Tag: polusi

  • Marak Polusi Udara, Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pengasapan Rendah Polusi

    Marak Polusi Udara, Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pengasapan Rendah Polusi

    7cloud.asia – Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat inovasi dengan mengembangkan teknologi berupa alat pengasapan ikan lele yang rendah polusi.

    “Alat ini dibuat untuk membantu meningkatkan produksi, kualitas, umur simpan, serta pengurangan polusi udara saat pengasapan ikan lele,” kata Ketua tim pengembang alat, Dinda Iffana Silma di Yogyakarta, Selasa (03/10/2023).

    Dia menjelaskan pengembangan alat berawal dari keprihatinan terhadap persoalan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Wono Mina Sari, Desa Banyusari, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah terkait pengasapan ikan lele.

    “Lele asap ini permintaan cukup tinggi. Sayangnya pokdakan di Magelang ini melakukan pengasapan dengan cara konvensional dan alat seadanya yang membutuhkan durasi pengasapan lama,” jelas mahasiswa Teknik Kimia UGM ini. 

    Tim ini terdiri dari Ademas Alam Pangestu (mahasiswa Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol UGM), Rakha Naufal Flazui Handoko (Teknik Mesin), Irvan Gibran (Teknik Kimia), dan Nabila Hasna Karimah (Teknik Industri).

    Mereka berusaha mencari solusi dengan membuat alat pengasapan ikan lele. 

    Alat itu dikembangkan dengan pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI) Kemendikbudristek 2023.

    Dinda mengungkapkan proses pengasapan ikan lele yang digunakan pokdakan Magelang berbasis serabut kelapa dan kayu sebagai bahan bakar untuk menghasilkan asap.

    Alat yang digunakan pun berupa drum bekas dengan tutup yang kurang rapat sehingga proses tersebut menyebabkan durasi pengasapan menjadi lama yakni 8 jam dengan kapasitas 5 kg sekali produksi.

    Nabila Hasna Karimah menambahkan proses produksi yang lama membuat ikan lele asap berwarna gelap dan mudah gosong sehingga kurang menarik.

    “Proses produksi yang lama menyebabkan borosnya bahan bakar yang dikonsumsi dan sulitnya memenuhi permintaan pasar,” katanya. 

    Selain itu proses pengasapan lele menghasilkan limbah asap yang mencemari lingkungan dan produk lele asap yang dihasilkan berumur simpan yang pendek.

    “Produk lele asap yang dihasilkan mitra mempunyai umur simpan lele asap hanya 3 hari saja. Namun dengan implementasi teknologi yang kami kembangkan umur simpannya bisa bertambah hingga 5 hari,” jelasnya.

    Dinda memaparkan dengan alat ini bisa meningkatkan kuantitas produksi mencapai 30 kilogram dalam sekali produksi. Selain itu waktu produksi bisa menjadi lebih singkat dari yang semula sekali produksi membutuhkan waktu delapan jam menjadi 2-4 jam saja.

    Rakha kemudian menambahkan bahwa proses pengasapan yang dilakukan lebih cepat dengan kapasitas enam kali lipat dari sebelumnya serta dijalankan dengan suhu yang konstan.

    Pengasapan yang cepat dengan suhu konstan ini menerapkan alat pengasapan yang lebih tertutup disertai banyaknya cerobong asap.

    Cerobong asap berasal dari tempat bahan bakar yang terhubung menuju lele sehingga memudahkan transfer massa dan panas asap langsung menuju ke lele.

    “Asap hasil pengasapan akan diolah menjadi asap cair grade satu dengan menerapkan teknologi distilasi bertingkat yang dapat dimanfaatkan sebagai pengawet lele asap dan produk tambahan bagi mitra. Asap cair dapat meningkatkan umur simpan lele asap menjadi lebih tahan lama serta penampilan lele menjadi lebih menarik,” urainya.

    Sumber: Antaranews

  • Awal Pekan, Jakarta Masuk 3 Besar Kota Terpolusi Di Dunia

    Awal Pekan, Jakarta Masuk 3 Besar Kota Terpolusi Di Dunia

    7cloud.asia – Awal pekan, Jakarta masuk rangking tiga besar sebagai kota terpolusi di dunia. Dilihat dari situs IQAir pada pukul 06.30 WIB, Jakarta menempati posisi ketiga dengan indeks kualitas udara berada pada angka 165. dengan status udara tidak sehat.

    Di situs tersebut terpantau di Jakarta nilai konsentrasi polutan PM 2,5 artinya 16.6 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

    Sementara posisi kedua ditempati oleh kota Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara 181 dan urutan pertama adalah Delhi, India dengan indeks kualitas udara 187.

    Dengan kualitas udara seperti itu, IQAir menyarankan agar membatasi aktivitas di luar ruangan. Apalagi untuk kelompok usia rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan orangtua.

    Jika memang harus melakukan aktivitas di luar ruangan, masyarakat diimbau mengenakan masker saat berada di luar ruangan.

    Selain itu, jika memiliki penyaring udara maka dapat menyalakan penyaring udara agar udara dapat jernih kembali.

    Masyarakat juga dihimbau untuk menutup jendela guna menghindari polusi udara dari luar.

    Sebelumnya, pemptrov DKI Jakarta bekerjasama dengan pemerintah pusat telah melakukan berbagai langkah untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

    Diantaranya adalah Teknik Modifikasi Cuaca (TMC), menanam pohon, razia cerobong-cerobong industri yang berpotensi sebagai sumber pencemar udara di Jakarta.

    Sementara itu, Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR menyebut polusi udara di Jakarta ini mengancam kesehatan.

    Karena itu. ia mengajak masyarakat untuk mengenakan masker kain yang dilapisi filter untuk particulate matter (PM) 2.5 saat polusi udara sangat tinggi seperti sekarang.

    “Ini bisa jadi solusi murah, yakni masker kain ditambah filter untuk PM 2.5. Ini banyak di toko daring jual filter untuk PM 2.5 harganya Rp10 ribu,” ujar Agus.

    Cara ini disebut sefektif menyaring 95 – 99 persen partikulat. Selain itu,

    masyarakat juga bisa menggunakan N95, KF94 dan masker bedah.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Keren! Pelajar SMA Ini Ciptakan Batu Bata Ramah Lingkungan dari Limbah PLTU Batubara

    Keren! Pelajar SMA Ini Ciptakan Batu Bata Ramah Lingkungan dari Limbah PLTU Batubara

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan warga untuk menangani limbah yang dihasilkan warga dan industri. Tak terkecuali pelajar SMA di Jakarta yang membuat bahan bangunan ramah lingkungan dengan berbahan limbah dari PLTU batu bara.

    Itulah yang dilakukan Sheina Ashley Pribadi, siswi kelas 12 Jakarta Intercultural School. Ia menginisasi projek ACE untuk menciptakan bangunan yang lebih ramah lingkungan berbahan limbah. 

    “Proyek ACE bertujuan untuk menggantikan batu bata semen, tanah liat yang menimbulkan polusi. Caranya dengan mengganti sebagian besar semen pada batu bata dengan fly ash,” jelas Sheina dikutip detik.com.

    Baca: Robries mengolah sampah plastik jadi produk bernilai tinggi

    “Fly ash adalah produk sampingan atau limbah PLTU batu bara. Jika tidak dimanfaatkan untuk pembuatan semen ini, fly ash hanya jadi sampah yang dapat mencemari saluran air dan berakhir di tempat pembuangan sampah,” paparnya.

    Selanjutnya Sheina mengungkapkan ide pembuatan batu bata ini sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu.

    “Idenya muncul saat kursus solusi tentang lingkungan di Stanford tahun lalu. Saya banyak konsultasi dengan Profesor, insinyur dan mempraktikkannya sendiri di Jakarta,” ungkapnya.  

    Baca: Insectta olah limbah pangan jadi bahan kosmetik

    Untuk produk ini, Sheina bereksperimen sendiri, membuat prototipe rumah sampai menguji prototipe di laboratorium.

    “Formula yang terakhir dapat mencegah 50 persen lepasnya karbondioksida,” imbuhnya.

    Setiap kilogram semen yang diganti dengan fly ash menghemat 0.9 kilogram karbondioksida agar tidak terbuang ke atmosfer,” katanya.

    Baca: Mengenal bioplastik, apakah benar-benar aman untuk lingkungan

    Tahap selanjutnya adalah uji kekuatan. Sembilan prototipe batu bata terkuat diuji di lab Universitas Tarumanegara Jakarta untuk dilakukan penguatan dengan uji kompresi.

    “Formula terakhir bisa melampaui standar FC20 (mutu sedang beton standar Kementerian PUPR),” ujar juara Technovation Girls Indonesia tahun 2023 ini.

    Batu bata ramah lingkungan ini mulai diproduksi. Sheina mengaku dibantu lokakarya lokal di Bogor untuk memproduksi dengan bahan baku fly ash dari PLTU Paiton Malang.

    Baca: Briket dari ampas kopi, inovasi menuju energi terbarukan

    Sementara untuk desain, finalis Global RISE for The World 2023 ini banyak dibantu pamannya, yang kebetulan seorang arsitek.

    Dia berharap dengan penemuannya ini, masyarakat akan semakin sadar pentingnya menggunakan bahan bangunan rendah polusi. Dengan demikian dampak perubahan iklim dapat diminimalisir.

    Sayangnya, batu bata buatan Sheina ini masih belum dijual secara komersil. Penggunaannya saat ini masih diperuntukkan membangun kepentingan umum.

    Baca: Ilmuwan AS ciptakan bioplastik dari bangkai lalat

    Salah satunya untuk membangun trotoar yang rusak. Seperti yang sudah dibangun di trotoar di kawasan sekolah Al-Firdaus di BSD.

    “Meskipun kami punya harapan di masa depan, proyek ini tidak bertujuan menjual batu bata secara komersial. Batu bata ini akan digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” jelasnya.

    Atas batu bata temuannya ini, Sheina telah menerima hibah dari The Iris Project yang memungkinkan Sheina membeli bahan baku dan perlatan yang diperlukan.

    Baca: Botol dan kaca, mana lebih ramah lingkungan

    Ia berharap, ke depan temuan ini bisa dipatenkan dan bisa mengembangkan produk ini bermitra dengan perusahaan bangunan di Indonesia agar bisa memproduksi secara massal.

    “Untuk menciptakan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan, untuk mengurangi emisi karbon,” harapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Walhi Sumsel Desak Pemerintah Tindak Tegas Perusahaan yang Lalai Jaga Lahan Konsesinya dari Karhutla

    Walhi Sumsel Desak Pemerintah Tindak Tegas Perusahaan yang Lalai Jaga Lahan Konsesinya dari Karhutla

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan (Sumsel) mendesak pemerintah melakukan tindakan tegas dan memberikan sanksi kepada perusahaan yang lalai menjaga lahan konsesinya dari karhutla.

    Melansir Antaranews, Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Yuliusman AS, tindakan tegas ini perlu dilakukan agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak berulang di tahun-tahun berikutnya.

    “Melihat fakta di lapangan itu, diharapkan pemerintah daerah dan pihak berwenang melakukan berbagai tindakan yang dapat mencegah terjadinya karhutla sehingga dapat dihindari bencana kabut asap yang dapat mengganggu berbagai aktivitas dan kesehatan masyarakat,” jelas Yuliusman.

    Selain itu, Walhi Sumsel juga mendesak pemerintah membuat program pencegahan dan penanggulangan karhutla yang tepat dan cepat.

    Menurut Yuliusman hal ini perlu dilakukan agar tahun-tahun mendatang pemerintah tidak sibuk menyiapkan satgas serta melakukan operasi darat dan udara untuk pemadaman karhutla.

    Sebab, operasi ini menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah yang seharusnya dana tersebut dapat digunakan untuk kepentingan lainnya.

    Karena itu, masalah karhutla harus diatasi dengan baik. Tidak hanya merusak lingkungan, karhutla menyebabkan asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumsel tercatat sekitar 35 ribu masyarakat mengalami gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap karhutla pada musim kemarau 2023.

    Walhi Sumsel juga mendata kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 5.000 hektare di lokasi konsesi perusahaan perkebunan, hutan tanaman industri, dan pertambangan.

    “Contoh konkret karhutla terjadi di lahan konsesi atau perusahaan pemegang izin berbasis lahan yakni dilakukannya penyegelan lahan oleh KLHK di 11 perusahaan yang mengalami karhutla pada musim kemarau 2023 ini,” paparnya.

    Hasil pemantauan Walhi, karhutla tidak hanya terjadi di lahan konsesi 11 perusahaan yang tersebar di tiga daerah yakni Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Musi Banyuasin.

    Tetapi juga terjadi di sekitar lokasi pemegang izin berbasis lahan lainnya seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Muara Enim, Lahat, dan Musirawas.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Negara-negara ASEAN Sepakat Perkuat Kerjasama Mengatasi Polusi Plastik

    Negara-negara ASEAN Sepakat Perkuat Kerjasama Mengatasi Polusi Plastik

    7cloud.asia – Polusi plastik masih menjadi permasalahan bagi negara anggota ASEAN. Karena itu perlu berbagai upaya dalam menanganinya. Salah satunya menetapkan standar kemasan plastik yang dapat didaur ulang.

    Rekomendasi ini disampaikan oleh Direktur Penanganan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar dalam ASEAN Conference for Combating Plastic Pollution (ACCPP) di Jakarta.

    Pertemuan yang berlangsung 17 Oktober 2023 lalu ini merupakan kolaborasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dan KLHK serta Sekretariat ASEAN (ASEC).

    Rekomendasi lainnya adalah mendukung kerja sama ASEAN pada ASEAN Working Group on Environmentally Sustainable Cities (AWGESC), untuk menggabungkan tingkat daur ulang sebagai salah satu kriteria Penghargaan Kota Berkelanjutan Lingkungan ASEAN.

    “Mengembangkan standar di masing-masing negara ASEAN dan standar regional ASEAN untuk meningkatkan model bisnis reuse/refill sebagai alternatif untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai,” urai Novrizal.

    ASEAN, lanjut Novrizal, perlu memainkan peran penting untuk menyuarakan suara dan posisinya sebagai kawasan yang memiliki banyak kesamaan, dalam proses negosiasi Internasional Legally Binding Instrument (ILBI) mengenai polusi plastik.

    Selain itu, ASEAN perlu mengintegrasikan ekonomi sirkular ke dalam sistem perdagangan, keuangan dan investasi, dengan menetapkan insentif ramah lingkungan bagi sektor swasta.

    Dalam rilis KLHK, kegiatan ACCPP juga didukung oleh National Plastic Action Partnership (NPAP) dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA).

    Tujuannya mengeksplorasi potensi inisiatif dalam penguatan peran negara anggota ASEAN guna mendukung upaya penanganan polusi plastik, termasuk di laut. 

    Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi Instrumen LHK, Ary Sudijanto menjelaskan ACCPP merupakan bagian dari komitmen Indonesia sebagai Ketua ASEAN.

    Indonesia mengkoordinasikan suara dalam melawan polusi plastik dan sampah laut secara regional melalui Pernyataan Ketua KTT ASEAN ke-43.. Selain itu, ACCPP ini merupakan kesempatan strategis untuk menggalang rekomendasi demi menemukan kondisi regional yang memungkinkan mengatasi pencemaran plastik.

    ACCP juga akan mengharmonisasikan misi AMS dalam menghadapi negosiasi zero-draft Global Plastic Treaty pada INC-3.

    “Sebelum inisiatif ILBI, ASEAN telah mengambil tindakan nyata untuk memerangi polusi plastik dalam bentuk Deklarasi Bangkok mengenai Sampah Laut di kawasan ASEAN dan Kerangka Aksi ASEAN mengenai Sampah Laut,” jelas Ary.

    “Kemarin seluruh anggota ASEAN berpartisipasi dalam pertemuan koordinasi untuk membahas dan berbagi pandangan persamaan dan perbedaan prioritas sebagai persiapan pertemuan INC-3 berikutnya yang diselenggarakan di Nairobi, Kenya bulan depan,” tambahnya.

    Dalam forum ACCP juga dibahas penguatan commonalities dari aspek teknis terkait material alternatif, mendorong penerapan produksi dan konsumsi berkelanjutan (sustainable consumption and production) dan skema financial.

    Indonesia ikut mendorong ASEAN untuk melakukan kajian dampak ekonomi yang menyeluruh khususnya terkait dengan keberadaan industri plastik di negara berkembang sebagai bagian dari pembangunan.

    Selain itu, ACCP juga membahas aspek teknis, seperti lingkup pencemaran plastik, bahan aditif plastik terkait microplastik dan nanoplastik, chemical yang digunakan pada proses produksi, penggunaan single use plastic dan isu EPR.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Jakarta Hujan, Kualitas Udara Tak Kunjung Membaik

    Jakarta Hujan, Kualitas Udara Tak Kunjung Membaik

    7cloud.asia – Meski beberapa wlayah di Jakarta pada Selasa (24/10/2023) malam diguyur hujan, tetapi tidak membuat kualitas udara membaik. Jakarta masih dalam peringkat 10 besar kualitas udara terburuk di dunia.

    Dilihat dari situs IQAir pada pukul 08.45 WIB, Jakarta berada pada rangking 7 dengan indeks kualitas udara berada pada angka 165 dan status udara tidak sehat.

    Di situs tersebut terpantau di Jakarta nilai konsentrasi polutan utamanya PM 2,5  yang artinya 16.4 kali panduan kualitas udara tahunan WHO.

    Sementara posisi pertama ditempati kota Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara 299 dan urutan kedua adalah New Delhi, India dengan indeks kualitas udara 219.

    Posisi ketiga ditempati kota Hanoi, Vietnam dengan indeks kualitas udara 179. Dan posisi keenam, tepat diatas Jakarta adalah kota Beijing, China dengan indeks kualitas udara 169.

    baca juga: ombudsman butuh langkah komprehensif untuk atasi polusi udara

    Data kualitas udara didapat dari sejumlah kontributor, seperti KLHK, BMKG serta US Department of State.

    Dengan kualitas udara seperti itu, IQAir menyarankan agar masyarakat dapat menggunakan masker saat berada diluar.

    Selain itu, jika memiliki penyaring udara maka dapat menyalakan penyaring udara agar udara dapat jernih kembali.

    Masyarakat juga dihimbau untuk menutup jendela agar dapat menghindari udara kotor dari luar.

    Masyarakat juga dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas di luar ruangan. Apalagi untuk kelompok usia rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan orangtua.

    baca juga: akhir pekan jakarta masuk 3 besar kota terpolusi dunia

    Sementara itu, Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR mengajak masyarakat untuk mengenakan masker kain yang dilapisi filter untuk particulate matter (PM) 2.5 saat polusi udara.

    “Ini bisa jadi solusi murah pada masyarakat yakni masker kain ditambah filter untuk PM 2.5. Ini banyak di toko daring jual filter untuk PM 2.5 harganya Rp10 ribu,” ujar Agus dalam konferensi pers daring di Jakarta, Rabu (23/08/2023).

    Cara ini dianggap dapat melakukan filtrasi sebanyak 95 – 99 persen. Selain itu, masyarakat juga bisa menggunakan N95, KF94 dan masker bedah.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • PESTAPERA, Cara Warga Rusun Marunda Membincangkan Masalah Kota

    PESTAPERA, Cara Warga Rusun Marunda Membincangkan Masalah Kota

    ruangkota.om – Minggu (29/10/2023) selasar Blok D Rusun Marunda, di Kota Jakarta Utara terlihat semarak sejak pagi.

    Sejak Jumat, Komunitas masyarakat di Rusun Marunda bersama dengan beberapa elemen masyarakat kota Jakarta mengadakan kegiatan bertajuk PESTAPERA: Pesta Perlawanan Batubara. 

    PESTAPERA ini tak hanya dihadiri warga Rusun Marunda, namun juga  warga di  sekitar rusun seperti Marunda Pulo, Marunda Kepu, Marunda Bidara, Nelayan Cilincing.

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Aliansi Buruh dan Koalisi Perjuangan Warga Jakarta ikut dalam kegiatan yang  didukung oleh Greenpeace, Trend Asia, WALHI Jakarta, LBH Jakarta, SEBUMI dan sejumlah lembaga lain seperti PDPI dan KOPAJA ini.

    Baca: Warga Rusun Marunda minta data perusahaan yang ditutup dibuka

    PESTAPERA ini dihelat untuk membincangkan berbagai permasalahan kota (urban) yang dialami oleh warga Rusun Marunda dan sekitarnya.

    Warga Rusun Marunda dan sekitarnya diberi kesempatan untuk mengungkapkan berbagai masalah yang dialaminya dan menuliskan harapan mereka tentang kota yang layak. 

    Selain itu juga ada layanan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi hukum secara gratis. Warga Rusun Marunda juga bisa menyaksikan pameran budaya. Dalam kegiatan ini juga digelar workshop cukil kayu untuk anak-anak.  

    “Kami berharap kegiatan ini menjadi daya dukung desakan kepada Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah nyata, menertibkan pelanggaran hak atas kota yang ada di Marunda dan pencemaran dapat dihentikan.” Ungkap Cecep Supriyadi, salah satu warga di Marunda.

    Baca:  Polusi batubara dirasakan warga Rusun Marunda dan sekitarnya sejak lama

    Cecep mengatakan, warga Marunda terutama Rusun Marunda telah berjuang bertahun-tahun melawan polusi batubara. 

    Hal ini tergambar dari hasil cukil anak-anak yang menngisahkan perjuangan warga melawan pencemaran batubara.

    Perlawanan terhadap pencemaran batubara  juga dapat dilihat dari antusiasme warga memeriksakan kesehatan paru-parunya pada kegiatan PESTAPERA.

    Jeanny Sirait, Pengkampanye Urban Justice Greenpeace Indonesia mengatakan, warga Marunda Raya adalah warga Jakarta juga, yang seharusnya tidak dilepaskan dari perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

    “Masalah yang mereka hadapi bukan hanya persoalan debu batubara, namun juga mencakup akses kesehatan, pendidikan, pekerjaan layak, hak atas air bersih, hingga moda transportasi yang belum maksimal mendukung mobilitas warga,” ujarnya.

    Baca: DPR minta industri yang cemar lingkungan ditindak tegas

    Jeanny mengatakan, hak kota layak ini masih merupakan mimpi penghidupan yang layak dari warga Marunda yang belum terwujud hingga saat ini. 

    Membicarakan Marunda tidak bisa kita lepas dari kejadian di tahun 2021 dan 2022 ketika warga Rusun Marunda menghadapi pencemaran udara akibat debu batubara yang dipicu kegiatan industri di sekitarnya.

    Polusi batubara ini mengakibatkan lingkungan di sekitar Rusun Marunda menjadi tercemar debu dan tidak sedikit warga yang mengalami gangguan kesehatan. 

    Saat itu, warga melakukan pengecekan sumber polusi yang salah satunya berasal dari timbunan batubara yang ada di sekitar Rusun Marunda.

    Baca: Lokasi parkir dengan tarif progresif ditambah jumlahnya

    Warga lantas bergerak secara mandiri untuk mengurangi dampak debu dan melakukan pengaduan ke instansi pemerintahan terkait.

    Hasil dari pergerakan warga mendapat perhatian pemerintah provinsi DKI Jakarta dan beberapa langkah dilakukan untuk mengurangi dampak debu batubara.

    Saat ini, warga masih terus mengawasi kondisi udara di sekitar Rusun Marunda karena aktivitas penggunaan batubara masih ada walau berkurang.

    “Namun, harapan atas udara yang bersih masih tetap diperjuangkan oleh warga Rusun Marunda dan sekitarnya.” ungkap Aprillia L Tengker, Pengacara Publik LBH Jakarta.

     

  • Hari Kota Sedunia: Tak Hanya Polusi Debu Batubara Hak Atas Kota Layak Warga Marunda Belum Terpenuhi

    Hari Kota Sedunia: Tak Hanya Polusi Debu Batubara Hak Atas Kota Layak Warga Marunda Belum Terpenuhi

    7cloud.asia – Memperingati Hari Kota Sedunia yang jatuh pada 31 Oktober 2023 dan Kampanye Urban Oktober, Greenpeace berkolaborasi dengan LBH Jakarta, WALHI Jakarta dan Trend Asia menyelenggarakan acara bertajuk PESTAPERA – Pesta Penolakan Batubara yang dipusatkan di Marunda Jakarta Utara.

    Dalam peringatan Hari Kota Sedunia ingin menunjukkan bahwa masalah polusi debu batubara di Marunda hingga kini belum menemui titik terang.

    Ditemui di sela kegiatan peringatan Hari Kota Sedunia, Jeanny Sirait, Pengkampanye Urban Justice Greenpeace Indonesia menyebutkan, masalah debu batubara ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh Warga Rusunawa Marunda.

    Dampak dari polusi debu batubara ini juga dirasakan oleh Warga Marunda Pulo, Marunda Kepu, Marunda Bidara bahkan sampai dengan Nelayan Cilincing.

    Selain polusi udara akibat debu batubara, warga Marunda juga menghadapi masalah aksesibilitas pendidikan, hak atas pekerjaan dan kemandirian ekonomi, layanan kesehatan, hak atas air dan moda transportasi. 

    Baca: Cara warga Marunda membincangkan masalahnya

    M. Amminulah, staf kampanye WALHI Jakarta mengatakan, krisis lingkungan hidup yang terjadi di Marunda membuktikan tidak terpenuhinya hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat bagi masyarakat Jakarta.

    Hak atas lingkungan yang dijamin oleh konstitusi tersebut, justru diabaikan oleh pemerintah dengan mengesampingkan hak-hak masyarakat dan perlindungan lingkungan hidup.

    Aminullah mencontohkan, berlarut-larutnya penanganan polusi udara di Marunda yang telah berdampak pada kesehatan masyarakat.

    Masyarakat telah memiliki bukti empiris yang menyatakan adanya pencemaran udara di Marunda. Meski begitu, ujarnya pemerintah masih saja lamban dalam mencari sumber penyebab pencemaran udara.

    Sehingga meskipun PT KCN, salah satu penyebab polusi udara berhenti operasi, pencemaran masih terjadi di Marunda.

    Baca: Warga Marunda minta data perusahaan batubara yang ditutup 

    Lebih lanjut, Marunda sejatinya merupakan hanya satu contoh pengabaian lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintah.

    “Di Jakarta Utara saja, wilayah seperti Muara Angke, Clincing, Muara Baru, dan wilayah lainnya masih memiliki persoalan serupa, yaitu pencemaran
    lingkungan dan pengabaian oleh pemerintah.” tegasnya.  

    Melihat Marunda, akan terlihat potret ketimpangan sosial di Jakarta. Kota besar, ibu kota negara, yang di mata banyak orang menjanjikan kesejahteraan dengan berbagai fasilitas yang membuat orang nyaman.

    Juru Kampanye Energi dari Trend Asia, Meike Inda Erlina menegaskan anggapan banyak orang ini terbantahkan ketika melihat Marunda. 

    “Ruang hidup warga Marunda dikepung Industri di Jakarta Utara bahkan lintas dari Banten hingga Jawa Barat. Di sini saja terdapat kurang lebih 300 perusahaan mulai dari industri manufaktur, garmen, minyak goreng, metal, baja, dll, ” ujar Meike.

    Baca: Masalah kesehatan yang harus dihadapi warga Marunda

    Warga Marunda,  dihadapkan dengan polusi seperti asap-asap pabrik yang listriknya ditenagai PLTU Batubara, Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap, stockpile batubara serta tongkang yang hilir mudik.

    “Industri ini adalah bahan baku untuk memenuhi keinginan kita menggunakan pakaian mewah, tinggal di gedung bagus, listrik menyala 24 jam, serta dapat berkendara dengan mobil atau motor,” Jelas Meike’

    Sementara warga Marunda setiap hari menghirup debu dan udara beracun, mengkonsumsi air dan sumber pangan yang tercemar.

    Ruang bagi anak untuk belajar dan bermain tidak lagi aman, gizi mereka tak terjamin, kesehatan warga terganggu, apalagi kesehatan paru-paru dan kulit, dan ini merentankan kesehatan reproduksi perempuan.

    Akhirnya biaya yang harus dikeluarkan tidak sebanding dengan penghasilan yang mereka dapat dari hasil berdagang dan melaut. Bagaimana mungkin orang bisa sejahtera jika hidup di lingkungan yang rusak seperti itu?

    Baca: DPR minta agar industri yang cemari lingkungan ditindak tegas

    Pemerintah harus berhenti menggunakan batubara, dan lebih serius mendorong transisi ke energi terbarukan.

    Pemerintah juga didesak untuk mewujudkan perbaikan ruang hidup yang aman dan layak dengan melibatkan partisipasi penuh warga.

    “Sehingga berkeadilan dalam mengelola dan menjaga sumber daya milik bersama seperti air, udara, kota, pesisir dan masih banyak lagi,” tutup Meike.

    Pembangunan masif di perkotaan telah mendorong kota menjadi tempat yang rentan terhadap krisis iklim.

    Permasalahan sosial dan lingkungan di kota tak lepas dari dampak krisis iklim hingga mengancam kehidupan masyarakat perkotaan. Kekuatan kolektif tidak bisa diabaikan begitu saja.

    Baca: Penggunaan batubara dituding sebagai sumber utama polusi udara

    “Harapan dan keinginan warga Marunda untuk mengakses layanan publik dasar dengan mudah, juga menjadi harapan banyak orang di kota metropolitan ini,” tambah Jeanny.

    Selain itu, tak jarang solusi-solusi kecil untuk persoalan di kota justru datang
    dari inisiatif komunitas, dan pelibatan aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan.

     

  • Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Polusi udara masih terjadi terutama di kota-kota besar. Salah satu upaya mengatasinya dengan menanam vegetasi penyerap polutan.

    Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Luckmi Purwandari menjelaskan tak hanya adanya  tanaman penyerapan polutan tetapi perlu adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH).

    “Khususnya untuk perbaikan kualitas udara di perkotaan ini tadi contohnya, salah satunya untuk mengurangi pencemaran udara dari kendaraan bermotor,” jelas Luckmi seperti yang dilansir Antaranews.

    “Berikutnya untuk RTH penyerap polutan di daerah-daerah yang padat penduduk, yang padat kendaraan bagaimana melakukan mitigasi untuk perbaikan kualitas udara,” lanjutnya.

    Baca: Dinas kehutanan Kalsel tanam 1500 pohon kayu putih

    Memang di wilayah perkotaan sering dijumpai adanya keterbatasan lahan. Karena itu, dapat diatasi dengan memperbanyak penanaman di pot-pot.

    “Jadi tidak mesti RTH itu seperti taman yang indah, tidak mesti. Yang penting tanamannya adalah menyerap polutan. Ini suatu terobosan untuk menjadi salah satu contoh kegiatan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan indeks reponsnya di dalam Program Langit Biru,” urainya.

    Pihaknya, lanjut Luckmi sudah mendata jenis-jenis yang dapat menyerap polutan melalui petunjuk teknis (juknis) tengah disusun dan dibahas oleh pakar untuk memastikan manfaat dan tidak membahayakan lingkungan.

    “Akan terus dilakukan kajian lagi untuk kelanjutannya ,tetapi penyerapan polutan ini paling tidak juga untuk memberikan suasana di perkotaan yang padat penduduk lebih teduh, tentu mengurangi panas, juga bisa menyerap CO2, paling tidak itu sudah bisa dilakukan,” terangnya.

    Baca: Pemkot Cirebon kembangkan urban farming

    Sementara itu, pakar tanaman hutan kota, Prof. Endes N Dahlan mengatakan tanaman pepohonan sangat efektif dalam menyerap polutan yang menyebabkan polusi udara dibandingkan tanaman jenis lain.

    “Mawar, anggrek, lidah mertua juga bisa, tapi tidak setinggi tanaman pepohonan kemampuan serapan polutannya,” ujarnya.

    Tanaman yang dapat menyerap polutan sangat tinggi, ujarnya adalah tanaman pepohonan yang berdaun banyak dan diameter daunnya cukup lebar, contohnya pohon trembesi atau disebut juga pohon hujan.

    “Semua daun bisa menyerap dan menjerap. Tapi jumlah daunnya banyak tidak? Luas tidak?,” tegasnya.

    Baca: Mitigasi perubahan iklim dengan tanam pohon serentak

    Dalam menyerap polutan tersebut, tanaman pada umumnya memiliki dua fungsi, yaitu menyerap polusi yang berbentuk gas dan menjerap polutan yang berbentuk debu. Semua dedaunan, kata dia dapat menyerap polutan yang berbentuk gas.

    Tetapi jika konsentrasi polutannya terlalu tinggi, maka tanaman tersebut akan mati keracunan.

    Karena itu, sebaiknya tanaman tersebut perlu ditanam jauh sebelum konsentrasi gas polutan di udara terlalu tinggi.

    Saat berhadapan dengan polutan debu, tanaman juga memiliki fungsi menjerap partikel debu tersebut.

    Baca: Pemprov DKI tanam 200 pohon langka

    Tanaman akan menjerap partikel debu yang terbawa angin sementara waktu. Partikel debu tersebut akan luruh ketika tanaman diguyur hujan.

    Tanaman yang memiliki daya jerap cukup tinggi adalah tanaman yang bentuk daunnya berlekuk-lekuk tidak licin, contohnya daun jambu, kata dia.

     Reporter: Nurakhmayani

     

  • Pemerintah Kota Mojokerto Kampanyekan Bersepeda ke Sekolah untuk Kurangi Polusi Udara

    Pemerintah Kota Mojokerto Kampanyekan Bersepeda ke Sekolah untuk Kurangi Polusi Udara

    7cloud.asia – Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto,, Jawa Timur, mendorong budaya bersepeda kepada pelajar di kota itu.

    Alih-alih menggunakan motor, Pemerintah Kota Mojokerto mengajak para pelajar untuk menggunakan sepeda saat berangkat ke sekolah.

    Pasalnya, bersepeda sangat baik untuk kesehatan sekaligus menciptakan lingkungan kota yang bersih polusi dan sehat.

    Penjabat (Pj) Wali Kota Mojokerto M Ali Kuncoro di Kota Mojokerto, Jumat, mengatakan dengan bersepeda ke sekolah akan membuat para pelajar menjadi sehat dan bugar.

    “Ini adalah bagian kita mengkampanyekan bagaimana adik-adik semangat untuk berolahraga, kita ingin generasi ke depan sehat dan bugar,” ungkap Ali Kuncoro saat kampanye “Bike To School” di SMP Negeri 2 Kota Mojokerto.

    Baca: Bersepeda cara warga mengenali kotanya

    Ia mengemukakan dengan bersepeda juga dapat membantu mengurangi emisi karbon dan mendukung upaya Pemerintah Net Zero Emissions (NZE) 2060.

    “Selain itu dengan bersepeda maka bisa mengurangi kendaraan bermesin di jalan-jalan. Ketika itu berkurang maka akan mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas serta polusi,” ucapnya.

    Apalagi, menurutnya, dengan sistem zonasi di mana penerimaan siswa didasarkan pada jarak rumah ke sekolah maka akan lebih mudah bagi siswa membudayakan bersepeda ke sekolah.

    “Dengan sistem zonasi, tidak ada siswa yang rumahnya jauh, maka biasakanlah untuk naik sepeda ke sekolah,” ujarnya.

    Baca: Daftar kota ramah untuk pesepeda dunia

    Pada kesempatan ini Wali Kota Mojokerto itu berpesan kepada para siswa agar tidak ada lagi perundungan dan persekusi di lingkungan sekolah.

    “Kampanye Bike To School ini juga menggandeng Komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia,” ujarnya.

    Dalam kesempatan itu sejumlah siswa diajak bersepeda berkeliling Kota Mojokerto dengan pengawalan dari petugas Dinas Perhubungan (Dishub) kota setempat.

    Salah satu siswa, Wina mengaku senang dengan kegiatan tersebut karena selama ini ia selalu diantarkan oleh orang tua saat berangkat dan pulang sekolah.

    “Bisa bersepeda jadi lebih sehat,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews.com