Tag: sampah

  • Kampanye Kurangi Sampah The Rising Tide Kembali Hadir, Tempuh Jarak 3.141 Kilometer Secara Quadrathlon

    Kampanye Kurangi Sampah The Rising Tide Kembali Hadir, Tempuh Jarak 3.141 Kilometer Secara Quadrathlon

    7cloud.asia – Kampanye lingkungan “The Rising Tide” untuk memerangi sampah yang digagas oleh Muryansyah dari Parahita Mulung kembali digelar untuk ketiga kalinya.

    Kampanye The Rising Tide ini hadir dengan tujuan untuk mengurangi jumlah sampah khususnya sampah plastik di Indonesia.

    Gerakan “The Rising Tide – A Resonance 2023” fokus pada pesan “Stop Wariskan Sampah” dan melibatkan perjalanan quadrathlon sejauh 3.141 km dari Sabang ke Jakarta.

    Ada enam anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang meramaikan The Rising Tide 2023. Jarak Sabang-Jakarta akan ditempuh selama 35 hari, dimulai dari 2 September hingga 5 Oktober 2023.

    Baca: Serunya aksi bebersih pantai terkotor yang diinisiasi Pandawara

    Asops Panglima Mayor Jenderal TNI Muhammad Nur Rahmad, dalam rilis pers yang diterima, Minggu (3/9/2023), menyatakan bahwa TNI berkomitmen untuk mendukung generasi muda dengan mewujudkan kelestarian lingkungan dan tiga matra TNI melalui gerakan ini.

    “Semoga kampanye dan aksi nyata ini akan memberikan manfaat bagi bangsa pada umumnya, serta anak cucu kita penerus bangsa pada khususnya,” ucap Rahmad.

    Muryansyah, yang merupakan aktivis lingkungan, akan memimpin perjalanan The Rising Tide ini dengan melakukan sky diving, bersepeda, berenang, dan berlari marathon.

    Kampanye “Stop Wariskan Sampah” ini mendorong semua pihak untuk berkomitmen dalam menciptakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

    Baca: Beragam teknologi untuk atasi sampah plastik

    Pesan ini mengajak masyarakat untuk mulai melakukan langkah-langkah praktis seperti memilih kemasan dengan bijak, memilah sampah di rumah, dan lebih bertanggung jawab dalam mengelola sampah.

    Ia berharap kampanye ini menginspirasi masyarakat Indonesia dalam menggerakkan ekonomi sirkular di tanah air.

    “Selain itu juga membangun semangat untuk menjaga lingkungan dengan semangat mengurangi sampah dengan melalui kegiatan pilah sampah dan daur ulang,” ucap Muryansyah.

    Selain melibatkan TNI, kampanye The Rising Tide ini juga mendapatkan dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK), Majelis Permusyawaratan Rakyat RI (MPR).

    Baca: Koalisi Pawai Bebas Plastik desak data penghasil sampah plastik dibuka

    Dari pihak swasta antara antara lain terlibat produsen air mineral Le Minerale, yang sebelumnya sudah mendukung kegiatan  Parahita Mulung.

    Menurut Sustainability Director Le Minerale Ronald Atmadja, kolaborasi ini didasarkan pada kesamaan misi, yaitu untuk membantu mengatasi permasalahan sampah yang ada di Indonesia.

    “Kami yakin gerakan “Stop Wariskan Sampah” ini akan memberikan dampak yang positif,” Ronald Atmadja.

  • Peliknya Pengelolaan Sampah di Kelurahan Malaka, TPS Dibutuhkan Tapi Juga Dikeluhkan Warga

    Peliknya Pengelolaan Sampah di Kelurahan Malaka, TPS Dibutuhkan Tapi Juga Dikeluhkan Warga

    7cloud.asia –  Bau tak sedap menguar di sekitar tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di jalan Bunga Rampai, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, pagi itu.

    Menjelang siang sepanjang jalan besar itu menjadi sibuk. Lalu-lalang manusia serta puluhan bahkan ratusan kendaraan bermotor yang melintasi TPS.

    Semakin siang bau tak sedap dari TPS makin terasa. Beberapa orang yang berjalan, tampak menggunakan masker sedangkan yang lain menutupi hidung mereka untuk menutupi bau tak sedap dari TPS itu. 

    Tak lama kemudian, beberapa petugas sampah datang mendorong gerobaknya yang berisikan tumpukan sampah warga setempat. Mereka lantas mengantri dan menunggu tukang sampah yang telah lebih dulu datang menuangkan tumpukan sampah itu ke TPS.

    Baca: Ini alasan Pemprov DKI Jakarta tunda pembangunan pengelolaan sampah ITF 

    Sementara yang lain sibuk mengangkut sampah tersebut ke dalam truk sampah yang diparkir di depan Gudang Dinas Pendidikan yang lama kosong dan tak terawat, dengan menggunakan sekop dan garpu sampah.

    Dalam sekejap, tumpukan sampah dalam truk milik Dinas Lingkungan Hidup Kecamatan Duren Sawit itu pun tampak menggunung. Para pekerja sampah bergerak cepat.

    Mereka harus segera menuntaskan pekerjaannya bila tak ingin mendapatkan komplain dari warga sekitar seperti  pernah terjadi sebelumnya.

    Saat TPS dilokasikan di depan lapangan WIKA, RW 04, jalan Nusa Indah Raya, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

    Baca: Mengolah sampah organik menjadi kompos, bisa dilakukan di rumah

    Saat itu, beberapa warga yang tinggal tepat di depan TPS mengaku keberatan bila TPS berada di depan kediaman mereka, lantaran aroma tak sedap yang terbawa angin mengusik kenyamanan hidup mereka.

    Keberatan itu pun disampaikan ke RW setempat dan berlanjut ke keluarahan Malaka Jaya.

    Hingga akhirnya TPS diputuskan untuk dialihkan ke RW 06 yang berlokasi di jalan Bunga Rampai.

    Selama nyaris dua bulan berjalan, memang seolah tak ada tanda-tanda keberatan dari warga setempat mengenai keberadaan TPS.

    Baca: Terapkan sistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Tapi bukan berarti keberatan itu tak ada. Sebab beberapa pedagang makanan ringan serta warga ada juga yang mengeluh.

    Apalagi lokasi TPS ini berdekatan dengan klinik Bunga Rampai, RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), serta sekolah dasar neger 01, yang melakukan kegiatan belajar mengajarsejak pagi hingga siang hari. 

    Asih, warga RW 06 jalan Bunga Rampai, sebenarnya juga keberatan dengan adanya TPS di lingkungannya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa kalau sudah menyangkut kebijakan yang sudah disepakati warga atau pun pemerintah.

    “Sebenarnya sih, sampah ditaroh di situ kalau kita lewat ya kebauan juga. Lagipula kan, gak enak juga diliatnya,” keluhnya.

    Baca: Mengenal Teba, sara unik warga Bali mengolah sampah rumah tangga

    Ia sendiri baru mengetahui keberadaannya beberapa hari lalu, lantaran sebelumnya tak pernah melihatnya.

    Memang, letak TPS itu agak jauh dari kediamannya yang berada di dalam gang. Tapi tetap saja, bila berjalan ke depan dan melewati jalan besar, ia dapat mencium aroma tak sedap dari tumpukan sampah yang menggunung itu.

    Hal yang sama juga dikatakan Sinta, siswa kelas XII SMA 103 yang mengaku kaget karena tiba-tiba saja ada tumpukan sampah di depan gedung Gudang Dinas Pendidikan, yang dulu berfungsi sebagai gedung olah seni.

    “Kaget aja sih, ngeliat kok tiba-tiba ada tumpukan sampah banyak banget di situ, yang pastinya baulah!” ucapnya polos.

    Baca: Mengelola sampah dengan ditimbun sudah saatnya ditinggalkan

    Namun hal itu berbeda dengan Datam yang sehari-hari bertugas memelihara dan perawat gedung Gudang Dinas Pendidikan yang tak pernah mempermasalahkan keberadaan TPS.

    Letak gudang memang di dalam lokasi gedung tapi cukup jauh dari TPS, membuat dirinya tak merasa terganggu sama sekali.

    “Sampah itu kan, adanya diluar gedung dan agak jauh juga. Saya juga sudah konfirmasi ke mereka, jadi gak ada masalah,” ujarnya, seraya mengaku dirinya tak pernah mencium bau tak sedap dari sampah yang berasal dari TPS.

    Memang ada pro kontra di sekitar warga mengenai keberadaan TPS, namun sepertinya sampai saat ini warga belum bisa berharap banyak.

    Baca: Pengelolaan sampah Mbak Dirjo mampu kurangi sampah organik hingga 50 persen

    Pasalnya Lurah Malaka Jaya Asianto menegaskan, untuk masalah sampah di wilayah kelurahan Malaka Jaya, maka TPS dialokasikan dalam dua titik yaitu di Jalan Bunga Rampai dan jalan Dr. Sukamto.

    “Malaka Jaya ini kan, sebenarnya sempit, jadi kita gak ada lahan yang bisa dibangun untuk membuat TPS permanen,” katanya di sela-sela grebek jumantik Jumat lalu, saat ditanya alasannya tak membuat semacam TPS permanen atau sumur untuk menampung sampah organik yang bisa terurai bila diberi ecoenzym.

    Itu sebabnya ia berpendapat masalah sampah di wilayah Malaka Jaya harus ditertibkan.

    Artinya, pekerja sampah yang berlokasi khususnya di jalan Bunga Rampai harus disupport dan diberitahu supaya tak lagi menimbulkan komplain dari warga sekitar, seperti yang terjadi sebelumnya saat berlokasi di depan lapangan WIKA.

    Baca: Bank sampah ini berjalan meski berkantor di jalanan

    Sementara itu Henri, pekerja sampah yang biasa mengangkut sampah di wilayah RW 04 kelurahan Malaka Jaya berharap sama.

    Ia meminta warga sekitar agar bisa mendukung keberadaan TPS yang saat ini berlokasi di jalan Bunga Rampai.

    Pasalnya, bila warga mengeluh dan keberatan dengan keberadaan TPS di wilayah itu, maka akan sulit baginya untuk membawa sampah ke tempat lain yang lebih jauh.

    “Semoga jangan pindah-pindah lagi deh! Soalnya kalo pindah lagi kan, jadi susah sayanya. Kalo TPS tambah jauh, bawa (sampah) nya kan, jadi berat juga,” keluhnya.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Harapan itu juga disampaikan Anto yang mengangkut sampah RW 06.

    “Saya sih berharap warga mau mengerti keberadaan TPS di sini. Soalnya kalo pindah lagi, ya kita mau buang sampah kemana lagi? Toh kita langsung angkut-angkutin sampahnya ke truk, trus langsung dibawa ke Bantargebang. Jadi gak numpuk di sini. Lagipula PPSU kan, langsung bersih bersihin sisa-sisa sampahnya juga,” jelasnya panjang lebar.

    Menurut Alan Suryana, truk yang biasa ia bawa dari kecamatan Duren Sawitmenuju lokasi jalan Bunga Rampai selalu stand by kisaran pukul 7.00-8.00 WIB.

    Sementara batas waktu sampah yang harus diangkut menuju lokasi Bantargebang seputar pukul 11.00 WIB.

    Baca: Pemerintah-produsen dan masyarakat harus bekerja sama untuk kurangi sampah plastik

    “Kalo aturan dari pak lurah sih sebenarnya jam 10.00 harus sudah diangkut ke Bantargebang. Tapi karena kadang ada gerobak yang masih datang, ya kita paling toleransilah, batasin sampe jam 12.00. Itu pun harus udah berangkat ke sana, karena jam 12..00 itu udah maksimal dan udah terlalu siang juga,” ujarnya.

    Sampah yang diangkut di TPS jalan Bunga Rampai, tambah Alan, berasal dari tujuh RW di sekitar lokasi dan berbobot sekitar 6 ton, hingga maksimal mencapai 8 ton.

    “Biasanya kalau habis libur, sampah yang terangkut bisa 9 ton. Tapi kalau hari biasa, 6 sampai 8 ton paling maksimal,” paparnya.

  • Ribuan Relawan Sumut Bersihkan Sampah di World Clean Up Day2023

    Ribuan Relawan Sumut Bersihkan Sampah di World Clean Up Day2023

    7cloud.asia – Ribuan relawan Sumatera Utara (Sumut) melakukan aksi bersih-bersih atau World Clean Up Day di Komplek Istana Maimun Jalan Brigjen Katamso Medan, dan jalan-jalan protokol sekitarnya.

    Aksi bersih-bersih ini untuk memperingati gerakan ‘Hari Bersih-Bersih Sedunia’ atau World Clean Up Day (WCD) 2023 yang diikuti oleh 13 juta relawan di seluruh Indonesia.

    Dalam World Clean Up Day itu, para relawan berjalan santai dengan membawa kantong sampah berjalan sambil memungut sampah-sampah yang ada.

    dari aksi World Clean Up Day itu relawan berhasil mengumpulkan puluhan kantong penuh sampah. Sampah tersebut kemudian dikumpulkan untuk proses selanjutnya.

    Baca: Serunya Pandawara ajak ribuan warga bersihkan pantau terkotor di Indonesia

    World Clean Up Day 2023 ini merupakan aksi bersih-bersih terbesar di dunia yang diikuti 193 negara, dengan jumlah relawan 24,6 juta relawan.

    “Relawan Indonesia adalah yang terbesar dengan jumlah 13 juta relawan, dan Sumut termasuk ambil peran di dalamnya,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumut Yuliani Siregar saat membuka World Clean Up Day Sumut pada Minggu (17/09/2023).

    Yuliani Siregar menjelaskan relawan WCD di Sumatera Utara ini terdiri dari ASN lingkungan Pemprov Sumut, Ormas, pelajar, mahasiswa, komunitas dan masyarakat umum.

    Dengan melibatkan relawan dari berbagai kalangan, ia berharap ada peningkatan kesadaran seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya kebersihan dan kelestarian alam.

    “Melalui WCD ini kita bersinergi untuk menularkan budaya bersih-bersih sampah dan menumbuhkannya di dada anak cucu kita sehingga lingkungan kita makin baik dan asri ke depannya,” jelasnya.

    Baca: Mengenal anak muda keren bernama Pandawara

    Untuk menjaga lingkungan tetap bersih, Pemprov Sumut juga telah menerbitkan Instruksi Gubernur tentang Gerakan Sumut Diet Kantong Plastik Sekali Pakai.

    Selain itu, lanjut Yuliani, pihaknya bekerjasama dengan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), LPM dan sejumlah sukarelawan termasuk nantinya membentuk kelembagaan dari desa, kubupaten/kota dan provinsi.

    Pihaknya juga berupaya mengumpulkan dan membangun kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pengeloaaan limbah termasuk menyediakan sarana-sarana pendukung seperti tong sampah di rumah-rumah ibadah dan fasilitas publik lainnya.

    Kami di DLKH, ujarnya, sudah mulai memproses bagaimana sampah akhir yang tidak bisa diolah tetapi nantinya bisa diolah.

    “Seperti sampah plastik saat ini bisa diolah menjadi papan atau tiang untuk pengganti kayu yang saat ini semakin langka,” urainya.

    Baca: Mengenal Teba, kearifan warga Bali dalam mengelola sampah

    Sementara limbah B3 yang banyak dihasilkan pabrik-pabrik minyak bisa pula diolah sebelum dibuang dengan menjadikannya batubata dan pavingblock dengan harga yang juga lebih murah dari batubata tanah liat.

    “Hal- hal seperti ini yang perli kita viralkan, kalau di Jawa itu sudah ada, tapi di Sumut itu masih takut karena mereka menganggap hal itu berbahaya. Inilah yang perlu kita sosialisasikan,” paparnya.

    Dalam acara WDC ini, Yuliani berharap kota Medan tak hanya bersih di darat saja, tetapi juga di sungai.

    “Jangan lagi masyarakat kita membuang sampah ke sungai, mereka harus membuang sampah ke tong sampah, karena bisa diolah,” harapnya.

    Sementara itu sampah organik yang dipisah di tong sampah bisa diolah menjadi makanan magot dan magot sekarang sudah dijual dengan harga mahal.

    Baca: Kelola sampah, Pemprov DKI Jakarta lebih pilih RDF ketimbang ITF

    Magot bisa digunakan untuk makam ayam, pelet dan magot juga bisa untuk eko enzim yang punya banyak fungsi, seperti untuk penyubur tanaman maupun untuk membersihkan sungai-sungai.

    “Kalau masyarakat sudah sadar akan pentingnya kegiatan seperti ini, saya yakin Kota Medan akan bebas dari sampah,” ucap Yuliani.

    Dia juga yakin WCD ini akan mampu mengedukasi masyarakat bahwa sebenarnya sampah bisa bernilai ekonomis dan menghasilkan menjadi uang.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Pemadaman TPA Sarimukti Masih Berlangsung, Sampah Menumpuk Hingga 25 Ribu Ton

    Pemadaman TPA Sarimukti Masih Berlangsung, Sampah Menumpuk Hingga 25 Ribu Ton

    7cloud.asia – Upaya pemadaman kebakaran di TPA Sarimukti, Bandung Barat hingga kini masih terus berlangsung. Hal ini berdampak pada terhambatnya pengangkutan sampah.

    Akibatnya tumpukan sampah terjadi di beberapa TPS di Bandung Raya. Bahkan jumlah sampah tersebut kini mencapai 25 ribu ton.

    “25.000 ton (sampah belum terangkut) sampai 19 September,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Prima Mayaningtias seperti yag dikutip detik.com.

    Selanjutnya Prima menjelaskan pihaknya berupaya keras menangani darurat sampah di Bandung Raya dengan berbagai cara.

    Diantaranya dengan menambah lahan di TPA Sarimukti dengan luas total 1,3 hektare sebagai zona darurat.

    Dengan luas zona darurat itu, lanjut Prima, maka kuota sampah yang bisa ditampung dari wilayah Bandung Raya saat ini tersisa 7.080 ton sampah.

    “Yang tersisa untuk menampung sampah Kota Bandung sebanyak 4.864 ton, Cimahi 472 ton, Kabupaten Bandung 1.140 ton dan Bandung Barat 604 ton,” jelasnya.

    Sementara Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin menjelaska masih ada waktu untuk menyelesaikan persoalan sampah hingga masa darurat sampah di Bandung Raya selesai pada 25 September 2023 mendatang.

    “Terus diupayakan, supaya terselesaikan dengan baik bukan sampah dari satu titik dipindahkan ke titik lain,” ujar Bey.

    Selain itu Bey juga mendorong pemerintah daerah gencar melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Hal ini sebagai upaya menekan volume pembuangan sampah ke TPS mulai dari hulu.

    “Tadi dikonfirmasikan oleh Pak Sekda dan juga Pj Wali Kota Bandung sudah menginstruksikan seluruh camat sampai lurah untuk mulai memilah sampah dari rumah,” ucapnya.

    Sedangkan proses pemadaman per 19 September 2023, untuk zona 1 sudah padam 99,2 persen, zona 2 padam 90 persen, zona 3 sudah padam 87 persen, zona 4 sudah padam 82 persen, dan zona 5 padam 90 persen.

    Pemanfaatan lahan untuk zona darurat sampah, berlokasi sebelah barat laut zona 1 seluas 0,9 hektare kapasitas 90.000 meter kubik.

    “(TPA) Sarimukti sudah semakin baik pemadamannya. Walaupun begitu, hanya 50 persen yang bisa dikirimkan dari tiap daerah. Mereka harus berkomitmen untuk mengurangi sampah dari awal,” urai Bey.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kebakaran TPA Sarimukti Hampir Padam, Aktivis Lingkungan Ingatkan Pembenahan Manajemen Sampah

    Kebakaran TPA Sarimukti Hampir Padam, Aktivis Lingkungan Ingatkan Pembenahan Manajemen Sampah

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Jawa Barat berhasil memadamkan 90 persen kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Hanya beberapa titik api yang masih belum padam.

    “Sarimukti kalau kita lihat sekarang kebakaran di sana lebih dari 90 persen sudah padam. Tinggal sisa-sisa beberapa titik, dan saat ini kita dapat bantuan dari BNPB, teman-teman BPBD dan Satgas di lapangan,” jelas Plh Sekretaris Daerah Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmaja dikutip Tribun Priangan.

    Dengan kondisi seperti ini, lanjut Setiawan, TPA yang terbakar sejak 19 Agustus ini sudah dapat membuka beberapa zona untuk menerima kiriman sampah yang tertunda selama kebakaran terjadi.

    Tetapi, kini daya tampung berkurang menjadi 50 persen. Karena itu, pemerintah kabupaten/kota di wilayah Bandung Raya harus mengurangi kiriman sampah sebanyak 50 persen.

    Sementara 50 persen sisanya harus mulai diolah melalui program pemilahan sampah dari sumbernya. “Yang 50 persen (sisa)-nya tersebut adalah harus mulai program pengurangan dari sumber,” katanya.

    Pada kesempatan itu, ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah. Sebab, hal ini dapat menimbulkan masalah baru, seperti polusi udara.

    Selain itu, pemerintah juga tengah merancang solusi dalam menangani sampah ini adalah melalui program memilah sampah menuju zero waste. 

    Untuk itu, menurut Setiawan, perlu kerja sama semua pihak, terutama masyarakat.

    “Bagi (sampah) yang numpuk saat ini, memang masih bisa ditampung di Sarimukti. Tapi (sampah) yang baru harus dipilah dari sumber penghasil sampah, (seperti) rumah tangga. Kalau tidak begitu, kita tidak akan pernah selesai,” urainya.

    Sementara itu, anggota Tim Masyarakat Peduli TPA Sarimukti, Wahyu Dharmawan H kepada 7cloud.asia menjelaskan penggunaan lahan Sarimukti sebagai TPA kembali tidak menyelesaikan masalah yang terjadi.

    Karena, lanjut Wahyu, mengirimkan sampah ke TPA Sarimukti itu sama saja dengan mengirimkan bahan baku untuk terjadinya kebakaran kembali.

    Menurut Wahyu, Sarimukti sebenarnya bukan TPA, tetapi TPK (Tempat Pengolahan Kompos). Jadi harus dikembalikan kembali peruntukkannya untuk pengolahan pupuk kompos.

    “Anorganik jangan masuk ke Sarimukti. Mengapa? Karena bukan TPA lho. Disini pengelola bilang ini TPK. Karena namanya pengolahan kompos, maka nggak layak dong anorganik masuk. Dan secara hukum mereka salah,” jelas Wahyu.

    Karena itu, sampah anorganik seharusnya ditampung di TPPAS Legok Nangka dan tidak dicampur di Sarimukti. Jika masih tercampur semuanya, maka bukan tidak mungkin kebakaran terulang kembali.

    Selain itu, kata Wahyu, pemprov Jawa Barat perlu segera melakukan transformasi manajemen pelayanan persampahan agar kebakaran tak terulang.

    Transformasi ini juga dilakukan disetiap kota dan kabupaten di Jawa Barat. Wahyu percaya pemprov Jawa Barat mampu melakukannya.  

    Reporter: Nurakhmayani

  • Tanggap Darurat Sampah di Bandung Raya Diperpanjang

    Tanggap Darurat Sampah di Bandung Raya Diperpanjang

    7cloud.asia – Status tanggap darurat sampah di Bandung Raya, Jawa Barat telah berakhir kemarin Minggu (24/09/2023). Kini statusnya diperpanjang hingga 25 Oktober 2023.  

    “Insya Allah kita sedang ajukan itu ya (perpanjangan), suratnya diproses di Biro Hukum (Pemprov Jabar) ,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Prima Mayaningtyas dikutip Kompas.com

    Sebelumnya, Pemprov Jabar menetapkan status darurat sampah pada 24 Agustus lalu. Status ini diberlakukan usai kebakaran yang terjadi di TPA Sarimukti.

    Kini kebakaran di TPA Sarimukti mulai padam. DLH Jawa Barat kini tengah fokus pada penataan area yang terbakar.

    “Penataan lahan buat sampah yang masuk dan juga penertiban pemulung di lokasi, lalu upaya penataan sampah yang ada di kabupaten dan kota,” jelas Prima.

    Tak hanya penataan di TPA Sarimukti, pihaknya juga mendorong kepala daerah di Bandung Raya untuk memperbaiki tata kelola sampah.

    Hal ini untuk mencegah agar status darurat sampah tak terulang kembali. “Mereka (kepala daerah) harus menata kelola sampah masing-masing. Jadi penanganan di hulu sama di hilir,” ucapnya.

    Sementara itu, Penjabat Gubernur Jabar, Bey Triadi Machmudin menjelaskan kebakaran TPA Sarimukti saat ini sudah mulai tertangani.

    Saat ini proses pendinginan tengah dilakukan di TPA Sarimukti. “Sarimukti sudah padam, tapi saya belum berkomunikasi dengan wali kota dan bupati yang menggunakan TPA Sarimukti,” kata Bey.

    Menurutnya kepala daerah di Bandung Raya telah berkomitmen untuk memilah sampah anorganik dan organik mulai dari hulu.

    “Kota Cimahi, Kota Bandung, KBB, Kabupaten Bandung. Mereka berjanji akan mulai mengolah sampah dari hulu, jadi mudah-mudahan ada perubahan,” katanya.

    Sementara itu, anggota Tim Masyarakat Peduli TPA Sarimukti, Wahyu Dharmawan H kepada 7cloud.asia menjelaskan pemprov Jawa Barat perlu segera melakukan transformasi manajemen pelayanan persampahan agar kebakaran tak terulang.

    Transformasi ini juga dilakukan disetiap kota dan kabupaten di Jawa Barat. Wahyu percaya pemprov Jawa Barat mampu melakukannya.  

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Api Padam, Status Darurat Kebakaran TPA Sarimukti Dihentikan

    Api Padam, Status Darurat Kebakaran TPA Sarimukti Dihentikan

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencabut atau tidak memperpanjang status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti seiring dengan berhasil dipadamkannya api yang membakar fasilitas yang terletak di Kabupaten Bandung Barat tersebut.

    Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan dengan padamnya api di TPA Sarimukti tersebut, status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti dinyatakan berakhir 25 September 2023 ini.  

    “Alhamdulillah sudah berhasil dipadamkan. Oleh karena itu, status darurat di TPA Sarimukti yang berakhir hari ini tidak diperpanjang,” ucap Bey di Bandung, Senin (25/09/2023).

    Baca: Kebakaran di TPA Sarimukti, sudah saatnya Pemkot Bandung serius kelola sampah

    Meski kebakaran TPA Sarimukti sudah mengalami perbaikan, Bey menegaskan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Bandung Raya, harus tetap berkomitmen mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.  

    “Kalau caranya tetap sama seperti ini, ya, ini akan berulang terus. Kita tidak mau seperti itu. Harus ada perubahan pola,” tuturnya.

    Setelah status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti berakhir, penanganan kini dialihkan untuk masa transisi TPA Sarimukti ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar yang diatur oleh Keputusan Gubernur (Kepgub).  

    Baca: Teknologi pengelolaan sampah Masaro ubah sampah jadi emas

    Penetapan status masa transisi darurat oleh Pj Gubernur terhitung mulai 25 September 2023, dengan melibatkan Kodam III/Siliwangi, Damkar Kabupaten/Kota, perangkat daerah Pemda Provinsi Jabar dan Pemda Kabupaten/Kota, serta ITB.

    Saat ini, dikabarkan TPA Sarimukti masih bisa menerima sampah di zona super darurat sebanyak 2.626 ritase dengan satu ritase sekitar tiga sampai empat ton.

    Bey mengapresiasi masyarakat dan pemda kabupaten/kota di Bandung Raya, yang selama masa darurat sampah melakukan berbagai upaya untuk pengolahan sampah sehingga beban TPA Sarimukti bisa berkurang.

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    “Saya sampaikan apresiasi dan terima kasih kepada warga terutama di Bandung Raya atas pengertian selama masa darurat sampah dengan memilah sampah sejak dari rumah. Ini jadi momentum bagi Bandung Raya dan Jabar untuk mengelola sampah lebih baik, modern, dan terintegrasi,” tuturnya.

    Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar Dani Ramdan mengatakan, meski status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti tidak diperpanjang, penanganan darurat sampah di Bandung Raya, diperpanjang hingga 25 Oktober.

    “Untuk menggunakan kembali TPA Sarimukti, DLH Jabar perlu melaksanakan beberapa hal di antaranya, penutupan tanah di area bekas terbakar, membangun sistem proteksi kebakaran,” ucap Dani.

    Sumber: Antaranews

  • HUT Kota Bandung, Pj Wali Kota Bandung Ajak Warga Tuntaskan Darurat Sampah

    HUT Kota Bandung, Pj Wali Kota Bandung Ajak Warga Tuntaskan Darurat Sampah

    7cloud.asia – Kota Bandung baru merayakan hari jadinya yang ke-213 kemarin, Senin (25/09/2023). Penjabat (Pj) Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono mengajak masyarakat membantu menuntaskan masalah darurat sampah.

    Pekerjaan prioritas saat ini adalah mitigasi penanganan sampah karena produksi dan penanganan sampah di Bandung sudah sangat mengkhawatirkan.

    “Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 1.500 ton per hari pada tahun lalu dan 709,73 ton diantaranya adalah sampah makanan, sekaligus sebagai penyumbang timbunan sampah terbesar,” jelas Bambang saat memimpin upacara di Balai Kota Bandung, Jawa Barat.

    Baca: Tanggap darurat sampah di Kota Bandung diperpanjang

    Dilansir dari Antaranews, Bambang mengatakan masyarakat secara masif dapat melakukan gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) yang berlaku di setiap Rukun Warga (RW) di Kota Bandung.

    Gerakan Kang Pisman hingga kini sudah berhasil melibatkan 234 RW atau 14,6 persen dari 1.597 RW di Kota Bandung.

    “Upaya ini tidak hanya berhenti di situ karena pada saat yang sama tercatat 38.000 rumah sudah memilah sampah dengan metode Kang Pisman, sebanyak 32.900 rumah telah berhasil mengolah sampah dengan kesadaran sendiri,” urainya.

    Baca: Kebakaran di TPA Sarimukti, Bandung Raya ditetapkan darurat sampah

    Pada kesempatan itu, Bambang menjelaskan upaya lainnya untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung dengan mengupayakan pengadaan mesin pengolah sampah mesin gibrik di 10 titik.

    Hal ini untuk melengkapi tiga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang telah dibangun Kementerian PUPR di kawasan Nyengseret, Cicabe, dan Tegallega.

    Usai upacara, Pemkot Bandung menggelar kegiatan menukar sampah anorganik menjadi sembako di Balai Kota Bandung.

    Baca: Gerakan Mbah Dirjo di Yogyakarta turunkan sampah hingga 50 persen

    Direktur Bank Sampah Induk Kota Bandung, Elis Solihat di Balai Kota mengatakan warga dapat membawa sampah sesuai katalog yang tersedia dalam bank sampah dan menukarnya untuk mendapatkan voucher.

    “Jadi ini dalam rangka hari jadi Kota Bandung, warga membawa sampah sesuai dengan katalog yang ada di bank sampah, kemudian warga yang sudah menyetorkan ini akan mendapatkan voucher sesuai dengan jumlah rupiah yang sudah ditukar,” paparnya.

    Berbgai jenis sampah yang dapat ditukar. Diantaranya sampah kertas, plastik, botol kaca atau plastik, karton dus, hingga besi logam.

    Masyarakat Kota Bandung terlihat sangat antusias dalam menukar sampah tersebut. “Yang antri dari pagi sudah ada ratusan orang, sekarang tiga sampai mobil bak sudah mulai diangkutin,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani 

     

     

     

     

     

  • Pasca Kebakaran, Ini Rencana Pemprov Bandung di TPA Sarimukti

    Pasca Kebakaran, Ini Rencana Pemprov Bandung di TPA Sarimukti

    7cloud.asia – Status darurat bencana kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Bandung telah berakhir. Usai kebakaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat melakukan berbagai langkah strategis.

    “Langkah strategis ini sebagai upaya pemulihan, sekaligus persiapan operasional TPA Sarimukti secara penuh pascakebakaran fasilitas tersebut,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Prima Mayaningtias seperti yang dikutip Antaranews.

    Pihaknya, lanjut Prima, akan bekerjasama dengan para pemangku kepentingan (stakeholders), menjalankan upaya strategis dalam masa transisi Tanggap Darurat Bencana usai kebakaran di TPA Sarimukti, Bandung.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah ketinggalan jaman

    Prima menjelaskan langkah strategis pertama adalah memastikan tidak ada lagi api yang muncul di semua zona sehingga TPA Sarimukti dapat kembali menampung sampah secara normal.

    “Pada Rabu (27/9) dengan bantuan petugas Topdam III/Siliwangi, dilakukan pemantauan dan foto udara ke titik-titik api di zona 4,” katanya.

    Langkah strategis kedua, adalah memadatkan lahan di zona 1, 2 dan 3 untuk kemudian menyiapkan zona 1 agar dapat menampung 80 ribu ton sampah terpilah.

    “Untuk pemadatan zona 1, sekitar 15.510 meter kubik tanah dari Sektor 11 Citarum Harum dipindahkan menggunakan alat berat dari Yonzipur 3/Siliwangi,” ungkapnya.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampahnya

    Selain itu pihakya juga akan melakukan langkah ketiga dengan mendorong sumber air yang ada di zona 4 ke titik-titik api menggunakan pompa hidran yang dibuat Zidam III/Siliwangi.

    “Sebagai pendukung, petugas membuat sumur bor baru di TPA,” katanya.

    DLH juga, menyiapkan posko dengan pemasangan instalasi listrik dan perlengkapan lainnya, serta meminta PLN membuat sambungan listrik baru di TPA.

    Sebelumnya diberitakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan atau tidak memperpanjang status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti.

    Baca: Pengelolaan smpah plastik di Indonesia

    Penghentian ini dilakukan seiring dengan berhasil dipadamkannya kebakaran fasilitas yang terletak di Kabupaten Bandung Barat tersebut.  

    Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan dengan keadaan kebakaran Sarimukti yang membaik tersebut, status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti berakhir 25 September 2023 ini.  

    “Alhamdulillah sudah berhasil dipadamkan. Oleh karena itu, status darurat yang berakhir hari ini tidak diperpanjang,” ucap Bey.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Atasi Sampah, Perumda Pasar Juara Kota Bandung Terapkan Metode Tong Komposter  

    Atasi Sampah, Perumda Pasar Juara Kota Bandung Terapkan Metode Tong Komposter  

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah masih menjadi masalah di Kota Bandung, Jawa Barat. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Juara Kota Bandung, Jawa Barat akan menggunakan metode tong komposter.

    Penggunaan komposter untuk mengolah sampah ini dikatakan oleh Plt Direktur Utama Perumda Pasar Juara Kota Bandung, Ricky Ferlino Shafri pada Jumat (29/09/2023).

    Ricky mengatakan metode komposter ini dilakukan sebagai upaya menuntaskan kedaruratan sampah di Kota Bandung yang diperpanjang hingga 25 Oktober 2023.

    Baca: Menggunakan tumbler, langakh kecil yang berdampak besar pada lingkungan

    Pihaknya juga akan menyosialisasikan secara masif kepada para pedagang di seluruh pasar untuk mengurangi sampah organik.

    “Ke depannya kita akan melakukan pembuatan komposter yang menggunakan pipa, yang mana kita akan berkoordinasi dengan semua pedagang. Kami berkolaborasi untuk mengurangi sampah sisa organik,” jelas Ricky seperti yang dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Ricky memaparkan tong komposter ini berfungsi untuk mengolah limbah rumah tangga.

    Baca: Infrastruktur guna ulang mulai disiapkan dari sekarang

    Diantaranya berupa sisa sayuran, kulit buah-buahan, dan bahan organik lainnya, yang nantinya bisa diolah menjadi kompos.

    Menurutnya cara seperti ini dapat mendukung permasalahan sampah bisa selesai langsung dari sumbernya.

    Metode ini, lanjut Ricky, merupakan bentuk kolaborasi bersama pedagang untuk membiasakan memilah sampah.

    Baca: Starbucks tak akan lagi gunakan gelas sekali pakai

    Nantinya, hanya sampah residu yang masih boleh dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

    “Karena nantinya yang akan kemudian ditarik DLHK (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan) hanyalah residunya saja. Sehingga memang kami betul-betul akan melakukan kolaborasi aktif, karena Perumda sendiri tidak mungkin bisa melakukan tanpa ada dukungan pedagang,” urainya. 

    Hingga saat ini pihaknya mencatat tiga pasar di Kota Bandung yang sudah mulai menggunakan metode komposting sebagai media pemilahan sampah, antara lain Pasar Balubur, Ciwastra, dan Astanaanyar.

    Baca: Beragam aplikasi yang melayani konsep guna ulang

    “Karena mulai ada pembiasan pemilahan sampah dari hulu yaitu dari pedagang, baik itu yg basah atau kering itu akan kami segera laksanakan,” katanya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Prima Mayaningtyas pada Minggu (24/09/2023) telah memperpanjang status tanggap darurat sampah di Bandung Raya.

    Perpanjangan ini berlaku hingga 25 Oktober 2023. Dalam masa perpanjangan ini pihaknya juga mendorong kepala daerah di Bandung Raya untuk memperbaiki tata kelola sampah.

    Hal ini untuk mencegah agar status darurat sampah tak terulang kembali. “Mereka (kepala daerah) harus menata kelola sampah masing-masing. Jadi penanganan di hulu sama di hilir,” kata Prima.

    Reporter: Nurakhmayani