Tag: aceh

  • Kick Off Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu Akan Dilakukan di Aceh

    Kick Off Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu Akan Dilakukan di Aceh

  • Curah Hujan Tinggi, 14 Desa di Kabupaten Simeulue Terendam

    Curah Hujan Tinggi, 14 Desa di Kabupaten Simeulue Terendam

     

    7cloud.asia – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Simeulue, Aceh mengakibatkan 14 gampong/desa yang tersebar di dua kecamatan tersebut terendam banjir hingga 1 meter dan tanah longsor.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Ilyas menjelaskan banjir dan tanah longsor di Simeulue mulai terjadi pada Senin (2/10/2023) sekitar pukul 05.00 WIB.

    “Kondisi terakhir sampai saat ini air masih tergenang di pemukiman warga,” ujar Ilyas seperti yang dikutip Antaranews.

    Di Kecamatan Simeulue Timur wilayah yang terkena banjir adalah Gampong Suka Karya, Air Dingin, Kuala Makmur, Sefoyan, Linggi, Suka Jaya, Air Pinang.

    Selain itu Ganting, Suka Damai, Suak Buluh, Sinabang, Amaiteng Mulia, Suka Maju, serta satu gampong di Kecamatan Teluk Dalam yakni Gampong Luan Balu juga terendam banjir.

    “(Banjir) akibat intensitas curah hujan yang tinggi mengakibatkan air meluap sampai ke bahu jalan dengan ketinggian air 30-100 centimeter,” ungkapnya.

    Selain merendam pemukiman penduduk, satu unit rumah warga tertimpa pohon tumbang di Gampong Sefoyan, kemudian pohon tumbang di Gampong Linggi, dan tanah longsor di Gampong Sefoyan.

    “Korban terdampak dan pengungsi masih dalam pendataan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut,” ucapnya.

    Saat ini, lanjut Ilyas, BPBD Simeulue terus melakukan pemantauan di beberapa titik yang banjir dan longsor, sekaligus melakukan penanganan terhadap pohon tumbang yang menimpa rumah warga.

    “Petugas BPBD Simeulue juga melakukan pendataan korban dan pemberian logistik masa panik,” katanya.

    Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan agar masyarakat di wilayah Provinsi Aceh mewaspadai potensi banjir dan tanah longsor yang dipicu curah hujan tinggi.

    “Musim peralihan dari puncak musim kemarau ke musim penghujan yang diprakirakan hingga awal Oktober,” ujar prakirawan BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda Aceh Besar, Faqih Musyaffa.

    Musim pancaroba ini diperkirakan akan berakhir pada awal Oktober 2023, kemudian Aceh mulai memasuki musim penghujan.

    “Maka perlu waspada potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan lainnya akibat hujan lebat,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Hujan Berhenti, Banjir di 3 Kecamatan Aceh Utara Mulai Surut

    Hujan Berhenti, Banjir di 3 Kecamatan Aceh Utara Mulai Surut

    7cloud.asia – Tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Utara yang sebelumnya dilanda banjir, kini mulai surut. Sebanyak 3.197 warga yang mengungsi kini telah kembali ke rumah mereka masing-masing.

    Hal ini disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Ilyas, melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB).

    “Kondisi terakhir di Kecamatan Matangkuli, Pirak Timu dan Tanah Luas, debit air sudah mulai surut,” ujar Ilyas dikutip Antaranews.

    Lebih jauh Ilyas menjelaskan banjir mulai merendam Kecamatan Matang Kuli, PirakTimu dan Tanah Luas kabupaten Aceh Utara pada Jumat (06/10/2023).

    Air sempat surut lalu pada Minggu (08/10/2023) malam curah hujan tinggi di wilayah tersebut.

    Akibatnya banjir kembali meluas di tiga kecamatan tersebut, serta empat kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan Syamtalira Aron, Samudera, Sawang, dan Gereudong Pasee.

    “Kondisi banjir di Kecamatan Sawang, Samudera, Syamtalira Aron, dan Geureudong Pase sudah surut (sejak Selasa, (10/10/2023),” ujar Ilyas.

    Selanjutnya Ilyas memaparkan ketinggian air yang merendam rumah warga serta fasilitas umum di Aceh Utara antara 20-120 sentimeter.

    Banjir terjadi karena meluapnya Sungai Krueng Sawang, Krueng Pasee, Krueng Pirak, Krueng Kereuto dan Krueng Peto.

    Kondisi ini dipicu oleh hujan deras di Aceh Utara dan wilayah dataran tinggi Kabupaten Bener Meriah selama sepekan terakhir.

    Akibatnya, lanjut Ilyas, korban terdampak dalam peristiwa ini berjumlah 6.644 jiwa dalam 2.525 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 28 gampong atau desa di Kecamatan Matangkuli.

    Kemudian di Kecamatan Pirak Timur berjumlah 4.437 jiwa dalam 1.099 KK tersebar di 11 gampong.

    Selanjutnya, di Kecamatan Tanah Luas sebanyak 3.184 jiwa dalam 984 KK yang tersebar di 11 gampong, dan Kecamatan Samudera berjumlah 1.726 jiwa dalam 447 KK tersebar di delapan gampong.

    Secara total jumlah korban yang terdampak banjir adalah 15.991 jiwa dalam 5.055 KK. “Jumlah pengungsi sebanyak 3.197 jiwa dalam 957 KK yang berada di 11 titik pengungsian. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” ungkapnya.

    Sementara itu, data dari BPBD Aceh Utara banjir tidak hanya merendam 4.439 unit rumah warga. Tetapi lahan sawah warga sekitar 592,5 hektare di Kecamatan Matang Kuli, kantor Camat, Koramil dan Polsek juga ikut terendam.

    “BPBD Aceh Utara berada di lokasi untuk melakukan pemantauan lebih lanjut, siaga, berkoordinasi, melakukan pendataan secara kontinu bersama perangkat gampong terpapar, dan melakukan evakuasi korban terdampak banjir,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Diguyur Hujan Deras, Lebih Dari 100 Rumah Warga Terendam

    Diguyur Hujan Deras, Lebih Dari 100 Rumah Warga Terendam

    7cloud.asia – Lebih dari 100 rumah di wilayah Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat terendam banjir antara 30 hingga 100 sentimeter sejak Senin (16/10/2023).

    Melansir Antaranews, banjir tersebut akibat hujan deras dengan intesitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Senin sore yang membuat Sungai Krueng Woyla dan Krueng Meureubo meluap. 

    Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat, pada Selasa (17/10/2023) siang banjir masih menggenangi 106 rumah di Desa Seumantok.

    Selain itu, banjir juga merendam 10 rumah di Desa Keutambang, dan enam rumah di Desa Jambak.

    Banjir juga menggenangi permukiman warga di Desa Canggai, Desa Pulo Teungoh Manjeng, Desa Lango, serta Desa Berdikari.

    Menurut Koordinator Pusat Pengendali Operasi BPBD Aceh Barat, Mashuri tinggi genangan di daerah banjir ada yang mencapai satu meter.

    “Banjir juga merendam ruas jalan dengan ketinggian 30 cm,” ungkap Mashuri .

    Saat ini, lanjut Mashuri, pihaknya bersama instansi pemerintah terkait membantu warga yang terdampak banjir. Tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir ini.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan dini adanya bibit siklon tropis 99W untuk sejumlah wilayah.

    Bibit siklon tropis di Laut Cina Selatan tersebut berpotensi membawa dampak  hujan lebat hingga sedang disertai petir di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya Aceh.

    “Bibit siklon tropis itu berpotensi dapat berdampak pada hujan lebat hingga sedang dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia,” kata Deputi Meteorologi pada BMKG, Guswanto.

    Selain Aceh, lanjut Guswanto, hujan sedang hingga lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang juga berpotensi terjadi di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.

    Bibit siklon tropis juga diprediksi dapat memicu gelombang tinggi 1,25-2 meter di wilayah Laut Natuna Utara.

    Selanjutnya Guswanto menjelaskan bibit siklon di Laut China Selatan itu tepatnya berada di sekitar koordinat 14,2 lintang utara dan 112,6 bujur timur.

    Kecepatan angin maksimum 15 knots dan tekanan udara minimum 1012.0 milibar (mb) bergerak ke arah barat laut.

    “Potensi bibit siklon 99W untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori rendah,” katanya.

    Ia menyampaikan masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan.

    BMKG, kata dia, terus melakukan pemantauan terhadap kemungkinan adanya potensi yang dapat berdampak terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Intensitas Hujan Tinggi, Waspada Banjir dan Longsor di Wilayah Ini

    Intensitas Hujan Tinggi, Waspada Banjir dan Longsor di Wilayah Ini

    7cloud.asia – Beberapa wilayah bulan ini mulai memasuki musim hujan. Aceh, salah satunya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di Aceh waspada potensi banjir dan tanah longsor.

    Prakirawan BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda, Budi Saritua Hutasoit, mengatakan secara umum wilayah provinsi paling barat Indonesia itu sudah mulai memasuki musim hujan.

    “Masyarakat diimbau harus waspada potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi, seperti banjir dan tanah longsor,” katanya dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Budi memaparkan peningkatan pertumbuhan awan hujan dalam beberapa hari ini dipicu adanya belokan angin (shearline) dan pertemuan angin (konvergensi).

    Kondisi ini membentuk adanya perlambatan angin di wilayah Aceh. Sehingga dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan.

    Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, beberapa daerah dengan status waspada banjir dan tanah longsor dalam beberapa hari ke depan, antara lain Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat, Nagan Raya.

    Selain itu wilayah Aceh Tengah, Aceh Jaya, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Simeuleu, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam juga berpotensi banjir dan tanah longsor.

    “Untuk arah dan kecepatan angin dominan dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan maksimum dapat mencapai 30 km per jam,” ungkapnya.

    Sementara untuk kondisi gelombang laut, kata Budi, diprediksikan masih kategori tenang hingga sedang, sehingga masih tergolong aman, terutama untuk jalur-jalur penyeberangan.

    Tinggi gelombang laut di perairan penyeberangan Banda Aceh-Sabang antara 0,05 – 0,5 meter dan Perairan Meulaboh-Kepulauan Sinabang antara 0,01-1,25 meter.

    “Yang perlu diwaspadai adalah potensi adanya perubahan kecepatan angin secara tiba-tiba saat akan terjadinya hujan lebat yang dapat menyebabkan angin kencang,” katanya.

    Karena itu BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini untuk aktivitas melaut karena tinggi gelombang yang diprediksi masih dalam kategori tenang.

    “Namun nelayan tetap harus waspada karena kondisi cuaca yang berpotensi terjadi hujan lebat, terutama di perairan barat Aceh,” ucap Budi.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Peringatan Dini BMKG: Curah Hujan Tinggi, Waspada Bahaya Banjir dan Longsor

    Peringatan Dini BMKG: Curah Hujan Tinggi, Waspada Bahaya Banjir dan Longsor

    ruangkota. com – Hujan mulai mengguyur beberapa wilayah di Indonesia. Salah satunya Provinsi Aceh. Curah hujan yang tinggi beberapa hari kedepan berpotensi terjadinya banjir dan longsor di 11 kabupaten/kota di Aceh.

    Peringatan dini ini disampaikan oleh Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Sultan Iskandar Muda Aceh Besar, Budi Saritua Hutasoit.

    “Yang harus dilakukan untuk level waspada, ialah berhati-hati jika aktivitas di luar rumah, dan tidak beraktivitas di luar rumah jika tidak mendesak,” kata Budi seperti dikutip Antaranews..

    Selanjutnya Budi menjelaskan ada 11 wilayah dengan status waspada terhadap dampak bencana yang dipicu hujan deras. Yaitu Gayo Lues, Aceh Singkil, Kota Subulussalam.

    Wilayah Aceh Selatan, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Simeulue juga dalam status waspada bencana banjir dan longsor.

    “Dampaknya seperti banjir, jembatan yang rendah tidak bisa dilintasi, longsor atau erosi tanah, dan aliran banjir berbahaya serta mengganggu aktivitas masyarakat skala menengah,” jelasnya.

    baca juga: intensitas hujan tinggi waspada banjir dan longsor di wilayah ini
    Prakiraan cuaca di Aceh, lanjut Budi, beberapa hari kedepan berpotensi diguyur hujan deras disertai petir dan angin kencang dalam beberapa hari ke depan.

    Hal ini disebabkan oleh adanya belokan angin dan pertemuan angin di Aceh yang membentuk perlambatan angin sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah pertemuan angin.

    Sementara beberapa wilayah yang dalam beberapa hari kedepan berpotensi diguyur hujan lebat sekaligus petir dan angin kencang adalah Pidie, Pidie Jaya, Aceh Jaya, Subulussalam, Aceh Barat Daya, Aceh Besar.

    Selain itu,  hujan lebat disertai petir dan angin kencang juga berpotensi terjadi di Banda Aceh, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Tamiang.

    Arah dan kecepatan angin di Aceh umumnya berhembus dari arah barat daya dengan kecepatan maksimum berkisar 15 knot atau sekitar 30 kilometer per jam.

    “Maka waspada potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan lainnya akibat hujan lebat,” ucap Budi.

    baca juga: diguyur hujan deras lebih dari 100 rumah warga terendam

    Sedangkan kondisi gelombang laut, lanjut Budi, diprediksikan masih kategori tenang hingga sedang yakni 0,01 – 2,5 meter.

    Hal tersebut masih dalam kategori aman, baik untuk aktivitas melaut dan juga jalur penyeberangan di wilayah Aceh.

    Tinggi gelombang laut di perairan penyeberangan Banda Aceh-Sabang antara 0,01 – 0,5 meter, penyeberangan Meulaboh-Kepulauan Sinabang tinggi gelombang laut antara 0,01 – 1,25 meter.

    Sementara perairan dengan potensi gelombang laut mencapai 2,5 meter yakni perairan Utara Sabang dan Samudera Hindia Barat Aceh.

    “Yang perlu diwaspadai adalah potensi adanya perubahan kecepatan angin secara tiba-tiba saat akan terjadinya hujan lebat yang dapat menyebabkan angin kencang,” katanya mengingatkan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Memorial Living Park Rumah Geudong Mulai Dibangun di Aceh, Seperti Ini Desainnya

    Memorial Living Park Rumah Geudong Mulai Dibangun di Aceh, Seperti Ini Desainnya

    7cloud.asia – Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya akan membangun Memorial Living Park Rumah Geudong di Kabupaten Pidie, Aceh.

    Pembangunan Memorial Living Park Rumah Geudong di Aceh ini merupakan bagian dari program Pemerintah melalui pemenuhan hak-hak konstitusional para korban pelanggaran HAM berat masa lalu.

    Peletakan batu pertama Pembangunan Memorial Living Park Rumah Geudong di Aceh ini dilakukan Penjabat Bupati Pidie, Wahyudi Adisiswanto di komplek Rumoh Geudong, Gampong Bili Aron Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, Selasa (24/10/2023).

    Dilansir, habarakyat.com Pada kegiatan ini juga dilaksanakan kenduri dan doa bersama sebagai keberkatan, yang dilanjutkan dengan santunan kepada anak-anak yatim dan piatu.

    Baca: Hakim MK  malu dan berkabung

    Pj Bupati menyampaikan, bahwa pembangunan Memorial Living Park Rumah Geudong ini merupakan bagian dari program pemerintah untuk memenuhi hak-hak konstitusional para korban pelanggaran HAM berat pada masa konflik silam.

    Namun, Memorial Living Park Rumah Geudong ini diharapkan tidak mengingatkan korban maupun keluarga korban yang dapat mengakibatkan trauma masa lalu yang berkepanjangan.

    Oleh karena itu, pemerintah sepakat membangun Memorial Living Park Rumah Geudong dengan desain yang lebih modern dan jauh dari kata suram.

    Di dalam Memorial Living Park Rumah Geudong ini terdapat masjid sebagai tempat ibadah serta taman, sehingga masyarakat dapat berkumpul dan beribadah dalam lingkungan yang sama.

    Baca: Mengenal konsep desain biofilik

    Pemerintah sampai hari ini masih terus berupaya mewujudkan kesejahteraan serta keselamatan bagi warga Aceh pasca Konflik.

    Beberapa waktu silam pemerintah sudah meluncurkan program pelaksanaan rekomendasi Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Berat di Tanah Air, yang dilaksanakan di Rumoh Geudong.

    Program ini merupakan bentuk dan upaya pemerintah dalam pemulihan hak- hak korban Pelanggaran HAM berat.

    Sejalan dengan hal tersebut, melalui kesempatan ini, saya mengharapkan kerja keras semua elemen di Pemerintahan Kabupaten Pidie dan dukungan dari masyarakat untuk merawat dan mewujudkan misi perdamaian yang telah menunjukkan hasil yang cukup baik selama ini.

    Baca: Desain ramah lingkungan dan angkat kearifan lokal Bandara Banyuwangi

    “Saya yakin, tidak ada yang menginginkan konflik terulang lagi di Aceh. Mari bersama kita bangun daerah yang kita cintai ini, dengan berbuat sebaik mungkin demi ketenteraman dan kesejahteraan Aceh, khususnya Kabupaten Pidie di masa mendatang,” ujarnya.

    Pencapaian ini harus kita tingkatkan lagi ke depan melalui program-program pembangunan yang lebih merespon dan menjawab kebutuhan rakyat dalam meningkatkan kualitas kesejahteraannya secara efektif, transparan dan tepat sasaran.

    Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD yang juga Ketua Tim Pengarah Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Berat di Masa Lalu (PP-HAM) jadi pengarah proyek Memorial Living Park Rumah Geudong ini.

    Menurutnya, Memorial Living Park Rumah Geudong ini dibangun di atas lahan bekas peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu Rumoh Geudong di Kabupaten Pidie Aceh.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Sedangkan, Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR, Mohammad Zainal Fatah menambahkan, saat ini sudah diselesaikan konsep desain berupa Panel Desain, Maket, serta 3D Video Konsep Desain Living Park dan Masjid.

    “Rencananya, berdasarkan konsep desain sementara yang kami terima, Living Park diharapkan tidak mengingatkan keluarga korban pada trauma masa lampau serta jauh dari kesan suram,” tandasnya.

    Lingkup pekerjaannya mencakup gerbang masuk, pedestrian dan jalan, area parkir, taman dan tugu Perdamaian, Masjid dan Plaza Masjid, playground, hardscape dan softscape lainnya. 

    Langgam desain memperhatikan kekhasan daerah Pidie, meliputi ornamen, masjid, taman, dan sebagainya.

    Diharapkan Living Park dan Masjid selaras dengan lingkungan sekitar, sehingga masyarakat dapat melupakan peristiwa kelam yang terjadi di masa lampau. 

  • Banjir di Aceh Selatan Sudah Lebih Seminggu, Ratusan Orang Mengungsi

    Banjir di Aceh Selatan Sudah Lebih Seminggu, Ratusan Orang Mengungsi

    7cloud.asia – Sudah seminggu lebih, sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan terendam banjir. Ketinggian air berkisar antara 30 hingga 40 sentimeter.

    Menurut kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Ilyas banjir tersebut akibat curah hujan intensitas tinggi sehingga menyebabkan 256 jiwa mengungsi.

    “Kondisi terakhir air masih mengenangi pemukiman warga. Petugas juga masih melakukan pemantauan pendataan dan pelaporan di lokasi banjir,” ujar Ilyas seperti yang dilansir Antaranews pada Rabu (22/11/2023).

    Selanjutnya Ilyas menjelaskan banjir  di Aceh Selatan mulai terjadi pada Rabu (15/11/2023).

    Baca: Banjir satu meter lebih di aceh selatan satu balita tewas

    Kemudian curah hujan yang tinggi di kabupaten tetangga membuat banjir di Aceh Selatan ini meluas.

    “Banjir akibat meluapnya Sungai Lee Soraya wilayah Sultan Daulat, Kota Subulussalam sehingga terjadi banjir kiriman ke wilayah Aceh Selatan, dengan ketinggian air 30-40 centimeter,” ungkap Ilyas.

    Hingga kini, berdasarkan data dari BPBA, 10 kecamatan yang terdampak banjir meliputi Kecamatan Trumon Timur sebanyak dua gampong, Trumon Tengah empat gampong, Trumon dua gampong, dan Sawang sebanyak tiga gampong.

    Selain itu, banjir juga terjadi  Kecamatan Kluet Timur sebanyak tiga gampong, Kluet Tengah 10 gampong,

    Baca: Hujan deras banjir di Aceh Utara meluas

    Kota Bahagia 10 gampong, Bakongan dua gampong, Bakongan Timur satu gampong, Pasie Raja juga satu gampong.

    Akibatnya sebanyak 13.531 jiwa dalam 3.796 kepala keluarga (KK) terdampak. Petugas BPBD Aceh Selatan masih terus melakukan pendataan.

    Banjir selama seminggu lebih ini mengakibatkan banyak penduduk yang mengungsi.

    Sebanyak 256 jiwa di Trumon Tengah Gampong Lhok Raya terdapat dua lokasi yakni Kompi Brimob sebanyak 140 jiwa dalam 39 KK dan shelter Lhok Raya sebanyak enam jiwa dalam dua KK.

    Baca: Perubahan iklim membuat banjir makin sering terjadi

    Sementara Gampong Cot Bayu satu titik di rumah tetangga sebanyak 20 jiwa dalam 10 KK dan shalter Cot Bayu sebanyak 90 jiwa dalam 30 KK.

    Sebelumnya diberitakan, banjir di Aceh Selatan ini merenggut nyawa seorang balita usai 2 tahun yang terseret arus banjir.

    “BPBD Kabupaten Aceh Selatan terus melakukan pemantauan, berkoordinasi dengan tim lapangan dan membuat laporan,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Deforestasi Marak Terjadi di Aceh, Satwa Kunci Jadi Terisolir

    Deforestasi Marak Terjadi di Aceh, Satwa Kunci Jadi Terisolir

    7cloud.asia – Adanya deforestasi di sejumlah wilayah di Aceh menyebabkan satwa kunci berupa gajah Sumatera, orang utan, harimau Sumatera dan badak Sumatera yang hidup di dalam hutan menjadi terisolir.

    Koordinator Polisi Hutan (Polhut) Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Rahmat menjelaskan jika kondisi ini terus terjadi maka  satwa kunci tersebut terancam punah.

    “Deforestasi berdampak terhadap satwa kunci yaitu fragmentasi habitat hingga satwa menjadi terisolir,” ujar Rahmat seperti dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Rahmat menjelaskan gajah Sumatera populasinya sekitar 1.100 ekor, kemudian orang utan populasinya 1.400 ekor.

    Baca: Dampak perubahan iklim dan El Nino terhadap satwa liar

    “Lalu yang mengkhawatirkan Harimau Sumatera sekitar 170-200 ekor dan Badak Sumatera lebih mengkhawatirkan 20 ekor lagi, dia tidak menyatu lagi, kelompoknya sudah terpisah,” ungkapnya.

    Sementara dari data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, angka deforestasi hutan alam Aceh terakhir pada 2021-2022 lebih kurang mencapai 5,3 ribu hektare.

    Selain itu juga terjadi deforestasi dalam kawasan hutan seluas 2,8 ribu hektare dan 2,5 ribu hektare di luar kawasan hutan.

    Rahmat menjelaskan akibat deforestasi terhadap satwa kunci selain membuatnya terisolir, juga berkurangnya ruang gerak/jelajah satwa, interaksi negatif dengan manusia hingga perubahan perilaku.

    Baca: Cara anak-anak komunitas Teman Manise peduli terhadap satwa liar

    “Perubahan perilaku satwa yang cenderung turun ke pemukiman. Contoh monyet sering dikasih makan, perilakunya menunggu di jalan berharap dikasih makan,” jelasnya.

    Adanya deforestasi ini tidak hanya berakibat pada berkurangnya luas hutan. Tetapi juga memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan banjir bandang.

    Selain itu deforestasi juga menyebabkan hilangnya berbagai jenis flora dan fauna, menyebabkan kerusakan kawasan hutan, dan habitat satwa liar semakin sempit serta rusaknya sumber daya air.

    Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kawasan hutan dan perairan Aceh mencapai 3,5 juta hektare.

    Baca: Taman Ujung Kulon dan pelestarian macan tutul Jawa

    Luas hutan tersebut terbagi dari 1 juta hektare hutan konservasi (termasuk perairan), hutan lindung sekitar 1,7 juta hektare, dan hutan produksi 710 ribu hektare.

    Diantaranya, juga terdapat wilayah konservasi daratan dan perairan yang dikelola BKSDA Aceh sekitar 419 ribu hektare yang dibagi dalam delapan kawasan.

    BKSDA Aceh selama ini terus melakukan perlindungan dan pengamanan kawasan hutan konservasi yang dikelolanya.

    Seperti patroli pengamanan, penandaan batas, pemasangan papan informasi kawasan/larangan, dan pemberdayaan masyarakat setempat.

    “Kemudian kami juga memberikan sosialisasi, pelatihan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar, serta operasi represif dalam rangka penegakan hukum,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Pemilu 2024: 8 Calon Anggota DPD Asal Aceh Kompak Laporkan Penggelembungan Suara

    Pemilu 2024: 8 Calon Anggota DPD Asal Aceh Kompak Laporkan Penggelembungan Suara

    7cloud.asia – Delapan calon anggota DPD asal Aceh kompak melaporkan adanya dugaan penggelembungan suara di wilayah Kabupaten Pidie untuk salah satu kandidat nomor urut 27 ke Panwaslih Aceh.

    “Jadi yang kita laporkan tentang penggelembungan suara ke calon DPD nomor urut 27 yang signifikan. Kami duga terjadi hampir semua kecamatan di Pidie,” kata salah seorang calon anggota DPD Azhari Cage, di Banda Aceh, Jumat (8/3/2024).

    Adapun delapan calon anggota DPD RI yang membuat laporan tersebut yakni Azhari Cage, M Fadhil Rahmi, Akhyar Kamil, Rahmat Maulizar, Nazar Apache, Razi Aulia (MC Razi), Nazir Adam dan Darwati A Gani.

    Untuk calon anggota DPD RI asal Aceh nomor urut 27 yang disebutkan, sesuai daftar DCT atau keputusan KIP Aceh yakni atas nama Sayed Muhammad Muliady.

    Baca: Bawaslu Sumsel tolak rekapitulasi suara KPU Kota Palembang

    Azhari menyampaikan, pihaknya telah membandingkan antara data C hasil dengan di tingkat kecamatan, perbedaan perolehan suara itu juga telah diprotes dalam pleno KIP Pidie

    Hasil protes tersebut kemudian sudah dilakukan koreksi untuk empat dari 23 kecamatan di Pidie, yaitu di Kecamatan Mane, Tiro, Indra Jaya dan Keumala. Sedangkan yang lainnya tidak diperbaiki.

    “Bahwa ini kezaliman yang luar biasa dengan sistematis, harus kami lawan. Maka kami berkesimpulan melaporkan kepada panwaslih untuk ditindaklanjuti dan diperbaiki agar keadilan ini sama-sama kami dapatkan,” ujar Azhari Cage.

    Hal senada juga disampaikan calon anggota DPD RI lainnya, M Fadhil Rahmi menyampaikan bahwa indikasi penggelembungan suara tersebut terjadi di hampir kecamatan di Pidie. Kecuali di tiga kecamatan awal yaitu Glumpang Baro, Geulumpang Tiga dan Titeu.

    “Kalau yang lain terjadi apa yang kita duga sebagai penggelembungan suara, dilakukan oleh penyelenggara untuk keuntungan salah satu calon,” katanya.

    Baca: Saksi PDI Perjuangan Bali tolak tandatangani hasil pleno rekapitulasi suara

    Anggota DPD RI yang masih menjabat ini menyebutkan, dugaan penggelembungan suara untuk salah satu kandidat itu sangat signifikan, lebih kurang mencapai 100 ribu suara.

    Penggelembungan suara itu, lanjut dia, diduga untuk calon nomor urut 27, berdasarkan dari hasil-hasil pleno di tingkat kecamatan, hingga sampai ke tingkatan pleno kabupaten.

    “Jumlahnya signifikan sekali, mungkin di angka-angka 70 ribu sampai 100 ribu (kenaikan penggelembungan suara) sekitar itu,” ujarnya.

    Dirinya berharap penyelenggara serta pengawas Pemilu untuk dapat bekerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Karena yang dilakukan ini bagian dari membawa masalah pada tempatnya.

    Kemudian, semua proses pelaporan ini juga sebagai upaya melindungi suara rakyat tidak dikhianati, serta menjunjung tinggi asas-asas keadilan dalam Pemilu.

    Baca: Jusuf Kalla sebut Pemilu 2024 merupakan yang terburuk sepanjang sejarah

    “Maka, kita harapannya di provinsi ini KIP Aceh dan Panwaslih Aceh untuk mampu menjaga netralitas kondisi yang kondusif. Tolong dudukkan suara sesuai dengan pilihan-pilihan yang dipilih oleh masyarakat,” kata Fadhil Rahmi.

    Terkait laporan tersebut, Koordinator Divisi Hukum dan Sengketa Panwaslih Aceh, Fahrul Rizha Yusuf menegaskan, pihaknya segera melakukan kajian terlebih dahulu.

    Fahrul menyatakan pihaknya melihat bukti-bukti yang disampaikan para pelapor.

    “Kita akan kaji, kita lihat prosesnya apa, kita lihat bukti buktinya. Nanti ada perbaikan-perbaikan yang kita minta. Ada tata cara prosedurnya,” demikian Fahrul Rizha Yusuf.

    Sumber: Antaranews.com