Tag: palestina

  • Mesir Desak Penempatan Pasukan Internasional untuk Kawal Gencatan Senjata di Gaza

    Mesir Desak Penempatan Pasukan Internasional untuk Kawal Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asiaMesir meminta PBB segera menempatkan pasukan stabilisasi internasional di sepanjang apa yang disebut sebagai “garis kuning” di Jalur Gaza untuk memverifikasi kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

    Seruan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, Sabtu (6/12/2025), di tengah kondisi ketika Israel masih menduduki lebih dari 50 persen wilayah Gaza meski ada perjanjian gencatan senjata. 

    Garis kuning ini memisahkan zona penempatan militer Israel dari area yang boleh dilalui warga Palestina dengan wilayah yang dilarang dilalui.

    Berbicara dalam sebuah sesi di Doha Forum 2025, Abdelatty menegaskan perlunya pemantau internasional karena “satu pihak, yaitu Israel, setiap hari melanggar gencatan senjata dan mengklaim pihak lain yang melakukan pelanggaran.”

    Baca Juga: Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata: Hanya Izinkan 200 Truk Bantuan ke Gaza

    Abdellaty mengatakan Mesir mendorong mandat penjaga perdamaian yang bersifat menjaga perdamaian, bukan memaksakan perdamaian.

    Dia menekankan pentingnya menstabilkan gencatan senjata di Gaza sebelum melangkah lebih jauh.

    “Sekarang kita harus mengonsolidasikan gencatan senjata untuk segera bergerak ke fase kedua rencana perdamaian Trump,” ujarnya.

    Diplomat senior itu juga menegaskan bahwa rakyat Palestina “harus mengatur urusan mereka sendiri.”

    Baca Juga: PBB: 144 Warga Sipil Lebanon Tewas Akibat Serangan Israel Pasca Gencatan Senjata

    Ia menyebut Jalur Gaza dan Tepi Barat sebagai “bagian integral” dari negara Palestina merdeka hingga Otoritas Palestina mendapatkan kewenangan penuh dan dapat ditempatkan kembali di Jalur Gaza.

    “Tidak ada solusi atau keamanan dan stabilitas yang berkelanjutan bagi Israel maupun kawasan Timur Tengah tanpa negara Palestina. Selain itu, semua hanya akan menjadi solusi sementara,” katanya.

    Sebelumnya, dilaporkan bahwa militer Israel terus melancarkan serangan ke Gaza meski telah ada kesepakatan gencatan senjata yang diteken pada Oktober lalu. 

    Dilaporkan, lebih dari 100 warga Palestina di Gaza yang meninggal akibat serangkaian serangan Israel ke Gaza pasca ditandatanganinya gencatan senjata.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Angka Kelahiran di Gaza Anjlok: Ada Upaya Sistematis Israel untuk Melemahkan Reproduksi Rakyat Palestina

    Angka Kelahiran di Gaza Anjlok: Ada Upaya Sistematis Israel untuk Melemahkan Reproduksi Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir Al-Barsh mengungkapkan bahwa angka kelahiran per bulan di wilayah tersebut anjlok sebesar 40 persen selama setahun terakhir, turun dari 26.000 menjadi hanya 17.000 kelahiran.

    Menurutnya, menurunnya angka kelahiran di Gaza dikarenakan pusat-pusat fertilitas dan IVF menjadi sasaran langsung pasukan Zionis Israel.

    Lebih lanjut, Al-Barsh menyoroti tentang meluasnya malnutrisi pada ibu, yang diperparah dengan langkah pembatasan sistematis terhadap suplemen makanan dan obat-obatan penting.

    Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan signifikan kasus bayi dengan berat badan lahir rendah sekaligus menciptakan keadaan darurat kesehatan masyarakat.

    Baca: PBB sebut Gaza alami genosida terkejam dalam sejarah

    Ia mencontohkan pemboman Pusat Al-Basma, yang disebutnya telah menyebabkan tangki nitrogen terbakar serta menghancurkan sekitar 4.000 embrio yang telah dibuahi dan siap dipindahkan.

    Data ini menunjukkan rencana untuk menekan pertumbuhan penduduk Palestina, katanya. Ia mencatat bahwa lembaga penelitian Israel, seperti Konferensi Herzliya, sebelumnya telah memperingatkan ancaman demografis warga Palestina.

    Pejabat bidang kesehatan itu menekankan bahwa konflik yang sedang berlangsung telah memberikan peluang strategis untuk langkah-langkah ini.

    Baca: 410 Warga Gaza tewas akibat serangan Israel selama masa gencatan senjata

    Dia menggambarkan kondisi ini sebagai upaya Israel untuk melemahkan kesehatan reproduksi perempuan sekaligus melemahkan struktur demografis Gaza.

    Kemenkes Gaza juga melaporkan penurunan angka kelahiran yang mengkhawatirkan serta lonjakan kasus keguguran, yang menimbulkan kekhawatiran krisis demografis yang disengaja di wilayah tersebut.

    Sejak perang Hamas-Israel meletus di Gaza padavOktober 2023, setidaknya 60.000 warga Palestina telah meninggal. Korban juga masih berjatuhan meski telah ada kesepakatan gencatan senjata.

    Sumber: Antaranews.com/IRNA

  • Komite Nasional Administrasi Gaza Mulai Bekerja Meski Ditentang Israel

    Komite Nasional Administrasi Gaza Mulai Bekerja Meski Ditentang Israel

    7cloud.asia – Dr. Ali Shaath resmi memulai tugasnya sebagai ketua Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG), dengan langkah pertama mengesahkan dan menandatangani pernyataan misi lembaga tersebut.

    “Sebagai tindakan resmi pertama saya hari ini, saya mengadopsi dan menandatangani Pernyataan Misi NCAG, yang menegaskan mandat pemerintahan dan prinsip operasional kami,” kata Shaath dalam pernyataan di platform X, Sabtu (17/1/2026) malam waktu setempat..

    Ia menyebut NCAG dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 serta Rencana Perdamaian 20 Poin Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump, dengan mandat mengelola masa transisi Gaza.

    Menurut Shaath, komite itu bertugas menjadikan periode transisi sebagai fondasi bagi kemakmuran Palestina yang berkelanjutan, setelah konflik berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut.

    Ia menambahkan NCAG akan bekerja di bawah arahan Dewan Perdamaian yang diketuai Presiden Trump, serta mendapat dukungan dari Perwakilan Tinggi untuk Gaza.

    “Misi kami adalah membangun kembali Jalur Gaza, tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga dari sisi semangat dan harapan masyarakatnya,” ujar Shaath.

    Baca: Angka kelahiran di Jalur Gaza anjlok

    Dalam pernyataan itu disebutkan NCAG menargetkan pemulihan keamanan, pemulihan layanan dasar seperti listrik, air, kesehatan, dan pendidikan, serta penguatan tata kelola.

    Tata kelola tersebut, menurut Shaath, akan berlandaskan perdamaian, demokrasi, dan keadilan, dengan standar integritas dan transparansi yang tinggi dalam setiap kebijakan.

    Ia juga menegaskan komite akan mendorong terbentuknya ekonomi produktif yang mampu mengurangi pengangguran dan membuka peluang kerja yang lebih luas bagi warga Gaza.

    “Kami memilih jalan damai untuk mengamankan hak-hak Palestina yang sejati dan menentukan masa depan sendiri,” kata Shaath dalam pernyataannya.

    Gedung Putih pada Jumat (16/1/2026) mengumumkan pembentukan komite teknokratis baru untuk mengawasi transisi kekuasaan di Gaza sebagai bagian dari rencana 20 poin Presiden Trump.

    Baca: PBB sebut Gaza alami genosida terkejam dalam sejarah

    Shaath sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri di Otoritas Palestina dan dikenal sebagai figur teknokrat di kalangan pemerintahan Palestina.

    Gedung Putih menggambarkan Shaath sebagai pemimpin teknokratis yang dihormati, dengan tugas memulihkan layanan publik, membangun kembali institusi sipil, dan menstabilkan kehidupan sehari-hari di Gaza.

    Pernyataan itu juga mengumumkan pembentukan Dewan Eksekutif Gaza, yang melibatkan sejumlah tokoh internasional, termasuk Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan utusan khusus AS Steve Witkoff.

    Witkoff sebelumnya mengatakan fase kedua rencana gencatan senjata Gaza telah dimulai, dengan fokus pada demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi wilayah tersebut.

    Sebelumnya, kantor pemimpin otorita Israel menyatakan pengumuman susunan Komite Koordinasi Nasional untuk Tata Kelola Jalur Gaza tidak dikoordinasikan dengan Israel dan bertentangan dengan kebijakan pemerintahannya.

    Baca: Rencana damai tahap kedua di Gaza mulai diberlakukan pada Januari 2026

    “Ini agenda kami, bukan agenda Netanyahu. Dalam beberapa bulan terakhir kami berhasil melakukan banyak hal di Gaza yang sebelumnya dianggap mustahil, dan kami akan terus melangkah,” kata seorang pejabat senior AS kepada Axios.

    Menurut sumber Axios, Netanyahu tidak diajak berkonsultasi mengenai komposisi komite tersebut karena tidak memiliki kewenangan dalam keputusan itu.

    Pejabat tersebut menambahkan, jika Israel menginginkan AS menangani Gaza, maka pendekatannya harus sesuai dengan cara Washington.

    Dia menegaskan, pihaknya sudah bekerja melampaui keberatannya. Biarkan dia fokus pada Iran dan biarkan kami menangani Gaza.

    ” Kami tidak akan berdebat dengannya. Dia akan menjalankan politiknya sendiri dan kami akan terus maju dengan rencana kami. Pada akhirnya, dia tidak bisa benar-benar menentang kami,” ujar pejabat tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-Sputnik-OANA

  • PBB: 11 Anak Meninggal Akibat Kedinginan di Gaza

    PBB: 11 Anak Meninggal Akibat Kedinginan di Gaza

    7cloud.asia – Setidaknya 11 anak Palestina di Jalur Gaza telah meninggal akibat kedinginan sejak awal musim dingin, sementara ribuan warga lainnya masih bertahan di tengah cuaca dingin ekstrem dengan perlindungan yang terbatas.

    Dalam konferensi pers di New York, pada Jumat (30/1/2026), Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Farhan Haq mengatakan berdasarkan laporan staf Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), warga Gaza masih berjuang menghadapi musim dingin.

    Menurut Haq, sejak Oktober tahun lalu, PBB dan para mitra telah mengirim puluhan ribu tenda dan menyediakan tempat berlindung untuk setengah juta lebih penduduk Gaza.

    Namun, ia menekankan bahwa tenda-tenda tersebut memberikan perlindungan yang terbatas, terutama selama musim dingin.

    Haq mengatakan PBB terus mendesak adanya solusi tempat tinggal yang lebih tahan lama untuk mengurangi ketergantungan warga Gaza pada tenda.

    Baca: Komite Nasional Administrasi Gaza mulai bekerja meski ditentang Israel

    PBB juga menekankan perlunya bantuan kemanusiaan dan barang komersial masuk ke wilayah kantong Palestina itu tanpa hambatan dan dalam jumlah lebih besar.

    Selain Gaza, Haq juga menyoroti krisis di wilayah pendudukan Tepi Barat akibat pemutusan aliran listrik dan air oleh otoritas Israel di Yerusalem Timur.

    Ia mendesak Israel mencabut larangan operasional bagi Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dan organisasi internasional lainnya.

    Haq juga menegaskan seluruh mitra bantuan harus diizinkan beroperasi tanpa hambatan di Jalur Gaza maupun Tepi Barat guna menjamin kebutuhan vital warga.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA

  • Presiden Abbas Terima Rancangan Konstitusi Sementara Negara Palestina

    Presiden Abbas Terima Rancangan Konstitusi Sementara Negara Palestina

    7cloud.asia – Presiden Mahmoud Abbas pada Kamis (5/2/2026) telah menerima rancangan Konstitusi Sementara Negara Palestina.

    Rancangan Konstitusi Sementara Negara Palestina itu dipresentasikan selama pertemuan dengan komite penyusun yang dipimpin Muhammad al-Hajj Qasim dan dihadiri oleh para anggotanya.

    Presiden memuji anggota komite atas upaya signifikan mereka dalam menyusun konstitusi sementara Negara Palestina, yang membuka jalan untuk transisi dari otoritas saat ini ke negara yang sepenuhnya telah diakui oleh lebih dari 160 negara.

    Presiden Abbas menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun demokrasi, sebab tanggal pemilihan Dewan Nasional Palestina—baik di dalam maupun di luar negeri— telah ditetapkan.

    Baca: Komite Nasional Administrasi Gaza mulai bekerja meski ditentang Israel

    Demikian pula dengan jadwal konferensi Fatah ke-8 dan pemilihan daerah pada April mendatang. Fatah merupakan salah satu faksi di Palestina.

    Abbas menekankan bahwa pasal-pasal konstitusi, terutama yang berkaitan dengan hak dan kebebasan, melindungi hak-hak warga negara dan memastikan representasi yang efektif bagi perempuan dan pemuda, mencerminkan status mereka dalam masyarakat Palestina.

    Muhammad al-Hajj Qasim mencatat bahwa komite, yang dibentuk berdasarkan dekret presiden, langsung bertugas usai ditunjuk oleh presiden.

    Tugas komite, yang berlangsung sekitar tujuh bulan berturut-turut, mencakup 70 pertemuan di mana komite berkonsultasi dengan berbagai organisasi masyarakat sipil dan pemangku kepentingan terkait.

    Baca: Hamas sebut Palestina tak butuh pasukan asing kecuali untuk menghadang militer Israel

    Ketua komite menyatakan bahwa rancangan konstitusi tersebut melestarikan pluralisme politik dan pemisahan kekuasaan, sekaligus memberdayakan Parlemen untuk menjalankan fungsi pengawasan dan legislatif.

    Presiden Abbas menginstruksikan agar salinan rancangan konstitusi sementara Negara Palestina diserahkan kepada Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) untuk ditinjau, dan kemudian dipublikasikan untuk mendapatkan komentar publik.

    Keputusan mengenai prosedur, mekanisme, dan jangka waktu publikasi akan diinformasikan kemudian.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA

  • Koalisi Sipil Tolak Masuknya Indonesia dalam “Board of Peace“ Karena Dinilai Mengkhianati Rakyat Palestina

    Koalisi Sipil Tolak Masuknya Indonesia dalam “Board of Peace“ Karena Dinilai Mengkhianati Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Koalisi Reformasi Sektor Keamanan mengecam keputusan dan tindakan Presiden Prabowo Subianto yang bergabung dalam Piagam Board of Peace (BOP) yang digagas Presiden AS, Donald Trump.

    Penandatanganan Piagam Dewan Perdamaian dilakukan pada 22 Januari 2026, seusai menghadiri pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos Swiss.

    Piagam yang mengharuskan Indonesia menguras kocek negara sebesar 1 juta dolar atau Rp16,7 triliun, dinilai tidak masuk akal dan sebuah pemborosan saat keuangan Negara sedang tidak baik-baik saja.

    Koalisi yang beranggotakan sejumlah organisasi masyarakat sipil, memaparkan seperti yang disebutkan dalam pasal 1 Piagam itu, BOP merupakan organisasi internasional yang artinya lepas dari PBB.

    Merujuk pada Piagam badan ini, Dewan Perdamaian adalah “sebuah badan internasional yang dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump”.

    Dari sini, nampak bahwa badan ini tidak sesuai dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang mengedepankan prinsip dan nilai demokrasi serta kesetaraan.

    ”Kami menilai posisi Trump sebagai pimpinan Dewan justru membuat Badan ini menjadi sangat otoriter dan tertutup, apalagi Ketua Dewan memiliki peran dan kewenangan yang sangat besar terhadap organisasi,” demikian Koalisi dalam pernyataannya.

    Koalisi mencatat sejumlah masalah subtansi yang diadopsi secara unilateral oleh Trump dalam Dewan Perdamaian ini.

    Baca: Risiko di balik keterlibatan RI di Dewan Perdamaian

    Pertama, BOP diklaim sebagai upaya guna perdamaian dan rekonstruksi Gaza akan tetapi tidak satupun pasal dalam piagamnya secara spesifik menyebutkan soal Palestina dan keterlibatan Palestina dalam soal Gaza.

    Selain itu, tidak terlihat secara nyata dan fakta upaya BOP untuk mengajak Palestina untuk ikut serta dalam rencana perdamaian dan reknstruksi Gaza pasca-perang.

    Kedua, kekuasaan absolut berada dalam satu tangan yang tidak lazim dalam praktik organisasi dan hukum internasional. Peran sentral Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat dan ketua (chairman) menjadikannya figur sentral dari BOP yang tak tergantikan meski ia sudah tidak lagi menjadi presiden (Pasal 3(2)) Piagam BOP.

    Ketiga, keanggotaan organisasi ini ditentukan oleh pembiayaan yang tidak kecil, yaitu 1 juta dolar AS sebagai kontribusi keangotaan permanen.

    Yang cukup disesalkan, Indonesia langsung memilih menjadi anggota permanen, padahal dalam badan ini Indonesia dapat memilih menjadi anggota biasa dengan keanggotaan selama 3 tahun.

    Komitmen Rp16,7 triliun untuk sebuah badan yang tidak jelas aturan mainnya dan didominasi Trump tentu menjadi masalah serius buat kita sebagai sebuah bangsa.

    Ditengah bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi yang serius serta menghadapi berbagai bencana ekologi yang membutuhkan dana besar, pemerintah dengan mudahnya berkomitmen pada badan yang tidak jelas bentuknya dan aturan mainnya itu.

    Koalisi memandang keikutsertaan Indonesia dalam BOP justru mengaburkan dukungannya atas kemerdekaan Palestina yag telah menjadi sikap sejak Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945.

    Baca: Sejumlah negara menolak bergabung dalam Dewan Perdamaian buatan Trump

    Ketidakjelasan kerangka perdamaian oleh Presiden Trump melalui BOP ini justeru merupakan bentuk penjajahan melalui hegemoni AS terhadap Palestina serta berlawanan terhadap sejumlah resolusi-resolusi yang telah diadopsi PBB berkait dengan pendudukan Israel di Palestina.

    Sebaliknya, BOP memberikan kepercayaan diri kepada Israel untuk tidak mendukung berdirinya sebuah Palestina yang merdeka dan berdaulat. Dengan kata lain, keberadaan Indonesia dalam BOP justeru memunggungi kontitusi khususnya Alinea Pertama Pembukaan UUD 1945.

    Koalisi memandang seharusnya sikap Indonesia mendukung ICC (international Criminal of Court) yang telah menetapkan Netanyahu sebagai penjahat perang untuk dapat di adili dalam peradilan internasional dan bukan malah bergabung dalam BOP.

    Setidaknya, 70.000 ribu warga Palestina meninggal akibat serangan Israel ke Palestina atas perintah Netanyahu.

    Dalam konteks itu, bergabungnya Indonesia dalam BOP telah melupakan kejahatan perang dan kemanusiaan yang di lakukan Netanyahu sehingga Indonesia secara perlahan tapi pasti masuk dalam jebakan Trump dan Netanyahu.

    Koalisi menolak penggunaan APBN Indonesia untuk berkontribusi dalam BOP yang belum secara jelas membeberkan perdamaian dan rekonstruski di Gaza.

    ”Biaya 1 juta dolar tersebut sebaiknya dipergunakan untuk menaikan taraf hidup rakyat Indonesia khususnya dalam bidang Pendidikan, Kesehatan dan membuka lapangan pekerjaan baru,” imbuh pernyataan tersebut.

    Koalisi mendesak DPR untuk menolak usulan pemerintah jika penandatangan keterikatan Indonesia dalam BOP tersebut dimintakan persetujuan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagaimana diatur dalam Pasal 11(2) UUD 1945.

    Tanpa persetujuan DPR atau ratifikasi secara resmi melalui mekanisme hukum domestik maka dapat diartikan BOP tidak menciptakan kewajiban hukum serta tidak memiliki dampak bagi politik dalam negeri dan hukum nasional.

  • Israel Halangi Komite Administrasi Independen Masuk ke Gaza: Upaya Perdamaian Terancam

    Israel Halangi Komite Administrasi Independen Masuk ke Gaza: Upaya Perdamaian Terancam

    7cloud.asia – Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) pada Sabtu (7/2/2026) mendesak masyarakat internasional untuk menekan Israel agar mengizinkan komite administratif independen Palestina beroperasi di Jalur Gaza.

    Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan bahwa kegagalan komunitas internasional, mediator, dan Amerika Serikat dalam membuat komite itu masuk ke Gaza telah meruntuhkan kepercayaan terhadap upaya-upaya untuk mencapai perdamaian di Gaza.

    Komite administratif independen Palestina ini sebelumnya juga diharapkan dapat membentuk dewan pemerintahan guna menstabilkan daerah kantong tersebut.

    Baca: Komite Nasional Administrasi Gaza mulai bekerja meski ditentang Israel

    Qassem mendesak semua pihak untuk “membuktikan kredibilitas klaim mereka melalui langkah-langkah praktis,” yang dimulai dengan mengizinkan komite itu beroperasi di Gaza dan memastikan keberhasilan mandatnya pada tahap berikutnya.

    Qassem menambahkan bahwa pembicaraan gencatan senjata “tidak ada artinya” jika Israel terus melanjutkan operasi militer di seluruh Jalur Gaza. Dia menuding pemerintah Israel mengabaikan kesepakatan sebelumnya.

    Badan administratif tersebut, yang merupakan komite teknokratis pimpinan Ali Shaath, seorang engineer veteran sekaligus mantan wakil menteri perencanaan di Otoritas Palestina.

    Baca: Rencana perdamaian tahap 2 di Gaza mulai diberlakukan pada Januari 2026

    Komite ini dibentuk pada pertengahan Januari lalu oleh Mesir, Qatar, dan Turkiye untuk mengelola Gaza selama periode transisi.

    Gencatan senjata saat ini, yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, pada awalnya difokuskan untuk pertukaran tahanan dan bantuan kemanusiaan.

    Sebuah usulan dari tahap kedua rencana perdamaian tersebut menyerukan penarikan penuh militer Israel, pelucutan senjata Hamas, dan dimulainya rekonstruksi di bawah otoritas pemerintahan transisi.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • 80 Negara Kutuk Aksi Israel Perluas Permukiman di Tepi Barat

    80 Negara Kutuk Aksi Israel Perluas Permukiman di Tepi Barat

    7cloud.asia – Sebanyak 80 negara dan organisasi internasional mengutuk keputusan dan langkah sepihak Israel yang terus memperluas permukiman ilegal di wilayah pendudukan Tepi Barat.

    Dalam pernyataan yang disampaikan dalam konferensi pers di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (17/2/2026) waktu setempat, Pengamat Tetap Negara Palestina untuk PBB Riyad Mansour mengatakan langkah Israel ini harus segera dibatalkan.

    Kelompok itu menilai bahwa keputusan Israel tersebut bertentangan dengan kewajiban Israel berdasarkan hukum internasional.

    Baca: Ada upaya sistematis Israel lemahkan reproduksi rakyat Palestina

    Mereka juga menyampaikan sikap penolakan keras terhadap segala bentuk aneksasi Israel ke wilayah Palestina.

    Pernyataan itu menegaskan penolakan terhadap segala langkah yang bertujuan mengubah komposisi demografis, karakter, dan status hukum wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak 1967, termasuk Yerusalem Timur.

    Disebutkan pula bahwa tindakan Israel itu melanggar hukum internasional, merusak upaya perdamaian dan stabilitas kawasan, serta mengancam prospek perjanjian damai final.

    Baca: UNRWA tuding Israel ingin “lenyapkan” Badan Pengungsi Palestina

    Negara-negara itu kembali menegaskan komitmen, seperti yang tercantum dalam Deklarasi New York, untuk mengambil langkah konkret sesuai hukum internasional, resolusi PBB, serta opini penasihat (advisory opinion) yang dikeluarkan Mahkamah Internasional pada 19 Juli 2024.

    Hal tersebut dilakukan guna mendukung hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri serta merespons kebijakan pemukiman, ancaman pengusiran paksa, dan aneksasi di wilayah pendudukan, termasuk Yerusalem Timur.

    Mereka menekankan bahwa perdamaian adil dan langgeng melalui Solusi Dua Negara, berdasarkan resolusi PBB dan Prinsip Tanah untuk Perdamaian, tetap menjadi satu-satunya jalan yang menjamin keamanan dan stabilitas kawasan.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA

  • Angkatan Laut Israel Hadang Global Sumud Flotilla di Perairan Internasional

    Angkatan Laut Israel Hadang Global Sumud Flotilla di Perairan Internasional

    ruangkotacom – Delapan hari setelah memulai pelayarannya, kapal-kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla mulai menghadapi halangan.

    Kru kapal Greenpeace Internasional Arctic Sunrise melaporkan bahwa pasukan militer Israel menaiki dan mengganggu pelayaran kapal-kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla di perairan internasional, 45 mil laut barat Pulau Kythira, Yunani, dan 600 mil laut dari Gaza.

    Kapal Global Sumud Flotilla menerima peringatan radio pada 18.43 UTC (21.43 waktu setempat atau 01.43 WIB) di saluran internasional umum (16).

    Pengirim pesan mengidentifikasi diri mereka sebagai Angkatan Laut Israel dan memaksa flotilla untuk mengubah arah pelayarannya.

    Mereka juga mengganggu saluran komunikasi yang dapat membahayakan armada kapal di perairan lepas. Gangguan komunikasi terjadi pada saluran komunikasi SOS darurat maritim VHF, saluran VHF untuk koordinasi flotilla, Sistem Satelit Navigasi Global (GNSS), dan sistem komunikasi Iridium band.

    ”Pada pukul 03:47 UTC (10.47 WIB), kami mengonfirmasi beberapa kapal flotilla telah dinaiki secara ilegal oleh pasukan Israel dan sejak itu kehilangan kontak,” demikian Greenpeace Indonesia dalam pernyataan tertulis yang dirilis di laman resminya.

    Global Sumud Flotilla adalah gerakan internasional aksi tanpa kekerasan dan terkoordinasi yang berlayar untuk menghentikan blokade ilegal Israel atas Gaza, melawan keterlibatan berbagai pihak yang memungkinkan penjajahan, dan bersolidaritas dengan warga Palestina.

    Bersama Arctic Sunrise, Greenpeace memberikan dukungan logistik bagi kapal-kapal flotilla.

    Greenpeace menyerukan semua pemerintahan di dunia untuk segera mengambil sikap untuk menegakkan hukum internasional dan memastikan perlindungan bagi Global Sumud Flotilla dengan langkah konkret untuk memastikan pelayaran yang aman untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Pujarini Sen, Kepala Proyek yang ikut berlayar di kapal Arctic Sunrise mengatakan, Greenpeace bersolidaritas dengan warga Gaza dan individu-individu pemberani yang mempertaruhkan kebebasan dan keselamatan mereka, yang ada dalam flotilla.

    ”Bantuan kemanusiaan harus dihormati dan lindungi setiap saat dan dengan segala cara,” tandasnya.

    “Kami kembali memanggil para pemimpin dunia untuk segera mengambil langkah konkret di tengah genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Gaza. Kegagalan mereka untuk menegakkan hukum internasional membuat mereka bertanggung jawab atas perbuatan Israel.

    Pemerintah Israel terus melakukan blokade darat dan laut untuk bantuan dan makanan dari organisasi internasional. Memblokade bantuan dan melakukan serangan yang ditargetkan kepada pembawa bantuan tersebut adalah pelanggaran hukum humaniter internasional.”

    Arctic Sunrise berangkat dari Barcelona untuk bergabung dalam aksi perlawanan sipil tanpa kekerasan yang bersejarah.

    Pujarini mengatakan, pihaknya merasa terhormat untuk menjawab seruan solidaritas global dari rakyat di Gaza, yang terus menanggung pengepungan ilegal Israel yang secara sistematis menghalangi pasokan makanan dan bantuan medis yang esensial.

    Meskipun berita utama global telah meredup, genosida terus berlanjut. Sebagai tanggapan, Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah gerakan perlawanan sipil di laut yang terdiri dari 70 kapal, berlayar untuk menantang pembatasan ini dan membuka rute maritim bagi pasokan penyelamat nyawa.

    Greenpeace turut serta dalam peran pendukung, dengan mengerahkan keahlian maritim kami selama puluhan tahun untuk mendukung misi ini.

    Kapal Greenpeace & Kru, Arctic Sunrise, akan memberikan dukungan teknis dan operasional yang sangat penting bagi armada ini agar dapat melintasi Laut Mediterania dengan aman.

    Ini bukanlah protes simbolis, melainkan intervensi sipil langsung untuk mengantarkan dokter, perawat, dan bantuan agar dapat bekerja bersama rakyat Palestina saat mereka membangun kembali sistem kesehatan dan infrastruktur yang hancur selama dua setengah tahun terakhir.

    Dari Kutub Utara hingga Laut Mediterania, kapal-kapal Greenpeace selalu menjadi alat keadilan. Kami bersolidaritas menentang kejahatan perang, kelaparan yang disengaja, dan ekosida.

    Misi kami adalah memastikan 70 kapal yang berlayar mencapai tahap akhir perjalanan mereka sehingga mereka dapat menuntut akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan ke pantai Gaza.

    “Kami berdiri bersama Global Sumud Flotilla dalam menyerukan kepada pemerintah untuk mengakhiri kebisuan mereka dan menegakkan hukum internasional,“ demikian Pujarini memungkasi pernyataannya.

  • BRICS Mendesak Penarikan Tentara Israel dari Palestina

    BRICS Mendesak Penarikan Tentara Israel dari Palestina

    7cloud.asia – Para menteri luar negeri (menlu) negara-negara anggota BRICS mendesak gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Jalur Gaza.

    Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan usai pertemuan setingkat menlu di New Delhi, India, Jumat (15/5/2026) BRICS juga mendesak penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Palestina

    “Para menteri BRICS mendesak para pihak untuk memiliki itikad baik dalam negosiasi lebih lanjut guna mencapai gencatan senjata segera, permanen, dan tanpa syarat, serta penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza dan semua bagian lain dari wilayah Palestina yang diduduki,” bunyi pernyataan tersebut.

    Para menteri itu juga menyerukan pembebasan terhadap semua sandera dan penyediaan akses berkelanjutan dan tanpa hambatan untuk pengiriman bantuan kemanusiaan.

    Sejak dimulainya konflik antara Hamas dan Israel pada 7 Oktober 2023, lebih dari 70.000 warga Palestina meninggal dunia dan lebih dari 170.000 terluka.

    Otoritas Israel melaporkan setidaknya 1.200 warga Yahudi tewas dalam perang tersebut.

    Perkiraan regional dan internasional menunjukkan bahwa pembangunan kembali wilayah kantong yang hampir hancur total itu akan memakan waktu sekitar 10 tahun dan memerlukan dana sekitar 70 miliar dolar AS (sekitar Rp1,2 kuadriliun).

    Sumber: Antaranewscom/Sputnik-RIA Novosti