Tag: hamas

  • AS Akui Kekuatan Kelompok Hamas di Gaza

    AS Akui Kekuatan Kelompok Hamas di Gaza

    7cloud.asia – Gedung Putih menilai kelompok pejuang Hamas Palestina masih memiliki kekuatan signifikan di Jalur Gaza, bahkan setelah perang selama tiga bulan melawan Israel.

    Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden memiliki perkiraan jumlah pejuang Hamas yang masih berada di medan perang, tetapi mengatakan dia muak untuk membeberkan itu.

    “Hamas masih memiliki postur kekuatan yang signifikan di Gaza,” kata Kirby Rabu (3/1/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Lebih lanjut Kirby menjelaskan dirinya tidak yakin serangan militer Israel saja akan mampu memberantas ideologi Hamas di Gaza.

    “Dan tidak mungkin Anda akan menyingkirkan setiap pejuang Hamas,” tutur dia.

    Baca: Israel akan tarik pasukannya dari Gaza

    Militer Israel sendiri sudah menyiratkan akan menarik 15.000 pasukannya dari Gaza secara bertahan bulan depan.

    Perang Hamas-Israel yang berlangsung sejak awal Oktober 2023 telah mengakibatkan kehancuran massal dan pengungsian di daerah kantong pengungsian yang terkepung itu.

    “Jadi dalam hal ini Anda masih harus menerima kenyataan bahwa mungkin masih ada beberapa anggota Hamas bahkan ketika operasi militer Anda selesai,” ujar Kirby.

    Artinya, apa yang mereka bisa lakukan adalah memberantas ancaman yang ditimbulkan Hamas terhadap rakyat Israel.

    “Dan Anda bisa melakukannya dengan mengejar kepemimpinan, Anda bisa melakukannya dengan mengejar infrastruktur mereka, Anda bisa melakukannya dengan mengejar sumber daya mereka,” imbuhnya. 

    Baca: Dewan Keamanan PBB Sahkan resolusi bantuan keamanan di Gaza

    Israel memulai perangnya di Gaza sebagai pembalasan atas serangan lintas perbatasan Hamas yang mengejutkan pada 7 Oktober 2023.

    Serangan Israel yang meluas di wilayah berpenduduk padat itu telah menyebabkan sebagian besar penduduk Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta jiwa mengungsi di tengah kekurangan kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan, air dan obat-obatan.

    Sekitar 70 persen rumah di Gaza telah hancur akibat serangan Israel.

    Dalam hampir tiga bulan yang telah berlalu, lebih dari 22.100 warga Palestina telah terbunuh, sekitar dua pertiganya adalah perempuan dan anak-anak.

    Lebih dari 57.000 orang lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan Gaza. Sementara dari pihak Israel, sekitar 1.200 diyakini tewas akibat serangan Hamas.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Diharapkan Tercapai Akhir Pekan ini

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Diharapkan Tercapai Akhir Pekan ini

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengaku optimistis gencatan senjata antara Israel dan Hamas dapat segera disepakati pada akhir pekan ini atau sebelum bulan Ramadan.

    Meski begitu, pernyataan Biden soal gencatan senjata ini dianggap terlalu dini karena Israel dan Hamas masih mempelajari kesepakatan itu.

    Harapan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hamas itu akan terjadi sebelum hari Senin (4/3/2024) pekan depan disampaikan Biden pada hari Senin (26/2/2024) lalu.

    Dilansir VOA Indonesia, pernyataan Biden ini, setelah dirinya mengaku telah memperoleh informasi terkait dari penasihat keamanan Gedung Putih.

    Baca: PM Palestina mengundurkan diri

    Upaya negosiasi untuk menghentikan sementara peperangan antara Israel dan Hamas utamanya bertujuan membebaskan sandera yang ditahan di Gaza oleh Hamas.

    Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan ratusan warga Palestina yang menjadi tahanan mereka.

    Kesepakatan gencatan senjata di Gaza ini diharapkan berlanjut hingga Ramadan
    Gencatan senjata selama 40 hari diajukan dalam negosiasi ini, termasuk di dalamnya memperbolehkan ratusan truk bantuan masuk ke Gaza setiap harinya.

    Para pihak yang terlibat negosiasi dihadapkan pada tenggat waktu tidak tertulis, yaitu saat dimulainya bulan Ramadan pada sekitar tanggal 10 Maret mendatang.

    Baca: AS dan sejumlah negara Arab rumuskan kemerdekaan Palestina

    Sejarah menunjukkan, ketegangan antara Israel dan Palestina kerap meningkat pada bulan suci tersebut.

    Meski begitu, Qatar selaku mediator dalam negosiasi gencatan senjata ini mengaku tidak bisa berkomentar mengenai pernyataan yang disampaikan Biden.

    Pasalnya, menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari, belum ada terobosan yang bisa diumumkan terkait kesepakatan gencatan senjata dan para tahanan.

    Al-Ansari juga menjelaskan dalam konferensi pers yang digelar hari Selasa (27/2) lalu bahwa Qatar “terus mendorong” Israel dan Hamas agar menerima proposal perjanjian yang dibuat di Paris pada pekan lalu.

    Baca: Harapan membentuk Palestina yang merdeka

    Al ansari menyebut, pihaknya melihat arah yang positif dari terjadinya pertemuan itu, tetapi belum ada kesepakatan final.

    “Semoga kami bisa mengumumkannya di awal bulan Ramadan – sebuah jeda kemanusiaan yang dapat meredakan ketegangan, dan memungkinkan kita untuk membawa masuk bantuan ke Gaza. Ketegangan akan mulai menurun dari sana,” ujar Al-Ansari.

    Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas sebelumnya pernah terjadi pada bulan November 2023 lalu selama satu pekan.

    Sebanyak lebih dari 100 tahanan Israel dibebaskan oleh Hamas, dan Israel membebaskan tahanan Palestina sebanyak tiga kali lipat dari jumlah tersebut.

    Baca: Keputusan Mahkamah Internasional diharapkan hentikan impunitas untuk Israel

    Selama beberapa minggu terakhir, baik Israel maupun Hamas secara terbuka mempertahankan posisi yang berbeda terkait kemungkinan kesepakatan gencatan senjata, sembari menyalahkan satu sama lain atas penundaan yang terjadi.

    Israel mengatakan bahwa mereka tidak akan mengakhiri perang sampai Hamas dihancurkan.

    Sementara Hamas mengatakan bahwa mereka tidak akan membebaskan sandera tanpa adanya komitmen untuk mengakhiri perang secara permanen.

    Sejumlah pejabat tinggi Hamas bahkan menyebut pernyataan Biden terkait gencatan senjata ini masih terlalu dini untuk disampaikan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Mediator Hamas dan Israel Pesimistis Akan Dicapai Kesepakatan Gencatan Senjata

    Mediator Hamas dan Israel Pesimistis Akan Dicapai Kesepakatan Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Mediator Israel, Hamas dan Qatar, pada Selasa (27/2/2024), semuanya mengecilkan sinyalemen yang disampaikan oleh Presiden AS Joe Biden soal gencatan senjata di Gaza.

    Sebelumnya Biden mengatakan bahwa kesepakatan baru untuk gencatan senjata dan pembebasan sandera dalam perang lima bulan Israel dengan militan Hamas dapat segera dicapai akhir pekan ini.

    Hamas kini mempertimbangkan proposal, yang disetujui oleh Israel pada pembicaraan dengan mediator di Paris pekan lalu, untuk gencatan senjata yang akan menunda pertempuran selama 40 hari selama Ramadan.

    Ramadan sebagai bulan suci dan ibadah puasa umat Islam, yang akan menjadi perpanjangan gencatan senjata pertama dalam perang tersebut.

    Baca: Biden berharap kesepakatan gencatan senjata dicapai akhir pekan ini

    Delegasi kedua pihak berada di Qatar minggu ini untuk berusaha membahas rincian usulan gencatan senjata itu.

    Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan, Kami belum memiliki kesepakatan akhir mengenai masalah apa pun yang menghambat pencapaian kesepakatan.

    “Kami tetap berharap bahwa kami bisa mencapai semacam kesepakatan.” ujarnya.

    Dilansir VOA Indonesia, seorang pejabat Hamas mengatakan bahwa masih ada kesenjangan besar yang harus dijembatani.

    “Masalah utama dan terutama tentang gencatan senjata dan penarikan pasukan Israel tidak disebutkan dengan jelas, sehingga menunda pencapaian kesepakatan.”

    Baca: PM Palestina mengundurkan diri

    Israel tidak mengomentari secara langsung optimisme Biden perihal kesepakatan gencatan senjata.

    Namun juru bicara pemerintah Israel, Tal Heinrich, mengatakan kesepakatan apa pun masih mengharuskan Hamas untuk membatalkan “tuntutan aneh, yang tidak masuk akal, yang sulit dipahami.”

    “Kami bersedia. Namun pertanyaannya apakah Hamas bersedia,” katanya.

    Situs berita Israel Ynet mengutip pejabat senior Israel yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa mereka tidak memahami “dasar optimisme [Biden].”

    Biden mengatakan, pada Senin (26/2/2024), bahwa dia berharap akan ada gencatan senjata pada tanggal 4 Maret.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan Palestina yang merdeka

    Dia kemudian mengatakan kepada komedian Seth Meyers dalam acara larut malamnya di televisi NBC,

    “Ramadan akan segera tiba [pada 10 Maret], dan sudah ada kesepakatan dari Israel bahwa mereka tidak akan terlibat dalam serangan selama Ramadan juga, untuk memberi kami waktu untuk membebaskan semua [100 atau lebih] sandera.”

    Menurut salah satu sumber yang dekat dengan perundingan itu, usulan Paris tersebut akan membuat Hamas membebaskan sebagian namun tidak semua sandera yang mereka tahan.

    Ini sebagai imbalan atas pembebasan ratusan warga Palestina yang dipenjara oleh Israel, dan peningkatan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang kelaparan di Gaza.

    Juga penarikan mundur pasukan Israel dari sejumlah area padat penduduk di daerah kantong di sepanjang garis pantai Laut Mediterania itu.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Gencatan Senjata di Gaza Kini Tergantung pada SIkap Kelompok Hamas, Israel Tetap Didesak Buka Kran Bantuan Kemanusiaan

    Gencatan Senjata di Gaza Kini Tergantung pada SIkap Kelompok Hamas, Israel Tetap Didesak Buka Kran Bantuan Kemanusiaan

    7cloud.asia – Presiden AS Joe Biden mengatakan harapan gencatan senjata di Gaza kini ada di tangan Hamas.

    Namun pada saat yang sama, dia mengatakan Israel “tidak punya alasan” selain mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah yang dilanda perang untuk membantu warga Palestina yang kelaparan.

    Dalam perjalanan kembali ke Washington dari Camp David, Biden mengatakan, “Israel telah bekerja sama. Ada tawaran yang masuk akal. Kami tidak tahu apa… kita akan mengetahuinya dalam beberapa hari apakah gencatan senjata akan terwujud. Kita membutuhkan gencatan senjata.”

    Dia memperingatkan kondisi bahaya akan meningkat jika Israel dan Hamas gagal mencapai gencatan senjata di Gaza pada awal bulan suci Ramadan minggu depan.

    “Jika kita menghadapi keadaan di mana hal ini terus berlanjut selama Ramadan, Israel dan Yerusalem… bisa menjadi sangat, sangat berbahaya,” kata Biden.

    Pernyataan Biden disampaikan sehari setelah Wakil Presiden AS Kamala Harris menerima anggota Kabinet Israel pada masa perang.

    Baca: Tanpa gencatan senjata, genosida di Gaza akan berlanjut

    Mereka datang ke Washington meskipun ditentang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena pemerintahan Biden mengintensifkan upaya mendorong lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza yang dilanda perang.

    Wakil Presiden AS Kamala Harris pada juga Senin mendesak Hamas untuk menerima persyaratan perjanjian yang diusulkan.

    Salah satunya, pembebasan sekitar 100 sandera yang tersisa akan menghasilkan gencatan senjata selama enam minggu dan memungkinkan gelombang bantuan kemanusiaan di seluruh wilayah Gaza.

    Pejabat-pejabat Gedung Putih mengatakan Benny Gantz, saingan politik Netanyahu yang berhaluan tengah, meminta pertemuan itu.

    Gedung Putih percaya bahwa penting bagi Harris dari pemerintahan Partai Demokrat, untuk duduk bersama pejabat terkemuka Israel meskipun Netanyahu keberatan.

    Biden, Harris, dan pejabat senior lainnya di pemerintahan semakin blak-blakan menyatakan ketidakpuasan atas meningkatnya jumlah korban tewas di Gaza dan penderitaan warga Palestina yang tidak bersalah sementara perang sudah berlangsung hampir lima bulan.

    Baca: Diharapkan tercapai gencatan senjata di Gaza sebelum masuk Ramadan

    Pertemuan terjadi setelah AS pda Sabtu lalu mengirim bantuan kemanusiaan pertama ke Gaza. Diperkirakan bantuan kemanusiaan akan terus dikirim melalui udara.

    Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Antony Blinken juga mendesak Israel untuk memaksimalkan “segala cara yang memungkinkan” untuk memberikan lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Blinken mengatakan bahwa situasi yang dihadapi puluhan ribu warga Palestina yang mengungsi saat ini tidak dapat diterima dan tidak berkelanjutan.

    “Israel harus memaksimalkan segala cara, setiap metode yang memungkinkan untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkannya,” kata Blinken sebelum bertemu dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani di Departemen Luar Negeri.

    Blinken mengulangi seruan pemerintahan Biden agar Israel membuka penyeberangan perbatasan baru guna memungkinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, namun hal ini ditentang oleh Israel.

    “Perlu lebih banyak penyeberangan. Perlu lebih banyak bantuan untuk masuk. Dan begitu bantuan itu masuk, maka kita perlu memastikan bahwa bantuan tersebut dapat sampai ke orang-orang yang membutuhkan.”

    Baca: Frustasi dengan situasi di Gaza, PM Palestina mengundurkan diri

    Jadi, kita akan terus menekannya setiap hari, karena situasinya semakin buruk, sikap Israel tidak bisa diterima,” kata Blinken.

    Kelaparan kini membayangi Jalur Gaza yang terkepung di sepanjang garis pantai Laut Mediterania karena pasokan bantuan, yang sudah sangat dibatasi sejak dimulainya perang pada Oktober lalu, semakin berkurang dalam sebulan terakhir.

    Perundingan gencatan senjata terus berlanjut di Kairo, tetapi belum ada terobosan yang jelas.

    “Kita berpeluang untuk segera melakukan gencatan senjata yang bisa membawa pulang para sandera, yang secara dramatis dapat meningkatkan jumlah bantuan kemanusiaan yang masuk ke warga Palestina yang sangat membutuhkannya. … Hamaslah yang harus mengambil keputusan apakah mereka siap atau tidak. untuk terlibat dalam gencatan senjata itu,” kata Blinken.

    Berdiri di samping Blinken, Sheikh Mohammed berkata, “Qatar, Amerika Serikat, dan mitra kita akan selalu gigih untuk memastikan kesepakatan ini terwujud.”

    Israel tidak ikut serta dalam perundingan di Kairo dan menyalahkan Hamas karena tidak memberikan daftar nama sandera yang masih ditahan militan di Gaza.

    Baca: AS dan negara-negara Arab rumuskan negara Palestina yang merdeka

     

    Biden menghadapi tekanan politik yang meningkat di dalam negeri atas cara pemerintahannya menangani perang Israel-Hamas. Perang itu dipicu serangan Hamas di Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang. Hamas juga menyandera sekitar 250 orang.

    Pada pemilihan pendahuluan presiden di Michigan minggu lalu, lebih dari 100.000 pemilih dari Partai Demokrat memberikan suara “tidak berkomitmen”.

    Biden menang mudah tetapi suara “tidak berkomitmen” mencerminkan desakan pemilih yang secara terkoordinasi menyatakan ketidaksenangan atas dukungan presiden yang tak tergoyahkan bagi Israel sementara operasi militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 30.000 orang Palestina.

    Jumlah suara yang diraih Biden mengkhawatirkan Partai Demokrat. Pasalnya, Biden menang di negara bagian itu hanya dengan selisih 154.000 suara pada 2020.

    Gantz, yang menurut jajak pendapat bisa menjadi kandidat kuat perdana menteri jika pemungutan suara diadakan hari ini, dipandang sebagai seorang politikus moderat.

    Tetapi pandangannya belum jelas mengenai negara Palestina. Bagi Biden, pembentukan negara Palestina penting demi terwujudnya perdamaian yang abadi setelah konflik berakhir. Namun, Netanyahu dengan tegas menentang.

    Sementara itu, Hamas tampaknya tidak tergesa-gesa mencapai gencatan senjata sementara menjelang bulan suci Ramadan, yang dimulai minggu depan.

    Gencatan ini akan menunda serangan yang telah direncanakan Israel terhadap Rafah, kota di Gaza selatan di mana separuh penduduk Gaza kini mencari perlindungan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Meski Berhak Kejar Hamas, Israel Diingatkan Punya Tanggung Jawab Lindungi Warga Gaza

    Meski Berhak Kejar Hamas, Israel Diingatkan Punya Tanggung Jawab Lindungi Warga Gaza

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan “Israel memiliki hak untuk mengejar Hamas” setelah kelompok militan tersebut menyerang bagian selatan Israel.

    Tetapi, Biden menegaskan “Israel juga memiliki tanggung jawab fundamental untuk melindungi warga sipil tidak berdosa di Gaza,” 

    Demikian Biden menyampaikan pidato kenegaraan tahunan di hadapan Kongres AS pada Kamis (7/3/2024) malam waktu setempat.

    Serangan Hamas ini menewaskan 1.200 warga Israel. Dalam serangan yang terjadi pada 7 Oktober itu, Hamas juga menculik sekitar 250 warga Israel yang sebagian telah dibebaskan.

    Dengan menyebut tanggal 7 Oktober sebagai hari yang paling banyak menewaskan warga Yahudi sejak Holocaust, Biden menyampaikan komitmennya pada semua keluarga AS yang anggota keluarganya masih ditahan Hamas.

    “Kami tidak akan beristirahat sampai kami dapat membawa pulang orang-orang yang mereka cintai.” tandasnya.

    Baca: Gencatan senjata di Gaza tergantung pada sikap Hamas

    Biden mengatakan perang Israel-Hamas telah menimbulkan dampak luar biasa terhadap warga sipil tidak berdosa, yang jumlahnya jauh melampaui gabungan korban perang di Gaza sebelumnya.

    “Kami telah bekerja tanpa henti untuk mencapai gencatan senjata yang akan bertahan setidaknya enam minggu. Gencatan senjata ini akan membawa pulang para sandera ke rumah, meringankan krisis kemanusiaan yang tidak dapat ditoleransi, dan membangun sesuatu yang dapat lebih bertahan,” ujarnya.

    Lebih jauh Biden mengatakan “malam ini saya perintahkan militer AS untuk memimpin misi darurat guna membangun sebuah dermaga temporer di pesisir Gaza.

    Dermaga ini diharapkan dapat dimasuki kapal-kapal besar yang membawa makanan, air bersih, obat-obatan dan tempat-tempat penampungan sementara.”

    “Tidak ada satu pun tentara AS di darat,” tegas Biden merujuk pada pembangunan dermaga tersebut.

    Baca: Gencatan senjata mutlak untuk hentikan genosida di Gaza

    Biden menyerukan kepada Israel untuk mengizinkan masuknya lebih banyak bantuan ke Gaza dan memastikan agar petugas-petugas kemanusiaan tidak terjebak dalam baku tembak.

    Biden secara khusus menyampaikan pesan kepada “para pemimpin Israel” bahwa bantuan bukan sebagai alat negosiasi.

    “Bantuan kemanusiaan tidak dapat menjadi pertimbangan sekunder atau tawar-menawar. Melindungi dan menyelamatkan nyawa orang yang tidak bersalah harus menjadi prioritas,” ujar Biden.

    Ia kembali menggarisbawahi pernyataan sebelumnya bahwa “jika kita melihat ke depan, satu-satunya solusi nyata adalah solusi dua negara.”

    “Saya mengatakan hal ini sebagai pendukung Israel seumur hidup dan satu-satunya presiden Amerika yang mengunjungi Israel di masa perang.”

    Baca: Uni Eropa desakkan pengakuan dua negara untuk hentikan perang Israel-Palestina  

    Biden juga memaparkan bahwa “tidak ada jalan lain yang menjamin keamanan dan demokrasi Israel; tidak ada jalan lain yang menjamin warga Palestina dapat hidup dengan damai dan bermartabat;

    dan tidak ada jalan lain yang menjamin perdamaian antara Israel dan semua negara tetangganya di Arab, termasuk Arab Saudi,” selain solusi dua negara.

    Selain memerintahkan militer Amerika untuk membangun dermaga temporer di Gaza, Biden juga memerintahkan serangan terhadap kelompok militan Houthi, demi mempertahankan pasukan Amerika di wilayah itu.

    “Saya membangun koalisi dengan lebih dari selusin negara untuk mempertahankan pelayaran internasional dan kebebasan navigasi di Laut Merah,” tambahnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • AS Abstain, Dewan Keamanan PBB Sukses Lahirkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

    AS Abstain, Dewan Keamanan PBB Sukses Lahirkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Dewan Keamanan PBB, Senin (25/3/2024) menyepakati resolusi yang menuntut gencatan senjata segera antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas.

    Dewan Keamanan PBB ini juga menuntut pembebasan seluruh sandera Hamas dengan segera dan tanpa syarat, pasca gencatan senjata ini.

    Resolusi Dewan Keamanan PBB ini disahkan setelah Amerika Serikat memutuskan abstain dari pemungutan suara terhadap resolusi DK tersebut.

    Sementara itu, 14 negara anggota DK PBB lainnya memberi suara mendukung resolusi yang diusulkan 10 negara anggota tidak tetap Dwan Keamanan PBB.

    Baca: Sekjen PBB akui tak punya kuasa hentikan serangan Israel ke Gaza

    Pada berbagai kesempatan sebelumnya, Washington menolak istilah “gencatan senjata” dalam perang di Jalur Gaza yang sudah berlangsung selama hampir enam bulan.

    AS juga menggunakan hak vetonya untuk melindungi Israel, sekutu dekatnya dalam upayanya membalas serangan Hamas pada 7 Oktober yang disebut Israel telah menewaskan 1.200 orang.

    Akan tetapi, di tengah meningkatnya tekanan global untuk gencatan senjata dalam perang yang telah menewaskan 32.000 warga Palestina itu, AS akhirnya abstain dari pemungutan suara pada hari Senin (25/3/2024).

    Sikap AS ini memungkinkan Dewan Keamanan PBB menuntut gencatan senjata segera selama bulan suci Ramadan, yang akan berakhir dua minggu lagi.

    Baca: Kelaparan di Gaza sudah sangat parah

    DK PBB juga menuntut pembebasan seluruh sandera dengan segera dan tanpa syarat. Israel mengatakan Hamas menculik 253 orang pada serangan 7 Oktober lalu.

    Resolusi DK PBB juga “menekankan kebutuhan mendesak untuk membuka distribusi bantuan kemanusiaan dan memperkuat perlindungan warga sipil di seluruh Jalur Gaza.

    Resolusi itu juga menegaskan kembali tuntutannya untuk mencabut semua hambatan atas penyediaan bantuan kemanusiaan dalam skala besar.”

    Sesaat sebelum pertemuan Dewan Keamanan PBB dimulai, radio militer Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan membatalkan pengiriman delegasi Israel ke Washington apabila AS tidak memveto resolusi tersebut.

    Baca: Israel jadikan kelaparan sebagai senjata perang barunya di Gaza

    AS sudah tiga kali memveto draf resolusi Dewan Keamanan PBB terkait perang israel dan Hamas di Gaza.

    AS juga telah dua kali menyatakan abstain, sehingga memungkinkan Dewan Keamanan PBB mengadopsi sejumlah resolusi yang bertujuan untuk meningkatkan bantuan ke Gaza dan menyerukan jeda pertempuran yang diperpanjang.

    Rusia dan China juga telah memveto dua draf resolusi AS terkait konflik Isral-Hamas pada Oktober dan Jumat (22/3/2024) lalu.

    Sumber: skynews. 

  • Pakar: Ketegangan Iran dan Israel Untungkan Kelompok Hamas

    Pakar: Ketegangan Iran dan Israel Untungkan Kelompok Hamas

    7cloud.asia – Serangan balasan Israel ke isfahan, salah satu kota di Iran pada Jumat (19/4/2024) pagi waktu setempat sudah diprediksi bakal terjadi

    Serangan roket Isreale ke wilayah Iran tersebut tampaknya terbatas, dan tidak ada korban jiwa atau kerusakan berarti yang dilaporkan Teheran.

    Meskipun ada tekanan AS terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serangan balasan dari Israel diperkirakan akan terjadi, kata Ahmed Fouad Alkhatib, seorang analis Timur Tengah dari Gaza dan peneliti senior non-residen di Dewan Atlantik.

    Pemerintahan Biden memahami bahwa Israel perlu melakukan pembalasan “menyelamatkan muka” versi mereka sendiri setelah serangan dramatis dan belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan Iran pada Sabtu (13/4/2024) lalu, katanya kepada VOA.

    Baca Juga: Menlu AS Tegaskan Washington Tidak Terlibat Serangan Israel ke Iran

    Pihak yang paling diuntungkan dari potensi eskalasi antara Israel dan Iran ini adalah Hamas, kata Alkhatib.

    “Kelompok ini merasa semakin berani dengan serangan langsung Iran terhadap Israel, memperkuat posisi negosiasi mereka dalam perundingan gencatan senjata dan pertukaran sandera terbaru yang difasilitasi oleh Qatar,” katanya.

    Biden sejauh ini tidak berhasil mendorong kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

    Pada akhir pekan lalu, Hamas – yang dimasukkan kelompok teror oleh AS – mengajukan tuntutan baru yang membuat perundingan menjadi kacau.

    Baca Juga: AS Ingatkan Israel Hindari Eskalasi Kekerasan diTimur Tengah

    Tidak jelas bagaimana serangan balik Israel terhadap Iran dapat berdampak pada dinamika negosiasi dengan Hamas.

    “Ini adalah momen ketidakstabilan tetapi juga peluang,” kata Laura Blumenfeld, peneliti senior di Philip Merrill Center for Strategic Studies di Johns Hopkins School for Advanced International Studies.

    “Para pemimpin dunia sepakat bahwa kunci untuk meredakan ketegangan adalah dengan membebaskan para sandera,” katanya dikutip VOA Indonesia.

    Pesan yang disampaikan kepada para perunding pembebasan sandera Hamas, adalah “berhenti sementara Anda berada di belakang,” pungkasnya.

    Baca Juga: Gencatan Senjata Israel-Hamas Diperpanjang 2 Hari, UE Serukan Pengakuan Dua Negara

    Meningkatnya ketegangan Iran dan Israel memicu kehawatiran dunia internasional akan mempengaruhi ekonomi dunia.

    Harga minyak diperkirakan akan naik. Pun demikian dengan perdagangan antarnegara akan terganggu 

  • Perundingan Damai Antara Israel – Hamas Berlangsung Alot, Masing-masing Kekeuh pada Tuntutannya

    Perundingan Damai Antara Israel – Hamas Berlangsung Alot, Masing-masing Kekeuh pada Tuntutannya

    7cloud.asia – Kelompok Hamas pada Sabtu (27/4/2024) mengatakan, mereka telah menerima tanggapan resmi Israel terhadap proposal gencatan senjata terbarunya.

    Wakil Ketua Hamas Khalil Al-Hayya mengatakan pihaknya akan mempelajari tanggapan Israel sebelum mengajukan jawabannya.

    “Hamas hari ini telah menerima tanggapan resmi dari pendudukan Zionis terhadap proposal yang disampaikan kepada mediator Mesir dan Qatar pada 13 April,” Khalil Al-Hayya, yang saat ini berbasis di Qatar dalam sebuah pernyataan.

    Setelah lebih dari enam bulan berperang dengan Israel di Gaza, perundingan masih menemui jalan buntu. Hamas tetap berpegang pada tuntutannya bahwa perjanjian apa pun harus mengakhiri perang.

    Delegasi Mesir mengunjungi Israel untuk berdiskusi dengan para pejabat Israel pada Jumat (26/4/202), mencari cara untuk memulai kembali perundingan guna mengakhiri konflik dan mengembalikan sisa sandera yang disandera Hamas.

    Baca Juga: Demonstrasi Besar-besaran Tuntut Diakhirinya Perang Israel-Hamas Berlangsung di Banyak Kampus di AS

    Seorang pejabat yang mengetahui pertemuan tersebut. berbicara tanpa mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa Israel tidak memiliki usulan baru untuk diajukan.

    Namun, pihaknya bersedia untuk mempertimbangkan sebuah kesepakatan gencatan senjata yang bersifat terbatas, yang melibatkan pembebasan 33 sandera oleh Hamas.

    Hal ini menjadi perbandingan dengan usulan sebelumnya yang membahas pembebasan 40 sandera.

    Pada Kamis, Amerika Serikat (AS) dan 17 negara lainnya meminta Hamas untuk membebaskan semua sandera sebagai jalan untuk mengakhiri krisis ini.

    Hamas juga menegaskan bahwa meskipun tidak akan tunduk pada tekanan internasional.

     

    Baca Juga: Rusia: Veto AS Tunjukkan Sikap Washington terhadap Palestina

    Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Jumat, Kelompok Hamas menyatakan terbuka untuk menerima ide atau proposal apapun yang memperhitungkan kebutuhan dan hak-hak rakyat mereka.

    Namun, kelompok Hamas tetap berpegang pada tuntutan utamanya yang telah ditolak oleh Israel.

    Mereka juga mengecam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh AS dan negara lain karena tidak menyerukan gencatan senjata permanen dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.

    Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat sedang berusaha mencapai kesepakatan pertukaran sandera dan gencatan senjata di Gaza seperti saat jeda pertama pertempuran hanya berlangsung seminggu pada akhir November tahun lalu.

    Dengan adanya jeda itu, bantuan masuk secara terbatas ke Jalur Gaza serta ada pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina, yang kebanyakan wanita dan anak-anak dari penjara Israel.

     

    Baca Juga: Pakar: Ketegangan Iran dan Israel Untungkan Kelompok Hamas

    Hamas diperkirakan menyandera lebih dari 130 warga Israel, sementara Tel Aviv menahan lebih dari 9.100 warga Palestina di penjaranya.

    Hamas menuntut penghentian serangan mematikan Israel di Jalur Gaza dan penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut bagi kesepakatan pertukaran sandera-tahanan dengan Tel Aviv.

    Mengutip dari dua pejabat Israel, Axios melaporkan bahwa Israel menyampaikan kepada mediator Mesir pada Jumat bahwa mereka bersedia memberikan “kesempatan terakhir” dalam perundingan sandera untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas sebelum memulai invasi ke Rafah.

    Rafah merupakan tempat perlindungan terakhir bagi sekitar satu juta orang di Gaza. Warga Palestina telah melarikan diri lebih jauh ke utara di Gaza saat awal perang, menghindari pasukan Israel.

    Sementara itu, di Rafah, pejabat kesehatan Palestina mengatakan serangan udara Israel terhadap sebuah rumah menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai lainnya.

    Sumber:VOAIndonesia/Anadolu

  • Pejabat Israel Dibayangi Surat Perintah Penangkapan Mahkamah Kriminal Internasional karena Kejahatan Perang

    Pejabat Israel Dibayangi Surat Perintah Penangkapan Mahkamah Kriminal Internasional karena Kejahatan Perang

    7cloud.asia – Sejumlah pejabat Israel tampak semakin khawatir bahwa Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC), akan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin negara itu.

    Kekhawatiran ini seiring meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel terkait perang di Gaza.

    Israel berencana melancarkan invasi Rafah di Gaza, meskipun sekutu dekatnya Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara lain telah berulang kali memperingatkan agar Israel tidak melakukan itu.

    AS mengatakan ofensif akan menimbulkan bencana bagi lebih dari satu juta warga Palestina yang berlindung di kota itu.

    Dalam beberapa hari ini para pejabat Israel juga merujuk pada penyelidikan ICC tiga tahun lalu terhadap kemungkinan telah dilakukannya kejahatan perang oleh Israel dan militan Palestina dalam perang Israel-Hamas pada 2014.

    Penyelidikan itu juga mengkaji pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan yang diinginkan Palestina sebagai ibu kota negara kelak.

    Baca Juga: Perundingan Damai Antara Israel – Hamas Berlangsung Alot, Masing-masing Kekeuh pada Tuntutannya

    Belum ada pernyataan apapun dari ICC pada Senin, dan belum ada indikasi bahwa surat perintah penangkapan itu akan segera dikeluarkan.

    Namun Kementerian Luar Negeri Israel pada Minggu (28/4/2024) malam telah memberitahu misi Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang “isu” bahwa surat perintah penangkapan mungkin akan dikeluarkan untuk pejabat-pejabat senior politik dan militer.

    Menteri Luar Negeri Israel Katz mengatakan langkah semacam itu “akan menjadi dorongan moral” bagi Hamas dan kelompok-kelompok militan lainnya.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (26/4/2024) pekan lalu mengatakan “Israel tidak akan pernah menerima upaya apapun oleh ICC untuk merongrong hak inheren untuk membela diri.”

    Lewat platform media sosial X, Netanyahu mencuit:

    “ancaman untuk menangkap sejumlah pemimpin dan militer satu-satunya negara demokrasi dan satu-satunya negara Yahudi di Timur Tengah ini merupakan hal yang sangat keterlaluan. Kami tidak akan tunduk pada hal itu.”

    Baca Juga: Jalur Gaza Dibombardir Israel, PBB Sebut Butuh 14 Tahun Bersihkan Reruntuhan Bangunan

    Belum jelas apa yang memicu kekhawatiran para pejabat Israel ini. Rangkaian pengumuman yang disampaikan Israel dalam beberapa hari terakhir yang mengizinkan masuknya lebih banyak bantuan ke Gaza, tampaknya dimaksudkan untuk mencegah tindakan ICC itu.

    ICJ Lakukan Penyelidikan Terpisah

    Sementara itu, satu badan terpisah, International Court of Justice (ICJ), sedang menyelidiki apakah Israel telah melakukan genosida dalam perang di Gaza yang masih berlangsung.

    Namun keputusan ICJ diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.

    Israel telah menolak tuduhan melakukan kesalahan dan menuduh kedua pengadilan internasional itu bias.

    Sebaliknya Israel menuding Hamas telah melakukan genosida dalam serangan 7 Oktober ke bagian selatan Gaza, yang kemudian memicu perang.

    Sekitar 1.200 warga Israel tewas dalam serangan Hamas itu, sementara 250 lainnya disandera.

    Baca Juga: Demonstrasi Besar-besaran Tuntut Diakhirinya Perang Israel-Hamas Berlangsung di Banyak Kampus di AS

    Israel menanggapi serangan itu dengan melancarkan serangan darat, laut dan udara secara besar-besaran, yang menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza telah menewaskan sedikitnya 34.488 orang.

    Sebagian besar korban meninggal adalah perempuan dan anak-anak. Perang juga akibatkan 80 persen bangunan di Gaza rusak parah.

    Israel menyalahkan Hamas atas besarnya angka kematian warga sipil itu karena kelompok militan itu bertempur di daerah permukiman.

    Militer Israel mengatakan telah menewaskan lebih dari 12.000 militan, tetapi tidak memberikan bukti.

    Perang ini telah memaksa sekitar 80 prsen dari 2,3 juta penduduk Gaza meninggalkan rumah mereka, menimbulkan kehancuran yang luas di sejumlah kota.

    Perang juga mendorong jutaan penduduk Gaza bagian utara ke jurang kelaparan.

    Sumber:VOA Indonesia

  • Di Tengah Ancaman Serangan ke Rafah, Optimisme Warnai Perundingan Israel-Hamas di Kairo, Mesir

    Di Tengah Ancaman Serangan ke Rafah, Optimisme Warnai Perundingan Israel-Hamas di Kairo, Mesir

    7cloud.asia – Para perunding Hamas mulai mengintensifkan perundingan mengenai kemungkinan gencatan senjata di Gaza pada hari Sabtu (4/5/2024)

    Gencatan senjata akan mensyaratkan pembebasan beberapa orang yang disandera Hamas ke Israel, kata seorang pejabat Hamas kepada Reuters.

    Direktur CIA hadir di perundingan gencatan senjata antar Israel dengan Hamas yang berlangsung di Kairo, Mesir tersebut.

    Delegasi Hamas tiba dari kantor politik gerakan Islam Palestina di Doha, Qatar.

    Qatar bersama Mesir juga telah memediasi tindak lanjut gencatan senjata singkat pada bulan November di tengah kekecewaan internasional atas melonjaknya jumlah korban tewas di Gaza dan penderitaan 2,3 juta jiwa di Gaza.

    Taher Al-Nono, seorang pejabat Hamas dan penasihat ketua Hamas Ismail Haniyeh, mengatakan pertemuan dengan mediator Mesir dan Qatar telah dimulai dan Hamas menangani proposal mereka “dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab”.

    Baca Juga: Perundingan Damai Antara Israel – Hamas Berlangsung Alot, Masing-masing Kekeuh pada Tuntutannya

    Namun, ia menegaskan kembali tuntutan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup penarikan Israel dari Gaza dan diakhirinya perang, syarat yang sebelumnya ditolak Israel.

    “Perjanjian apa pun yang ingin dicapai harus mencakup tuntutan nasional kita,” kata Nono dikutip Reuters.com.

    Adapun Hamas menuntut penghentian agresi secara total dan permanen, penarikan penuh dan menyeluruh pendudukan dari Jalur Gaza, pemulangan pengungsi ke rumah mereka tanpa batasan.

    Hamas juga menuntut kesepakatan pertukaran tahanan yang nyata. selain rekonstruksi dan mengakhiri blokade

    Seorang pejabat Israel memberi isyarat bahwa posisi inti Israel tidak berubah, dengan mengatakan pihaknya “dalam keadaan apa pun” tidak akan setuju untuk mengakhiri perang melalui kesepakatan untuk membebaskan sandera.

    Baca Juga: 6 Bulan Perang Israel-Hamas: Lebih 33.000 Meninggal dan Jutaan Orang Palestina Terancam Kelaparan Ekstrem

    Perang dimulai setelah Hamas mengejutkan Israel dengan serangan lintas batas pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang dan 252 sandera, menurut penghitungan Israel.

    Lebih dari 34.600 warga Palestina telah terbunuh – 32 di antaranya terjadi dalam periode 24 jam terakhir – dan lebih dari 77.000 orang terluka dalam serangan Israel, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

    Saat pertemuan di Kairo sedang berlangsung, pasukan Israel mengatakan mereka telah membunuh Aiman ​​​​Zaarab.

    Aiman menurut mereka adalah pemimpin pasukan Jihad Islam di Gaza selatan dan ikut serta dalam serangan 7 Oktober.

    Sebelum perundingan Kairo dimulai, terdapat sejumlah optimisme dari rakyat Palestina.

    “Keadaannya terlihat lebih baik saat ini tetapi apakah kesepakatan akan tercapai tergantung pada apakah Israel telah menawarkan apa yang diperlukan agar hal itu terwujud,” kata seorang pejabat Palestina yang mengetahui upaya mediasi tersebut.