Peliknya Pengelolaan Sampah di Kelurahan Malaka, TPS Dibutuhkan Tapi Juga Dikeluhkan Warga

Written by

in

7cloud.asia –  Bau tak sedap menguar di sekitar tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di jalan Bunga Rampai, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, pagi itu.

Menjelang siang sepanjang jalan besar itu menjadi sibuk. Lalu-lalang manusia serta puluhan bahkan ratusan kendaraan bermotor yang melintasi TPS.

Semakin siang bau tak sedap dari TPS makin terasa. Beberapa orang yang berjalan, tampak menggunakan masker sedangkan yang lain menutupi hidung mereka untuk menutupi bau tak sedap dari TPS itu. 

Tak lama kemudian, beberapa petugas sampah datang mendorong gerobaknya yang berisikan tumpukan sampah warga setempat. Mereka lantas mengantri dan menunggu tukang sampah yang telah lebih dulu datang menuangkan tumpukan sampah itu ke TPS.

Baca: Ini alasan Pemprov DKI Jakarta tunda pembangunan pengelolaan sampah ITF 

Sementara yang lain sibuk mengangkut sampah tersebut ke dalam truk sampah yang diparkir di depan Gudang Dinas Pendidikan yang lama kosong dan tak terawat, dengan menggunakan sekop dan garpu sampah.

Dalam sekejap, tumpukan sampah dalam truk milik Dinas Lingkungan Hidup Kecamatan Duren Sawit itu pun tampak menggunung. Para pekerja sampah bergerak cepat.

Mereka harus segera menuntaskan pekerjaannya bila tak ingin mendapatkan komplain dari warga sekitar seperti  pernah terjadi sebelumnya.

Saat TPS dilokasikan di depan lapangan WIKA, RW 04, jalan Nusa Indah Raya, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Baca: Mengolah sampah organik menjadi kompos, bisa dilakukan di rumah

Saat itu, beberapa warga yang tinggal tepat di depan TPS mengaku keberatan bila TPS berada di depan kediaman mereka, lantaran aroma tak sedap yang terbawa angin mengusik kenyamanan hidup mereka.

Keberatan itu pun disampaikan ke RW setempat dan berlanjut ke keluarahan Malaka Jaya.

Hingga akhirnya TPS diputuskan untuk dialihkan ke RW 06 yang berlokasi di jalan Bunga Rampai.

Selama nyaris dua bulan berjalan, memang seolah tak ada tanda-tanda keberatan dari warga setempat mengenai keberadaan TPS.

Baca: Terapkan sistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

Tapi bukan berarti keberatan itu tak ada. Sebab beberapa pedagang makanan ringan serta warga ada juga yang mengeluh.

Apalagi lokasi TPS ini berdekatan dengan klinik Bunga Rampai, RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), serta sekolah dasar neger 01, yang melakukan kegiatan belajar mengajarsejak pagi hingga siang hari. 

Asih, warga RW 06 jalan Bunga Rampai, sebenarnya juga keberatan dengan adanya TPS di lingkungannya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa kalau sudah menyangkut kebijakan yang sudah disepakati warga atau pun pemerintah.

“Sebenarnya sih, sampah ditaroh di situ kalau kita lewat ya kebauan juga. Lagipula kan, gak enak juga diliatnya,” keluhnya.

Baca: Mengenal Teba, sara unik warga Bali mengolah sampah rumah tangga

Ia sendiri baru mengetahui keberadaannya beberapa hari lalu, lantaran sebelumnya tak pernah melihatnya.

Memang, letak TPS itu agak jauh dari kediamannya yang berada di dalam gang. Tapi tetap saja, bila berjalan ke depan dan melewati jalan besar, ia dapat mencium aroma tak sedap dari tumpukan sampah yang menggunung itu.

Hal yang sama juga dikatakan Sinta, siswa kelas XII SMA 103 yang mengaku kaget karena tiba-tiba saja ada tumpukan sampah di depan gedung Gudang Dinas Pendidikan, yang dulu berfungsi sebagai gedung olah seni.

“Kaget aja sih, ngeliat kok tiba-tiba ada tumpukan sampah banyak banget di situ, yang pastinya baulah!” ucapnya polos.

Baca: Mengelola sampah dengan ditimbun sudah saatnya ditinggalkan

Namun hal itu berbeda dengan Datam yang sehari-hari bertugas memelihara dan perawat gedung Gudang Dinas Pendidikan yang tak pernah mempermasalahkan keberadaan TPS.

Letak gudang memang di dalam lokasi gedung tapi cukup jauh dari TPS, membuat dirinya tak merasa terganggu sama sekali.

“Sampah itu kan, adanya diluar gedung dan agak jauh juga. Saya juga sudah konfirmasi ke mereka, jadi gak ada masalah,” ujarnya, seraya mengaku dirinya tak pernah mencium bau tak sedap dari sampah yang berasal dari TPS.

Memang ada pro kontra di sekitar warga mengenai keberadaan TPS, namun sepertinya sampai saat ini warga belum bisa berharap banyak.

Baca: Pengelolaan sampah Mbak Dirjo mampu kurangi sampah organik hingga 50 persen

Pasalnya Lurah Malaka Jaya Asianto menegaskan, untuk masalah sampah di wilayah kelurahan Malaka Jaya, maka TPS dialokasikan dalam dua titik yaitu di Jalan Bunga Rampai dan jalan Dr. Sukamto.

“Malaka Jaya ini kan, sebenarnya sempit, jadi kita gak ada lahan yang bisa dibangun untuk membuat TPS permanen,” katanya di sela-sela grebek jumantik Jumat lalu, saat ditanya alasannya tak membuat semacam TPS permanen atau sumur untuk menampung sampah organik yang bisa terurai bila diberi ecoenzym.

Itu sebabnya ia berpendapat masalah sampah di wilayah Malaka Jaya harus ditertibkan.

Artinya, pekerja sampah yang berlokasi khususnya di jalan Bunga Rampai harus disupport dan diberitahu supaya tak lagi menimbulkan komplain dari warga sekitar, seperti yang terjadi sebelumnya saat berlokasi di depan lapangan WIKA.

Baca: Bank sampah ini berjalan meski berkantor di jalanan

Sementara itu Henri, pekerja sampah yang biasa mengangkut sampah di wilayah RW 04 kelurahan Malaka Jaya berharap sama.

Ia meminta warga sekitar agar bisa mendukung keberadaan TPS yang saat ini berlokasi di jalan Bunga Rampai.

Pasalnya, bila warga mengeluh dan keberatan dengan keberadaan TPS di wilayah itu, maka akan sulit baginya untuk membawa sampah ke tempat lain yang lebih jauh.

“Semoga jangan pindah-pindah lagi deh! Soalnya kalo pindah lagi kan, jadi susah sayanya. Kalo TPS tambah jauh, bawa (sampah) nya kan, jadi berat juga,” keluhnya.

Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

Harapan itu juga disampaikan Anto yang mengangkut sampah RW 06.

“Saya sih berharap warga mau mengerti keberadaan TPS di sini. Soalnya kalo pindah lagi, ya kita mau buang sampah kemana lagi? Toh kita langsung angkut-angkutin sampahnya ke truk, trus langsung dibawa ke Bantargebang. Jadi gak numpuk di sini. Lagipula PPSU kan, langsung bersih bersihin sisa-sisa sampahnya juga,” jelasnya panjang lebar.

Menurut Alan Suryana, truk yang biasa ia bawa dari kecamatan Duren Sawitmenuju lokasi jalan Bunga Rampai selalu stand by kisaran pukul 7.00-8.00 WIB.

Sementara batas waktu sampah yang harus diangkut menuju lokasi Bantargebang seputar pukul 11.00 WIB.

Baca: Pemerintah-produsen dan masyarakat harus bekerja sama untuk kurangi sampah plastik

“Kalo aturan dari pak lurah sih sebenarnya jam 10.00 harus sudah diangkut ke Bantargebang. Tapi karena kadang ada gerobak yang masih datang, ya kita paling toleransilah, batasin sampe jam 12.00. Itu pun harus udah berangkat ke sana, karena jam 12..00 itu udah maksimal dan udah terlalu siang juga,” ujarnya.

Sampah yang diangkut di TPS jalan Bunga Rampai, tambah Alan, berasal dari tujuh RW di sekitar lokasi dan berbobot sekitar 6 ton, hingga maksimal mencapai 8 ton.

“Biasanya kalau habis libur, sampah yang terangkut bisa 9 ton. Tapi kalau hari biasa, 6 sampai 8 ton paling maksimal,” paparnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *