7cloud.asia – Dee, demikian namanya. Ia banyak menulis tentang slow living di laman pribadinya, Vanilla Papers.
Ia meluncurkan Vanilla Papers pada tahun 2018 setelah beberapa tahun bekerja sebagai editor wisata di majalah lokal Mesir.
“Saya frustrasi dengan panduan klise Kairo yang saya temukan di media online dan artikel yang merekomendasikan kostum tari perut dari poliester sebagai suvenir Mesir yang bagus,” demikian alasan Dee membuat Vanilla Papers.
Lewat Vanilla Papers, Dee memutuskan untuk menulis cerita perjalanannya keliling dunia sebagai penganut slow living.
Baca: 10 prinsip gaya hidup slow living
Cerita ini ditujukan untuk para pelancong yang mencari lebih dari sekadar rencana perjalanan lewat paket wisata.
“Saya membagikan semua tip dan saran yang saya ketahui ketika saya pertama kali mulai melakukan perjalanan,” terangnya.
Vanilla Papers adalah tentang perjalanan keliling dunia dari Dee sebagai penganut slow living. Pengelaman Dee melancong ke Dubai dan Taipei hingga Johannesburg.
Meskipun fokusnya terutama di Mesir, Amerika Barat Daya, dan Eropa – tempat dia anggap sebagai rumah selama beberapa dekade.
Baca: Cara sederhana memulai slow living
Dee menyebut, seritanya ini tentang menjalani perjalanan ala slow living dan pengalaman otentik di dunia yang terobsesi dengan penampilan.
Vanilla Papers juga membahas tentang slow living dan topik-topik seperti penjurnalan dan kreativitas.
Tentang gaya wisatanya, Dee menyebut dia suka menjelajahi permata tersembunyi dan destinasi seni.
“Saya seorang introvert yang suka menyelami daerah yang tenang, kurang dikenal, dan lebih bersifat lokal di kota-kota terkenal,” tulisnya.
Baca: Mungkinkah menerapkan gaya hidup slow living di kota yang sibuk?
Ia menambahkan, “Saya biasanya bepergian dengan anggaran menengah dan saya suka memanjakan diri saya dengan penginapan dan resor mewah – terutama ketika hal dikelilingi oleh alam.
Dee juga menyukai toko buku kecil yang unik dan independen, galeri seni, butik mewah, serta sejarah dan budaya lokal.
Tempat-tempat menyenangkan saya termasuk pondok ramah lingkungan, protektorat, dan jalur hiking pedesaan.
Jadi seperti itulah kisah perjalanan keliling dunia Dee, seorang penganut slow living.
Dan, selama bertahun-tahun menjalani slow living ini Dee mengaku hidupnya lebih berarti dan dia merasa lebih bahagia.
Sumber: vanillapapers.net

Leave a Reply