Tag: el nino

  • Puluhan Kebakaran Lahan Akibat El Nino Harus Dibayar Mahal

    Puluhan Kebakaran Lahan Akibat El Nino Harus Dibayar Mahal

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB melaporkan ada 55 kejadian bencana sepekan terakhir ini, yang terutama didominasi kebakaran hutan dan lahan.

    Kebakaran hutan dan lahan yang juga terjadi di kawasan wisata Taman Nasional, jalur pendakian di berbagai gunung, dan bahkan tempat pembuangan akhir (TPA).

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam Disaster Briefing, secara daring Senin lalu (18/9/2023) mengatakan kebakaran hutan dan lahan ini tak lepas dari kondisi musim kemarau yang sedang memuncak. 

    “Distribusi secara spasial, ini kita bisa lihat dominannya kebakaran hutan dan lahan  dan kekeringan meskipun kita masih punya banjir, tanah longsor di Aceh dan Halmahera, tetapi secara umum memang kondisi peak-nya kondisi puncak kemarau ini benar-benar sudah terasa,” ujar Abdul Muhari.

    Ditambahkannya, Indonesia memang sedang di fase musim kemarau yang diperburuk dengan menguatnya fenomena El Nino.

    Baca: Kebakaran hanguskan 900 hektare lahan di Gunung Arjuno

    Tetapi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan ini sesungguhnya adalah ulah  manusia.

    “Bukan El Nino, bukan musim kemarau penyebab kebakaran hutan. Itu hanya efek katalis. Intervensi manusia penyebab kebakaran terjadi”, ujar Muhari.

    Ia merujuk pada kebakaran di sebagian wilayah hutan Gunung Bromo Jawa Timur pekan lalu akibat suar atau flare saat foto pre-wedding sekelompok pengunjung. Peristiwa ini viral di media sosial dan menjadi sorotan pemberitaan.

    Abdul Muhari mengatakan tim satgas darat dan udara terus bekerja keras mencegah kebakaran hutan dan lahan.

    “Tim satgas darat bisa melalui jalur darat menjangkau lokasi kebakaran sedangkan tim udara memonitor dengan dukungan helikopter water bombing BNPB. Gempuran demi gempuran ‘bom air’ dan penyemprotan air dari darat mempercepat pemadaman kebakaran,” ujarnya

    Baca: Ratusan hektare lahan di Gunung Ciremai hangus akibat kebakaran

    Dilansir VOA Indonesia, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno meminta semua pengelola kawasan wisata Taman Nasional untuk melakukan evaluasi dan kajian agar mengutamakan aspek keselamatan, sehingga tidak terjadi musibah seperti di Gunung Bromo.

    “Kita harus lakukan evaluasi secara menyeluruh agar pariwisata berbasis alam ini ekosistemnya sudah mengacu kepada aspek sertifikasi CHSE (cleanliness, health, safety, and environmental sustainability),” ujarnya.

    Sandiaga menyayangkan kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Gunung Bromo, karena dampaknya sangat memukul komunitas pariwisata.

    “Dampak wisata Gunung Bromo ditutup sementara, kerusakan lingkungan, tingkat hunian hotel drop sampai 80 persen, warga komunitas pariwisata, UMKM sekitar lokasi wisata kehilangan mata pencaharian. Ekonomi masyarakat tersendat,” ujar Sandiaga.

    Baca: Pemanasan global bikin kebakaran hutan makin sering terjadi

    Kebakaran hutan di Bromo dan Tengger ini menimbulkan kerugiannya sangat luar biasa, sehingga Sandiaga Uno berencana mengenakan sanksi denda sangat besar bagi pelaku yang terbukti menimbulkan kebakaran.

    “Total denda bagi pelaku sekitar Rp1,5 milyar itu pun tidak tidak bisa menutupi kerugian kebakaran 50 hektar taman nasional yang di Bromo,” ujar Sandi

    Ia menambahkan, untuk satu kali sortie pemadaman dengan water bombing butuh biaya Rp 200 juta, sehari bisa tiga kali sortie, sementara upaya pemadaman butuh berhari-hari.

    “Belum lagi mengembalikan fungsi kawasan yang rusak akibat terbakar, Biaya sangat mahal,” pungkas Sandi.

    Baca: PBB ingatkan periode 2023-2027 bakal jadi periode terpanas

    Tak hanya kawasan wisata Taman Nasional, jalur pendakian berbagai gunung di Indonesia ditutup sementara akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai daerah.

    Dua puluh enam gunung yang jalur pendakiannya ditutup sementara berada di Pulau Jawa dan dikelola Perum PERHUTANI.

    Jawa Barat
    1. Gunung Cikuray
    2. Gunung Sagara
    3. Gunung Maglayang
    4. Gunung Tangkuban Perahu
    5. Gunung Palasari
    6. Gunung Sanggarah
    7. Gunung Sunda
    8. Gunung Puntang

    Baca: Bulan Juli 2023 masuk sebagai masa terpanas dalam sejarah  global

    Jawa Tengah
    9. Gunung Slamet
    10. Gunung Lawu
    11. Gunung Prau

    Jawa Timur
    12. Gunung Lawu
    13. Gunung Panderman
    14. Gunung Penanggungan
    15. Gunung Putuk Gragal
    16. Gunung Putuk Sewur
    17. Gunung Kelud
    18. Gunung Kaki Arjuno
    19. Gunung Kawi
    20. Gunung Saing
    21. Gunung Raung
    22. Gunung Buthak
    23. Gunung Klotok
    24. Gunung Wilis
    25. Gunung Putuk Lorokan
    26. Gunung Putuk Kentongan.

     

     

  • Dampak El Nino, Kekeringan di Bali Meluas

    Dampak El Nino, Kekeringan di Bali Meluas

    7cloud.asia – Kekeringan akibat kemarau panjang masih terjadi di sejumlah tempat meski di beberapa wilayah hujan mulai turun.

    Seperti yang terjadi Bali, kekeringan akibat kemarau panajng terus meluas dan kini telah dialami 15 kecamatan.

    Kekeringan ini terjadi sebagai dampak fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang sehingga mengakibatkan beberapa wilayah di Bali tidak turun hujan selama 80 hari.

    “Secara umum di Bali berada pada kategori masih ada hujan hingga kekeringan ekstrem,” ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Kekeringan picu krisis air bersih, warga Muara Angke harus beli air dengan harga mahal

    Kelimabelas kecamatan tersebut adalah Kecamatan Buleleng, Gerokgak, Kubutambahan, Sawan, dan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

    Selain itu, Kecamatan Melayan, Kabupaten Jembrana; Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli; Kecamatan Karangasem dan Kubu, Kabupaten Karangasem.

    Kecamatan Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan, Kabupaten Badung; Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung; dan Kecamatan Denpasar Timur dan Denpasar Selatan, Kota Denpasar juga tak luput dari kekeringan.

    Baca: Kekeringan bikin biaya tanam melonjak

    Di antara 15 kecamatan tersebut, lanjut Nyoman, yang paling lama mengalami kekeringan adalah Kecamatan Kubu, Kubutambahan, dan Kintamani.

    Dengan demikian, BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan di Pulau Dewata yang berlaku selama dasarian atau per 10 hari yang akan diperbarui berdasarkan pengamatan terbaru BMKG.

    Pada 10 hari lalu, BMKG Denpasar mencatat kekeringan terjadi di 14 kecamatan di Bali.

    Baca: Harga beras naik, sebagian warga Rangkasbitung beralih konsumsi palawija

    Selanjutnya Nyoman menjelaska meski kini kekeringan meluas hingga 15 kecamatan, tetapi masih ada potensi terjadi hujan hingga 30 September 2023.

    Wlayah yang berpotensi hujan yaitu, Kecamatan Selemadeg, Selemadeg Barat, dan Sidemen.“Distribusi curah hujan di Bali secara umum itu antara nol hingga 215,5 milimeter per 10 hari,” ungkapnya.

    Sebelumnya, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Bali terjadi pada Juli-Agustus 2023 yang dipengaruhi fenomena El Nino.

    Baca: El Nino picu kekeringan, produksi beras diperkirakan bakal minus

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Demi Dapat Air Bersih, Warga Lebak Harus Cari ke Hutan

    Demi Dapat Air Bersih, Warga Lebak Harus Cari ke Hutan

    7cloud.asia – Kemarau panjang akibat fenomena El Nino mengakibat sejumlah daerah mengalami krisis air. Bahkan warga harus berjalan jauh masuk ke hutan demi mendapatkan air bersih. Seperti di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten.

    Masyarakat di wilayah ini sejak sebulan terakhir mencari air bersih hingga masuk ke hutan akibat dampak perubahan iklim kemarau 2023 atau El Nino.

    “Kita pada malam hari mendapatkan air bersih dari sumber mata air di kawasan hutan,” kata Sarip, warga Margaluyu Kabupaten Lebak, seperti dikutip Antaranews.

    Demi mendapatkan air bersih, lanjut Sarip, masyarakat di wilayah ini terpaksa berjalan kaki ke hutan- hutan sepanjang 1 kilometer menggunakan sepeda motor.

    “Selama ini, sumur bawah tanah yang biasa kami pakai untuk keperluan wudhu dan cuci serta kakus (MCK) mengalami kekeringan,” ucap pria berusia 40 tahun ini.

    Karena itu, Sarip bersama warga lainnya setiap hari mencari air bersih ke sumber mata air setempat. Biasanya mereka mulai mencari air usai salat Isya.

    “Kami mencari air bersih untuk bisa terpenuhi bak dan tempat lainnya dari pukul 18.20 WIB sampai pukul 22.00 WIB,” ungkapnya.

    Hal senada juga diungkapkan oleh Suhari, warga dari Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak. Ia kini harus mencari air bersih ke hutan-hutan yang ada sumber mata air.

    Pihaknya juga telah berusaha mengadukan masalah ini ke pihak desa agar dapat bantuan air.  Namun, Suhari mengaku hingga kini belum ada bantuan air bersih yang diterimanya

    “Kami sudah melaporkan krisis air bersih ke desa setempat untuk pengajuan bantuan air bersih ke Pemkab Lebak,” jelas Suhari.

    Kordinator Pendistribusian Air Bersih Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Kabupaten Lebak, Irman Utharman menjelaskan masyarakat yang dilanda krisis air bersih dapat mengajukan permintaan pengiriman air.

    Masyarakat, lanjutnya, dapat melaporkan ke kepala desa setempat. Kemudian kepala desa melampirkan jumlah kepala keluarga yang terjadi krisis air bersih dan diketahui aparat kecamatan.

    Setelah itu, permohonan permintaan air bersih bisa langsung mendatangi BPBD Lebak. “Kami sampai hari ini sudah mendistribusikan air bersih di atas 700 ribu liter tersebar di 20 kecamatan yang dilanda krisis air bersih akibat kemarau itu,” ungkap Irman.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG: 10 Persen Wilayah di Indonesia Mulai Masuk Musim Hujan  

    BMKG: 10 Persen Wilayah di Indonesia Mulai Masuk Musim Hujan  

     

    7cloud.asia – Meski sebagian besar wilayah di Indonesia masih mengalami musim kemarau, tetapi ada beberapa wilayah mulai memasuki musim hujan. Jumlahnya sekitar 10 persen, diantaranya Sumatera Utara.

    “Berdasarkan jumlah zona musim, sebanyak 10 persen wilayah Indonesia masuk musim hujan,” kata Analis Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kukuh Prasetyaningtyas yang dikutip Antaranews, Sabtu (23/09/2023).

    Selanjutnya Kukuh menjelaskan selain Sumatera Utara, wilayah yang mulai masuk musim penghujan adalah sebagian Aceh, sebagian besar Riau, sebagian besar Sumatera Barat dan Bengkulu.

    Selain itu musim hujan juga terjadi di sebagian kecil Kalimantan Barat, sebagian kecil Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah bagian timur, sebagian kecil Maluku dan sebagian Papua Barat.

    Pada dasarian III September hingga dasarian II Oktober tahun ini, BMKG memperkirakan curah hujan berada pada kriteria rendah hingga menengah (0-75 milimeter per dasarian).

    Wilayah yang diprediksi mengalami hujan kategori rendah di bawah 50 milimeter per dasarian adalah sebagian besar Sumatera bagian tengah hingga selatan, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan.

    Kemudian sebagian besar Sulawesi dan Maluku, sebagian Papua Barat, Papua bagian utara, dan Papua Selatan pada dasarian III September 2023.

    Lalu dasarian I Oktober 2023, wilayah hujan rendah meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan.

    Sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, sebagian Papua Barat, sebagian Papua, sebagian Papua Pegunungan dan Papua Selatan juga masuk dasarian l.

    Pada dasarian II Oktober 2023, wilayah hujan rendah meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian tengah hingga timur.

    Selain itu sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, sebagian Papua Barat, sebagian Papua, sebagian Papua Pegunungan dan Papua Selatan juga masuk dasarian ll.

    Berdasarkan analisa BMKG, El Nino-Southern Oscillation atau ENSO dasarian II September 2023 menunjukkan indeks ENSO (+1.65), sedangkan Indian Ocean Dipole atau IOD sebesar (+1.26).

     

    Kondisi El Nino moderat dan IOD positif diprediksi terus bertahan hingga akhir tahun 2023.

    Aliran massa udara di wilayah Indonesia didominasi oleh angin timuran. Pola angin selama dasarian II September relatif lebih banyak sistem tekanan rendah daripada normalnya.

    Aliran massa udara diprediksi masih didominasi oleh angin timuran dengan kecepatan yang semakin kuat.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Dampak El Nino, Warga Ciamis Antre Air

    Dampak El Nino, Warga Ciamis Antre Air

    7cloud.asia – Kekeringan sebagai dampak fenomena El Nino melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Tak terkecuali  warga Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat.

    Sudah dua bulan terakhir ini, warga Desa Cibadak terpaksa mengandalkan bantuan air untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

    Seperti yang dialami oleh Arum, 40 tahun. Warga RT 37, RW 08 ini terpaksa mengantri air dengan menggunakan tandon saat bantuan air datang.

    “Lumayanlah buat mandi dan buat nyuci-nyuci aja. Buat masak dan minum, saya beli air galon,” kata Arum kepada Ruangkota.com Rabu (27/09/2023).

    Selanjutnya Arum menjelaskan bantuan ini tidak datang setiap hari. Karena itu jika persediaan air habis, ia biasa meminta kepada kerabat yang tidak mengalami kekeringan.  

    Di wilayah ini tidak ada orang yang menjual air dengan jeriken. Semua warga yang kekeringan hanya mengandalkan bantuan dari relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan relawan Cibadak.

    Bantuan dari pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) jarang mereka terima.

    “Kalaupun datang cuma seminggu sekali. Kemarin hari Sabtu (23/09/2023), bantuan datang. Nggak tau deh datang lagi nggak ntar Sabtu besok,” ungkap ibu dua anak ini.

    Sementara itu, Taufik Hidayat, salah satu relawan MDMC menjelaskan bantuan ini sudah diberikan sejak 1,5 bulan yang lalu.

    Selain Desa Cibadak, pihaknya secara bergantian berkeliling ke Desa Pamarican, Banjarsari dan Banjaranyar.

    Biasanya ia menyalurkan air dengan menggunakan truk sebanyak 4 ribu liter untuk sekali pengiriman. Tetapi kali ini pihaknya menggunakan gerobak motor yang mengangkut 1000 liter.

    “Jatahnya satu desa 15 ribu liter. Jadi kami bolak balik sampai malam,” jelas Taufik.

    Karena itu, Taufik berharap pihak pemerintah dapat lebih sering rutin mengimkan bantuan air kepada warga yang mengalami kekeringan.

    Hal ini perlu dilakukan agar warga bisa mendapatkan bantuan air setiap hari.

    Menurut Taufik, bantuan air ini berasal dari wilayah Manganti yang sumbernya dari PDAM.

    Saat Ruangkota melihat kondisi airnya yang ditampung untuk warga, air tidak bening dan agak keruh, meski tidak berbau.

    Karena itu, banyak warga yang menggunakannya untuk mencuci dan mandi saja.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Antisipasi Dampak El Nino dan Banjir, Pemprov Jawa Timur Lakukan Berbagai Langkah

    Antisipasi Dampak El Nino dan Banjir, Pemprov Jawa Timur Lakukan Berbagai Langkah

    7cloud.asia – Fenomena El Nino masih melanda sejumlah daerah di Indonesia. Dampaknya berupa kekeringan hingga kebakaran lahan. Jawa Timur salah satunya. Perlu langkah mitigasi, preventif dan quick response dalam menghadapinya.

    Hal ini dikatakan oleh Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa yang meminta semua pihak, termasuk para bupati dan wali kota, untuk menyiapkan langkah tersebut.

    Dilansir dari Antaranews, mengantisipasi dampak El Nino, Khofifah mengajak berbagai pihak untuk melakukan kehati-hatian atas tindakan yang bisa mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Kecerobohan mengakibatkan kawasan hutan dan lahan di Gunung Arjuno Welirang dan Bromo beberapa waktu lalu habis terbakar.

    Tidak hanya El Nino, langkah-langkah ini juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi banjir serta bencana alam lainnya saat musim hujan.

    “Apel kesiapsiagaan ini kita gelar dalam rangka menghadapi El Nino, sekaligus potensi banjir. Kita harus terus meningkatkan kehati-hatian dan mitigasi harus dilakukan lebih komprehensif,” ujar Khofifah seperti dikutip Antaranews.

    Meski sekarang masih musim kemarau, tetapi lanjut Khofifah, upaya mitigasi perlu dilakukan. Sebab Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan turun pada minggu kedua atau ketiga November.

    Selanjutnya Khofifah menjelaskan salah satu langkah mitigasi dan preventif itu adalah mengecek kondisi dam atau bendungan. Perlu sinergi untuk mengantisipasi banjir akibat sampah yang menumpuk.

    “Maka yang harus dilakukan adalah gotong royong, kerja bakti, sinergi, dan antisipasi bersama,” katanya.

    Pada kesempatan itu, Khofifah juga meminta pihak berwenang untuk melakukan pengecekan pada rumah pompa yang berfungsi untuk mengatur air. 

    “Dalam rumah pompa jangan sampai ada listrik yang tidak mengalir, sehingga ketika dilakukan proses pengaturan air tidak berfungsi. Dan bisa berdampak pada terjadinya banjir,” paparnya.

    Selain itu pihaknya juga terus mendorong upaya normalisasi sungai agar bisa menampung debit air yang lebih besar dan optimal.

    Sebab hingga kini masih banyak masyarakat yang membuang sampah rumah tangga di sungai. Hal ini menyebabkan sungai menjadi penuh sampah dan berakibat banjir di saat hujan turun.

    “Kami pernah diberi informasi Kepala BNPB untuk segera melakukan normalisasi di tiga sungai di Jatim. Di situ banyak ditemukan potongan kayu yang panjangnya sampai enam meter, TV, juga sofa, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

    Karena itu, pemerintah kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur diminta untuk segera menyiapkan langkah mitigasi bersama, untuk normalisasi aliran sungai dalam upaya mengantisipasi ancaman banjir.

    “Saya minta tolong siapkan mitigasi bersama karena banyak sungai-sungai yang memang mungkin ada sampah yang menumpuk. Itu antisipasi kita terhadap ancaman banjir,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Atasi Kemarau Dampak El Nino: 60 Persen Embung Masih Aman

    Atasi Kemarau Dampak El Nino: 60 Persen Embung Masih Aman

     

     

    7cloud.asia – Menghadapi kemarau panjang dampak El Nino, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengidentifikasi 60 hingga 80 persen embung, danau dan sumber-sumber air masih aman.

    Hal ini disampaikan dalam Rapat Terbatas tentang Mitigasi Dampak Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang, dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo Selasa (03/10/29023) , di Istana Merdeka, Jakarta.

    Presiden Jokowi meminta jajarannya untuk melakukan pemetaan secara komprehensif persoalan yang terkait dengan dampak kemarau panjang akibat fenomena El Nino di tanah air.

    Baca: Sebagian wilayah Indonesia sudah masuk musim hujan

    Kamarau panjang yang dipicu El Nino mengakibatkan kekeringan, kekurangan air bersih, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan.

    Menteri PUPR Basuki Hadimuljono melaporkan bahwa dari kurang lebih 114 danau, kemudian 323 situ/ranu, maupun embung, itu kira-kira antara 60 sampai 80 persen masih efektif.

    “Jadi masih bisa teratasi untuk menyuplai air terutama untuk lahan pertanian selama musim kemarau panjang akibat El Nino” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam keterangan pers, usai mengikuti Ratas.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlansgung hingga Mei 2024

    Siti menambahkan, intinya arahan yang disampaikan Presiden ada tiga hal, yaitu pertama, pemetaan persoalan secara komprehensif; yang kedua, fokus untuk strategi tersedianya air;

    “Dan yang ketiga, daerah sentra produksi pangan agar dicek terus-menerus untuk kecukupan air,” ujar Menteri Siti. 

    Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi mengatakan bahwa saat ini persediaan pangan di tanah air masih dalam kondisi cukup stabil.

    Baca: BMKG ingatkan potensi kebakaran lahan di sejumlah wilayah

    Mennurutnya, ada beberapa penurunan produksi utamanya di sektor tanaman pangan yang sangat terdampak sekali dengan adanya El Nino dan musim kemarau yang lebih panjang dari perkiraan sebelumnya.

    “Cuma situasi peternakan, perkebunan kita, pertanian kita, baik itu tanaman pangan maupun hortikultura sementara ini cukup baik,” ujar Harvick.

    Untuk mengantisipasi dampak dari penurunan produksi beras, kata Harvick, pemerintah telah melakukan sejumlah upaya di antaranya dengan melakukan impor beras untuk cadangan beras pemerintah (CBP).

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan separuh danau di dunia mengering

    Jadi, ujarnya, untuk menekan harga di pasar kita coba siasati dengan membanjiri produk, mudah-mudahan ini cukup efektif menjaga agar harga beras tidak melonjak.

    “Kita lakukan bersinergi dengan kementerian/lembaga lain, utamanya Kemendag [Kementerian Perdagangan] juga dengan Bapanas [Badan Pangan Nasional],” tandas Harvick.

  • BRIN Perkirakan Bulan Oktober Puncak Suhu Panas Ekstrim  

    BRIN Perkirakan Bulan Oktober Puncak Suhu Panas Ekstrim  

     

    7cloud.asia – Musim kemarau masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Diperkirakan suhu panas ekstrim mencapai puncaknya pada Oktober ini.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada BRIN (Badan Riset dan Inovesi Nasional), Eddy Hermawan menjelaskan normalnya musim kemarau terjadi pada Juni sampai Agustus.

    Tetapi adanya pengaruh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) bergeser ke Oktober.

    “Sekarang El Nino positif dan IOD juga positif, keduanya mencapai puncak sekitar Oktober 2023,” kata Eddy seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Warga diminta waspada, kamarau panjang bisa picu kebakaran hutan

    Kedua fenomena osilasi suhu air permukaan laut–El Nino di Samudera Pasifik dan IOD di sebelah barat Samudera Hindia—berdampak cukup masif pada Indonesia dan negara lainnya di garis khatulistiwa.

    Karena itu, lanjut Eddy, beberapa daerah di Indonesia diprediksi mengalami suhu panas ekstrem, di antaranya Kota Surabaya dengan suhu tertinggi diprediksi mencapai 43 derajat Celcius.

    Suhu panas ekstrem juga diperkirakan terjadi di Kota Semarang mencapai 40 derajat Celcius, dan Jakarta dengan suku udara maksimum 37 derajat Celcius pada pertengahan Oktober 2023.

    Baca: Sebagian wilayah di Indonesia sudah masuki musim hujan

    Eddy menjelaskan semua uap air dan awan hujan ditarik ke arah utara dan barat karena pusat tekanan rendah berada di Samudera Pasifik dan sebelah barat Samudera Hindia tempat terjadinya El Nino dan IOD.

    Kondisi itu membuat Indonesia yang terletak di antara kedua fenomena tersebut mengalami musim kering yang cenderung panjang.

    “Saya berharap Oktober 2023 adalah akhir dari cerita kemarau terik. El Nino dan IOD diprediksi menuju fase netral pada akhir Februari atau awal Maret 2024,” harapnya.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan Cilacap adalah daerah yang saat ini mengalami kekeringan ekstrem karena lebih dari 60 hari tidak hujan.

    Sejumlah kecamatan di Cilacap yang mengalami kekeringan ekstrem diantaranya Kecamatan Majenang, Wanareja, Cimanggu, Cipari, dan Karangpucung.

    Sedangkan wilayah lainnya masuk kategori menengah hingga sangat panjang atau 11-60 hari tidak hujan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG: Musim Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

    BMKG: Musim Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

    7cloud.asia – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati memperkirakan transisi musim kemarau menuju musim hujan baru dimulai bulan November mendatang.

    Berdasarkan pantauan data satelit terkini, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau yang sebelumnya diprediksi terjadi September, nyatanya masih berlangsung hingga akhir Oktober.

    “BMKG melihat Oktober ini nampaknya belum turun, jadi puncak (musim kemarau, red) ini masih bertahan diprediksi sampai akhir Oktober dan bulan November mulai terjadi transisi dari musim kemarau ke musim hujan,” kata Dwikorita usai mengikuti ratas membahas El Nino di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/10/2023)

    Baca: Penjelasan BMKG soal cuaca terik beberapa hari ini

    Dwikorita menjelaskan, meski hujan diprediksi mulai turun pada November mendatang, fenomena cuaca El Nino masih berlangsung diprediksi sampai akhir tahun.

    Adanya angin monsun dari arah Asia yang mulai masuk Indonesia pada November menjadi penyebab hujan diperkirakan bisa turun pada waktu tersebut.

    Artinya, fenomena cuaca El Nino masih berlangsung, namun pengaruhnya mulai tersapu oleh hujan, sehingga diharapkan musim kemarau secara bertahap akan berkurang.

    Baca: BMKG ingatkan potensi kebakaran hutan di berbagai wilayah

    Fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun dan baru melemah bulan Februari-Maret mendatang.

    Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak memicu hal-hal yang dapat mengakibatkan kebakaran karena puncak kemarau kering masih berlangsung selama Oktober.

    “Jadi jangan mencoba-coba untuk dengan sengaja atau tidak sengaja mengakibatkan nyala api, karena pemadamannya akan sulit untuk dilakukan,” kata Dwikorita.

    Sumber: Antaranews

  • Dampak El Nino, 267 Ribu Hektar Lahan Hangus Terbakar

    Dampak El Nino, 267 Ribu Hektar Lahan Hangus Terbakar

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi. Hingga 2 Oktober kemarin, tercatat 267 ribu hektar lahan terbakar. Diperkirakan jumlah ini akan bertambah.

    Hal ini disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, usai mengikuti rapat terbatas (ratas) di istana presiden, Selasa (03/10/2023).

    “Areal yang terbakar sudah terekam 267 ribu hektare dan perkiraan saya dengan situasi bulan September kemarin dan Oktober, kelihatannya masih akan bertambah,” urai Siti.

    Selanjutnya Siti memaparkan berdasarkan data per 2 Oktober 2023, terdapat 6.659 titik panas (hot spot) dengan peluang 80 persen menjadi titik api atau fire spot.

    Karena itu, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Diantaranya pemadaman dan teknik modifikasi cuaca (TMC) di sejumlah provinsi yang menjadi titik rawan terjadinya karhutla tersebut.

    “Kita sekarang ini sejak tanggal 28 September sedang berjibaku di Sumatra Selatan, di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sambil juga memonitor yang di Riau, Jambi dan lain-lain,” jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan pihaknya ikut melaksanakan operasi darat maupun udara dalam mengatasi karhutla.

    Operasi pemadaman lewat udara pihaknya mengerahkan 35 helikopter terdiri 13 helikopter patroli dan 22 helikopter water bombing.

    “Jadi ada enam provinsi prioritas yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi. Itu menjadi enam provinsi prioritas kebakaran hutan dan lahan,” jelas Suharyanto.

    Upaya lainnya adalah melakukan TMC sebanyak 244 kali dengan jumlah garam yang disebar mencapai 341.580 kilogram.

    Selanjutnya Suharyanto menjelaska pihaknya melakukan TMC di beberapa provinsi diantaranya Riau, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jambi, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan.

    Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan puncak El Nino masih akan bertahan hingga akhir Oktober.

    Masa transisi dari kemarau ke musim hujan diperkirakan terjadi di bulan November.

    Menurutnya, El Nino diprediksi moderat hingga akhir tahun, melemah di Februari-Maret hingga berakhir di bulan Maret.

    “Namun, alhamdulillah karena adanya angin monsun dari arah Asia sudah masuk ini mulai November, jadi kita akan insyaallah mulai turun hujan di bulan November,” jelasnya.

    Artinya lanjut Dwikorita, pengaruh El Nino mulai tersapu hujan. Dengan demikian kemarau kering secara bertahap akan berakhir.

    “Ada yang sebelum November tapi sebagian besar mulai November, ada yang lebih mundur lagi,” kata Dwikorita. 

    Reporter: Nurakhmayani