Isu Lingkungan Mampu Pulihkan Trauma Korban Konflik Poso

Written by

in

7cloud.asia – Dalam acara Global Conference on Women’s Rights in Islam (GCWRI) yang berlangsung pada 14 – 16 Mei 2024 lalu, hadir tiga aktivis perempuan yang berkiprah dalam pendampingan masyarakat, yaitu Dewi Candraningrum, Thoatillah Jafar, dan Martdiana.

Konferensi ini mengusung tema ‘Ecofeminism dan Kebebasan Beragama & Berkeyakinan: Memperkuat Peran Perempuan dan Anak Muda dalam Merawat Kerukunan Lintas Iman dan Pembangunan Perdamaian di Indonesia’,

Ketiganya membagikan pengetahuan dan pengalamannya dalam melibatkan anak muda dan perempuan di komunitasnya untuk membangun perdamaian dengan pendekatan isu lingkungan.

Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia beberapa waktu lalu, Mutiara Pasaribu, Country Coordinator JISRA Indonesia mengatakan, “Kerja yang beragam, dan kerja-kerja lingkungan menjadi salah satu bagian dari kerja besar bersama untuk mewujudkan kerukunan lintas iman.

Baca: Kesehatannya terdampak, warga Donggala-Palu protes penambangan pasir untuk pembangunan IKN 

Martdiana, aktivis perempuan asal Poso yang memiliki pengalaman kelam dan terdampak konflik bernuansa agama di Poso 1998, membagikan pengalamannya dalam mendampingi kegiatan pertukaran pemuda lintas iman.

Dalam kegiatan tersebut, pemuda Nasrani berkesempatan melakukan kegiatan dan tinggal selama dua malam di sebuah desa dengan penduduk mayoritas Muslim, begitu pula sebaliknya.

Martdiana juga menceritakan bagaimana kisah perempuan penjual ikan melakukan rekonsiliasi dengan cara menjajakan ikan-ikannya ke desa yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani.

“Ruang perjumpaan yang terjadi antar individu dengan latar belakang agama yang berbeda ini, memberi mereka kesempatan untuk berdialog, berbagi kisah, dan menghilangkan prasangka antar satu dengan yang lain,” ungkapnya.

Baca: Aktivisme perempuan lokal untuk lingkungan

Martdiana hingga kini aktif sebagai fasilitator Sekolah Pembaharu Desa, Institute Mosintuwu Poso.

“Kini kami fokus mengembangkan upaya pengelolaan sampah yang bisa mempunyai nilai ekonomis di desa, dengan melibatkan anak-anak muda dan ibu-ibu dari lintas iman, seperti membuat kerajinan tas, ecobrick, dan sebagainya,” ujarnya.

Sementara, mantan Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah yang berperan sebagai moderator menambahkan bahwa hak asasi manusia adalah inti untuk menghubungkan upaya perlindungan terhadap alam.

“Isu lingkungan adalah isu global, jadi dibutuhkan respon solidaritas global, termasuk lintas iman, dari antar agama, keyakinan, ataupun penghayat,” kata Yuni.

Baca: Aktivisme perempuan dan disabilitas diabaikan

Isu pengelolaan sampah maupun isu serupa lainnya, menurut perempuan yang kini aktif melakukan pendampingan di isu-isu perempuan dan perdamaian.

Sebaiknya, ujarnya, ini bukan hanya kegiatan, melainkan sebagai strategi dan jembatan menyeberangkan perdamaian manusia dan semesta, serta tidak mendiskriminasi kelompok tertentu.

”Dengan mendukung organisasi perempuan melalui pendanaan, itu merupakan bentuk konkrit kita untuk memastikan ruang gerakan ekologi untuk terus berlanjut,” tutupnya.

Konferensi ini menjadi ruang bagi Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) Indonesia untuk menyuarakan gerakan ecofeminism.

Setidaknya 10 mitra JISRA Indonesia yang bekerja sama mengadvokasi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia hadir dalam konferensi yang menyuarakan gerakan ecofeminism.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *