Tag: cuaca ekstrem

  • Cuaca Hari Ini: Waspada! Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa Jakarta

    Cuaca Hari Ini: Waspada! Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa Jakarta

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem berupa hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat disertai petir berpotensi melanda sebagian wilayah Jakarta pada Kamis (11/09/2025). Masyarakat diimbau waspada.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui kanal youtube resminya menyebut hujan disertai petir berpotensi melanda wilayah Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu pada pagi hari. wilayah lainnya diprediksi bakal diguyur hujan berintensitas ringan.

    Selanjutnya pada siang hingga malam hari, hampir seluruh wilayah Jakarta berpotensi diguyur hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat disertai petir. Hanya wilayah Jakarta Barat yang berpeluang terjadi hujan berintensitas ringan.

    Baca: Cuaca ekstrem picu banjir bandang di Nagekeo NTT

    Untuk kota-kota lain di Indonesia, BMKG memprediksi hujan berintensitas ringan hingga hujan disertai petir masih berpeluang terjadi.

    Hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Padang, Tanjung Pinang, Palembang, Yogyakarta, Mataram, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Manado, Palu, Ternate, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.  

    Hujan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan, Serang, Bandung, Semarang danTanjung Selor. Sedangkan hujan dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju.

    Baca: Udara bersih adalah hak warga kota

    Sementara hujan disertai petir berpeluang melanda Kota Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Banjarmasin dan Nabire.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, longsor, pohon tumbang yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

    Selain itu, BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah pesisir seperti pesisir Kepulauan Riau, pesisir Lampung dan pesisir Maluku.

     

  • Penjelasan BMKG tentang Kapan Musim Hujan

    Penjelasan BMKG tentang Kapan Musim Hujan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) memprediksi musim hujan tahun 2025-2026 datang lebih awal dari biasanya dan tidak terjadi serempak di seluruh wilayah Indonesia.

    Dalam konferensi pers BMKG pada Jumat (12/09/2025) sore, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan sifat musim hujan yang terjadi berada pada kategori normal, tidak terlalu basah ataupun terlalu kering.

    Peralihan musim kemarau ke musim hujan tahun 2025 sebenarnya sudah dimulai sejak bulan Agustus lalu. Musim hujan diprediksi akan berlangsung hingga April 2026 mendatang.  

    BMKG memprediksi musim hujan mencapai puncaknya di setiap wilayah berbeda-beda. Di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan puncak musim hujan terjadi pada bulan November hingga Desember 2025.

    Baca: Banjir di Bali, Ini Penyebabnya

    Sedangkan wilayah Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku dan Papua puncak musim hujan diprediksi terjadi pada bulan Januari dan Februari 2026.

    “Artinya apa? Dikhawatirkan dan sangat mungkin potensi kejadian bencana itu akan hampir sepanjang bulan,” kata Dwikorita.

    Karena itu, lanjut Dwikorita, perlu kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti bencana longsor, banjir, pohon tumbang, dan lain-lain.

    Pada kesempatan ini, Dwikorita menyinggung banjir yang terjadi di Bali pada 9-10 September lalu. Menurutnya yang terjadi di Bali, bukan berarti telah memasuki musim hujan.

    “Ini masih masa peralihan musim kemarau ke musim hujan. Itupun baru peralihan kondisinya sudah seperti itu. Padahal Pulau Jawa, Sulawesi, Papua termasuk Bali, puncaknya antara Januari hingga Februari. Nah, ini gimana puncaknya nanti. Yang peralihan sudah seperti itu,” jelasnya.

    Baca: Korban Tewas Akibat Banjir di Bali Capai 14 Orang

    “Meskipun hujan saat musim hujan nanti curah hujannya bersifat normal atau sesuai rata-rata bulanannya. Namun hujan yang 1 bulan makin sering terjadi hanya dalam 1 hari atau beberapa hari. Itu yang berbahaya,” lanjutnya.

    Sebagai antisipasi resiko bencana hidrometeorologi, BMKG mengimbau kementerian lembaga, pemda, dan sektor terkait serta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

    Misalnya dengan memprioritaskan perbaikan drainase dan irigasi, membersihkan sampah yang menumpuk di saluran air.

    Baca: Banjir di Bali, Ratusan Kepala Keluarga Terdampak

    Untuk para petani, mereka dapat menyesuaikan jadwal tanam agar tidak bertepatan dengan puncak musim hujan. Petani juga dapat memilih varietas tahan genangan.

    Selanjutnya Dwikorita mengungkapkan selama musim peralihan, jumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menurun.

    Meski demikian wilayah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan dan sebagian Sumatera tetap waspada karena masih memungkinkan terjadi karhutla pada periode ini.

  • BMKG Ungkap Penyebab Banjir Besar di Bali

    BMKG Ungkap Penyebab Banjir Besar di Bali

    7cloud.asia – Banjir dan longsor yang melanda Bali pada 9–10 September 2025 lalu akibat cuaca ekstrem yang dipicu oleh kombinasi faktor regional dan lokal. Salah satunya adanya dinamika atmosfer.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam rilisnya menjelaskan kondisi atmosfer bumi yang labil memicu terjadinya hujan ekstrem hingga terjadi banjir yang parah di sejumlah wilayah di Bali.  

    “Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby ekuator yang aktif bersamaan dengan kondisi atmosfer labil di Bali memperbesar risiko terbentuknya awan konvektif secara masif,” jelas Dwikorita.

    Selain akibat dinamika atmosfer, BMKG juga menyoroti faktor lingkungan dan infrastruktur yang memperparah dampak banjir.

    Baca: Korban Tewas Akibat Banjir di Bali Bertambah Menjadi 14 Orang

    Menurutnya sistem drainase di beberapa wilayah dinilai belum mampu menyalurkan volume air hujan yang sangat besar. Kondisi ini diperburuk oleh sedimentasi dan sampah yang menyumbat saluran air.

    Belum lagi adanya alih fungsi lahan dari area resapan menjadi permukiman dan komersial juga mengurangi kemampuan tanah menyerap air, sehingga risiko genangan semakin tinggi.

    Sebelumnya, lanjut Dwikorita, BMKG mengeluarkan peringatan sejak 5 September 2025 melalui prospek cuaca sepekan ditambah pula dengan peringatan dini tiga harian, hingga pembaruan secara jam-jaman melalui sistem nowcasting pada saat hujan ekstrem mulai terjadi.

    “Dalam periode 9–10 September saja, BMKG menerbitkan 11 kali pembaruan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Bali,” katanya.

    Baca: Banjir Besar di Bali, Ratusan Kepala Keluarga Terdampak

    Karena itu, mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengimbau masyarakat agar lebih waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan.

    Selain itu, masyarakat juga dapat melakukan langkah mitigasi seperti menjaga kebersihan saluran drainase dan tidak membuang sampah sembarangan diharapkan dapat mengurangi dampak genangan air.

    “Dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang baik, kita bisa meminimalkan risiko bencana akibat cuaca ekstrem yang masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan,” tutup Dwikorita.

    Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, di Jembrana, curah hujan tercatat mencapai 385,5 mm dalam satu hari, disusul Tampak Siring 373,8 mm, Karangasem 316,6 mm, Klungkung 296 mm, dan Abiansemal 284,6 mm.

    Baca: Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa Jakarta

    Bahkan beberapa titik lain seperti Denpasar Barat, Petang, Kerambitan, dan Padangbai juga mencatat curah hujan di atas 200 mm per hari. Padahal, secara klimatologis, hujan di atas 150 mm/hari sudah dikategorikan ekstrem.

    Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana terjadi di tujuh kabupaten/kota dengan lebih dari 120 titik banjir.

    Kota Denpasar menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak mencapai 81, disusul Gianyar 14 titik, Badung 12 titik, Tabanan 8 titik, Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik, serta Klungkung di Kecamatan Dawan.

     

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 15-18 September 2025

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 15-18 September 2025

    7cloud.asia – BMKG mengimbau masyarakat di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.

    Cuaca ekstrem seperti hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir, angin kencang, dan gelombang tinggi juga berpotensi sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi

    Peringatan ini didasarkan pada pantauan BMKG terhadap keberadaan bibit siklon tropis 93 S di Samudra Hindia di barat Bengkulu yang membentuk daerah konvergensi (perlambatan kecepatan angin) dan konfluensi (pertemuan angin) memanjang dari Selat Malaka hingga Bengkulu.

    Dilansir di laman resminya, BMKG menyebutkan bahwa pertemuan angin lainnya juga terpantau memanjang dari perairan utara Jawa hingga Sumatra Selatan.

    Selain itu, pola siklonik di wilayah Kalimantan Utara menyebabkan terbentuknya area konvergensi angin yang meluas ke Kalimantan Tengah. Pola angin ini diperkirakan meningkatkan potensi hujan dalam beberapa hari mendatang.

    Baca: Bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia dapat memicu hujan lebat

    Secara lokal, kondisi atmosfer juga mendukung terbentuknya awan dan hujan.

    Labilitas yang cukup kuat serta kelembapan udara yang basah menjadi pemicu terbentuknya awan hujan konvektif di banyak wilayah, meliputi sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Bali–Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.

    Dalam prospek cuaca mingguan, BMKG menyebut, pada periode 15–18 September 2025
    kondisi cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat.

    Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi di sejumlah daerah.

    BMKG merilis peringatan dini Siaga (hujan lebat) untuk daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

    Baca: Pemanasan global picu bencana hidrometeorologi

    Sementara angin kencang berpotensi terjadi di Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

    “Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung,” demikian BMKG dalam pernyataannya.

    Hujan dengan intensitas sedang juga berpotensi terjadi di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan.

    Wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

    Prospek di atas merupakan kondisi secara umum. Untuk informasi cuaca lebih detail dapat diakses melalui website BMKG, aplikasi mobile infoBMKG dan sosial media @infoBMKG.

    Baca: Cuaca panas ekstrem pengaruhi kesehatan dan produktivitas pekerja

  • BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Jawa Barat, Ini Lokasinya

    BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Jawa Barat, Ini Lokasinya

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di wilayah Jawa Barat hingga sepekan ke depan.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam keterangannya pada Rabu (17/09/2025) menjelaskan cuaca ekstrem tersebut berupa hujan berintensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang hingga 24 September mendatang.

    Meski durasi singkat, namun kondisi cuaca seperti ini bisa membahayakan. Karena itu, masyarakat harus mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.

    “Kondisi ini dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, maupun pohon tumbang,” kata Dwikorita.

    Baca: BMKG Ingatkan Hujan Lebat Hingga Sangat Lebat Selama Sepekan

    Selanjutnya mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) ini menjelaskan berdasarkan analisis dinamika, kondisi cuaca ekstrem ini karena sejumlah faktor.

    Faktor tersebut berupa kondisi laut yang menghangat yang membuat suhu muka laut yang relatif hangat di perairan sekitar Indonesia. Sehingga uap air melimpah ke atmosfer.

    Adanya Indeks Dipole Mode (DMI) Negatif, kondisi ini berkontribusi pada peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah barat Indonesia.

    Faktor lainnya adanya sirkulasi siklonik di barat Sumatera memicu zona pertemuan angin (konvergensi) yang melintasi Jawa Barat, memaksa massa udara naik dan membentuk awan hujan pekat.

    Faktor ini diperparah dengan kondisi labilitas atmosfer lokal yang berada pada kategori ringan hingga kuat. Hal ini sangat mendukung terbentuknya awan-awan konvektif (awan hujan badai).

    Baca: Hujan Ekstrem Akibatkan Perubahan Iklim

    “Kombinasi inilah yang diperkirakan akan membuat langit Jawa Barat “aktif” menghasilkan hujan lebat sepanjang pekan,” ucap Dwikorita.

    Berikut wilayah di Jawa Barat yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem.

    Kamis 18 September 2025.

    Kabupaten dan Kota Bogor, Depok, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Bandung Barat, Bandung, Majalengka, Garut, Kuningan, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, serta Pangandaran.

    Jumat 19 September 2025

    Wilayah terdampak meluas hingga Kabupaten dan Kota Bekasi, Karawang, Subang, Cimahi, Kabupaten dan Kota Bandung, Sumedang, serta sebagian wilayah Cirebon.

    Baca: Perubahan Iklim Memicu Cuaca Ekstrem

    Sabtu-Minggu 20-21 September 2025

    Kondisi serupa dengan hari Jumat diprakirakan masih berlanjut di sebagian besar wilayah yang telah disebutkan.

    Senin 22 September 2025

    Hujan lebat berpotensi mengguyur Kabupaten dan Kota Bogor, Depok, Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten dan Kota Sukabumi, serta Cianjur dan Karawang.

    Selasa Rabu 23-24 September 2025

    Hujan signifikan masih mungkin terjadi di Bogor, Sukabumi, dan Cianjur pada Selasa. Sementara pada Rabu, potensi hujan lebat lebih terpusat di wilayah Tasikmalaya dan Pangandaran.

    “Kami mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, bergotong royong menjaga kebersihan, serta menata lingkungan agar risiko banjir dapat dikurangi,” katanya. 

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem hingga 6 Oktober 2025

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem hingga 6 Oktober 2025

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, memasuki masa peralihan musim atau pancaroba, sejumlah wilayah Indonesia berpotensi alami cuaca estrem akhir September hingga Oktober 2025 mendatang,

    Dalam pernyataan melalui laman bmkg.go.id, BMKG menyebut pancaroba ditandai dengan kenaikan persentase wilayah yang mengalami curah hujan signifikan.

    Selain itu, pada masa peralihan musim, pola hujan biasanya terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.

    Pemanasan permukaan yang kuat, dapat memicu pembentukan awan-awan konvektif, terutama awan Cumulonimbus (Cb).

    “Karakteristik hujan pada periode peralihan cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat yang berdurasi singkat pada skala lokal disertai petir, angin kencang, dan dapat menimbulkan terjadinya hujan es,” demikian keterangan BMKG.

    Baca: Perubahan iklim membuat siklon tropis makin tak terduga

    BMKG mengimbau masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, genangan, dan longsor yang berdampak pada aktivitas harian maupun transportasi dalam sepekan ke depan.

    Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diharapkan dapat menjaga saluran drainase agar tidak tersumbat serta rutin memantau informasi cuaca resmi BMKG sebelum beraktivitas.

    Berikut prakiraan cuaca sepekan ke depan:

    Periode 30 September – 2 Oktober 2025
    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan.

    Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur. Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

    Selain itu, hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

    Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

    Angin Kencang : DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Timur.

    Periode 3 – 6 Oktober 2025
    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung.

    Baca: Perubahan iklim memaksa tumbuhan lebih sering “berpuasa”

    Kondisi cuaca serupa juga berpotensi terjadi di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur. Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo,

    Pun demikian dengan Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

    Selain itu, hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

    Siaga (Hujan lebat – sangat lebat) : Sumatra Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

  • Pemprov DKI Jakarta Siagakan Sarana Penanganan Banjir untuk Antisipasi Cuaca Ekstrem

    Pemprov DKI Jakarta Siagakan Sarana Penanganan Banjir untuk Antisipasi Cuaca Ekstrem

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersiap menghadapi potensi cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi seperti yang diprakirakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyebut, salah satu upaya yang dilakukan jajarannya dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem serta curah hujan tinggi yakni dengan menyiagakan seluruh sarana dan prasarana penanganan banjir, terutama unit pompa air.

    “Jadi, kami sudah mendapatkan warning dari BMKG mengenai kemungkinan dalam satu, dua hari ke depan ini akan ada curah hujan ekstrem dan kami sudah mempersiapkan, termasuk pompa yang dimiliki oleh Jakarta,” ujar Pramono, di Jakarta, Selasa (30/9/2025).

    Baca: Perubahan iklim membuat siklon tropis makin tak terduga

    Pramono merinci, total hampir 1.200 unit pompa milik Pemprov DKI Jakarta siap beroperasi, terdiri dari sekitar 600 unit pompa portable dan 600 pompa statis.

    Pramono optimistis, banjir akan segera tertangani jika curah hujan ekstrem hanya terjadi di wilayah Jakarta dan tidak mendapatkan kiriman air dari hulu (wilayah Bogor atau sekitarnya).

    “Sekarang sudah kita stand by-kan. Tetapi, mudah-mudahan, kalau kemudian curah hujan ini hanya di Jakarta, tidak kemudian dari atas, saya yakin akan segera tertangani,” kata dia.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Meski demikian, Pramono berharap intensitas curah hujan tidak melebihi batas yang sulit ditangani.

    Selain menyiagakan infrastruktur pompa air, Pemprov DKI juga telah menginstruksikan wali kota untuk mengerahkan pasukan pelangi guna memastikan saluran air dan selokan dalam kondisi bersih.

    “Tapi, mudah-mudahan, curah hujannya tidak di atas 250 mm. Kalau 200 mm saja pasti. Dan yang paling penting adalah kami juga sudah meminta kepada para wali kota melalui pasukan pelanginya untuk membersihkan selokan-selokan,” tandasnya.

    Baca: Perubahan iklim memicu cuaca ekstrem

  • Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem Hingga 13 Oktober di Sejumlah Wilayah

    Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem Hingga 13 Oktober di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem hingga 13 Oktober 2025 mendatang. Masyarakat diimbau waspada.

    Melalui akun instagram resmi BMKG, cuaca ekstrem ini memang kerap terjadi selama musim peralihan atau pancaroba. Karena itu masyarakat diimbau mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, pohon tumbang, dan lain-lain.

    Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat bahkan hujan lebat disertai petir dapat berlangsung secara fluktuatif di sejumlah tempat.  

    Pada 7 hingga 9 Oktober 2025, hujan berintensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

    Kondisi cuaca seperti ini berpeluang pula terjadi di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

    Pada periode yang sama, hujan lebat hingga sangat lebat dan berstatus siaga berpotensi terjadi di wilayah Bengkulu, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan dan Papua.

    Kemudian periode 10–13 Oktober 2025, wilayah dengan status waspada adalah Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, serta Papua Barat Daya dan Papua Selatan. Sementara wilayah Papua diprediksi berstatus siaga pada periode tersebut.

    Tak hanya hujan, angin kencang juga berpotensi terjadi pada periode 7-9 Oktober, potensi angin kencang diperkirakan terjadi di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali.

    Selanjutnya periode 10-13 Oktober, angin kencang diprediksi melanda Nusa Tenggara Barat (NTB), Banten, dan Jawa Barat.

     

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sejumlah Daerah hingga 16 November 2025

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sejumlah Daerah hingga 16 November 2025

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia dalam sepekan ke depan.

    Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada Senin (10/11/2025) BMKG menyebut, cuaca ekstrem ini dapat memicu bencana hidrometeorologi seiring dengan peningkatan potensi curah hujan tinggi di sejumlah wilayah Indonesia

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa peningkatan intensitas hujan dipicu oleh gabungan dinamika atmosfer, dan diprediksi meningkatkan potensi cuaca ekstrem dan dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

    “Beberapa faktor utama yang berperan pada dinamika cuaca periode ini antara lain Siklon Tropis FUNG-WONG, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), serta gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Ekuator yang diprediksi masih aktif di wilayah Indonesia hingga pertengahan November 2025,” kata Guswanto di Jakarta, Senin (10/11/2025).

    Siklon Tropis FUNG-WONG, yang saat ini berada di Laut Filipina timur dan bergerak ke arah barat laut menuju Luzon, memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan pertumbuhan awan hujan dan kecepatan angin (>25 knot) di wilayah Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua bagian utara.

    Baca: Sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan

    Sementara itu, kombinasi aktivitas MJO fase 5 (Maritime Continent) dengan gelombang Rossby Ekuator dan Kelvin turut meningkatkan pembentukan awan konvektif di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan timur selama sepekan ke depan.

    Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, memprakirakan adanya potensi cuaca ekstrem yang signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 10–16 November 2025.

    Berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan sedang hingga lebat pada 10–12 November 2025 berpotensi terjadi di sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara.

    Adapun potensi hujan lebat–sangat lebat (SIAGA) berpotensi terjadi di Aceh, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, Papua Selatan, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

    “Untuk potensi angin kencang diprediksi terjadi di wilayah Banten, Bengkulu, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat,” jelas Andri.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Pada 13–16 November 2025, potensi hujan dengan kategori lebat–sangat lebat (SIAGA) masih akan terjadi di Bengkulu, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

    Adapun potensi hujan sedang–lebat masih berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat.

    Hujan sedang hingga lebat juga berpotensi terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.

    Potensi angin kencang masih akan terjadi di Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Bali, DKI Jakarta, dan Banten.

    Guswanto, mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan saluran drainase berfungsi baik untuk mengurangi risiko genangan dan banjir.

    Peningkatan curah hujan diprakirakan berdampak bagi nelayan dan pengguna transportasi laut, sehingga diperlukan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi di Samudra Hindia barat Sumatra–selatan Jawa, Laut Banda, Laut Flores, dan Laut Arafura.

    Baca: Ruang terbuka hijau bagus untuk kesehatan mental warga kota

  • BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap, Jawa Tengah

    BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap, Jawa Tengah

    7cloud.asia – Longsor yang melanda wilayah Cilacap, Jawa Tengah beberapa hari yang lalu dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut hingga terjadi pergerakan tanah.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya hujan berintensitas tinggi di wilayah Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, pada Kamis (13/11/2025).

    Kondisi hujan yang juga berlangsung dalam beberapa hari sebelumnya turut meningkatkan kadar air dalam tanah. Sehingga secara umum dapat meningkatkan kondisi rentan dan berkontribusi pada terjadinya tanah longsor di lokasi tersebut.

    Baca: 10 Korban Longsor di Cilacap Masih Dicari

    Dalam siaran persnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan hasil pengamatan di Pos Hujan Majenang, curah hujan cukup tinggi, yakni masing-masing 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari pada 10–11 November 2025.

    Setelah itu, wilayah tersebut masih mengalami hujan ringan yang mempertahankan kondisi tanah tetap basah hingga akhirnya terjadi pergerakan tanah yang memicu longsor.

    “Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ungkap Guswanto.

    Faktor lainnya adalah kondisi atmosfer. Pola cuaca beberapa hari terakhir memang mendukung terbentuknya awan hujan di wilayah Jawa Tengah.

    Baca: Longsor di Banjarnegara Timbun 27 Warga

    Guswanto menjelaskan adanya aktivitas fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) yang sedang melintas serta gelombang atmosfer lain di kawasan yang sama ikut memperkuat proses pembentukan awan tersebut.

    Pada skala yang lebih luas, peningkatan hujan juga dipengaruhi adanya pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin di sekitar Jawa yang membuat pertumbuhan awan semakin intens.

    “Kondisi atmosfer tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang,” terangnya.

    Baca: BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem

    Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan hasil pemantauan atmosfer, adanya kelembapan udara yang sangat tinggi pada beberapa lapisan, yakni 850 mb, 700 mb, dan 500 mb, dengan nilai mencapai 70–100 persen.

    Kondisi udara yang basah di berbagai ketinggian ini mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Ekstrem periode 11–20 November 2025 di sejumlah wilayah termasuk Cilacap yang meliputi Kecamatan Majenang.

    Baca: Memasuki Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana

    “Pada rilis tersebut juga disampaikan bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19–22 November 2025,” ujar Andri.

    Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto mengatakan BMKG bersama sejumlah instansi terkait akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang mengalami bencana tanah longsor.

    Hal ini perlu dulakukan untuk memudahkan proses evakuasi korban yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di wilayah bencana.

    “Skema penerapan OMC yang disiapkan berfokus pada pengamanan daerah bencana longsor sehingga daerah Majenang terbebas dari hujan deras yang berpotensi memicu longsor susulan atau mengganggu proses evakuasi,” terang Seto.