Tag: disabilitas

  • Perubahan Iklim dan Disabilitas: Pemerintah Belum Merecognisi Kebutuhan Disabilitas

    Perubahan Iklim dan Disabilitas: Pemerintah Belum Merecognisi Kebutuhan Disabilitas

    7cloud.asia – Kelompok disabilitas merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terdampak perubahan iklim.

    Fatum Ade dari Perhimpunan Jiwa Sehat mengatakan, perubahan iklim membuat diskriminasi yang dirasakan kelompok disabilitas lewat praktik ableism makin menjadi.

    Karena itu, Ade menekankan, pentingnya melibatkan kelompok disabilitas baik fisik maupun mental dalam menyusun dokumen iklim maupun merumuskan kebijakan iklim.

    Berbicara di sela temu media bertajuk Bersuara untuk Iklim: Mewujudkan Keadilan Iklim untuk Kelompok Terpinggirkan, pada Kamis (4/7/2024) di Jakarta Dede mengatakan, dalam kondisi normal pun kelompok disabilitas telah mengalami berbagai diskriminasi.

    “Dalam akses layanan publik, akses pendidikan dan kesempatan kerja kelompok disabilitas dinomorduakan. Kondisi ini memburuk karena perubahan iklim,” ujarnya.

    Baca Juga: Soal Aksi Iklim, Koalisi Masyarakat Sipil Minta Masyarakat Paling Berisiko Jangan Lagi Dijadikan Objek

    Ade menambahkan, kelompok disabilitas empat kali lebih rentan merasakan dampak yang diakibatkan perubahan iklim dibanding mereka non disablitas. Namun, dalam banyak kasus kelompok disabilitas justru kurang diperhatikan.

    Ade kemudian memaparkan penanganan bencana yang terjadi akibat dampak perubahan iklim, termasuk bencana hidrometeorologi yang belum optimal mempertimbangkan kebutuhan disabilitas.

    Contohnya, kelompok disabilitas kerap menjadi kelompok yang terakhir kali dievakuasi ketika terjadi bencana, karena alat evakuasi yang tidak memadai, terutama untuk disabilitas fisik.

    “Dari beberapa waktu belakangan ini kami cukup concern karena banyak laporan dari teman-teman kami di daerah terkait mereka menjadi korban, baik rumahnya tenggelam karena naiknya permukaan air,” imbuhnya.

    Baca Juga: KLHK Sedang Menyusun Second Nationally Determined Contribution atau SNDC, Ini Rekomendasi Masyarakat Sipil

    Ia mengatakan, perubahan iklim juga membuat kelompok disabilitas makin kesulitan mengakses kesempatan kerja.

    Ada teman-teman kami, ujarnya, yang kehilangan pekerjaan karena panas semakin tinggi membuat mereka tidak sanggup karena banyak penyandang disabilitas bekerja asongan dan mereka harus berjalan di panas matahari.

    Kemudian karena mereka tidak kuat merasakan suhu yang tinggi dan akhirnya terpaksa menghentikan pekerjaannya.

    “Namun, kondisi seperti ini sering diabaikan atau tidak dilihat negara dalam merumuskan kebijakan,” katanya.

    Baca Juga: Masyarakat Sipil Kirim Surat Terbuka ke KLHK Terkait Penanganan Perubahan Iklim

    Karena itu Ade berharap, dalam menyusun Second National Determined Contribution atau SNDC, pemerintah merecognisi kebutuhan kelompok disabilitas.

    “Nothing about us without us,” pungkasnya.

    Dalam kesempatan itu, Direktur Yayasan Pikul Torry Kuswardono mengatakan untuk mewujudkan prinsip keadilan iklim maka dalam penyusunan dokumen NDC demi mencapai target iklim Indonesia, maka masyarakat akar rumput yang tinggal di berbagai lanskap dan merasakan dampak nyata perubahan iklim, harus menjadi subjek dalam penyusunannya.

    “Ketika kita bicara soal keadilan iklim yang harus diletakkan adalah warga negara dengan berbagai macam kondisi itu sebagai subjek. Artinya dia harus turut serta merancang apa yang menjadi target, apa yang menjadi program,” kata Torry.

  • Kisah Para Perempuan Disabilitas dalam Mengakses Layanan Kesehatan

    Kisah Para Perempuan Disabilitas dalam Mengakses Layanan Kesehatan

    7cloud.asia – Marilyn, 30 tahun, warga Medan, disabilitas netra, sering menghadapi tantangan besar dalam mengakses layanan ataupun pendidikan kesehatan reproduksi, karena tidak tersedianya alat peraga yang memadai serta petugas yang cakap berinteraksi dengannya.

    Di daerah lain, Nadia Zahra Khairunnisa 18 tahun, warga kota Makasar, disabilitas intelektual, sering terabaikan atau dianggap tidak perlu oleh petugas medis yang tidak terlatih untuk memahami kebutuhan khusus mereka.

    Hal serupa dialami Dewi Rosdiana, 26 tahun, warga Lombok Tengah, disabilitas mental, ketika mencoba mendapatkan informasi dan pelayanan
    yang layak.

    Lain lagi yang dialami Saadah, 60 tahun, warga Kota Bandung, disabilitas fisik pengguna kruk, acap kali kesulitan memasuki pusat-pusat layanan kesehatan yang bertangga-tangga.

    Ia bahkan kerap kesulitan memarkirkan motor roda tiganya karena parkir khusus penyandang disabilitas jarang tersedia.

    Selain itu, tidak tersedianya petugas kesehatan yang memahami bahasa isyarat atau komunikasi alternatif lainnya, membuat Fransky Nithanel Loa, 29 tahun, warga kota Kupang, disabilitas tuli, harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan layanan dasar.

    Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa cemas dan terabaikan, tapi juga berisiko terhadap kesehatan mereka, karena keterlambatan atau ketidakpastian untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan tepat waktu.

    Retnowaty Sibarani, 58 tahun, warga Jakarta Timur dan pengguna kursi roda, punya pengalaman lain. Selama masa kehamilan dulu, dia tidak pernah ditimbang berat badan layaknya perempuan hamil lainnya.

    Suster hanya bertanya kira-kira berapa berat badan saya, atau hanya memperkirakan dengan cara membandingkan dengan perempuan lain yang ukuran tubuhnya kira-kira sama.

    “Keadaan ini masih terjadi pada teman-teman saya sesama pengguna kursi roda hingga saat ini,” paparnya.

    Ketua Umum Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Revita Alvi menyebut, kisah-kisah seperti ini mencerminkan realitas kerentanan yang dihadapi oleh jutaan penyandang disabilitas di Indonesia dalam mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan yang layak.

    “Lebih jauh lagi, secara statistik Perempuan disabilitas lebih mungkin mengalami kekerasan, pelecehan, diskriminasi, dan isolasi,“ ujar Revita saat berbicara di acara Seminar Nasional Diseminasi Hasil Penelitian Dan Audit Sosial Pelayanan Kesehatan Bagi Warga Disabilitas,” pada Senin (9/9/2024) di Jakarta.

    Para penyandang disabilitas sering dianggap tidak memiliki kebutuhan seksual dan kapasitas dalam pengambilan keputusan terhadap kesehatan reproduksinya, entah itu terkait kontrasepsi, sterilisasi ataupun kehamilan.

    Keterbatasan infrastruktur yang aksesibel, kurangnya pelatihan bagi tenaga medis yang berkesinambungan, serta minimnya kesadaran akan kebutuhan khusus penyandang disabilitas menghambat upaya mereka untuk mendapatkan hak kesehatan yang setara.

    Hal ini diperparah oleh ketidakadaan kebijakan yang mendukung inklusi penyandang disabilitas secara menyeluruh dalam sistem kesehatan nasional,” jelas Revita.

    Hambatan akses bagi perempuan penyandang disabilitas setidaknya meliputi aspek sikap, fisik, komunikasi, dan sumber daya.

    Revita lantas memaparkan, laporan BPS 2018, sekitar 13,6 juta penyandang disabilitas di Indonesia, dengan 51 persen di antaranya adalah perempuan.

    Dari angka itu, hanya 9,4 persen dari perempuan penyandang disabilitas yang memiliki akses ke layanan kesehatan reproduksi.

    Kesenjangan ini sangat mencolok dibandingkan dengan 86,7 persen perempuan non-disabilitas.

    Penyandang disabilitas juga menghadapi tingkat kemiskinan yang lebih tinggi, yakni 18,3 persen, yang memengaruhi kemampuan mereka untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang memadai.

  • Kajian HWDI: Reformasi Layanan Kesehatan Reproduksi bagi Perempuan Penyandang Disabilitas Mendesak Dilakukan

     

    7cloud.asia – Merespon berbagai kendala yang dihadapi disabilitas dalam mengaksss layanan kesehatan, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), bersama Perkumpulan Inisiatif, FITRA, didukung oleh International Budget Partnership (IBP) melakukan beberapa kajian penting.

    Kajian itu mencakup Data Collection Identity Marker for Gender Intersectionality, Analisis Ekonomi Politik dan Tata Kelola Anggaran Kesehatan Reproduksi.

    Tim juga melakukan Audit Sosial Pelayanan Kesehatan Reproduksi di Puskesmas, dengan sample 36 puskesmas di Sumatera Utara, DK Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

    Hasil kajian dipaparkan dalam “Seminar Nasional Diseminasi Hasil Penelitian Dan Audit Sosial Pelayanan Kesehatan Bagi Warga Disabilitas” pada Senin (9/9/2024) di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat yang dipantau secara daring.

    Ketiga kajian ini menegaskan kebutuhan mendesak akan reformasi layanan kesehatan reproduksi yang inklusif bagi perempuan penyandang disabilitas, melalui perbaikan kebijakan, infrastruktur, serta peningkatan kapasitas dan kesadaran di kalangan penyedia layanan kesehatan.

    Yuna Farhan, Country Manager International Budget Partnership, menyatakan pihaknya mendukung ketiga kajian ini.

    ”Komunitas memiliki peran penting dalam mengidentifikasi kesenjangan dalam pemberian layanan dengan mengumpulkan data untuk membuat pengambilan keputusan menjadi lebih baik sesuai kebutuhan spesifik penyandang disabilitas,” ujarnya.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari program SPARK (Strengthening Public Accountability for Results and Knowledge/ Penguatan Akuntabilitas Publik untuk Hasil dan Pengetahuan) untuk memastikan bahwa tata kelola fiskal dan sistem pemberian layanan lebih inklusif, responsif, dan akuntabel.

    Baca: Perjuangan perempuan disabilitas dalam mengakses layanan kesehatan

    Dalam pemaparannya, Ketua II HWDI bidang Advokasi dan Peningkatan Kesadaran Rina Prasarani mengatakan, kajian pertama mengungkapkan perempuan penyandang disabilitas mengalami diskriminasi berlapis karena identitas gender dan disabilitas mereka.

    ”Tantangan ini semakin besar bagi mereka yang memiliki disabilitas ganda, tinggal di daerah pedesaan, atau berasal dari keluarga miskin,” terangnya.

    Akses terhadap kesehatan reproduksi menjadi semakin mendesak dan perlu mempertimbangkan kebutuhan spesifik ragam disabilitas. Budaya patriarkal dan minimnya partisipasi dalam pengambilan keputusan menambah beban perempuan penyandang disabilitas.

    Kajian Kedua menyoroti kesenjangan sistemik dalam akses kesehatan reproduksi bagi perempuan penyandang disabilitas.

    ”Pola pikir yang belum berperspektif pro disabilitas dan kurangnya data berkualitas serta pendataan yang tidak terpilah menjadi tantangan signifikan,” imbuh Rina.

    Mekanisme akuntabilitas publik juga belum memberikan perhatian khusus pada penyandang disabilitas, terutama dalam hal kesehatan reproduksi.

    Kajian Ketiga mengungkapkan upaya perbaikan infrastruktur dan layanan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar puskesmas menjadi lebih inklusif.

    Baca: Organisasi disabilitas tak dilibatkan dalam penyusunan RPP Konsesi dan Insentif bagi Penyandang Disabilitas 

    Prioritas utama meliputi pelatihan tenaga kesehatan dan non-kesehatan, penyusunan SOP untuk pasien disabilitas, serta perbaikan infrastruktur yang lebih ramah disabilitas.

    Ari Nurman, ketua departemen perlindungan sosial dan layanan dasar Perkumpulan Inisiatif berharap hasil audit sosial puskesmas ini dapat menjadi dasar untuk kebijakan yang lebih inklusif dan ramah disabilitas.

    “Fakta bahwa masih banyak penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan dalam mengakses dalam layanan kesehatan, bahkan ada yang mengalami diskriminasi, menunjukkan kita masih jauh dari cita-cita inklusi serta masih banyak yang harus kita kerjakan dan perbaiki,” ujarnya.

    “Salah satu solusi penting untuk mengurai masalah aksesibilitas kesehatan reproduksi bagi perempuan disabilitas adalah membuka ruang-ruang pengambilan keputusan dalam penyusunan kebijakan” ucap Rizqika Arrum, peneliti Seknas FITRA.

    “Pemerintah sebenarnya telah menerbitkan Peraturan Bappenas No. 3 tahun 2021 yang mengatur tentang penyelenggaraan ‘Forum Tematik Disabilitas’, tapi hingga kini, banyak daerah yang belum melaksanakannya” imbuhnya.

    Untuk itu, Arrum menyarankan agar pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan Forum Tematik Disabilitas tersebut.

    Baca: Program beasiswa ADIK untuk penyandang disabilitas

    Dari aspek anggaran, dukungan anggaran terkait kesehatan reproduksi bagi perempuan disabilitas masih minim. Berdasarkan hasil PEA, anggaran Kespro tersebar di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), BKKBN, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-P3A).

    “Total anggaran kesehatan reproduksi pada tahun 2024 sebesar Rp700,3 milyar atau hanya 0,03 persen dari Total Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp2.467,5 triliun” ujar Misbah Hasan, Sekjen FITRA.

    Anggaran kesehatan reproduksi terbesar dialokasikan oleh BKKBN sebesar Rp680,2 milyar, sedangkan Kemenkes dan Kemen-P3A masing- masing mengalokasikan anggaran sebesar Rp10,7 milyar dan Rp9,5 milyar.

    “Anggaran kesehatan reproduksi khusus penyandang disabilitas hanya terdapat
    pada satu kegiatan sebesar Rp. 1,1 milyar, ini yang harus ditingkatkan,” jelas Misbah.

    Ketua Umum HWDI, Revita Alvi berharap seminar ini dapat membuka peluang untuk dialog konstruktif serta menghimpun komitmen dan kolaboratif multipihak.

    Reformasi diperlukan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan reproduksi bagi semua penyandang disabilitas di Indonesia.

    “Kami berharap seminar ini tidak hanya memaparkan kondisi saat ini, tetapi juga menjadi titik referensi yang menghasilkan rekomendasi yang konkret untuk perbaikan layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas dengan pelibatan penuh dan bermakna organisasi disabilitas,” tandas Revita.

     

     

  • TransJakarta Cares, Layanan Khusus Bagi Penyandang Disabilitas di DKI Jakarta

    TransJakarta Cares, Layanan Khusus Bagi Penyandang Disabilitas di DKI Jakarta

    7cloud.asia – Dalam sebuah acara yang diselenggarakan Indonesia Inklusi, beberapa waktu lalu 7cloud.asia diberitahu tentang keberadaan TransJakarta Cares.

    Seorang peserta workshop, Refly Prima yang merupakan penyandang disabilitas netra mengaku sangat terbantu oleh keberadaan TransJakarta Cares ini.

    “TransJakarta Cares sangat membantu pergerakan kami, para penyandang disabiitas dalam bekerja,” ujar Refly yang tergabung dalam komunitas Blind Coffee Specialty.

    Dari penelusuran, saya menemukan Transjakarta Cares sudah beroperasi sejak 2016. Ini merupakan layanan khusus bagi penyandang disabilitas di DKI Jakarta untuk menuju halte Transjakarta yang ramah disabilitas.

    Pemesanan Transjakarta Cares dapat dilakukan melalui pesan Whatsapp sehari sebelum kebutuhan, pada hari Senin hingga Minggu pukul 08.00-17.0 WIB. Sementara waktu operasional layanan yakni pukul 06.00-20.00 WIB.

    Baca: Pramusapa, mereka yang membantu warga disabilitas penumpang TransJakarta

    Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta Ayu Wardhani mengatakan, hingga Juli 2024 unit Transjakarta Cares sudah dimanfaatkan oleh sebanyak 32.371 pengguna disabilitas.

    Jumlah ini, menurut Ayu, mengalami kenaikan dibandingkan total pengguna tahun sebelumnya, yakni 32.329 orang.

    Ayu menambahkan, saat ini TransJakarta mengoperasikan sebanyak 26 unit Transjakarta Cares yang bisa dimanfaatkan penyandang disabilitas.

    “Ada 26 unit, kemudian ada tambahan CSR 1 unit dari Toyota Astra Motor,” kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat (20/9/2024) seperti dilansir Antaranews.com.

    Hadirnya layanan ini dikatakan menjadi perwujudan transportasi publik yang aksesibel, selain fasilitas yang ramah terhadap disabilitas, juga penyediaan informasi yang ramah disabilitas yang dapat diakses melalui laman (website).

    Baca: Bus ramah disabilitas di Jawa Tengah

    Ayu menuturkan, ke depannya, Transjakarta terus berinovasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk bersama-sama menyediakan sarana dan prasarana yang aksesibel untuk seluruh pelanggan, terutama pelanggan disabilitas.

    Sebelumnya, pada ajang Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Awards 2024 di Jakarta, Kamis (19/9/2024), Transjakarta meraih lima penghargaan dan ada di antaranya terkait pelayanan pada penyandang disabilitas.

    Yakni Penghargaan Angkutan Umum Favorit Pilihan Masyarakat dan empat penghargaan platinum pada kategori Fasilitas Integrasi Moda Teramah Disabilitas dan Operator dengan Pengguna Disabilitas Terbanyak.

    Ayu mengatakan penghargaan ini adalah hasil pencapaian dari pelayanan yang telah disediakan oleh Transjakarta kepada seluruh pelanggan, terutama pelanggan disabilitas.

    “Seluruh capaian yang Transjakarta raih, merupakan hasil dari komitmen dan inovasi yang kami lakukan dalam melayani pelanggan, terutama pelanggan disabilitas”, kata dia.

    Dia menambahkan, dengan inovasi layanan yang dihadirkan, pelanggan Transjakarta pun terus mengalami peningkatan dan saat ini tercatat lebih dari 1,3 juta pelanggan per hari.

  • Seperti Ini Pelayanan Whoosh untuk Penumpang Prioritas, Disabilitas dan Lansia

    Seperti Ini Pelayanan Whoosh untuk Penumpang Prioritas, Disabilitas dan Lansia

    7cloud.asia – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh menyebut telah melayani lebih dari 10 ribu penumpang prioritas seperti penyandang disabilitas.

    Penumpang prioritas lain yang diangkut Whoosh adalah lansia, anak-anak tanpa pendamping, ibu hamil dan menyusui hingga orang yang bepergian dalam kondisi sakit dari Jakarta ke Bandung sepanjang 2024.

    General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, data tersebut tercatat melalui permintaan khusus dari penumpang untuk membantu memudahkan aktivitasnya dan laporan resmi petugas pada evaluasi harian KCIC.

    Whoosh memprioritaskan penumpang yang membutuhkan penanganan khusus akan dibantu agar dapat menggunakan layanan Whoosh dengan nyaman.

    “KCIC ingin memastikan bahwa setiap penumpang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, bisa merasakan kenyamanan dan keamanan saat menggunakan layanan Kereta Cepat Whoosh,” ujar Eva melalui keterangan di Jakarta, Selasa (24/9/2024)

    Baca: Penumpang Whoosh melonjak saat mudik Lebaran

    Pada 2024, Stasiun Halim menjadi stasiun yang paling banyak melayani penumpang berkebutuhan khusus yaitu sebanyak 4.600 ribu penumpang.

    Selanjutnya diikuti Stasiun Padalarang sekitar 3.200 penumpang dan Tegalluar 2.200 penumpang berkebutuhan khusus.

    Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan transportasi yang nyaman untuk kebutuhan masyarakat beraktivitas, KCIC telah menerapkan berbagai inovasi yang mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas di seluruh stasiun dan kereta Whoosh.

    Di stasiun fasilitas khusus yang disediakan meliputi ruang Jemput Khusus, lantai Tactile, Tombol Braille, Lift, Loket dan Toilet Khusus disabilitas, Informasi Audio Visual, Ramp Kursi Roda, Gate Khusus, dan Kursi Tunggu Prioritas.

    Sementara di kereta terdapat juga sejumlah fasilitas ramah disabilitas seperti Toilet Khusus Disabilitas dengan luasan yang memudahkan penumpang dengan kursi roda melakukan pergerakan hingga 180 derajat.

    Selain itu, terdapat juga 32 Kursi Prioritas dengan lokasi strategis, Rak Penyimpanan Kursi Roda, Informasi Audio Visual dan Ramp untuk kursi roda.

    Baca: Sejak Februari 2024 Whoosh terapkan tarif dinamis

    Seluruh petugas Whoosh siap mendampingi penumpang prioritas dari stasiun, diterima oleh Kondektur maupun Pramugari Whoosh untuk diantarkan ke kursi yang telah dipesan, hingga nantinya disambut oleh petugas di stasiun kedatangan.

    KCIC juga terus mengedepankan integrasi antar moda yang lengkap dan nyaman di seluruh stasiun Whoosh.

    Melalui integrasi yang lengkap dan baik, Stasiun Halim mendapatkan penghargaan dari Dewan Transportasi Kota Jakarta sebagai Fasilitas Integrasi Moda Teramah Disabilitas.

    Di Stasiun Halim, terdapat konektivitas intermoda dengan layanan LRT Jabodebek, Bus menuju Bandara Soekarno-Hatta, Shuttle menuju Bandara Halim Perdanakusuma, Bus Transjakarta, Taksi, dan Transportasi Online.

    Seluruh layanan tersebut sudah dilengkap fasilitas konektivitas yang lengkap dan nyaman untuk memudahkan seluruh penumpang disabilitas dalam mengaksesnya.

    “Ini akan menjadi penyemangat KCIC dalam menyambut ulang tahunnya yang pertama. KCIC akan terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada seluruh penumpang whoosh,” kata Eva.

  • Mengintip Layanan LRT Jabodebek Bagi Penyandang Disabilitas

    Mengintip Layanan LRT Jabodebek Bagi Penyandang Disabilitas

    7cloud.asia – LRT Jabodebek menyediakan layanan ramah disabilitas di seluruh stasiun, guna memastikan aksesibilitas tinggi dan kenyamanan bagi seluruh lapisan masyarakat yang menggunakan transportasi tersebut.

    Manager Public Relations LRT Jabodebek, Mahendro Trang Bawono mengatakan layanan ramah disabilitas ini karena transportasi adalah hak setiap orang, tanpa memandang kondisi fisik.

    ”LRT Jabodebek berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik dan aksesibilitas yang mudah bagi semua pengguna, termasuk disabilitas dan konsumen yang memiliki kebutuhan khusus,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (3/12/2024).

    Memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember, LRT Jabodebek menegaskan komitmennya untuk menyediakan transportasi yang inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

    LRT Jabodebek berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan bahwa semua stasiun dan fasilitas yang ada memenuhi standar aksesibilitas yang tinggi.

    “Sejak beroperasi, seluruh stasiun LRT Jabodebek telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas ramah disabilitas, termasuk gate khusus untuk pengguna kursi roda, eskalator, lift, dan guiding block di setiap stasiun,” ujarnya.

    Baca: Komitmen LRT Jabodebek wujudkan transportasi ramah lingkungan

     

    Fasilitas guiding block ini tidak hanya memudahkan navigasi bagi pengguna tunanetra, tetapi juga menjadi salah satu upaya LRT Jabodebek untuk memastikan kenyamanan penyandang disabilitas di setiap perjalanan mereka.

    Selain itu, LRT Jabodebek juga menyediakan toilet khusus disabilitas yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk kenyamanan penggunanya.

    Di dalam kereta, telah disediakan tempat duduk prioritas untuk penyandang disabilitas serta pengait kursi roda yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengguna dengan kebutuhan khusus selama perjalanan.

    LRT Jabodebek juga menyediakan petugas yang siap membantu di stasiun dan kereta, serta memanfaatkan teknologi CCTV untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan semua pengguna.

    Selain itu, Passenger Service di stasiun dan Train Attendant di kereta telah mengikuti pelatihan bahasa isyarat untuk memudahkan komunikasi dengan pengguna disabilitas yang membutuhkan layanan lebih.

    Bagi pengguna disabilitas yang membutuhkan bantuan khusus, LRT Jabodebek menyediakan layanan informasi melalui contact center di 121, di mana petugas dapat membantu mengatur perjalanan bagi penyandang disabilitas.

    Baca: Butuh pembenahan struktural untuk wujudkan transportasi ramah lingkungan

     

    LRT Jabodebek juga memastikan bahwa fasilitas-fasilitas seperti kursi roda tersedia di seluruh stasiun.

    “LRT Jabodebek adalah transportasi publik yang inklusif, dan kami terus berupaya untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga mudah diakses oleh semua pengguna, tanpa terkecuali,” tambah Mahendro.

    LRT Jabodebek berharap dapat terus menjadi pilihan utama bagi masyarakat Jabodebek dalam memenuhi kebutuhan transportasi yang aman dan inklusif termasuk bagi penyandang disabilitas,

    “LRT Jabodebek akan terus bekerja untuk menciptakan layanan yang lebih baik, menjadikan setiap perjalanan lebih nyaman, aman, dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat,” kata Mahendro.

    Tak hanya ramah disabilitas, LRT Jabodebek juga berupaya untuk terus mendukung pembangunan berkelanjutan dengan menciptakan ekosistem transportasi ramah lingkungan dan mengurangi emisi yang berdampak pada lingkungan.

    Adapun langkah nyata yang dilakukan untuk mewujudkan transportasi ramah lingkungan adalah dengan menghadirkan sejumlah fasilitas, seperti air minum gratis serta parkir sepeda di seluruh stasiun LRT Jabodebek.

  • Setelah 8 Tahun Tertunda, RPP Konsesi untuk Penyandang Disabilitas Akan Segera Disahkan

    Setelah 8 Tahun Tertunda, RPP Konsesi untuk Penyandang Disabilitas Akan Segera Disahkan

    7cloud.asia – Koalisi Disabilitas untuk Perlindungan Sosial yang inklusif mencatat kemajuan penting dalam perjuangan panjang pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah atau RPP Konsesi untuk disabilitas.

    RPP Konsesi untuk Disabilitas ini merupakan aturan turunan terakhir dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

    Koalisi yang beranggotakan 49 organisasi penyandang disabilitas (OPD) menilai, RPP Konsesi untuk Disabilitas ini seharusnya sudah terbentuk paling lambat dua tahun sejak UU 8/2016 selesai diundangkan.

    RPP Konsesi merupakan langkah konkret untuk meringankan beban hidup penyandang disabilitas, yang memiliki extra cost of disability (biaya lebih) akibat dari lingkungan tidak aksesibel dan sistem yang diskriminatif.

    “Konsesi ini bukan bantuan, tetapi salah satu skema perlindungan sosial untuk mencegah atau setidaknya berkontribusi menghindarkan penyandang disabilitas dari jeratan kemiskinan struktural,” ujar Nena Hutahaean, Koordinator Koalisi dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (6/11/2024)

    Nena menegaskan konsesi sangat berkaitan dengan kebutuhan hidup dasar maka sudah seharusnya diberikan kepada seluruh Penyandang Disabilitas tanpa memandang derajat dan pendapatan/pengeluaran rumah tangga.

     

    Baca: Layanan LRT Jabodebek bagi penyandang disabilitas

    Dengan mengangkat isu ini secara kolektif, Koalisi berupaya memastikan kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjamin kebutuhan dasar dan mengurangi beban pengeluaran penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.

    Perjalanan Advokasi RPP Konsesi sudah dimulai sejak tahun 2020. Serangkaian audiensi dan diskusi terus dilakukan untuk mendorong pelibatan bermakna semua ragam disabilitas pada semua tahap penyusunan, akan tetapi informasi sejauh apa proses penyusunan sangat terbatas.

    Pada tanggal 30 Mei 2024, Koalisi mendapatkan Draf RPP Konsesi namun draft tersebut dinilai tidak menjawab kebutuhan Penyandang Disabilitas, Pihak BKF juga tidak memberikan akses keterlibatan penyandang disabilitas.

    Menanggapi hal tersebut Koalisi kemudian menggugat sehingga berhasil mendapatkan komitmen BKF untuk melibatkan Koalisi dalam semua tahap penyusunan serta memastikan adanya perbaikan draft RPP yang telah disusun sebelumnya.

    Setelah berjalan hampir enam bulan, draft RPP yang disusun oleh BKF bekerja sama dengan organisasi disabilitas kini telah memasuki tahap finalisasi.

    Beberapa poin krusial yang berhasil diakomodir dalam RPP tersebut antara lain adalah Konsesi akan diberikan kepada seluruh ragam penyandang disabilitas dan seluruh derajat kesejahteraan.

     

    Baca: Layanan kesehatan reproduksi bagi perempuan penyandang disabilitas

    Penyandang disabilitas yang belum memiliki kartu disabilitas juga berhak menerima konsesi dengan menggunakan surat keterangan disabilitas atau dokumen lain yang dipakai untuk mengakses program konsesi yang sudah ada sebelum peraturan konsesi disusun.

    Akan tetapi, tantangan besar masih menghadang. Nena Hutahaean menyoroti terkait peletakan syarat penerima konsesi yang belum memiliki kartu disabilitas, seharusnya dijadikan satu dengan Pasal 4 bukan di aturan peralihan, hal ini untuk mempermudah implementasi di lapangan.

    Ia juga mengkritisi keterbatasan konsesi bahan bakar minyak (BBM) yang hanya mencakup jenis non-subsidi. “untuk BBM seharusnya juga mencakup baik subsidi dan non-subsidi.

    Hal ini dikarenakan meskipun penyandang disabilitas menggunakan BBM subsidi, biaya yang dikeluarkan masih sangat besar akibat dari modifikasi yang diperlukan” tegasnya.

    PJS dan Koalisi menekankan bahwa perjuangan belum selesai meskipun draft RPP sudah cukup mengakomodir kebutuhan penyandang disabilitas, masih perlu ada pengawalan pada tahap harmonisasi untuk memastikan draft RPP yang sudah baik tersebut tidak diubah.

    Nena juga menyatakan advokasi serius masih perlu dilakukan untuk menjamin seluruh peraturan pelaksana baik peraturan menteri maupun peraturan daerah segera dibentuk bersama-sama Organisasi Penyandang Disabilitas.

    “Agar kelak Peraturan ini tidak hanya menjadi kebijakan di atas kertas, tetapi juga membawa perubahan nyata bagi penyandang disabilitas di Indonesia,“ pungkasnya.

  • Hari Braille Dunia: Kemenkum Tingkatkan Hak Akses Informasi Bagi Disabilitas Netra

    Hari Braille Dunia: Kemenkum Tingkatkan Hak Akses Informasi Bagi Disabilitas Netra

    7cloud.asia – Kementerian Hukum (Kemenkum) menyebutkan peringatan Hari Braille Dunia merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran akan hak akses informasi bagi semua kalangan, khususnya penyandang disabilitas.

    Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkum Agung Damarsasongko mengatakan Hari Braille Dunia bukan hanya perayaan, tetapi pengingat bahwa akses terhadap buku dan pengetahuan merupakan hak fundamental setiap individu, termasuk mereka yang memiliki disabilitas.

    “Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2019 hadir untuk menjamin akses inklusif kepada penyandang disabilitas,” ungkap Agung dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (5/1/2024).

    Dia menjelaskan melalui PP Nomor 27 Tahun 2019 tentang Fasilitasi Akses Terhadap Ciptaan Bagi Penyandang Disabilitas itu, pemerintah berkomitmen untuk memberikan akses inklusif kepada penyandang disabilitas.

    Peraturan tersebut memberikan kesempatan kepada para penyandang disabilitas untuk memperoleh, menggunakan, mengubah format, menggandakan format, pengumuman, pendistribusian format, dan/atau mengomunikasikan suatu karya cipta secara keseluruhan atau sebagian yang substansial dalam bentuk huruf braille, buku audio, atau sarana lainnya tanpa menghadapi hambatan hukum.

    PP 27/2019, kata dia, juga memberikan keleluasaan bagi lembaga pendidikan, perpustakaan, serta komunitas lainnya untuk memproduksi dan mendistribusikan karya dalam format yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas tanpa harus meminta izin dari pemegang hak cipta dengan mengajukan permohonan fasilitasi akses tersebut kepada Menteri Hukum.

    Baca: RPP Konsesi untuk Penyandang Disabilitas

    Di sisi lain, ia menambahkan bahwa sejak diundangkannya PP 27/2019 tersebut, DJKI telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendorong ketersediaan lebih banyak karya dalam format braille dan buku audio.

    DJKI juga terus mengupayakan pemanfaatan teknologi modern untuk mendukung aksesibilitas. Inovasi seperti perangkat konversi digital ke huruf braille dan aplikasi pembaca layar kini semakin mudah dijangkau.

    “Teknologi menjadi jembatan bagi penyandang disabilitas untuk terhubung dengan dunia pengetahuan yang lebih luas. Kami mendorong agar teknologi ini dapat terus berkembang,” ucap Agung menambahkan.

    Dengan demikian, Agung menyebutkan aturan tersebut menjadi tonggak penting dalam mendukung kesetaraan akses terhadap literasi di Indonesia.

    Kepala Bagian Yayasan Mitra Netra Aria Indrawati juga menyatakan bahwa sebelumnya ada beberapa pihak yang mempertanyakan legalitas produksi buku braille, audio, maupun ipap.

    Namun, kata dia, kondisi tersebut berubah sejak Indonesia meratifikasi Traktat Marrakesh.

    Baca: Mengintip Layanan LRT Jabodebek bagi penyandang disabilitas

    Sebelum adanya PP 27/2019, ia menuturkan banyak penerbit yang mempertanyakan apakah yang Mitra Netra kerjakan merupakan pelanggaran hak cipta atau tidak.

    “Tetapi sejak ada regulasi yang mendukung hal tersebut, pihak-pihak yang mempertanyakan terkait fasilitasi akses untuk para penyandang disabilitas hampir tidak ada lagi,” ucap Aria.

    Meski demikian, Aria menyadari bahwa akses literasi untuk disabilitas belum banyak diketahui oleh masyarakat maupun para penyandang disabilitas.

    Tercatat, pengguna perpustakaan Mitra Netra daring baru di angka 2.568 orang. Sementara, jumlah buku dari perpustakaan tersebut mencapai 3.144 untuk melayani seluruh penyandang tunanetra di Indonesia yaitu sekitar 4 juta jiwa.

    “Namun kami berkomitmen untuk tetap konsisten memproduksi dan menyediakan buku-buku braille, audio, dan ipap untuk teman netra di seluruh Indonesia secara gratis,” ujarnya.

    Presiden Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia Arief Pribadi, di sela peringatan Hari Braille Dunia mengatakan, yayasannya memberikan berbagai pemenuhan layanan dasar bagi penyandang disabilitas.

    Salah satunya hak memperoleh pendidikan berupa pengembangan literasi braille dan penyebarluasan informasi dalam dokumen-dokumen yang diterjemahkan ke huruf braille.

    “Hari ini juga akan ada penyerahan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta yang dibuat dan dicetak ulang menggunakan huruf braille oleh para penyandang disabilitas,” ucap Arief.

  • Inisiatif Asia Afrika untuk Penyandang Disabiltas dan Lansia

    Inisiatif Asia Afrika untuk Penyandang Disabiltas dan Lansia

    7cloud.asia – Salah satu amanat 3rd InclusiFest 2024 adalah mendorong percepatan pemenuhan hak penyandang disabilitas dan lansia (DILANS) dan kelompok rentan lainnya dengan memperluas jejaring di antara negara-negara Asia-Afrika.

    Tidak hanya itu, berbagai potensi sumberdaya yang ada dari lebih 100 negara yang ada di kawasan ini bisa dimobilisasi agar aksesibilitas dan akomodasi bagi penyandang disabilitas dan lansia bisa dipenuhi.

    Hal itulah yang menjadi inti dari inisiasi pembentukan jejaring Inclusive Jakarta Forum (IJF) yang diinisiasi oleh DILANS Indonesia, Nusantara Philanthropist, dan Ambassador and CEO Club.

    “The Initial Asia-Africa Stakeholders and Collaborative Dialogue” yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (20/3/2025) dihadiri lebih 30 dari perwakilan Kedutaan Besar Asia Afrika di Jakarta.

    Baca: RPP Konsesi untuk disabilitas segera disahkan

    Organisasi internasional dan beberapa representasi nasional juga hadir dalam pertemuan ini. Inisiatif yang diluncurkan juga mendapatkan respon positif dari peserta untuk dikembangkan lebih lanjut.

    Ketua Komisi Disabilitas Nasional(KND) Dante Rigmalia, menyambut baik upaya IJF untuk memfasilitasi dialog antara berbagai komisi sejenis di kawasan ini.

    Dialog ini, menurutnya, dapat mengekspresikan kepentingan bersama serta bertukar informasi dalam pengembangan kebijakan maupun praktek baik yang dilakukan masing-masing negara.

    Platform InklusiVision Asiafrica berbasis kecerdasan buatan (AI) salah satu yang diusulkan para penggagas IJF untuk memperluas data, pengetahuan, dan sains khususnya yang terkait dengan kelompok rentan.

    Baca: Indonesia masuki era aging population

    Hampir 1 miliar orang yang dapat digolongkan sebagai kelompok rentan, yang rentan terhadap berbagai dinamika termasuk krisis iklim dan lingkungan.

    Kedutaan Besar dinilai menjadi pintu masuk untuk memperluas jejaring dan kolaborasi diantara pemangku kepentingan di negara-negara Asia-Africa.

    Proposal untuk menyelenggarakan 1st Inclusive Asia Africa Conference yang direncanakan akan berlangsung pada awal September 2025.

    Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperluas artikulasi isu kesetaraan gender, disabilitas, inklusi sosial (GEDSI), krisis iklim dan keberlanjutan di kawasan Asia-Afrika.

  • Lewat Program Special Crew, McDonald’s Buka Kesempatan Kerja untuk Penyandang Disabilitas

    Lewat Program Special Crew, McDonald’s Buka Kesempatan Kerja untuk Penyandang Disabilitas

    7cloud.asia – McDonald’s Indonesia di bawah naungan PT Rekso Nasional Food memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas melalui program special crew bagi putra putri daerah tempat restoran beroperasi.

    HR & GS Director PT Rekso Nasional Food Yulianti Hadena, mengatakan program ini sebagai komitmen McDonald’s Indonesia dalam mewujudkan inklusi, baik bagi karyawan maupun pelanggan.

    “Kami ingin menciptakan ruang inklusif yang membuat setiap individu merasa diterima, dilihat dan didengar agar bisa menjadi versi terbaik bagi diri mereka sendiri,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Jumat (25/4/2025).

    Saat ini, tercatat ada lebih dari 130 special crew teman tuli yang kini menjadi bagian dari tim operasional restoran McDonald’s.

    Baca: Perjuangan penyandang disabilitas di Kota Jakarta

    Yulianti mengatakan di McDonald’s Indonesia, manajer restoran juga memiliki peran penting sebagai pembimbing dan penghubung antara tim operasional dan special crew.

    Mereka dilatih untuk menjadi mentor yang peka dan supportif, memastikan suasana kerja tetap inklusif, memberikan arahan yang jelas, dan menyemangati tim untuk bekerja sama tanpa diskriminasi.

    Sementara itu, rekan kerja berperan sebagai support system yang saling menguatkan.

    Mereka tidak hanya membantu dalam pekerjaan teknis, tetapi juga menciptakan rasa aman dan kekeluargaan yang sangat penting bagi kenyamanan kerja special crew.

    Baca: Layanan LRT Jabodebek bagi penyandang disabilitas

    Budaya kerja yang ramah tanpa diskriminasi menjadi fondasi yang mendorong kepercayaan diri dan perkembangan setiap individu di dalamnya.

    Komitmen ini juga meluas ke pemberdayaan perempuan bahwa mereka punya potensi besar untuk berkarya, memimpin, berinovasi, dan menciptakan perubahan meski memiliki keterbatasan dan latar belakang beragam.

    “Kami ingin terus menghadirkan lingkungan kerja yang aman, setara, dan inklusif. Karena bagi kami, itu bukan sekadar idealisme melainkan keharusan,” tutup Yulianti.