7cloud.asia – Tahun lalu, Badan Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) memperingatkan bahwa dunia “lebih mungkin” melampaui ambang batas pemanasan global kritis pada tahun 2027.
Sementara Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programe/UNEP) mengatakan, janji pengurangan emisi saat ini menempatkan Bumi pada jalur pemanasan global sebesar 2,6-3,1°C selama abad ini.
Survei terhadap 380 ilmuwan IPCC yang dilakukan oleh Guardian bulan Mei 2024 lalu juga mengungkapkan bahwa 77 persen dari mereka meyakini umat manusia sedang menuju pemanasan global setidaknya 2,5°C.
Tahun lalu, tahun terpanas yang pernah tercatat, juga menandai tahun kalender pertama di mana suhu global rata-rata melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri.
Fakta di atas memang tidak menandakan adanya pelanggaran permanen terhadap batas kritis, yang menurut para ilmuwan telah diukur selama beberapa dekade.
Baca: Rata-rata suhu global 2024 1,6°C di atas masa Pra-industri
Namun, hal ini mengirimkan peringatan yang jelas kepada umat manusia bahwa kita sedang mendekati titik yang tidak bisa kembali, jauh lebih cepat dari yang diharapkan.
Bumi telah menghangat 1,3°C. Para ilmuwan pun mengingatkan, setiap fraksi derajat pemanasan global memiliki arti penting.
Karena setiap peningkatan pemanasan global menyebabkan “peningkatan yang jelas terlihat dalam intensitas dan frekuensi suhu ekstrem dan curah hujan, serta kekeringan pertanian dan ekologi di beberapa wilayah.”
Naiknya rata-rata suhu global ini tak lepas dari terus meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca yang kemudian memerangkap panas di atmosfer.
Dilansir earth.org, peningkatan substansial ini sebagian besar disebabkan oleh rekor emisi tinggi dari pembakaran bahan bakar fosil, penyerapan karbon yang menurun –terutama di hutan tropis.
Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global capai 2°C
Musim kebakaran hutan yang sangat aktif sepanjang tahun 2024, menurut para pakar iklim juga menyumbang konsentrasi gas rumah kaca.
Kebakaran hutan yang merusak dipicu oleh kondisi panas dan kering yang meluas, sebagian dipengaruhi oleh kembalinya pola cuaca El Niño dan faktor-faktor lainnya, termasuk dampak perubahan iklim.
Emisi CO2 global dari bahan bakar fosil telah meningkat lebih dari 60 persen sejak tahun 1990, saat ini mencapai 425,40 ppm.
Konsentrasi CO2 di atmosfer saat ini disebut 51 persen lebih tinggi daripada sebelum dimulainya Revolusi Industri.
CO2 yang merupakan produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil, biomassa, perubahan penggunaan lahan, dan proses industri seperti produksi semen, merupakan gas rumah kaca antropogenik utama di atmosfer.

Leave a Reply