Tag: disabilitas

  • Anak Penyandang Disabiltas jadi Korban Kekerasan Seksual di Jakbar, Bagaimana Tanggung Jawab Lingkungan?

    Anak Penyandang Disabiltas jadi Korban Kekerasan Seksual di Jakbar, Bagaimana Tanggung Jawab Lingkungan?

    7cloud.asia – Kasus penculikan dan kekerasan seksual kembali menimpa anak penyandang disabilitas. Kali ini penculikan dan kekerasan seksual menimpa RJ (16), anak perempuan penyandang disabilitas di Jakarta Barat.

    Kasus kekerasan seksual terhadap RJ terjadi karena kurangnya pengawasan. Ayah korban adalah orang tua tunggal yang harus bekerja sehingga tidak dapat maksimal dalam mengawasi anaknya.

    Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra dikutip Antaranews.com  mengatakan penculikan dan kekerasan seksual yang menimpa RJ terjadi karena  kondisi ini dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual.

    Ibunda RJ telah meninggal dunia, sehingga ayah RJ harus bekerja menafkahi kedua anak sekaligus menjalani peran sebagai pengasuh bagi kedua anaknya termasuk RJ yang merupakan penyandang disabilitas.

    “Ayahnya sudah sekuat tenaga, tetapi terbatas karena harus mencari nafkah dan mengurus anak lainnya, sehingga ketika lepas pengawasan pengasuhan anak, terjadilah peristiwa tersebut,” imbuhnya.

    Baca: Penyandang down syndrome rentan alami kekerasan tapi sering diabaikan

    Menurut Jasra, penyandang disabilitas di usia anak sangat membutuhkan perhatian khusus. Anak penyandang disabilitas memiliki kelemahan dalam mengenali kejahatan sehingga dapat dimanfaatkan oleh pelaku yang hendak melakukan kejahatan terhadap korban.

    “Begitu mudah pelaku melakukan hal itu, dengan memanfaatkan kelemahan anak disabilitas. Seperti karena faktor mental, karena faktor bentuk fisik sehingga mengalami hambatan komunikasi, ingatan pendek, faktor hambatan sosial sehingga sering menyendiri, sehingga sangat mudah didekati,” katanya.

    Jasra mengingatkan orang tua juga perlu upaya lebih dalam mengawasi perilaku anak di media sosial karena pelaku berkomunikasi dengan korban melalui pesan pribadi.

    Jasra menekankan pengasuhan anak tidak hanya menjadi kewajiban keluarga saja, namun juga menjadi kewajiban lingkungan.

    “Bicara pengasuhan anak, kita sedang bicara pengasuhan anak di dalam keluarga dan di luar keluarga atau pengasuhan alternatif. Bahwa kita harus menyadari anak khususnya anak disabilitas membutuhkan pengasuhan tidak hanya di keluarga, tetapi juga di tetangga, lingkungan, sekolah, dan masyarakat,” katanya. 

    Baca: Setahun disahkan, implementasi UU TPKS masih terhambat

    Oleh karena itu, KPAI menekankan pentingnya berbagi peran dalam melindungi anak penyandang disabilitas. Menurut dia, perangkat daerah perlu memetakan situasi keamanan di daerahnya, terutama jika terdapat anak penyandang disabilitas di wilayahnya.

    Jasra menambahkan, lingkungan sekitar juga perlu memiliki pemahaman untuk turut memberikan pengasuhan terhadap anak.

    “Hak pengasuhan harus ada di manapun anak berada, butuh hadir tetangga, lingkungan, masyarakat, lembaga di mana anak-anak berada, baik di dalam keluarga maupun luar lembaga. Bukan artinya untuk dibebani mengasuh anak orang, tetapi ada pemahaman bersama, menjadi kebutuhan bersama untuk menyadarinya,” kata dia.

    KPAI juga mendorong semua pihak terkait untuk mencari solusi mencegah anak penyandang disabilitas menjadi korban kejahatan seksual akibat berinteraksi dengan pelaku di media sosial.

    Organisasi Penyandang Disabilitas, Komisi Nasional Disabilitas, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kepolisian RI untuk duduk bersama, memetakan hal ini, dalam mencari jalan keluar anak anak disabilitas yang memiliki akun dan mendaftar, berinteraksi di media sosial. 

    Baca: Hidup damai dan sejahtera dengan gaya hidup minimalis

    Perlu ada sebuah panduan bagi anak penyandang disabilitas untuk menjaga keamanan mereka saat berselancar di media sosial.

    “Membuat publikasi panduan untuk anak disabilitas dalam keamanan berselancar di sosial media. Agar hambatan mereka dapat terawasi, dan pengamanan patroli cyber berlapis,” katanya.

    Dia mengatakan anak penyandang disabilitas yang menjadi korban kejahatan seksual akan mengalami kondisi yang berat di masa depannya sehingga perlu untuk segera mendapatkan penanganan yang benar.

    “Anak disabilitas korban kejahatan seksual juga penting segera mendapatkan penanganan dengan tahapan yang benar, karena akan menentukan seluruh proses hukum dan pemulihan ke depan, seperti mengutamakan pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan segera visum et repertum, dalam mencegah kehamilan yang tidak dinginkan, kemungkinan tertular penyakit dari pelaku seperti HIV dan PMS dan psikologi forensic anak,” pungkasnya.

  • Cerita-cerita Tuli: Pameran Foto tentang Keseharian DIsabilitas Tuli di Kota Solo

    Cerita-cerita Tuli: Pameran Foto tentang Keseharian DIsabilitas Tuli di Kota Solo

    Foto: Gerkatin Solo

    7cloud.asia – Menjadi disabilitas tuli yang hidup di tengah masyarakat yang mayoritas warganya berkomunikasi secara verbal menjadi tantangan tersendiri. 

    Disabilitas tuli memiliki cara berkomunikasi dan budayanya sendiri. Sayangnya, masih banyak ruang publik di kota yang belum menyediakan fasilitas yang memadai untuk mengakomodasi kebutuhan disabilitas Tuli ini.

    Ketiadaan fasilitas publik yang memadai, membuat disabilitas Tuli harus mencari siasat tersendiri untuk dapat beraktivitas sehari-hari sebagaimana warga lainnya.

    Perbedaan cara berkomunikasi, baik di sekolah maupun di tempat kerja, menjadi hambatan pendidikan yang dialami sebagian disabilitas Tuli baik dalam mengikuti pelajaran maupun bersosialisasi.

    Untuk mengatasinya, disabilitas Tuli bersiasat dan mengandalkan bantuan di sekitar mereka serta sumber daya yang mereka punya.

    Berkat usaha-usaha yang telah dilakukan oleh komunitas Tuli di Indonesia, saat ini kesadaran masyarakat terhadap keberadaan disabilitas Tuli serta penggunaan Bahasa Isyarat terus meningkat.

    Baca: Anak disabilitas jadi korban kekerasan, bagaimana tanggung jawab lingkungan?

    Bagaimana keseharian disabilitas Tuli di tengah kehidupan kota yang lebih mengutamakan warga yang bisa mendengar, dipamerkan dalam pameran foto bertajuk Cerita-cerita Tuli.

    “Media foto dipilih karena teman-teman Tuli yang tergabung di Gerkatin sangat visual. Untuk menggambarkan tantangan yang dihadpai, medium foto dinilai yang paling tepat,” terang Vanesha Manuturi, Manajer Komunikasi dan Advokasi Kota Kita saat dihubungi 7cloud.asia melalui sambungan telepon Senin (22/5/2023)

    Pameran yang mulai digelar pada 21 hingga 27  Mei 2023  mengulik keseharian disabilitas Tuli yang seringkali luput dalam diskusi perkotaan melalui kumpulan foto tentang pengalaman sehari-hari disabilitas Tuli di kota Solo,” 

    Foto-foto itu memotret dari cara berkomunikasi, kesulitan sehari-hari, hingga harapan dan aspirasi dari teman-teman Tuli.

    Melalui cerita-cerita ini, ujar Vanesha, kami berharap untuk bisa mendorong fasilitas dan kebijakan publik yang lebih mudah diakses untuk teman disabilitas Tuli.

    Baca: Perempuan down syndrome rentan alami kekerasan tapi sering diabaikan

    Vanesha menambahkan, foto yang dipamerkan di Zine ini merupakan hasil dari Lokakarya Photovoice yang diadakan oleh Yayasan Kota Kita, Gerkatin Solo, dan Ruang Atas dengan dukungan Voice, sepanjang bulan Februari hingga Maret 2023.

    Dalam Lokakarya Photovoice, peserta diajak untuk mengambil foto yang menjawab serangkaian pertanyaan terbuka tentang keseharian dan kebutuhan di ruang publik.

    “Ini adalah Foto-foto individu, sedangkan tantangannya telah didisikusikan bersama,” imbuh Vanesha.

    Dalam diskusi tersebut, sebanyak 16 peserta diberi keleluasaan untuk mengambil foto sesuai dengan keseharian masing-masing. Dalam kelompok kecil berisi 4–5 orang, peserta diajak untuk bercerita dan berdiskusi tentang foto yang akan diambil.

    Cerita-cerita yang ada dikumpulkan dan dirangkai menjadi cerita kolektif mengenai kebutuhan, tantangan, dan aspirasi Tuli untuk membangun kota Solo yang lebih inklusif.

    Hasilnya sejumlah foto dengan cerita yang sangat beragam. Afrizal misalnya, memotret ruang gambar tempat ia praktik di kampus.

    “Sehari-hari, saya berkuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual. Sebagai Tuli yang memiliki hambatan komunikasi, materi perkuliahan baik teori maupun praktik membingungkan dan sulit saya mengerti. Namun, keberadaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) amat membantu kami dalam belajar lebih cepat dan lebih nyaman,” demikian ia menjelaskan fotonya.

    Baca: Mengkaji keterlibatan kelompok disabilitas dalam pemilu

    Sedangkan Eza memotret kesulitan yang dialaminya saat belajar di sekolah.

    “Guru-guru di sekolah tidak bisa berbahasa Isyarat dan seringkali berbicara dengan cepat, ditambah lagi, terkadang tidak menggunakan papan tulis yang bisa membantuku memahami informasi melalui teks” demikian teks yang dituliskannya.

    Lain lagi cerita Najwa yang menceritakan bagaimana hampir semua teman di sekolahnya  tidak bisa berbahasa Isyarat yang membuatnya kesulitan berteman dan bekerja.

    “Pernah, aku menawarkan teman-temanku untuk belajar BISINDO, namun mereka sering kali menolak dengan alasan sering lupa. Aku berharap, banyak teman-teman Dengar mau belajar Isyarat,” demikian Najwa menuliskan harapannya.

    Sedangkan dela memotret bagaimana usahanya untuk terus bisa mengikuti perkuliahan. 

    “Aku menggunakan web captioner dan berbagai cara lainnya, misalnya merekam perkuliahan, juga bertanya pada teman-teman, untuk membantu hari-hariku di kampus,” tulis Dela untuk caption fotonya.

    Baca: Sikap Bijak Cinta Laura

    Mendapatkan pekerjaan juga menjadi tantangan tersendiri bagi disabilitas tuli. Ruang dan kesempatan kerja yang tersedia untuk mereka bisa dibilang masih sangat terbatas. Masih banyak orang yang ragu dan bahkan menolak untuk mempekerjakan disablitas Tuli. 

    “Ada anggapan ‘repot’ untuk mempekerjakan orang Tuli di lingkungan kerja yang mayoritas dengar. Dalam pekerjaan butuh kerja tim yang bergantung pada komunikasi. Apabila dalam tim tidak ada pengguna Bahasa Isyarat, lantas, bagaimana bisa berkomunikasi dengan baik dan tidak canggung?” demikian suara Bima terkait kesempatan kerja bagi disabilitas Tuli. 

    Menyaksikan foto-foto ini menyadarkan kita, betapa selama ini ruang publik yang ada kurang memperhatikan wraga disabilitas termasuk teman-teman tuli. Namun menurut Vanesha, sejak beberapa tahun ini Solo punya banyak catatan jadi kota inklusi.

    “Ini jadi satu semangat yang pas dirayakan di Kota Solo. Dan pameran ini menjadi cara kami untuk mengajak mempromosikan dan mendorong inlusifitas di kota-kota di Indonesia,” ujar Vanesha.

     

     

  • Kelompok Disabilitas Rentan Terdampak Perubahan Iklim Tetapi Tak Pernah Dilibatkan dalam Penanganan

    Kelompok Disabilitas Rentan Terdampak Perubahan Iklim Tetapi Tak Pernah Dilibatkan dalam Penanganan

    7cloud.asia – Yasinda Atok adalah saksi hidup apa yang dialami penyandang disabilitas saat badai Seroja menghantam sejumlah wilayah di Nusa Tenggara termasuk di kotanya di Malaka, Nusa Tenggara Timur pada 2021 silam.

    Di Kabupaten malaka, NTT, ada tiga kecamatan yang sangat merasakan dampak badai Seroja pada awal 2021 lalu.

    Di sela diskusi Webinar bertajuk Gerakan Perubahan Iklim di Indonesia: Sudah Terlibatkah Penyandang Disabilitas? pada Senin (21/5/2023) yang dihelat secara daring, Yasinda menceritakan apa yang dialami para penyandang disabilitas saat bencana alam yang menewaskan ratusan orang itu terjadi, 

    “Mereka terjebak di dalam rumahnya, tertinggal saat evakuasi saat para korban dievakuasi. Bahkan keluarganya melupakan mereka dan terjebak di rumah yang terendam banjir sampai banjir berlalu, ketika keluarganya kembali ternyata masih selamat,” ujarnya.

    Baca: Peran masyarakat adat hadapi perubahan iklim

    Sementara, kelompok disabilitas yang berhasil dievakuasi harus menghadapi tempat pengungsian yang tidaka inklusif.  

    “Saat ke toilet tidak tersedia fasilitas yang mereka butuhkan. Pun saat antri ambil makanan, juga harus secara umum, yang memakai tongkat/kursi roda kesulitan,” imbuhnya.

    Belajar dari pengalaman ini, Yasinda dan aktivis disabilitas kemudian melakukan edukasi kepada masyarakat apa seharusnya yang dilakukan saat bencana terjadi. kami, ujarnya, mengedukasi keluarga penyandang disabilitas untuk memprioritaskan anggota keluarganya yang disabilitas dan jangan sampai tertinggal.  

    Baca: Peringatan ancaman perubahan iklim sudah dirilis sejak 70 tahun silam

    Selain itu Yasinda bersama aktivis lainnya juga terus mendorong agar ke depan, saat kembali terjadi bencana, disiapkan pengungsian yang inklusif bagi semua kelompok termasuk penyandang disabilitas.

    Apa yang disampaikan oleh Yasinda mungkin menjadi potret bagaimana pengendalian dampak perubahan iklim di Indonesia. Di mana penanganan dan perumusan kebijakan justru sering tidak melibatkan kelompok yang paling rentan.

    Masih ada beberapa kelompok di masyarakat yang masih tertinggal serta belum terlibat secara penuh dalam perjuangan melawan krisis iklim. Salah satunya adalah kelompok penyandang disabilitas.

    Baca: Mengurai kemiskinan ekstrem di Indonesia

    Yeni Rosa Damayanti dari Perkumpulan Jiwa Sehat mengatakan, tak hanya dalam penanganan, pengenalan ancaman dan dampak perubahan iklim masih jauh untuk bisa diakses oleh kelompok disabilitas. 

    Ia memaparkan, tantangan tak hanya dihadapi kelompok disabilitas fisik, tetapi juga disabilitas netra, tuli dan sebagainya. Perangkat dan materi kampanye perubahan iklim yang ada sama sekali belum menyentuh kelompok ini.

    “Untuk kelompok disabilitas intelektual, belum ada instrumen yang bisa menjelaskan tentang perubahan iklim dan dampaknya dalam bahasa yang mudah dimengerti,” ujarnya.

    Baca: Peran pendidikan dalam menghadapi perubahan iklim

    Abdul Ghofar dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi mengatakan, Indonesia sebagai negara kepulauan menduduki posisi nomor tiga paling rentan akibat banjir dan kenaikan suhu.

    Ia memaparkan, dampak perubahan iklim akan makin terasa dalam beberapa dekade mendatang dan dampaknya tidak merata, berbeda antar kelompok, sehingga dalam merumuskan kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing kelompok. 

    Ghofar lantas menyebut sejumlah kelompok yang paling rentan, seperti negara berkembang dan negara miskin serta negara kepulauan.

    Sementara di masyarakat, masuk dalam kelompok rentan antar alain adalah kelompok disabilitas, anak-anak, masyarakat kurang mampu, masyarakat adat, orang tua, orang dengan masalah kesehatan, disabilitas, perempuan hamil dan menyusui.

    “Kelompok disabilitas memiliki risko empat kali lipat dibanding yang lain saat terjadi bencana,” ujar Ghofar. 

    Baca: Seperti ini seharusnya kampanye perubahan iklim dilakukan

    Namun sayangnya, hingga saat ini kelompok disabilitas nyaris ditinggalkan dalam  pembahasan konsep pengendalian perubahan iklim. Pembahasan masih terbatas di kalangan elit yang tidak merasakan dampak sebagaimana yang dirasakan kelompok rentan.

    Pembahasan konsep pengendalian perubahan iklim yang inklusif, ujarnya, tidak mungkin tanpa keterlibatan penyandang disabilitas karena penyandang disabilitas adalah salah satu kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

    “Sayangnya sampai saat ini upaya untuk memberikan informasi yang cukup serta melibatkan penyandang disabilitas dalam isu perubahan iklim masih belum banyak dilakukan,” ujarnya. 

  • Layanan Transportasi untuk Haji Lansia dan Penyandang Disabilitas Dinilai Kurang Memadai

    Layanan Transportasi untuk Haji Lansia dan Penyandang Disabilitas Dinilai Kurang Memadai

    7cloud.asia – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily saat meninjau fasilitas transportasi bagi jamaah haji di Mekkah, menemukan fasilitas bus bagi jamaah haji lansia dan penyandang disabilitas kurang memadai.

    Sebanyak 25 bus bagi haji lansia dan penyandang disabilitas dinilai belum cukup, dan diharapkan ke depan disiapkan sistem transportasi yang ramah lansia-penyandang disabilitas agar petugas tak perlu sampai bersusah-payah menggendong jamaah.

    “Dari hasil penelusuran dan pengawasan kita terhadap pelayanan transportasi ini harus diakui bahwa belum sepenuhnya ramah terhadap haji lansia, kenapa? Karena jumlah bus yang ramah lansia ini masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan bus yang disediakan melayani jamaah haji secara umum,” ujar Ace Sabtu (24/6/2023) sebagaimana dikutip Parlementaria.

    Baca: Gagal lunasi ONH, ratusan calon haji batal ke tanah suci

    Diketahui, di Terminal Jiad, Timwas Haji DPR bertemu dengan Kaposko dan Wakaposko terminal. Timwas menggali banyak hal soal pelayanan antarjemput jemaah haji.

    Wakaposko Terminal Jiad, Amrun, menjelaskan hari itu hanya tersedia 10 bus salawat untuk antarjemput jamaah haji kloter terakhir, yang berasal dari kuota tambahan haji.

    Sebelumnya ada 452 bus yang tersedia, namun saat ini, menurut Amrun, sudah diparkir di wilayah Mina. Oleh karena memang Pemerintah Saudi sudah membatasi transportasi jamaah menjelang puncak haji.

    Baca: Ibadah haji sudah ada jauh sebelum islam berkembang

    Di sisi lain, fasilitas bagi jamaah haji penyandang disabilitas pun dinilai masih belum memadai, khususnya yang menggunakan kursi roda.

    Amsur menjelaskan jamaah yang berkebutuhan khusus dibantu petugas naik turun bus dengan cara digendong.

    “Kita gendong, Pak, naik turun kita gendong. Kalau petugas di dalam bus memang tidak ada, tapi saat naik dan turun di hotel dan di terminal ini ada petugas yang bantu gendong, Pak. Cuma memang jemaah kebanyakan nggak mau nunggu bus itu, pengennya cepat-cepat, jadi kami bantu gendong,” tutur Amsur. 

    Baca: Mengenal ritual ziarah umat Budha bernama Thudong

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi berharap, ke depannya, pemerintah perlu lebih optimal dalam penanganan dan penguatan fasilitas kesehatan (Faskes) yang ada di Makkah, khususnya dalam melayani jamaah haji Lansia. 

    Hal ini karena jumlah jemaah haji dari kelompok lansia cukup besar. 

    Tahun ini saja, jamaah Haji Lansia itu kan sampai 30 persen. Kita tidak bisa bayangkan tahun depan dengan antrean yang begitu panjang, jamaah Lansia bisa meningkat 40 persen. Untuk itu perlu perhatian serius dari pemerintah untuk persiapan tahun depan dengan jamaah haji Lansia lebih banyak,” ujar Ashabul Kahfi. 

    Baca:  Ribuan bahasa terancam punah karena makin jarang digunakan

    Ashabul menambahkan, penghapusan pendamping haji yang diberlakukan tahun ini perlu dikaji kembali, terutama untuk mendampingi jamaah haji Lansia.

    Sebab, tambahnya, kalau mengandalkan petugas haji yang jumlahnya juga sedikit, ini sangat tidak mungkin melayani semua.

    “Coba nanti evaluasi bersama, apakah pendamping haji ini akan kita adakan kembali pada tahun depan, mengingat kuota antrean yang begitu panjang ini juga jadi kendala,” imbuh Politisi Fraksi PAN ini.

    Baca:  Salon sapi ramai menjalng hari raya Idul Adha

    Ashabul menilai, secara umum kontribusi para tenaga kesehatan (Nakes) yang ada di KKIH Madinah sudah optimal, karena sudah bekerja keras siang-malam tanpa kenal lelah untuk melayani pasien.

    Terlebih, tambahnya, terdapat pengurangan Nakes yang semula berjumlah 23 menjadi 13 orang.

    ”Tadi kami sudah melihat di sejuah kamar-kamar (perawatan) cukup banyak yah pasien, kurang lebih 100 orang yang hari ini dirawat dan semuanya Lansia. Penyakitnya yang diderita antara lain yang hipertensi, batuk, dimensia dan ada macam -macam lain. Tapi intinya mereka adalah rata -rata jamah haji Lansia,” tutupnya.

  • Kafe Difabis, Kisah Perjuangan Kelompok Difabel di Tengah Kerasnya Kota Jakarta

    Kafe Difabis, Kisah Perjuangan Kelompok Difabel di Tengah Kerasnya Kota Jakarta

     
     

    7cloud.asia – SAYA TULI. Tulisan dengan huruf besar dari kapur tulis berwarna itu tersapu apik di papan yang dipasang di depan Kafe Difabis.

    Bagi pengguna CL, Kafe Difabis yang berada di kolong jembatan layang tepat di pintu keluar Stasiun Sudirman itu mungkin sudah tidak asing lagi. Kafe Difabis yang diawaki para difabel ini sudah berumur hampir dua tahun.

    Bangunan Kafe Difabis yang berwarna coklat muda itu terlihat mencolok, kontras dengan warna lingkungan sekitar yang didominasi abu-abu.

    Baca: Cerita-serita Tuli, kisah keseharian difabel tuli di Solo

    Saat saya datang pada Senin (25/6/2023) siang lalu, seorang barista sedang merapikan Kafe Difabis yang berdiri sejak 2021 itu. Lantas dengan menggunakan bahasa isyarat dia menanyakan saya pesan apa.

    Dia menunjuk ke papan lain yang memuat menu dan daftar harga minuman di Kafe Difabis. Di papan itu juga dilengkapi dengan pilihan porsi gula, apakah less sugar ataupun no sugar. Sayapun memesan latte hangat less sugar.

    Tak berapa lama minuman pesanan saya siap, dan saya menikmati di bangku kecil yang disediakan di depan Kafe Difabis sambil memperhatikan lalu lalang para penumpang di Stasiun Sudirman.

    Baca: Kisah kelompok disabilitas dan perubahan iklim

    Robiatin, relawan difabel yang menjaga kedai kue Difabis di sebelahnya bercerita, awalnya Kafe Difabis ditujukan untuk difabel tuli dan daksa. Namun karena kondisi yang ada tidak memungkinkan, maka Difabis kini lebih banyak mempekerjakan difabel tuli.

    “Tempatnya terlalu sempit sehingga tidak bisa digunakan untuk pengguna kursi roda, selain itu toiletnya terlalu jauh,” ujar perempuan yang biasa dipanggil Atin itu.

    Atin, penyandang difabel fisik ini menambahkan, Kafe Difabis menyediakan kopi dan pastry. Kopi di Kafe Difabis diracik barista difabel yang sudah mendapatkan pelatihan barista yang digelar Baznas DKI Jakarta. 

    Baca: Menyoroti partisipasi kelompok disabilitas di panggung politik

    Sedangkan pastry di Kafe Difabis yang beroperasi sejak pukul 08:00 hingga pukul 19:00 ini dipasok oleh sebuah UMKM di Jakarta.

    Tak hanya mempelajari cara menakar komponen kopi, air, dan campurannya, para barista di Kafe Difabis juga belajar menghaluskan biji kopi.

    “Meski begitu, para barista belum belajar cara menyangrai biji kopi. Peran ini masih dilakukan oleh barista dan pengelola kedai kopi non difabel,” imbuh Atin.

    Baca: Perempuan dengan down syndrome rentan alami kekerasan

    Selain di Stasiun Sudirman, ada empat Kafe Difabis yang tersebar di sejumlah wilayah di Jakarta, seperti Matraman (Jakarta Timur) Sunter (Jakarta Utara) dan Jakarta Selatan. 

    Atin mengisahkan, keberadaan Kafe Difabis seperti ini sangat membantu para difabel seperti dirinya untuk bisa bekerja.

    Diakuinya, beberapa tahun belakangan ini makin banyak perusahaan ataupun lembaga pemerintah yang menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok difabel, kesempatan kerja itu tak langsung mudah didapat.

    Baca; Mengenal bipolar, salah satu disabilitas mental

    Perusahaan, ujarnya, sering mensyaratkan pengalaman kerja. Padahal untuk mendapatkan kesempatan magang itu sering tak didapat dengan mudah oleh penyandang difabel. 

    “Secara tidak langsung kami akan terpinggirkan,” keluhnya.

    Ia berharap, ke depan semakin banyak pemerintah kota yang bersedia turun tangan dan memberi kesempatan kerja bagi kelompok difabel seperti yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta lewat Kafe Difabis ini. 

    Untuk diketahui UU no. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengamanatkan kesempatan kerja bagi kelompok difabel sebesar 1 persen (perusahaan swasta) dan 2 persen (lembaga pemerintah). 

     
  • Kenali Program Beasiswa ADIK yang Bisa Diakses Penyandang Disabilitas

    Kenali Program Beasiswa ADIK yang Bisa Diakses Penyandang Disabilitas

    7cloud.asia – Para penyandang disabilitas diminta lebih proaktif mengikuti program beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADiK).

    Anggota Komisi X DPR Ledia Hanifa Amaliah menilai sikap proaktif dalam prgram ADIK tersebut dibutuhkan agar akses pemenuhan hak-hak para penyandang disabilitas dapat tersalurkan sesuai ekspektasi. 

    Ledia yang merupakan Mantan Ketua Panja RUU Disabilitas tahun 2014 ini mengatakan, sikap proaktif di program ADIK ini akan memberikan kepastian mengenai kelanjutan dan menunjang kebutuhan finansial para penyandang disabilitas.

    Baca: Kafe Difabis, kisah perjuangan kelompok disabilitas di Jakarta

    Harapan agar para disabilitas bersikap proaktif tersebut disampaikan menerima aspirasi dari Pengurus Yayasan Pendidikan Tuna Netra Jawa Barat yang merupakan bagian dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) di Kantor Komunikasi dan Informasi Ledia Hanifa, Jl. Pahlawan No.39, Bandung, Sabtu (22/07/2023).

    “Sehingga, hal-hal yang bersifat pemenuhan dan perlindungan hak-hak disabilitas dapat berjalan dengan baik, walau implementasinya yang masih memerlukan proses,” ujar Ledia.

    Dilansir Parlementaria, Rabu (26/7/2023), Ledia jugaa menyatakan bahwa terkait beasiswa bagi SD-SMA/K, para siswa disabilitas dapat mengikuti Program Indonesia Pintar (PIP) yang mana tiap tahunnya diwajibkan bagi calon penerima untuk mendaftar kembali.

    Baca: Cerita tuli, potret keseharian disabilitas tuli di Kota Solo

    Karena itu, ia menilai perlu ada kolaborasi pengurus komunitas para penyandang disabilitas yang dikuatkan advokasi anggota legislatif.

    “Sehingga, akan mendorong terpenuhinya hak-hak penyandang disabilitas dengan lebih baik dan lebih cepat,” ujarnya.  

    Dalam kesempatan tersebut, Pengurus yaysan yang membawahi disabilitas netra tersebut menyampaikan aspirasi mengenai permohonan advokasi pendidikan dan beasiswa untuk teman-teman tuna netra di Bandung.

    Lebih lanjut, pengurus yayasan disabilitas netra Jawa Barat juga mengingatkan implementasi UU Disabilitas Nomor 8 Tahun 2016 yang belum sepenuhnya sesuai dengan yang diamanatkan.

    Baca: Lima sosok disabilitas yang menginspirasi

    Program beasiswa ADIK diatur di Undang-undang atau UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi.

    Di situ diamanatkan, Pemerintah wajib meningkatkan akses dan kesempatan belajar di Perguruan Tinggi serta menyiapkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif termasuk kelompok disabilitas.

    Beasiswa ADik adalah salah satu intervensi kebijakan pendidikan yang bersifat afirmasi dalam bentuk Bantuan Pemerintah untuk memberikan kesempatan belajar kepada mahasiswa karena kondisi dan keberadaanya sehingga mengalami kesulitan dan keterjangkauan akses pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi.

  • Surat Cinta dari Penyandang Disabilitas Membuat Ganjar Pranowo Terharu

    Surat Cinta dari Penyandang Disabilitas Membuat Ganjar Pranowo Terharu

    7cloud.asia – Di ujung masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mendapat kenangan indah dari penyandang disabilitas (difabel) di Kota Semarang.

    Sebuah surat cinta dibacakan oleh anak-anak difabel untuk Ganjar Pranowo yang pekan depan akan mengakhiri masa jabatannya sebagai orang nomor satu di Jawa Tengah. 

    Surat cinta itu dibacakan saat para penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang menemui Ganjar Pranowo di Puri Gedeh, Kota Semarang pada Sabtu (2/9/2023).

    Surat cinta itu dibuat oleh relawan KSD Semarang dan dibacakan langsung di hadapan Ganjar Pranowo, sebagai ucapan terima kasih dari para penyandang disabilitas atas dua periode kepemimpinan dia di Jawa Tengah.

    Baca: Ganjar Pranowo tak terpengaruh dengan dinamika politik jelang Pilpres 2024

    Faradila, difabel dari Komunitas Sahabat Difabel yang bertugas membacakan surat cinta itu menyebut, surat cinta itu merupakan apresiasi ke Ganjar Pranowo yang terus menunjukkan perhatian dan kepeduliannya kepada penyandang disabilitas.

    “Pesannya di situ ucapan terima kasih untuk Pak Ganjar yang selama ini bisa memajukan Jawa Tengah ya untuk menjadi lebih inklusif dan Jateng Gayeng pokoknya,” ujar Faradila.

    Berikut isi surat yang diberikan untuk Ganjar Pranowo:

    Ini bukanlah puisi yang puitis. Ini bukan pula lirik lagu romantis. Ini adalah surat cinta dari tuanmu, untukmu yang setia melayani rakyatmu.

    Satu dasawarsa telah berlalu, menemani perjuanganmu mengabdi serta keikhlasanmu dalam melayani. Karena bagimu, tuanku ya rakyat, gubernur cuma mandat.

    Dua periode menjabat banyak perubahan positif terjadi karena kinerjamu yang sat set. Banyak kemajuan telah dibangun karena daya juangmu yang tangguh.

    Sepuluh tahun berjuang, melahirkan Jateng Gayeng, menjadikan Jateng semakin inklusif. Membangun Jateng terus maju, menjadikan Jateng teladan yang baik.

    Sepuluh tahun berjuang, melahirkan Jateng Gayeng, menjadikan Jateng semakin inklusif. Membangun Jateng terus maju, menjadikan Jateng teladan yang baik.

    Terima kasih Pak Ganjar, putih rambutmu jadi ciri khasmu. Senyum ramahmu cermin keikhlasanmu. Kerutan keningmu tanda ketangguhanmu. Ketegasanmu adalah bukti integritasmu sebagai pemimpin sejati.

    Terima kasih ibu Atikoh. Ibu selalu setia mendampingi sebagai pasangan hidup. Hari ini bukanlah akhir dari tugasmu melayani tuanmu di wilayah ini. Hari ini adalah awal dari perjalananmu melayani tuanmu yang bertambah banyak.

    Terima kasih Pak Ganjar, surat cinta ini kami sampaikan untukmu. Bukan untuk sebuah perpisahan melainkan untuk sebuah harapan. Menjadikan Indonesia terus maju.

    Baca: Bus ramah disabilitas di Jawa Tengah

    Mendengar isi surat tersebut, Ganjar Pranowo yang didampingi sang istri Siti Atikoh tak kuasa menahan haru. Bahkan mata Siti Atikoh sempat berkaca-kaca saat menyimak surat yang dibacakan anak difabel itu.

    Usai mengakhiri pembacaan surat cinta, Farahdila mengungkapkan harapannya agar kesetaraan pendidikan untuk kaum difabel bisa terus ditingkatkan.

    Ia berharap Ganjar Pranowo terpilih jadi presiden demi mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi penyandang disabilitas di seluruh Indonesia,  seperti yang telah dilakukan selama dua periode memimpin Jawa Tengah.

    “Harapannya untuk Pak Ganjar kalau misalkan jadi (Presiden RI 2024-2029) bisa memajukan Indonesia lebih inklusif, terutama untuk bidang pendidikan. Karena saya melihat untuk difabel ini untuk pendidikan masih minim inklusif gitu,” ucap Farahdila.

    Baca: Difabis, kisah perjuangan difabel bisu di Jakarta

     

    Dalam kesempatan yang sama, Founder KSD Semarang dan Roemah Difabel, Noviana Dibyantari mengatakan perhatian Ganjar Pranowo kepada penyandang disabilitas sangat tinggi. 

    Ganjar selalu melibatkan penyandang disabilitas di tiap penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan pengambilan keputusan lainnya.

    “Selama ini Pak Ganjar selalu memberi kesempatan kepada teman-teman penyandang disabilitas. Jadi beliau melibatkan kami dalam kegiatan musrenbang, baik di tingkat kelurahan hingga provinsi kemudian juga dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan penetapan kebijakan, kami dilibatkan di sana,” ujar Novi usai bertemu Ganjar.

    Novi menambahkan, kepemimpinan Ganjar yang mengedepankan humanis juga diterapkan kepada seluruh kalangan masyarakat, tak terkecuali penyandang disabilitas.

    Baca: Cerita-cerita tuli, kisah keseharian difabel tuli di Solo

    Untuk menegaskan komitmennya pada kesetaraan dan inklusifitas penyandang disabilitas, Ganjar juga mematangkan Rencana Peraturan Daerah (Raperda) Tentang Penyandang Disabilitas yang digodok bersama DPRD Jawa Tengah.

    “Jadi sudah mulai terlihat bahwa konsepnya bukan charity, tapi sekarang sudah Hak Asasi Manusia. Jadi kesetaraan dan inklusifitas itu selalu didengungkan Pak Ganjar di manapun beliau banyak menyampaikan kebijakan,” jelas Novi.

    Novi juga berharap Ganjar Pranowo bisa melanjutkan kepemimpinannya di tingkat nasional.

    “Harapannya, upaya-upaya dan kebijakan yang telah dilakukan pak Ganjar selama 2 periode memimpin Jawa Tengah, bisa dilanjutkan di tingkat nasional,” pungkas Novi.

    Baca: Pameran lukisan anak difabel

     

  • PT KAI Berlakukan Harga Khusus untuk Penumpang Disabilitas mulai 17 September 2023

    PT KAI Berlakukan Harga Khusus untuk Penumpang Disabilitas mulai 17 September 2023

    7cloud.asia – PT Kereta Api Indonesia ( PT KAI Persero) akan memberi potongan harga tiket kereta api kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi sebesar 20 persen bagi penumpang disabilitas.

    Harga khusus dari KAI untuk penumpang disabilitas ini akan berlaku untuk keberangkatan mulai 17 September 2023 dan seterusnya.

    “Diskon tetap bagi pelanggan disabilitas ini sebagai kado KAI di Hari Pelanggan Nasional bagi saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama,” ujar VP Public Relations KAI Joni Martinus, dikutip dari laman KAI.

    Baca: Mengenal bus ramah disablitas di Jawa Tengah

    Dilansir dari Kompas.com, untuk mendapatkan fasilitas reduksi dari KAI, penyandang disabilitas wajib melakukan registrasi di Customer Service Stasiun paling lambat H-2 keberangkatan kereta api.

    Registrasi tiket reduksi bagi penyandang disabilitas wajib menggunakan surat keterangan asli dari dokter rumah sakit/puskesmas yang menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah penyandang disabilitas.

    Registrasi dapat diwakilkan kepada orang lain dengan membawa surat keterangan asli dari dokter rumah sakit/puskesmas, KTP asli, dan pas foto milik penumpang reduksi disabilitas yang akan didaftarkan.

    Baca: Kafe Difabis, perjuangan penyandang disabiltas di Jakarta

    Registrasi reduksi ini hanya dilakukan sekali saja. Selanjutnya penumpang dapat membeli tiket dengan tarif reduksi melalui aplikasi Access atau Loket Stasiun.

    Joni menekankan pentingnya penumpang disabilitas untuk memperhatikan proses boarding dan pemeriksaan di atas kereta api.

    “Pemegang tiket dengan tarif reduksi disabilitas wajib menunjukkan bukti KTP asli atau surat keterangan asli penyandang disabilitas,” terangnya.

    Baca: Sosok disabilitas yang menginspirasi

    Apabila saat proses boarding dan atau pemeriksaan di atas kereta api, tidak dapat menunjukkan KTP asli atau surat keterangan asli penyandang disabilitas, maka tiket dianggap hangus dan diturunkan pada kesempatan pertama.

    “Dengan adanya pemberian tarif reduksi bagi pelanggan disabilitas ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat penyandang disabilitas yang ingin bepergian dengan kereta api yang aman, nyaman, dan tepat waktu,” tutup Joni.

    Baca: Surat cinta dari penyandang disabilitas untuk Ganjar Pranowo

     

  • Jumlah Pemilih Disabilitas Capai 1,1 Juta, KPU Diminta Siapkan Pemilu 2024 yang Ramah Disabilitas

    Jumlah Pemilih Disabilitas Capai 1,1 Juta, KPU Diminta Siapkan Pemilu 2024 yang Ramah Disabilitas

    7cloud.asia – Komisi Pemilihan Umum (KPU) diminta menciptakan Pemilu 2024 yang ramah bagi pemilih dari kelompok disabilitas yang jumlahnya sebanyak 1,1 juta orang.

    Inklusifitas dan aksesibilitas untuk disabilitas menjadi isu yang harus disiapkan secara serius oleh KPU di gelaran Pemilu 2024 pada Februari tahun depan.

    “Jangan sampai hak pilih kaum disabilitas ini tidak terfasilitasi dengan baik yang ujungnya membuat tingkat partisipasinya rendah di Pemilu 2024,” kata Deputi V Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jaleswari Pramodhawardani dalam keterangan tertulis di Jakarta.

    Baca: KND menilai belum ada kebijakan afirmatif bagi penyandang disabilitas di Pemilu 2024

    Jaleswari mengatakan persoalan fasilitasi hak pilih dari kelompok-kelompok disabilitas menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Rakor Kesiapan Pemilu 2024, di Surabaya, pada 12-13 September 2023.

    Pembahasan dilakukan atas fakta yang diungkapkan Komisi Nasional Disabilitas, di mana penyandang disabilitas masih menghadapi beberapa hambatan dalam menyalurkan hak pilihnya.

    Hamabtan itu, seperti soal pendataan, tantangan kondisi geografis, dan kesadaran masyarakat.

    Baca: Akankah polarisasi warnai Pemilu 2024

    Menjawab tantangan tersebut, tegas Jaleswari, Kantor Staf Presiden mendorong Komisi Pemilihan Umum (KPU) segera melakukan upaya untuk memfasilitasi kebutuhan penyandang disabilitas dalam Pemilu 2024.

    “Misalnya, terkait penyediaan template surat suara dengan huruf braille di TPS, lokasi TPS yang harus dapat diakses oleh kursi roda, dan kesiapan petugas di TPS. Pemilu 2024 harus ramah disabilitas,” ujarnya.

    Selain persoalan fasilitasi hak pilih dari kelompok disabilitas, tutur Jaleswari, Rakor Kesiapan Pemilu 2024 juga membahas dua isu lain yang tak kalah pentingnya, yakni penguatan pencegahan politik uang dan penanganan ujaran kebencian.

    Baca: Mengapa Jokowi cawe-cawe dalam pelaksanaan Pemilu 2024

    Menurutnya, isu-isu terkait penyelenggaraan Pemilu 2024 harus ditangani dengan cepat, mengingat kerangka waktunya semakin ketat.

    Kantor Staf Presiden sendiri, tambah Jaleswari, akan segera melakukan debottlenecking dan langkah-langkah koordinatif lanjutan bersama stakeholder terutama pada kelompok-kelompok pemilih.

    “Isu-isu yang masih ada ini harus ditangani dengan cepat dan dapat terselesaikan secara tuntas sehingga pemilu dapat berjalan luber, jurdil, dan demokratis sesuai cita-cita kita bersama,” kata Jaleswari.

    Baca: Ganjar Pranowo dapat surat cinta dari penyandang disabilitas

    Sebagai informasi, Rapat Koordinasi Kesiapan Pemilu 2024 dihadiri perwakilan KPK, Bawaslu, Bappenas, perguruan tinggi, dan DPP partai politik se-Jawa Timur.

  • Pramusapa, Cara TransJakarta dan Commuter Line Melayani Disabilitas dan Penumpang Prioritas

    Pramusapa, Cara TransJakarta dan Commuter Line Melayani Disabilitas dan Penumpang Prioritas

    7cloud.asia – Pramusapa, demikian profesi ini dinamakan. Pramusapa ini bertugas untuk melayani penumpang prioritas TransJakarta ataupun commuterline.

    Saya menemukan pramusapa pertama kali saat melintas di jembatan penyeberangan yang menghubungkan halte TransJakarta Velbak dengan Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

    Pada Rabu (20/9/2023) malam saya kembali menemukan pramusapa itu. Pramusapa bernama Raka Novan sedang memandu dua orang disabilitas netra, Dadan dan rekannya, dari Halte TransJakarta Velbak menuju Stasiun Kebayoran. 

    Setelah mengantar dua disabilitas netra hingga pintu masuk dan memastikan mereka diterima petugas pramusapa di Stasiun Kebayoran, ia kembali ke basenya di Halte TransJakarta Velbak.

    Baca: Mengenal bus ramah disabilitas yang digagas Ganjar Pranowo

    Kepada 7cloud.asia, Raka menyebutkan tugasnya sebagai pramusapa adalah memberikan informasi penumpang TransJakarta yang tidak tahu rute bus. 

    “Kami juga bertugas untuk membantu penumpang prioritas, seperti anak-anak, lansia, perempuan hamil ataupun penyandang disabilitas untuk memastikan kenyamanan mereka,” ujarnya.

    Novan mengatakan, ia telah bekerja sebagai pramusapa selama satu tahun terakhir.

    Kami bekerja dalam shift, ujarnya, dengan satu shift selama 8 jam. Novan menjelaskan beragam bantuan yang dibutuhkan penumpang prioritas.

    Baca: PT KAI sediakan tiket khusus bagi penyandang disabilitas

    Seperti memastikan mereka mendapatkan tempat duduk di bangku prioritas, memastikan mereka tidak salah rute, atau bahkan memapah penumpang yang memang tidak bisa berjalan sendiri. 

    “Tapi di TransJakarta rute Ciledug-Tendean ini jarang ada penumpang yang menggunakan kursi roda. karena ini tinggi sekali sehingga dijuluki jalur langit,” ujarnya. 

    Novan mengungkapkan, untuk mendapatkan layanan penumpang prioritas bisa mendaftar ke PT TransJakarta atau PT KAI. Mereka akan mendapatkan pin sehingga petugas akan tahu bahwa mereka butuh layanan khusus.

    “Selain itu, kami juga memiliki grup whatsapp untuk berbagi informasi dan berkoordinasi soal penumpang prioritas ini. Sehingga ketika mereka tiba di halte ataupun stasiun yang dituju, dipastikan ada petugas yang siap membantu,” terangnya.

    Baca: Kafe Difabis, potret perjuangan difabel bisu di Jakarta

    Bagi Dadan, keberadaan pramusapa ini dangat membantunya. Apalagi di jembatan penyeberangan orang Velbak yang cukup panjang dan tidak dilengkapi marka untuk disabilitas ini. 

    Dadan menambahkan, meski masih ada kekurangan, apa yang dilakukan PT TransJakarta dan PT KAI ini layak diapresiasi. 

    Dadan yang bekerja di sebuah bank nasional ini berharap, ke depan pemerintah lebih memperhatikan layanan transportasi yang ramah bagi penyandang disabilitas.

    “Sehingga orang-orang seperti kami, bisa bepergian secara mandiri,” ujarnya.

    Baca: Kisah-kisah Tuli, memotret keseharian disabilitas di Kota Solo

    Sayang, saya tidak bisa mengikuti bagaimana Dadan dan temannya harus berdesakan naik TransJakarta ataupun commuter line di jam-jam sibuk seperti saat itu. 

    Yang saya tahu, di jam-jam sibuk  seperti ini biasanya transportasi publik ini akan sangat padat.

    Mungkin, di kesempatan lain saya bisa mengiukti mereka dan memotret secara lebih utuh untuk dapat menggambarkan bagaimana layanan transportasi publik untuk warga disabilitas di Jakarta.