Tag: lingkungan

  • Sudah Diatur Sejak 2019, Mayoritas Perusahaan Belum Susun Peta Jalan Pengurangan Sampah

    Sudah Diatur Sejak 2019, Mayoritas Perusahaan Belum Susun Peta Jalan Pengurangan Sampah

    7cloud.asia – Konsorsium lingkungan Net Zero Waste Management Consortium (NZWMC) menyatakan saat ini sebagian besar perusahaan belum menyusun “roadmap” atau peta jalan pengurangan sampah.

    Peta jalan pengurangan sampah ini sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) No. 75/2019.

    Founder NZWMC Ahmad Safrudin menyebutkan, PermenLHK No. 75/2019 tersebut memandatkan perusahaan manufaktur, retail serta hotel, restoran dan katering (horeka) menyusun peta jalan pengurangan sampah ini.

    “Sebagian besar perusahaan belum mematuhi ketentuan penyusunan ‘roadmap’ pengurangan sampah ini,” kata Ahmad dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (15/6/2024).

    Baca: Cara Ajinomoto kurangi sampah

    Selain perusahaan, tambahnya, provinsi dan kabupaten/kota juga belum menyusun rencana aksi penanganan sampah yang selaras dengan aksi pengurangan sampah.

    Ketua Harian NZWMC Amalia S Bendang menambahkan dari hasil pelaksana Audit Sampah Sungai Ciliwung 2023 menunjukkan bahwa Ciliwung telah menjadi bejana sampah yang unik.

    Dari total 32.364 sampah yang berhasil dipilah dari enam titik sampling Sungai Ciliwung, terdapat 10 jenis sampah yang ditemukan.

    Di mana tujuh di antaranya adalah material polimer termasuk kain, karet, kayu, kertas, logam, plastik, serta gabus.

    Baca: Brand audit temukan kemasan Unilever paling banyak ditemukan

    Sampah plastik paling banyak ditemukan secara konsisten di berbagai titik dalam bentuk kantong plastik baik secara utuh maupun serpihan.

    Akumulasi kantong plastik yang ditemukan mencapai 19.466 buah atau sekitar 67,88 persen dari keseluruhan sampah yang berhasil dikumpulkan dan dipilah.

    Posisi ini disusul oleh bentuk sampah bungkus dan sachet plastik yang berhasil dipilah masing-masing sekitar 3.974 dan 3.324 buah, atau sekitar 13 persen dan 11 persen dari total akumulasi sampah keseluruhan.

    Selain itu, sampah bernilai ekonomi seperti botol PET dan cup PP juga masih ditemukan di Sungai Ciliwung

    Baca: Unilever akan tingkatkan pemrosesan sampahnya

    “Timbulan sampah di badan sungai menjadi cermin cara pengelolaan persampahan kita. Produsen, retail, horeka masih belum sungguh-sungguh menjalankan upaya pengurangan sampah sesuai amanat regulasi,” katanya dalam sebuah diskusi.

    Menurut Ahli pengelolaan kualitas udara Dr Esrom Hamonangan mengurangi timbulan sampah dapat dilakukan dengan berbagai cara terutama di hulu atau di proses produksi.

    Seperti merancang dan merencanakan proses industrialisasi produk dengan material (produk dan kemasan) yang sesedikit mungkin berpotensi menjadi sampah.

    Kemudian mengembangkan pola konsumsi secara menyeluruh, global dan holistik dalam lingkup makro kemudian diturunkan menjadi berbagai kegiatan teknis pada tingkat mikro.

    “Berbagai upaya mengurangi timbulan sampah harus dilakukan untuk menekan dampak lingkungan hidup baik limbah padat, cair maupun gas, terutama penyebab pencemaran udara dan krisis iklim,” ujarnya.

    Baca: Gunakan tumbler untuk kurangi sampah plastik

    Sementara pakar lingkungan dari Jepang Prof Minoru Fuji menyampaikan penanganan sampah melalui produksi dan pemanfaatan plastik Netral Karbon atau LCCN (Lifecycle Carbon Neutral) merupakan metode pengolahan sampah paling optimal.

    Metode ini, menurutnya, menghasilkan emisi polusi udara, gas rumah kaca dan limbah berbahaya yang rendah.

    “Meningkatnya penggunaan teknologi LCCN Ready (waste to steam) di Jepang, Eropa dan Korea telah menghasilkan manfaat lingkungan dan ekonomi yang signifikan,” katanya.

    Menurut Direktur Penanganan Sampah KLHK Novrizal Tahar pengolahan sampah berbasis LCCN dapat menjadi solusi pada “less landfill policy”. Kebijakan ini jadi andalan waste management KLHK guna menekan produksi sampah menjadi 40 juta ton sampah pada 2030.

    “Climate crisis, biodiversity depletion dan environmental pollution yang kita hadapi saat ini antara lain harus diatasi dengan waste management melalui scenario pengurangan sampah pada tataran pencegahan dan skenario pengolahan sampah pada tataran penanganannya,” ujarnya.

  • Kelebihan Mandi Pagi Versus Mandi Sore, Mana yang Lebih Baik?

    Kelebihan Mandi Pagi Versus Mandi Sore, Mana yang Lebih Baik?

     

    7cloud.asia – Belakangan mengurangi frekuensi mandi disarankan agar lebih ramah lingkungan. Pasalnya, mengurangi frekuensi mandi akan mengurangi konsumsi air dan limbah yang dihasilkan.

    Nah, bagi Anda yang ingin mandi satu kali saja dalam sehari demi lingkungan, mungkin akan bertanya-tanya kapan sebaiknya kita melakukan ritual harian ini

    Sebaiknya mandi di pagi hari, sore, atau bahkan malam hari sebelum tidur?

    “Tidak ada jawaban pasti bagi populasi global mengenai apakah lebih baik mandi sore atau mandi pagi,” kata dokter kulit Alok Vij, MD dikutip Kompas.com.

    Menurutnya setiap individu memiliki kebiasaan, pilihan dan kebutuhan masing-masing dalam urusan mandi ini.

    Baca Juga: Jika Mandi Cukup Sekali Sehari: Mana yang Lebih Baik, Mandi Pagi atau Mandi Sore

    Melansir  Health Essentials Cleveland Clinic Kompas.com menulis, baik mandi pagi maupun mandi sore, mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

    Jadi, apakah memilih mandi di pagi hari, sore hari, atau keduanya, semua tergantung pilihan, kebutuhan, dan kebiasaan masing-masing.

    Namun, Society of Pediatric Dermatology dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan orang tua untuk memandikan anak mereka di sore hari sejak bayi.

    ”Hal ini untuk membantu membentuk siklus tidur yang normal,” jelas Dr. Vij.

    Jadi, lebih baik mandi malam atau pagi hari? Secara keseluruhan, Dr. Vij mengatakan bahwa menentukan waktu terbaik untuk mandi terserah kebutuhan kita.

    Jika kamu memerlukan tambahan kesegaran dan semangat sebelum memulai hari, mandi di pagi hari mungkin lebih cocok.

    Baca Juga: Ubah Cara Kamu Keramas Rambut Agar Lebih Ramah Lingkungan

    Kelebihan mandi di pagi hari:

    1. Membersihkan tubuh.
    Seprai kita memiliki sisa sel kulit, keringat, dan bakteri.

    “Dengan mandi di pagi hari, kita membersihkan diri sebelum mengenakan pakaian baru dan keluar rumah,” kata Dr. Vij.

    2. Membantu merasa lebih segar.
    Aliran air yang stabil membantu membangunkan kita dan membuat merasa lebih waspada.

    “Saya mandi di pagi hari untuk benar-benar bangun, untuk merasa hidup merasa kurang segar jika belum mandi.” ,” cerita Dr. Vij.

    3. Mempersiapkan kulit untuk perawatan.
    Mencuci muka saat mandi dapat membantu rutinitas perawatan kulit.

    “Mandi membantu membersihkan dan mempersiapkan kulit sebelum kita mulai menggunakan toner atau tabir surya untuk hari yang baru,” kata Dr. Vij.

    Baca Juga: Brian Szcabo Populerkan Tidak Mencuci Celana Jin Raw Denim, Gaya atau Demi Lingkungan?

    4.Mengurangi kusut pada kulit dan rambut.
    Kulit kepala menghasilkan minyak sepanjang hari. Dan minyak melapisi rambut, menjaganya tetap berkilau.

    “Tetapi minyak yang menempel setelah tidur semalaman bisa membuat rambut menjadi kusut sehingga lebih sulit untuk ditata.Mencuci rambut di pagi hari akan membantu mendapatkan ‘aktivitas’ segar sepanjang hari,” jelas Dr. Vij.

    Kelebihan mandi di sore atau malam hari
    1. Menghilangkan debu dan kotoran.
    “Mandi membantu membersihkan semua kotoran, racun lingkungan, dan polutan yang mungkin berdampak negatif pada kulit,” kata Dr. Vij.

    2. Memudahkan kita untuk tidur.
    Seperti yang telah disebutkan, mandi di malam hari dapat menjadi bagian dari rutinitas malam hari dan membantu kita mendapatkan tidur malam yang nyenyak.

    “Pengondisian emosi merupakan keuntungan besar bagi sebagian orang,” kata Dr. Vij.

    3. Menghilangkan sisa produk perawatan kulit.
    Selain menghilangkan kotoran dari tubuh, mandi di sore hari membantu menghilangkan produk perawatan kulit seperti tabir surya yang kita gunakan sepanjang hari.

    “Ini membantu kita tidur dengan bersih,” kata Dr. Vij.

    Baca Juga: Trend Tidak Mencuci Pakaian: Perempuan Lebih Bisa Menerima Jika Alasannya Demi Lingkungan

  • BKSDA Kaltim Lepasliarkan Empat Ekor Orangutan

    BKSDA Kaltim Lepasliarkan Empat Ekor Orangutan

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melepasliarkan empat individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) setelah selesai menjalani rehabilitasi di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kalimantan Timur.

    Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, KLHK melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) dibantu oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kelinjau dan Centre for Orangutan Protection (COP) telah melepasliarkan keempat individu orangutan itu pada 13 Juni lalu.

    Keempat orangutan yang dilepasliarkan tersebut merupakan orangutan jantan yang bernama Annie, Berani, Talian dan Lanang.

    “Orangutan tersebut adalah satwa milik negara yang dititipkan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP,” ujar Kepala BKSDA Kaltim M. Ari Wibawanto dalam keterangan tersebut.

    Baca Juga: BKSDA Maluku Lepasliarkan Burung Nuri Sitaan Perdagangan Satwa Liar

    Dia menjelaskan bahwa Annie merupakan orangutan berusia sekitar 9-11 tahun dan Berani berusia sekitar 14-17 tahun. Keduanya direhabilitasi setelah berhasil diselamatkan BKSDA Kaltim pada 2018 silam dari kepemilikan ilegal.

    Sedangkan orangutan Lanang dan Talian merupakan orangutan liar yang mengalami interaksi negatif dan diselamatkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kaltim pada penghujung 2023 dan awal tahun 2024.

    Orangutan Lanang mengalami masalah kesehatan serius dan mengalami luka robek pada bibir sehingga keduanya membutuhkan penanganan intensif sebelum dilepasliarkan kembali.

    Dia menyampaikan bahwa proses rehabilitasi bertujuan untuk mengasah kembali insting dan perilaku liar dari satwa yang sebelumnya dipelihara oleh manusia.

    Baca Juga: BKSDA Sumbar Lepasliarkan Baning Coklat Usia 20 Tahun ke Habitatnya

    Pelepasliaran itu berlangsung di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Kabupaten Kutai Timur yang merupakan wilayah pengelolaan KPH Kelinjau.

    Berdasarkan kajian habitat yang dilakukan pada 2016, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat cukup layak untuk dijadikan lokasi pelepasliaran orangutan.

    Menurut analisis populasi dan habitat atau population and habitat viability analysis (PHVA) orangutan yang dilakukan oleh Forum Orangutan Indonesia (FORINA) pada 2016, jumlah orangutan liar di Kalimantan diperkirakan mencapai 57.350 individu.

    Satwa itu masuk dalam daftar merah IUCN yang mengkategorikannya sebagai terancam kritis untuk punah.

    Sumber:Antaranews.com

  • Mengapa Belantara Biodiversity Class Ada dan Apa Manfaatnya untuk Lingkungan

    Mengapa Belantara Biodiversity Class Ada dan Apa Manfaatnya untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Berawal dari sebuah perdebatan soal baik-buruknya memberi makan untuk kucing telantar di stasiun, lahirlah gagasan Belantara Biodiversity Class atau pengenalan keranekaragaman hayati untuk remaja urban.

    Kok bisa? Menjawab pertanyaan ini, Manajer Program Fundraising Belantara Foundation, Diny Hartiningtias memaparkan lewat Belantara Biodiversity Class anak-anak di kawasan perkotaan diajak mengenal beragam satwa liar di sekeliling mereka.

    “Jadi satwa liar di perkotaan tak hanya tikus, kecoak, cicak seperti yang disebutkan dalam diskusi itu. Tetapi juga ada burung, kupu-kupu dan serangga lainnya,“ terang Diny saat berbincang dengan 7cloud.asia beberapa waktu lalu.

    Tujuan utama Belantara Biodiversity Class adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan biodiversitas yang ada di sekitar khususnya di kawasan perkotaan.

    Baca: Kelas biodiversitas Belantara Foundation

    Belantara Biodiversity Class merupakan kegiatan rutin yang akan digelar dua bulan sekali. Kegiatan ini pertama kali digelar menjelang Hari Keanekaragaman Hayati Mei lalu, di Taman Heulang, Bogor.

    Lewat Belantara Biodiversity Class ini kapasitas generasi muda dalam mendata dan mengidentifikasi biodiversitas di lingkungan perkotaan ditingkatkan.

    Kali pertama, Belantara Biodiversity Class difokuskan untuk mengidentifikasi tumbuhan, kupu-kupu dan burung. Alasannya, tiga jenis satwa inilah yang paling banyak ditemukan di taman kota.

    “Awalnya mengamati, kemudian setelah mengenal generasi muda akan lebih peduli pada kondisi lingkungan di sekitarnya,“ terangnya.

    Baca: Tiga burung langka ditemukan saat pengamatan burung di Lapangan Banteng

    Diny menekankan, pentingnya meningkatkan kesadaran dan pemahaman di kalangan muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan di sekitar mereka.

    “Kami bersama para pihak akan terus mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk berpartisipasi aktif dalam aksi restorasi ekosistem. Melalui gerakan ini, kita dapat mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals,” ujarnya.

    Lantas, bagaimana sebuah kota bisa merawat keanekaragaman hayatinya? Diny memaparkan, pentingnya merealisasikan 30persen wilayah kota menjadi ruang terbuka hijau.

    Selain itu, pemilihan vegetasi atau pohon yang ditanam juga turut mempengaruhi kelestarian satwa liar, terutama kupu-kupu dan burung.

    Baca: 40 jenis burung ditemukan saat pengamatan burung di Ancol

    “Alih-alih menanam tanaman dari luar, lebih baik tanaman lokal yang juga memiliki nilai estetika seperti asam, bungur, petai, kamboja,“ ujarnya.

    Menjawab masalah ketiadaan dana, seperti yang banyak dikeluhkan pemerintah kota, Diny mengatakan dana itu bisa digalang dari CSR atau penggalangan dana publik lainnya.

    Mengakhiri perbincangan kami, Diny menegaskan bahwa pemerintah kota tidak akan pernah rugi jika menginvestasikan untuk lingkungan. Akan ada banyak manfaat tak langsung dari langkah ini.

    Tak hanya dari kesehatan warganya, tetapi juga kualitas lingkungan kota secara keseluruhan.

  • Ribuan Pohon Ditanam untuk Rayakan Hari Jadi Kota Madiun

    Ribuan Pohon Ditanam untuk Rayakan Hari Jadi Kota Madiun

    7cloud.asia – Cara Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun, Jawa Timur dalam merayakan hari jadinya sangat unik, yakni dengan melakukan aksi lingkungan.

    Pemkot Madiun melakukan penanaman pohon secara serentak di tiap kelurahan di wilayah itu dalam rangkaian peringatan hari jadinya yang ke-106.

    Setidaknya 1.106 pohon ditanam dalam aksi penanaman pohon yang dilakukan bersama sejumlah kegiatan lainnya, seperti Gerakan Makan Ikan & Pangan Murah, Dolan Ning Medhioen dan sederet kegiatan lain.

    Adapun Hari Jadi Kota Madiun diperingati setiap tanggal 20 Juni. Tahun ini hari jadi Kota Madiun dirayakan dengan mengusung tema Pesona Dunia.

    Baca Juga: Rusunawa Madiun, Contoh Sukses Penyediaan Pemukiman Vertikal Atasi Kawasan Kumuh

    Penjabat (Pj) Wali Kota Madiun Eddy Supriyanto mengatakan tujuan kegiatan penanaman bibit pohon tersebut selain peringatan HJM, juga untuk menekan dampak perubahan iklim, serta mewujudkan lingkungan yang sehat, sejuk, dan asri.

    Kegiatan ini, ujarnya, sebagai wujud pemerintahan daerah memberikan contoh kepada masyarakat agar mengelola ekosistem dengan baik.

    “Kegiatan ini juga bertujuan untuk pelestarian lingkungan,” ujar Pj Wali Kota Eddy di sela kegiatan penanaman pohon yang dipusatkan di Jalan Sendang RT 21/RW 4 Kelurahan Kartoharjo, Kota Madiun, Minggu (23/6/2024).

    Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan di tiap kelurahan yang ditayangkan secara daring melalui Zoom bersama Pj. Wali Kota Madiun Eddy Supriyanto.

    Baca Juga: Simak Kiat Menanam Pohon di Wilayah Perkotaan dengan Lahan Terbatas

    Ada sebanyak 1.106 bibit pohon yang ditanam serentak dalam kegiatan tersebut di sejumlah kelurahan.

    Pihaknya berharap melalui kegiatan tersebut, Pemkot Madiun berkontribusi dalam upaya mengurangi pemanasan global.

    Selain di wilayah Jalan Sendang, Pj Wali Kota Madiun Eddy Supriyanto juga meninjau dan melakukan penanaman di Jalan Anjasmara Gang Pamong Rini RT 15 RW 5 Kelurahan Pangongangan.

    “Melalui kegiatan penanaman bibit pohon ini, saya harap bisa meningkatkan semangat masyarakat di setiap RT/RW untuk menanam pohon sehingga dapat menurunkan suhu udara,” kata dia.

    Sumber:Antaranews.com

  • Dinas Lingkungan Hidup Aglomerasi Jakarta Sepakat Bangun Sinergi untuk Atasi Polusi Udara

    Dinas Lingkungan Hidup Aglomerasi Jakarta Sepakat Bangun Sinergi untuk Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten serta kota-kota yang masuk wilayah aglomerasi Jakarta sepakat membangun sinergi untuk mengatasi polusi udara.

    Kesepakatan ini diinisiasi oleh Pemprov DKI Jakarta dan mencakup beberapa poin penting untuk mengatasi polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Salah satu poin tersebut adalah pembentukan Pokja Perlindungan Nasional untuk Udara sebagai forum akselerasi perbaikan kualitas udara serta penyusunan strategi pengendalian polusi udara terpadu di masing-masing wilayah administrasi.

    “Kerja sama antara DLH menjadi sangat penting untuk mengatasi masalah polusi udara yang saling terkait di wilayah aglomerasi Jakarta,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Asep Kuswanto di Jakarta, Kamis (27/6/2024).

    Baca Juga: IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    Menurut dia, sinergi dilakukan antara DLH Jakarta, Jawa Barat, Banten serta DLH Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

    Asep menjelaskan bahwa sebagai pusat perekonomian Indonesia berskala global, Jakarta memiliki amanat untuk berkolaborasi dalam perencanaan lingkungan hidup di wilayah aglomerasi.

    “Kota dan kabupaten di Jabodetabek juga pernah menandatangani kesepakatan bersama untuk memperbaiki kualitas udara,” tuturnya.

    Kota-kota yang masuk dalam aglomerasi juga sepakat mendorong percepatan kegiatan uji emisi kendaraan bermotor juga menjadi salah satu pembahasan.

    Dalam hal ini, pengelolaan data terpadu melalui aplikasi SIUMI milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sangat membantu dalam memantau dan mengevaluasi kualitas udara.

    Baca Juga: Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    Inventarisasi emisi di masing-masing wilayah serta pertukaran data juga menjadi bagian dari upaya sinergi ini. DLH Jakarta juga siap untuk melaksanakan uji emisi keliling di wilayah Jabodetabek.

    “Kami berharap DLH aglomerasi bisa mendorong kegiatan yang bisa dikerjasamakan dan mendukung langkah-langkah yang lebih baik untuk kualitas udara yang lebih bersih di wilayah Jabodetabek,” katanya.

    Ia menambahkan, dalam kesempatan tersebut, dibahas pula pentingnya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas udara.

    DLH Jakarta dan daerah lainnya sepakat untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat melalui berbagai program edukatif dan kampanye lingkungan.

    Poin penting lainnya adalah komitmen untuk melibatkan sektor swasta dalam upaya pengendalian pencemaran udara.

    Baca Juga: Polusi Udara di Jakarta: Diperlukan Sistem Transportasi Publik yang Berkualitas

    “Kami mengajak korporasi untuk berpartisipasi aktif dalam program-program pengendalian polusi udara, karena peran sektor swasta sangat besar dalam pengurangan emisi industri,” ujarnya.

    Pejabat DLH Jawa Barat, Endang Hidayat menyatakan pentingnya pelaksanaan kerja sama ini, untuk kendala yang dihadapi di wilayah aglomerasi, seperti keterbatasan penyediaan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) di daerah penyangga dan keterbatasan alat uji emisi.

    “Untuk itu harus segera diatasi melalui kerja sama yang lebih intensif antara DLH provinsi dan kota/kabupaten,” katanya.

    Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DLH Banten, Ruli Rianto menambahkan bahwa sinergi antardaerah sangat penting.

    “Masalah pencemaran udara tidak bisa diselesaikan oleh satu daerah saja. Harus ada upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi semua warga di wilayah aglomerasi,” ujarnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • WALHI Ajak Generasi Muda Indonesia untuk Aktif dalam Aksi Lingkungan dengan Ajukan Gugatan Iklim

    WALHI Ajak Generasi Muda Indonesia untuk Aktif dalam Aksi Lingkungan dengan Ajukan Gugatan Iklim

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengajak generasi muda Indonesia untuk menempuh gugatan iklim karena dampak krisis iklim di dunia dan Indonesia semakin memburuk.

    Seruan untuk ajukan gugatan iklim ini disampaikan Manajer Kampanye Pesisir, Laut, dan Pulau Kecil, Eksekutif Nasional WALHI pada acara orasi lingkungan hidup lapangan Student Centre UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat Tangerang Selatan, Banten, 10 Juni 2024 lalu.

    Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Battuta (KMPLHK RANITA) dengan Disaster Manajemen Centre Dompet Dhuafa.

    Pada acara orasi lingkungan hidup yang bertajuk Indonesia Emas 2045 atau Indonesia Cemas 2024? tersebut, Parid menjelaskan bahwa dampak krisis iklim secara global telah membuat temperatur planet bumi melebihi 1,5 derajat celcius dibandingkan dengan era pra revolusi Industri.

    Di Indonesia, krisis iklim telah memperburuk kehidupan masyarakat pesisir, di mana ratusan nelayan meninggal di tengah laut, ratusan desa pesisir diterjang banjir rob, puluhan pulau kecil telah tenggelam,

    Baca: Cara ajukan gugatan iklim

    ”Ini sekaligus mengancam air serta pangan yang menghidupi Masyarakat selama ini,” ungkapnya di hadapan ratusan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, seperti dikutip di laman resmi WALHI.

    Dalam situasi ini, tambah Parid, kita penting untuk meminta pihak yang bertanggungjawab atas krisis iklim yang mengancam kehidupan masyarakat luas, khususnya nasib generasi muda yang akan hidup pada masa yang akan datang.

    “Krisis iklim ini telah merampas hak generasi muda untuk hidup layak pada masa depan. Kita harus menuntut pertanggungjawaban dari negara dan koorporasi skala besar yang telah mengeruk keuntungan ekonomi tetapi mengorbankan nasib planet bumi,” jelasnya.

    Untuk itulah, Farid menegaskan, generasi muda harus terlibat aktif menghentikan krisis iklim dengan cara menjadi penggugat iklim yang menuntut pertanggungjawaban negara yang telah memproduksi beragam kebijakan yang memperburuk krisis iklim.

     

    Baca: Aktivis lingkungan Korsel ramai-ramai ajukan gugatan iklim

    Gugatan juga bisa ditujukan kepada korporasi multinasional yang telah memproduksi emisi dalam jumlah yang sangat besar dalam satu dekade terakhir.

    “Pada titik ini, WALHI Nasional siap untuk mendampingi siapapun, terutama generasi muda yang hendak menempuh gugatan iklim pada masa yang akan datang,” tegas Parid.

    Menurut Parid, pengalaman generasi muda yang berhasil menempuh gugatan iklim telah dibuktikan oleh Sophie Backsen, seorang remaja dari Pulau Pellworm, sebuah pulau kecil di Utara Jerman, yang terdampak krisis iklim.

    Sophie berhasil menempuh gugatan iklim kepada Mahkamah Konstitusi Jerman dan mendesak Pemerintah Jerman untuk untuk menetapkan penurunan emisi sampai nol persen pada tahun 2050.

    Parid mengaku pernah bertemu dan berbincang dengan Sophie Backsen secara pribadi di rumahnya di Pulau Pellworm.

     

    Baca: Gugatan iklim efektif menghambat laju krisis iklim

    ”Dia menggunakan argumen keadilan antargenerasi (intergenerational justice) untuk mempertahankan pulaunya yang berusia lebih dari 300 tahun lamanya,” terang Parid.

    Atas dasar hal itu, Parid menyebut hal serupa dapat dilakukan oleh generasi muda di Indonesia yang merasa masa depannya terancam oleh krisis iklim.

    Salah satu gugatan iklim yang yang juga sedang ditempuh oleh Masyarakat Indonesia adalah gugatan iklim yang kini dilakukan empat orang masyarakat Pulau Pari melawan Holcim.

    Holcim adalah perusahaan semen terbesar di dunia, yang telah memproduksi emisi karbon lebih dari 7 miliar ton sejak tahun 1950 sampai 2021.

    “Kami mengajak kawan-kawan generasi muda untuk mendukung gugatan iklim pertama di Indonesia ini. Ini merupakan gerakan penting untuk mewujudkan keadilan iklim,” imbuhnya.

  • Pakar: Pembangunan di IKN Merupakan Penjajahan Model Baru

    Pakar: Pembangunan di IKN Merupakan Penjajahan Model Baru

    7cloud.asia – Board Yayasan Dompet Dhuafa Yudi Latif, dalam orasi lingkungan hidup  bertajuk Indonesia Emas 2045 atau Indonesia Cemas 2024? yang digelar di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat beberapa waktu lalu menyebut bahwa sejak tahun 2019, Indonesia memiliki indeks keadilan antargenerasi (intergenerational justice index) yang rendah.

    Menurut indeks ini, Indonesia berada pada posisi ke-72 dari 122 negara. Sementara itu, dengan Vietnam, berada di posisi ke-21 dan Cina berada di posisi ke-25.

    Yudi menyebut, dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan perhatian buruk terhadap keberlangsungan hayati.

    “Pembangunannya merusak ekosistem. Sustainable develompment-nya terperangkap dalam pembangunan yang berorientasi jangka pendek. Aji mumpung, aji mumpung, aji mumpung. Nyaris kita ini tidak berpikir untuk generasi yang akan datang,” tegasnya.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Konsep Mencintai Lingkungan yang Diterapkan Enam Agama di Indonesia

    Menurut mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini, saat ini sudah muncul jenis penjajahan baru di Indonesia.

    Penjajahan model lama, sebagaimana dilakukan oleh bangsa-bangsa kolonial, dalam bentuk penjajahan atas dasar penguasaan territorial, di mana mereka menguasai suatu wilayah lalu mengusir dan atau membantai penghuninya.

    Penjajahan itu adalah penguasaan ruang. Seolah-olah ruang itu tidak eksis alias kosong. “Penjajahan jenis ini di Indonesia masih terjadi,” kata Yudi latif.

    Ia mencontohkan kasus Pembangunan di IKN, di mana wilayah di IKN itu dianggap kosong. Di atas tanah (yang dianggap kosong itu) didirikan IKN. “Jadi jejak-jejak penjajahan lama masih ada,” ungkapnya.

    Saat ini, tambah Yudi Latif, di Indonesia muncul jenis penjajahan baru namanya itu penjajahan atas dasar penguasaan waktu, yang bermakna seolah-olah masa depan itu tidak ada manusianya.

    Baca Juga: Tur Rumah Ibadah Greenfaith di Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Agama Ajarkan Cintai Lingkungan dan Muliakan Bumi

    Seolah-olah yang berhak hidup itu hanya generasi hari ini. Generasi ini dianggap bisa menghabiskan apa saja. Menghabiskan hutan. Menghabiskan tambang. Semuanya dihabiskan.

    Seolah olah tidak ada lagi ruang waktu bagi anak-anak di masa depan. Seolah olah masa depan itu waktu kosong, tidak ada penduduknya.

    “Inilah yang disebut dengan jenis penjajahan baru. Di mana orientasi hidup aji mumpung, jangka pendek, tebang hutan, habiskan! Garuk batubara, habiskan! Seolah olah tidak menyisakan apapun bagi orang yang hidup di masa depan,” tegasnya.

    Selanjutnya, Yudi Latif mengingatkan pesan Bung Hatta pada tahun 1948 saat mengunjungi Pulau Samosir.

    Saat itu, ujar Yudi, Hatta menegaskan, “sepanjang jalan saya menuju Samosir saya lihat hutan hijau, ngarai—air jernih mengalir. Hati-hati kita membangun ini. Kita jaga hutan dan ekosistem ini. Karena kita merdeka ini bukan untuk satu-dua tahun. Kemerdekaan ini harus dipastikan diwariskan kepada generasi masa depan.“

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Sekjen PBB Kembali Serukan inggalkan Bahan Bakar Fosil untuk Hadang Krisis Iklim

    “Itulah kemerdekaan sesungguhnya. Dan konsep keadilan di dalam pancasila bukan hanya adil terhadap orang hidup sejaman. Tapi juga adil terhadap orang yang akan hidup di generasi yang akan datang.”

    Dengan demikian, kata Yudi Latif, di Indonesia saat terjadi dua jenis penjajahan: penjajahan jenis lama (penguasaan atas ruang) dan penjajahan jenis baru.

    Di mana terjadi penguasaan atas waktu—seolah olah hidup ini hanya untuk generasi hari ini dan tidak menyisakan apapun untuk generasi yang akan datang.

    Maka yang terjadi, ujarnya, kita melihat Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat deforestasi yang sangat cepat dan masif.

    “Bagaimana juga ruang-ruang hidup di Kalimantan, Sulawesi, dan berbagai pulau lainnya, dipenuhi oleh proyek tambang digali dengan sedemikian rupa dengan menyisakan kehancuran yang sulit dipulihkan untuk beberapa generasi yang akan datang,” katanya.

    Sumber: walhi.or.id, baca artikel asli di sini

  • Inovasi Warga Kampung Rawageni, Depok Mengolah Limbah Popok Bekas Menjadi Pot Tanaman Cantik

    Inovasi Warga Kampung Rawageni, Depok Mengolah Limbah Popok Bekas Menjadi Pot Tanaman Cantik

    7cloud.asia – Tangan mungil Muhammad Khoirul Muzaqi atau biasa disapa Zaki (11 tahun) cekatan mengaduk semen basah, lalu mencelupkan popok bekas sumbangan warga yang telah dicuci bersih.

    Siang itu, terik matahari ditutupi mendung tipis, namun cukup baik untuk mengeringkan hasil cetakan popok bekas yang akan dimanfaatkan menjadi pot tanaman oleh warga kampung Rawageni, Depok, Jawa Barat.

    Zaki, bocah SD memilih tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Dia lebih suka melukis pot tanaman dari popok bekas yang sudah kering dengan gambar yang lucu dan warna-warni.

    Pot tanaman dari limbah popok merupakan salah satu dari sederet kerajinan tangan lain berbahan sampah yang diproduksi warga Kampung Rawageni, Depok, Jawa Barat.

    “Lumayan kalau di jual harga per pot Rp7 ribu sampai Rp10 ribu, kadang pot-pot ini digunakan untuk cinderamata, kalau banyak tamu-tamu yang hadir dari luar kota atau luar pulau,“ ujar Edo Budi Santoso.

    Baca: Parongpong RAW Lab sukses mengolah limbah puntung rokok jadi perabotan

    Edo menggagas pengolahan popok bekas menjadi pot tanaman didorong rasa prihatinnya atas masalah lingkungan yang ditimbulkan popok bekas ini.

    Setidaknya 55 persen bahan popok bekas kemasan seperti pampers, berasal dari plastik yang sulit terurai.

    Menurut Edo, butuh 20 hingga 35 tahun lamanya untuk terurai. Sampah popok bekas juga mengandung senyawa kimia super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42 persen
    yang akan berubah gel jika terkena air.

    Jadi sebelum dibuat pot tanaman, gel ini terlebih dulu dipisahkan dari lapisan plastik yang ada.

    Gel ini, oleh Edo dikumpulkan ke dalam karung terpisah. Saat ini, dia sedang mencari cara untuk mengolah agar gel-gel itu bisa dimanfaatkan kembali di kemudian hari.

    Wilayah RW 07 yang membawahi enam RT memang dikenal sebagai kampung yang mandiri dan pernah meraih penghargaan kampung iklim tingkat nasional. Kampung Rawageni, sejak lama memegang prinsip “bebas sampah”.

    Baca: Robries mengolah sampah plastik jadi perabotan

    Termasuk popok bekas yang disebut salah satu sumber sampah terbesar diolah menjadi pot tanaman.

    Kemandirian kampung ini digagas Sanusi, 47 tahun, yang sekaligus Ketua RW 07. Laki-laki jebolan SMP ini mampu mengubah tujuh kampung yang kumuh, penuh
    sampah yang berserak menjadi kampung yang ramah lingkungan.

    Awalnya Sanusi hanya mengajak enam tetangganya untuk patungan dana dan secara swadaya membangun jalan kampung dengan semen.

    Maklumlah, saat itu jalan-jalan di kampung Rawageni masih tanah. Jika hujan akan becek dan sampah yang dibuang sembarangan akan memicu bau tak sedap.

    Edo adalah salah satu warga yang banyak membantu Sanusi aktif dalam berbagai gerakan lingkungan yang kreatif hingga melahirkan inovasi yang ramah lingkungan.

    Setiap akhir pekan Edo Budi Santoso terus mengajarkan anak-anak muda mencipta perubahan di kampung Rawageni, dari membuat taman bermain hingga mengolah sampah rumah tangga.

    Baca: Produk ramah lingkungan dari DemiBumi

    Selain memilah sampah, mengolah sampah dan memanfaatkannya sehingga memiliki nilai
    ekonomi.

    Kampung Rawageni kini menjadi ruang pembelajaran dalam mengelola lingkungan sehingga tercipta zero sampah.

    Tamu-tamu yang berkunjung ke kampung ini dari berbagai lapisan usia, bahkan
    datang dari berbagai kota dan pulau.

    Tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang melakukan studi banding terkait inovasi-inovasi ramah lingkungan yang dilakukan oleh warga kampung Rawageni.

    Replika-replika robot yang terbuat dari botol-botol plastik bekas, mural-mural
    edukatif yang dekat dengan alam menjadi etalase yang menyambut setiap tamu yang datang di Kampung Rawageni ini.

    Reporter: Farida Indriastuti

  • Kementerian ESDM Berencana Mengimpor Karbon untuk Disimpan Lewat Sistem Carbon Capture Storage, Begini Tanggapan DPR

    Kementerian ESDM Berencana Mengimpor Karbon untuk Disimpan Lewat Sistem Carbon Capture Storage, Begini Tanggapan DPR

    7cloud.asia – Anggota Komisi VII DPR Diah Nurwitasari menyoroti rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) untuk mengimpor karbon dari negara lain sebagai bentuk dari penerapan inovasi program Carbon Capture and Storage (CCS).

    Karbon yang diimpor dan nantinya akan disimpan (storage) di Indonesia. Menurut Diah penting untuk dilakukan perhitungan dengan cermat terkait dampak lingkungan yang nantinya akan ditimbulkan.

    Hal ini disampaikan Diah saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR bersama Kementerian ESDM, SKK Migas, serta grup Pertamina (Persero) terkait implementasi program CCS dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) di Lapangan Migas Sukowati, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/7/2024).

    Untuk diketahui Carbon Capture and Storage atau CCS merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer.

    Teknologi ini merupakan rangkaian pelaksanaan proses yang terkait satu sama lain, mulai dari pemisahan dan penangkapan (capture) CO2 dari sumber emisi gas buang (flue gas), pengangkutan CO2 tertangkap ke tempat penyimpanan (transportation), dan penyimpanan ke tempat yang aman (storage).

    Baca: Mengenal apa itu carbon captures storage

    Diah menegaskan hal ini berarti Indonesia menjadi tempat penyimpanan atau storage karbon yang diimpor dari negara lain.

    Yang saya cermati, ujarnya, jangan sampai kita ini menjadi dalam tanda kutip ‘tempat sampah’ bagi negara- negara lain yang akan menyalurkannya.

    “Pemerintah harus memikirkan apa benefitnya? Apa dampak lingkungannya? jangan hanya mengejar investasi, harus diperhitungkan secara cermat apa dampak positif untuk Indonesia,” jelas Diah.

    Lebih lanjut Diah berpesan penting menjaga spirit dalam menurunkan emisi karbon dan lain-lain diimbangi dengan memperhatikan pelestarian sumber daya manusia dan alam secara keseluruhan.

    Ia menegaskan jangan sampai karena kecerobohan dan mengejar keuntungan jangka pendek, sehingga mewariskan lingkungan yang rusak untuk generasi berikutnya.

    Baca: Mengapa pajak karbon perlu meski telah ada perdagangan karbon

    Spirit ini mudah-mudahan tetap menjiwai. Tidak hanya karena keuntungan rupiah cepat melalui bisnis-bisnis yang nantinya dapat berdampak serius terhadap lingkungan.

    “Saya harap Kementerian ESDM dapat lebih hati-hati dan cermat dengan perencanaan-perencanaan seperti itu,” ungkapnya.

    Di sisi lain, Diah mengapresiasi inovasi implementasi teknologi CCS dan CCUS yang diyakini dapat mendukung peningkatan produksi migas disamping mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Dirinya berharap dengan penerapan teknologi tersebut dapat meningkatkan target lifting minyak di Indonesia.

    “Jika memang itu merupakan salah satu bagian dari produksi kita untuk meningkatkan lifting migas kita tentu ini merupakan sesuatu yang bermanfaat. Namun tetap perlu dilakukan perhitungan dengan cermat persoalan teknologinya.”

    “Mudah-mudahan dengan teknologi yang lebih baik kita bisa meningkatkan lifting migas kita khususnya dengan teknologi CCUS tersebut,” imbuh Diah.

    Baca: Mengenal penerapan pajak karbon