Tag: longsor

  • Longsor di Lokasi Tambang Galian C Gunung Kuda Cirebon, Tewaskan Belasan Orang

    Longsor di Lokasi Tambang Galian C Gunung Kuda Cirebon, Tewaskan Belasan Orang

    7cloud.asia – Tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan kembali berhasil menemukan dan mengevakuasi tiga jenazah korban longsor yang melanda kawasan tambang galian C Gunung Kuda di Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada Jumat (30/5/2025).

    Adapun, jumlah korban meninggal dunia yang tercatat hingga Jumat malam tercatat 14 jiwa.

    Longsor di kawasan tambang galian C ini terjadi pada Jumat pukul 10.00 waktu Indonesia barat, diduga akibat kesalahan prosedur penambangan.

    Insiden longsor di lokasi tambang batu alam Gunung Kuda sudah terjadi beberapa kali. Sebelumnya pada bulan Februari 2025 yang lalu di lokasi yang sama terjadi longsor dan saat itu menimbulkan korban jiwa.

    Baca: Walhi minta Izin Tambang untuk Perguruan Tinggi disetop

    Berdasarkan data yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dari 13 korban meninggal dunia, 5 di antaranya masih dalam proses identifikasi.

    Sedangkan hasil kaji cepat sementara mencatat terdapat 3 unit alat berat ekskavator dan 6 unit mobil truk turut tertimbun longsor.

    Operasi pencarian dan penyelamatan korban masih menjadi prioritas penanganan darurat kejadian di tambang galian C Gunung Kuda ini.

    Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Cirebon, TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan warga telah menghentikan operasi pencarian hari ini pada pukul 17.30 WIB, dan akan dilanjutkan hari ini.

    Baca: Bagi-bagi izin tambang ke Ormas akan merusak tata kelola minerba

    Berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh instansi terkait hingga dua hari ke depan untuk wilayah Kabupaten Cirebon kondisi cuaca terpantau cerah berawan.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau Tim SAR gabungan yang sedang melakukan operasi pencarian dan pertolongan untuk tetap memprioritaskan keselamatan mengingat masih berpotensi terjadinya bencana susulan.

    Sementara itu, bagi warga yang tinggal di dekat lereng tebing dan pinggir sungai, diminta memantau secara berkala kondisi tanah yang ada di sekitar rumah dan debit air disekitar aliran sungai.

    Warga juga diminta melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan terus menerus selama dua jam atau lebih.

     

  • BMKG Ungkap Penyebab Banjir Besar di Bali

    BMKG Ungkap Penyebab Banjir Besar di Bali

    7cloud.asia – Banjir dan longsor yang melanda Bali pada 9–10 September 2025 lalu akibat cuaca ekstrem yang dipicu oleh kombinasi faktor regional dan lokal. Salah satunya adanya dinamika atmosfer.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam rilisnya menjelaskan kondisi atmosfer bumi yang labil memicu terjadinya hujan ekstrem hingga terjadi banjir yang parah di sejumlah wilayah di Bali.  

    “Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby ekuator yang aktif bersamaan dengan kondisi atmosfer labil di Bali memperbesar risiko terbentuknya awan konvektif secara masif,” jelas Dwikorita.

    Selain akibat dinamika atmosfer, BMKG juga menyoroti faktor lingkungan dan infrastruktur yang memperparah dampak banjir.

    Baca: Korban Tewas Akibat Banjir di Bali Bertambah Menjadi 14 Orang

    Menurutnya sistem drainase di beberapa wilayah dinilai belum mampu menyalurkan volume air hujan yang sangat besar. Kondisi ini diperburuk oleh sedimentasi dan sampah yang menyumbat saluran air.

    Belum lagi adanya alih fungsi lahan dari area resapan menjadi permukiman dan komersial juga mengurangi kemampuan tanah menyerap air, sehingga risiko genangan semakin tinggi.

    Sebelumnya, lanjut Dwikorita, BMKG mengeluarkan peringatan sejak 5 September 2025 melalui prospek cuaca sepekan ditambah pula dengan peringatan dini tiga harian, hingga pembaruan secara jam-jaman melalui sistem nowcasting pada saat hujan ekstrem mulai terjadi.

    “Dalam periode 9–10 September saja, BMKG menerbitkan 11 kali pembaruan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Bali,” katanya.

    Baca: Banjir Besar di Bali, Ratusan Kepala Keluarga Terdampak

    Karena itu, mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengimbau masyarakat agar lebih waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan.

    Selain itu, masyarakat juga dapat melakukan langkah mitigasi seperti menjaga kebersihan saluran drainase dan tidak membuang sampah sembarangan diharapkan dapat mengurangi dampak genangan air.

    “Dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang baik, kita bisa meminimalkan risiko bencana akibat cuaca ekstrem yang masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan,” tutup Dwikorita.

    Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, di Jembrana, curah hujan tercatat mencapai 385,5 mm dalam satu hari, disusul Tampak Siring 373,8 mm, Karangasem 316,6 mm, Klungkung 296 mm, dan Abiansemal 284,6 mm.

    Baca: Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa Jakarta

    Bahkan beberapa titik lain seperti Denpasar Barat, Petang, Kerambitan, dan Padangbai juga mencatat curah hujan di atas 200 mm per hari. Padahal, secara klimatologis, hujan di atas 150 mm/hari sudah dikategorikan ekstrem.

    Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana terjadi di tujuh kabupaten/kota dengan lebih dari 120 titik banjir.

    Kota Denpasar menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak mencapai 81, disusul Gianyar 14 titik, Badung 12 titik, Tabanan 8 titik, Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik, serta Klungkung di Kecamatan Dawan.

     

  • Curah Hujan Tinggi, Gubernur Jawa Barat Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana di Sejumlah Wilayah Ini

    Curah Hujan Tinggi, Gubernur Jawa Barat Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana di Sejumlah Wilayah Ini

    7cloud.asia – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menetapkan status siaga darurat bencana untuk 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Status siaga ini berlaku hingga 30 April 2026.

    Keputusan ini mempertimbangkan masukan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi curah hujan tinggi di wilayah Jawa Barat.

    “Untuk mencegah dan menanggulangi dampak dari potensi bencana tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memandang perlu menetapkan Status Siaga Darurat Bencana,” tertulis dalam SK yang ditandatangani Dedi Mulyadi

    Baca: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Jawa Barat

    Dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 yang diteken pada Minggu (27/10/2025), ada 18 kabupaten dan 9 kota di Jawa Barat yang ditetapkan siaga darurat bencana.

    Ke-18 kabupaten tersebut meliputi: Bandung, Bandung Barat, Bekasi, Bogor, Ciamis, Cianjur, Cirebon, Garut, Indramayu, Karawang, Kuningan, Majalengka, Pangandaran, Purwakarta, Subang, Sukabumi, Sumedang, dan Tasikmalaya.

    Sementara 9 kota meliputi Bandung, Banjar, Bekasi, Bogor, Cimahi, Cirebon, Depok, Sukabumi, dan Tasikmalaya.

    Baca: Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Tanah Longsor di Sinjai

    Dalam surat tersebut, gubernur yang akrab disapa KDM ini menyebut sumber pembiayaan penanganan selama masa siaga darurat berasal dari APBD Provinsi Jawa Barat dan/atau sumber dana lain yang sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

    “Pembiayaan penanganan Status Siaga Darurat Bencana bersumber dari APBD Provinsi Jawa Barat dan/atau sumber lain yang sah,”ungkap KDM.

    Sementara itu, BMKG Stasiun Geofisika Bandung mengimbau masyarakat di wilayah Jawa Barat untuk mewaspadai  potensi bencana hidrometeorologi hingga sepekan kedepan.

    Baca: Banjiir dan Longsor Landa Sukabumi Tewaskan 1 Orang

    Bencana hidrometeorologi dapat berupa banjir, tanah longsor, pohon tumbang, angin kencang, dan lain-lain.

    Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu mengungkapkan saat ini sebagian besar wilayah Jawa Barat telah memasuki musim hujan. Hanya sebagian kecil wilayah utara yang masih berada dalam masa peralihan.

    “Potensi hujan ringan hingga lebat bisa terjadi siang, sore, hingga malam hari. Dampaknya berisiko menimbulkan banjir dan tanah longsor,” ungkapTeguh dalam keterangan resmi, Selasa (28/10/2025).

    Baca: Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah

    Selain itu, BMKG juga mengajak masyarakat agar berhati-hati saat beraktifitas di luar ruangan untuk segera berlindung di tempat aman saat cuaca buruk terjadi.

    Wilayah Bandung Raya termasuk dalam area yang berpotensi mengalami hujan intensitas tinggi, dengan suhu udara berkisar antara 17–35°C.

    Berdasarkan data infografis kejadian bencana periode 1 Januari hingga 27 Oktober 2025, tercatat 1.204 kejadian bencana di Jawa Barat.

    Rinciannya meliputi cuaca ekstrem (624 kejadian), tanah longsor (343), banjir (215), kebakaran lahan (12), kekeringan (6), dan gempa bumi (5 kejadian).

  • 10 Korban Longsor Cilacap Masih dalam Pencarian

    10 Korban Longsor Cilacap Masih dalam Pencarian

    7cloud.asia – Pasca longsor di Desa Cibeunying, Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, BNPB menyebut pada Minggu (16/11/2025) atau hari keempat operasi, tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan kembali menemukan dua jenazah yang tertimbun material longsor.

    Penemuan tersebut menambah total korban meninggal dunia menjadi 13 orang. Sementara itu, masih terdapat 10 warga yang masuk dalam daftar pencarian.

    Dilansir Antaranews.com, upaya pencarian terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan dengan menyisir area terdampak menggunakan peralatan berat dan bantuan anjing pelacak.

    Total ada 22 unit alat berat jenis bucket eskavator dari Kementerian Pekerjaan Umum serta Pemerintah Kabupaten Cilacap diturunkan ke lokasi untuk mempercepat proses penggalian material longsor diperkirakan sedalam lebih delapan meter.

    Penambahan alat berat tersebut dinilai signifikan dalam memudahkan tim menemukan korban yang tertimbun, mengingat ketebalan dan luasnya area timbunan tanah di lokasi longsoran.

    Selain itu, operasi SAR juga melibatkan 1.001 personel dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga relawan, yang bekerja bersama untuk mempercepat proses pencarian serta penanganan darurat di lapangan.

    Untuk memperkuat pencarian, sembilan ekor anjing pelacak (K9) dari Kantor SAR Semarang, Polda Jawa Tengah, dan jajaran Polres di wilayah itu turut diterjunkan guna membantu mengidentifikasi titik-titik yang dicurigai sebagai lokasi korban tertimbun.

    Sementara warga yang rumahnya rusak akibat longsor saat ini mengungsi ke balai desa dan gedung sekolah setempat.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa kedua fasilitas pengungsian sudah dilengkapi dapur umum yang proporsional untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi selama masa tanggap darurat.

    Berdasarkan data yang dikonfirmasi BNPB dalam peristiwa longsor di Cibeunying, Cilacap ini ada lebih dari 28 kepala keluarga yang terdampak.

    Mereka diungsikan sementara demi keselamatan karena kondisi tanah di sekitar permukiman masih labil dan rawan longsor susulan.

  • Longsor Juga Terjadi di Banjarnegara, 30 Rumah Rusak dan 27 Warga Tertimbun

    Longsor Juga Terjadi di Banjarnegara, 30 Rumah Rusak dan 27 Warga Tertimbun

    7cloud.asia – Tanah longsor yang menerjang wilayah di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, pada Sabtu (15/11/2025), sore mengakibatkan sejumlah rumah tertimbun material longsor.

    Perkembangan informasi Pusat Pengendalian Operasi BNPB, hingga Senin (17/11/2025), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara memperkirakan 27 warga masih tertimbun.

    Korban jiwa tercatat warga meninggal dunia 2 jiwa, luka-luka 2 jiwa dan mengungsi 823 jiwa. Warga yang mengalami luka-luka telah dirujuk ke RSUD Banjarnegara dan Puskesmas Pandanarum.

    Dalam keterangan tertulisnya, BNPB menyebutkan kerugian material meliputi rumah rusak berat sebanyak 30 unit dan rusaknya lahan persawahan dan perkebunan.

    Tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara terjadi setelah adanya hujan lebat di Kawasan Desa Situkung, Kecamatan Pandanarum.

    Baca Juga: 10 Korban Longsor Cilacap Masih dalam Pencarian

    Derasnya hujan dan kondisi tanah labil diduga sebagai pemicu tebing longsor dan menimpa area persawahan dan perkebunan, pada Sabtu kemarin (15/11/2025), sekitar pukul 16.00 WIB.

    Tim pencarian dan pertolongan (SAR) masih melakukan operasi penyelamatan di lokasi terdampak. Selain operasi SAR, personel gabungan telah berhasil mengevakuasi 34 orang dari kawasan hutan di sekitar longsoran.

    Sementara warga yang selamat mengungsi di di tiga lokasi pengungsian, di antaranya Kantor Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Beji dan gedung haji Desa Pringamba.

    Merespons adanya warga di pos pengungsi, BPBD Kabupaten Banjarnegara mengaktifkan dapur umum di kantor kecamatan.

     

    Baca Juga: Bencana Alam Makin Intens Akibat Perubahan Iklim: Menuntut Aksi Iklim yang Berkeadilan

    Selain melakukan upaya SAR dan pelayanan pengungsi, BPBD setempat terus melakukan asesmen dampak dan kebutuhan warga.

    Sementara ini, kebutuhan mendesak dari hasil kaji cepat terdiri dari bahan makanan, makanan siap saji, air mineral, matras, selimut, hygiene kit dan family kit.

    Menyikapi bencana tersebut, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto dan jajarannya diagendakan bertolak menuju Banjarnegara pada hari ini, Senin (17/11/202).

    Kunjungan kerja tersebut dilakukan setelah rombongan BNPB meninjau lokasi bencana longsor Majenang, Cilacap. Hingga saat ini, Pusdalops BNPB masih terus memantau dan mendukung penanganan darurat di kedua wilayah itu.

  • BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap, Jawa Tengah

    BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap, Jawa Tengah

    7cloud.asia – Longsor yang melanda wilayah Cilacap, Jawa Tengah beberapa hari yang lalu dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut hingga terjadi pergerakan tanah.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya hujan berintensitas tinggi di wilayah Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, pada Kamis (13/11/2025).

    Kondisi hujan yang juga berlangsung dalam beberapa hari sebelumnya turut meningkatkan kadar air dalam tanah. Sehingga secara umum dapat meningkatkan kondisi rentan dan berkontribusi pada terjadinya tanah longsor di lokasi tersebut.

    Baca: 10 Korban Longsor di Cilacap Masih Dicari

    Dalam siaran persnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan hasil pengamatan di Pos Hujan Majenang, curah hujan cukup tinggi, yakni masing-masing 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari pada 10–11 November 2025.

    Setelah itu, wilayah tersebut masih mengalami hujan ringan yang mempertahankan kondisi tanah tetap basah hingga akhirnya terjadi pergerakan tanah yang memicu longsor.

    “Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ungkap Guswanto.

    Faktor lainnya adalah kondisi atmosfer. Pola cuaca beberapa hari terakhir memang mendukung terbentuknya awan hujan di wilayah Jawa Tengah.

    Baca: Longsor di Banjarnegara Timbun 27 Warga

    Guswanto menjelaskan adanya aktivitas fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) yang sedang melintas serta gelombang atmosfer lain di kawasan yang sama ikut memperkuat proses pembentukan awan tersebut.

    Pada skala yang lebih luas, peningkatan hujan juga dipengaruhi adanya pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin di sekitar Jawa yang membuat pertumbuhan awan semakin intens.

    “Kondisi atmosfer tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang,” terangnya.

    Baca: BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem

    Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan hasil pemantauan atmosfer, adanya kelembapan udara yang sangat tinggi pada beberapa lapisan, yakni 850 mb, 700 mb, dan 500 mb, dengan nilai mencapai 70–100 persen.

    Kondisi udara yang basah di berbagai ketinggian ini mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Ekstrem periode 11–20 November 2025 di sejumlah wilayah termasuk Cilacap yang meliputi Kecamatan Majenang.

    Baca: Memasuki Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana

    “Pada rilis tersebut juga disampaikan bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19–22 November 2025,” ujar Andri.

    Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto mengatakan BMKG bersama sejumlah instansi terkait akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang mengalami bencana tanah longsor.

    Hal ini perlu dulakukan untuk memudahkan proses evakuasi korban yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di wilayah bencana.

    “Skema penerapan OMC yang disiapkan berfokus pada pengamanan daerah bencana longsor sehingga daerah Majenang terbebas dari hujan deras yang berpotensi memicu longsor susulan atau mengganggu proses evakuasi,” terang Seto.

     

  • Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    7cloud.asia – Musim hujan kini tengah melanda Indonesia. Hal ini menyebabkan harga sayur mayur di beberapa tempat merangkak naik.

    Seperti Pasar Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. dari pantauan 7cloud.asia pada Jumat (21/11/2025), harga cabai merah keriting melonjak menjadi Rp 80.000 per kilogram dari harga Rp 50.000 per kilogram.

    Demikian juga dengan cabai rawit yang naik dari harga Rp 40.000 kini menjadi Rp 50.000 per kilonya. Harga bawang merah juga mengalami kenaikan dari harga Rp 40.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 48.000 per kilogram.

    Baca: Pemerintah Baru, Harga Sembako Tinggi

    Kenaikan juga terjadi pada wortel yang dibanderol menjadi Rp. 20.000 per kilogram dari harga Rp 12.000 per kilogram. Demikian pula dengan tomat yang kini berada pada harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 8000 per kilonya.

    Harga sawi hijau pun tak luput dari kenailkan. Sekilo sawi hijau kini dijual dengan harga Rp 16.000 per kilogram. Harga ini naik dua kali lipat dari harga sebelumnya Rp 8000 per kilogram. Harga pakcoy juga naik menjadi Rp 18.000 per kilogram dari harga Rp 10.000 per kilogram.

    Menurut Adi, salah satu pedagang sayur mayur kenaikan ini terjadi sejak satu minggu terakhir. “Musim hujan, banyak yang banjir, longsor jadi sayuran banyak yang busuk  atau gagal panen,” jelas Adi kepada 7cloud.asia.

    Baca: Harga Sembako Melonjak, Pembeli dan Pedagang Mengeluh

    Kenaikan harga ini juga membuat omsetnya menurun, karena pembeli mengurangi bahkan batal membeli sayuran.

    “Pengaruh banget. Banyak pelanggan yang biasanya beli segini terus dikurangi atau nggak jadi beli karena mahal harganya,” katanya.

    Adi mengaku sudah seminggu ini omset yang ia dapat hanya beberapa ratus ribu saja. Padahal biasanya ia bisa mendapatkan omset 1 hingga 1,5 juta rupiah per hari.

    Dia berharap pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga. Apalagi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2026, dimana harga sayuran dan sembako akan melonjak naik.

  • Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi, Korban Meninggal Terbanyak di Sumatera Utara

    Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi, Korban Meninggal Terbanyak di Sumatera Utara

    7cloud.asia – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sejak 25 November lalu, telah menelan lebih dari 100 korban jiwa. 

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers update penanganan bencana pada Jumat (28/11/2025) sore mengungkapkan korban meninggal Terbanyak ada di wilayah Sumatera Utara.

    Korban meninggal akibat banjir bandang yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara mencapai 116 orang dan 42 orang lainnya masih dalam pencarian.

    “Jumlah ini masih berkembang, karena ada titik-titik yang sampai sekarang belum bisa ditembus,” kata Suharyanto.

    Akibat bencana banjir bandang ini, lebih dari 1000 kepala keluarga (KK) yang mengungsi di sejumlah titik pengungsian.

    Baca: 12 Orang Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Barat

    Selanjutnya Suharyanto menjelaskan jalur transportasi dan komunikasi yang sempat terputus akibat bencana, kini sudah lebih baik kondisinya. Meski masih ada beberapa jalur yang putus seperti jalur Sibolga ke Tarutung.

    Karena itu, pihaknya bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum, Polri, TNI dan pemerintah daerah untuk memperbaiki jalur transportasi yang terputus.

    Selain itu, BNPB juga menyediakan fasilitas starlink untuk berkomunikasi dengan korban.

    BNPB dan Presiden Prabowo Subianto juga telah mengirimkan bantuan untuk masyarakat yang terdampak bencana.

    Bantuan tersebut berupa perlengkapan pengungsi, sembako, pakaian, makanan siap saji, mie instan, tenda, selimut, dan lain-lain.

    Baca: Banjir di Sumatera Utara Telan Korban Jiwa 13 Orang dan Ribuan Orang Mengungsi

    Sementara untuk wilayah Aceh, korban meninggal hingga Jumat sore mencapai 35 orang, 25 orang hilang dan 8 orang luka-luka.

    Suharyanto memaparkan kondisi di Aceh tidak separah di Sumatera Utara. Meski demikian, masih ada sejumlah jalur transportasi yang putus seperti jalan nasional dari Aceh menuju Sumatera Utara.

    Sama seperti wilayah Sumatera Utara, BNPB bekerjasama dengan sejumlah pihak akan memperbaiki jalur transportasi yang putus akibat diterjang banjir dan longsor.

    Bantuan logistik juga telah dikirim dengan menggunakan pesawat cesna serta helikopter ke titik-titik pengungsian.

    Baca: Walhi Sebut Banjir di Sumut Cermin Kegagalan Negara Tangani Kerusakan Lingkungan

    Sedangkan untuk wilayah Sumatera Barat, hingga Jumat sore tercatat 23 orang meninggal dunia, 12 hilang dan 4 orang luka.

    “Ini ketiga provinsi ini relatif bencananya besar, meskipun kalau dibandingkan ya dengan Sumatera Utara, Aceh, ya Sumatera Barat ini relatif lebih ringan. Tapi bukan berarti ini ringan. Kalau dibandingkan dengan Sumatera Barat sendirian ya ini sangat besar dan sangat masif,” jelas Suharyanto.

    Berdasarkan data yang diperoleh BNPB hingga Jumat sore, jumlah pengungsi mencapai 3900 kepala keluarga.

    “Paling parah ada di Tanah Datar, Padang Pariaman. Ada 3000-an lebih pengungsi. Kemudian Solok dan Kota Padang,” urainya.  

    Baca: DPR Dorong Pemerintah Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    Penanganan di wilayah Sumatera Barat sama dengan wilayah Sumatera Utara dan Aceh. Dia menjelaskan pada masa tanggap darurat ini, BNPB bekerjasama dengan berbagai pihak melakukan langkah-langkah awal.

    Langkah-langkah tersebut adalah mengevakuasi korban, mendistribusikan logistik buat masyarakat yang terdampak bencana serta membuka atau memperbaiki jalur transportasi dan komunikasi yang putus.

    “Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan, langkah selanjutnya adalah penanganan para pengungsi kedepannya,perbaikan fasilitas umum dan sebagainya” katanya.   

    Mulai hari ini, lanjut Suharyanto, pihaknya juga telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memaksimalkan proses evakuasi serta pendistribusian bantuan kepada para korban. 

  • Delapan Hari Sebelum Bencana Terjadi, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    Delapan Hari Sebelum Bencana Terjadi, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    7cloud.asia – Sebelum terjadinya banjir bandang dan tanah longsor, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berkali-kali mengeluarkan peringatan dini Siklon Tropis Senyar. Bahkan peringatan dini ini dikeluarkan sejak delapan hari sebelumnya.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam rapat bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menjelaskan Siklon Tropis tersebut menyebabkan cuaca ekstrem di wilayah Sumatera hingga memicu terjadinya banjir dan longsor.

    “Siklon Tropis Senyar itu sudah bisa kita prediksi sekitar delapan hari sebelum proses pembentukan siklon. Jadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Kepala Balai Besar BMKG wilayah 1 sudah memberikan warning (peringatan) delapan hari sebelumnya, diulang lagi empat hari sebelumnya, dan dua hari sebelumnya,” jelas Faisal seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Sisa Siklon Senyar Menjauhi Indonesia, tapi Masih Ada Pengaruh

    Seharusnya, lanjut Faisal, peringatan dini ini dapat segera direspons oleh kepala daerah agar dapat menyampaikan langsung kepada jajaran untuk bergerak dan mengingatkan masyarakat agar waspada.

    Lebih jauh Faisal menjelaskan Indonesia sebenarnya bukan daerah rawan siklon. Namun, terjadi anomali atmosfer pada kasus yang terjadi di wilayah Sumatera.

    Hal ini menyebabkan Siklon Senyar di Selat Malaka memicu hujan lebat dan bencana besar di Aceh, Sumatera Utara, sampai Sumatera Barat.

    Anomali atmosfer, cuaca, seruakan dingin dan berbagai faktor lainnya menyebabkan Siklon Senyar di Selat Malaka, dan pada saat yang sama suhunya sangat hangat sehingga menyebabkan awan hujan terbentuk cukup banyak.

    Baca: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat Selama 2 Hari

    Oleh karena itu, walaupun siklon Senyar berkategori rendah (1-5), dapat menimbulkan bencana yang besar.

    Kondisi diperparah dengan adanya tabrakan antara Siklon Senyar dan Siklon Koto yang menyebabkan hujan lebat yang terjebak di antara dataran Sumatera dan Semenanjung Malaysia, sehingga berputar-putar hujan lebat lebih dari dua hingga tiga hari.

    “Di Pos Langsa (Aceh), tercatat (curah hujan) 380 mm, itu hujan satu bulan dijatuhkan dalam satu hari, jadi bisa kita bayangkan dahsyatnya bencana akibat Siklon Senyar,” ungkap kepala BMKG yang baru dilantik ini.

    Baca: Banjir dan Longsor di Sumatera, Korban Meninggal Capai 442 Orang

    Menurutnya Indonesia harus segera melakukan mitigasi akan siklon tropis yang berulang kali melanda beberapa wilayah.

    Dia mengungkapkan mulai ada bibit siklon yang berkembang menjadi dewasa menjadi siklon tropis, walaupun hal tersebut tidak lazim terjadi di ekuator.

    “Kita harus bersiap-siap bahwa Indonesia tidak lagi menjadi negara yang aman terhadap siklon tropis. Sejak beberapa tahun terakhir, BMKG sudah membentuk pusat peringatan siklon tropis (tropical cyclone warning centre), karena bagaimanapun kita harus waspada dengan ini,” urainya. 

  • Beberapa Kali Melanda Indonesia, Begini Proses Terjadinya Siklon Tropis

    Beberapa Kali Melanda Indonesia, Begini Proses Terjadinya Siklon Tropis

    7cloud.asia – Siklon tropis beberapa kali melanda Indonesia dengan berbagai nama seperti Siklon Tropis Anggrek, Siklon Tropis Seroja, Siklon Tropis Senyar, Siklon Tropis Bakung dan lain-lain. Namun apa sebenarnya siklon tropis?

    Siklon tropis dikenal dengan berbagai istilah di muka bumi, yaitu “badai tropis” atau “typhoon” atau “topan” jika terbentuk di Samudra Pasifik Barat, “siklon” atau “cyclone” jika terbentuk di sekitar India atau Australia, dan “hurricane” jika terbentuk di Samudra Atlantik.

    Siklon tropis dikenal sebagai salah satu fenomena atmosfer paling kuat karena dapat membawa angin kencang, hujan ekstrem, dan gelombang tinggi dalam skala luas.

    Baca: Waspada Siklon Tropis Bakung Picu Hujan Lebat Disertai Angi Kencang di Wilayah Ini

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan siklon tropis merupakan badai dengan kekuatan yang besar dengan radius rata-rata mencapai 150 hingga 200 km.

    Sebelum menjadi siklon tropis, akan muncul bibit siklon tropis yang terbentuk di atas lautan luas dan mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26.5 °C.

    Semakin hangat lautan, semakin besar energi yang memberi “bahan bakar” pada siklon. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.

    Bibit siklon tropis tersebut terbentuk di suatu wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut dengan mata siklon. Diameter mata siklon bervariasi mulai dari 10 hingga 100 km.

    Mata siklon ini dikelilingi dengan dinding mata, yaitu wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km, yang merupakan wilayah dimana terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.

    Baca: Dua Bibit Siklon Tropis Picu Hujan Lebat di Beberapa Wilayah

    Umumnya siklon tropis ini dapat bertahan antara 3 hingga 18 hari. Karena energi siklon tropis didapat dari lautan hangat, maka siklon tropis akan melemah atau punah ketika bergerak dan memasuki wilayah perairan yang dingin atau memasuki daratan.

    Daerah pertumbuhan siklon tropis mencakup Atlantik Barat, Pasifik Timur, Pasifik Utara bagian barat, Samudera Hindia bagian utara dan selatan, Australia dan Pasifik Selatan.

    Sekitar 2/3 kejadian siklon tropis terjadi di belahan bumi bagian utara. Sekitar 65% siklon tropis terbentuk di daerah antara 10° – 20° dari ekuator, hanya sekitar 13% siklon tropis yang tumbuh diatas daerah lintang 20° , sedangkan di daerah lintang rendah (0° – 10°) siklon tropis jarang terbentuk.

    Baca: Delapan Hari Sebelum Bencana di Sumatera, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan sebenarnya kemunculan siklon tropis di sekitar Indonesia bukanlah anomali. Menurutnya fenomena ini memiliki pola periodik yang berulang setiap tahun.

    “Siklon tropis di wilayah Indonesia memiliki periodisasi, belahan Bumi utara itu terjadi di bulan Juni hingga Desember. Kemudian, periodisasi selatan, di belahan Bumi selatan itu terjadi Desember-April, terdapat satu bulan ‘overlapping’ bulan Desember,” jelas Guswanto seperti yang dilansir dari laman RRI, Sabtu (13/12/25).

    Selanjutnya Guswanto memaparkan adanya siklon tropis yang terjadi di waktu yang bersamaan di wilayah utara dan selatan Indonesia menyebabkan siklon tampak lebih sering dalam beberapa pekan terakhir.

    “Seperti saat beberapa minggu yang lalu, itu terjadi di utara ada siklon tropis di selatan juga terjadi. Sehingga itu akan sering terjadi,” katanya.

    Baca: Mengapa Siklon Langka Bisa Melanda Kawasan Tropis?

    Jika siklon tropis mulai terbentuk, maka akan memengaruhi cuaca dalam radius ratusan kilometer. Dampaknya dapat dirasakan bahkan ketika pusat siklon berada jauh dari wilayah pemukiman.

    Seperti yang terjadi di Pulau Sumatera, hujan lebat yang menyebabkan banjir dan banjir bandang. Siklon tropis juga menyebabkan terjadinya angin kencang yang dapat menumbangkan pepohonan, merusak bangunan ringan, dan mengganggu transportasi.

    Intensitas hujan yang tinggi akhirnya menyebabkan pergerakan permukaan tanah yang gundul sehingga terjadi tanah longsor.

    Tak hanya di darat. Siklon tropis juga memengaruhi tinggi gelombang dan badai laut yang dapat mencapai kategori berbahaya bagi nelayan dan pelayaran.