Tag: lingkungan

  • 15 Tahun Tragedi Montara: Perjuangan Panjang Warga NTT dalam Menuntut Keadilan

    15 Tahun Tragedi Montara: Perjuangan Panjang Warga NTT dalam Menuntut Keadilan

    7cloud.asia – Tumpahan minyak yang terjadi di Laut Timor pada bulan Agustus 2009 yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Montara menjadi salah satu tragedi lingkungan terburuk di perairan Indonesia.

    Tragedi Montara ini terjadi karena kebocoran pipa milik anak perusahaan perusahaan minyak Thailand PTTEP di Australia dalam pengoperasian sumur minyak Montara, 250 kilometer lepas pantai Australia Barat.

    Pengadilan federal dan Komisi penyelidik di Australia belakangan menemukan bahwa kebocoran sumur tersebut telah memuntahkan lebih dari 2.500 barel minyak ke Laut Timor.

    Lumpur yang dihasilkan telah mematikan banyak biota laut, ikan-ikan, tanaman rumput laut dan mencemari perairan dan wilayah penangkapan ikan seluas lebih dari 90.000 kilometer persegi.

    Akibatnya, ribuan petani pembudidaya rumput laut termasuk nelayan di sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) kehilangan mata pencaharian mereka.

    Pada tahun 2010, penyelidikan pemerintah Australia menemukan bahwa tumpahan minyak Montara bukanlah suatu bencana, namun dikarenakan kelalaian perusahaan.

    Baca Juga: 15 Tahun Tragedi Montara: Kejahatan Lingkungan yang Mengakibatkan 60 Persen Ekosistem Laut Sawu Rusak

    Namun, proses keadilan untuk petani rumput laut dan nelayan tersebut berjalan sangat lambat, mulai dari lambannya identifikasi korban tumpahan minyak sampai pemberian kompensasi yang memakan waktu bertahun-tahun.

    Pengadilan Tragedi Montara hingga kini belum selesai. Pada tahun 2021, pengadilan federal Australia memerintahkan anak perusahaan Australia, PTTEP Australasia (PTTEPAA) untuk membayar ganti rugi kepada petani rumput laut yang dirugikan.

    PTTEP mengajukan banding. Mereka mengakui telah lalai dalam mengoperasikan sumur minyak Montara, tetapi berkilah tidak cukup bukti bahwa tumpahan minyak Montara mencapai wilayah pesisir Rote dan Kupang.

    PTTEP juga beralasan, tumpahan minyak tidak akan sampai ke perairan Indonesia dan jikapun terjadi, konsentrasinya tidak cukup beracun untuk menghancurkan tanaman rumput laut.

    PTTEP juga membantah bahwa mereka mempunyai kewajiban memberikan kompensasi kepada para petani.

    Nukila Evanty sebagai Ketua Koalisi Lawan Kejahatan Terorganisir (Koalisi) menyebutkan, masih ada ribuan orang di luar kelompok petani rumput laut yang mengatakan bahwa
    mereka terkena dampak tumpahan minyak seperti nelayan dan petambak.

    Baca Juga: 15 Tahun Tragedi Pencemaran Laut Timor: Ribuan Petani Rumput Laut Masih Menunggu Keadilan

    Saat itu, ujarnya, di tahun 2009-2010 masih banyak petani yang belum paham cara-cara mengajukan gugatan class action.

    “NTT ini daerah pesisirnya luas mulai dari pulau Sabu, Flores Timur , Sumba dan Lembata. Keputusan pengadilan Federal di Australia hanya menjangkau wilayah Kupang dan Rote Ndao,“ ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia.

    Nukila juga menyebut, pendekatan penyaluran kompensasi kurang berperspektif hak asasi manusia dan gender. Banyak anak-anak terdampak akhirnya putus sekolah, karena orang tuanya kehilangan sumber penghasilan setelah lahan pertanian rumput lautnya musnah.

    Ditambahkannya, setidaknya 81 desa di Kabupaten Kupang dan pulau Rote yang terdampak Tragedi Montara, sehingga harus dipastikan apakah mereka telah menerima kompensasi tersebut.

    Perlu diketahui rumput laut menjadi salah satu komoditas unggulan NTT, terutama di daerah seperti Rote Ndao, Kabupaten Kupang dan Pulau Sabu. Industri rumput laut menjadi andalan warga desa-desa pesisir NTT dalam mencari nafkah.

    Hakim David Yates dari pengadilan federal Australia pernah menyatakan dalam putusan bahwa telah terjadi kerugian yang sangat signifikan serta menghancurkan pendapatan petani dan menghancurkan kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

    Baca Juga: Kemenko Marves Optimistis Mampu Kurangi 70 Persen Sampah Plastik yang Cemari Laut

    Menurut Nukila, ada beberapa pembelajaran dari kasus ini. Pertama, perlunya peraturan -peraturan yang lebih ketat dan peningkatan langkah-langkah keselamatan di industri minyak dan gas lepas pantai di perbatasan.

    “Perlu upaya kerjasama antara Australia dan Indonesia untuk mencegah insiden serupa dan menetapkan langkah-langkah keselamatan dan pengelolaan lingkungan yang kuat. Serta memperkuat akuntabilitas perusahaan dan pebisnis dengan lebih berperspektif hak asasi manusia dalam remedy atau pemulihan,“ ujarnya.

    Kedua, pertanggungjawaban hukum yang jelas dari perusahaan untuk pemulihan terhadap dampak lingkungan.

    Tumpahan minyak dalam jumlah besar telah mendatangkan malapetaka pada ekosistem laut , menyebabkan kerusakan pada terumbu karang, penyu, dan hewan laut lainnya. Spesies yangbermigrasi kehilangan tempat bersarang dan mencari makan.

    Ketiga, memastikan pertanggungjawaban perusahaan agar masyarakat lokal (petani rumput laut, nelayan, masyarakat pesisir) yang menggantungkan hidupnya pada perikanan dan rumput laut dan menghadapi kesulitan berkepanjangan mendapatkan kompensasi.

    Memastikan petani rumput laut dan nelayan yang terdampak Tragedi Montara menerima kompensasi. Nukila menekankan, pentingnya transparansi penyaluran kompensasi.

    “Banknya apa, siapa yang bertanggung jawab, dan model koordinasinya seperti apa? Apakah organisasi masyarakat sipil atau komisi/lembaga khusus ikut serta dalam pengawasan penyaluran kompensasi?“ paparnya.

    Menutup peryataannya, Nukila mendesak tanggung jawab pemerintah Indonesia dalam mewujudkan keadilan hukum bagi setiap warga negara Indonesia.

  • Bagaimana Kita Berkontribusi dalam Pelestarian Lingkungan

    Bagaimana Kita Berkontribusi dalam Pelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Perubahan iklim dan dampaknya sudah semakin nyata. Bencana ekologis seperti banjir, tanah longsor, kekeringan ataupun kebakaran lahan semakin sering terjadi.

    Pun demikian dengan kenaikan permukaan air laut yang dipicu pemanasan global yang telah menenggelamkan ribuan desa di kawasan pesisir.

    Sayangnya, masih banyak orang yang abai atau bahkan mencibir fakta perubahan iklim ini. Padahal peran ataupun kontribusi publik secara masif sangat dibutuhkan untuk Bumi dan lingkungan yang lebih berkelanjutan

    Jika Anda bertanya-tanya, bagaimana saya bisa berkontribusi menahan laju perubahan iklim dan ikut menyumbang planet Bumi yang lebih berkelanjutan, berikut sejumlah aksi yang bisa dilakukan seperti dilansir earth.org:

    1. Ikut Aksi Iklim
    Gunakan hak demokrasi Anda dengan mendukung kandidat dan kebijakan yang memprioritaskan mitigasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan.

    Baca: Thrifting, cara melawan limbah fast fashion

    2. Kurangi Jejak Karbon 
    Buatlah pilihan secara sadar untuk mengurangi jejak karbon Anda. Pilihlah sumber energi terbarukan, hemat energi di rumah, gunakan transportasi umum atau carpool.

    Anda juga bisa menerapkan praktik berkelanjutan seperti daur ulang dan pengomposan.

    3. Dukung Organisasi Lingkungan
    Bergabunglah dengan organisasi lingkungan di sekitarmu yang berdedikasi untuk mendidik masyarakat tentang masalah dan solusi lingkungan.

    Dukung organisasi yang mendukung upaya konservasi, meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggung jawab, dan mengadvokasi solusi lingkungan yang efektif upaya dan mendorong perubahan positif.

    4. Terapkan Kebiasaan Berkelanjutan
    Buatlah pilihan yang ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari Anda. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai, pilih produk ramah lingkungan,

    Prioritaskan pola makan nabati dan kurangi konsumsi daging, serta pilihlah fesyen dan transportasi yang ramah lingkungan.

    Baca: Class action jadi cara efektif menekan pengambil kebijakan

    5. Suarakan kepedulian pada lingkungan
    Libatkan dan edukasi orang-orang di sekitar kamu untuk terus menyebarkan kesadaran tentang krisis iklim dan pentingnya pengelolaan lingkungan.

    Terlibat aktif dalam percakapan, berbagi informasi, dan menginspirasi orang lain untuk mengambil tindakan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.

    6. Berdiri bersama Aktivis Perubahan Iklim
    Tunjukkan dukungan nyata Anda kepada para aktivis yang berada di garis depan aksi perubahan iklim.

    Hadiri protes, demonstrasi, dan pawai damai yang menyerukan aksi nyata pengurangan emisi dan perusakan lingkungan lainnya.

    Anda juga bisa bergabung dalam kampanye online untuk meningkatkan kesadaran dan perubahan kebijakan gerakan untuk keadilan iklim dan masa depan yang berkelanjutan.

  • Pemerintah Diminta Segera Sahkan RPP Perlindungan Mangrove

    Pemerintah Diminta Segera Sahkan RPP Perlindungan Mangrove

    7cloud.asia – Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mendorong rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang pengelolaan dan perlindungan ekosistem mangrove harus segera disahkan tahun ini.

    Kepala BRGM Hartono mengatakan, hal ini agar nanti dapat dilaksanakan oleh pemerintahan yang baru dalam melindungi lahan mangrove di Indonesia.

    RPP tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove merupakan hasil evaluasi yang disusun oleh BRGM bersama dengan tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan mitra kerja lainnya sejak 2022.

    BRGM dan KLHK menilai rancangan peraturan tersebut berisi beberapa poin penting yang dapat mengisi kekosongan payung hukum dari ketentuan perundangan yang sudah ada tentang mangrove.

    “Poin utamanya terkait penataan dan penetapan fungsi ekosistem mangrove berbasis kesatuan lanskap mangrove baik di dalam maupun di luar kawasan hutan (APL)

    Baca Juga: BRIN: Butuh Waktu Ratusan Tahun untuk Pulihkan Hutan Mangrove yang Rusak

    “Serta optimalisasi peran kelompok masyarakat hingga mengatur pemanfaatan, perlindungan, dan pengawasan ekosistem mangrove,” ujarnya usai membuka diskusi publik bertajuk Mangrove For Future dalam rangka memperingati hari mangrove sedunia di Jakarta.

    Dia menyebutkan, poin dalam rancangan peraturan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selama ini tidak digunakan sebagai landasan utama untuk melindungi ekosistem mangrove.

    Dalam hal ini BRGM menilai ada banyak regulasi yang justru membatasi upaya perlindungan dan pengelolaan mangrove, antara lain Undang-Undang No 41/1999 tentang Kehutanan; UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

    Juga UU No 23/2014 tentang Pemerintah Daerah; UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang; UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

    Dikatakan membatasi, karena menurut Hartono, masing-masing regulasi tersebut hanya mengatur pengelolaan mangrove sesuai dengan status lahannya yang di luar kawasan hutan dan areal penggunaan lain.

    Baca Juga: Hampir Seperempat Mangrove Dunia Ada di Indonesia, Tapi Kini dalam Ancaman

    Sementara berdasarkan peta mangrove nasional 2023 terdapat kurang lebih 739.792 hektare mangrove eksisting yang berstatus APL atau berada dalam wilayah konsesi perusahaan dan sebagainya.

    “Maka jika tidak ada regulasi sebagaimana yang diatur dalam RPP untuk melindungi mangrove, maka mangrove seluas 739 ribu hektare itu terancam dikonversi,” ujarnya.

    Ditempat yang sama, Wakil Menteri LHK Alue Dohong mengatakan bahwa secara prinsip demi melindungi mangrove yang keberadaannya sangat penting secara utuh membutuhkan dasar atau payung hukum yang jelas sebagaimana telah disusun dalam RPP tersebut.

    Untuk itu, Alue menyatakan pihaknya menargetkan RPP tersebut paling lambat tahun ini akan diterbitkan menjadi peraturan pemerintah.

    Sumber:Antaranews.com

  • Gorontalo Alami Bencana Ekologis Terparah, Simpul Walhi Serukan Moratorium Izin Tambang dan Perkebunan

    Gorontalo Alami Bencana Ekologis Terparah, Simpul Walhi Serukan Moratorium Izin Tambang dan Perkebunan

    7cloud.asia – Simpul Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Gorontalo mengatakan bencana banjir, banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah itu pada Juli 2024 merupakan bencana ekologis terparah dalam sepuluh tahun terakhir.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan sedikitnya 27 orang meninggal dunia dan 14 orang hilang dalam peristiwa longsor tambang emas di desa Tulabolo, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango pada 7 Juli lalu.

    “Sekali lagi, ini harus menjadi perhatian bersama. Pertanyaannya sampai berapa nyawa lagi harus kita kehilangan, berapa puluh nyawa lagi untuk kita benar-benar menertibkan hal-hal yang seperti ini,” kata Abdul Muhari dalam penjelasan singkat pada wartawan minggu ini.

    Apa penyebabnya? Intensitas dan curah hujan dinilai bukan satu-satunya penyebab terjadinya bencana ekologis (banjir dan longsor) tahunan di Gorontalo.

    Simpul WALHI menilai faktor lain yang justru harus disoroti adalah alih fungsi lahan, pembangunan dan penataan ruang yang karut-marut.

    Baca: Bencana ekologis di Sulawesi akibat obral izin tambang dan perkebunan

    Dinamisator Simpul WALHI Gorontalo, Puput Pakaya, mengatakan pada kasus banjir di Gorontalo yang menewaskan puluhan warga awal Juli lalu, penyebabnya jelas karena deforestasi atau pembukaan lahan

    Deforestasi ini untuk kemudian dialihfungsikan menjadi pertanian monokultur jagung, perkebunan sawit atau bentuk alih fungsi lahan lainnya secara besar-besaran.

    Puput merujuk data Forest Watch Indonesia (FWI) pada kurun waktu 2017-2021 yang menunjukkan Gorontalo mengalami deforestasi akibat konsesi perusahaan tambang dan perkebunan seluas 33.392,76 hektare.

    “Sikap pemerintah daerah dalam menghadapi bencana menahun ini sangat mengecewakan karena intensitas dan curah hujan selalu dijadikan alasan pamungkas terjadinya banjir dan longsor,” kata Puput Pakaya dilansir VOA Indonesia baru-baru ini.

    Puput menyebut aktivitas pertambangan rakyat secara masif sejak tahun 1992 yang memicu kerusakan lingkungan, dan berujung pada semakin seringnya terjadi bencana tanah longsor.

    Baca: Pemerintah dinilai kurang antisipatif pada bencana ekologis

    “Kami juga mencatat kasus ini juga bukan yang pertama di mana dua tahun setelah tambang rakyat beroperasi pada 1994 longsor terjadi, meskipun tidak ada korban, namun hal ini menyebabkan banjir dan lumpur dari titik-titik bor terbawa sampai ke pemukiman warga,” tambahnya.

    Desak Moratorium Izin Tambang dan Perkebunan
    Simpul WALHI Gorontalo mendesak pemerintah untuk melakukan moratorium izin-izin perusahaan ekstraktif pemegang konsesi pertambangan dan perkebunan.

    Keberadaan usaha pertambangan dan perkebunan dinilai telah menghancurkan ekosistem hutan, dan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana ekologis di Provinsi Gorontalo.

    Simpul WALHI juga menyerukan revisi kebijakan agropolitan berbasis jagung yang menyebabkan alih fungsi lahan secara besar-besaran dan degradasi lingkungan yang parah.

    Menurut data Badan Pusat Statistik Gorontalo 2021, luas tanaman jagung di lima kabupaten dan satu kota mencapai 338 ribu hektare.

    Baca: Delapan warga meninggal akibat banjir di Sulawesi Tengah

    Dampak Serius Tambang Emas
    Kawasan tambang emas di Kecamatan Sumawa, Kabupaten Bone Bolango memang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi. Terowongan-terowongan di dalam tanah sangat mudah ambruk saat curah hujan tinggi dan memakan korban jiwa.

    Sementara itu sebagian besar area terdampak banjir sudah berangsur surut. Setidaknya sebanyak 8 ribu jiwa terdampak oleh banjir yang terjadi sejak 26 Juni lalu.

    Banjir dengan tinggi muka air 30 hingga 50 centimeter terjadi di Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango dan Boalemo.

    Gubernur Gorontalo menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Gorontalo selama 30 hari terhitung sejak tanggal 30 Juni sampai dengan tanggal 29 Juli.

    Saat memimpin rapat koordinasi penanganan banjir dan longsor Gorontalo, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menekankan kepada pemerintah daerah agar periode status tanggap darurat penanganan banjir tidak lama sehingga proses pemulihan dampak bencana dapat segera dimulai.

    BNPB telah memberikan bantuan dukungan operasional berupa Dana Siap Pakai (DSP) dan logistik peralatan kepada berbagai unsur penanggulangan bencana di Gorontalo dengan total bantuan sebesar 2,4 miliar rupiah

  • Catat Tanggalnya! KLHK Kembali Gelar Festival LIKE tentang Lingkungan Hidup dan Iklim

    Catat Tanggalnya! KLHK Kembali Gelar Festival LIKE tentang Lingkungan Hidup dan Iklim

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) siap menyelenggarakan Festival Lingkungan, Iklim, Kehutanan dan Energi Baru Terbarukan atau LIKE 2 akhir pekan depan.

    Festival LIKE 2 ini akan memperlihatkan perkembangan teknologi ramah lingkungan, penanganan perubahan iklim untuk mendukung masa depan berkelanjutan.

    Festival LIKE 2 ini akan diselenggarakan selama 4 hari pada 8-11 Agustus 2024 di Jakarta Convention Center (JCC).

    Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/8/2024), Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Sigit Reliantoro menyampaikan, Festival LIKE 2 akan memamerkan capaian teknologi ramah lingkungan dan potensi yang dapat dicapai Indonesia di masa depan.

    Baca: Olimpiade Paris disebut paling ramah lingkungan

    “Indonesia itu lead by example untuk mengatasi perubahan iklim. Nah, example itu yang kita collect sekarang, bukti-bukti bahwa kita memang memberikan aksi dari pada retorika,” ujarnya.

    Beberapa teknologi ramah lingkungan yang akan dipamerkan, antara lain termasuk teknologi pemanfaatan geotermal atau panas bumi, rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

    Tak ketinggalan instalasi pembangkit energi green hydrogen dan green ammonia.

    Selain itu, kata Sigit, akan dipamerkan juga inovasi-inovasi sosial yang dilakukan baik oleh dunia usaha, yang selain menyelesaikan permasalahan sosial sekaligus berbagai permasalahan lingkungan hidup dan perubahan iklim.

    Baca: Jejak karbon pertandingan bola

    Selain itu, lanjut dia, di Festival LIKE 2 ini juga akan disosialisasikan kinerja pemerintah selama 10 tahun untuk mendukung pelestarian lingkungan hidup dan kehutanan, termasuk kinerja seluruh unit yang ada di KLHK.

    Dia mencontohkan kebakaran hutan dan lahan, apa yang sudah dicapai, perhutanan sosial berapa statistik yang sudah diberikan kepada masyarakat dan perkembangan yang sudah diberikan akses seperti apa.

    “Di kami, pembangunan infrastruktur hijau seperti alat pemantau kualitas air dan udara, pemulihan lahan,” kata Sigit dilansir Antaranews.com.

    Baca: Cara Coldplay wujudkan tur ramah lingkungan

     

     

  • Gen Z dan Baby Boomers, Mana yang Paling Menderita Akibat Perubahan Iklim?

    Gen Z dan Baby Boomers, Mana yang Paling Menderita Akibat Perubahan Iklim?

    7cloud.asia – Kajian di tingkat global maupun nasional banyak kaum muda dari Generasi Z (Gen Z) dan Milenial sangat risau terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim.

    Gen Z merupakan kelompok penduduk global yang lahir dalam periode 1998-2012, sedangkan Milenial lahir di antara 1981-1995.

    Level keresahan mereka pada kondisi bumi saat ini, khususnya perubahan iklim, lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, seperti Generasi X (1965-1989) dan Baby Boomers (1946-1964).

    Kondisi tersebut melahirkan aksi iklim yang sangat kencang dari kaum muda Gen Z maupun Milenial dibandingkan orang-orang tua.

    Bahkan, aksi tersebut juga memicu lahirnya meme “Ok Boomer”, sebagai sindiran sejumlah anak muda terhadap generasi tua yang dianggap kolot terhadap langkah maju, termasuk aksi iklim.

    Sayang, sindiran ini justru menimbulkan sentimen antargenerasi dan tindakan saling menyalahkan. Generasi muda menganggap generasi tua telah merusak lingkungan dan memperparah perubahan iklim. Generasi tua juga dicap lamban untuk mengatasinya.

    Baca: Perubahan iklim membuat fenomena gelombang panas ekstrem

    Sementara itu, generasi tua mengeluhkan anak muda yang mereka anggap “mental lembek” dan hanya doyan main gadget. Mereka juga acap “menyuruh” yang muda untuk bertindak mengurus persoalan lingkungan.

    Membawa sentimen generasi dalam isu perubahan iklim justru tidak menyederhanakan persoalan. Banyak faktor yang akhirnya luput dari pertimbangan saat melihat akar masalah krisis iklim serta dampak-dampaknya.

    Meskipun meme-meme bernada sindiran menambah paparan publik terhadap isu lingkungan, percakapan semacam ini justru bisa menggeser fokus publik terhadap cara penanganan perubahan iklim.

    Setiap generasi membutuhkan lebih banyak perbincangan seputar dampak perubahan iklim. Dengan bercakap-cakap lebih banyak, antargenerasi seharusnya saling berempati dan berdialog untuk merumuskan aksi bersama, sesegera mungkin.

    Generasi mana yang paling menderita?
    Kejadian tak menyenangkan akibat perubahan iklim baik panas ekstrem, kebakaran hutan, puting beliung, banjir, maupun ombak dahsyat mengakibatkan kerugian banyak orang di berbagai negara dan juga daerah di Indonesia.

    Namun, pengalaman terhadap kejadian maupun bencana antargenerasi jelas berbeda

    Baca: Waspadai suhu panas di masa depan

    Gen Z yang lahir dalam periode 1998-2012 bertumbuh di situasi suhu Bumi sudah lebih hangat setidaknya 0,5°C sejak era praindustri (1850-an), dibandingkan generasi Baby Boomers yang lahir di antara tahun 1948-1962.

    Perbedaan ini juga terasa apalagi oleh Generasi Alpha yang lahir dalam periode 2013-2022.

    Kedua generasi ini, termasuk Millenial yang lahir dalam periode 1981-1995, menjadi kelompok yang sangat merasakan dampak perubahan iklim di masa depan.

    Jikalau seluruh negara dunia serius dan ambisius meredam perubahan iklim (termasuk melenyapkan pembakaran batu bara), mereka akan menjalani sebagian besar hidupnya di tengah kenaikan suhu Bumi sebesar 1,5-2,4°C.

    Semakin panas suhu Bumi, kemalangan yang menimpa manusia akan terus parah. Ini dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.

    Sementara itu, dengan skenario yang sama, generasi Baby Boomers merasakan kenaikan suhu 1,9°C.

    Baca: Sekjen PBB serukan pengurangan bahan bakar fosil tuk hadang perubahan iklim

    Karena mayoritas sudah berusia lanjut, Boomers mereka lebih rentan mengalami dampak perubahan iklim dalam waktu dekat seperti panas menyengat, kebakaran hutan, longsor, dan hujan ekstrem.

    Di negara berkembang seperti Indonesia, situasi itu bisa berefek lebih memprihatinkan. Sebagai contoh, generasi tua yang menjadi petani, mulai dari Generasi X hingga Boomers, banyak terpapar panas ekstrem di ladang dan ketidakpastian cuaca.

    Ini berdampak pada kesehatan sekaligus sumber nafkah mereka.

    Nelayan generasi Baby Boomers di desa-desa pesisir Sumbawa, misalnya, tak bisa disalahkan atas dan perubahan iklim. Sebaliknya, mereka justru menjadi korban.

    Dalam kasus lain, ada pemuda yang terbukti menerima suap dari perusahaan perusak lingkungan yang membuat Bumi semakin celaka.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Diah Ayu Prawitasari, Dosen Tetap Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

  • Fakta Mengerikan Dampak Sampah Makanan pada Lingkungan

    Fakta Mengerikan Dampak Sampah Makanan pada Lingkungan

    7cloud.asia – Sampah makanan menjadi masalah yang jamak ditemukan di seluruh dunia, tidak hanya di negara-negara maju.

    Sampah makanan berdampak negatif terhadap lingkungan, perekonomian, ketahanan pangan, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi.

    Saat ini, lebih dari 800 juta orang menderita kekurangan gizi yang parah, sebuah pemikiran yang mengejutkan ketika sepertiga dari seluruh makanan yang seharusnya dikonsumsi manusia terbuang percuma atau hilang.

    Keberhasilan mengatasi masalah sampah makanan ini masih menjadi tantangan besar yang dihadapi masyarakat dunia di tahun-tahun mendatang.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Berikut adalah 25 fakta mengejutkan tentang sampah makanan yang perlu Anda ketahui, sebagaimana dilansir di earth.org

    1. Sekitar seperlima dari produksi pangan yang ditujukan untuk konsumsi manusia – sekitar 1,3 miliar ton dan bernilai 1 triliun dolar– terbuang atau hilang setiap tahunnya.

    2. Sampah makanan menghabiskan seperempat persediaan air di Bumi dalam bentuk makanan yang tidak dimakan. Jumlah tersebut setara dengan 172 miliar dolar air yang terbuang.

    3. Dengan mempertimbangkan seluruh sumber daya yang digunakan untuk menanam pangan, sampah makanan menghabiskan 21 persen air tawar, 19 persen pupuk, 18 persen lahan pertanian, dan 21 persen volume tempat peembuangan sampah akhir (TPA).

    4. Air yang digunakan untuk menghasilkan sisa makanan dapat digunakan oleh 9 miliar orang dengan jumlah sekitar 200 liter per orang per hari.

    Baca: Ini yang bisa dilakukan untuk kurangi sampah makanan

    5. Makanan yang saat ini terbuang di Eropa dapat memberi makan 200 juta orang, di Amerika Latin 300 juta orang, dan di Afrika 300 juta orang.

    6. Sampah per kapita konsumen per tahun adalah antara 95-115 kilogram per tahun di Eropa dan Amerika Utara, sementara di Asia Selatan dan Tenggara, angkanya mencapai 6-11 kg.

    7. Kehilangan dan limbah pangan menyumbang sekitar 4,4 gigaton emisi gas rumah kaca setiap tahunnya.

    8. Jika kehilangan pangan adalah sebuah negara, maka negara tersebut akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga, setelah China dan Amerika Serikat.

    Baca: Kurangi konsumsi daging bagus untuk lingkungan

    9. Negara-negara maju dan berkembang membuang atau kehilangan makanan dalam jumlah yang hampir sama setiap tahunnya, masing-masing sebesar 670 dan 630 juta ton. Sekitar 88 juta ton dari jumlah tersebut berada di Uni Eropa.

    10. Jika dirinci berdasarkan kelompok makanan, kerugian, dan limbah per tahun, kira-kira 30persen untuk sereal, 40-50persen untuk tanaman umbi-umbian, buah-buahan dan sayur-sayuran, 20persen untuk minyak biji-bijian, daging, dan susu, dan 35persen untuk ikan.

    11. Jika 25peren makanan yang hilang atau terbuang secara global dapat diselamatkan, maka jumlah tersebut akan cukup untuk memberi makan 870 juta orang di seluruh dunia.

    12. Pada pertengahan abad ini, populasi dunia akan mencapai 9 miliar jiwa. Pada saat itu, produksi pangan harus ditingkatkan sebesar 70persen dari tingkat saat ini untuk memenuhi permintaan tersebut.

     

  • KLHK Siapkan Dana Hingga 50 Ribu Dollar AS untuk Masyarakat Aktif Dalam Pelestarian Lingkungan

    KLHK Siapkan Dana Hingga 50 Ribu Dollar AS untuk Masyarakat Aktif Dalam Pelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam melestarikan lingkungan hidup. Karenanya KLHK menyiapkan dana 20 hingga 50 ribu dollar AS.

    Menteri LHK, Siti Nurbaya menjelaskan dana tersebut digunakan untuk mendukung pelaksanaan program layanan kemasyarakatan dalam melestarikan lingkungan.   

    “Sederhananya seperti untuk pengelolaan sampah berkelanjutan ataupun penanaman pohon yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat,” jelas Siti Nurbaya seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Cara berkontribusi dalam pelestarian lingkungan

    Selanjutnya dia menerangkan dana tersebut berasal dari APBN dan juga lembaga filantropi, kerja sama multilateral.

    KLHK memastikan penyaluran dan pengelolaan dana bantuan tersebut transparan dan akuntabel karena dilakukan di bawah pengawasan langsung dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).   

    Selanjutnya Siti menjelaskan masyarakat bias mendapatkan dana bantuan tersebut dengan mengajukan permohonan termasuk kelengkapan rencana program lingkungan yang akan dilaksanakan terlebih dahulu.

    Kemudian, memenuhi syarat administrasi pendukung lainnya pada sistem yang disiapkan BPDLH.  

    Baca: Upaya pelestarian macan tutul jawa di Ujung Kulon

    “Dana lingkungan yang dapat digunakan oleh masyarakat ini merupakan jawaban atas perintah dari Pak Presiden kepada saya, kami menyadari bahwa aksi masyarakat untuk lingkungan tentu saja memerlukan dukungan dan fasilitasi dari pemerintah pusat dan atau pemerintah daerah,” urai Siti.

    Sementara itu, Direktur Penyaluran Dana BPDLH, Damayanti Ratunanda mengatakan masyarakat saat ini sudah bisa melakukan pengajuan permohonan dana untuk lingkungan tersebut.

    Yaitu dengan cara mengakses kanal sistem internet layanan dana BPDLH (https://bpdlh.id/portal-layanan/).

    Jenis kegiatan yang ditetapkan dalam penggunaan dana tersebut dapat meliputi kampanye, pelatihan, sosialisasi terkait penghijauan, jasa lingkungan, restorasi sungai, pengolahan sampah.

    “Lengkapi detail rencana program dan rancangan anggaran biaya (RAB). BPDLH akan segera melakukan pencairan dana tahap pertama kepada pemohon setelah mendapat hasil verifikasi dan validasi data oleh tim dari KLHK,” terang Damayanti.

    Baca: Peliknya pelestarian pesut di Mahakam

    BPDLH membagi sebanyak empat klaster target penerima dana masyarakat untuk lingkungan tersebut.

    Mulai dari kelompok penerima penghargaan Kalpataru, Adiwiyata, binaan PPK, dan Green Leader Indonesia.

    Hal ini sesuai dengan tiga tujuan utama layanan dana masyarakat untuk lingkungan yang antara lain mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan.

    Tujuan lainnya memberikan dukungan finansial bagi inisiatif-inisiatif lingkungan yang berasal dari masyarakat dan mempercepat pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 

     

     

  • Temanggung Dorong Pengembangan Kopi Organik, Ramah Lingkungan dan Harga Lebih Mahal

    Temanggung Dorong Pengembangan Kopi Organik, Ramah Lingkungan dan Harga Lebih Mahal

    7cloud.asia – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, merintis tanaman kopi organik untuk memenuhi pasar ekspor.

    Untuk pengembangan tanaman kopi organik ini Pemkab Temanggung bekerja sama dengan pihak swasta.

    Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung Joko Budi Nuryanto di Temanggung, Selasa, menyampaikan selama ini hasil kopi organik banyak permintaan dari luar negeri.

    Ia menyampaikan tahun ini pihaknya menargetkan 200 hektare tanaman kopi organik di Temanggung.

    Menurut dia, sampai saat ini kopi organik dihasilkan dari petani yang sudah bersertifikat, yakni di Kaloran dan Prangkokan Kecamatan Bejen, luasannya baru sekitar puluhan hektare.

    Baca: Pupuk organik untuk atasi kerusakan lahan

    “Sementara ini menghasilkan kopi organik sekitar enam sampai tujuh kuintal itu sudah rutin setiap musim,” katanya.

    Ia menyampaikan permintaan kopi organik selama ini adalah dari Australia, namun akhir-akhir ini juga ada permintaan dari Korea dan Jepang.

    “Buyer kita semakin bertambah kalau kemarin cuma Australia, kini Korea dan Jepang juga ada permintaan. Soal harga, kami kurang tahu persis tetapi yang jelas lebih mahal dari yang bukan organik,” katanya.

    Pengembangan kopi organik di Temanggung sudah didorong sejak era Gubernur Ganjar Pranowo.

    Selain ramah terhadap lingkungan karena tidak menggunakan obat kimia, harga jual kopi organik juga lebih tinggi dibanding kopi non organik.

    Baca: Petani kopi kehilangan produksi akibat perubahan iklim

    Selain itu, untuk menjaga harga petani kopi di Temanggung disarankan tetap melakukan petik merah sehingga kualitas kopi tetap terjamin.

    Harga kopi nonorganik di Temanggung saat ini sekitar Rp58.000-60.000 per kilogram untuk jenis robusta, sedangkan jenis arabika bisa mencapai 150.000 per kilogram.

    Kopi robusta di Kabupaten Temanggung ditanam di dataran rendah seperti di Kecamatan Kaloran, Jumo, Candiroto, Pringsurat, dan Wonoboyo.

    Sedangkan kopi jenis arabika umumnya dikembangkan di dataran tinggi seperti Kecamatan Kledung.

    Sumber:Antaranews.com

  • Grup Musik Green Day Bakal Manggung di Jakarta Awal Tahun Depan

    Grup Musik Green Day Bakal Manggung di Jakarta Awal Tahun Depan


    7cloud.asia – Grup band legendaris rock asal Amerika Serikat Green Day siap menggelar konser tunggal di Jakarta bertajuk “Green Day Live in Jakarta” pada 15 Februari 2025 di Carnaval Ancol, Jakarta Utara.

    Selama ini Green Day dikenal dengan komitmen panjang mereka terhadap keadilan sosial dan lingkungan.

    Sebagai seniman dan aktivis yang terkenal di dunia, Green Day terus memanfaatkan pengaruh dan platform besarnya untuk menghadirkan kesadaran terhadap dampak perubahan iklim bagi masyarakat dan lingkungan.

    Green Day sebelumnya juga dipercaya menjadi penampil utama dalam konser iklim global yang didukung oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2 April 2024 lalu.

    Konser iklim diselenggarakan PBB bersama Recording Academy itu ditujukan untuk menarik perhatian publik terhadap kesenjangan yang diperburuk oleh perubahan iklim.

    Baca: Grup musik Green Day jadi penampil utama di Konser Iklim PBB

    “Kami sangat antusias dapat membawa Green Day ke Jakarta dan ini masih dalam rangkaian perayaan 10 tahun Hammersonic,” kata Founder dan CEO Ravel Entertainment Ravel Junardy saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (15/8/2024).

    Dia menambahkan, “Kehadiran mereka akan menjadi penampilan epik dan bersejarah sekaligus menjadi hadiah istimewa bagi penggemar setia Green Day yang sudah menunggu selama 29 tahun untuk mereka datang ke Jakarta”.

    Konser Green Day di Jakarta tahun depan menjadi salah satu rangkaian acara perayaan Festival Hammersonic yang ke-10 tahun.

    Festival Hammersonic adalah festival musik internasional tahunan yang menghadirkan grup musik dari mancanegara dan diinisiasi oleh Ravel Entertainment.

    Kini, Ravel Entertainment siap mengundang Green Day untuk memeriahkan rangkaian perayaan 10 tahun Festival Hammersonic di Jakarta. Green Day telah dikenal selama lebih dari 30 tahun melalui lagu-lagu hitnya, mulai dari “Boulevard of Broken Dreams”, “21 Guns”, “American Idiot”, dan lainnya.

    Baca: Upaya Coldplay wujudkan konser ramah lingkungan

    Tidak hanya itu, Green Day kembali menjadi perbincangan hangat setelah terlibat dalam penggarapan soundtrack untuk film “Deadpool vs Wolverine” yang dirilis tahun ini.

    Keterlibatan mereka dalam proyek tersebut semakin memperkuat posisi Green Day sebagai band yang relevan dan terus berinovasi di industri musik global.

    Untuk menonton konser “Green Day Live in Jakarta”, tiket akan tersedia mulai 27 Agustus 2024 pukul 15:00 WIB melalui laman situs www.greendayjkt.com.

    Dilansir Antaranews.com, ada sejumlah kategori tiket yang dapat dibeli oleh penonton, yaitu:

    CAT 1A: Rp2.655 juta

    CAT 1B: Rp2.655 juta

    CAT 2A: Rp2.015 juta

    CAT 2B: Rp2.015 juta

    CAT 3: Rp1.580 juta

    Baca: 21 film tentang lingkungan yang wajib ditonton

    Namun, harga di atas belum termasuk pajak dan biaya layanan platform.

    Untuk informasi selengkapnya, kunjungi laman situs www.greendayjkt.com atau Instagram @hammersonicfest dan @ravelentertainment.