Tag: kebakaran

  • BMKG: Dampak El Nino 2023 Masih Terkendali

    BMKG: Dampak El Nino 2023 Masih Terkendali

    7cloud.asia – Dampak fenomena El Nino seperti kebakaran hutan, kekeringan, petani gagal panen masih dirasakan masyarakat. Dampak El Nino tahun ini disebut masih lebih kecil dan terkendali.

    Hal ini diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati usai konferensi pers Rapat Koordinasi Lintas Kementerian/Lembaga di Jakarta, Senin (09/10/2023).

    “Dampaknya lebih kecil dan terkendali dibandingkan El Nino pada 2015 dan 2019,” kata  Dwikorita dikutip Antaranews.

    Baca: BRIN perkirakan El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Fenomena El Nino menyebabkan adanya perubahan pola curah hujan, suhu udara yang meningkat, dan kecenderungan peningkatan titik panas di wilayah yang rawan kebakaran hutan dan lahan.

    Terkait karhutla, Dwikorita mengatakan pemerintah sudah berupaya membasahi lahan gambut sejak Februari sampai hari ini dengan melakukan TMC (teknologi modifikasi cuaca) yang fokus ke lahan yang berpotensi terbakar.

    “Meskipun masih ada yang terbakar karena pengaruh tangan manusia,” jelasnya.

    Baca: BMKG perkirakan musim kemarau akan berlangsung hingga akhir Oktober

    Menurut Dwikorita, dengan membasahi lahan gambut tersebut maka muka air tanah tidak kekurangan yang akhirnya dapat memicu karhutla.

    Selain itu, lanjut Dwikorita, TMC tidak hanya untuk membasahi lahan gambut, tapi juga menjaga kualitas udara di sekitar titik panas (hot spot) tidak semakin memburuk.

    Pemerintah melihat kualitas udara yang memburuk ini berkorelasi dengan titik api, tapi yang paling penting bagaimana mencegah titik api menyebar agar kualitas udara juga dipulihkan.

    Baca: Modifikasi dilakukan di kawasan rawan terjadi kebakaran lahan

    “Jadi TMC sasarannya tidak hanya mengantisipasi karhutla tapi juga memulihkan kualitas udara,” urainya.

    Meski beberapa daerah sudah mulai memasuki musim hujan, tetapi fenomena El Nino masih terus berlangsung hingga awal tahun 2024.

    “Saat musim hujan, pengaruh El Nino tidak sedahsyat saat ini. Diharapkan sesuai prediksi kemarau panjang ini berakhir di Oktober dan mulai transisi di November,” katanya.

    Baca: El Nino percepat cairnya salju abadi di Puncak Jaya

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Sejak Januari Hingga Awal Oktober, 2 Ribu Hektare Lahan di Riau Hangus Terbakar

    Sejak Januari Hingga Awal Oktober, 2 Ribu Hektare Lahan di Riau Hangus Terbakar

    7cloud.asia – Gubernur Riau, Syamsuar mengatakan, sejak Januari hingga 8 Oktober 2023 ada 2.169 titik api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla0 di provinsi tersebut.

    Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla ini menghanguskan lahan seluas 2.029,15 hektare di daerah itu. 

    “Dari 2.029,15 hektare lahan terbakar di Riau tersebut tersebar di kabupaten dan kota, dengan Kabupaten Rokan Hulu sebanyak 50,6 hektare lahan terbakar, kemudian Kabupaten Rokan Hilir 238 hektare,” katanya dalam rilis diterima di Pekanbaru.

    Baca Juga: Pemerintah Lakukan Modifikasi Cuaca di Sejumlah daerah yang Rawan Terjadi Karhutla  

    Selain itu lahan terbakar di Kota Dumai seluas 115,67 hektare, Bengkalis 398,29 hektare, Meranti 39,05 hektare, Siak 50,06 hektare, Pekanbaru 45,97 hektare,

    Di wilayah Kampar 193,09 hektare, Pelalawan 261,73 hektare, Indragiri Hulu 349,34 hektare, Indragiri Hilir 258,85 hektare, dan Kabupaten Kuantan Singingi 28,5 hektare.

    Berdasarkan data BPBD Riau, kata dia, hingga kini karhutla di Sungai Raya dan Sekip Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, sudah tidak ada titik api dan saat ini sedang dilakukan pendinginan.

    Baca Juga: BMKG: Musim Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

    “Pemprov Riau tetap berupaya memadamkan api dengan melalui pembentukan dan mengaktifkan posko Satgas Karhutla di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta posko lapangan di lokasi karhutla,” katanya.

    Selain itu menyiagakan seluruh sumber daya manusia dan sarana prasarana penanggulangan kebakaran hutan dan lahan seperti alat berat eskavator, mesin pompa pemadam, selang, kendaraan operasional.

    Untuk melokalisir karhutla juga dibangun sekat kanal, embung, menara pemantau api, dan lain-lain.

    Baca Juga: Karhutla Terjadi di Mana-mana, Semua Pihak Harus Bahu Membahu Memadamkan

    Pihaknya juga menyiapkan anggaran rutin dan biaya tanggap darurat untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

    “Satgas Karhutla gencar melakukan deteksi dini melalui aplikasi dashboard Lancang Kuning, Sipakar Riau, Sipongi KLHK, serta pantauan hotspot BMKG,” katanya.

    Pihaknya juga memperkuat Satgas Karhutla Riau dengan dua helikopter patroli (PK-RTX dan PK-ZGD), dua helikopter water bombing (C-FIZA dan N332N), satu pesawat TMC (Pilatus PC-6).

    Baca Juga: Hujan Deras, Banjir di Aceh Utara Meluas

    Kita, ujarnya,perlu terus mewaspadai arah angin yang mengarah dari tenggara ke barat laut-utara yang berpotensi mengirimkan asap ke wilayah Provinsi Riau sampai ke Malaysia dan Singapura.

    “Kami terus berupaya dalam mengendalikan karhutla di Riau, bahkan potensi personel yang siap ditugaskan sesuai kebutuhan sebanyak 17.764 orang,” kata Syamsuar. 

    Sumber: Antaranews

     

  • Kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA Suwung, Diduga Api Dipicu Gas Metana

    Kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA Suwung, Diduga Api Dipicu Gas Metana

    7cloud.asia – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini TPA Regional Sarbagita (TPA Suwung), Denpasar, Bali.

    Kebakaran yang mulai terjadi Kamis (12/10/2023) siang terus meluas hingga hampir setengah lahan TPA Suwung Bali tersebut hangus.

    Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar, Ardy Ganggas seperti dilansir Antaranews mengatakan, berdasarkan pemantauan udara pada Kamis sore, sekitar seperempat luas lahan TPA terbakar.

    “Tetapi kini hampir separuh yang terbakar. Dari lahan TPA seluas 32 hektare, hampir separuhnya terbakar,” jelas Ardy.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah saatnya diakhiri

    Ardy menambahkan, pihaknya terus melakukan pemadaman dengan menggunakan alat berat untuk memotong arus api dengan mengeruk lumpur-lumpur dan mengantisipasi api menjalar hingga ke pemukiman penduduk.

    “Alat berat digunakan untuk melakukan blokir dengan lumpur berair untuk menutup pergerakan api,” ujarnya.

    Tim pemadam kebakaran BPBD Kota Denpasar juga digantikan dengan regu malam untuk melakukan pemadaman.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan teknologi Masaro mampu olah sekilo sampah jasi 1 gram emas

    Setidaknya tujuh mobil damkar (pemadam kebakaran) dari Kota Denpasar dikerahkan untuk memadamkan kebakaran di TPA Suwung, Bali ini. 

    “Selain itu juga dibantu dua damkar dari Kabupaten Badung dan satu damkar dari Kabupaten Gianyar,” urainya.

    Operasi pemadaman dilakukan dengan dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Made Rentin bersama Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Teja.

    Baca: Bakteri pemangsa gas metana untuk menahan laju pemanasan global

    Sebanyak 10 unit mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan api. Selain itu dua unit mobil ambulans dari BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kota Denpasar bersiaga di lokasi TPA Suwung.

    Ada pula satu unit wheel loader dan empat ekskavator untuk membuka jalan dan akses mendekati titik-titik api agar mobil pemadam kebakaran lebih mudah bergerak menyemprotkan air.

    Sementara itu, Polresta Denpasar menyatakan penyebab kebakaran di TPA Suwung diduga akibat metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah.

    Baca: Yuk kenali sampah plastik dan nilai ekonominya

    “Penyebab kebakaran diperkirakan dari panasnya tumpukan sampah dan gas metan yang dihasilkan, sehingga berpotensi mengeluarkan api,” kata Kepala Seksi Humas Polresta Denpasar, Iptu Ketut Sukadi.

    Sukadi mengatakan peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Kamis (12/10/2023) sejak pukul 11.00 Wita.

    Seorang saksi bernama Gede Mahardika (51) mengatakan ketika ia bekerja di kantor TPA Suwung tiba tiba melihat kepulan asap hitam pekat bersumber dari tumpukan sampah.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan bakteri untuk bersihkan polusi tanah

    Tak lama setelah itu, kata Gede, asap hitam pekat berubah menjadi asap putih dan tersebar di sekitar daerah Sesetan, Denpasar Selatan.

    Setelah melihat api yang cepat membesar tersebut, pihak pengelola TPA langsung menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Denpasar dan BPBD Denpasar untuk memadamkan api tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Walhi Sumsel Desak Pemerintah Tindak Tegas Perusahaan yang Lalai Jaga Lahan Konsesinya dari Karhutla

    Walhi Sumsel Desak Pemerintah Tindak Tegas Perusahaan yang Lalai Jaga Lahan Konsesinya dari Karhutla

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan (Sumsel) mendesak pemerintah melakukan tindakan tegas dan memberikan sanksi kepada perusahaan yang lalai menjaga lahan konsesinya dari karhutla.

    Melansir Antaranews, Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Yuliusman AS, tindakan tegas ini perlu dilakukan agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak berulang di tahun-tahun berikutnya.

    “Melihat fakta di lapangan itu, diharapkan pemerintah daerah dan pihak berwenang melakukan berbagai tindakan yang dapat mencegah terjadinya karhutla sehingga dapat dihindari bencana kabut asap yang dapat mengganggu berbagai aktivitas dan kesehatan masyarakat,” jelas Yuliusman.

    Selain itu, Walhi Sumsel juga mendesak pemerintah membuat program pencegahan dan penanggulangan karhutla yang tepat dan cepat.

    Menurut Yuliusman hal ini perlu dilakukan agar tahun-tahun mendatang pemerintah tidak sibuk menyiapkan satgas serta melakukan operasi darat dan udara untuk pemadaman karhutla.

    Sebab, operasi ini menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah yang seharusnya dana tersebut dapat digunakan untuk kepentingan lainnya.

    Karena itu, masalah karhutla harus diatasi dengan baik. Tidak hanya merusak lingkungan, karhutla menyebabkan asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumsel tercatat sekitar 35 ribu masyarakat mengalami gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap karhutla pada musim kemarau 2023.

    Walhi Sumsel juga mendata kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 5.000 hektare di lokasi konsesi perusahaan perkebunan, hutan tanaman industri, dan pertambangan.

    “Contoh konkret karhutla terjadi di lahan konsesi atau perusahaan pemegang izin berbasis lahan yakni dilakukannya penyegelan lahan oleh KLHK di 11 perusahaan yang mengalami karhutla pada musim kemarau 2023 ini,” paparnya.

    Hasil pemantauan Walhi, karhutla tidak hanya terjadi di lahan konsesi 11 perusahaan yang tersebar di tiga daerah yakni Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Musi Banyuasin.

    Tetapi juga terjadi di sekitar lokasi pemegang izin berbasis lahan lainnya seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Muara Enim, Lahat, dan Musirawas.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Periode Juni-Oktober 2023, Terjadi 14 Kali Kebakaran TPA

    Periode Juni-Oktober 2023, Terjadi 14 Kali Kebakaran TPA

    7cloud.asia – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah akhir-akhir ini kerap terjadi. Selama bulan Juni hingga Oktober 2023, tercatat 14 kali kejadian kebakaran di TPA.

    Kebakaran di tempat pembuangan akhir atau TPA sampah ini terjadi, selain dipicu  gas metana juga karena sikap abai masyarakat. 

    Sudah saatnya pemerintah kota mengedukasi masyakarat terkait pengelolaan sampah yang lebih bertanggung-jawab sehingga kebakaran di TPA tidak terulang.

    “Pada periode Juni, Juli, Agustus, hingga Oktober itu ada 14 kebakaran di TPA sampah, di mana-mana mulai dari Sabang sampai Merauke,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Selasa (17/10/2023), dikutip Antaranews.

    Baca: Krisis pengelolaan sampah pasca kebakaran di TPA Sarimukti

    Dari kasus kebakaran TPA yang terjadi, lanjut Abdul, proses pemadaman TPA Sarimukti, Jawa Barat yang paling sulit.   

    Hal ini karena banyaknya timbunan sampah plastik. Timbunan sampah plastik tersebut menghalangi air pemadaman merembes ke bawah.

    Selanjutnya Abdul menjelaskan wilayah yang terbakar di TPA Sarimukti memiliki ketinggian hampir 70 meter.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah saatnya ditinggalkan

    Pemadaman dengan bantuan satgas darat dan heli bom air. Sehingga dapat mengendalikan 70 persen kebakaran yang terjadi dan masih harus terus memantau titik api yang timbul kemudian.

    “Laporan dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan) juga ada peningkatan jumlah pasien ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan lain-lain,” ujarnya.

    Upaya pemadaman menjatuhkan bom air dengan helikopter dan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah upaya maksimal yang selama ini dilakukan BNPB.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Namun pengawasan terhadap timbulnya api, kata dia, harus menjadi kewaspadaan masyarakat.

    Dia meminta masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, atau menyalakan api di kawasan rawan terbakar.

    Kemudian pada pekan ini BNPB berfokus pada pemadaman kebakaran di TPA Suwung, Denpasar Bali.

    Baca: Pengelolaan sampah plastik harus libatkan konsumen-produsen dan pemerintah

    Dua helikopter bom air dari wilayah lain digeser sementara untuk pemadaman melalui guguran air.

    “Sekali lagi, bahwa 99 persen penyebab kebakaran itu adalah ulah manusia sengaja atau tidak sengaja.”

    Ia mengajak semua pihak untuk sama-sama jaga lingkungan kita, lihat situasi dan kondisi. Cegah, minimal di lingkungan kita masing-masing itu tidak ada karhutla.

    “Atau kalaupun terjadi karhutla, karena kita kendalikan dengan segera,” papar Abdul.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Suhu Panas Hingga 33 Derajat Celsius, Ini Penyebabnya

    Suhu Panas Hingga 33 Derajat Celsius, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Suhu udara yang panas saat ini tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satunya Pulau Bintan di Kepulauan Riau (Kepri) yang suhunya mencapai 33 derajat celsius.

    Akibatnya masyarakat merasakan udara panas dan gerah yang tak biasanya.

    “Kami mencatat suhu udara saat ini berada di atas 30 sampai 33 derajat Celsius,” ungkap Prakirawan Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kota Tanjungpinang, Muhammad Fadris D, dikutip Antaranews.

    Padahal, lanjut Fadris, suhu udara di wilayah ini pada siang hari biasanya berkisar antara 28 sampai 30 derajat celcius.

    Cuaca panas yang melanda Pulau Bintan, meliputi Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan diprediksi masih akan berlangsung hingga awal 2024.

    Hal ini terjadi akibat fenomena skala global seperti El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD).

    Selain itu, adanya pergerakan angin dari arah Australia yang cenderung kering, sehingga menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

    “Namun khusus di Pulau Bintan, untuk hari ini sampai dua hari ke depan ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang bersifat lokal,” jelas Fadris.

    Selanjutnya Fadris menjelaskan suhu panas yang terjadi saat ini rentan memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Pihaknya telah mendeteksi beberapa titik panas, terutama di wilayah Kabupaten Bintan.

    Karena itu, Fadris mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap pemicu karhutla, seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun membakar lahan atau kebun saat cuaca panas.

    Hal ini dapat menimbulkan kebakaran yang lebih besar. “Dari segi kesehatan, perbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi,” ujarnya.

    Sebelumnya Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada BRIN (Badan Riset dan Inovesi Nasional), Eddy Hermawan mengatakan puncak suhu panas ekstrim terjadi pada bulan Oktober.

    Normalnya musim kemarau terjadi pada Juni sampai Agustus. Tetapi adanya pengaruh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) bergeser ke Oktober.

     “Sekarang El Nino positif dan IOD juga positif, keduanya mencapai puncak sekitar Oktober 2023,” kata Eddy. 

    Kedua fenomena osilasi suhu air permukaan laut–El Nino di Samudera Pasifik dan IOD di sebelah barat Samudera Hindia—berdampak cukup masif pada Indonesia dan negara lainnya di garis khatulistiwa.

    Karena itu, lanjut Eddy, beberapa daerah di Indonesia diprediksi mengalami suhu panas ekstrem, di antaranya Kota Surabaya dengan suhu tertinggi diprediksi mencapai 43 derajat Celcius.

    Sementara itu, salah seorang warga Tanjungpinang, Erita, merasakan dampak cuaca panas dalam dua hari ke belakang, terutama pada siang hari.

    “Panasnya sangat terasa, menyebabkan tubuh memproduksi keringat lebih banyak dari biasanya,” kata Erita.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Kebakaran TPA Rawakucing Tangerang Masuki Hari ke-5

    Kebakaran TPA Rawakucing Tangerang Masuki Hari ke-5

    7cloud.asia – Kebakaran TPA (Tempat Pembuangan Akhir) kembali terjadi. Kali ini kebakaran terjadi di TPA Rawakucing, Tangerang. Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah memantau melalui udara.

    Dengan menumpang helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Arief didampingi oleh Komandan Korem, Brigjend TNI Putranto Gatot Sri Handoyo.

    “Memasuki hari keempat sudah terpantau berkurang ya, berkat upaya dan kerja keras dari tim gabungan serta kolaborasi juga dengan Kementerian LHK, BNPB dan TNI-Polri. Akan kita upayakan terus hingga tuntas,” jelas Arief, seperti yang dilansir Antaranews.

    baca juga: periode juni-oktober 2023 terjadi 14 kali kebakaran tpa

    Memasuki hari kelima, Pemerintah Kota Tangerang bekerja sama dengan BNPB mulai mengerahkan helikopter water bombing sebagai langkah lanjutan guna mempercepat proses pemadaman.

    “Dan untuk hasil pantauan udara tadi terlihat untuk yang di sebelah selatan itu asapnya sangat pekat, untuk api sudah tidak terlihat ya karena asap putihnya sangat pekat jadi kemungkinan api yang ada di bawah sampah yang harus mulai kita tangani,” paparnya. 

    Pada kesempatan itu, Arief meminta kepada tim gabungan penanganan kebakaran agar dapat menyiapkan akses untuk alat berat serta kendaraan pemadam agar dapat menjangkau ke titik-titik api.

    “Sesuai arahan dari BNPB juga ini kita sudah instruksikan kepada petugas yang ada di lapangan agar membuka akses untuk kendaraan alat berat dan pemadam agar dapat lebih mudah masuk, tidak perlu memutar.

    Baca juga: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah saatnya diakhiri

    Tujuannya untuk menyisir dan menyasar langsung ke titik-titik api terutama yang ada di bawah sekam,” urainya.

    Selain itu, Arief juga mengatakan pihaknya memerlukan alat khusus untuk mendeteksi suhu panas bumi atau geothermal.

    Hal ini diperlukan agar dapat mengoptimalkan upaya pemetaan api yang ada di dalam tumpukan sampah.

    “Nah untuk api yang ada di dalam ini perlu di mapping menggunakan drone geothermal, makanya kita akan coba upayakan untuk kerja sama atau pinjam selain tentunya akan ada helikopter water bombing tambahan dari BNPB,” jelasnya.

    baca juga: kebakaran di tempat pembuangan sampah akhir atau tpa suwung diduga api dipicu gas metana

    Selanjutnya Arief menjelaskan pihaknya akan berkolaborasi dengan berbagai pihak terutama Pemerintah Pusat juga akan terus diupayakan guna mengoptimalkan penanganan kebakaran yang terjadi di TPA Rawa Kucing.

    “Selain bantuan berupa alat, kami bersama Kodim Kota Tangerang juga sedang mengupayakan kolaborasi dengan Kodim Kota Solo untuk mendatangkan tenaga-tenaga ahli yang sudah berpengalaman menangani kebakaran yang kemarin terjadi juga di TPA Putri Cempo,” ucapnya.

    Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Maryono Hasan  mengungkapkan kegiatan water bombing di TPA Rawakucing dengan helikopter akan dilakukan hingga malam hari.

    “Jika tak ada gangguan, kemungkinan akan sampai malam kegiatan operasional water bombing dengan helikopter ini,” ujarnya.

    BPBD lanjutnya juga akan menambah jumlah helikopter yang melakukan water bombing menjadi dua unit. Satu unit helikopter yang saat ini melakukan pemadaman datang dari Bali.

    “Ke depan akan berlanjut dengan mendatangkan satu lagi helikopter dari Jambi. Sehingga proses pemadaman bisa efektif,” ujarnya.

    kebakaran di tpa purbahayu pangandaran sudah empat hari belum padam

    Pada kegiatan water bombing yang dilakukan Senin (23/10/2023), sebanyak 1.500 liter air disiram di atas gunungan sampah TPA Rawakucing untuk dua kali trip.

    Fokus penyiraman adalah yang masih ada kepulan asap dengan harapan tak menimbulkan api lagi, sehingga personil di darat bisa melakukan pendinginan.

    “Sumber air berasal dari Sungai Cisadane. Semoga upaya ini bisa mengatasi kebakaran yang terjadi,” ujarnya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya kebakaran di TPA Rawakucing Kota Tangerang di wilayah Neglasari terjadi pada hari Jumat (20/10) pukul 14.00 WIB diduga akibat cuaca panas.

    Dugaan sementara, api muncul pertama kali di area landfill pintu satu. Namun karena kencangnya tiupan angin merambat ke tumpukan sampah di pintu dua dan tiga.

    Data dari BPBD Kota Tangerang sejumlah kendaraan terbakar, gudang timbang dan sederet bedeng pengepul pun hangus terbakar.

    Selain itu, Pemkot Tangerang mengevakuasi warga ke tiga lokasi yakni kantor Kecamatan Neglasari, GOR Neglasari dan Dinas Sosial Kota Tangerang.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Marak Terjadi Saat Kemarau, KLHK Terapkan 3 Klaster Tangani Karhutla

    Marak Terjadi Saat Kemarau, KLHK Terapkan 3 Klaster Tangani Karhutla

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerapkan tiga klaster utama dalam menangani karhutla secara permanen.

    Selain adanya Instruksi Presiden (Inpres) No.3/2020 tentang Penanggulangan Karhutla, penerapan tiga klaster utama dalam solusi permanen penanganan karhutla menjadi penyebab turunnya jumlah hutan yang terbakar dan titik panas.

    Hal ini dijelaskan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Laksmi Dhewanthi seperti yang dilansir Antaranews.

    “Solusi permanen penanganan karhutla yang pertama berupa upaya penanggulangan berdasarkan analisis cuaca. BMKG sudah menginformasikan bahwa kita akan mengalami kemarau kering jadi sebelum masa krisis sudah dilakukan upaya seperti teknologi modifikasi cuaca,” jelas Laksmi.

    baca juga: kabut asap menyelimuti kota padang imbas kebakaran hutan dan lahan dari empat provinsi

    Klaster kedua yaitu pengendalian operasional dalam sistem Satgas Patroli terpadu di tingkat wilayah yang diperkuat oleh masyarakat, TNI, Polri, BNPB maupun BPBD.

    Lalu klaster terakhir yaitu pembinaan tata kelola lanskap, khususnya dalam ketaatan pelaku konsesi, praktik pertanian, dan penanganan lagan gambut.

    “Kita melakukan upaya pengelolaan lanskap antara lain praktek pembukaan lahan tanpa bakar, kalau pun dengan bakar itu ada teknisnya. Jadi teknisnya membakar balik dan sebagainya agar api bisa terkendali sehingga kebakaran hutan tidak sebesar atau tidak meluas,” ujarnya.

    Ketiga klaster tersebut dianggap telah berhasil menurunkan jumlah lahan yang terbakar dan sebaran titik panas (hotspot) di Indonesia.

    “Alhamdulillah, kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, sebetulnya saat ini dalam kondisi kering dan suhunya lebih tinggi dari 2019, tapi kalau kita lihat jumlah lahan yang terbakar dan kejadian atau sebaran hotspot itu lebih rendah dari pada 2019,” urai Laksmi.

    baca juga: marak kebakaran hutan klhk segel lahan milik pengusaha singapura

    Memang, jumlah hotspot masih dalam proses perhitungan, namun ia yakin jumlah sebaran di tahun 2023 ini jauh berkurang dari sebaran hotspot yang mencapai 5.106 titik pada periode 14-20 September 2019..

    Selain itu, Laksmi menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang selama ini terjadi di Indonesia sangat berdampak terhadap produksi emisi gas rumah kaca.

    Pada tahun 2015 dan 2019 dengan jumlah sebaran karhutla tinggi sangat berkorelasi terhadap peningkatan produksi emisi gas rumah kaca yang juga naik signifikan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kebakaran Gunung Merbabu Meluas, Hampir 500 Hektare Lahan Hangus

    Kebakaran Gunung Merbabu Meluas, Hampir 500 Hektare Lahan Hangus

    7cloud.asia – Kebakaran yang melanda lahan Taman Nasional Gunung Merbabu semakin meluas. Hingga Minggu (29/10/2023) lahan yang hangus mencapai 489,07 hektare.

    Hal ini diungkapkan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari pada Minggu.

    “Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB yang diterima pukul 08.12 WIB tercatat lahan Taman Nasional Gunung Merbabu terbakar seluas 489,07 ha,” jelasnya seperti dikutip Antaranews.

    Abdul Muhari mengatakan kebakaran hutan dan lahan Gunung Merbabu pertamakali terjadi sejak Jumat (27/10) di Desa Sokowolu, Kabupaten Semarang. Kebakaran tersebut masih belum dapat dipadamkan.

    baca: ketahuan gunung gede diduga sengaja dibakar

    Hingga kini, petugas gabungan masih berupaya memadamkan kebakaran hutan kawasan Gunung Merbabu di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang tersebar di lima dusun di Kecamatan Getasan.

    Titik-titik api tersebut antara lain tersebar di Dusun Batur Wetan, Pulihan, Macanan, Thekelan, serta Sokowolu.
    m
    Api kemudian menyebar hingga Puncak Syarif dan Puncak Suwanting derbabui wilayah Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

    Sementara lahan terbakar di wilayah Kabupaten Boyolali terpantau dalam skala kecil. “Sabana 2 yang berada di wilayah Selo, Boyolali terpantau masih aman,” ujarnya.

    baca: akibat pre wedding hampir 1000 hektar lahan bromo terbakar

    Sementara itu akibat kebakaran lahan ini, sebanyak 91 jiwa mengungsi di Balai Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

    Mereka terdiri dari orangtua dan anak-anak dengan rincian 47 orang asal Dusun Gedong dan 44 orang asal Dusun Ngaduman, Kecamatan Getasan.

    “Yang lain mengungsi di rumah-rumah keluarga dan sebagian memilih tidak meninggalkan rumah,” ucapnya.

    Tim gabungan saat ini tengah melakukan upaya melokalisasi api dilakukan dengan membuat saluran irigasi.

    Selain itu, tim gabungan juga melakukan pemantauan pergerakan titik api, melakukan langkah mitigasi, dan membuka dapur umum.

    Kebutuhan mendesak saat ini meliputi logistik makanan, matras, masker filter, dan oksigen portable.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BRIN: Pengolahan Lahan Gambut Sering Memicu Kebakaran Lahan

    BRIN: Pengolahan Lahan Gambut Sering Memicu Kebakaran Lahan

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan kegiatan antropogenik atau pembersihan lahan, pengeringan gambut, hingga ekspansi perkebunan skala besar seringkali menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

    Peneliti Pusat Riset Hukum BRIN Laely Nurhidayah mengatakan kebakaran besar yang terjadi pada tahun 2015 telah memicu Indonesia membuat program restorasi gambut.

    “Masyarakat peduli api (MPA) adalah aktor utama dalam penanganan pencegahan dan pengendalian kebakaran di tingkat tapak,” ujarnya dalam diskusi budaya bertajuk pengendalian api berbasis komunitas dan restorasi lahan gambut yang dipantau di Jakarta, Senin (13/11/2023).

    Baca Juga: El Nino Belum Berakhir: Kekeringan dan Kebakaran Berisiko Makin Besar Tahun 2024

    Laely menuturkan masyarakat peduli api memainkan peran penting dalam mencegah dan merestorasi lahan gambut di Indonesia.

    Melalui riset yang dilakukan pada 2019, BRIN meneliti masyarakat peduli api yang berada pada enam desa di Riau dan Kalimantan Tengah.

    Pemodelan menggunakan strategi pengendalian api kohesif berfokus pada tiga area, yaitu ekosistem resiliensi, pembangunan adaptasi api oleh masyarakat, dan implementasi strategi pengendalian api.

    “Setiap desa yang kami temui sebetulnya ada kesamaan pola bahwa ekosistem gambutnya itu sudah rusak,” kata Laely.

    Baca Juga: Karhutla di Indonesia Tahun Ini Sangat Parah, Dampak Gagalnya Upaya Pencegahan

    Di Desa Lukun dan Temusai, Provinsi Riau telah ada aktivitas perkebunan skala besar. Pembukaan lahan oleh perusahaan menyebabkan terjadinya perubahan hidrologi air di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).

    Laely mengungkapkan bahwa perubahan ekologi gambut akibat pembukaan lahan menimbulkan kekeringan akibat ekosistem gambut yang telah mengalami perubahan.

    Pada 1980-an, Desa Temusai mulai mengalami perubahan dengan banyaknya perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh masyarakat setempat.

    Baca Juga: Karhutla Terjadi di Mana-mana, Semua Pihak Harus Bahu Membahu Memadamkan

    Kegiatan antropogenik itu mempengaruhi hidrologi gambut. Masyarakat setempat mengakui air menjadi agak berkurang sejak pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan.

    “Mereka mengakui ada perubahan setelah adanya (perkebunan). Walaupun mungkin mereka menyebutkan bahwa sawit itu menguntungkan bagi mereka secara ekonomi,” kata Laely.

    Organisasi non pemerintah Pantau Gambut yang fokus terhadap perlindungan dan keberlanjutan lahan gambut di Indonesia memandang kasus kebakaran gambut yang terjadi berulang pada lokasi yang sama cenderung dilakukan secara sengaja untuk menetralisir kadar keasaman lahan tersebut.

    Baca Juga: Masalah Lingkungan Terbesar di Tahun 2023: Pemanasan Global (1)

    Strategi menurunkan kadar keasaman gambut dapat dilakukan dengan kapur dolomit. Namun, cara itu membutuhkan biaya besar dan tenaga lebih banyak.

    Manajer Kampanye dan Advokasi Pantau Gambut Wahyu Perdana mengatakan arang adalah cara paling sederhana untuk menurunkan tingkat keasaman tanah.

    Jadi, itulah mengapa lahan gambut sering dibakar agar tingkat keasamannya berkurang oleh arang sisa pembakaran.

    Sumber: Antaranews.com