Tag: Slow Living

  • Slow Living Juga Berarti Menjalin Hubungan atau Bonding dengan Lingkungan Sekitar

    Slow Living Juga Berarti Menjalin Hubungan atau Bonding dengan Lingkungan Sekitar

    7cloud.asia – Selamat sore pembaca 7cloud.asia, di Hari Minggu sore ini kita akan kembali berbincang soal slow living.

    Kali ini pembahasan kita akan menyorot salah satu aspek slow living yakni menjadi terhubung dengan lingkungan dan manusia di sekitar kita.

    “Menjalani gaya hidup slow living berarti mengetahui bagaimana gaya hidup Anda berdampak pada lingkungan di sekitar kita dan komunitas global,” tulis vanillapapers.net.

    Baca: Slow living juga berarti sangat menghargai waktu luang

    Dalam tulisan itu disebutkan, menjalani hidup ala slow living adalah penawar dari terus-menerus hidup secara daring dan terputus dari orang lain.

    Berbeda dengan slow living yang dijalankan orang di masa lalu, hidup di dunia maya membuat komunikasi yang dijalankan hanya berupa menjadi komentar dan suka.

    Tidak ada ikatan emosi maupun sentuhan fisik yang membuat hubungan itu terasa lebih bernilai.

    Baca: Kiat menghabiskan malam ala slow living

    Menjalani slow living berarti membina hubungan dengan komunitas dan lingkungan di sekitar kita, menghabiskan waktu pada hubungan yang lebih nilai bagi hidup kita.

    “Ketika Anda salah mengira media sosial sebagai komunikasi nyata, Anda akan merasa kesepian dan lelah,” lanjut tulisan itu. 

    Dan, jika kita bepergian ke satu tempat hanya semata untuk memotret objek wisata utama, bisa jadi Anda akan merugikan komunitas lokal.

    Baca:Cara sederhana mulai menerapkan slow living

    Mengonsumsi tanpa mempedulikan konsekuensinya berarti eksploitasi terhadap manusia, hewan, dan lingkungan di planet ini tidak selaras dengan prinsip slow living..

    Karena, slow living adalah tentang menghargai hubungan nyata dan mengetahui bahwa kita semua saling terhubung.

    Berikut beberapa tip untuk koneksi yang lebih mendalam dengan lingkungan sekitar ataupun tempat yang kita kunjungi:

    1. Temukan kembali seni percakapan dan cobalah beberapa hobi analog seperti permainan papan dan makan malam tanpa telepon di malam hari bersama orang-orang terkasih.

    Baca: Mungkinkah menerapkan slow living di kota yang sibuk

    2. Jadilah pendengar yang baik. Kembangkan persahabatan dengan berusaha bertanya, mengenal orang tersebut secara mendalam, dan simpan ponsel Anda saat makan.

    3. Dukung petani dan pengrajin lokal Anda dengan berbelanja secara lokal dan perdagangan yang adil bila memungkinkan.

    4. Terhubung dengan penduduk setempat saat liburan Anda untuk mendapatkan pengalaman perjalanan yang lebih autentik.

    Baca: 10 prinsip slow living yang dengannya kita dapat berproses

  • Menikmati Hidup Ala Slow Living: Hargai Apa yang Kita Miliki Saat Ini

    Menikmati Hidup Ala Slow Living: Hargai Apa yang Kita Miliki Saat Ini

    7cloud.asia – Menjalani gaya hidup slow living adalah cara hidup yang tidak hanya berarti melambat — tapi juga berarti menjalani hidup yang lebih seimbang.

    Gaya hidup slow living juga berarti menghindari keseharian yang selalu dikejar waktu sehingga bisa benar-benar hadir dan menikmati momen pada saat ini.

    Slow living juga berarti menikmati aktivitas yang benar-benar kita sukai. Tak heran jika, banyak pakar yang menyebut slow living baik untuk kesehatan tubuh, pikiran, dan jiwa kita.

    “Seni menjalani slow living adalah menghargai dunia di sekitar kita saat ini dan menjadikannya sebagai prioritas dalam hidup,” demikian tulis vanillapapers.net.

    Baca: Slow living juga berarti membangun bonding dengan lingkungan sekitar

    Sederhananya, slow living menganjurkan untuk memperlambat dan menikmati apa yang kita miliki saat ini daripada mencoba mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan bekerja berlebihan dan membuat jadwal yang berlebihan. 

    Banyak manfaat yang bisa kita petik dengan menjalani gaya hidup slow living.

    Satu yang utama adalah dapat meningkatkan suasana hati, memperbaiki  pola tidur sekaligus mengurangi tingkat stres yang dapat meningkatkan kesehatan fisik.

    Berikut beberapa manfaat yang bisa kita petik dari menjalani gaya hidup slow living:

    Baca: Slow living artinya sangat menghargai waktu luang

    Menjalani gaya hidup slow living berarti yakin pada pilihan kita dan tidak perlu khawatir untuk mengikuti siapapun.

    Inti gaya hidup slow living adalan pencerminan nilai-nilai sejati yang kita yakini dan percayai. 

    Dengan menjalani gaya hidup slow living kita juga akan lebih sadar diri dan membuat keputusan sesuai kata hati kita. 

    Menjalani gaya hidup slow living akan mengantarkan kita pada hal yang paling penting dalam hidup, seperti orang di sekitar kita dan hubungan kita dengan mereka.

    Baca: Kiat menghabiskan malam ala slow living

    Slow living sangat menekankan pentingnya kesehatan dan kesejahteraan diri, sehingga kita punya  lebih banyak waktu untuk perawatan diri.

    “Dan itu artinya kita dapat dapat menikmati hal yang paling berharga dalam hidup yakni waktu,” imbuh vanillapapers,net. 

    Menjalani gaya hidup slow living juga berati membuang perasaan terlalu banyak bekerja, terlalu terstimulasi, terlalu banyak jadwal, atau kewalahan.

    “Anda mengganti kekacauan dengan kepuasan lewat slow living,” imbuh tulisan itu.

    Baca: 10 prinsip slow living

    Dengan slow living, hidup Anda menjadi lebih bermakna karen akita menjalani hari-hari dengan sikap bersyukur yang akan menghadirkan lebih banyak kegembiraan.

    Dengan cara ini maka stres dan kecemasan akan hilang, sehingga kreativitas dan produktivitas meningkat. 

     

     

  • Seperti Ini Cara Penganut Slow Living Saat Keliling Dunia

    Seperti Ini Cara Penganut Slow Living Saat Keliling Dunia

    7cloud.asia – Dee, demikian namanya. Ia banyak menulis tentang slow living di laman pribadinya, Vanilla Papers.

    Ia meluncurkan Vanilla Papers pada tahun 2018 setelah beberapa tahun bekerja sebagai editor wisata di majalah lokal Mesir.

    “Saya frustrasi dengan panduan klise Kairo yang saya temukan di media online dan artikel yang merekomendasikan kostum tari perut dari poliester sebagai suvenir Mesir yang bagus,” demikian alasan Dee membuat Vanilla Papers.

    Lewat Vanilla Papers, Dee memutuskan untuk menulis cerita perjalanannya keliling dunia sebagai penganut slow living.

    Baca: 10 prinsip gaya hidup slow living

    Cerita ini ditujukan untuk para pelancong yang mencari lebih dari sekadar rencana perjalanan lewat paket wisata.

    “Saya membagikan semua tip dan saran yang saya ketahui ketika saya pertama kali mulai melakukan perjalanan,” terangnya.

    Vanilla Papers adalah tentang perjalanan keliling dunia dari Dee sebagai penganut slow living. Pengelaman Dee melancong ke Dubai dan Taipei hingga Johannesburg.

    Meskipun fokusnya terutama di Mesir, Amerika Barat Daya, dan Eropa – tempat dia  anggap sebagai rumah selama beberapa dekade.

    Baca: Cara sederhana memulai slow living

    Dee menyebut, seritanya ini tentang menjalani perjalanan ala slow living dan pengalaman otentik di dunia yang terobsesi dengan penampilan.

    Vanilla Papers juga membahas tentang slow living dan topik-topik seperti penjurnalan dan kreativitas.

    Tentang gaya wisatanya, Dee menyebut dia suka menjelajahi permata tersembunyi dan destinasi seni.

    “Saya seorang introvert yang suka menyelami daerah yang tenang, kurang dikenal, dan lebih bersifat lokal di kota-kota terkenal,” tulisnya.

    Baca: Mungkinkah menerapkan gaya hidup slow living di kota yang sibuk?

    Ia menambahkan, “Saya biasanya bepergian dengan anggaran menengah dan saya suka memanjakan diri saya dengan penginapan dan resor mewah – terutama ketika hal dikelilingi oleh alam.

    Dee juga menyukai toko buku kecil yang unik dan independen, galeri seni, butik mewah, serta sejarah dan budaya lokal.

    Tempat-tempat menyenangkan saya termasuk pondok ramah lingkungan, protektorat, dan jalur hiking pedesaan.

    Jadi seperti itulah kisah perjalanan keliling dunia Dee, seorang penganut slow living.

    Dan, selama bertahun-tahun menjalani slow living ini Dee mengaku hidupnya lebih berarti dan dia merasa lebih bahagia. 

    Sumber: vanillapapers.net

  • Menutup Tahun 2025: Menata 2026 dengan Konsep Slow Living

    Menutup Tahun 2025: Menata 2026 dengan Konsep Slow Living

    7cloud.asia – Dalam era modern yang serba cepat, banyak orang merasa makin terjebak dalam rutinitas sehari-hari yang penuh dengan tekanan.

    Jika Anda merasakan hal yang sama, maka di penghujung tahun ini, coba sejenak mengambil jeda dan melihat ke belakang apa yang telah kita lakukan untuk kemudian menata kembali hidup jadi lebih bermakna

    Jika Anda merasa bahwa gaya hidup yang dijalani saat ini terlalu cepat dan penuh tekanan, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mencoba slow living.

    Slow living adalah salah satu gaya hidup yang banyak diterapkan oleh orang-orang yang ingin mencapai keseimbangan dalam hidupnya. Seperti halnya dengan frugal living, slow living memerlukan komitmen dan perubahan pola pikir.

    Beberapa tahun belakangan, konsep hidup yang dikenal dengan istilah slow living semakin hangat diperbincangkan dan kian dilirik banyak orang.

    Konsep hidup slow living dianggap mampu menawarkan solusi untuk mengatasi jebakan rutinitas yang membuat banyak orang menjalani hidupnya ibarat mesin. Mereka kehilangan makna hidup atau bahkan tak bisa menikmati hidupnya

    Baca: Slow traveling jadi cara berlibur yang lebih bermakna

    Sejarah slow living
    Lantas, apa itu slow living dan bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Ungkapan “alon-alon asal kelakon” yang sering dilontarkan masyarakat Jawa rasanya sangat pas untuk menggambarkan konsep slow living.

    Slow living adalah gaya hidup yang menekankan pada makna dan kualitas dibandingkan kuantitas dan pencapaian.

    Alih-alih berpacu dengan waktu dan terjebak dalam rutinitas yang padat, seperti namanya konsep slow living ini mendorong kita untuk melambatkan laju kecepatan dan menikmati setiap momen dalam hidup kita.

    Namun, menjalani konsep slow living bukan berarti menjadi orang yang pemalas, tetapi lebih kepada menghargai dan menikmati proses dan tahapan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

    Gerakan slow living awalnya berkembang di Italia pada tahun 80-an sebagai bentuk penentangan terhadap budaya fast food dan industri makanan besar melalui Slow Food Movement.

    Gerakan slow food movement ini kemudian berkembang menjadi konsep slow living yang lebih luas dengan menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan.

    Baca: Menikmati hidup ala slow living

    Tips Memulai Slow living
    Ada beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan untuk mulai menjalani slow living sebagai gaya hidup sehari-hari, seperti:

    1. Mulai dari hal kecil
    Mulailah dengan mengubah kebiasaan sehari-hari. Misalnya, makan dengan perlahan dan nikmati setiap suapan makananmu tanpa membalas pesan-pesan yang masuk di aplikasi pengirim pesan pada gadget-mu.

    2. Hindari multitasking
    Cobalah untuk fokus pada satu tugas di satu waktu ketimbang mencoba untuk melakukan banyak hal sekaligus.

    3. Luangkan waktu untuk diri sendiri
    Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang ringan, seperti membaca buku, berkebun, atau meditasi. Selain itu, kamu juga bisa luangkan waktu di tengah rutinitas yang padat dalam satu minggu dengan menjalani hobi sebagai salah satu media untuk stress release.

    4. Batasi penggunaan media sosial
    Media sosial dapat membuat kita merasa terburu-buru, FOMO, dan berujung stres. Cobalah untuk mengurangi penggunaan media sosial dan nikmati waktumu tanpa gangguan dari dunia maya.

    5. Menerapkan praktik mindfulness
    Teknik mindfulness adalah praktik meningkatkan kesadaran diri dan konsentrasi pada momen saat ini tanpa mengkhawatirkan masa depan. Jadi tak heran jika praktik ini mampu untuk mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup.

    Ingatlah bahwa perubahan tidak bisa dilakukan secara drastis. Mulailah dengan langkah kecil dan lihatlah bagaimana perubahan tersebut dapat meningkatkan kualitas hidupmu secara perlahan namun pasti.

    Baca: Slow living sangat menghargai waktu luang

    Manfaat Slow Living
    Menjalani hidup dengan konsep slow living dapat memberikan berbagai manfaat, termasuk:

    1. Lebih bahagia
    Dengan fokus pada hal-hal kecil yang dulunya sering kita abaikan, ternyata bisa membuat kita merasa lebih bahagia. Misalnya, menikmati alam atau jalan-jalan bersama teman atau keluarga tanpa ada notifikasi telepon genggam.

    2. Membuat keputusan yang bijaksana
    Selain lebih bahagia, slow living memudahkan kita untuk bisa membuat keputusan yang lebih bijaksana dan berpikir lebih jernih, karena kita tidak terburu-buru oleh waktu.

    3. Mampu menempatkan prioritas
    Dengan slow living, kita bisa memprioritaskan waktu untuk hal yang benar-benar penting sesuai porsinya masing-masing. Meskipun harus dilakukan dengan perlahan dan memakan waktu yang tidak sebentar, tapi lambat laun pasti hasilnya akan terasa.

    4. Work life balance
    Konsep ini juga membuat hubungan antara pekerjaan, bersosialisasi, dan kehidupan pribadi menjadi lebih seimbang dan terjaga.

  • 10 Kota di Indonesia yang Cocok untuk Jalani Gaya Hidup Slow Living

    10 Kota di Indonesia yang Cocok untuk Jalani Gaya Hidup Slow Living

    7cloud.asia – Jika Anda mulai merasa lelah dengan kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan di kota besar, mungkin saatnya mempertimbangkan menjalani hidup dengan konsep slow living.

    Ya, di tengah hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, tren slow living mulai mendapat tempat di hati banyak orang.

    Konsep hidup ini mengajarkan kita untuk memperlambat ritme kehidupan, lebih menikmati momen kecil, dan menyeimbangkan antara pekerjaan dengan kebahagiaan pribadi. Jauh dari kata-kata terburu-buru dan bebas dari kejaran target dan keinginan, itulah esensi slow living.

    Untuk menjalani slow living kita hanya perlu memperlambat langkah, mengurangi keinginan, menarik napas dalam, dan menikmati setiap momen yang terjadi setiap harinya.

    Namun, gaya hidup slow living bukan berarti meninggalkan modernitas sepenuhnya. Slow living adalah cara untuk menata ulang prioritas hidup, memilih kualitas dibanding kuantitas, ketenangan dibanding kesibukan tanpa arah.

    Slow living bukan berarti malas-malasan, melainkan bergerak dengan kesadaran. Jika Anda tertarik menjalani konsep slow living, Indonesia, dengan keberagaman budaya dan alamnya, memiliki banyak kota yang cocok untuk gaya hidup slow living ini.

    Entah itu di Ubud yang spiritual, Yogyakarta yang hangat, atau Malang yang sejuk, setiap kota menawarkan versi ketenangan yang berbeda. Berikut 10 kota terbaik di Indonesia untuk menjalani gaya hidup slow living, yang kami rangkum dari berbagai sumber.

    Sepuluh kota ini menunjukkan bahwa Indonesia punya banyak tempat yang bisa menjadi pelarian dari hiruk-pikuk dunia modern, tanpa harus kehilangan kenyamanan dan produktivitas.

    Baca: Menatap 2026 dengan gaya hidup slow living

    1. Ubud, Bali
    Ubud sering disebut sebagai jantung spiritual Bali. Dikelilingi oleh sawah hijau, sungai, dan hutan tropis, Ubud menjadi magnet bagi mereka yang ingin menjalani hidup yang lebih sadar dan selaras dengan alam.

    Banyak yang datang ke Ubud yang sering disebut sebagai pusat spiritualitas dan ketenangan alam untuk healing, meditasi, atau sekadar menikmati suasana damai di kafe berkonsep eco-friendly.

    Selain itu, komunitas digital nomad dan pekerja lepas juga tumbuh pesat di Ubud, menjadikannya tempat ideal bagi mereka yang ingin tetap produktif tanpa meninggalkan ketenangan.

    Dengan banyaknya yoga retreat, restoran organik, dan galeri seni, Ubud menawarkan keseimbangan antara spiritualitas dan kehidupan modern yang harmonis.

    2. Yogyakarta
    Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar, tapi juga kota yang penuh nilai budaya dan kesederhanaan. Kota Yogyakarta selalu menawarkan kehangatan yang penuh Makna

    Warga Yogyakarta hidup dengan tempo yang lebih pelan dibandingkan kota besar lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi guyub (kebersamaan) dan keikhlasan dalam keseharian.

    Kehidupan di Yogyakarta terasa lebih tenang, dengan biaya hidup yang terjangkau dan akses mudah ke alam seperti Kaliurang atau Pantai Parangtritis.

    Sore hari bisa dihabiskan menikmati kopi di angkringan sambil berbincang santai, sebuah kemewahan sederhana yang sering hilang di kota metropolitan.

    Baca: Menerapkan slow living di dunia kerja yang sibuk

    3. Malang
    Terletak di dataran tinggi Jawa Timur, Malang menawarkan kesejukan udara, keindahan alam dan kedamaian yang membuat siapa pun betah berlama-lama.

    Kota ini dikelilingi oleh pegunungan dan kebun apel yang asri, menjadikannya tempat sempurna untuk menjalani gaya hidup slow living.

    Penduduk Malang dikenal ramah dan santun. Aktivitas di sini tidak seramai Surabaya atau Jakarta, namun tetap ada fasilitas lengkap seperti kampus, kafe, dan tempat wisata.

    Bagi mereka yang ingin bekerja dari jarak jauh atau menikmati masa pensiun dengan tenang, Malang bisa menjadi pilihan ideal.

    4. Bandung
    Meski Bandung dikenal sebagai kota besar, beberapa wilayahnya seperti Lembang, Dago Pakar, dan Punclut masih menyimpan ketenangan yang cocok untuk slow living.

    Di sini, udara pegunungan berpadu dengan budaya kreatif khas anak muda yang menguarkan energi tenang

    Kehidupan di Bandung bisa diatur dengan seimbang: pagi menikmati kopi di kafe kecil, siang bekerja di co-working space, dan sore bersantai menikmati matahari terbenam di dataran tinggi.

    Kota Bandung memadukan sisi modern dan alam secara harmonis, cocok untuk mereka yang ingin produktif tanpa kehilangan ketenangan batin.

    Baca: Menjalani hari secara slow living

    5. Solo 
    Solo adalah kota yang mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa dengan sangat kuat. Slogan “Solo The Spirit of Java” bukan sekadar kata-kata; warganya benar-benar hidup dalam keseimbangan antara tradisi dan kehidupan modern.

    Ritme hidup di Solo terasa lambat namun bermakna. Tidak banyak kemacetan, biaya hidup relatif rendah, dan masyarakatnya sangat ramah.

    Di sela waktu, Anda bisa menikmati keraton, kuliner khas seperti tengkleng atau serabi, serta berbagai kegiatan budaya yang masih lestari. Solo cocok bagi mereka yang mendambakan hidup sederhana namun kaya akan pengalaman batin.

    6. Banyuwangi
    Banyuwangi mungkin tidak sepopuler kota besar lainnya, namun pesonanya justru terletak pada keseimbangan antara kemajuan dan ketenangan.

    Kota di ujung timur Pulau Jawa ini dikelilingi pantai, gunung, dan taman nasional, menciptakan suasana hidup yang dekat dengan alam.

    Warga Banyuwangi hidup dalam kesederhanaan, namun pemerintah daerahnya juga mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan. Bagi yang ingin bekerja jarak jauh sambil menikmati keindahan alam, Banyuwangi bisa menjadi rumah yang damai dan produktif.

    7. Lombok
    Bagi pencinta laut dan alam terbuka, Lombok adalah surga yang sempurna untuk slow living. Tidak sepadat Bali, pulau ini menawarkan pantai bersih, gunung megah, serta masyarakat lokal yang hangat.

    Kamu bisa memulai hari dengan berjalan di tepi pantai, lalu menikmati sarapan dengan pemandangan Gunung Rinjani. Tidak ada terburu-buru di sini, semua berjalan dengan tenang dan alami.

    Banyak ekspatriat maupun warga lokal yang memilih Lombok sebagai tempat tinggal karena ritme hidupnya yang damai dan lingkungan yang masih alami.

    Baca: Menemukan kedamaian dengan gaya hidup minimalis

    8. Bukittinggi 
    Di jantung Sumatera Barat, Bukittinggi menawarkan perpaduan keindahan alam pegunungan dan nilai-nilai budaya Minangkabau yang kental. Suhu udaranya sejuk sepanjang tahun, dengan pemandangan lembah dan tebing yang menenangkan.

    Kota ini cocok bagi mereka yang ingin menjauh dari kebisingan kota besar. Kehidupan di Bukittinggi terasa lambat, tetapi sarat makna, setiap pagi dimulai dengan udara segar dan senyum penduduk lokal yang ramah. Selain itu, pasar tradisional dan kuliner lokal menambah nuansa hidup yang hangat dan membumi.

    9. Tana Toraja
    Tana Toraja di Sulawesi Selatan dikenal karena budaya dan adatnya yang sangat unik. Warga di sini hidup dengan ritme yang mengikuti alam, bukan jam modern. Mereka masih menjaga hubungan erat dengan keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar.

    Menjalani slow living di Toraja berarti belajar hidup dengan kesadaran penuh, menghargai setiap momen, bekerja secukupnya, dan menikmati hasil alam dengan rasa syukur.

    Lanskap pegunungannya yang hijau, udara segar, dan kehidupan tradisional menjadikan Toraja tempat ideal untuk merenung dan menemukan kedamaian.

    10. Kupang 
    Kupang di Nusa Tenggara Timur mungkin tidak banyak disebut, tapi kota ini memiliki daya tarik unik untuk mereka yang mencari ketenangan sejati.

    Laut biru yang jernih, pantai panjang tanpa keramaian, dan masyarakat yang ramah menjadikan Kupang tempat ideal untuk hidup dengan ritme pelan.

    Biaya hidup di Kupang juga relatif rendah, dan konektivitas digital kini semakin baik. Banyak orang mulai melirik wilayah timur Indonesia ini untuk hidup lebih sederhana, terhubung dengan alam, dan jauh dari stres kota besar.

     

  • Menikmati Liburan Ala Penganut Slow Living di Wando

    7cloud.asia – Buat Anda pengikut konsep slow living yang sedang mencari slow city untuk berlibur, Pulau Wando di Korea Selatan bisa menjadi pilihan.

    Wando adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jeolla Selatan yang terletak di ujung selatan Semenanjung Korea.

    Wando memiliki slow city utama yaitu Pulau Cheongsando (Cheongsando Island), yang merupakan slow city pertama di Asia.

    Wando, yang terdiri dari pulau utama dan banyak pulau kecil lainnya, terkenal dengan keindahan alam dan budayanya yang kaya. Pemandangan biru laut dan langit, sawah terasering unik (gujeoljang-non), serta jalan setapak lambat yang indah (Cheongsando slow road).

    Semua ini membuat Wando menawarkan pengalaman wisata yang damai, dengan budaya lokal yang kuat, makanan laut segar seperti abalon, dan suasana pedesaan yang menenangkan.

    Sebuah tujuan wisata yang ideal untuk relaksasi dan menikmati keindahan alam secara perlahan yang menjadi pilihan pengikut slow living.

    Baca: Konsep Slow City Kota Solo, tawarkan pengalaman wisata yang berbeda

    Tak heran, jika Wando pada tahun lalu dipilih menjadi tuan rumah bagi Kongres Gerakan “Cittaslow” (Kota Lambat).

    Gerakan ini bertujuan untuk mempromosikan kualitas hidup yang lebih baik dengan menciptakan lingkungan yang manusiawi dan berkelanjutan, fokus pada efisiensi yang lambat dan alami.

    Wando terhubung ke daratan utama Korea Selatan melalui jembatan, sehingga bisa diakses dengan bus atau mobil. Untuk mengunjungi Wando bisa lewat Seoul ataupun Pulau Jeju

    Dari Seoul
    Tidak ada rute langsung dari Seoul ke Wando. Opsi termudah adalah dengan kombinasi transportasi umum. Naik kereta cepat (KTX/SRT) dari Seoul ke stasiun terdekat, seperti Stasiun Gwangju-Songjeong atau Stasiun Gunsan.

    Dari sana, lanjutkan perjalanan dengan bus antarkota atau taksi menuju Wando. rjalanan bus dari Gwangju ke Wando-eup memakan waktu sekitar 2 jam 17 menit.

    Anda juga bisa naik bus langsung dari Terminal Bus Dongseoul (Gangbyeon Station) ke Wando, meskipun waktu perjalanannya lebih lama.

    Dari Pulau Jeju
    Terdapat layanan feri reguler antara Jeju dan Wando yang dioperasikan oleh Hanil Express. Perjalanan feri ini merupakan yang tercepat ke daratan utama, dengan durasi sekitar 2 jam 40 menit. Anda bisa memesan tiket melalui situs seperti Direct Ferries atau Klook Travel.

    Baca: Konsep Slow City terbukti lebih memanusiakan warga kota

    Transportasi Lokal: Di dalam Wando, transportasi umum belum berkembang pesat, jadi menyewa mobil adalah pilihan yang disarankan untuk fleksibilitas menjelajahi berbagai objek wisata di pulau ini.

    Untuk mencapai Cheongsando, Anda perlu naik feri dari Pelabuhan Wando, dengan waktu perjalanan sekitar satu jam.

    Keunikan Cheongsando (Wando)
    Pemandangan Alam: Laut biru, pegunungan hijau, dan hamparan batu yang ikonik.
    Cheongsando Slow Road: Jalur jalan kaki sepanjang sekitar 42 kilometer yang terbagi menjadi 11 rute, mengajak pengunjung untuk menikmati alam dan desa secara perlahan.

    Sawah Terasering Gujeoljang-non: Sawah bertingkat yang khas dan menarik secara visual.
    Budaya Lokal: Dikenal dengan keramahan penduduknya, ritual pemakaman unik, dan para penyelam perempuan (Haenyeo) yang mengumpulkan abalon.

    Lokasi Syuting: Menjadi latar belakang drama Korea populer seperti Jumong dan Spring Waltz.

    Hal yang bisa dilakukan:
    Menjelajahi Slow Road dengan berjalan kaki atau sepeda.
    Mengunjungi pantai-pantai indah seperti Jiri Beach.
    Mencicipi abalon Wando yang terkenal dan hidangan laut lainnya.
    Menyaksikan matahari terbenam di laut.

    Baca: Mengenal Cittaslow yang mendorong gerakan slow city di dunia

     

  • Belanja Ala Penganut Gaya Hidup Slow Living: Tinggalkan yang Tak Perlu

    Belanja Ala Penganut Gaya Hidup Slow Living: Tinggalkan yang Tak Perlu

    7cloud.asia – Gaya hidup slow living disebut selain bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental, slow living juga bisa memberikan dampak baik pada kondisi keuangan.

    Menjalani prinsip slow living bakal mempengaruhi cara seseorang dalam berbelanja dan memiliki barang. Gaya hidup slow living secara signifikan akan mengurangi keinginan belanja secara impulsif.

    Kesadaran dan kebijaksanaan dalam slow living tentu dapat membentuk pola pikir yang lebih sehat dan mengambil keputusan berbelanja.

    Belanja ala slow living adalah tentang membeli dengan penuh kesadaran (mindful), mengurangi konsumsi impulsif, fokus pada kualitas daripada kuantitas, memilih produk berkelanjutan dan etis.

    Penganut slow living juga mengedepankan nilai dan kegunaan agar hidup lebih sederhana, tenang, dan bermakna, bukan sekadar mengikuti tren atau gaya hidup cepat.

    Belanja ala slow living juga berarti lebih menghargai proses, kualitas, dan dampak dari setiap barang yang dibeli, serta menghindari barang yang tidak perlu.

    Baca: 10 Prinsip gaya hidup slow living

    Berikut prinsip utama belanja ala slow living:

    1. Mengonsumsi secara sadar (mindful consumption):
    Berpikir sebelum membeli; apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, akan sering dipakai, dan memberikan nilai jangka panjang?.

    2. Mementingkan kualitas
    Investasi pada barang berkualitas tinggi yang tahan lama daripada membeli banyak barang murah yang cepat rusak (anti-fast fashion).

    3. Mengedepankan prinsip berkelanjutan & etika
    Memilih produk lokal, organik, daur ulang, atau yang diproduksi secara etis untuk mendukung lingkungan dan komunitas.

    4. Fungsional
    Sejalan dengan minimalisme, penganut slow living hanya menyimpan barang yang benar-benar bermanfaat atau memberikan kebahagiaan, mengurangi kepemilikan barang yang tidak perlu.

    5. Memprioritaskan pengalaman
    Penganut slow living lebih memilih mengalokasikan dana untuk pengalaman (liburan, pengembangan diri) daripada barang material semata.

    Baca: Cara sederhana memulai gaya hidup slow living

    6. Menghargai proses
    Penganut slow living tidak akan pernah terburu-buru, mereka menikmati proses mencari, memilih, dan menggunakan barang, bukan hanya hasil akhirnya.

    Lantas bagaimana prinsip-prinsip di atas dapat diterapkan bagi pemula? Pertama, mulai kurangi belanja secara impulsif. Jauhi diskon besar-besaran dan godaan promosi yang tidak terencana.

    Kedua, lakukan “detoks” belanja dengan mengurangi kurangi frekuensi belanja dan manfaatkan semaksimal mungkin apa yang sudah dimiliki.

    Ketiga, pilih barang serbaguna dengan mencari barang yang memiliki banyak fungsi. Ini akan mengurangi item barang yang ada di lemari Anda.

    Keempat, beli produk lokal, baik di pasar tradisional atau warung tetangga sebelah. Cara ini akan mendukung UMKM dan mendapatkan barang yang lebih otentik.

    Kelima, manfaatkan barang yang sudah ada semaksimal mungkin. Membeli barang baru hanya jika barang yang ada benar-benar tidak bisa dipergunakan. Jika ada yang rusak cobalah memperbaiki, gunakan kembali, atau daur ulang.

    Terakhir, jangan terburu-buru dan nikmati prosesnya. Lakukan riset mendalam sebelum membeli, kunjungi toko dengan tenang, dan rasakan setiap momennya.

    Baca: Menata tahun 2026 dengan konsep slow living

  • Atasi Rintangan Jalani Gaya Hidup Slow Living di Kota Besar dengan Terapkan Pilar Ikigai

    Atasi Rintangan Jalani Gaya Hidup Slow Living di Kota Besar dengan Terapkan Pilar Ikigai

    7cloud.asia – Gaya hidup slow living makin dilirik, karena semakin banyak orang merasa lelah dengan kehidupan modern yang serba cepat dan disesaki dengan beragam tuntutan.

    Ya, di tengah hidup yang serba cepat dengan teknologi dan pengejaran yang tak pernah henti terhadap banyak hal, gaya hidup slow living seolah memberi udara segar.

    Namun demikian, menjalani gaya hidup slow living bukan hal mudah diwujudkan di tengah masyarakat yang cenderung mengagungkan produktivitas dan capaian fisik/materi.

    Untuk benar-benar menjalani gaya hidup slow living, seseorang perlu memiliki pola pikir, kemauan dan kebersediaan untuk mendorong keinginannya mengatasi ekspektasi dan tekanan sosial.

    Untuk menjalani hidup secara slow living di kota besar, mungkin Anda harus melibatkan emosi untuk mengatasi rasa bersalah karena harus sering meluangkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri.

    Untuk mengatasi resistensi ini, sadari bahwa mencintai dan merawat diri sendiri tak berarti Anda egois; sebaliknya, itu perlu untuk menjaga keseimbangan dan meningkatkan pengembangan ketahanan.

    Baca: 10 Prinsip gaya hidup slow living

    Tudingan bahwa mencintai diri sendiri adalah egois juga tak sepenuhnya benar. Karena slow living juga berarti memperbanyak kehadiran secara sadar pelakunya pada lingkungan yang kemudian menciptakan bonding atau ikatan dengan tempat tinggal dan komunitas terdekatnya.

    Jadi gaya hidup slow living bukan hanya tentang menjalani hidup dengan lebih lambat, tetapi juga tentang kesadaran dan menghargai momen sambil menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.

    Slow living adalah menjalani hidup dengan penuh kesadaran lewat seni memperlambat diri untuk menghargai setiap momen kehidupan.

    Untuk mengatasi resistensi dari lingkungan sekitar, pelaku slow living perlu memiliki dasar rasional berupa kualitas di atas kuantitas dan kesadaran penuh, berniat untuk hidup daripada membiarkan hidup berlalu dengan gangguan.

    Gaya hidup slow living berakar pada kedalaman warisan dan nilai-nilai budaya, rasa memiliki, kehidupan sederhana, dan hidup selaras dengan alam.

    Memahami nilai filosofis Jepang “Ikigai” mungkin akan sangat membantu bagi mereka yang ingin menjalani gaya hidup slow living namun tetap tinggal di kota yang sibuk.

    Baca: Menata tahun 2026 dengan prinsip slow living

    Ikigai adalah filosofi Jepang yang menekankan pada penemuan tujuan hidup, serta bagaimana mencapainya. Ikigai mencari tujuan dan makna dalam segala hal yang dilakukan, muncul dalam berbagai cara lain, pada waktu yang berbeda

    Dengan cara ini Anda dapat menemukan tujuan hidup yang jelas dan lebih termotivasi tanpa harus larut dalam arus.

    Ikigai berasal dari kata “iki” yang berarti kehidupan dan “gai” yang berarti alasan, sehingga ikigai bisa diartikan sebagai alasan untuk menjalani hidup.

    Inti dari filosofi ikigai adalah menemukan persimpangan antara apa yang disukai, apa yang dibutuhkan, apa yang bisa dilakukan dengan baik, dan apa yang bisa Anda bayar.

    Filosofi ini bukan hanya tentang kesuksesan atau kekayaan, melainkan tentang menemukan makna dalam kehidupan sehari-hari dan kebahagiaan di dalamnya.

    Filosofi ikigai memiliki lima pilar yakni memulai dari langkah sederhana yang Anda sukai dan nikmati prosesnya, membebaskan diri dan menjadi diri sendiri sepenuhnya, menekankan pentingnya keseimbangan antara diri sendiri dan lingkungan sekitar, menarik kebahagiaan dari hal-hal kecil, dan hadir di tempat dan waktu sekarang.

    Baca: Cara sederhana memulai slow living

  • Berpolitik Ala Slow Living: Terlibat dalam Isu Publik Secara Selektif

    Berpolitik Ala Slow Living: Terlibat dalam Isu Publik Secara Selektif

    7cloud.asia – Menjalani gaya hidup slow living bakal mempengaruhi cara seseorang dalam menjalani hidupnya. Karena pronsip slow living adalah menjalani hidup sesuai kebutuhan maka banyak pelakunya yang kemudian menjadi apolitis.

    Tetapi sebenarnya, Anda tetap bisa menjadi pelaku gaya hidup slow living tanpa harus menghindari dunia politik yang bagi sebagian besar orang dinilai terlalu bising dan riuh untuk diikuti.

    Politik boleh bising, tapi sebagai pelaku gaya hidup slow living kita tetap punya kehendak untuk tidak terlalu merisaukannya, dan bersikap secukupnya dalam melihat praktik politik.

    Slow living berpolitik adalah pendekatan sadar untuk terlibat dalam isu publik dengan kecepatan yang lebih lambat, fokus pada kualitas dampak daripada kuantitas keterlibatan, serta menjaga kesehatan mental.

    Bisa dikatakan, berpolitik ala slow living bukan bersikap apatis, melainkan memilih isu secara selektif, mengedepankan refleksi, dan menghindari kebisingan politik transaksional demi keberlanjutan.

    Baca: Menjalani gaya hidup slow living di kota yang sibuk

    Secara ringkas, slow living berpolitik adalah tentang “mengurangi kecepatan dan meningkatkan makna” dalam berpartisipasi di ruang publik.

    Kita dapat melibatkan diri dalam debat isu publik dan percaturan politik dengan cara Gus Dur, yakni secara sederhana dan tak berlebihan.

    Penting disadari, siapapun yang memimpin negara akan mempengaruhi arah perjalanan bangsa, karena itu sebagai pelaku slow living, kita perlu bijak memilih pemimpin dan wakil rakyat yang duduk di DPR.

    Karena itu menerapkan slow living dalam berpolitik berarti menggunakan mindfulness atau kesadaran penuh untuk memproses informasi politik.

    Berani mengatakan “tidak” pada isu yang tidak substansial, dan mengutamakan aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat luas dibanding sekadar komentar di media sosial.

    Baca: Cara sederhana memulai gaya hidup slow living

    Berikut beberapa poin penting bagaimana slow living dalam berpolitik:

    Esensi Politik Slow Living:
    Melibatkan diri secara mendalam pada satu atau dua isu penting, bukan ikut serta dalam setiap perdebatan. Ini menolak “kesibukan” politik yang melelahkan.

    Strategi Bertahan (Prekariat):
    Dalam situasi krisis, ini menjadi mekanisme koping dengan menyederhanakan tuntutan hidup, mengurangi ketergantungan pada sistem yang serba cepat, dan berfokus pada komunitas lokal.

    Kesehatan Mental & Kebijakan:
    Pendekatan ini merespons rentannya politisi atau aktivis terhadap burnout dan depresi akibat tekanan tinggi, dengan menjaga keseimbangan emosi dan menghindari perilaku reaktif.

    Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelegence/AI).

     

     

  • Banyak Orang Ingin ‘Slow Living’, Tapi Tak Banyak yang Mampu Mewujudkannya

    Banyak Orang Ingin ‘Slow Living’, Tapi Tak Banyak yang Mampu Mewujudkannya

     

    7cloud.asia – Menatap layar ponsel lengkap dengan notifikasi yang menumpuk sejak pagi, koordinasi grup yang memanas, dan algoritma peta digital bahkan sebelum tiba di kantor, adalah potret keseharian kaum pekerja (termasuk kami para penulis) di Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya.

    Di tengah rutinitas yang seolah tak berujung, konten slow living (hidup tenang) di media sosial jadi pelarian. Bagaimana tidak, konten-konten tersebut memaparkan gambaran hidup yang tampak begitu tenang dan damai, dengan waktu sarapan panjang berlatar perbukitan dan persawahan hijau.


    Namun, kegelisahan warga kota sebenarnya jarang berkaitan dengan kerinduan romantis akan desa. Nyatanya yang kita idamkan bukan gaya hidup pedesaan, melainkan kedaulatan atas waktu yang terkikis akibat sistem kerja modern.

    Kenapa hal ini penting untuk kita diskusikan?

    Memahami waktu sebagai instrumen politik dan ekonomi membantu kita melihat bahwa ‘melambat’ bukanlah pilihan gaya hidup. Ini adalah kegagalan sistem ekonomi kita, yang memicu kemiskinan waktu dan penurunan produktivitas jangka panjang.

    Sejarah slow living

    Untuk memahami makna slow living, kita perlu melacak akarnya yang sebenarnya sangat politis dan ekonomis. Gerakan ini tidak lahir dari tren influencer media sosial, melainkan dari aksi protes di Roma, Italia, pada tahun 1986.

    Kala itu, warga setempat memprotes pembukaan gerai McDonald’s di Piazza di Spagna, Roma. Protes ini melahirkan gerakan slow food yang memprotes standardisasi makanan cepat saji (fast food) karena merusak budaya lokal, kualitas pertanian, dan kesehatan.

    Pada akhir 1990-an, muncul konsep cittaslow (slow cities) di Italia yang mengharapkan kehidupan kota yang lebih memprioritaskan kualitas hidup di atas sekadar efisiensi industri. Belakangan, di tengah kejemuan modernitas yang menuntut kerja dengan tingkat produktivitas dan kecepatan tanpa henti, kritik warga semakin menyeluruh hingga menyentuh seluruh aspek kehidupan.

    Jam dan waktu, dalam sudut pandang ekonomi kapitalisme, bukan lagi penunjuk waktu, tapi sudah menjadi perangkat sosiologis yang memastikan tenaga kerja tetap terukur dan produktif. Sejarawan E. P. Thompson menyebutnya sebagai time-work discipline (kedisiplinan waktu kerja).

    Di era digital saat ini, disiplin ini bermutasi menjadi akselerasi sosial. Perkembangan teknologi yang diharapkan memangkas waktu kerja justru menciptakan paradoks. Ia tidak benar-benar memberi kita waktu luang.

    Teknologi justru mendorong optimalisasi tiada henti di semua lini seperti ekonomi, sosial, dan personal. Alhasil, waktu tidak lagi milik individu, tapi aset yang dimanfaatkan terus oleh sistem ekonomi.

    Tak semua kaum urban bisa slow living

    Apakah mungkin mempraktikkan hidup pelan di perkotaan? Jawabannya tentu bisa.

    Tentu bentuknya bukan seperti di desa, melainkan apa yang kita sebut sebagai selective slowness (kelambatan selektif) yang terbatas.

    Secara ekonomi, warga kota mengalami time poverty (kemiskinan waktu). Riset menunjukkan bahwa kemiskinan waktu dan kemiskinan pendapatan sering kali saling memperkuat.

     

    Slow living menjelma sebagai upaya membangun benteng pertahanan di tengah hiruk-pikuk seperti bepergian di akhir pekan. Namun, sayangnya tidak semua kalangan pekerja bisa melakukannya.

    Bagi pekerja kerah putih dengan gaji stabil, memilih untuk “mati lampu” di akhir pekan mungkin bisa digapai. Namun, bagi pekerja informal atau komuter yang menghabiskan waktu lama di jalan, melambat adalah sebuah kemewahan. Melambat akhirnya menjadi mustahil kita lakukan tanpa perubahan struktural dan kelas pekerja.

     

    Jika slow living hanya menjadi hak istimewa individu berduit, warga kota sisanya akan terus terjebak dalam siklus kerja tak berujung. Ini terakumulasi menjadi jebakan psikologis karena masalah struktural yang dipahami sebagai kegagalan personal.

     

    Mayoritas warga kota tidak “sibuk” karena produktif, melainkan karena terjebak dalam transisi yang mengikis porsi waktu pemulihan fisik maupun mentalnya (recovery time). Tanpa waktu pulih yang cukup, mereka akan burnout (kelelahan) dan berujung pada penurunan kualitas kesehatan mental dalam jangka panjang.

    Perlunya intervensi pemerintah dan perbaikan sistem

    Melambat di tengah kota yang hiruk-pikuk adalah sebuah tindakan subversif (berontak akan suatu sistem). Dengan sengaja memutus koneksi atau menunda respons, kita sedang menyabotase “mesin sinkronisasi” kota dan merebut kembali kedaulatan atas hidup kita sendiri sebagai subjek, bukan sekadar unit produksi.

    Data dari Eurofound menunjukkan, bahwa di perusahaan yang menerapkan kebijakan ini, tingkat work-life balance membaik hingga 92%.

    Bagi organisasi, karyawan yang memiliki waktu pulih yang cukup terbukti lebih produktif dan memiliki tingkat kreativitas yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang terus-menerus berada dalam tekanan waktu kronis (chronic time pressure).

     

    Namun, inisiatif individu tidak akan cukup tanpa intervensi institusional. Perlu inisiatif semua pihak termasuk pemerintah untuk menggapainya.

    Beberapa negara telah menyadari bahwa kelelahan pekerja merugikan ekonomi jangka panjang dan sudah menaruh perhatian lebih pada work life balance masyarakatnya.

    Perancis dan Belgia, contohnya, kompak mewajibkan perusahaan untuk menegosiasikan hak karyawan memutus koneksi digital di luar jam kerja.

    Australia secara resmi menerapkan undang-undang Right to Disconnect (hak untuk tidak terhubung?), yang memberi hak hukum bagi pekerja untuk mengabaikan komunikasi kerja di luar jam kantor tanpa takut sanksi sejak 2024.

    Karena itu, kita harus mulai berpikir kritis bahwa melambat di kota bukanlah proyek kosmetik yang cantik di feed Instagram, melainkan upaya memperluas akses atas waktu pulih bagi semua warga.

    Kedaulatan waktu adalah prasyarat bagi masyarakat yang sehat secara mental dan tangguh secara ekonomi. Sudah saatnya kita menuntut agar kota tidak lagi menjadi mesin sinkronisasi yang mekanistik, melainkan ruang hidup yang menghargai ritme manusiawi.

     


    Handoyo, Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Elfira Rosa Juningsih, Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.