7cloud.asia – Berawal dari sebuah perdebatan soal baik-buruknya memberi makan untuk kucing telantar di stasiun, lahirlah gagasan Belantara Biodiversity Class atau pengenalan keranekaragaman hayati untuk remaja urban.
Kok bisa? Menjawab pertanyaan ini, Manajer Program Fundraising Belantara Foundation, Diny Hartiningtias memaparkan lewat Belantara Biodiversity Class anak-anak di kawasan perkotaan diajak mengenal beragam satwa liar di sekeliling mereka.
“Jadi satwa liar di perkotaan tak hanya tikus, kecoak, cicak seperti yang disebutkan dalam diskusi itu. Tetapi juga ada burung, kupu-kupu dan serangga lainnya,“ terang Diny saat berbincang dengan 7cloud.asia beberapa waktu lalu.
Tujuan utama Belantara Biodiversity Class adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan biodiversitas yang ada di sekitar khususnya di kawasan perkotaan.
Baca: Kelas biodiversitas Belantara Foundation
Belantara Biodiversity Class merupakan kegiatan rutin yang akan digelar dua bulan sekali. Kegiatan ini pertama kali digelar menjelang Hari Keanekaragaman Hayati Mei lalu, di Taman Heulang, Bogor.
Lewat Belantara Biodiversity Class ini kapasitas generasi muda dalam mendata dan mengidentifikasi biodiversitas di lingkungan perkotaan ditingkatkan.
Kali pertama, Belantara Biodiversity Class difokuskan untuk mengidentifikasi tumbuhan, kupu-kupu dan burung. Alasannya, tiga jenis satwa inilah yang paling banyak ditemukan di taman kota.
“Awalnya mengamati, kemudian setelah mengenal generasi muda akan lebih peduli pada kondisi lingkungan di sekitarnya,“ terangnya.
Baca: Tiga burung langka ditemukan saat pengamatan burung di Lapangan Banteng
Diny menekankan, pentingnya meningkatkan kesadaran dan pemahaman di kalangan muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan di sekitar mereka.
“Kami bersama para pihak akan terus mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk berpartisipasi aktif dalam aksi restorasi ekosistem. Melalui gerakan ini, kita dapat mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals,” ujarnya.
Lantas, bagaimana sebuah kota bisa merawat keanekaragaman hayatinya? Diny memaparkan, pentingnya merealisasikan 30persen wilayah kota menjadi ruang terbuka hijau.
Selain itu, pemilihan vegetasi atau pohon yang ditanam juga turut mempengaruhi kelestarian satwa liar, terutama kupu-kupu dan burung.
Baca: 40 jenis burung ditemukan saat pengamatan burung di Ancol
“Alih-alih menanam tanaman dari luar, lebih baik tanaman lokal yang juga memiliki nilai estetika seperti asam, bungur, petai, kamboja,“ ujarnya.
Menjawab masalah ketiadaan dana, seperti yang banyak dikeluhkan pemerintah kota, Diny mengatakan dana itu bisa digalang dari CSR atau penggalangan dana publik lainnya.
Mengakhiri perbincangan kami, Diny menegaskan bahwa pemerintah kota tidak akan pernah rugi jika menginvestasikan untuk lingkungan. Akan ada banyak manfaat tak langsung dari langkah ini.
Tak hanya dari kesehatan warganya, tetapi juga kualitas lingkungan kota secara keseluruhan.

Leave a Reply