Tag: gaza

  • Intensifkan Serangan Darat, Israel Minta WHO Kosongkan Gudang Medisnya di Gaza Selatan

    Intensifkan Serangan Darat, Israel Minta WHO Kosongkan Gudang Medisnya di Gaza Selatan

    ruangkotacom – Usai berakhirnya gencatan senjata Israel makin intensif memborbardir Gaza, Palestina.

    Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, pada Senin (4/12/2023) tentara Israel telah meminta pihaknya untuk mengosongkan gudang bantuan di Gaza selatan.

    Permintaan Israel itu disampaikan sebelum mereka melakukan operasi darat di daerah tersebut membuatnya tidak dapat digunakan.

    “Hari ini, WHO menerima pemberitahuan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bahwa kami harus memindahkan pasokan kami dari gudang medis kami di Gaza selatan dalam waktu 24 jam.

    Ini, karena operasi darat akan membuatnya tidak dapat digunakan lagi,” tulis Tedros di X, yang sebelumnya bernama Twitter.

    Baca: Gencatan senjata antara Israel dan Hamas berakhir

    “Kami mengimbau Israel untuk mencabut perintah tersebut, dan mengambil segala tindakan yang dapat melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit dan fasilitas kemanusiaan,” tulisnya.

    Pertempuran antara Israel dan Hamas kembali meletus, setelah anggota militan Hamas dari Gaza melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Israel selatan pada 7 Oktober.

    Serangan Hamas ini menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyandera sekitar 240 orang, menurut pejabat Israel.

    Sebagai tanggapan, Israel berjanji untuk menghancurkan Hamas dan telah melakukan pemboman udara, artileri dan serangan dari laut tanpa henti di samping serangan darat yang mereka lancarkan.

     

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Serangan Israel telah menewaskan sekitar 15.900 orang, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas.

    Tentara Israel pada Senin mengirim puluhan tank ke Gaza selatan sebagai bagian dari perluasan tindakan terhadap Hamas, di saat komunikasi diputus di wilayah yang terkepung.

    Jumlah rumah sakit yang beroperasi di Gaza telah berkurang dari 36 menjadi 18, dalam rentang waktu kurang dari 60 hari, menurut WHO.

    Saat ini hanya tiga rumah sakit di Gaza yang menyediakan pertolongan pertama dasar dan yang lainnya menawarkan layanan parsial.

    Baca: Uni Eropa tegaskan pengakuan Palestina 

    Sebanyak 12 rumah sakit masih tetap beroperasi di bagian selatan Jalur Gaza, menurut WHO.

    Dalam konferensi pers sebelumnya pada Senin, direktur regional WHO untuk Mediterania Timur, Ahmed al-Mandhari, mengatakan intensifikasi operasi darat militer di Gaza selatan berisiko membuat ribuan orang kehilangan layanan kesehatan.

    “Kami melihat, apa yang sudah terjadi di Gaza bagian utara. Ini tidak bisa dijadikan contoh bagi wilayah selatan,” kata dia.

    Sementara itu, tentara Israel pada Selasa (5/12/2023) membantah telah meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengosongkan gudang bantuan di Gaza selatan dalam waktu 24 jam.

    Baca: Dubes Palestina sebut gencatan senjata takkan selesaikan masalah di Gaza

    Hal ini dijelaskan badan kementerian pertahanan Israel, yang bertanggung jawab atas urusan sipil Palestina, COGAT, di platform media social X.

    ”Yang sebenarnya adalah, kami tidak meminta Anda untuk mengevakuasi gudang dan kami juga telah menjelaskannya (dan secara tertulis) kepada perwakilan PBB yang relevan,” katanya. 

    “Dari seorang pejabat PBB kami berharap, setidaknya, agar dapat lebih akurat [dalam memberikan informasi],” tambah pernyataan itu.

    Sumber: VOA INdonesia

  • Warga di Gaza Hidup dalam Kengerian yang Mendalam, PBB Serukan Gencatan Senjata antara Israel-Hamas

    Warga di Gaza Hidup dalam Kengerian yang Mendalam, PBB Serukan Gencatan Senjata antara Israel-Hamas

    7cloud.asia – Perang antara Israel dan Hamas makin intens di Gaza Selatan, pasca berakhirnya gencatan senjata antara keduanya.

    Kepala urusan HAM PBB Volker Turk mengatakan, rakyat Palestina di Jalur Gaza hidup dalam “kengerian yang semakin dalam”, ketika ia menyerukan gencatan senjata mendesak antara Israel dan Hamas untuk mengakhiri penderitaan warga Gaza.

    Dilansir VOA Indonesia, Turk mengatakan bahwa Gaza dalam kondisi kemanusiaan yang “apokaliptik” seperti ini, terdapat risiko tinggi terjadinya kejahatan keji.

    “Warga sipil di Gaza terus menerus dibombardir oleh Israel dan dihukum secara kolektif menderita kematian, pengepungan, kehancuran dan perampasan kebutuhan paling penting manusia seperti makanan, air, pasokan medis yang menyelamatkan nyawa dan kebutuhan penting lainnya dalam skala besar,” ujarnya pada konferensi pers pada Rabu (6/12/2023).

    Baca : Israel intensifkan serangan ke Gaza Selatan

    “Warga Palestina di Gaza hidup dalam ketakutan yang mendalam.”

    Ia mengatakan 1,9 juta dari 2,2 juta orang yang tinggal di daerah kantong Palestina telah mengungsi dan terpaksa tinggal di “tempat-tempat yang jumlahnya semakin berkurang dan sangat padat di Gaza Selatan, dalam kondisi yang tidak bersih dan tidak sehat”.

    “Situasi bencana yang kita lihat terjadi di Jalur Gaza sepenuhnya dapat diperkirakan dan dicegah. Rekan-rekan saya dalam urusan kemanusiaan menggambarkan situasi ini sebagai sebuah bencana.”

    “Dalam keadaan seperti ini, terdapat peningkatan risiko kejahatan keji,” kata komisaris tinggi PBB untuk urusan HAM itu.

    “Sebagai langkah segera, saya menyerukan penghentian segera permusuhan dan pembebasan semua sandera.”

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Turk mengatakan krisis HAM di Tepi Barat yang diduduki juga “sangat mengkhawatirkan”,

    Dan ia menyerukan pihak berwenang Israel untuk segera mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri “impunitas yang meluas” atas berbagai pelanggaran.

    Israel menyatakan perang terhadap Hamas setelah serangan kelompok militan tersebut pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, menurut pihak berwenang Israel.

    Dalam serangan ini, Hamas juga menyandera sekitar 240 orang disandera ke Gaza. Sebagian dari sandera ini telah dibebaskan saat gencatan senjata beberapa waktu lalu.  

    Jumlah korban terbaru dari kantor media pemerintah yang dikelola Hamas mengatakan 16.248 orang di Gaza, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak, tewas.

    Baca: WHO sebut setiap 10 menit 1 anak meninggal di Gaza

    Israel telah berjanji untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan 138 sandera yang masih ditahan setelah banyak orang dibebaskan dalam gencatan senjata yang berumur pendek.

    “Semua pihak menyadari apa yang sebenarnya diperlukan untuk mencapai perdamaian dan keamanan bagi masyarakat Palestina dan Israel; kekerasan dan balas dendam hanya akan menghasilkan lebih banyak kebencian dan radikalisasi,” simpul Turk.

    “Satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan akumulatif ini adalah mengakhiri pendudukan dan mencapai solusi dua negara.”

    Sumber: VOA Indonesia

  • Israel Bombardir Gaza Selatan, 80 Persen Warga Gaza Terusir dari Tempat Tinggalnya

    Israel Bombardir Gaza Selatan, 80 Persen Warga Gaza Terusir dari Tempat Tinggalnya

    7cloud.asia – Pasca berakhirnya gencatan senjata, tentara Israel terus membombardir daerah kantong Hamas di Khan Younis, Gaza Selatan. 

    Sebuah ledakan di Jalur Gaza menyebabkan kepulan asap besar membubung ke udara pada Kamis (7/12/2023) ketika Israel terus membombardir daerah kantong Hamas tersebut.

    Serangan udara dan darat Israel yang semakin luas di Gaza Selatan telah menyebabkan puluhan ribu warga Palestina mengungsi.

    Baca: Warga Gaza hidup dalam kengerian

    Kondisi ini makin memperburuk kondisi kemanusiaan yang mengerikan di wilayah Gaza, yang sejak awal Oktober menjadi lokasi pertempuran.

    Pertempuran Israel-Hamas tersebut menghambat distribusi makanan, air dan obat-obatan di luar wilayah selatan Gaza dan perintah evakuasi militer baru memaksa orang-orang mengungsi ke wilayah yang semakin kecil di selatan.

    Serangkaian roket tampak diluncurkan dari Jalur Gaza, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas, terlihat dari Israel selatan, Rabu (6/12/2023).

    Baca: Israel intesifkan serangan ke Gaza Selatan

    PBB mengatakan 1,87 juta orang – atau lebih dari 80% populasi Gaza – telah terusir dari rumah mereka sejak dimulainya perang Israel-Hamas, yang dipicu oleh serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober di Israel selatan.

    Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan jumlah korban tewas di wilayah tersebut telah melampaui 16.200 orang, dan lebih dari 42.000 orang terluka.

    Kementerian itu tidak membedakan antara kematian warga sipil dan mereka yang bertempur, namun mengatakan 70% dari korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Sekitar 1.200 orang tewas di pihak Israel, sebagian besar warga sipil, dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu.

    Sumber: VOA Indonesia

  • WHO Sebut Gaza Terputus dari Bantuan Makanan

    WHO Sebut Gaza Terputus dari Bantuan Makanan

    7cloud.asia – Tuntutan internasional untuk menghentikan pertempuran di wilayah Gaza, Palestina yang terkepung semakin menggema.

    Pengeboman Israel terhadap Hamas di Gaza memakan banyak korban jiwa dan semakin langkanya barang-barang kebutuhan pokok untuk bertahan hidup, 

    Sudah dua bulan berlalu sejak serangan terhadap Israel oleh kelompok militan Palestina Hamas 7 Oktober, menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel dan warga negara asing, sebagian besar warga sipil, di antaranya ratusan anak muda yang dibantai saat menghadiri festival musik.

    Sudah dua bulan sejak lebih dari 240 sandera diculik dan dibawa ke Gaza, di mana mereka dilaporkan menderita dalam kondisi yang sangat buruk.

    “Namun sudah hampir dua bulan sejak dimulainya kampanye Israel, tidak hanya untuk membela diri melawan Hamas dan kelompok bersenjata, tetapi juga (serangan) terhadap seluruh penduduk Gaza,” kata Christian Lindmeier, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia, dalam pernyataan yang sangat blak-blakan.

    Berbicara pada hari Jumat (8/12) di Jenewa, Lindmeier menuduh Israel melakukan “kampanye terhadap warga sipil yang tidak bersalah – perempuan, anak-anak dan laki-laki yang telah menjadi sasaran sejak dua bulan terakhir.”

    Baca Juga: Israel Bombardir Gaza Selatan, 80 Persen Warga Gaza Terusir dari Tempat Tinggalnya

    “Hal ini memutus jalur Gaza dari air, makanan, dan apa pun yang diperlukan (warga Gaza) untuk hidup,” katanya, seraya mencatat bahwa kondisi jutaan orang yang terpaksa mengungsi ke wilayah yang semakin kecil dan penuh sesak di wilayah selatan,

    Di tempat yang dulunya merupakan wilayah yang sangat padat penduduknya. yang disebut zona aman, menjadi “semakin hari semakin mengerikan”.

    Israel menyatakan bahwa mereka melakukan yang terbaik untuk memfokuskan serangannya hanya pada sasaran sah Hamas, namun kelompok tersebut sengaja menempatkan aset militer dan administratifnya di tengah penduduk sipil, yang secara efektif menggunakan orang-orang tersebut sebagai tameng manusia.

    Lindmeier mengatakan staf WHO di Gaza menggambarkan skenario mengerikan di mana anak-anak mengemis dan menangis meminta air.

    “Kita berada pada tingkat di mana sebagian besar pasokan normal dan dasar tidak tersedia lagi (di Gaza),” katanya.

    Baca Juga: Warga di Gaza Hidup dalam Kengerian yang Mendalam, PBB Serukan Gencatan Senjata antara Israel-Hamas

    Juru bicara WHO mencatat bahwa masyarakat di Gaza menerima kurang dari dua liter air per hari, bukan tujuh liter per orang per hari yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

    “Dan itu adalah air untuk segala (keperluan), bukan hanya untuk minum,” katanya.

    “Kami juga mempunyai skenario yang menggambarkan orang-orang mulai menebang tiang telepon untuk mendapatkan sedikit kayu bakar agar tetap hangat, dan mungkin memasak jika mereka punya sesuatu,” katanya.

    “Jadi, kita berada pada tingkat di mana peradaban (kehidupan di Gaza) akan segera ambruk.”

    Sejak gencatan senjata sementara berakhir dan Israel melanjutkan kampanye pengeboman pada 1 Desember, badan-badan kemanusiaan PBB melaporkan lebih dari 2.000 warga Palestina telah terbunuh.

    Dengan demikian jumlah total kematian setidaknya mencapai 17.000 orang.

    Baca Juga: Boikot Produk Pro Israel Jadi Berkah Bagi Produk Steak Lokal

    Mereka melaporkan 70 persen korbannya adalah perempuan dan anak-anak, dan setidaknya 7.200 di antaranya adalah anak-anak.

    Mengomentari situasi di Gaza pada hari Kamis, Koordinator Bantuan PBB Martin Griffiths berkata, “Cukup sudah. Pertempuran harus dihentikan.”

    “Sistem kemanusiaan berada di ambang kehancuran. Kita harus menghindari kehancuran seperti itu dengan cara apa pun,” katanya.

    UNRWA, badan bantuan dan kerja PBB untuk pengungsi Palestina, memperingatkan bahwa konflik tersebut merupakan ancaman yang sangat nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional serta kehidupan hampir seluruh penduduk di Gaza.

    Dalam surat yang dikirim pada hari Kamis kepada presiden Majelis Umum PBB, Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan kemampuan badannya untuk terus melaksanakan mandatnya di Gaza “kini menjadi sangat terbatas.”

    “Kemampuan UNRWA untuk membantu dan melindungi masyarakat berkurang dengan cepat,” katanya.

    Baca Juga: UE: Pengakuan terhadap Negara Palestina Kunci Keamanan Israel

    “Pengeboman yang terus-menerus, aliran makanan dan pasokan kemanusiaan lainnya yang rendah dan tidak teratur ke Jalur Gaza dibandingkan dengan besarnya kebutuhan para pengungsi di tempat penampungan kami yang penuh sesak dan di luar.

    Juru bicara WHO Lindmeier mengatakan bahwa konvoi WHO yang membawa makanan, air dan pasokan medis telah dihentikan memasuki Gaza lebih dari satu kali dan operasi pada hari Jumat untuk membawa pasokan medis ke utara dan mengevakuasi 12 pasien ke selatan untuk perawatan medis telah ditangguhkan.

    “Situasi di Gaza tidak bisa diandalkan,” katanya. “Sistem kesehatan sedang lemah,” dan wilayah selatan bisa mengalami nasib yang sama seperti wilayah utara.

    “Gaza tidak boleh kehilangan satu rumah sakit pun atau tempat tidur rumah sakit apa pun. … Pasien mengeluarkan darah di lantai. Ruang perawatan trauma (justru) menyerupai medan pertempuran,” kata Lindmeier.

    “Ini harus diakhiri. Sikap tidak berperasaan ini harus diakhiri,” katanya. “Kami membutuhkan gencatan senjata, dan kami membutuhkannya sekarang!,” tandasnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • AS Veto Seruan Sekjen PBB Terkait Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    AS Veto Seruan Sekjen PBB Terkait Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    7cloud.asia – Amerika Serikat (AS), memveto resolusi Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menerapkan gencatan senjata dalam menyelesaikan konflik antara Israel dan kelompok militan Hamas.

    Dalam sidang DK PBB, pada Jumat (8/12/2023), 13 negara anggota dewan lainnya mendukung usulan resolusi gencatan senjata antara Israel dan Hamas itu, sedangkan Inggris abstain.

    Namun, usulan gencatan senjata antara Israel dan Hamas itu terjegal veto AS, yang merupakan sekutu dekat Israel. AS beralasan bukan waktu yang tepat untuk menerapkan gencatan senjata.

    “Mungkin yang paling tidak realistis, resolusi ini masih menyerukan gencatan senjata tanpa syarat,” kata Wakil Duta Besar AS Robert Wood.

    Wood menjelaskan dalam pernyataannya, mengapa (gencatan senjata) ini tidak saja tidak realistis, tetapi juga berbahaya.

    “Gencatan senjata hanya memberi kesempatan Hamas untuk berkonsolidasi dan mengulang apa yang mereka lakukan pada 7 Oktober.”

    Baca: Gaza terputus dari bantuan makanan dan obat-obatan

    Dia mengatakan Washington sangat mendukung perdamaian yang bertahan agar warga Israel dan Palestina bisa hidup dalam perdamaian dan keamanan. Bukan gencatan senjata “yang hanya menanam benih-benih untuk perang selanjutnya.”

    Pemerintahan Biden sudah mengatakan akan mendukung perpanjangan jeda, seperti jeda kemanusiaan yang berlangsung selama tujuh hari pada November.

    Jeda tersebut membuka jalan pembebasan lebih dari 100 sandera yang ditahan oleh Hamas dan 300 tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel.

    AS dan Israel menyalahkan penolakan Hamas untuk membebaskan para sandera perempuan muda sebagai sumber kegagalan jeda itu.

    Hamas mengutuk veto AS atas draf resolusi itu dengan menggambarkannya sebagai tidak etis dan tidak berperikemanusiaan.

    Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara menggelar pertemuan pada Jumat (8/12/2023) pagi setelah Sekretaris Jenderal PBB menyurati mereka pada Rabu (6/12/2023) bahwa dia akan menerapkan Pasal 99 Piagam PBB.

    Pasal tersebut memberi Guterres kekuasaan untuk mendesak Dewan Keamanan mengambil tindakan atas masalah apa saja yang menurutnya bisa mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

    Baca: Gaza dibombardir, 80 persen warganya mengungsi

    Ini adalah pertama kalinya Guterres menerapkan pasal itu selama tujuh tahun menjabat yang dipenuhi oleh berbagai krisis.

    Pasal 99 terakhir kali diterapkan pada 1971 saat pertikaian yang berujung pada pendirian Bangladesh dan pemisahan negara itu dari Pakistan.

    Tuai Protes. Duta Besar Inggris Barbara Woodward menyebut penderitaan warga Palestina “mengerikan dan menyedihkan”.

    Dia juga mengatakan lebih banyak jeda dan durasi jeda yang lebih panjang sangat penting untuk mengirimkan bantuan dan pembebasan sandera.

    “Namun, kita tidak memilih resolusi yang tidak mengutuk kekejaman yang dilakukan Hamas terhadap warga sipil Israel yang tidak berdosa pada 7 Oktober,” kata Woodward.

    “Menyerukan gencatan senjata sama saja dengan mengabaikan fakta bahwa Hamas sudah melakukan aksi teror dan menyandera warga sipil.”

    Baca: Warga Gaza hidup dalam kengerian

    Wakil Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) Mohamed Abushahab mengatakan bahwa sangat disesalkan di tengah penderitaan yang tak terperikan, Dewan Keamanan tidak bisa menuntut gencatan senjata kemanusiaan.

    “Mari saya perjelas: Dengan adanya peringatan keras dari Sekjen PBB, seruan dari para pelaku kemanusiaan, dan opini publik dunia – dewan ini menjadi terisolasi,” ujar Abushahab.

    Duta Besar Palestina mengatakan kegagalan DK PBB untuk menuntut gencatan senjata akan memicu konsekuensi yang berbahaya.

    “Ratusan orang akan terbunuh pada saat ini besok. Kemudian ratusan lagi, dan kemudian ribuan,” kata Mansour. “Anak-anak akan terbunuh. Menjadi yatim-piatu. Cedera. Cacat seumur hidup.”

    Duta Besar Israel mengucapkan terima kasih kepada AS atas dukungannya dan mengatakan gencatan senjata memungkinkan dengan kembalinya seluruh sandera dan kehancuran Hamas.

    Israel dan Hamas Terlibat Pertempuran Sengit di Kota-kota Besar di Gaza
    Sejumlah organisasi bantuan kemanusiaan dan hak-hak asasi manusia (HAM) mengkritik Washington.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    “Pemerintah AS berdiri sendiri untuk memveto gencatan senjata membawa kredibilitas AS untuk masalah HAM ke ambang kehancuran,” kata Abby Maxman, Presiden dan Kepala Eksekutif (CEO) Oxfam America.

    “Sekali lagi, AS menggunakan hak vetonya untuk mencegah Dewan Keamanan agar tidak melakukan imbauan-imbauan yang telah AS tuntut sendiri dari Israel dan kelompok-kelompok bersenjata Palestina, termasuk kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional, perlindungan warga sipil dan pembebasan semua warga sipil yang disandera,” kata Louis Charbonneau, Direktur PBB pada Human Rights Watch.

    “Dengan terus menyediakan persenjataan dan perlindungan diplomatik untuk Israel sementara negara itu melakukan kekejaman, termasuk menerapkan hukuman kolektif terhadap populasi warga sipil Palestina di Gaza, AS berisiko terlibat dalam kejahatan perang,” kata Charbonneau memperingatkan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Menlu RI: Israel Bunuh Ribuan Warga Sipil di Gaza Bukan untuk Membela Diri

    Menlu RI: Israel Bunuh Ribuan Warga Sipil di Gaza Bukan untuk Membela Diri

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menegaskan bahwa tindakan militer Israel yang membunuh ribuan warga sipil di Gaza, bukanlah bentuk untuk membela diri atau self defence.

    Tidak hanya membunuh warga sipil yang banyak di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, bahkan bayi.

    Tentara Israel juga disebut Retno telah merusak rumah sakit, tempat ibadah, kamp pengungsi, serta memberangus hak-hak dasar Palestina.

    “Tindakan ini tidak dapat dibenarkan dan jelas melanggar hukum humaniter internasional,” kata Retno dalam diskusi mengenai masa depan HAM serta perdamaian dan keamanan, di Kantor PBB di Jenewa, Swiss, pada Selasa (12/12/2023).

    Baca: AS veto seruan sekjen PBB soal gencatan senjata

    Untuk itu, dalam pertemuan tersebut dia mengajak mengajak negara-negara anggota PBB untuk memperbarui komitmen bersama terkait pemajuan HAM.

    Retno menegaskan bahwa siapa pun yang berkomitmen menjadi pembela HAM tidak boleh diam dan tidak boleh berhenti untuk terus memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan bagi Palestina.

    “Saya juga sampaikan bahwa Indonesia sangat menyesali kegagalan Dewan Keamanan PBB untuk mengesahkan resolusi humanitarian ceasefire. Hal ini mencerminkan gagalnya sistem multilateral yang sudah ketinggalan zaman,” ujar Retno.

    Dia mengajak negara-negara untuk menolak penerapan standar ganda dalam penegakan HAM— yang adalah masalah terbesar dalam penerapan HAM.

    Baca: Israel bombardir Gaza Selatan
    Dalam hal ini, dia merujuk pada negara-negara Barat pendukung Israel yang dinilai sangat vokal menyuarakan penegakan HAM, tetapi seperti sengaja menutup mata dan telinga terhadap pelanggaran HAM yang jelas-jelas dilakukan Israel di Gaza.

    “Pihak-pihak yang sering mendikte kita mengenai HAM, justru menjadi pihak yang kini membiarkan Israel melanggar HAM,” kata Retno.

    Maka dari itu, dia menegaskan agar berbagai pelanggaran HAM tersebut dapat segera dihentikan.

    “Proses perdamaian yang sesungguhnya agar segera dimulai khususnya menuju solusi dua negara, dan akar masalah isu Palestina harus diatasi secara menyeluruh,” katanya.

    Diskusi panel “The Human Rights 75 Initiative Roundtable on Future of Human Rights & Peace & Security” diselenggarakan untuk memperingati 75 Tahun Deklarasi Universal HAM PBB.

    Selain Menlu RI, turut menjadi panelis dalam diskusi yang dipimpin oleh Wakil Presiden Kolombia tersebut yaitu Presiden Polandia, Presiden Senegal, dan Menlu Palestina.

    Sumber: Antaranews

  • Pertempuran Israel-Hamas Terus Berlanjut, WHO Serukan Bantuan untuk Gaza

    Pertempuran Israel-Hamas Terus Berlanjut, WHO Serukan Bantuan untuk Gaza

     

    7cloud.asia – Menjelang dan setelah sidang Majelis Umum PBB pada Selasa yang menghasilkan seruan gencatan senjata, pertempuran antara Israel dan Hamas berlanjut di Gaza.

    Serangan udara Israel diarahkan ke bagian tengah dan selatan Gaza, yang disebut sebagai masih dalam penguasaan Hamas.

    Militer Israel mengatakan serangan udaranya ditujukan ke tempat-tempat peluncuran roket di Jalur Gaza, dan bahwa pasukan di darat telah menemukan 250 roket, mortir dan granat berpendorong roket dalam serangan itu.

    Di Tepi Barat yang diduduki Israel, kementerian kesehatan Palestina mengatakan pasukan Israel menewaskan empat orang Palestina di kota Jenin.

    Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan kematian itu disebabkan oleh serangan drone Israel.

    Baca: Total ada 89 jurnalis yang terbunuh

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa menyerukan “perlindungan terhadap bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan di Gaza.”

    WHO menyebut berbagai kesulitan yang dihadapi timnya sewaktu berusaha mengirimkan pasokan medis ke sebuah rumah sakit di Kota Gaza dan untuk mengevakuasi pasien yang luka parah.

    WHO mengatakan ada penundaan di pos-pos pemeriksaan militer dan bahwa para petugas dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina ditahan.

    “Rakyat Gaza punya hak untuk mengakses layanan kesehatan,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. “Sistem kesehatan harus dilindungi. Bahkan dalam perang.”

    Badan kemanusiaan PBB itu mengatakan bahwa meskipun pengiriman bantuan terbatas terus berlanjut di wilayah Rafah di Gaza Selatan, di dekat perbatasan dengan Mesir, pertempuran telah membuat banyak wilayah di Gaza terputus dari penerimaan bantuan.

    Baca: Gaza terputus dari bantuan makanan dan medis

    Philippe Lazzarini, kepala badan PBB urusan pengungsi Palestina, mengunjungi Gaza hari Selasa dan menggambarkan situasi di sana sebagai “tragedi mendalam yang tiada akhir” dalam postingan di media sosial

    “Orang-orang ada di mana-mana, tinggal di jalan-jalan, perlu semuanya,” kata Lazzarini.

    “Mereka memohon keselamatan dan diakhirinya negara di dunia ini. Rekan-rekan kami diminta untuk melakukan hal yang mustahil di dalam situasi yang mustahil.”

    Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant Senin mengatakan bahwa Israel tidak punya niat untuk bertahan secara permanen di Gaza.

    “Israel akan mengambil tindakan apa pun untuk menghancurkan Hamas, tetapi kami tidak punya niat untuk bertahan secara permanen di Jalur Gaza. Kami hanya peduli pada keamanan kami dan keamanan rakyat kami di sepanjang perbatasan dengan Gaza,” kata Gallant kepada wartawan.

    Baca: 80 persen warga Gaza terusir dari rumah mereka

    Ia tidak memberi kerangka waktu bagi berakhirnya perang dan mengatakan aktivitas militer Israel dapat berlanjut selama berbulan-bulan.

    Kementerian kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan hampir 18 ribu orang, kebanyakan perempuan dan anak-anak, telah tewas dalam serangan udara dan darat Israel selama tujuh pekan terakhir.

    Israel memulai kampanye militernya untuk melenyapkan Hamas setelah para anggota kelompok itu memasuki Israel Selatan pada 7 Oktober. Israel mengatakan 1.200 orang tewas dan sekitar 240 orang disandera dalam serangan teror itu.

    Pertempuran itu menyebabkan sekitar 1,9 juta orang meninggalkan rumah mereka di Gaza.

    Banyak di antara mereka yang mencari perlindungan di bagian selatan di fasilitas-fasilitas yang penuh sesak, di tengah-tengah peringatan mengenai kondisi sanitasi yang buruk dan ancaman meningkatnya perebakan penyakit menular.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Israel Kuasai Rumah Sakit Indonesia dan Jadikan Sebagai Markasnya

    Israel Kuasai Rumah Sakit Indonesia dan Jadikan Sebagai Markasnya

    7cloud.asia – Pasukan Israel telah menguasai dan menjadikan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Utara sebagai markas dan tempat berlindung mereka dari serangan kelompok Hamas.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Presidium organisasi relawan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia Sarbini Abdul Murad dalam konferensi persnya yang disiarkan di kanal youtube MER-C pada Rabu (20/12).

    Menurut Sarbini, penguasaan rumah sakit tersebut telah berlangsung sejak dua pekan lalu hingga hari ini.

    Pasukan Israel sebelumnya menyerang RSI serta mengusir staf medis, pasien dan warga yang menumpang hingga rumah sakit itu benar-benar kosong.

    Baca: Petugas medis WHO digeledah dan ditelanjangi pasukan Israel

    Setelah itu pasukan Israel menjadikan RSI sebagai perisai dan mengecam tindakan Israel ini. 

    “Jadi mereka menggunakan RSI sebagai perisai, dan harapan mereka adalah Hamas akan kabur atau tidak mungkin menyerang dengan senjata perang ke tempat perlindungan Israel di RSI,” katanya.

    “MER-C mengecam cara-cara kotor Israel yang menjadikan RSI sebagai markas, sebagai benteng, dan dilakukan untuk menyerang para pejuang Palestina yang ada di utara,” lanjutnya.

    Karena itu, ia meminta agar Israel mematuhi hukum humaniter internasional dengan tidak menyerang fasilitas medis dan menjadikan rumah sakit ini sebagai tempat yang netral tanpa pertempuran.

    Baca: Pasukan Israel kepung Rumah Sakit Indonesia 

    Pihaknya juga akan meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan investigasi mengenai hal ini.

    Sebelumnya, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Daniel Hagari sempat mengklaim ditemukannya terowongan dan markas Hamas di lahan RSI tersebut pada 6 November lalu.

    Namun tuduhan yang tak memiliki bukti ini dibantah oleh MER-C.

    “Apa yang terjadi sekarang, sekitar dua Minggu yang lalu, Israel menempatkan pasukannya dan [menjadikan] markas [RS Indonesia], yang dulu pernah mereka tuduh sebagai markas Hamas dan tidak ada orang Hamas di situ,” jelas Sarbini.

    RSI merupakan rumah sakit yang mulai dibangun sejak tahun 2011 di atas tanah seluas 16.000 meter persegi yang disumbangkan oleh pemerintah Gaza.

    Baca: WHO Serukan bantuan untuk Gaza

    Pembangunan ini menghabiskan dana sebesar Rp 126 miliar yang berasal dari donasi dari masyarakat dan organisasi Indonesia seperti Palang Merah Indonesia dan Muhammadiyah.

    Dana tersebut dikumpulkan melalui organisasi kemanusiaan Indonesia, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).

    Lima tahun kemudian pembangunan RSI ini rampung dan  Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla meresmikannya pada tanggal 9 Januari 2016.

    Baca: Hampir 100 wartawan Palestina tewas di jalur Gaza

    Rumah sakit ini memiliki 100 tempat tidur bangsal, 4 ruang operasi, dan unit perawatan intensif dengan 10 tempat tidur.

    Stafnya terdiri dari sekitar 400 orang Palestina, yang digaji oleh kementerian kesehatan Gaza, dan beberapa sukarelawan dari Indonesia.

    Selain itu, ada tiga warga negara Indonesia relawan MER-C yang bertugas yaitu Fikri Rofiul Haq, Reza Aldilla Kurniawan dan Farid Zanzabil Al-Ayubi.

    Menurut informasi dari Kementerian Luar Negeri, akibat serangan pasukan Israel, rumah sakit itu terpaksa berhenti beroperasi pada 16 November lalu.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Dampak Serangan Israel, 71 Persen Penduduk Gaza Alami Kelaparan Ekstrem

    Dampak Serangan Israel, 71 Persen Penduduk Gaza Alami Kelaparan Ekstrem

    7cloud.asia – Sekitar 71 persen penduduk Gaza mengalami kelaparan ekstrem lantaran terus menderita akibat serangan tiada henti Israel, kata sebuah penelitian yang dirilis kelompok hak asasi manusia Euro-Med Monitor.

    Berdasarkan temuan yang melibatkan sampel 1.200 orang di Gaza itu, 98 persen responden mengaku mengonsumsi makanan yang tidak layak.

    Menurut temuan ini, 64 persen responden mengaku mengonsumsi rumput, buah, makanan mentah dan bahan-bahan kadaluarsa untuk menghilangkan rasa lapar.

    Baca: Israel kuasai Rumah Sakit Indonesia

    Penelitian itu juga menyebutkan  jatah air di Gaza, termasuk air minum, mandi dan air bersih, berkurang menjadi 1,5 liter per orang setiap hari.

    “Jumlah ini berkurang 15 liter dari jumlah kebutuhan air untuk bertahan hidup berdasarkan standar internasional,” sebut hasil penelitian itu.

    Terungkap juga 66 persen responden mengaku pernah mengalami diare, ruam kulit atau penyakit saluran cerna dalam sebulan terakhir.

    Baca: Sebanyak 3714 pelajar Palestina tewas

    Gempuran udara dan darat Israel sejak Hamas melancarkan serangan pada 7 Oktober telah menewaskan sedikitnya 19.667 warga Palestina dan melukai 52.586 orang.

    Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, kata otoritas kesehatan di kantong Palestina itu.

    Perang menyebabkan kehancuran di Gaza di mana separuh persediaan rumah di wilayah pesisir rusak atau hancur dan hampir dua juta penduduk mengungsi di tengah kondisi krisis makanan dan air bersih.

    Sementara itu, hampir 1.200 orang Israel diyakini tewas dan lebih dari 130 orang masih disandera.
     
    Sumber: Anadolu

  • Dewan Keamanan PBB Setujui Resolusi Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza, AS dan Rusia Abstain

    Dewan Keamanan PBB Setujui Resolusi Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza, AS dan Rusia Abstain

    7cloud.asia – Setelah negosiasi yang intens selama berhari-hari, Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) meloloskan resolusi tentang bantuan untuk Gaza.

    Dilansir VOA Indonesia, pembicaraan intens di Dewan Keamanan PBB mengenai jeda kemanusiaan dan pengiriman bantuan ke Jalur Gaza akhirnya membuahkan hasil pada Jumat (22/12/2023).

    Dewan Keamanan PBB, yang beranggotakan 15 negara, menyetujui resolusi bantuan untuk Gaza itu pada Jumat (22/12/2023) setelah Amerika Serikat (AS) dan Rusia abstain dalam pemungutan suara.

    “Hari ini, dewan menyerukan langkah-langkah-langkah mendesak untuk segera memungkinkan akses bantuan kemanusiaan yang aman, tanpa hambatan dan memperluas akses kemanusiaan serta menciptakan kondisi untuk penghentian permusuhan yang berkelanjutan,” kata Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield, menggarisbawahi untuk pertama kalinya dewan menggunakan bahasa seperti itu.

    Thomas-Greenfield menegaskan para sandera harus segera dibebaskan, dan baik Israel maupun Hamas harus menghormati hukum kemanusiaan internasional.

    Dia menambahkan bahwa AS “sangat kecewa” karena resolusi itu tidak mengutuk serangan teror Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang di Israel.

    Baca: AS veto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata

    Rusia, yang menginginkan kritik lebih keras terhadap Israel dalam resolusi itu, juga abstain dalam pemungutan suara.

    Rusia menyebut draf akhir resolusi yang mencantumkan amandemen yang diusulkan oleh Washington sebagai “sangat dikebiri” dan “tak bergigi.”

    “Teks rancangan tersebut tidak lagi merujuk pada kecaman atas semua serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzy, yang berbicara melalui penerjemah.

    “Sinyal apa yang dikirimkan oleh hal ini kepada komunitas internasional? Bahwa Dewan Keamanan memberikan lampu hijau kepada Israel untuk melakukan kejahatan perang?”

    Duta Besar Rusia mengecam anggota dewan karena tindakan mereka yang “mencap keputusan yang nyaman bagi Washington.”

    Thomas-Greenfield menepis “kata-kata kasar” Nebenzya. “Rusia juga menciptakan kondisi yang mereka keluhkan saat ini dalam perang yang tidak beralasan di Ukraina,” katanya membalas ucapan Nebenzy.

    Baca: Gaza terputus dari bantuan makanan dan obat-obatan

    Menghindari veto AS

    Para diplomat, sejak Senin (18/12/2023) telah mengerjakan resolusi yang dirancang oleh Uni Emirat Arab, berupaya menghindari penggunaan bahasa yang menyebabkan AS berulang kali memveto pemungutan suara Dewan Keamanan PBB sejak Israel melancarkan operasi militer ke Gaza.

    Operasi militer yang telah berlangsung selama 10 minggu itu menewaskan lebih dari 20.000 orang di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan di wilayah itu.

    Dua poin yang mengganjal bagi Israel dan AS adalah seruan untuk menghentikan kekerasan dan perselisihan mengenai siapa yang akan mengawasi pengiriman barang-barang ke Gaza untuk menyaring senjata dan peralatan lain yang akan membantu Hamas.

    Saat ini, Israel mengawasi dengan sangat ketat konvoi pengiriman barang-barang ke Gaza.

    Alih-alih menuntut gencatan senjata, rancangan akhir resolusi menyerukan pihak-pihak yang bertikai untuk menciptakan “kondisi-kondisi bagi penghentian kekerasan yang berkelanjutan.”

    Baik Amerika Serikat maupun Israel saat ini tidak mendukung gencatan senjata di Gaza

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres akan menunjuk seorang senior koordinator untuk membentuk mekanisme PBB untuk mempercepat penyediaan bantuan kemanusiaan.

    Pada rancangan resolusi awal, Guterres punya hak eksklusif untuk mengontrol seluruh pemeriksaan truk bantuan.

    Baca : 80 persen warga Gaza terusir dari tempat tinggalnya

    Menyusul pemungutan suara, Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan mengucapkan terima kasih kepada AS karena berpihak kepada Israel dan “mempertahankan garis tegas” bagi kewenangan Israel untuk memeriksa bantuan yang memasuki Gaza.

    Bahasa yang lunak. Seorang sumber diplomatik yang meminta tidak diungkap identitasnya mengatakan kepada VOA bahwa tindakan AS memperlunak bahasa yang digunakan dalam rancangan resolusi.

    Penggunaan bahasa yang lunak terutama menghindari seruan gencatan senjata ini telah memantik kemarahan negara-negara anggota PBB lainnya.

    Thomas-Greenfield menolak tuduhan bahwa teks final telah diperlunak. “Sebuah resolusi yang sangat kuat yang didukung penuh oleh kelompok Arab,” katanya kepada para wartawan pada Kamis (21/12/2023) malam.

    Dalam konferensi pers usai pemungutan suara, Guterres mengulangi seruan untuk pemberlakuan gencatan senjata sebagai satu-satunya cara untuk memenuhi “kebutuhan mendesak masyarakat di Gaza dan mengakhiri mimpi buruk mereka yang terus berlanjut.”

    Pemimpin PBB itu melontarkan kata-kata keras kepada Israel yang menegaskan bahwa operasi militernya “menciptakan hambatan masif” bagi warga Gaza yang sangat membutuhkan bantuan.

    “Operasi bantuan di Gaza membutuhkan keamanan; anggota staf yang bisa bekerja dengan aman; kapasitas logistik, dan dimulainya kembali aktivitas komersial,” kata Guterres.

    “Ini adalah empat elemen yang tidak ada.”

    Ketika ditanya apakah Hamas berperan memblokir bantuan, Guterres mengatakan “tentunya bukan faktor yang utama.”

    Guterres menambahkan “penggunaan warga sipil sebagai tameng manusia oleh Hamas dan penembakan roket yang terus berlangsung ke target-target warga sipil “tidak pernah menjadi pembenaran hukuman kolektif bagi rakyat Palestina.”

    “Jangan membebaskan Israel dari kewajiban hukumnya.”