Tag: aceh

  • Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Termasuk Aceh

    Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Termasuk Aceh

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah pada Senin (01/12/2025). Diantaranya Aceh dan Sumatera Utara.

    Selain itu, wilayah Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali juga berpeluang terjadi hujan berintensitas sedang hingga lebat.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi terjadi di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, dan Papua Selatan.

    Sedangkan hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur wilayah Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Papua Pegunungan.

    BMKG mengajak masyarakat mewaspadai adanya potensi angin kencang yan akan melanda wilayah Jawa Barat dan Banten.

  • Tiga Bupati di Aceh Menyerah, Minta Pemerintah Provinsi Turun Tangan Atasi Banjir

    Tiga Bupati di Aceh Menyerah, Minta Pemerintah Provinsi Turun Tangan Atasi Banjir

    7cloud.asia – Tiga Bupati di provinsi Aceh, yaitu Bupati Aceh Selatan, Bupati Aceh Tengah, dan Bupati Pidie Jaya, menyatakan tidak sanggup menangani banjir yang melanda wilayah mereka.

    Dilansir di media sosial katakita.com, ketiga Bupati di Aceh itu meminta pemerintah provinsi (Pemprov) Aceh mengambil alih penanganan banjir dan longsor yang memberikan dampak sangat hebat di wilayah mereka.

    Bupati Aceh Selatan, Mirwan, melalui surat bernomor 360/1975/2025 dan bertanggal 27 November 2025 mengatakan skala kerusakan dan luasnya wilayah terdampak membuat Pemkab tidak sanggup memberikan penangan memadai.

    Mirwan menjelaskan sedikitnya 11 kecamatan mengalami banjir dan longsor. Dampaknya meliputi terputusnya akses transportasi, evakuasi warga ke lokasi aman, hingga munculnya titik pengungsian.

    Infrastruktur publik seperti jalan, jembatan, tebing sungai, saluran irigasi, sarana pendidikan, layanan kesehatan, serta sanitasi permukiman juga dilaporkan mengalami kerusakan.

    Selain gangguan pada fasilitas umum, banjir juga menyebabkan lumpuhnya aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah terdampak. Banyak warga tidak dapat bekerja, pasar tradisional terhenti, dan distribusi kebutuhan pokok ikut terganggu.

    Hal sama juga diungkapkan Bupati Aceh Tengah Haili Yoga dalam surat pernyataan bernomor 360/5654BFBD/2025.

    Dalam surat itu dia menyebut, Pemkab Aceh Tengah tidak mampu melaksanakan penanganan darurat bencana memadai karena dampak banjir bandang dan longsor terlalu besar.

    “Mengingat kondisi dampak bencana ini, kami selaku Bupati Aceh Tengah menyatakan ketidakmampuan dalam melaksanakan upaya penanganan darurat bencana sebagaimana mestinya,” tulis Haili Yoga.

    Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi juga meminta Pemerintah Aceh mengambil alih penangan banjir di wilayahnya. Ia menyebut Pemkab tidak memiliki anggaran dan sumber daya peralatan memadai penangan banjir.

    Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya tidak dapat menangani penanggulangan bencana tersebut sepenuhnya mengingat keterbatasan anggaran, sumber daya serta peralatan yang dimiliki.

    “Maka Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya memohon kepada Gubernur Aceh untuk dapat membantu penanganan bencana tersebut,” tulis Sibral.

    Menanggapi surat tiga Bupati ini, Gubernur Nangroe Aceh Darussalam Muzakkir Manaf telah menetapkan status darurat bencana sejak 27 November lalu.

     

     

  • Korban Meninggal Akibat Banjir Besar di Aceh Capai 102 Orang, 116 Masih Hilang

    Korban Meninggal Akibat Banjir Besar di Aceh Capai 102 Orang, 116 Masih Hilang

     

    7cloud.asia – Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Senin (1/12/2025) menyampaikan Laporan Pantauan Data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi di Posko Terpadu Pemerintah Aceh.

    Dalam laporan itu disebutkan banjir melanda 18 Kabupaten/Kota di Aceh

    Setidaknya 1.652 Gampong atau kampung yang tersebar di 224 kecamatan di Aceh tak luput dari bencana banjir yang dipicu badai Senyar sejak 21 November lalu

    Adapun jumlah korban meninggal 102 orang dan 116 lainnya dilaporkan hilang dan masih dalam pencarian.

    Total warga yang terdampak banjir mencapai 104.901 kepala keluarga atau 526.098 jiwa. Sebanyak 1.286 orang mengalami luka ringan dan 326 orang lainnya luka berat.

    Saat ini tercatat ada 292.806 jiwa dari 62.141 KK yang mengungsi di 403 titik pengungsian yang tersebar di berbagai kota/kabupate

    Adapun kerusakan fasilitas umum, dilaporkan sebagai berikut

    – Perkantoran: 132 unit

    – Tempat Ibadah: 46 unit

    – Sekolah: 157 unit

    – Pondok Pesantren: 2 unit

    Sementara jerusakan infrastruktur jalan dan jembatan akibat banjir:

    – Kerusakan Jalan: 275 titik

    – Kerusakan Jembatan: 146 unit

    Data rinci per kabupaten/kota dapat diakses pada tautan berikut: ???? https://bit.ly/LAP_TDA2025

  • Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Hujan Sangat Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Termasuk Aceh dan Sumatera Utara

    Cuaca Hari Ini: Hati-hati, Hujan Sangat Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Termasuk Aceh dan Sumatera Utara

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia pada Sabtu (06/12/2025), termasuk Aceh dan Sumatera Utara.

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi pula mengguyur wilayah Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Maluku.

    Sementara hujan berintensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

    Kondisi cuaca serupa berpeluang pula terjadi di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara.

    Wilayah Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan juga berpeluang terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

    BMKG juga mengajak masyarakat agar mewaspadai potensi angin kencang yang berada di wilayah Jawa Barat, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Status Siaga Hujan Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Status Siaga Hujan Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia –Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah di Indonesia pada Kamis (11/12/2025).

    Wilayah tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat.

    Baca: Waspada Bibit Siklon Tropis yang Picu Cuaca Ekstrem di Sumatera Utara

    Kondisi cuaca yang sama berpeluang pula terjadi di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya dan Papua Barat.

    BMKG juga mengajak masyarakat agar mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Bengkulu, Jawa Barat, Kepulauan Bangka Belitung dan Papua.

    Kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. BMKG telah melakukan pemantauan intensif selama 24 jam terhadap perkembangan Bibit Siklon Tropis 91S yang saat ini berada di Samudera Hindia sebelah Barat Provinsi Lampung.

    Baca: sepekan Kedepan Cuaca Ekstrem Masih Landa Sejumlah Wilayah

    Dinamika atmosfer aktif saat ini mempengaruhi intensitas hujan di wilayah Sumatra, dan Bibit Siklon 91S berpotensi memicu peningkatan curah hujan lebat hingga sangat lebat tersebut.

    “Masyarakat juga harus waspada adanya potensi peningkatan tinggi gelombang di Samudra Hindia mulai dari sebelah barat Nias hingga selatan Banten, serta di perairan Selat Sunda bagian Selatan,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, di Sibolga, Sumatra Utara, Rabu (10/12).

    BMKG menegaskan potensi 91S untuk berkembang menjadi siklon tropis dan memasuki wilayah daratan, seperti halnya Siklon Tropis Senyar, berada dalam kategori rendah.

    Baca: Memasuki Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana Hidrometeorologi

    Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar tetap tenang, tidak panik, dan terus memperbarui informasi cuaca dari BMKG secara real-time.

    Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis terkini, pergerakan 91S diprakirakan cenderung bergerak ke arah selatan hingga barat daya mulai 11 Desember 2025 siang atau sore hari.

    Selanjutnya, sistem diperkirakan mulai menunjukkan pola pegerakan yang konsisten ke barat daya, menjauhi wilayah Indonesia pada 12 Desember 2025.

    Baca: Delapan Hari Sebelum Bencana Sumatera, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    “BMKG Pusat bersama BMKG Provinsi telah melakukan koordinasi dengan BNPB dan BPBD di wilayah terdampak untuk memastikan langkah mitigasi berjalan optimal sesuai kondisi potensi cuaca yang dipengaruhi oleh keberadaan 91S,” kata Guswanto.

    Pun, pemerintah daerah melalui BPBD diminta memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir dan gangguan cuaca lainnya.

    Kolaborasi lintas sektoral yang solid, adalah kunci utama untuk menciptakan keharmonisan antara sistem peringatan dini (early warning) dan tindakan dini (early action).

  • Dua Pekan Pasca Bencana Kondisi di Aceh Masih Memprihatinkan, DPR Desak Pengerahan Personel TNI

    Dua Pekan Pasca Bencana Kondisi di Aceh Masih Memprihatinkan, DPR Desak Pengerahan Personel TNI

    7cloud.asia – Anggota Komisi VIII DPR , M. Husni, menyoroti lambannya penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh akhir November lalu.

    Husni menegaskan perlunya percepatan evakuasi dan mobilisasi sumber daya nasional untuk menangani kondisi yang dinilainya semakin genting.

    “Kita hari ini melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Aceh yang hari ini yang terdampak bencana longsor dan banjir, yang kita boleh bilang ada 18 kabupaten/kota yang terdampak,” ujar Husni kepada Parlementaria di sela-sela Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR, Banda Aceh, Rabu (10/12/2025).

    Menurutnya, hingga memasuki hari ke-14 pascabencana, masih banyak wilayah yang belum tertangani optimal. Akses darat terputus, terutama di kawasan Bener Meriah dan Gayo Lues, sehingga menghambat distribusi bantuan dasar.

    “Masih banyak tempat-tempat yang belum terevakuasi dengan baik, apalagi jalur-jalur transportasi daratnya terputus,” katanya.

    Baca: Update korban meninggal akibat banjir Sumatera

    “Di sana, mulai dari makanan, dari mulai BBM, kemudian secara transportasi maupun komunikasi itu masih sangat jelek sekali,” ujar Ketua Harian Timwas Bencana DPR ini.

    Husni menekankan perlunya langkah cepat dari pemerintah, termasuk mobilisasi skala besar apabila diperlukan.

    “Sebenarnya pemerintah harus cepat ya turun tangan, apalagi kemarin kita mendengar bahwa nanti ini akan dipimpin oleh Kasad dalam penanganannya. Ya kalau boleh ribuan tentara kita kirimkan aja supaya evakuasi ini cepat berjalan dengan baik,” imbuhnya.

    Ia menambahkan kondisi di Aceh Tamiang dan wilayah perbatasan dengan Sumatra Utara masih sangat memprihatinkan. Rumah sakit belum berfungsi optimal, listrik belum stabil, dan sejumlah korban diduga masih berada di kendaraan yang tertimbun lumpur.

    Baca: Masyarakat Sipil somasi Presiden karena tak kunjung tetapkan status bencana nasional

    “Rumah sakitnya lumpuh, listriknya juga kita bilang masih jelek. Tentunya ini harus cepat, dari penanganan juga evakuasi-evakuasi mayat-mayat yang ada di dalam mobil-mobil yang terkena banjir, yang terkena lumpur itu sesegera mungkin,” ujarnya.

    Husni menyebut sejumlah rumah warga serta jalan-jalan utama kini telah tertutup lumpur yang mulai mengeras, bahkan ketebalannya mencapai dua meter di beberapa lokasi. Pemulihan sarana prasarana harus menjadi prioritas lanjutan setelah evakuasi.

    Menyoroti keterbatasan dapur umum yang dioperasikan Kemensos, politisi partai Gerindra ini meminta pemerintah pusat meningkatkan kapasitas dukungan. Ia menilai, dapur umum yang telah ada masih minim dan perlu ditambah.

    “Pihak Kemensos itu sudah mengoperasikan dapur umum, hari ini cuma kapasitasnya 100 ribu, yang diperlukan 800 ribu,” ujar Husni.

  • Banjir Sumatera: Pemprov Aceh Resmi Surati 2 Lembaga Internasional untuk Membantu Pemulihan

    Banjir Sumatera: Pemprov Aceh Resmi Surati 2 Lembaga Internasional untuk Membantu Pemulihan

    7cloud.asia – Pemerintah provinsi (Pemprov) Aceh telah secara resmi menyurati dua lembaga internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meminta keterlibatan mereka dalam membantu menangani pascabencana banjir bandang dan longsor di tanah rencong.

    “Pemerintah Aceh secara resmi juga telah menyampaikan permintaan keterlibatan beberapa lembaga internasional,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, di Banda Aceh, Senin (15/12/2025)

    Dilansir Antaranews.com, dua lembaga PBB yang dimintai keterlibatannya tersebut yakni United Nations Development Programme (UNDP) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF).

    “Permintaan keterlibatan lembaga internasional atas pertimbangan pengalaman bencana tsunami 2004, seperti UNDP dan UNICEF,” ujarnya.

    Baca: Masyarakat sipil somasi Presiden karena tak kunjung tetapkan status bencana nasional

    Selain itu, MTA juga menyampaikan bahwa saat ini tercatat 77 lembaga dengan mengikutsertakan 1.960 relawannya dalam upaya pemulihan bencana Aceh, dan telah tercatat pada Desk Relawan BNPB dan Posko Aceh.

    Mereka merupakan lembaga atau NGO lokal, nasional dan internasional. Besar kemungkinan, keterlibatan lembaga dan relawan terus bertambah dalam respon kebencanaan kali ini.

    Kehadiran lembaga dan relawan ini, diharapkan dapat memperkuat kerja-kerja kedaruratan dan pemulihan bencana yang sedang dilaksanakan oleh instansi pemerintahan.

    Saat ini instansi pemerintah seperti TNI, Polri, BNPP, BPBA Aceh, Basarnas, Pemerintah Kabupaten/kota, ormas/OKP secara mandiri dan masyarakat Aceh telah turun mengatasi kondisi kedaruratan. Namun, bantuan tetap dibutuhkan.

    Baca: Status Bencana Nasional penting untuk percepat pemulihan banjir Sumatera

    Ia menyebutkan, beberapa lembaga yang sudah masuk dalam Desk Relawan BNPB untuk Aceh yaitu Save The Children, Islamic Relief, ABF, DH Charity, FKKMK UGM, Mahtan Makassar, Relawan Nusantara.

    Baznas, EMT AHS UGM, Koalisi NGO HAM, Katahati Institute, Orari, Yayasan Geutanyoe dan lainnya juga sudah menurunkan pesonelnya di sejumlah daerah terdampak banjir.

    Atas nama masyarakat Aceh dan korban, lanjut MTA, Gubernur Aceh mengucapkan terima kasih atas niat baik dan kontribusi yang sedang mereka berikan demi memulihkan Aceh.

    “Berbagai langkah kebijakan strategis dalam upaya pemulihan Aceh akan terus kita lakukan atas supervisi pemerintah pusat. Mari kita terus bersatu dalam upaya mewujudkan Aceh lebih baik, dan bangkit dari bencana ini,” demikian Muhammad MTA.

  • Banjir Sumatera: UNDP dan UNICEF Kaji Bantuan yang Bisa Diberikan untuk Masyarakat Aceh

    Banjir Sumatera: UNDP dan UNICEF Kaji Bantuan yang Bisa Diberikan untuk Masyarakat Aceh

    7cloud.asia – UNDP Indonesia menyampaikan bahwa lembaga tersebut sedang melakukan peninjauan untuk memberikan dukungan yang terbaik kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan bencana dan masyarakat terdampak banjir Sumatera 

    Dalam pernyataan tertulis dari Pusat Informasi PBB (UNIC) di Jakarta, Senin (15/12/2025), disebutkan bahwa UNDP Indonesia telah menerima permintaan resmi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh pada 14 Desember 2025.

    “Saat ini, UNDP tengah melakukan peninjauan untuk memberikan dukungan terbaik yang dapat diberikan kepada pihak-pihak nasional yang terlibat dalam penanganan, serta masyarakat yang terdampak seiring dengan mandat UNDP mengenai pemulihan dini (early recovery),” menurut pernyataan tersebut.

    Pernyataan itu disampaikan untuk merespon pertanyaan dari media terkait surat dari Pemprov Aceh untuk UNDP Indonesia dan UNICEF agar membantu penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh.

    Baca: Pemprov Aceh surati lembaga internasional untuk bantu pemulihan

    Pernyataan itu juga menyampaikan bahwa UNICEF telah menerima surat dari Pemprov Aceh, dan saat ini sedang meninjau bidang-bidang dukungan yang diminta melalui koordinasi dengan otoritas terkait.

    Hal itu dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan prioritas di mana UNICEF dapat berkontribusi dalam upaya penanganan yang dipimpin oleh pemerintah.

    UNICEF, bersama dengan badan-badan PBB lainnya, sejak awal terjadinya banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah bekerja secara erat dengan pemerintah di tingkat nasional dan daerah, serta para mitra dalam mendukung upaya respons darurat.

    “Tim UNICEF di Kantor Lapangan Aceh telah berada di lapangan dan diperkuat dengan tambahan keahlian teknis, khususnya di bidang yang berkaitan dengan kesejahteraan anak,” menurut pernyataan itu.

    Baca: Masyarakat sipil somasi Presiden karena tak kunjung tetapkan status bencana nasional

    UNICEF itu pun menyatakan tetap berkomitmen penuh dan siap memberikan dukungan lebih lanjut terhadap respons yang dipimpin oleh pemerintah melalui koordinasi yang erat dengan otoritas terkait.

    Sementara itu, PBB di Indonesia menyampaikan pihaknya telah mendukung upaya pemerintah di lapangan melalui bantuan teknis sesuai mandat program-program yang sedang berlangsung di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, serta bantuan di tingkat nasional melalui kementerian terkait.

    “PBB siap untuk memperkuat dukungan tersebut dengan terus bekerja sama secara erat dengan pemerintah,” menurut pernyataan itu.

    Menurut data BNPB yang dipantau pada Senin (15/12/2025) malam, jumlah korban meninggal dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mencapai 1030 orang, 206 orang dinyatakan hilang, sekitar 7.000 orang terluka, dan 186.488 rumah mengalami kerusakan.

  • Banjir Sumatera: Warung Kopi Jadi Ruang Ketahanan Sosial di Aceh Saat Bencana

    Banjir Sumatera: Warung Kopi Jadi Ruang Ketahanan Sosial di Aceh Saat Bencana

    7cloud.asia – Ketika badai Senyar melanda Aceh dan memutus listrik serta jaringan komunikasi, kehidupan di Banda Aceh seolah terhenti. Kota yang biasanya bergerak dalam ritme aktivitas warganya berubah menjadi gelap dan sunyi.

    Kantor pemerintahan Aceh beralih fungsi menjadi posko bencana banjir. Kegiatan belajar-mengajar terhenti karena adanya instruksi meliburkan sekolah sementara.

    Di hari-hari pertama banjir Sumatera terjadi, komunikasi sempat terganggu sehingga banyak orang tak dapat mengetahui atau memastikan kabar keluarga di luar daerah.

    Namun, di tengah kelumpuhan itu, terdapat satu ruang yang tetap bertahan. Warung kopi (warkop)—tempat yang sehari-hari identik dengan obrolan santai dan aroma kopi hangat—menjelma menjadi ruang di mana koneksi sosial yang terputus perlahan tersambung kembali.

    Ketika semua padam, warkop tetap menyala
    Banda Aceh sering disebut sebagai “kota seribu warung kopi”. Sebutan ini lahir dari tradisi panjang berkumpul, berbagi cerita, dan membangun jejaring sosial lewat secangkir kopi.

    Namun, ketika bencana datang, peran warkop bergerak jauh melampaui fungsi awalnya sebagai tempat singgah.

    Saat listrik padam total dan sinyal telepon hilang berjam-jam, warkop berubah menjadi semacam titik penopang informasi bagi warga. Sebab, banyak warkop di Banda Aceh memiliki genset dan jaringan internet mereka sendiri .

    “Kami ke warkop bukan cuma mau isi baterai, tapi cari kabar tentang keluarga kami yang sudah lima hari terputus kontak. Di sini lebih cepat tahu apa yang sebenarnya terjadi.” (Aidil, warga Banda Aceh yang sudah lima hari kehilangan kontak dengan keluarganya di Aceh Tamiang)

    Baca: Perjuangan warga Bener Meriah menembus isolasi

    Masyarakat datang ke warkop dengan berbagai alasan: mencari perkembangan terbaru soal banjir, bekerja, ‘menumpang’ mengisi daya smartphone, atau sekadar membutuhkan tempat aman untuk meredakan kecemasan.

    “Di rumah gelap dan enggak ada sinyal sama sekali. Begitu lihat lampu warkop masih hidup, rasanya lega sekali—seperti ada tempat untuk bernapas. Apalagi saya harus segera mengirimkan berita.” (Nova, jurnalis media nasional di Banda Aceh)

    Dalam situasi bencana, warkop menjadi ruang pertama yang menyediakan dua hal yang paling dibutuhkan: informasi dan koneksi sosial.

    Identitas sosial mencair dalam situasi darurat
    Di Banda Aceh, warung kopi pada umumnya menjadi ruang bagi orang dewasa—pegawai, pekerja lapangan, atau komunitas. Namun, dalam situasi bencana, bukan hanya aktivitas sosial yang bergeser ke warung kopi, kegiatan akademis pun ikut berpindah ke sana.

    Di berbagai sudut warkop, pelajar SMA, mahasiswa, hingga dosen tampak duduk berdampingan, mengerjakan tugas, mengikuti ujian daring, atau sekadar membuka platform pembelajaran kampus.

    Dengan perpustakaan, kampus, dan ruang-ruang belajar lain tertutup karena listrik padam—sementara tuntutan akademis tetap berjalan—warkop menjadi jembatan yang memungkinkan proses belajar tetap berlanjut.

    “Kalau saya lebih suka duduk di warkop tradisional, selain harga makanan dan minumannya lebih terjangkau, tidak ada yang peduli kalau kita pakai seragam sekolah, tidak seperti di café-café.” (Raifa, salah satu siswi kelas XI, SMA Swasta di Banda Aceh)

    Di beberapa warkop, suasananya bahkan menyerupai kelas darurat kecil. Pelajar yang sebelumnya tak saling kenal duduk bersama, saling membantu membuka file tugas atau mencari sinyal yang stabil.

    Baca: Aksi kibarkan bendera putih desak penetapan status bencana nasional

    Dinamika ini memperlihatkan bagaimana ruang publik yang sederhana mampu beradaptasi cepat, menyesuaikan diri dengan kebutuhan warga di tengah krisis.

    Perubahan ini menunjukkan bagaimana identitas sosial dapat mencair ketika struktur formal tidak lagi berfungsi.

    Di tengah pemadaman listrik dan terputusnya komunikasi, batas-batas sosial—antara tua dan muda, mahasiswa dan pekerja, warga biasa dan pejabat, maupun mereka yang berstatus ekonomi berbeda—menjadi jauh lebih lentur.

    Mereka duduk di meja yang sama, saling berbagi colokan, bertukar kabar, dan menguatkan satu sama lain tanpa memandang latar belakang.

    Warkop dalam kondisi seperti ini membuktikan dirinya sebagai ruang publik informal yang mampu mengambil alih peran perekat sosial: menyatukan kelompok-kelompok masyarakat yang dalam keadaan normal mungkin jarang terhubung secara egaliter.

    Warung kopi menjadi tempat perjumpaan lintas kelas, lintas generasi, dan lintas profesi.

    Warung kopi di Aceh punya fungsi sosial yang sudah mengakar kuat, dan situasi bencana kali ini kembali menegaskan peran penting tersebut.

    Baca: Korban meninggal akibat banjir Sumatera capai 1071 orang

    Warung kopi sebagai ruang publik adaptif
    Berdasarkan observasi penulis, dalam situasi darurat seperti badai Senyar, warung kopi mengambil peran yang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai tempat menikmati kopi.

    Ruang ini berubah menjadi titik berkumpul masyarakat dan menjalankan beberapa fungsi sekaligus: sebagai ruang untuk saling menguatkan secara emosional; tempat belajar darurat; dan pusat informasi ketika saluran resmi tidak berjalan dengan baik.

    Ketiga fungsi tersebut menegaskan bahwa warkop adalah bagian dari infrastruktur sosial Aceh. Ketika sistem formal dan teknologi tidak mampu bekerja, ruang-ruang informal seperti inilah yang justru menjadi penopang keberlanjutan aktivitas warga sehari-hari.

    Pengalaman Banda Aceh menghadapi banjir Sumatera memberi catatan penting bagi kota-kota lain di Indonesia yang juga berhadapan dengan risiko bencana.

    Infrastruktur formal memerlukan dukungan cadangan berbasis masyarakat. Ruang publik informal dapat menjadi penyangga ketika sistem resmi berhenti berfungsi.

    Bencana kerap membuka hal-hal yang selama ini tidak terlalu terlihat—bahwa kita sangat bergantung pada ruang sosial yang sederhana tapi memiliki daya tahan kuat.

    Di Banda Aceh, warung kopi menegaskan hal itu. Warung kopi tidak lagi hanya menjadi tempat menikmati kopi Gayo, tetapi menjadi simbol bahwa solidaritas, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi tetap bertahan meski listrik padam dan jaringan internet hilang.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Foto dan Penulis: Rizanna Rosemary (Lecturer at Department of Communication Studies, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Syiah Kuala) dan Alfi Rahman (Lecturer at the Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Syiah Kuala; Director of the Research Center for Social and Cultural Studies (PRISB), and Researcher at the Tsunami and Disaster Mitigation Research Center Universitas Syiah Kuala

  • Kunjungi Aceh, JK: Bantuan Asing Boleh Masuk Selama untuk Kemanusiaan

    Kunjungi Aceh, JK: Bantuan Asing Boleh Masuk Selama untuk Kemanusiaan

    7cloud.asia – Ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla menegaskan bantuan asing untuk korban bencana dan pemulihan wilayah Sumatera seharusnya dapat masuk ke Indonesia dalam rangka kemanusiaan.

    Di sela-sela kunjungannya ke Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pria yang akrab disapa JK ini mengatakan bantuan tersebut harus dikoordinasikan dengan baik oleh pemerintah.  

    “Nanti tergantung dari pemerintah menghitung semuanya. Kalau sanggup ya kami buktikan dengan anggaran yang besar. Tapi kalau ini terlalu tinggi, tidak perlu minta, kalau ada masyarakat yang ingin bantu, tentu baik saja sebagai kemanusiaan. Dan kemanusiaan itu tidak ada batas wilayah,” jelas JK pada Jumat (19/12/2025).

    Baca: PMI Distribusikan 250 Liter Air untuk Korban Bencana di Padang

    Pada kunjungannya tersebut, JK melihat kondisi sejumlah rumah roboh dan rusak. Lumpur masih menggenangi rumah mereka dan kayu-kayu berserakan hingga memenuhi sungai.

    “Banjir itu akibat merusak yang banyak. Salah satu sebabnya ialah karena banyak kayu yang masuk ke sungai akibat perusakan lingkungan diatas, gitu kan? Jadi semua ini harus dibersihkan,” terangnya.

    Menurut mantan wakil presiden ini, kayu-kayu yang memenuhi sungai tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat setempat.   

    Baca: Tangani Korban Banjir, PMI Luncurkan Mobile Clinic

    “(Kayu) dipotong, angkut. Yang bisa dimanfaatkan ya manfaatkan. Yang tidak bisa, buang di suatu tempat tertentu. (Kayu) bisa dimanfaatkan untuk masyarakat untuk bikin meja, kursi. Agar mengurangi kesulitan masyarakat,” jelas JK.

    Pada kesempatan tersebut JK mendengar berbagai keluhan masyarakat yang berada di pengungsian. Mereka mengungkapkan hingga kini kebutuhan makanan, minuman, obat-obatan, peralatan dapur hingga kebutuhan sehari-hari masih kurang.

    Baca: Pemerintah Diminta Segera Buka Keran Bantuan untuk Korban Bencana Sumatera

    Mendengar keluhan tersebut, Jk berjanji melalui PMI akan segera menyalurkan bantuan kepada para korban.  

    “PMI akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa bantuan dapat segera disalurkan kepada para korban. Kami akan memberikan bantuan yang diperlukan, mulai dari kebutuhan dasar hingga peralatan yang dapat membantu pemulihan pasca-bencana,” kata JK.