Tag: banjir bandang

  • Banjir Bandang di Nagekeo NTT, 3 Tewas dan 4 Lainnya Hilang

    Banjir Bandang di Nagekeo NTT, 3 Tewas dan 4 Lainnya Hilang

    7cloud.asia – Tiga orang meninggal dunia, dua orang luka-luka, dan empat lainnya dinyatakan hilang akibat banjir bandang di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan mengkonfirmasi selain korban jiwa, banjir bandang menyebabkan kerusakan material berupa satu rumah hanyut, dua kantor pemerintahan terdampak.

    Banjir bandang di Nagekeo ini juga mengakibatkan tiga ruas jalan tertutup longsor, dua jembatan rusak, serta lahan sawah, perkebunan, dan ternak yang ikut terendam.

    Baca: Orang kaya boros energi, orang miskin yang menanggung dampaknya

    Dalam keterangannya pada media, BNPB menyebut korban meninggal merupakan satu keluarga yang terjebak banjir di sebuah pondok di tepi Sungai Malasawu.

    “Setelah dievakuasi, para korban dibawa ke puskesmas terdekat dan diserahkan kepada keluarga,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Selasa (9/9/2025).

    Menurut Abdul, kondisi cuaca yang tidak menentu sedikit menghambat kerja tim gabungan dari personel BPBD Nagekeo, Basarnas, TNI, Polri, relawan dan warga yang sejak Senin (8/9/2025) masih melakukan upaya pencarian terhadap empat orang yang hilang.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Sebagaimana prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di Nagekeo hingga Kamis (11/9/2025).

    Kondisi cuaca tersebut tentunya dapat berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana banjir hingga tanah longsor. 

    BNPB mengimbau masyarakat di Mauponggo untuk meningkatkan kewaspadaan dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah demi meminimalisir risiko dari potensi bencana susulan.

    “Selanjutnya mitigasi bencana mulai dari penguatan vegetasi hulu, pengelolaan aliran air, sistem peringatan dini hingga penataan ruang harus menjadi perhatian bersama,” kata Abdul.

  • 12 Orang Meninggal Akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Sumatera Barat, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    12 Orang Meninggal Akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Sumatera Barat, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    7cloud.asia – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada Kamis (27/11/2025) mengakibatkan 12 orang meninggal. Pemerintah provinsi Sumatera Barat menetapkan status darurat bencana.

    Hal ini disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar Vasko Ruseimy dalam rapat tingkat menteri secara virtual pada Kamis sore.

    “Data terakhir di Sumatra Barat, korban meninggal dunia sebanyak 12 orang dan warga terdampak sekitar 12.000 jiwa,” ujar Vasko.

    Pihaknya, lanjut Vasko, bersama unsur organisasi perangkat daerah bersama TNI-Polri terus melakukan operasi penanganan darurat.

    Baca: Banjir dan Longsor si Sumatera Utara Akibatkan 13 Orang Meninggal

    Sebelumnya, sejak Kamis dinihari cuaca ekstrem berupa hujan sangat lebat mengakibatkan banjir bandang di wilayah di Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang.

    Material berupa batang pohon dan lumpur merusak rumah warga dan 4 orang meninggal dalam kejadian ini.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, dalam rilisnya menjelaskan, cuaca ekstrem tersebut menyebabkan banjir, longsor dan sejumlah pohon tumbang di 14 titik.

    Selain itu jembatan penghubung di Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang, putus akibat struktur jembatan yang dihantam material yang hanyut terbawa arus banjir.

    Baca: Tiga Kabupaten di Aceh Tetapkan Status Darurat Bencana Banjir

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang hingga kini masih melakukan proses evakuasi serta pengamanan di lapangan yang berpotensi mengancam keselamatan warga dan pelayanan warga yang terdampak.

    Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi BPBD Provinsi Sumbar mencatat cuaca ekstrem berupa hujan sangat lebat disertai petir dan angin kencang berdampak pada 17 kelurahan di 7 kecamatan di Kota Padang.

  • WALHI: Banjir Bandang di Sumatera Utara Cermin Kegagalan Negara Kendalikan Kerusakan Lingkungan

    WALHI: Banjir Bandang di Sumatera Utara Cermin Kegagalan Negara Kendalikan Kerusakan Lingkungan

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara menyebut banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten/kota di wilayah itu bukan semata bencana alam akibat hujan ekstrem yang dipicu badai tropis Senyar.

    Seperti diberitakan, sejak Selasa (25/11/2025), sedikitnya 8 kabupaten/kota di Sumatera Utara terdampak banjir bandang dan longsor, dengan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah sebagai wilayah paling parah.

    Puluhan ribu warga mengungsi, ribuan rumah hancur, serta ribuan hektare lahan pertanian rusak tersapu banjir. Hingga kini, tercatat 51 desa di 42 kecamatan terdampak, dengan banjir melumpuhkan perekonomian, merusak infrastruktur, rumah ibadah, dan sekolah.

    Banjir bandang paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli (Ekosistem Batang Toru), yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.

    Direktur Eksekutif WALHI Sumut, Rianda Purba, dalam pernyataannya kepada media mengatakan, bahwa kerusakan hutan turut memperburuk dampak yang diakibatkan badai tersebut.

    Dia menegaskan, banjir dan tanah longsor yang menewaskan puluhan orang ini adalah bencana ekologis akibat kegagalan negara mengendalikan kerusakan lingkungan.

    Baca: DPR dorong Presiden tetapkan banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional

    “Setiap banjir membawa kayu-kayu besar, dan citra satelit menunjukkan hutan gundul di sekitar lokasi. Ini bukti campur tangan manusia melalui kebijakan yang memberi ruang pembukaan hutan,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada media yang diterima Jumat (28/11/2025).

    Ia menambahkan, setidaknya ada tujuh perusahaan sebagai pihak yang diduga menjadi penyebab utama bencana ekologis yang melanda kawasan Tapanuli.

    Ketujuh perusahaan tersebut beroperasi di atau sekitar ekosistem Batang Toru yang menjadi habitat orangutan Tapanuli, harimau Sumatera, tapir, dan spesies dilindungi lainnya.

    WALHI Sumatera Utara menegaskan bahwa kehadiran industri ekstraktif telah menyebabkan deforestasi yang mengorbankan lingkungan dan masyarakat.

    Ekosistem Batang Toru: Penyangga hidrologis yang terus terkikis
    Rianda memaparkan, ekosistem Harangan Tapanuli/Batang Toru merupakan salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir di Sumatera Utara.

    Sebagai bagian dari Bukit Barisan, hutan ini menjadi sumber air utama, mencegah banjir dan erosi, serta menjadi pusat Daerah Aliran Sungai (DAS) menuju wilayah hilir.

    Baca: Aceh tetapkan status darurat bencana banjir

    Secara administratif, 66,7 persen Ekosistem Batang Toru berada di Tapanuli Utara, 22,6 persen di Tapanuli Selatan, dan 10,7 persen di Tapanuli Tengah.

    Adapun tujuh perusahaan yang beroperasi di Ekosistem Batang Toru adalah:
    1. PT Agincourt Resources – Tambang emas Martabe
    2. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) – PLTA Batang Toru
    3. PT Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu
    4. PT SOL Geothermal Indonesia – Geothermal Taput
    5. PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) – Unit PKR di Tapanuli Selatan
    6. PT Sago Nauli Plantation – Perkebunan sawit di Tapanuli Tengah
    7. PTPN III Batang Toru Estate – Perkebunan sawit di Tapanuli Selatan

    WALHI mendesak pemerintah untuk segera menghentikan aktivitas industri ekstraktif di Ekosistem Batang Toru, antara lain dengan mengevaluasi dan mencabut izin sejumlah perusahaan

    WALHI juga mendesak pemerintah mengevaluasi dan menghentikan proyek PLTA Batang Toru (NSHE), menutup dan mencabut izin PT Toba Pulp Lestari, termasuk praktik PKR; serta menghentikan aktivitas keempat perusahaan lain yang disebut sebelumnya

    Pemerintah juga diminta menindak tegas pelaku perusakan lingkungan, termasuk tujuh perusahaan yang diindikasikan merusak hutan dan lahan di DAS Batang Toru.

    Pemerintah juga didesak untuk segera menetapkan Kebijakan Perlindungan Ekosistem Batang Toru melalui RTRW Kabupaten, Provinsi, dan Nasional secara terpadu.

    Baca: Dua siklon tropis bisa picu hujan lebat dan angin kencang di sejumlah daerah

  • Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi, Korban Meninggal Terbanyak di Sumatera Utara

    Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi, Korban Meninggal Terbanyak di Sumatera Utara

    7cloud.asia – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sejak 25 November lalu, telah menelan lebih dari 100 korban jiwa. 

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers update penanganan bencana pada Jumat (28/11/2025) sore mengungkapkan korban meninggal Terbanyak ada di wilayah Sumatera Utara.

    Korban meninggal akibat banjir bandang yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara mencapai 116 orang dan 42 orang lainnya masih dalam pencarian.

    “Jumlah ini masih berkembang, karena ada titik-titik yang sampai sekarang belum bisa ditembus,” kata Suharyanto.

    Akibat bencana banjir bandang ini, lebih dari 1000 kepala keluarga (KK) yang mengungsi di sejumlah titik pengungsian.

    Baca: 12 Orang Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Barat

    Selanjutnya Suharyanto menjelaskan jalur transportasi dan komunikasi yang sempat terputus akibat bencana, kini sudah lebih baik kondisinya. Meski masih ada beberapa jalur yang putus seperti jalur Sibolga ke Tarutung.

    Karena itu, pihaknya bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum, Polri, TNI dan pemerintah daerah untuk memperbaiki jalur transportasi yang terputus.

    Selain itu, BNPB juga menyediakan fasilitas starlink untuk berkomunikasi dengan korban.

    BNPB dan Presiden Prabowo Subianto juga telah mengirimkan bantuan untuk masyarakat yang terdampak bencana.

    Bantuan tersebut berupa perlengkapan pengungsi, sembako, pakaian, makanan siap saji, mie instan, tenda, selimut, dan lain-lain.

    Baca: Banjir di Sumatera Utara Telan Korban Jiwa 13 Orang dan Ribuan Orang Mengungsi

    Sementara untuk wilayah Aceh, korban meninggal hingga Jumat sore mencapai 35 orang, 25 orang hilang dan 8 orang luka-luka.

    Suharyanto memaparkan kondisi di Aceh tidak separah di Sumatera Utara. Meski demikian, masih ada sejumlah jalur transportasi yang putus seperti jalan nasional dari Aceh menuju Sumatera Utara.

    Sama seperti wilayah Sumatera Utara, BNPB bekerjasama dengan sejumlah pihak akan memperbaiki jalur transportasi yang putus akibat diterjang banjir dan longsor.

    Bantuan logistik juga telah dikirim dengan menggunakan pesawat cesna serta helikopter ke titik-titik pengungsian.

    Baca: Walhi Sebut Banjir di Sumut Cermin Kegagalan Negara Tangani Kerusakan Lingkungan

    Sedangkan untuk wilayah Sumatera Barat, hingga Jumat sore tercatat 23 orang meninggal dunia, 12 hilang dan 4 orang luka.

    “Ini ketiga provinsi ini relatif bencananya besar, meskipun kalau dibandingkan ya dengan Sumatera Utara, Aceh, ya Sumatera Barat ini relatif lebih ringan. Tapi bukan berarti ini ringan. Kalau dibandingkan dengan Sumatera Barat sendirian ya ini sangat besar dan sangat masif,” jelas Suharyanto.

    Berdasarkan data yang diperoleh BNPB hingga Jumat sore, jumlah pengungsi mencapai 3900 kepala keluarga.

    “Paling parah ada di Tanah Datar, Padang Pariaman. Ada 3000-an lebih pengungsi. Kemudian Solok dan Kota Padang,” urainya.  

    Baca: DPR Dorong Pemerintah Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    Penanganan di wilayah Sumatera Barat sama dengan wilayah Sumatera Utara dan Aceh. Dia menjelaskan pada masa tanggap darurat ini, BNPB bekerjasama dengan berbagai pihak melakukan langkah-langkah awal.

    Langkah-langkah tersebut adalah mengevakuasi korban, mendistribusikan logistik buat masyarakat yang terdampak bencana serta membuka atau memperbaiki jalur transportasi dan komunikasi yang putus.

    “Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan, langkah selanjutnya adalah penanganan para pengungsi kedepannya,perbaikan fasilitas umum dan sebagainya” katanya.   

    Mulai hari ini, lanjut Suharyanto, pihaknya juga telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memaksimalkan proses evakuasi serta pendistribusian bantuan kepada para korban. 

  • Aceh Tamiang Sudah Bisa Diakses, Seperti Ini Kondisinya

    Aceh Tamiang Sudah Bisa Diakses, Seperti Ini Kondisinya

    7cloud.asia  Kabupaten Aceh Tamiang yang menjadi salah satu wilayah terparah di Tanah Rencong yang diterjang banjir bandang pada pekan lalu sempat menjadi perbincangan publik.

    Terputusnya jalur darat membuat daerah yang berada di perbatasan Sumatera Utara dan Aceh ini tidak bisa diakses bantuan.

    Selama beberapa hari awal bencana banjir Sumatera, Aceh Tamiang seolah terisolir dan tidak kunjung mendapat bantuan. 

    Ribuan rumah warga, fasilitas umum, jalan dan jembatan porak-poranda. Pengiriman bantuan juga terhambat jalur transportasi yang putus. Banyak warga yang belum mendapat bantuan logistik. 

    Baru dua hari ini bantuan mulai masuk seiring berhasil dibukanya jalur dari Langkat, Sumatera Utara.

    Baca Juga: Infrastruktur yang Rusak Akibat Banjir Sumatera Hambat Distribusi Bantuan

    Sejauh ini jumlah pengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 215.652 jiwa dan 39 orang meninggal dunia.

    Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi membantah informasi yang menyebut 250 warga di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru meninggal dunia tersapu banjir bandang beberapa hari lalu.

    “Saya pertegas, itu tidak benar (isu 250 warga Kampung Dalam meninggal). Jangan dipercaya, itu adalah informasi sesat,” kata Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi Kamis (4/12/2025) dikutip Antaranews.com

    Armia meminta masyarakat yang ingin mendapatkan data valid soal perkembangan penanganan bencana banjir di Aceh Tamiang, untuk datang langsung ke Posko Utama yang telah dibentuk pemerintah.

    “Kalau mau tanya data yang valid, silakan datang ke Posko Bicara Alam yang ada di perumahan Prabu Desa Paya Bedi,” ujarnya.

    Baca Juga: WALHI Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan yang Diduga Bertanggungjawab Atas Kerusakan Lingkungan

    Menurut Armia memang ada warga yang meninggal akibat bencana banjir di desa tersebut, tetapi tidak sebanyak seperti yang beredar. Kawasan tersebut juga bukan wilayah pedalaman.

    “Ada di Kampung Dalam yang meninggal di situ. Tetapi saya pikir tidak terlalu banyak,” ujarnya.

    Bahkan, kata dia, saat banjir melanda pertama, dirinya sempat menyeberangi sungai di wilayah tersebut, karena ia sempat terkurung banjir di daerah Karang Baru dekat Kantor BPBD.

    Dalam kesempatan ini, Armia menyebut pendistribusian logistik ke desa-desa terdampak banjir sudah banyak alat transportasi yang dapat digunakan, termasuk traktor untuk membawa bantuan ke wilayah sulit terakses.

    “Ini sudah ada banyak perlengkapan traktor kosong untuk mengirim terus ke kampung-kampung yang diperkirakan belum kita sentuh, terutama di daerah Tenggulun, Tamiang Hulu. Sungai Iyu dan Banda Mulia,” katanya.

     

     

  • Politisi PKS Sindir Menteri Kehutanan yang Terkesan Ingin Melepas Tanggung Jawab

    Politisi PKS Sindir Menteri Kehutanan yang Terkesan Ingin Melepas Tanggung Jawab

    7cloud.asia Kritik tajam disampaikan anggota DPR dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Kamis (4/12/2025) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat. 

    Dalam pertemuan itu, anggota Komisi IV, Rahmat Saleh, menyampaikan kritiknya terkait pernyataan Menteri Kehutanan yang mengklaim deforestasi menurun sepanjang 2025

    Pernyataan ini  dinilai, sebagai bantahan Menhut bahwa deforestasi turut memperburuk banjir bandang di tiga provinsi di Sumatera yang menewaskan lebih dari 800 jiwa.

    Rahmat Saleh juga melontarkan kritik tajam terkait penanganan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah dinilai kurang sigap menangani banjir bandang ini.

    Rahmat menyinggung contoh dari negara lain sebagai pembanding. Ia mengutip langkah dua anggota kabinet Filipina yang dikabarkan mengundurkan diri setelah dinilai tidak mampu merespons bencana banjir besar yang terjadi pada 18 November lalu. 

    Menurutnya, sikap tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral dan patut dijadikan pelajaran.

    Baca Juga: Korban Banjir Sumatera Tembus 836 Orang, Desakan Agar Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional Terus Digaungkan

    Rahmat memaparkan, pemerintah Filipina menghadapi tekanan publik terkait lambannya penanganan situasi darurat.

    Dua menteri kemudian memilih mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban, meski kondisi cuaca ekstrem bukan sepenuhnya berada di bawah kendali mereka.

    Ia menilai langkah tersebut sebagai tindakan yang menunjukkan integritas serta rasa empati terhadap masyarakat.

    Oleh sebab itu, menurut Rahmat, bukan sesuatu yang salah jika ada menteri di Indonesia yang mengambil sikap serupa apabila merasa tidak lagi mampu menjalankan tugas menangani bencana besar.

    Dalam rapat itu, Rahmat menegaskan bahwa jabatan publik bukan hanya soal wewenang, tetapi juga tanggung jawab. Ia menyebut bahwa bencana banjir di Sumatera telah menimbulkan kerugian besar dan menyisakan banyak masalah kemanusiaan.

    Karena itu, pemerintah termasuk Menteri Kehutanan harus menunjukkan langkah konkret dan kepemimpinan yang kuat. 

    Baca Juga: DPR: Banjir Sumatera Harus Jadi Momentum Perbaikan Pengelolaan Hutan

    Di hadapan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Rahmat menyampaikan kekhawatiran bahwa penanganan bencana termasuk banjir bandang di Sumatera memerlukan kecepatan, koordinasi, serta ketegasan dari para pejabat terkait.

    Dia menilai masyarakat membutuhkan kehadiran negara yang nyata, terutama dalam masa krisis ketika warga kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan akses kebutuhan dasar.

    Rahmat menekankan bahwa mundur dari jabatan adalah pilihan yang terhormat apabila seseorang merasa kewenangannya tidak lagi mampu memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak.

    Politisi PKS ini menyatakan bahwa tidak ada hal yang tabu dalam belajar dari negara lain, termasuk mengenai sikap pejabat publik dalam menghadapi tekanan masyarakat.

    Ia menutup pernyataannya dengan menyebut bahwa jabatan bersifat sementara, tetapi dampak dari sebuah keputusan dapat mempengaruhi hidup banyak orang.

    Karena itu, menurutnya, keberanian mengambil sikap tegas merupakan cerminan integritas seorang pejabat negara.

    Baca Juga: WALHI Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan yang Diduga Bertanggungjawab Atas Kerusakan Lingkungan

    Sementara, anggota Komisi IV lainnya juga mengingatkan agar kementerian memperkuat fungsi pengawasan terhadap pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan yang rentan menimbulkan banjir. 

    Mereka menilai bahwa degradasi lingkungan dan perubahan tata ruang menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak bencana.

    Rapat kerja tersebut berakhir dengan beberapa catatan. Komisi IV meminta kementerian mempercepat tindak lanjut lapangan dan meningkatkan koordinasi dengan BNPB serta pemerintah daerah.

    DPR menegaskan bahwa situasi darurat membutuhkan kerja cepat dan menyeluruh, bukan sekadar pernyataan atau rencana di atas kertas.

    Dengan mengangkat contoh dari negara lain, DPR berharap pemerintah bisa melihat praktik baik maupun kegagalan dari luar negeri sebagai bahan evaluasi. 

    Rapat berlangsung tanpa interupsi dari pihak kementerian. Raja Juli mencatat masukan yang disampaikan dan memastikan akan melakukan evaluasi lanjutan.

    Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah melakukan koordinasi lintas lembaga untuk mempercepat pemulihan daerah terdampak banjir di Sumatera.

    (Disarikan dari berbagai sumber)

     

     

     

  • Pemprov Sumatera Barat Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana hingga 22 Desember

    Pemprov Sumatera Barat Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana hingga 22 Desember

    7cloud.asia – Pemprov Sumatera Barat memperpanjang masa status tanggap darurat bencana banjir bandang selama 14 hari atau hingga 22 Desember mendatang. 

    Keputusan tersebut diambil setelah rapat koordinasi menyeluruh bersama seluruh pihak terkait menemukan masih ada korban hilang yang belum ditemukan, serta pendataan kerusakan dan kerugian masih terus berjalan. 

    “Karena itu, masa tanggap darurat kita perpanjang agar penanganan bisa lebih maksimal dan menyeluruh. (Perpanjangan) 14 hari, sampai 22 Desember mendatang,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, dalam keterangan tertulisnya.

    Data sementara yang terbaru  Dashboard Satu Data Bencana Sumbar, per Senin (8/12/2025) pukul 18.00 WIB, tercatat 24.049 orang mengungsi, 113 orang luka-luka, 95 orang hilang, dan 234 orang meninggal dunia.

    Mahyeldi menyebut dari total 16 daerah terdampak, terdapat tiga daerah tanpa korban jiwa dan luka, yaitu Kota Payakumbuh, Kabupaten Pasaman, dan Kabupaten Limapuluh Kota.

    Ia juga menyoroti kondisi kritis di Kabupaten Agam yang mencatat jumlah korban tertinggi, saat ini sebahagian masyarakat yang sudah pulang ke rumah juga kembali mengungsi, akibat kembali turunnya hujan dengan intensitas sedang di daerah tersebut.

    “Korban terbanyak terdapat di Kabupaten Agam, dengan 151 orang meninggal dan 55 orang hilang. Sejumlah warga di sana juga kembali mengungsi karena hujan intensitas sedang yang kembali turun,” jelasnya.

    Terpisah, pakar psikologisosial dari Universitas Gadjah Mada, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, mengatakan pada fase awal tanggap darurat, kebutuhan paling utama yang harus segera dipenuhi adalah logistik dan tempat tinggal yang layak bagi para penyintas. 

    Ia menekankan bahwa kesejahteraan psikologis tidak akan mungkin pulih jika kebutuhan dasar belum terpenuhi. 

    “Kalau kita bicara tentang well-being atau kesejahteraan fisik dan psikologis, nomor satu itu basic needs harus terpenuhi dulu. Masyarakat harus kembali pada kondisi yang nyaman. Jadi yang sangat penting adalah bagaimana kebutuhan dasar mereka bisa terpenuhi dan bagaimana mereka merasa tersupport,” jelasnya seperti dilansir ugm.ac.id

    Ia menambahkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar menjadi fondasi utama sebelum masuk pada tahapan pemulihan yang lebih panjang. Setelah fase darurat terlewati, Diana menyebutkan bahwa pihaknya bersama berbagai pemangku kepentingan akan menyusun program pemulihan jangka menengah dan panjang di wilayah terdampak, khususnya di Aceh. 

    Pendekatan ini dinilai penting agar pemulihan dilakukan secara berkelanjutan dan berbasis kebutuhan riil masyarakat di lapangan. 

    Dalam aspek bantuan yang bersifat paling mendesak saat ini, Diana menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan spesifik bagi perempuan dan anak-anak.

    Diana menjelaskan bahwa timnya memprioritaskan penyediaan dignity kit dan alat belajar untuk anak-anak sebagai bagian dari upaya pemulihan aktivitas harian dan mental mereka. 

    “Untuk sekarang, kita prioritaskan dignity kit dan alat belajar untuk anak-anak, karena itu membantu mereka segera kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Kita juga melatih para relawan dengan psychological first aid agar mereka bisa mendampingi penyintas saat memenuhi kebutuhan makan dan kebutuhan dasar lainnya,” terangnya.

    Dignity kit tersebut mencakup pembalut, perlengkapan mandi, popok, dan kebutuhan personal lainnya yang sangat penting bagi perempuan dan anak-anak dalam situasi darurat.

    Diana juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan bencana ini adalah menjangkau lokasi-lokasi terdampak yang sulit diakses. Untuk mengatasi kendala tersebut, timnya bekerja sama dengan NGO lokal yang sudah lebih dulu berada di lapangan. 

    Tantangan terbesar tentu saja bagaimana cara menjangkau lokasi-lokasi bencana ini. Karena itu, pihaknya akan  menggandeng salah satu NGO yang memang sudah lama di lapangan.  Kami, ujar Diana, yang melakukan training, dan juga membantu pemenuhan kebutuhan dasar.

    Melalui pendekatan pemenuhan kebutuhan dasar, dukungan psikososial, serta kerja sama lintas sektor dengan NGO dan institusi lokal, Diana menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga membangun kembali ketahanan mental dan rasa aman masyarakat. 

    Ia berharap langkah-langkah ini dapat membantu para penyintas untuk perlahan bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara lebih layak

     

     

  • Beberapa Kali Melanda Indonesia, Begini Proses Terjadinya Siklon Tropis

    Beberapa Kali Melanda Indonesia, Begini Proses Terjadinya Siklon Tropis

    7cloud.asia – Siklon tropis beberapa kali melanda Indonesia dengan berbagai nama seperti Siklon Tropis Anggrek, Siklon Tropis Seroja, Siklon Tropis Senyar, Siklon Tropis Bakung dan lain-lain. Namun apa sebenarnya siklon tropis?

    Siklon tropis dikenal dengan berbagai istilah di muka bumi, yaitu “badai tropis” atau “typhoon” atau “topan” jika terbentuk di Samudra Pasifik Barat, “siklon” atau “cyclone” jika terbentuk di sekitar India atau Australia, dan “hurricane” jika terbentuk di Samudra Atlantik.

    Siklon tropis dikenal sebagai salah satu fenomena atmosfer paling kuat karena dapat membawa angin kencang, hujan ekstrem, dan gelombang tinggi dalam skala luas.

    Baca: Waspada Siklon Tropis Bakung Picu Hujan Lebat Disertai Angi Kencang di Wilayah Ini

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan siklon tropis merupakan badai dengan kekuatan yang besar dengan radius rata-rata mencapai 150 hingga 200 km.

    Sebelum menjadi siklon tropis, akan muncul bibit siklon tropis yang terbentuk di atas lautan luas dan mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26.5 °C.

    Semakin hangat lautan, semakin besar energi yang memberi “bahan bakar” pada siklon. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.

    Bibit siklon tropis tersebut terbentuk di suatu wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut dengan mata siklon. Diameter mata siklon bervariasi mulai dari 10 hingga 100 km.

    Mata siklon ini dikelilingi dengan dinding mata, yaitu wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km, yang merupakan wilayah dimana terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.

    Baca: Dua Bibit Siklon Tropis Picu Hujan Lebat di Beberapa Wilayah

    Umumnya siklon tropis ini dapat bertahan antara 3 hingga 18 hari. Karena energi siklon tropis didapat dari lautan hangat, maka siklon tropis akan melemah atau punah ketika bergerak dan memasuki wilayah perairan yang dingin atau memasuki daratan.

    Daerah pertumbuhan siklon tropis mencakup Atlantik Barat, Pasifik Timur, Pasifik Utara bagian barat, Samudera Hindia bagian utara dan selatan, Australia dan Pasifik Selatan.

    Sekitar 2/3 kejadian siklon tropis terjadi di belahan bumi bagian utara. Sekitar 65% siklon tropis terbentuk di daerah antara 10° – 20° dari ekuator, hanya sekitar 13% siklon tropis yang tumbuh diatas daerah lintang 20° , sedangkan di daerah lintang rendah (0° – 10°) siklon tropis jarang terbentuk.

    Baca: Delapan Hari Sebelum Bencana di Sumatera, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan sebenarnya kemunculan siklon tropis di sekitar Indonesia bukanlah anomali. Menurutnya fenomena ini memiliki pola periodik yang berulang setiap tahun.

    “Siklon tropis di wilayah Indonesia memiliki periodisasi, belahan Bumi utara itu terjadi di bulan Juni hingga Desember. Kemudian, periodisasi selatan, di belahan Bumi selatan itu terjadi Desember-April, terdapat satu bulan ‘overlapping’ bulan Desember,” jelas Guswanto seperti yang dilansir dari laman RRI, Sabtu (13/12/25).

    Selanjutnya Guswanto memaparkan adanya siklon tropis yang terjadi di waktu yang bersamaan di wilayah utara dan selatan Indonesia menyebabkan siklon tampak lebih sering dalam beberapa pekan terakhir.

    “Seperti saat beberapa minggu yang lalu, itu terjadi di utara ada siklon tropis di selatan juga terjadi. Sehingga itu akan sering terjadi,” katanya.

    Baca: Mengapa Siklon Langka Bisa Melanda Kawasan Tropis?

    Jika siklon tropis mulai terbentuk, maka akan memengaruhi cuaca dalam radius ratusan kilometer. Dampaknya dapat dirasakan bahkan ketika pusat siklon berada jauh dari wilayah pemukiman.

    Seperti yang terjadi di Pulau Sumatera, hujan lebat yang menyebabkan banjir dan banjir bandang. Siklon tropis juga menyebabkan terjadinya angin kencang yang dapat menumbangkan pepohonan, merusak bangunan ringan, dan mengganggu transportasi.

    Intensitas hujan yang tinggi akhirnya menyebabkan pergerakan permukaan tanah yang gundul sehingga terjadi tanah longsor.

    Tak hanya di darat. Siklon tropis juga memengaruhi tinggi gelombang dan badai laut yang dapat mencapai kategori berbahaya bagi nelayan dan pelayaran.

  • Banjir Bandang Landa Kepulauan Siau, Sulawesi Utara: 6 Orang Meninggal

    Banjir Bandang Landa Kepulauan Siau, Sulawesi Utara: 6 Orang Meninggal

    7cloud.asia – Banjir bandang dilaporkan melanda sejumlah permukiman di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, Senin (5/1/2026) dini hari.

    Dari informasi yang dirangkum Antaranews.com, banjir bandang tersebut menerjang Kelurahan Bahu, Kecamatan Siau Timur, serta Kampung Peling Sawang dan Kampung Paseng, Kecamatan Siau Barat.

    Dari keterangan warga Kelurahan Bahu, Bella Malumbot (27) dan Meriko Maneghe (50-an), banjir bandang terjadi secara tiba-tiba sekitar pukul 03.00 WITA saat sebagian besar warga masih tertidur.

    “Air datang sangat cepat, tiba-tiba langsung masuk dan menyeret material lumpur. Banyak warga panik dan berusaha menyelamatkan diri,” ungkap Bella.

    Pemerintah daerah bersama TNI, aparat terkait, dan warga setempat tengah melakukan evakuasi terhadap korban luka serta melakukan pencarian terhadap warga yang dilaporkan belum ditemukan.

    Baca: Krisis Pendanaan dalam penanganan bencana ekologis

    Banjir bandang mengakibatkan material lumpur, batu, dan kayu dilaporkan menutup sebagian akses jalan di beberapa titik.

    Petugas sedang berupaya memastikan kondisi warga terdampak serta menyalurkan bantuan darurat. Belum ada keterangan resmi terkait jumlah korban maupun kerugian material yang ditimbulkan.

    Sementara itu, dalam rilis resmi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro disebutkan bahwa banjir bandang ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung secara terus-menerus disertai angin puting beliung.

    Berdasarkan data sementara di lapangan, lima unit rumah dilaporkan hilang terseret banjir. Selain itu, terdapat sepuluh warga yang menjadi korban, dengan rincian enam orang ditemukan meninggal dunia, 4 orang luka dan empat lainnya masih dalam proses pencarian.

    Selain itu 35 kepala keluarga di dalamnya sebanyak 108 jiwa untuk sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman.

    Baca: Indonesia tak lagi bebas siklon, pemerintah diminta lebih serius

    Pemerintah daerah bergerak cepat dengan menurunkan tim gabungan untuk melakukan pencarian korban, evakuasi warga terdampak, serta membuka kembali akses jalan yang tertutup material longsor.

    ”Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” ujar Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit.

    Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat kondisi cuaca masih berpotensi hujan dengan intensitas tinggi.

    Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro bersama unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, serta para relawan masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan.

    Mereka juga bersiaga mengantisipasi kemungkinan banjir serta longsor susulan.

     

     

  • Korban Banjir Bandang di Kepulauan Sitaro Bertambah Menjadi 11 Orang

    Korban Banjir Bandang di Kepulauan Sitaro Bertambah Menjadi 11 Orang

    7cloud.asia – Korban meninggal dunia dalam peristiwa bencana banjir bandang yang menerjang Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara pada Senin (5/1/2025) bertambah menjadi 11 orang.

    Dari kesebelas korban meninggal dunia, enam jenazah telah terindentifikasi, sementara lima jenazah masih dalam pendataan. Kepada keluarga korban meninggal dunia, BPBD Kabupaten Sitaro memberikan fasilitas pemakaman korban.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya mengatakan, hingga Senin malam, lima orang masih dinyatakan hilang atau dalam pencarian.

    Operasi search and rescue atau SAR belum dilanjutkan karena terhalang cuaca buruk berupa hujan lebat yang berpotensi banjir dan longsor susulan pada lokasi bencana. Operasi SAR akan segera dilanjutkan keesokan hari.

    Baca: Perubahan iklim membuat siklon tropis kian mematikan

    Selain korban meninggal dunia, banjir bandang ini turut berdampak pada 143 Kepala Keluarga atau 444 jiwa yang harus mengungsi.

    Pemerintah daerah setempat membuka pos pengungsian sementara di gedung GMIST Bethbara dan menyiapkan alat tidur, peralatan untuk anak-anak, dan makanan siap saji di pengungsian.

    Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, wilayah terdampak meluas menjadi empat kecamatan meliputi Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan.

    Baca: Indonesia tak lagi bebas siklon

    Merespon bencana banjir bandang ini, Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro selama 14 hari hingga 18 Januari 2026.

    Keputusan ditunangkan lewat SK nomor 1 Tahun 2026 yang mulai berlaku  5 Januari s.d 

    Untuk keperluan pembukaan akses jalan yang putus BPBD Kabupaten Sitaro bekerja sama dengan Dinas PU dan Dinas Lingkungan Hidup memobilisasi alat berat (excavator dan wheel loader) ke Lokasi bencana dengan target kerja ketika cuaca telah memungkinkan.

    Banjir bandang ini terjadi cara tiba-tiba sekitar pukul 03.00 WITA setelah hujan deras melanda daerah tersebut. Saat kejadian, sebagian besar warga masih tertidur.