Tag: lingkungan

  • Risiko Lingkungan Mengancam di Balik Manfaat Alat Penyaring Udara

    Risiko Lingkungan Mengancam di Balik Manfaat Alat Penyaring Udara

    7cloud.asia – Dalam sebuah pameran alat-alat elektronik di Las Vegas, Amerika Serikat baru-baru ini, produk yang menjamin kualitas udara atau penyaring udara menjadi tren bagi konsumen.

    Sebagian besar produsen di pameran itu memiliki beragam produk penyaring udara.

    Banyak juga perusahaan start-up yang menawarkan varian baru produk penyaring udara. Termasuk robot yang berkeliaran di sekitar rumah Anda dan perangkat aneh yang terinspirasi alam yang meniupkan udara di atas daun pada tanaman hias.

    Mereka yang tinggal di Eropa, mungkin dengan mudah menyimpulkan bahwa perangkat penyaring udara ini tidak akan populer.

    Tapi penilaian ini tidak sepenuhnya benar, karena jumlah pengguna alat penyaring udara ini terus berkembang di Asia dan sekitarnya.

    Perangkat ini dijual karena orang menginginkannya, dan pasarnya bisa bernilai lebih dari USD 30 miliar atau sekitar Rp 424 triliun per tahun pada 2023.

    Dalam beberapa hal, penyaring udara dalam ruangan adalah teknologi yang memberdayakan individu.

    Baca Juga: Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    Di rumah yang tertutup rapat, penyaring udara jelas mengurangi konsentrasi partikel-partikel kecil yang berbahaya, terutama jika rumah tersebut berada di suatu tempat tinggi polusi, seperti pusat kota Beijing, Cina atau Delhi, India.

    Bukti bahwa alat penyaring udara dapat menghilangkan gas berbahaya di dalam ruangan, termasuk senyawa organik yang mudah menguap dari cat dan lem masih dipertanyakan.

    Beberapa alat penyaring udara membuat gas menempel pada penyaring yang terbuat dari arang, tetapi sedikit data yang menunjukkan bahwa ini benar-benar efektif.

    Terdapat juga alat penyaring udara lain yang menggunakan radiasi UV untuk mempercepat reaksi kimia yang mengubah gas berbahasa tersebut menjadi karbon dioksida dan air.

    Namun, produsen belum menerbitkan data yang menjamin bahwa proses ini tidak mengubah senyawa yang relatif jinak menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

    Penyaringan udara luar sejauh ini terbukti tidak efektif, karena atmosfer kita sangat luas dibanding ukuran sistem penyaringan. Namun, di dalam ruangan, keseimbangan bergeser.

    Baca Juga: Dampak Polusi Udara Jakarta pada Kesehatan Fisik dan Mental

    Rumah memiliki volume udara yang diukur dalam ratusan hingga beberapa ribu meter kubik, dan jika ada angin masuk dari luar, udara dalam ruangan ditukar dengan udara luar mungkin sekali per jam.

    Namun biaya penyaringan mungkin lebih besar daripada yang seharusnya. Sebagian besar pembersih udara menggunakan membran selulosa atau polimer yang diganti setiap bulan.

    Penggantian ini sering menjadi bagian dari pelayanan reguler dari produk penyaring udara yang ditawarkan.

    Udara didorong melalui filter dengan kipas dan pompa yang menggunakan energi sebesar antara 100 watt (setara dengan bola lampu yang sangat terang) hingga 1.000 watt (microwave), tergantung pada ukuran pembersih udara dan rumah.

    Dalam hal ini, kualitas udara yang buruk kemudian berdampak pada iklim karena meningkatkan kebutuhan listrik di rumah dan kota, dan tentu saja tagihan listrik pengguna langsung menambah.

    Tuntutan daya penyaring udara tidak sebesar pendingin udara, tetapi berpotensi berjalan 365 hari dalam setahun, tidak hanya di musim panas.

    Baca Juga: MA Menangkan Gugatan Warga Soal Polusi Udara, Pemerintah Diminta Segera Lakukan Pencegahan

    Jika Anda menambah 500 watt ke jutaan rumah yang sudah melakukannya, ini menjadi masalah besar.

    Pengumpulan zat kimia
    Lalu ada masalah besar yang belum dibahas. Apa yang terjadi pada jutaan filter partikel mikrofiber yang penuh karbon aktif? Saya mengajukan pertanyaan itu lebih dari dua puluh kali di Las Vegas dan jawabannya selalu sama–Anda membuangnya ke tempat sampah.

    Haruskah kita peduli? Mungkin saja. Filter di rumah yang menyaring partikel akhirnya mengumpulkan beberapa bahan kimia beracun yang ada di udara luar–logam berat, senyawa aromatik dari kayu bakar dan batu bara, unsur nitrosamin dari asap rokok, dan lainnya.

    Sebuah filter mungkin menyaring ribuan miligram (dan mungkin lebih) senyawa kimia yang awalnya ada di udara pada konsentrasi yang sangat cair dan yang sebelumnya mungkin berada pada lapisan yang sangat tipis di area yang luas.

    Jika ratusan juta filter dari jutaan rumah kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir yang sama, kita hanya menggandakan masalah. Apakah kita hanya memindahkan masalah dari udara ke tanah dan air?

    Tidak jelas apakah hal ini atau konsekuensi naiknya permintaan daya listrik jika ratusan juta orang mulai menyaring udara di rumah masing-masing pernah dipikirkan dengan jernih.

    Baca Juga: Di TPS di Jakarta Selatan Ini, Waktu Membuang Sampah Dibatasi Pukul 05:00-09:30 WIB Saja

    Ada beberapa kesimpulan yang bisa ditarik, yang paling mengejutkan adalah ada peluang bisnis dalam setiap krisis. Tetapi solusi khusus ini datang dengan biaya yang belum dihitung dengan baik.

    Pastinya, penyaring udara menambah permintaan listrik, hal tersebut membutuhkan bahan baku dan sumber daya untuk membangun, memelihara, serta menyokongnya.

    Dan, itu mungkin menciptakan masalah pembuangan limbah kimia yang belum kita evaluasi.

    Semua ini memperkuat prinsip ilmiah bahwa lebih baik menghentikan polusi pada sumbernya daripada mencoba untuk membersihkan sesudahnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

  • Aktivis Lingkungan Daniel Frits Bebas, Iluni UI Sebut Sebagai Kemenangan Hati Nurani atas Penindasan.

    Aktivis Lingkungan Daniel Frits Bebas, Iluni UI Sebut Sebagai Kemenangan Hati Nurani atas Penindasan.

    7cloud.asia – Pengadilan Tinggi Semarang memutus bebas aktivis lingkungan Karimunjawa, Daniel Frits Maurits Tangkilisan. Tim advokasi Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) mengapresiasi putusan tersebut.

    Dalam amar putusan yang diterima kuasa hukum Daniel, pada Selasa (21/05/2024) tersebut, majelis hakim mempertimbangkan Daniel sebagai pejuang hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.  

    Putusan ini disambut gembira oleh Daniel dan tim kuasa hukumnya, tim advokasi Iluni UI.

    Dalam konferensi pers yang digelar tim advokasi Iluni UI pada Selasa malam, mereka menilai putusan ini merupakan satu langkah maju bagi pejuang lingkungan.

    Selain itu, putusan bebas Daniel tidak hanya menjadi preseden positif bagi sistem hukum di Indonesia.

    Baca: Vonis bersalah terhadap Daniel dinilai sebagai preseden buruk bagi aktivis lingkungan

    Tetapi juga memberdayakan berbagai elemen masyarakat yang masih berjuang melawan operasi tambak udang ilegal yang masif di Kawasan Konservasi Karimunjawa.

    “Lepasnya Daniel Tangkilisan merupakan kemenangan penting bagi hati nurani atas penindasan. Perjuangan hukumnya, yang penuh dengan carut marut upaya pembungkaman advokasi terhadap lingkungan, menekankan perlunya upaya terus-menerus untuk memulihkan lingkungan Karimunjawa dan menegakkan keadilan bagi komunitas yang terdampak,” jelas Gita Paulina, salah satu tim advokasi Iluni UI.

    Sementara itu, Sekjen Iluni UI, Ahmad Fitriyanto juga bersyukur dengan putusan bebas Pengadilan Tinggi Semarang terhadap Daniel. Dia berharap kasus serupa tak terjadi kembali.

    Baca: Selama 10 tahun pemerintahan Jokowi, 5 orang aktivis lingkungan dipenjara

    “Iluni UI berharap kasus ini yang terakhir. Tidak ada lagi anak-anak bangsa yang mendapatkan kriminalisasi, apalagi dari korporasi,” kata Ahmad.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Jepara menjatuhkan vonis 7 bulan penjara terhadap terdakwa aktivis lingkungan Karimunjawa, Daniel Frits Maurits Tangkilisan.

    Putusan ini dibacakan oleh majelis hakim yang dipimpin oleh Parlin Mangatas Bona Tua di Pengadilan Negeri Kabupaten Jepara, Jawa Tengah  pada Kamis (04/04/2024).

    “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama tujuh bulan dan denda sejumlah Rp5 juta rupiah, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan,” kata Parlin seperti yang dilansir BBC Indonesia.

    Baca: Aktivis lingkungan, Daniel Frits divonis 7 bulan penjara

    Dalam amar putusannya majelis hakim menyatakan Daniel terbukti secarah sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian terhadap kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA).

    Majelis hakim juga menyatakan beberapa halyang memberatkan adalah  perbuatan terdakwa menimbulkan keresahan bagi beberapa orang masyarakat Karimunjawa.

  • Butuh Standar Baru agar Atap Hijau Menjadi Norma Baru dalam Pembangunan Kota

    Butuh Standar Baru agar Atap Hijau Menjadi Norma Baru dalam Pembangunan Kota

    7cloud.asia – Atap yang ditutupi rumput dan taman penuh tumbuhan kini menjadi pemandangan umum di banyak kota di dunia.

    Semakin banyak perusahaan swasta dan pemerintah kota menghijaukan atap karena tertarik pada beragam manfaat atap hijau ini.

    Sebuah laporan baru di Inggris menunjukkan bahwa pasar atap hijau meningkat 17 persen setiap tahun.

    Sejumlah kota di Amerika Serikat dan Kanada memiliki kebijakan serupa sejak 1990-an, mendorong pembangunan pertanian urban di atap.

    Negara-negara ini diuntungkan karena memiliki bangunan yang lebih baru sehingga memudahkan pemasangan atap hijau.

    Atap yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tepat di atasnya adalah syarat penting untuk merawat tanaman pada atap hijau – terutama pada tanaman pangan seperti buah dan sayuran.

    Baca Juga: Urban Farming Ternyata Dapat Dilakukan di Perkantoran

    Lebih mudah untuk menghadirkan kemampuan ini pada gedung yang lebih baru, yang bisa menahan berat lebih besar, dibanding merenovasi gedung lama.

    Atap yang kuat juga memudahkan dalam menumbuhkan lebih banyak variasi tanaman karena tanahnya bisa lebih tebal.

    Butuh Standar baru?
    Agar atap hijau menjadi norma baru dalam pembangunan baru, perlu ada dukungan dari otoritas publik dan sektor swasta.

    Pihak yang bertanggung jawab merawat gedung mungkin perlu belajar keahlian baru seperti perawatan halaman dan dalam beberapa kasus perlu bantuan sukarelawan.

    Pertimbangan lain termasuk memasang jalur pembuangan air, memenuhi syarat kesehatan dan keamanan, dan mungkin membuka akses ke publik.

    Dan tidak ketinggalan juga merencanakan pembatasan dan gangguan aktivitas rutin di dalam dan sekitar gedung selama pemasangan.

    Baca Juga: Mengenal Konsep Desain Biofilik: Menghadirkan Alam ke Dalam Lingkungan Binaan

    Untuk meyakinkan investor dan pengembang bahwa atap hijau itu penting, perlu ada argumen ekonomi.

    Istilah “modal natural” telah dikembangkan untuk menjelaskan nilai ekonomi alam dari pengembangan atap hijau ini,

    Misalnya menghitung uang yang dihemat dengan menggunakan solusi alami untuk melindungi dari banjir, beradaptasi dengan perubahan iklim, atau membantu orang hidup lebih sehat dan bahagia.

    Seiring tumbuhnya keahlian tentang atap hijau, standar resmi telah dikembangkan untuk memastikan atap hijau dirancang, dibangun, dan dirawat dengan benar dan berfungsi baik.

    Kemajuan ilmu dan teknologi dibalik perkembangan atap hijau juga telah memunculkan variasi-variasi baru.

    Baca Juga: Tantangan Menerapkan Infrastruktur Ramah Lingkungan dalam Perencanaan Kota

    Misalnya, “atap biru” meningkatkan kemampuan bangunan untuk menyimpan air dalam waktu yang lebih lama, alih-alih langsung membuangnya – penting ketika terjadi musim hujan.

    Ada juga gabungan antara atap hijau dan panel surya dan “atap cokelat” yang mengakomodasi flora dan fauna yang lebih liar dan memaksimalkan keragaman hayati.

    Jika tren ini berlanjut, ini dapat menciptakan pekerjaan baru dan ekonomi pangan lokal yang lebih hidup dan berkelanjutan – di antara banyak keuntungan lainnya.

    Meski demikian masih ada hambatan untuk diatasi dalam pengembangan atap hijau ini.

    Tapi bukti-bukti yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa atap hijau memiliki potensi untuk mengubah kota dan membantu kota berjalan berkelanjutan jauh di masa depan.

    Kisah-kisah keberhasilan perlu dipelajari dan ditiru di tempat lain, untuk menghadirkan atap hijau, biru, cokelat dan pangan sebagai norma baru di kota-kota di seluruh dunia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
    Michael Hardman (Senior Lecturer in Urban Geography, University of Salford) dan Nick Davies (Research Fellow, University of Salford)

  • Atap Hijau Penuh Tumbuhan Makin Diminati, Ini Manfaatnya untuk Lingkungan

    Atap Hijau Penuh Tumbuhan Makin Diminati, Ini Manfaatnya untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Atap yang ditutupi rumput dan taman penuh tumbuhan atau atap hijau kini menjadi pemandangan umum di banyak kota di dunia.

    Semakin banyak perusahaan swasta dan pemerintah kota menghijaukan atap karena tertarik pada beragam manfaatnya.

    Manfaat atap hijau, antara lain termasuk hemat biaya energi, mengurangi risiko banjir, menciptakan habitat flora dan fauna urban, mengatasi polusi udara dan panas yang dihasilkan kota, dan bahkan menghasilkan pangan.

    Sebuah laporan baru di Inggris menunjukkan bahwa pasar atap hijau meningkat hingga 17 persen setiap tahun.

    Lahan pertanian atap terbesar di dunia diluncurkan di Paris pada 2020, mengalahkan rencana serupa di New York City dan Chicago.

    Kota Stuttgart di Jerman disebut-sebut sebagai “ibu kota atap hijau Eropa”, sementara Singapura bahkan memasang atap hijau di atas bus.

    Baca Juga: Green Building atau Bangunan Ramah Lingkungan, Langkah Strategis untuk Antisipasi Pemanasan Global

    Rancangan perkotaan yang semakin radikal dapat membantu kota-kota mengatasi tantangan besar yang mereka hadapi, di antara akses pada sumber daya dan kurangnya ruang hijau akibat pembangunan.

    Dukungan dari pemerintah kota, pebisnis dan institusi lain penting untuk kesuksesan rancangan ini – demikian juga penelitian yang menyelidiki opsi-opsi berbeda untuk memenuhi bermacam ruang atap di kota-kota.

    Tren yang berkembang
    Inggris termasuk baru dalam hal pengembangan atap hijau, dan pemerintah dan institusi di sana berperan penting dalam menyebarkan upaya ini.

    London adalah tuan rumah sebagian besar pasar atap hijau di Inggris, terutama karena ada kebijakan berpandangan jauh ke depan seperti 2008 London Plan yang akan menambah jumlah area atap hijau di sana lebih dari dua kali lipat.

    London menjadi pionir, kini ada laboratorium hidup di universitas-universitas di Sheffield dan Salford yang membantu menerapkan upaya ini di tempat lain.

    Baca Juga: Urban Farming Ternyata Dapat Dilakukan di Perkantoran

    Proyek IGNITION – dipimpin oleh Otoritas Gabungan Manchester Raya – melibatkan pembangunan laboratorium hidup di Universitas Salford, dengan target menemukan cara-cara untuk meyakinkan pengembang dan investor untuk mengadopsi atap hijau.

    Penelitian yang sedang berlangsung menunjukkan bagaimana atap hijau bisa disatukan dengan dinding hidup dan sistem drainase berkelanjutan di permukaan tanah, seperti pohon di jalan,

    Penelitian juga menunjukkan nilai sosial atap hijau. Semakin banyak dokter menyarankan berkebun di luar ruang untuk pasien yang mengalami gangguan kecemasan dan depresi.

    Dan penelitian telah menemukan bahwa akses pada ruang hijau dapat menyediakan kualitas hidup yang lebih baik bagi penderita pikun dan membantu mencegah obesitas.

    Di Amerika Serikat, atap hijau sudah menjadi arus utama, dengan berbagai atap luas, mudah diakses dan menghasilkan pangan dipasang di bangunan.

    Baca Juga: Mengenal Konsep Desain Biofilik: Menghadirkan Alam ke Dalam Lingkungan Binaan

    Lagi-lagi, pemimpin kota dan otoritas mendorong gerakan ini – baru-baru ini San Francisco mengeluarkan kebijakan mewajibkan bangunan baru memiliki atap hijau. Toronto memiliki kebijakan serupa sejak 1990-an, mendorong pembangunan pertanian urban di atap.

    Negara-negara ini diuntungkan karena memiliki bangunan yang lebih baru sehingga memudahkan pemasangan atap hijau.

    Atap yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tepat di atasnya adalah syarat penting untuk merawat tanaman pada atap hijau – terutama pada tanaman pangan seperti buah dan sayuran.

    Lebih mudah untuk menghadirkan kemampuan ini pada gedung yang lebih baru, yang bisa menahan berat lebih besar, dibanding merenovasi gedung lama.

    Atap yang kuat juga memudahkan dalam menumbuhkan lebih banyak variasi tanaman karena tanahnya bisa lebih tebal.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Michael Hardman (Senior Lecturer in Urban Geography, University of Salford) dan Nick Davies (Research Fellow, University of Salford)

  • Berdampak pada Kesehatan Warga Palu-Donggala, Tambang Batu dan Pasir untuk Pembangunan IKN Diprotes

    Berdampak pada Kesehatan Warga Palu-Donggala, Tambang Batu dan Pasir untuk Pembangunan IKN Diprotes

    7cloud.asia – Warga Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, pada Selasa (21/5/2024), menggelar aksi memprotes penambangan batu di wilayahnya yang dilakukan tanpa mengindahkan dampak lingkungan.

    Di tengah kepungan debu tebal dan lalu lalang truk-truk besar pengangkut batu dan pasir, sejumlah warga Palu-Donggala gelar Aksi Pembagian Masker di sekitar Sungai Nggolo, Kelurahan Buluri, Kota Palu,

    Dalam aksi ini, warga Palu-Donggala didampingi aktivis organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Petisi Palu-Donggala.

    Aksi itu sekaligus bentuk protes terhadap dampak aktivitas tambang batu dan pasir di wilayah itu. Hasil tambang itu dikirimkan untuk pembangunan Ibukota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

    Arman Seli, Wakil Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Pembagian Masker sekaligus warga Kelurahan Buluri, mengatakan bahwa persoalan debu hitam akibat tambang itu sudah cukup lama menjadi keluhan warga setempat.

    Baca: Pembangunan IKN mengancam keanekaragaman hayati Kalimantan

    Arman menambahkan, karena sudah lama dan dampak negatif debu tambang sudah terlihat ke kesehatan warga, terutama bayi dan lansia, maka warga mulai gerak dan bersuara.

    “Saya juga membuat petisi online untuk mendesak pemerintah setempat menertibkan perusahaan galian C di Palu dan Donggala yang melanggar aturan lingkungan hidup,” kata Arman dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia.

    Petisi yang dapat diakses di www.change.org/petisipaludonggala itu, kata Arman, juga merupakan suara sebagian besar warga yang berada di sekitar pertambangan.

    Selanjutnya petisi itu juga didukung oleh sejumlah organisasi masyarakat sipil dan individu-individu yang terpanggil.

    Arman mengaku merasa terbantu dengan dukungan yang diberikan sejumlah organisasi lingkungan.

    Baca: Pembangunan IKN dinilai mengabaikan hak masyarakat adat 

    Jatam Sulteng, Walhi Sulteng, YTM, KOMIU,Himasos, Ekonesia, SP Palu, WeSpeakUp.org, Senat Mahasiswa UIN, Datokarama Palu, dan masih banyak lainnya memang mengadvokasi warga.

    Untuk aksi awal, kami sepakat untuk memulai aksi dengan membagikan masker dan membentangkan poster protes di jalan-jalan yang dilewati truk-truk pengangkut batu dan pasir,” ungkap Arman.

    Saat ini, berdasarkan data dari Puskesmas Anuntodea Tipo sejak tahun 2023-2034, ada lebih dari 700 orang menderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

    Dengan banyaknya warga lingkar tambang yang menderita ISPA, Arman meminta pemerintah, dalam hal ini Gubernur Sulawesi Tengah dan Walikota Palu memberi perhatian serius dan mengambil langkah-langkah konkret.

    ”Misalnya dengan menyediakan klinik kesehatan gratis dan memberi sanksi kepada perusahaan tambang yang tidak tertib dalam pengelolaan sumber daya alam,” lanjut Arman.

    Baca: Penegakan HAM di IKN dipertanyakan 

    Arman berharap ke depannya, selain mengatasi masalah debu, pemerintah juga harus memastikan mata air di sekitar tambang galian C tetap terjaga dengan baik.

    Apalagi saat ini sedang berlangsung Water World Forum 2024 di Bali, yang digelar untuk mencari solusi atasi krisis air dan melindungi sumber mata air dari kegiatan yang merusak.

    Sementara itu, Fitri S. Pairunan, Ketua Solidaritas Perempuan (SP) Palu mengatakan, pembangunan IKN yang menjadikan Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah penyangga untuk kebutuhan material, adalah pembangunan berwatak patriarki.

    Karena pembangunan ini juga mengeksploitasi sumber- sumber kehidupan perempuan di Buluri.

    Tambang Galian C di Sulteng ini, ujarnya, sudah mengorbankan kepentingan hidup perempuan dan menghancurkan kearifan, tradisi dan budaya perempuan.

    Baca: Sengkarut masyarakat adat di IKN

    Aktivitas perusahaan juga menghilangkan sumber ekonomi perempuan yang sebagai pemecah batu.

    “Kini aktivitas tersebut telah dirampas oleh teknologi-teknologi dan sistem dari perusahaan yang meminggirkan perempuan,” terang Fitri.

    Dalam situasi lainnya, sambung Fitri, aktivitas pertambangan sangat berdampak pada kesehatan perempuan, anak, balita dan lansia yang harus menghirup debu setiap harinya.

    Aktivitas penambangan juga mengancam kesehatan reproduksi perempuan, karena mencemari sumber air bersih yang menjadi tumpuan masyarakat.

    “Hal yang tidak terlihat adalah pengabaian nilai pengetahuan dan pengalaman serta posisi perempuan dalam mengolah dan menjaga alamnya melalui berbagai tradisi upacara-upacara adat, termasuk peran dalam pengelolaan pangan dan pengetahuan pengobatan,” tandas Fitri.

    Baca: Proyek Strategis Nasional jadi ajang korupsi

     

  • Isu Lingkungan Mampu Pulihkan Trauma Korban Konflik Poso

    Isu Lingkungan Mampu Pulihkan Trauma Korban Konflik Poso

    7cloud.asia – Dalam acara Global Conference on Women’s Rights in Islam (GCWRI) yang berlangsung pada 14 – 16 Mei 2024 lalu, hadir tiga aktivis perempuan yang berkiprah dalam pendampingan masyarakat, yaitu Dewi Candraningrum, Thoatillah Jafar, dan Martdiana.

    Konferensi ini mengusung tema ‘Ecofeminism dan Kebebasan Beragama & Berkeyakinan: Memperkuat Peran Perempuan dan Anak Muda dalam Merawat Kerukunan Lintas Iman dan Pembangunan Perdamaian di Indonesia’,

    Ketiganya membagikan pengetahuan dan pengalamannya dalam melibatkan anak muda dan perempuan di komunitasnya untuk membangun perdamaian dengan pendekatan isu lingkungan.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia beberapa waktu lalu, Mutiara Pasaribu, Country Coordinator JISRA Indonesia mengatakan, “Kerja yang beragam, dan kerja-kerja lingkungan menjadi salah satu bagian dari kerja besar bersama untuk mewujudkan kerukunan lintas iman.

    Baca: Kesehatannya terdampak, warga Donggala-Palu protes penambangan pasir untuk pembangunan IKN 

    Martdiana, aktivis perempuan asal Poso yang memiliki pengalaman kelam dan terdampak konflik bernuansa agama di Poso 1998, membagikan pengalamannya dalam mendampingi kegiatan pertukaran pemuda lintas iman.

    Dalam kegiatan tersebut, pemuda Nasrani berkesempatan melakukan kegiatan dan tinggal selama dua malam di sebuah desa dengan penduduk mayoritas Muslim, begitu pula sebaliknya.

    Martdiana juga menceritakan bagaimana kisah perempuan penjual ikan melakukan rekonsiliasi dengan cara menjajakan ikan-ikannya ke desa yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani.

    “Ruang perjumpaan yang terjadi antar individu dengan latar belakang agama yang berbeda ini, memberi mereka kesempatan untuk berdialog, berbagi kisah, dan menghilangkan prasangka antar satu dengan yang lain,” ungkapnya.

    Baca: Aktivisme perempuan lokal untuk lingkungan

    Martdiana hingga kini aktif sebagai fasilitator Sekolah Pembaharu Desa, Institute Mosintuwu Poso.

    “Kini kami fokus mengembangkan upaya pengelolaan sampah yang bisa mempunyai nilai ekonomis di desa, dengan melibatkan anak-anak muda dan ibu-ibu dari lintas iman, seperti membuat kerajinan tas, ecobrick, dan sebagainya,” ujarnya.

    Sementara, mantan Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah yang berperan sebagai moderator menambahkan bahwa hak asasi manusia adalah inti untuk menghubungkan upaya perlindungan terhadap alam.

    “Isu lingkungan adalah isu global, jadi dibutuhkan respon solidaritas global, termasuk lintas iman, dari antar agama, keyakinan, ataupun penghayat,” kata Yuni.

    Baca: Aktivisme perempuan dan disabilitas diabaikan

    Isu pengelolaan sampah maupun isu serupa lainnya, menurut perempuan yang kini aktif melakukan pendampingan di isu-isu perempuan dan perdamaian.

    Sebaiknya, ujarnya, ini bukan hanya kegiatan, melainkan sebagai strategi dan jembatan menyeberangkan perdamaian manusia dan semesta, serta tidak mendiskriminasi kelompok tertentu.

    ”Dengan mendukung organisasi perempuan melalui pendanaan, itu merupakan bentuk konkrit kita untuk memastikan ruang gerakan ekologi untuk terus berlanjut,” tutupnya.

    Konferensi ini menjadi ruang bagi Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) Indonesia untuk menyuarakan gerakan ecofeminism.

    Setidaknya 10 mitra JISRA Indonesia yang bekerja sama mengadvokasi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia hadir dalam konferensi yang menyuarakan gerakan ecofeminism.

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Bebasnya Daniel Frits hingga Unjukrasa Memproses Penambangan Pasir yang Merusak Lingkungan

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Bebasnya Daniel Frits hingga Unjukrasa Memproses Penambangan Pasir yang Merusak Lingkungan

    7cloud.asia – Artikel mengenai bebasnya aktivis lingkungan Daniel Frits Tangkilisan menjadi salah satu berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama artikel tentang lingkungan lainnya, seperti pajak karbon di India, dan unjukrasa mengenai dampak lingkungan penambangan pasir di Donggala, Sulawesi Tengah.

    Berikut daftar 5 berita terpopuler pekan ini selengkapnya:

    1. Aktivis lingkungan Daniel Frits bebas

    Pengadilan Tinggi Semarang memutus bebas aktivis lingkungan Karimunjawa, Daniel Frits Maurits Tangkilisan. Tim advokasi Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) mengapresiasi putusan tersebut.

    Dalam amar putusan yang diterima kuasa hukum Daniel, pada Selasa (21/05/2024) tersebut, majelis hakim mempertimbangkan Daniel sebagai pejuang hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

    Putusan ini disambut gembira oleh Daniel dan tim kuasa hukumnya, tim advokasi Iluni UI.

    Baca artikel selengkapnya di sini

    2. Kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun

    Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih kota untuk menghabiskan masa pensiun

    Faktor-faktor tersebut antara lain kedekatan lokasi, kelengkapan infrastruktur, biaya hidup, serta kondisi lingkungan yang tenang.

    Jika sebuah kota memenuhi kriteria di atas, maka bisa dipastikan kota tersebut menjadi tempat yang nyaman menghabiskan masa pensiun.

    Baca artikel selengkapnya di sini

    3. Pajak karbon di negara berkembang, contoh India

    India adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia dan penghasil polusi atau emisi karbon terbesar ketiga, setelah China dan Amerika Serikat.

    Meski tergolong negara berkembang India sukses menerapkan pajak karbon dan berdampak signifikan dalam penurunan emisi karbon.

    Penerapan pajak karbon di India bukan tanpa tantangan, tapi ada alasan kuat bagi India untuk menerapkan pajak karbon.

    Baca artikel selengkapnya di sini

    4. DPR pertanyakan alokasi anggaran pendidikan

    Komisi X DPR yang membidangi pendidikan berinisiatif membentuk Panitia Kerja (Panja) Biaya Pendidikan untuk memastikan biaya pendidikan di Indonesia terjangkau masyarakat.

    ”Kami ingin mengetahui pengelolaan biaya pendidikan oleh pemerintah sehingga memutuskan membentuk panitia kerja (Panja),” ujar Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda melalui keterangan yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Jumat (17/5/2024).

    Baca artikel selengkapnya di sini

    5. Warga protes penambangan pasir untuk pembangunan IKN

    Di tengah kepungan debu tebal dan lalu lalang truk-truk besar pengangkut batu dan pasir, sejumlah warga Palu-Donggala gelar Aksi Pembagian Masker di sekitar Sungai Nggolo, Kelurahan Buluri, Kota Palu,

    Aksi itu sebagai bentuk protes terhadap dampak aktivitas tambang batu dan pasir di wilayah itu. Hasil tambang itu dikirimkan untuk pembangunan Ibukota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

    Arman Seli, Wakil Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Pembagian Masker sekaligus warga Kelurahan Buluri, mengatakan bahwa persoalan debu hitam akibat tambang itu sudah cukup lama menjadi keluhan warga setempat.

    Baca artikel selengkapnya di sini

  • Dukung Penciptaan Lapangan Kerja Hijau atau Green Jobs, Ini yang Dilakukan Kemnaker

    Dukung Penciptaan Lapangan Kerja Hijau atau Green Jobs, Ini yang Dilakukan Kemnaker

    7cloud.asia – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyatakan siap mendukung implementasi dan penciptaan pekerjaan hijau atau green jobs di Indonesia.

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemnaker Anwar Sanusi mengatakan, penciptaan green jobs menjadi kebutuhan demi mewujudkan pembangunani yang keberlanjutan pada 2025-2029.

    “Green jobs adalah sesuatu yang tak bisa dihindari dan sangat prioritas. Ketika ada pekerjaan hijau, tentunya tenaga kerjanya juga yang memahami tentang hakikat pekerjaan hijau,” katanya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (28/5/2024).

    Anwar menambahkan, merujuk kepada International Labour Organization (ILO), green jobs menjadi lambang dari perekonomian dan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan mampu melestarikan lingkungan.

    Green jobs, ujarnya, baik untuk generasi sekarang maupun generasi mendatang.
    Anwar mengatakan jenis pekerjaan hijau yang mengusung konser berkelanjutan akan berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan.

    Beberapa bidang yang akan menjadi fokus dalam green jobs atau pekerjaan hijau, kata dia, termasuk yang melibatkan sektor energi terbarukan, efisiensi energi, manajemen limbah, transportasi berkelanjutan, dan pertanian berkelanjutan.

    Baca: Kenali tiga indikator green jobs

    Untuk mendukung penciptaan lapangan kerja hijau, lanjutnya, Kemnaker akan mendorong perusahaan untuk menerapkan alat, teknis dan metode peningkatan produktivitas berbasis Green Productivity.

    Salah satunya dengan menyusun standar kompetensi kerja, skema kompetensi, program dan modul pelatihan sesuai kebutuhan lapangan kerja hijau.

    Kemnaker juga akan memperkuat Forum Kemitraan dengan perusahaan, industri dan institusi yang mendukung pelatihan vokasi pada lapangan kerja hijau.

    “Bersama Bappenas, kita akan koordinasi karena seluruh rancang bangun perencanaan nasional, sudah sejak awal kita antisipasi dan diskusikan secara intensif,” demikian Anwar Sanusi.

    Direktur Utama Lembaga Pelatihan Kerja Global Edukasi Talenta Inkubator Amalia Prabowo mengatakan green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan menjadi primadona di kalangan produsen besar untuk lima tahun ke depan.

    “Green job merupakan salah satu primadona untuk lima tahun ke depan,” ucap Amalia di acara daring “Raih Peluang Kreatif di Era Digital” di Jakarta, beberapa waktu lalu

    Baca: Mengarah ke ekonomi hijau, Indonesia butuh banyak green jobs

    Amalia mengatakan bahwa kolaborasi antara lembaga pelatihan dengan Program Kartu Prakerja sangatlah erat, termasuk dalam pertukaran informasi terkait dengan perkembangan dunia kerja.

    Informasi terkini dari tim Prakerja, kata Amalia, adalah dukungan kepada LPK GeTI untuk mempersiapkan pelatihan-pelatihan green jobs.

    Lembaga tersebut, kata Amalia, menindaklanjuti perkembangan green jobs dengan menyelenggarakan focus group discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah bersama para pakar untuk membahas kurikulum ajar kelas green job.

    Dia memastikan agar materi tersebut dapat diajarkan melalui digital.

    “Itu sangat luar biasa karena dalam waktu dekat pasti banyak sekali kelas-kelas yang berhubungan dengan green job,” kata Amalia.

    Selain berhubungan dengan Prakerja, Amalia juga mengatakan bahwa mereka juga menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga yang memang fokus pada perekrutan.

    Baca: Manfaat yang dipetik dari ekonomi hijau

    Secara periodik, kata Amalia, lembaga-lembaga perekrutan tersebut juga memberikan informasi tren pekerjaan yang dicari oleh para produsen besar dan pelaku manufaktur.

    “Sehingga, sekali lagi, kami melakukan FGD dengan para pakar, para dosen, untuk merancang kelas-kelas baru yang sedang dibutuhkan oleh pengguna,” pungkasnya.

    Dikutip dari dokumen resmi Organisasi Perburuhan Internasional/International Labour Organization (ILO) bertajuk “Lembar Fakta tentang Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan (Green Jobs) di Indonesia, green jobs bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh perusahaan dan sektor ekonomi hingga ke tingkat yang mampu melestarikan lingkungan hidup.

    Secara khusus, hal itu mencakup pekerjaan yang dapat membantu melindungi ekosistem dan biodiversitas; mengurangi energi, materi, dan konsumsi air melalui strategi yang memiliki tingkat efisiensi tinggi; dekarbonisasi perekonomian; serta mengurangi atau mencegah pembuatan segala bentuk limbah dan polusi.

    Sumber: Antaranews.com

  • Transisi Energi Terbarukan Mampu Ciptakan Manfaat Ekonomi hingga Ribuan Triliun

    Transisi Energi Terbarukan Mampu Ciptakan Manfaat Ekonomi hingga Ribuan Triliun

    7cloud.asia – Upaya pemerintah untuk menggenjot transisi energi ke energi terbarukan hingga saat ini masih berfokus pada pembangunan pembangkit listrik berskala besar.

    Proyek energi terbarukan ini mulai dari pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru di Sumatra Utara, hingga proyek panas bumi di Wae Sano, Nusa Tenggara Timur.

    Sayangnya, fokus ini justru menciptakan berbagai masalah sosial dan lahan. Belum lagi risikonya terhadap keberagaman hayati.

    Proyek listrik berskala besar juga tak menjamin akses listrik yang merata terutama bagi penduduk di desa-desa terpencil.

    Per akhir 2022, saat Indonesia tengah surplus listrik tercatat ada 4.400 desa yang belum teraliri setrum.

    Untuk mencapai transisi energi yang berkeadilan—terutama bagi warga pelosok, pemerintah perlu pendekatan baru untuk memprioritaskan penyediaan energi terbarukan berbasiskan sumber daya lokal dan dikelola masyarakat.

     

    Baca Juga: Kebijakan Transisi Energi Setengah Hati Pemerintahan Jokowi: Target Bauran Energi Terbarukan Justru Diturunkan

    Ketergantungan pemerintah terhadap perencanaan ala PLN perlu dikurangi. Sebaliknya, upaya masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri nan lestari, perlu didukung habis-habisan.

    Riset CELIOS bersama organisasi pegiat isu lingkungan, 350.org, mencoba menelaah manfaat pemerintah apabila menggunakan pendekatan energi berbasis komunitas sebagai langkah prioritas transisi energi.

    Kami menghitung, dalam 25 tahun ke depan, energi terbarukan berbasis komunitas justru menghasilkan dampak ekonomi hingga Rp18.636 triliun dan mengangkat 16 juta penduduk dari kemiskinan.

    Berikut beberapa manfaat transisi ke energi terbarukan berbasis komunitas:

    1. Menggeliatkan sektor usaha dan meratakan pertumbuhan
    Kami melakukan simulasi pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas berdasarkan pertumbuhan tahunan rata-rata energi surya (PLTS) dan mikrohidro (PLTM) selama lima tahun terakhir.

    Kedua energi ini acap digunakan dalam proyek energi terbarukan berbasis komunitas di Indonesia.

     

    Baca Juga: Simak Daftar Lapangan Kerja yang Tercipta dari Pengembangan Energi Terbarukan

    CELIOS juga memasukkan sumber energi terbarukan lainnya, seperti angin (PLTB), yang potensial digunakan dalam proyek energi skala kecil.

    Dari pertumbuhan energi tersebut, kami menghitung dampaknya ke masyarakat dan berbagai sektor perekonomian di sekitarnya dengan pemodelan Interregional Input-Output (IRIO).

    Studi CELIOS juga menghitung dampaknya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja.

    Hasilnya, pertumbuhan energi terbarukan berbasis komunitas selama 25 tahun dapat menghasilkan output ekonomi rata-rata sebesar Rp745 triliun per tahun.

    Nilai ini berasal dari nilai investasi energi terbarukan, penyerapan tenaga kerja untuk pemasangan dan perawatan.

    Hasil industri lokal seperti olahan perkebunan rakyat, pariwisata, kerajinan, dan industri rumah tangga lainnya juga akan meningkat karena masuknya listrik ke daerah mereka.

     

    Baca Juga: Energi Terbarukan Gencar Dikampanyekan, Ini Dampak Sosialnya

    Beberapa daerah, seperti di Lumajang; Jawa Timur, juga menunjukkan hubungan positif antara energi berbasis komunitas dengan praktik ekonomi restoratif (yang memulihkan alam serta masyarakat).

    Sebab, air untuk PLTM juga digunakan untuk mengairi perkebunan yang berkelanjutan.

    Energi terbarukan berbasis komunitas juga dapat berkontribusi pada PDB sebesar Rp10.463 triliun secara kumulatif dalam 25 tahun ke depan.

    Kontribusi terbesar pada tahun ke-25 akan berasal dari sektor pengolahan (Rp415 triliun), sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang konstruksi (Rp335 triliun, dan sektor pengadaan listrik, air, dan gas (Rp258 triliun).

    Patut dicatat bahwa PDB ini akan bertumbuh nyaris merata—lebih tinggi di wilayah Indonesia timur (seperti Gorontalo, Maluku, Papua).

    Sebab, energi terbarukan berbasis komunitas akan menjadi suplai listrik murah dan stabil menggantikan suplai energi konvensional yang belum ada dan sukar tersedia sepanjang hari.

    Energi yang stabil akan meningkatkan produktivitas masyarakat, badan usaha desa dan koperasi, serta usaha-usaha kecil setempat.

     

    Baca Juga: Kementan Susun Konsep Papua sebagai Pulau Energi Terbarukan

    2. Merangsang green jobs dari desa
    Ekonomi desa yang menggeliat juga akan menciptakan lapangan kerja dari pinggiran. Studi kami menaksir, selama 25 tahun, ribuan proyek energi terbarukan berbasis komunitas dapat menyerap 96 juta lebih pekerja.

    Serapan tertinggi berada di sektor green jobs seperti bidang manufaktur dan distribusi peralatan energi terbarukan, pengembangan proyek, konstruksi dan pemasangan, operasi dan pemeliharaan, dan bidang lintas sektor yang umum.

    Lagi-lagi, dengan model energi terbarukan yang terdesentralisasi, penciptaan lapangan kerja juga berpeluang terjadi secara merata.

    Pada tahun ke-25, misalnya, pemodelan kami menaksir penyerapan kerja tinggi di provinsi seperti Kalimantan Timur (1,39 juta pekerja), Nusa Tenggara Timur (1,7 juta), dan Nusa Tenggara Barat (1,3 juta).

    Selain banyak penyerapan, studi kami juga meramalkan total pendapatan pekerja nasional meningkat hingga Rp510,9 triliun pada tahun ke-25.

    Kenaikan penyerapan pekerja juga merangsang peluang beraneka green jobs dengan keahlian khusus bidang energi terbarukan.

    Potensi ini perlu dijawab dengan pelatihan vokasi maupun penguatan Balai Latihan Kerja (BLK) di daerah-daerah.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS)

  • Sedekah Hutan, Cara Komunitas Bakul Budaya UI Lestarikan Lingkungan

    Sedekah Hutan, Cara Komunitas Bakul Budaya UI Lestarikan Lingkungan

    7cloud.asia – Komunitas Bakul Budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) kembali menggelar sedekah hutan untuk mengajak masyarakat melestarikan lingkungan.

    Ketua Umum Bakul Budaya Dewi Fajar Marhaeni mengatakan, sedekah hutan 2024 kali ini bertujuan untuk mengenal dan mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

    “Seperti kita ketahui, masyarakat adat, baik di Indonesia maupun di dunia, sudah melakukan antisipasi terhadap kerusakan lingkungan tanpa merusak ekologi,” katanya dikutip Antaranews.com, Sabtu (1/6/2024).

    Selain itu, lanjut dia, sedekah hutan juga mendorong gerakan “ramah dari rumah”, sebuah upaya meminimalisir setoran sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus membangun ekonomi sirkular di masyarakat.

    “Gerakan sedekah hutan ini harus terus digaungkan agar tercipta kesadaran di masyarakat akan pentingnya memilah dan memanfaatkan sampah,” ujarnya.

    Baca Juga: Serukan Penyelamatan Hutan Adat Papua dari Ekspansi Kebun Sawit, Suku Awyu dan Moi Gelar Aksi Damai di Gedung Mahkamah Agung

    Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hilmar Farid mengemukakan bahwa program sedekah hutan dapat memperkuat sinergi antara pelestarian lingkungan dan kebudayaan lokal.

    Sedekah hutan bakul budaya 2024, ujarnya, merupakan langkah nyata yang sangat kami apresiasi dalam memperkuat sinergi antara pelestarian lingkungan dan kebudayaan lokal.

    “Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap krisis iklim, tetapi juga memperlihatkan betapa pentingnya kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam,” tuturnya.

    Sedangkan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, acara sedekah hutan tersebut merupakan simbolis bagaimana masyarakat memperlakukan hutan dan lingkungan.

    Sedekah hutan juga mengajak warga menerapkan gaya hidup yang bersahaja yang selaras dengan lingkungan hidup.

    Baca Juga: Fakta Deforestasi yang Perlu Kita Tahu di Hari Hutan Sedunia

    Selain itu, Dekan FIB UI Dr. Bondan Kanumoyoso menyebutkan bahwa sedekah Hutan bertujuan untuk memuliakan alam, merawat hutan, dan merayakan kekayaan alam Indonesia.

    “Melalui sedekah hutan, kita juga menjaga kelestarian alam dan menghidupkan budaya. Alam, budaya, dan manusia merupakan satu kesatuan yang menyokong kemajuan peradaban Indonesia,” paparnya.

    Sedekah hutan diselenggarakan FIB UI bekerja sama dengan Makara Art Center pada 1 hingga 5 Juni 2024, sekaligus untuk memperingati Hari Lahir Pancasila dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Sedekah Hutan 2024 mengangkat tema “Upaya pelestarian lingkungan melalui kearifan lokal dan gaya hidup yang berkelanjutan (ramah dari rumah)”.

    Berbagai kegiatan diselenggarakan dalam sedekah hutan, yaitu kirab budaya, ritual adat, sarasehan, lokakarya pembuatan eco-brick dan eco-enzim, pameran foto lingkungan hidup, dan gelar seni.

    Sumber:Antaranews.com