun-tahun lainnya sejak pengamatan dimulai. .pada tahun 1854”.

    Badan Meteorologi Australia mengatakan tiga dari tujuh model iklim internasional, termasuk modelnya sendiri, menunjukkan bahwa suhu tropis Pasifik dapat melampaui ambang batas La Niña mulai bulan Oktober dan tiga model lainnya memiliki suhu yang mendekati ambang batas tersebut.

    Badan Cuaca Nasional AS mengatakan ada kemungkinan 71persen kemungkinan terjadinya La Niña yang lemah sebelum bulan November.

    Sumber:TheGuardian

  • Kontroversi Penggunaan Bahan Bakar Fosil dalam Penyelenggaraan COP 29

    Kontroversi Penggunaan Bahan Bakar Fosil dalam Penyelenggaraan COP 29

    7cloud.asia – Para aktivis lingkungan telah lama mendesak pengurangan atau bahkan penghentian segera penggunaan bahan bakar fosil guna menahan laju pemanasan global.

    Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak untuk menghasilkan listrik dan panas merupakan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia.

    Selanjutnya, emisi merupakan penyebab utama pemanasan global dengan memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan bumi.

    Itu sebabnya banyak aktivis lingkungan menyebut Konferensi Iklim Global atau COP sebagai sebuah “lelucon” karena kehadiran ribuan perwakilan bahan bakar fosil.

    Hasil investigasi Global Witness di COP 29, terkait dugaan pendanaan dari perusahaan bahan bakar fosil dalam pertemuan tersebut telah memicu perdebatan

    COP tahun ini berlangsung di Baku, Azerbaijan, negara yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil dan wilayah penghasil minyak tertua di dunia.

    Baca: Ketua Eksekutif COP 29 diduga fasilitasi kesepakatan bahan bakar fosil

    Menurut Badan Energi Internasional (IEA), minyak dan gas menyumbang sekitar 90 persen pendapatan ekspor negara dan 60 persen anggaran pemerintah.

    Pada bulan April, Presiden Azerbaijan, Azeri Ilham Aliyev mengatakan negaranya akan terus berinvestasi dalam produksi gas untuk memenuhi permintaan energi Uni Eropa sebagai “tanda tanggung jawab.”

    Dia menegaskan, memiliki cadangan migas bukan salah negaranya. Itu adalah anugerah dari Tuhan. Kita, ujarnya harus dinilai bukan berdasarkan hal tersebut,

    Namun bagaimana kita menggunakan sumber daya ini untuk pembangunan negara, untuk pengentasan kemiskinan, pengangguran dan apa target kita sehubungan dengan agenda hijau,” kata Aliyev dikutip earth.org.

    Kepresidenan COP 29 juga dikritik karena gagal memasukkan penyebutan rencana penghapusan bahan bakar fosil secara bertahap dalam Agenda Aksi pertemuan puncaknya, meskipun ada seruan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kesepakatan COP 28

    Baca: COP 28 tanpa mandat tegas akhiri bahan bakar fosil

    Seruan itu untuk “transisi dari bahan bakar fosil dalam sistem energi, dengan cara yang adil, teratur dan merata. untuk mencapai net-zero pada tahun 2050 sesuai dengan ilmu pengetahuan.”

    Azerbaijan adalah negara minyak ketiga berturut-turut yang menjadi tuan rumah perundingan tersebut setelah salah satu negara minyak terkaya di dunia, Uni Emirat Arab, menjadi tuan rumah COP 28 tahun lalu dan Mesir menjadi tuan rumah COP 27 pada tahun 2022.

    Setidaknya 2.456 pelobi minyak dan gas menghadiri COP 28 tahun lalu, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada COP 27 tahun 2022 di Sharm El-Sheikh, Mesir, sekitar 636 orang yang terkait dengan industri bahan bakar fosil diberikan akses.

    Investigasi yang dilakukan oleh Center for Climate Reporting (CCR) dan BBC tahun lalu mengungkapkan bahwa kepresidenan COP 28 berencana memanfaatkan pertemuan dengan negara-negara asing untuk mendorong kesepakatan minyak dan gas.

    Meskipun presiden COP 28 Sultan Al Jaber berulang kali menyangkal keterlibatannya, dokumen yang bocor menunjukkan bahwa bahan bakar fosil menjadi salah satu pokok pembicaraan dalam pertemuan antara perusahaan energi UEA dan 15 negara menjelang KTT tersebut.

    “Seperti yang kita lihat di UEA tahun lalu, tuan rumah acara ini mempunyai agenda yang sangat bertentangan dengan keadilan iklim,” kata Schaaf dari Amnesty International.

  • Brasil Desak Negara-negara G20 Ambil Tindakan untuk Tekan Pemanasan Global

    7cloud.asia – Presiden Brasil membuka hari kedua pertemuan 20 negara ekonomi terbesar dunia atau G20 pada Selasa (19/11/2024), dengan mendesakkan tindakan lebih nyata untuk memperlambat pemanasan global.

    Brasil menjadi tuan rumah pertemuan G20 tahun ini, yang puncaknya diselenggarakan pada 19-20 November.

    Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan bahwa negara-negara maju yang tergabung dalam G20 harus mempercepat inisiatif mereka untuk mengurangi emisi yang memicu pemanasan global.

    Seruan itu disampaikan sehari setelah perwakilan dari negara-negara G20 mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesakkan sebuah pakta untuk memberantas kelaparan,

    Negara-negara G20 juga menyerukan lebih banyak bantuan ke Gaza, dan mengakhiri perang di Ukraina serta sejumlah tujuan lain.

    Baca: Pertemuan G20 2023 tak hasilkan kesepakatan soal bahan bakar fosil

    Pernyataan bersama G20 ini dibuat di tengah ketidakpastian global yang membayangi berkuasanya kembali presiden terpilih AS, Donald Trump.

    Presiden Brasil, yang menjadi tuan rumah pertemuan dua hari itu, membuka sesi pada Selasa dengan fokus pada tantangan-tantangan lingkungan.

    Dia mengatakan bahwa negara-negara maju harus mempertimbangkan memajukan target emisi mereka, yang sebelumnya akan dicapai pada 2050 menjadi 2040 atau 2045.

    “Negara-negara G20 bertanggung jawab atas 80 persen dampak emisi gas rumah kaca. Meskipun kita tidak melangkah dalam kecepatan yang sama, kita semua bisa mengambil satu langkah ke depan bersama,” kata Lula.

    Baca: Gelombang panas makin ganas, dipicu perubahan iklim?

    Sebagai tambahan dari sumbangan sebesar 325 juta dolar untuk dana teknologi bersih Bank Dunia, Presiden AS Joe Biden telah mengumumkan serangkaian inisiatif yang berkaitan dengan iklim dan pembangunan.

    Namun banyak dari inisiatif itu yang membutuhkan dukungan dari Trump, yang menentang proyek-proyek semacam itu dan menyebut krisis iklim sebagai sebuah “berita bohong”.

    Biden juga mendesak masing-masing negara anggota G20 berkomitmen sebesar 2 miliar dolar untuk membiayai Dana Pandemi yang didirikan pada 2022.

    Biden telah berjanji bahwa AS akan menyediakan dana hingga 667 juta dolar hingga 2026, tetapi itu akan membutuhkan persetujuan Kongres.

  • Perubahan Iklim dan Pemanasan Global Berdampak Nyata pada Ekonomi Dunia

    Perubahan Iklim dan Pemanasan Global Berdampak Nyata pada Ekonomi Dunia

    7cloud.asia – Sebuah laporan dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) meneliti bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada kesehatan dan ekonomi global berdasarkan skenario “yang paling mungkin” dari Panel Internasional tentang Perubahan Iklim.

    Penelitian ini melakukan simulasi apa yang akan terjadi akibat kenaikan suhu global sebesar 2,7°C dibandingkan suhu pra-industri pada tahun 2100.

    Adapun angka 2,7°C ini didasarkan pada pengukuran suhu global dan berbagai simulasi yang dikaitkan dengan data emisi karbon secara global.

    Laporan WEF tersebut menyimpulkan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim dapat berdampak pada kesehatan dan perekonomian global.

    Perubahan iklim dapat menyebabkan tambahan 14,5 juta kematian per tahun akibat banjir, panas ekstrem, dan polusi udara.

    Baca: Dampak kenaikan suhu Bumi hingga 2°C pada pola cuaca

    Yang terakhir ini diproyeksikan menjadi penyumbang terbesar dengan hampir 9 juta kematian tambahan per tahun.

    Total kerugian ekonomi bisa mencapai 12,5 triliun dolar, dan sistem layanan kesehatan global diperkirakan mengeluarkan biaya tambahan sebesar 1,1 triliun dolar akibat perubahan iklim pada pertengahan abad ini.

    Untungnya, hal ini hanyalah proyeksi, dan masih ada waktu untuk menginvestasikan sumber daya yang diperlukan untuk menghindari dampak terburuk pada perekonomian dan kesehatan masyarakat.

    Penelitian tersebut menunjukkan bahwa manfaat berinvestasi dalam aksi iklim dan pengurangan polusi udara kini dapat memberikan hasil yang jauh lebih besar daripada biaya di mukanya.

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Misalnya, Undang-Undang Udara Bersih AS diperkirakan memberikan manfaat ekonomi sebesar 30 dolar untuk setiap dolar yang diinvestasikan dalam pengendalian polusi udara.

    Manfaat dari pengendalian polusi tersebut antara lain adalah peningkatan produktivitas ekonomi, pengurangan biaya perawatan kesehatan dan penyakit kronis serta rentang hidup yang lebih lama.

    Berinvestasi dalam mitigasi perubahan iklim dan ketahanan iklim juga menghasilkan penghematan yang signifikan.

    Kamar Dagang Amerika Serikat menemukan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan dalam ketahanan dan kesiapsiagaan bencana menghemat 13 dolar dalam dampak ekonomi, kerusakan dan biaya pembersihan setelah peristiwa cuaca ekstrem.

  • Konsentrasi CO2 di Atmosfer Lampaui Prediksi Para Pakar, Pemanasan Global Datang Lebih Cepat

    Konsentrasi CO2 di Atmosfer Lampaui Prediksi Para Pakar, Pemanasan Global Datang Lebih Cepat

    7cloud.asia – Pertumbuhan konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer tahun 2024 telah membuat dunia keluar jalur untuk menjaga pemanasan global tetap di bawah target Perjanjian Paris yakni 1,5°C di atas masa pra-Industri.

    Menurut data Kantor Meteorologi Inggris yang dirilis pekan lalu, konsentrasi CO2 meningkat 3,58 bagian per juta (ppm) pada tahun 2024, jauh melampaui prediksi pakar cuaca.

    Peningkatan konsentrasi CO2 ini juga tidak sejalan dengan peningkatan tahunan sebesar 1,8 ppm yang digariskan menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

    Menurut IPCC –lembaga paling berwenang di dunia– pembatasan ini diperlukan untuk menjaga pemanasan global tetap di bawah target yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015.

    Peningkatan substansial ini sebagian besar disebabkan oleh rekor emisi tinggi dari pembakaran bahan bakar fosil, penyerapan karbon yang menurun –terutama di hutan tropis.

    Musim kebakaran hutan yang sangat aktif sepanjang tahun 2024, menurut para pakar iklim juga menyumbang konsentrasi gas rumah kaca.

    Baca: Suhu Global 2024 Lampaui Ambang Batas Perjanjian Paris

    Kebakaran hutan yang merusak dipicu oleh kondisi panas dan kering yang meluas, sebagian dipengaruhi oleh kembalinya pola cuaca El Niño dan faktor-faktor lainnya, termasuk dampak perubahan iklim.

    Emisi CO2 global dari bahan bakar fosil telah meningkat lebih dari 60 persen sejak tahun 1990, saat ini mencapai 425,40 ppm.

    Konsentrasi CO2 di atmosfer saat ini disebut 51 persen lebih tinggi daripada sebelum dimulainya Revolusi Industri.

    CO2 yang merupakan produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil, biomassa, perubahan penggunaan lahan, dan proses industri seperti produksi semen, merupakan gas rumah kaca antropogenik utama di atmosfer.

    Gas ini bertanggung jawab atas sekitar tiga perempat emisi pemanasan global, diikuti oleh oleh metana dan nitrogen oksida.

    Metana –gas yang sebagian besar terkait dengan penggunaan bahan bakar fosil, pertanian, dan limbah makanan– bertanggung jawab atas 25 persen pemanasan global.

    Baca: Suhu Global 2024 tercatat 1,6°C di atas masa pra-industri

    Zat ini 84 kali lebih kuat dalam memerangkap panas di atmosfer daripada CO2 selama periode dua dekade dan memiliki potensi pemanasan global 100 tahun yang 28-34 kali lebih besar daripada CO2.

    Emisi metana global telah meningkat, dan konsentrasi gas ampuh tersebut di atmosfer kini 165 persen lebih tinggi daripada tingkat pra-industri pada tahun 1750.

    Dinitrogen oksida merupakan gas rumah kaca ketiga terpenting yang disebabkan oleh manusia, terutama terkait dengan penggunaan pupuk nitrogen dan pupuk kandang dari perluasan dan intensifikasi pertanian.

    Konsentrasi gas ini di atmosfer sekarang 25 persen lebih tinggi daripada tingkat pra-industri yaitu 270 bagian per miliar.

    Fakta-fakta ini seharusnya menjadi lampu kuning untuk mengurangi emisi dengan memotong penggunaan bahan bakar fosil.

  • Dunia Keluar Jalur dari Pembatasan Pemanasan Global 1,5°C: Cuaca Ekstrem Akan Makin Sering Terjadi

    Dunia Keluar Jalur dari Pembatasan Pemanasan Global 1,5°C: Cuaca Ekstrem Akan Makin Sering Terjadi

    7cloud.asia – Tahun lalu, Badan Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) memperingatkan bahwa dunia “lebih mungkin” melampaui ambang batas pemanasan global kritis pada tahun 2027.

    Sementara Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programe/UNEP) mengatakan, janji pengurangan emisi saat ini menempatkan Bumi pada jalur pemanasan global sebesar 2,6-3,1°C selama abad ini.

    Survei terhadap 380 ilmuwan IPCC yang dilakukan oleh Guardian bulan Mei 2024 lalu juga mengungkapkan bahwa 77 persen dari mereka meyakini umat manusia sedang menuju pemanasan global setidaknya 2,5°C.

    Tahun lalu, tahun terpanas yang pernah tercatat, juga menandai tahun kalender pertama di mana suhu global rata-rata melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri.

    Fakta di atas memang tidak menandakan adanya pelanggaran permanen terhadap batas kritis, yang menurut para ilmuwan telah diukur selama beberapa dekade.

    Baca: Rata-rata suhu global 2024 1,6°C di atas masa Pra-industri

    Namun, hal ini mengirimkan peringatan yang jelas kepada umat manusia bahwa kita sedang mendekati titik yang tidak bisa kembali, jauh lebih cepat dari yang diharapkan.

    Bumi telah menghangat 1,3°C. Para ilmuwan pun mengingatkan, setiap fraksi derajat pemanasan global memiliki arti penting.

    Karena setiap peningkatan pemanasan global menyebabkan “peningkatan yang jelas terlihat dalam intensitas dan frekuensi suhu ekstrem dan curah hujan, serta kekeringan pertanian dan ekologi di beberapa wilayah.”

    Naiknya rata-rata suhu global ini tak lepas dari terus meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca yang kemudian memerangkap panas di atmosfer.

    Dilansir earth.org, peningkatan substansial ini sebagian besar disebabkan oleh rekor emisi tinggi dari pembakaran bahan bakar fosil, penyerapan karbon yang menurun –terutama di hutan tropis.

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global capai 2°C

    Musim kebakaran hutan yang sangat aktif sepanjang tahun 2024, menurut para pakar iklim juga menyumbang konsentrasi gas rumah kaca.

    Kebakaran hutan yang merusak dipicu oleh kondisi panas dan kering yang meluas, sebagian dipengaruhi oleh kembalinya pola cuaca El Niño dan faktor-faktor lainnya, termasuk dampak perubahan iklim.

    Emisi CO2 global dari bahan bakar fosil telah meningkat lebih dari 60 persen sejak tahun 1990, saat ini mencapai 425,40 ppm.

    Konsentrasi CO2 di atmosfer saat ini disebut 51 persen lebih tinggi daripada sebelum dimulainya Revolusi Industri.

    CO2 yang merupakan produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil, biomassa, perubahan penggunaan lahan, dan proses industri seperti produksi semen, merupakan gas rumah kaca antropogenik utama di atmosfer.

  • Pemanasan Suhu Laut 2024 Cetak Rekor, Ini Dampaknya pada Lingkungan

    Pemanasan Suhu Laut 2024 Cetak Rekor, Ini Dampaknya pada Lingkungan

    7cloud.asia – Pemanasan global turut membuat laut menghangat. Tahun lalu, 2024, suhu laut global mencatatkan rekor terpanas, melampaui catatan sebelumnya pada 2023.

    Faktanya, ketika pencatatan suhu laut menggunakan satelit dimulai sejak 1984, setiap dekade selalu terekam lebih hangat dari dekade sebelumnya.

    Suhu laut yang lebih hangat meningkatkan penguapan, menghasilkan hujan lebih lebat di beberapa wilayah dan kekeringan di wilayah lain.

    Pemanasan suhu laut membuat badai lebih kuat dan hujan lebih deras, serta merusak ekosistem laut pesisir dan kehidupan laut. Terumbu karang, misalnya, mengalami pemutihan terluas sepanjang sejarah pada 2024.

    Hangatnya air laut juga memengaruhi suhu di daratan dengan mengubah pola cuaca.

    Lembaga meteorologi Uni Eropa, Copernicus, pada 10 Januari mengumumkan bahwa 2024 juga memecahkan rekor sebagai tahun terpanas secara global. Angkanya sekitar 1,6° C lebih tinggi dibandingkan era praindustri.

    Ini adalah kali pertama suhu rata-rata global melebihi batas 1,5°C dalam satu tahun kalender penuh. Negara-negara dunia telah menyepakati untuk menghindari batasan suhu tersebut dalam jangka panjang.

    Perubahan iklim secara umum menjadi penyebab utama. Gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer menjebak panas di Bumi.

    Baca: Jalur pembatasan pemanasan global 1,5°C terlampaui

    Sialnya, sekitar 90 persen kelebihan panas akibat emisi dari pembakaran bahan bakar fosil kemudian diserap oleh laut.

    Namun, suhu laut dalam dua tahun terakhir sebenarnya telah jauh melampaui dekade sebelumnya. Ini menciptakan dua misteri bagi ilmuwan: apakah ada faktor lain yang berkontribusi pada pemanasan laut tak terduga; dan apakah ini tanda pemanasan global semakin cepat.

    Bukan hanya El Niño
    Pola iklim siklikal dari El Niño Southern Oscillation (ENSO) menjelaskan sebagian dari hangatnya suhu Bumi selama dua tahun terakhir.

    Selama periode El Niño, perairan hangat yang biasanya terkumpul di Pasifik Barat berpindah ke timur menuju garis pantai Peru dan Chili. Ini menyebabkan suhu global sedikit lebih hangat.

    Namun ternyata, laut bahkan lebih hangat daripada yang diperkirakan ilmuwan. Suhu global 2023-2024 mengikuti pola serupa dengan El Niño 2015-2016, tetapi lebih tinggi sekitar 0,2°C.

    Para ilmuwan kini menghadapi dua pertanyaan besar: adakah faktor lain yang memicu pemanasan tak terduga ini? Apakah dua tahun terakhir menjadi tanda pemanasan global melonjak?

    Peran Aerosol
    Salah satu hipotesis menarik yang diuji dengan model iklim adalah: pengurangan aerosol secara cepat dalam satu dekade terakhir mungkin menjadi penyebab kenaikan suhu laut.

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global capai 2°C

    Aerosol adalah partikel padat dan cair yang dilepaskan dari sumber manusia maupun alam ke atmosfer.

    Beberapa aerosol dapat mengurangi dampak gas rumah kaca dengan memantulkan radiasi matahari kembali ke luar angkasa. Namun, aerosol juga menjadi penyebab buruknya kualitas udara dan pencemaran udara.

    Banyak aerosol yang bersifat mendinginkan dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Contohnya adalah aerosol sulfur yang dilepaskan oleh mesin kapal dan pembangkit listrik.

    Pada 2020, industri pelayaran memotong emisi sulfur hingga 80 persen dengan beralih ke bahan bakar rendah sulfur.

    Dampak lebih besar juga muncul dari pengurangan emisi pembangkit listrik, termasuk langkah besar yang dilakukan di Cina.

    Teknologi memang berhasil mengurangi laju emisi yang berbahaya dari kapal dan pembangkit listrik. Namun, di sisi lain, upaya itu juga melemahkan rem yang memperlambat laju pemanasan.

    Apakah ini lonjakan pemanasan?
    Teka-teki kedua adalah apakah Bumi sedang mengalami lonjakan pemanasan. Suhu bumi memang terus meningkat, tetapi dua tahun terakhir belum cukup panas untuk mendukung anggapan adanya percepatan laju pemanasan global.

    Baca: Dampak pemanasan global 2°C pada pola cuaca

    Analisis empat rangkaian data suhu selama 1850-2023 menunjukkan bahwa laju pemanasan tidak mengalami perubahan signifikan sejak sekitar tahun 1970-an.

    Namun, para peneliti yang sama menekankan bahwa secara statistik, hanya kenaikan laju setidaknya 55 persen (sekitar 0,5°C) selama setahun yang dapat terdeteksi sebagai percepatan pemanasan.

    Dari sudut pandang statistik, ilmuwan belum bisa mengecualikan kemungkinan bahwa rekor pemanasan laut 2023-2024 berasal dari tren pemanasan “biasa” akibat aktivitas manusia selama 50 tahun terakhir. Apalagi, fenomena El Niño turut berkontribusi di dalamnya.

    Namun, dari sudut pandang praktis, dampak luar biasa yang disaksikan planet ini: cuaca ekstrem, gelombang panas, kebakaran hutan, pemutihan karang, dan kehancuran ekosistem.

    Hal ini menegaskan bahwa kita memerlukan pengurangan emisi karbon dioksida secara cepat untuk membatasi pemanasan laut.

    Hal ini terlepas dari apakah pemanasan tahun ini merupakan bagian dari tren yang sedang berlangsung ataupun suatu lonjakan.

    Artikel ini terbit di The Conversation dan diperbarui dengan data suhu global tahun 2024 dari Copernicus Climate Change Service. Penulis: , Professor of Ocean and Climate Dynamics, Georgia Institute of Technology

  • Jika Dunia Tak Mengerem Penggunaan Bahan Bakar Fosil Pemanasan Global Bisa Capai 3,1°C pada 2100

    Jika Dunia Tak Mengerem Penggunaan Bahan Bakar Fosil Pemanasan Global Bisa Capai 3,1°C pada 2100

    7cloud.asia – Laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change yang dirilis Oktober 2024 lalu menyebut dunia memiliki kemungkinan besar melampaui batas pemanasan global 1,5°C sebagaimana termaktub di Perjanjian Paris

    Laporan Lancet yang ditujukan untuk mengevaluasi hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di tingkat global juga memprediksi pemanasan global dapat akan mencapai 3,1°C pada tahun 2100.

    Hal ini disebabkan oleh komitmen dekarbonisasi yang tidak memadai dari hampir semua negara dengan emisi tinggi.

    Kondisi ini diperburuk dengan terus meningkatnya permintaan energi, dan subsidi bahan bakar fosil juga mencetak rekor tertinggi.

    Mundurnya Amerika Serikat dari Perjanjian Iklim di bawah Pemerintahan Trump akan dapat semakin memperlambat momentum global dalam mengatasi perubahan iklim.

    Baca: Lancet soroti paradoks upaya mengatasi penyakit akibat perubahan iklim

    Keterlibatan global seputar perubahan iklim dan kesehatan mungkin juga menurun secara keseluruhan.

    Laporan Lancet menyoroti bahwa jumlah pemerintah yang menyebutkan iklim dan kesehatan dalam Debat Umum PBB tahunan mereka turun dari 50 persen pada tahun 2022 menjadi 35 persen pada tahun 2023.

    Selain itu, hanya 47 persen dari 58 Kontribusi Secara Nasional (National Determined Contribution/NDC) yang diajukan pada tahun 2023 yang dirujuk untuk kesehatan.

    NDC adalah rencana aksi iklim nasional yang harus diserahkan setiap negara penandatangan Perjanjian Paris secara berkala.

    Baca: Layanan Kesehatan Nasional Inggris tekan emisi gas rumah kaca

    Dengan kondisi seperti ini, Lancet memprediksi dampak kesehatan dan kematian akibat perubahan iklim kemungkinan akan terus meningkat jika dunia tidak serius memotong emisi gas rumah kaca.

    Sementara, sebuah studi November 2024 juga memproyeksikan bahwa perubahan iklim dan polusi udara dapat menyebabkan 30 juta kematian setiap tahunnya pada tahun 2100.

    Dampak kesehatan akibat perubahan iklim diproyeksikan akan berdampak secara tidak proporsional pada negara-negara miskin dengan jejak karbon terkecil.

    Mengomentari kondisi ini, Hannah Ritchie dari Our World in Data mengatakan, “inilah ketimpangan yang parah akibat perubahan iklim”

  • Bertemu Paus Fransiskus, Megawati Diskusikan Isu Pemanasan Global

    Bertemu Paus Fransiskus, Megawati Diskusikan Isu Pemanasan Global

    7cloud.asia – Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Paus Fransiskus mendiskusikan pemanasan global saat keduanya bertemu di kediaman Paus di Vatikan, Jumat (7/2/2025) waktu setempat.

    Hal itu disampaikan Megawati kepada media usai menemui Paus di kediaman Casa Santa Marta, Vatikan, Roma, Italia, Jumat sore (7/2/2025) waktu setempat.

    Megawati mengatakan Paus mengundangnya untuk berbicara di KTT Pemimpin Dunia tentang Hak Anak di Italia.

    “Saya menerima undangan pribadi dari Paus. Kami juga membahas beberapa isu nasional,” katanya.

    Megawati menyatakan, Paus Fransiskus menaruh minat pada Pancasila dan asas gotong royong.

    “Dalam pidato saya di KTT itu, saya menjelaskan bahwa Pancasila merupakan bagian integral kehidupan manusia dan mempunyai makna internasional,” kata Megawati.

     

    Baca: Megawati diundang jadi pembicara di World Leaders Summit di Roma

    Ia menjelaskan, Pancasila tidak hanya melekat pada diri bangsa Indonesia, tetapi juga berlaku secara universal dalam kehidupan, khususnya dalam hubungannya dengan Tuhan dan kemanusiaan.

    Megawati menyampaikan, Paus sependapat dengan penekanannya pada kemanusiaan, apalagi mengingat perubahan global yang semakin memprihatinkan, termasuk peperangan yang masih terus berlangsung.

    Megawati juga mencatat keprihatinan Paus terhadap pemanasan global, yang menurutnya sering kali ditanggapi dengan sikap tidak peduli oleh manusia.

    “Ketika saya bertemu Paus di acara Zayed Award 2024, kami berbicara, dan dia bertanya apakah saya punya saran,” katanya.

    Saat itu, ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang kelalaian yang meluas terhadap pemanasan global.

    “Saya tanya kenapa orang-orang tidak peduli dengan masalah ini. Dia setuju dan mengacungkan jempol,” kenangnya.

    Baca: Megawati sebut Bung Karno selalu pikirkan nasib rakyat kecil 

    Megawati menambahkan, menurut Paus, ada pusat penelitian di Vatikan yang didedikasikan untuk mempelajari mencairnya es di kedua kutub. Es tidak hanya mencair tetapi juga pecah berkeping-keping.

    Dalam pertemuan itu, Megawati didampingi putrinya Puan Maharani yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPR.

    Saat bertemu Paus, Megawati bersama Puan pun menyampaikan salam dari bangsa Indonesia, khususnya umat Katolik di Tanah Air yang begitu mengagumi Sri Paus.

    Kepada keduanya, Paus mengucapkan terima kasih atas keramahan bangsa Indonesia sambil mengatakan rakyat Indonesia merupakan masyarakat yang indah.

    Seperti diketahui saat berkunjung ke Indonesia akhir tahun 2024 lalu, Sri Paus mendapat sambutan hangat dari seluruh warga meskipun Indonesia dikenal sebagai negara mayoritas beragama Muslim.

    Puan memberikan cinderamata baju wayang terbuat dari batik tradisional Indonesia. Sedangkan, Megawati memberikan cinderamata berupa lukisan Bunda Maria yang digambarkan mengenakan kerudung mantilla berwarna putih dan berkebaya merah.

    Pertemuan di kediaman Paus itu berlangsung setelah sebelumnya Megawati diundang menghadiri pertemuan para pemimpin dan tokoh dunia tentang hak anak atau World Leaders Summit on Children’s Rights, Senin (3/2/2025).

    “Dengan World Leaders Summit on Children’s Rights, kami dapat duduk bersama dan bertukar pikiran tentang hak anak dan misi kemanusiaan global demi generasi mendatang,” ungkapnya.