Tag: emisi gas rumah kaca

  • OECD: Aksi Iklim yang Ambisius Dapat Tetap Dilakukan Tanpa Mengganggu Pertumbuhan Ekonomi

    OECD: Aksi Iklim yang Ambisius Dapat Tetap Dilakukan Tanpa Mengganggu Pertumbuhan Ekonomi

    7cloud.asia – Upaya global untuk menurunkan emisi gas rumah kaca berlangsung di tengah kekhawatiran akan adanya trade-off ekonomi, atau pelambatan pertumbuhan ekonomi.

    Namun, analisis Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) menunjukkan bahwa aksi iklim yang ambisius dapat dilakukan tanpa merusak pertumbuhan ekonomi.

    Laporan terbaru OECD menyebut, jika diimplementasikan dengan kebijakan yang dirancang dengan baik dan pendanaan yang memadai, Peningkatan Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) dapat mempercepat pengembangan sistem energi yang efisien.

    Upaya menurunkan emisi gas rumah kaca dengan transisi energi juga dapat menciptakan lapangan kerja yang baik, dan memberikan manfaat tambahan yang penting seperti peningkatan akses energi, peningkatan ketahanan energi, dan peningkatan kesehatan.

     

    Baca: Target Perjanjian Paris masih mungkin dicapai

    Pasar global untuk enam teknologi energi hijau utama, yakni fotovoltaik surya, turbin angin, kendaraan listrik, baterai, elektroliser, dan pompa panas mencapai lebih dari 700 miliar dolar AS pada tahun 2023.

    Dengan kebijakan saat ini, pasar teknologi energi hijau diperkirakan akan berkembang hampir tiga kali lipat pada tahun 2035, setara dengan pasar minyak mentah global belakangan ini.

    Tindakan Kritis untuk Lima Tahun Mendatang
    Laporan OECD yang dirilis beberapa waktu lalu mengidentifikasi, lima tahun ini atau hingga 2030 sebagai tahun-tahun yang sangat krusial.

    Masyarakat dunia harus memacu dan mengumpulkan inovasi dan investasi di sektor ekonomi hijau agar penurunan emisi gas rumah kaca benar-benar dapat diwujudkan.

    Ada beberapa bidang utama memerlukan perhatian segera agar target Perjanjian Paris untuk menurunkan emisi global. Sektor itu antara lain adalah:

    Baca: China dan Inggris berpeluang memimpin aksi iklim dunia

    Kebijakan industri dan titik kritis positif
    Kebijakan industri hijau dapat digunakan untuk menciptakan titik kritis positif guna mendorong pengembangan teknologi dan memajukan pengurangan emisi.

    Namun, kebijakan tersebut memiliki risiko dan harus dirancang dengan tepat untuk menghindari distorsi pasar, kelebihan kapasitas, dan ketegangan perdagangan.

    Pengurangan metana sebagai solusi cepat
    Tindakan terhadap emisi metana dapat menjadi penerapan rem tangan terhadap pemanasan global.

    Pengurangan emisi metana global sebesar 30 persen pada tahun 2030 akan menghilangkan pemanasan sekitar 0,2°C pada tahun 2050.

    Teknologi pengurangan hemat biaya yang ada di sektor energi, limbah, dan pertanian secara kumulatif mewakili hampir semua emisi metana yang disebabkan oleh manusia.

    Kebijakan sisi permintaan
    Meskipun berpotensi sangat besar untuk mitigasi, kebijakan sisi permintaan masih kurang dimanfaatkan.

    Kebijakan ini berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor pengguna akhir yang besar sebesar 40-70 persen pada tahun 2050 di seluruh dunia, sebagian besar melalui efisiensi energi, perubahan perilaku, dan pergeseran pola konsumsi.

    Baca: Arah aksi iklim dunia setelah AS mundur dari Perjanjian Paris

  • Laporan OECD Tekankan Pentingnya Kebijakan Iklim yang Berkeadilan

    Laporan OECD Tekankan Pentingnya Kebijakan Iklim yang Berkeadilan

    7cloud.asia – Laporan terbaru OECD memberikan wawasan penting tentang perubahan pasar tenaga kerja akibat kebijakan iklim

    Laporan yang dirilis Mei lalu tersebut mengidentifikasi bahwa di negara-negara OECD, hanya 6 persen pekerja yang memiliki pekerjaan di sektor yang intensif emisi gas rumah kaca, sementara sekitar 20 persen memiliki pekerjaan yang berorientasi pada lingkungan.

    Hal ini menunjukkan potensi perubahan pasar tenaga kerja yang dapat dikelola dengan sistem dukungan yang tepat, meskipun besarannya sangat berbeda antar wilayah.

    Laporan ini juga mengungkap adanya defisit kepercayaan kepada pemerintah. Hanya 30 persen responden yang berpartisipasi dalam survei yakin bahwa pemerintah mereka dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Temuan di atas memperjelas bahwa perbaikan teknis semata tidaklah cukup. Kunci keberhasilan upaya menurunkan emisi gas rumah kaca terletak pada upaya mempertahankan kepercayaan publik dan mencapai hasil yang adil.

    Laporan OECD juga memaparkan penyelarasan investasi dan kenyataan suram, bahwa meskipun investasi di sektor energi bersih mencapai 1,7 triliun dolar AS pada tahun 2022.

    Baca: Aksi Iklim yang ambisius dapat dilakukan tanpa korbankan pertumbuhan ekonomi

    Jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari pembentukan modal tetap sebesar 26,4 triliun dolar AS pada tahun yang sama.

    Meskipun ada kemajuan, skala penyelarasan sistem keuangan yang dibutuhkan untuk aksi iklim masih sangat besar.

    Investasi untuk negara-negara berkembang dan pasar negara berkembang perlu dilipat-gandakan setidaknya pada tahun 2030.

    Laporan tersebut menyebut, investasi untuk iklim harus ditingkatkan menjadi 2,4 triliun dolar AS per tahun pada akhir dekade ini atau empat kali lipat dari perkiraan yang dibuat tahun 2022 sebesar 600 miliar dolar AS.

    Angka ini seperti yang telah disetujui dalam tujuan kuantitatif kolektif baru yang diadopsi pada COP29, yang bertujuan untuk memobilisasi setidaknya 300 miliar dolar AS pada tahun 2035 untuk aksi iklim di negara-negara berkembang.

    Kekuatan dan Keterbatasan
    Laporan OECD merupakan distilasi elegan dari penelitian kebijakan iklim multidisiplin. Keunggulan terbesarnya adalah kemampuannya untuk menunjukkan bahwa tindakan terhadap iklim harus bijaksana secara ekonomi, alih-alih mahal secara ekonomi.

    Baca: Target Perjanjian Paris masih mungkin dicapai

    Ini merupakan pembingkaian ulang yang krusial bagi para pembuat kebijakan yang diminta untuk menyeimbangkan tuntutan anggaran yang saling bersaing.

    Namun, sejumlah kekurangan harus dipertimbangkan. Pembingkaian laporan yang optimistis tentang “titik kritis positif” mungkin mengecilkan hambatan ekonomi politik untuk melampaui kepentingan bahan bakar fosil yang mengakar.

    Meskipun analisis mengakui adanya risiko dalam kebijakan industri, perangkat untuk mencegah persaingan subsidi dan fragmentasi pasar diberikan dengan penjelasan yang terlalu terbatas.

    Penanganan pembiayaan negara berkembang, meskipun menyeluruh, mungkin meremehkan kompleksitas politik penskalaan iklim dari kondisi saat ini hingga triliunan pendanaan yang dibutuhkan.

    Laporan tersebut mengkuantifikasi kesenjangan kebutuhan sebesar 1,7 triliun dolar AS bagi negara-negara berkembang, tetapi hanya menawarkan sedikit solusi konkret di luar mantra usang “pembiayaan campuran” dan “lingkungan pendukung”.

    Yang terpenting, basis bukti laporan tersebut mengungkapkan defisit pengetahuan yang mengkhawatirkan: evaluasi pasca-evaluasi terhadap efikasi kebijakan masih buruk.

    Baca: Arah aksi iklim dunia pasca AS mundur dari Perjanjian Paris

    Laporan tersebut mengakui bahwa “diperlukan lebih banyak bukti mengenai efektivitas, interaksi, dan apa yang paling berhasil dalam konteks apa.”

    Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan sebagian besar berada di wilayah yang belum dipetakan, menavigasi dengan informasi yang tidak lengkap.

    Aspek sosial diberi fokus yang tepat, terutama pada transisi yang adil dan partisipasi warga negara.

    Namun, kesenjangan antara besarnya transformasi yang dibutuhkan dan tingkat kepercayaan publik yang ada – di mana hanya 30 persen yang mempercayai tindakan pemerintah terkait iklim harus menjadi catatan.

    Hal ini menyiratkan bahwa “pendekatan yang berpusat pada rakyat” yang dipromosikan mungkin memerlukan reformasi kelembagaan yang lebih drastis daripada yang dibayangkan dalam laporan tersebut.

  • Membaca SNDC Indonesia: Ketika Target Iklim Menyesuaikan Pertumbuhan Ekonomi

    Membaca SNDC Indonesia: Ketika Target Iklim Menyesuaikan Pertumbuhan Ekonomi

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup akhirnya resmi menyerahkan Second Nationally Determined Contribution atau SNDC kepada Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada akhir Oktober lalu atau beberapa pekan menjelang COP 30.

    Dokumen SNDC ini memuat rencana iklim Indonesia untuk periode 2031–2035, memperbarui dokumen Enhanced NDC (ENDC) sebelumnya yang berlaku untuk periode 2026-2030.

    Lantas, seperti apa pembaruan rencana aksi iklim nasional dalam dokumen ini? Dalam SNDC, Indonesia tidak lagi menggunakan target penurunan emisi gas rumah kaca dari skenario business as usual (BAU) dalam bentuk persentase.

    Sebagai gantinya, Indonesia langsung menyebutkan total emisi gas rumah kaca (GRK) yang ditargetkan pada 2035 dengan menggunakan level emisi 2019 sebagai patokan.

    Metode perhitungan yang dipakai dalam SNDC menggunakan pendekatan Low Carbon Development Compatible with Paris Agreement (LCCP) yang menyesuaikan proyeksi iklim dengan pembangunan rendah karbon sesuai dengan target Perjanjian Paris.

    Pendekatan ini menggunakan dua skenario berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi.

    1. Skenario LCCP_L (Low scenario/skenario rendah)
    Asumsi pertumbuhan ekonomi: 6,0 persen pada 2030 dan 6,7 persen pada 2035.
    Target emisi (yang diizinkan/tidak boleh dilampaui): 1.345 juta ton CO₂e.

    2. Skenario LCCP-H (High scenario/skenario tinggi)
    Asumsi pertumbuhan ekonomi: 8 persen pada 2029.
    Target emisi: 1.491 juta ton CO₂e.

    Skenario mana yang nantinya akan dipakai? Ini tergantung pada angka pertumbuhan ekonomi.

    Baca: Aksi Iklim ambisius dapat dilakukan tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi

    Target iklim menyesuaikan pertumbuhan ekonomi
    Menurut analisis Institute for Essential Services Reform (IESR), dengan dua skenario di atas, total emisi Indonesia justru diproyeksikan naik pada 2030.

    Dalam skenario LCCP-H misalnya, jumlah emisi bersih (net emission) pada 2035 diproyeksikan sekitar 1.489 juta ton CO₂e. Angka ini bahkan didapat dengan asumsi sektor hutan dan lahan (Forestry and Other Land Use/FOLU) Indonesia berhasil menyerap emisi lebih banyak.

    Jika keberhasilan di atas tidak masuk hitungan, maka total emisi sebenarnya atau gross emission Indonesia bisa naik hingga 1.696 juta ton CO₂e dalam periode yang sama. Artinya, tanpa bantuan hutan dan lahan untuk menyerap karbon, emisi Indonesia bakal jauh lebih tinggi.

    IESR menilai skenario pertumbuhan ekonomi 8 persen ini masih sangat tinggi karbon.

    Dalam SNDC ini, pemerintah menargetkan penyerapan sektor FOLU sangat besar, mencapai 206,8 juta ton CO₂e pada 2035.

    Secara implisit, kenaikan emisi sektor energi ini ditebus dengan peningkatan penyerapan karbon dari hutan dan lahan. Jadi, FOLU menjadi penambal kenaikan emisi dari sektor energi.

    Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa menilai, dengan skenario seperti ini, maka emisi nasional masih akan terus meningkat sampai 2035, baru kemudian menurun tajam menuju 2060.

    “Artinya, upaya nyata penurunan emisi baru akan dimulai setelah 2035, bukan dalam dekade ini,” ujar Fabby.

    IESR menilai, penundaan penurunan emisi hingga setelah 2035 ini tidak efisien dan akan membutuhkan ongkos yang lebih mahal di masa depan. Ibaratnya, semakin lambat bertindak, semakin mahal biayanya nanti.

    Penundaan puncak emisi juga berisiko membuat Indonesia gagal memenuhi target Persetujuan Paris, yaitu menahan pemanasan global di bawah 1,5°C.

    Baca: Target Perjanjian Paris masih mungkin dicapai

    Menurut kajian Climate Action Tracker (CAT), agar selaras dengan jalur 1,5°C, emisi Indonesia pada 2035 seharusnya sekitar 720 juta ton CO₂e (di luar sektor FOLU).

    Namun dalam skenario LCCP-H, emisi bersih Indonesia masih dua kali lipat lebih besar, yakni 1.489 juta ton CO₂e. Artinya, laju penurunan emisi dalam skenario saat ini belum cukup untuk memenuhi janji iklim global.

    Emisi sektor energi tetap tinggi
    Dalam skenario dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 8 persen, sektor energi tetap menjadi penyumbang emisi terbesar pada 2035, yaitu 1.336 juta ton CO₂e, naik lebih dari dua kali lipat (103 persen) dibandingkan 2019.

    Untuk menekan laju emisi, Indonesia akan menaikkan porsi bauran energi terbarukan hingga 19 hingga 23 persen dari bauran energi nasional pada 2030.

    Kemudian bertambah lagi menjadi 36 hingga 40 persen pada 2040 sembari melakukan efisiensi konsumsi energi dan mendorong penggunaan kendaraan listrik.

    Namun, bila energi fosil masih mendominasi dan kebutuhan listrik terus naik, maka penurunan emisi tetap tidak bisa terjadi secepat yang diharapkan.

    Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, target second NDC yang menggunakan pertumbuhan ekonomi ini berlawanan dengan upaya menurunkan emisi karbon.

    Hal ini mengingat pemerintah masih mengandalkan sektor ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

    Apalagi dalam sektor energi, pemerintah masih merencanakan adanya pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bakar batu bara sebesar 6,3 GigaWatt (GW) dalam jaringan PT PLN dan 20 GW di luar PLN. Ada juga tambahan 10,3 GW pembangkit berbahan gas.

    “Pemerintah seolah ingin menyelaraskan target pengurangan emisi karbon dengan target pertumbuhan ekonomi, tapi yang kita lihat justru pertumbuhan ekonomi dijadikan sebagai panglima,” ujar dia.

    Menurut Bhima, target pengurangan emisi dalam SNDC tidak kredibel atau tidak berdasar dan sulit diterapkan.

    Baca: Laporan OECD 2025 tekankan pentingnya kebijakan iklim yang berkeadilan

    Sama seperti Fabby, dia menengarai emisi karbon justru akan semakin meningkat. Apalagi pemerintah merencanakan pembukaan lahan besar-besaran untuk proyek lumbung pangan (food estate) dan “kebun” hutan tanaman energi yang justru bisa meningkatkan laju deforestasi.

    SNDC tanpa terobosan
    Bhima menganggap pemerintah seakan hampir tidak memiliki alternatif untuk menurunkan emisi sekaligus menumbuhkan ekonomi yang berkualitas.

    Pemerintah, kata dia, semestinya bergeser dari model ekonomi ekstraktif dan menyelaraskan upaya mengurangi emisi industri, mengembangkan ekonomi restoratif, dan mempercepat transisi energi.

    Semua itu bisa menurunkan emisi karbon sekaligus juga membuka lapangan kerja, mengendalikan tingkat inflasi, serta mendorong adanya penciptaan nilai tambah di berbagai sektor.

    “Kebijakan saat ini seolah hanya fokus mengejar nominal pertumbuhan ekonomi, yang penting 8 persen dengan cara apa pun, tapi target NDC-nya jelas mustahil untuk dicapai,” ujar Bhima.

    Sangat disayangkan, pendekatan ekonomi dalam model NDC justru melihat bahwa aksi iklim yang ambisius tidak mendukung pertumbuhan ekonomi. Padahal, aksi iklim yang lebih kuat justru menjadi prasyarat terciptanya pertumbuhan ekonomi tinggi.

    Kajian CELIOS misalnya memperkirakan, jika Indonesia menerapkan pendekatan ekonomi restoratif, maka nilai output ekonomi nasional bisa meningkat hingga 10 kali lipat dalam 25 tahun ke depan, dari Rp203 triliun menjadi Rp2.208 triliun.

    Begitu pula energi terbarukan berbasis komunitas berpotensi memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar Rp10.529 triliun dalam periode 25 tahun dan mengangkat 16 juta penduduk dari kemiskinan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Dewi N. Piliang (Environment Editor The Conversation)

  • UNEP: Emisi Gas Rumah Kaca 2024 Jauh Melampaui Target Perjanjian Paris

    UNEP: Emisi Gas Rumah Kaca 2024 Jauh Melampaui Target Perjanjian Paris

    7cloud.asia – Sebuah laporan PBB yang dirilis Selasa (4/11/2025) menyebut bahwa emisi gas rumah kaca global pada 2024 meningkat sebesar 2,3 persen dan mencatat rekor tertinggi yakni 57,7 miliar ton.

    Emisi gas rumah kaca tersebut jauh melebihi target yang ditetapkan dalam perjanjian iklim Paris 2015 untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius (°C) di atas tingkat pra-industri.

    Laporan tersebut juga memperingatkan suhu global dapat meningkat hingga 2,8°C pada abad ini kecuali ada tindakan cepat untuk mengatasinya.

    Bahkan jika semua negara yang terlibat Perjanjian Paris mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca mereka pada 2035, suhu global diproyeksikan akan naik sebesar 2,3 hingga 2,5°C, menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP).

    “Ini akan sulit untuk dibalikkan –memerlukan pengurangan tambahan yang lebih cepat dan lebih besar untuk emisi gas rumah kaca guna meminimalkan kelebihan emisi– dan mengurangi kerusakan terhadap kehidupan dan perekonomian,” demikian laporan itu memperingatkan.

    Jika Amerika Serikat secara resmi menarik diri dari Perjanjian Paris, suhu global berpotensi naik sebesar 0,1°C tambahan, kata laporan itu

    China tercatat memiliki emisi gas rumah kaca tertinggi pada 2024, yaitu 15,6 miliar ton. Amerika Serikat menyusul dengan 5,9 miliar ton, India dengan 4,4 miliar ton, Uni Eropa dengan 3,2 miliar ton, dan Rusia dengan 2,6 miliar ton.

    Kelompok 20 negara dengan perekonomian besar (G20), tidak termasuk Uni Afrika, menyumbang 77 persen dari total emisi gas rumah kaca dan tindakan yang lebih ambisius dituntut dari negara-negara anggotanya.

    Namun, mengingat skala pengurangan yang diperlukan dan waktu yang tersisa untuk mencapainya, suhu global rata-rata sangat mungkin melebihi 1,5°C dalam dekade berikutnya.

    Untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C pada 2035, dibutuhkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 55 persen dibanding emisi pada tahun 2019.  

    Namun, bahkan meskipun semua negara memenuhi target mereka saat ini, pengurangan tersebut diproyeksikan hanya mencapai sekitar 15 persen, menurut laporan tersebut.

    “Selama 10 tahun Perjanjian Paris, telah terjadi penurunan suhu yang cukup besar.Oleh karena itu, komunitas internasional sebaiknya mempercepat aksi iklim… Namun, kemauan politik untuk melakukannya masih kurang,” kata laporan itu.

    Sekarang, fokus dunia akan beralih ke Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, yang dikenal sebagai COP 30, di Brasil bulan ini, terkait apakah diskusi di sana dapat menghasilkan penguatan aksi iklim dunia.

    Sumber: Antaranews.com/Kyodo-OANA

  • Jelang COP 30: 60 Negara Telah Serahkan SNDC

    Jelang COP 30: 60 Negara Telah Serahkan SNDC

    7cloud.asia – Laporan terbaru UNEP menyebutkan bahwa baru 60 dari 172 pihak dalam Perjanjian Paris, yang telah menyerahkan atau mengumumkan Second Nationally Determined Document yang berisi target mitigasi untuk tahun 2035 hingga 30 September 2025.

    Upaya yang dilakukan 60 negara penandatangan Perjanjian Paris ini mewakili 63 persen emisi gas rumah kaca global.

    Selain kurangnya kemajuan dalam komitmen, UNEP melihat masih terdapat kesenjangan implementasi yang besar, dengan negara-negara yang belum berada di jalur yang tepat untuk memenuhi NDC 2030 mereka, apalagi target baru untuk tahun 2035 (SNDC)

    Menyelaraskan dengan Perjanjian Paris membutuhkan pengurangan emisi gas rumah kaca yang cepat dan belum pernah terjadi dan melampaui komitmen sebelumnya.

    “Ini sebuah tugas yang dipersulit oleh peningkatan emisi sebesar 2,3 persen per tahun menjadi 57,7 gigaton setara CO2 pada tahun 2024,“ demikian laporan tersebut.

    Emisi gas rumah kaca pada tahun 2030 harus turun 25 persen dari tingkat emisi tahun 2019 agar dunia tetap berada di jalur 2°C, dan turun 40 persen untuk berada di jalur 1,5°C – dengan waktu tersisa hanya lima tahun untuk mencapai tujuan ini.

     

    Baca: Pertarungan antara kekuatan lobi korporasi dengan perjuangan masyarakat sipil di COP 30

    Implementasi penuh semua NDC akan mengurangi emisi global yang diperkirakan pada tahun 2035 sekitar 15 persen dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 2019 – meskipun mundurnya AS dari Perjanjian Paris akan mengubah angka-angka ini.

    Pengurangan emisi gas rumah kaca saat ini jauh di bawah 35 persen dan 55 persen yang dibutuhkan pada tahun 2035 untuk mencapai target 2°C dan 1,5°C.

    Mencapai target 1,5°C tetap krusial
    Laporan itu menyebut besarnya pengurangan yang diperlukan, dan waktu yang singkat untuk mewujudkannya, berarti bahwa rata-rata suhu global multi-dekade kini akan melampaui 1,5°C, kemungkinan besar dalam dekade berikutnya.

    Pengurangan emisi yang ketat dalam jangka pendek dapat menunda terjadinya overshoot, tetapi tidak dapat sepenuhnya menghindarinya.

    “Tugas besar ke depan adalah berupaya menjadikan overshoot ini sementara dan minimal, melalui pengurangan emisi yang cepat yang terus kembali ke 1,5°C pada tahun 2100 jika memungkinkan,“ laporan tersebut menekankan.

    Setiap fraksi derajat yang dihindari akan mengurangi eskalasi kerusakan, kerugian, dan dampak kesehatan yang merugikan semua negara –sekaligus berdampak paling parah pada masyarakat termiskin dan paling rentan.

    Baca: COP 30 jadi momen penting bagi aksi iklim global

    Setiap fraksi derajat yang dihindari juga akan mengurangi risiko titik kritis iklim serta dampak tak terelakkan lainnya.

    Laporan itu menekankan, meminimalkan overshoot juga akan mengurangi ketergantungan pada metode penghilangan karbon dioksida yang tidak pasti, berisiko, dan mahal.

    Hal ini perlu menghilangkan dan menyimpan secara permanen sekitar lima tahun emisi CO2 tahunan global saat ini untuk membalikkan setiap 0,1°C pengurangan.

    Laporan ini mengkaji skenario “aksi mitigasi cepat mulai tahun 2025”, yang dirancang untuk membatasi pengurangan hingga sekitar 0,3°C, dengan peluang 66 persen, dan kembali ke 1,5°C pada tahun 2100.

    Dalam skenario ini, emisi gas rumah kaca tahun 2030 harus turun sebesar 26 persen dan emisi tahun 2035 sebesar 46 persen dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 2019.

    Tersedia alat untuk tindakan yang lebih cepat, tetapi iklim politik menantang
    Sejak diadopsinya Perjanjian Paris sepuluh tahun lalu, prediksi suhu telah turun dari 3-3,5°C.

    Teknologi rendah karbon yang dibutuhkan untuk mencapai pengurangan emisi yang signifikan telah tersedia. Pengembangan energi angin dan surya sedang berkembang pesat, menurunkan biaya penerapan.

    Ini berarti komunitas internasional dapat mempercepat aksi iklim, jika mereka memilih untuk melakukannya.

    Namun, mencapai pengurangan yang lebih cepat membutuhkan navigasi lingkungan geopolitik yang menantang, juga peningkatan dukungan yang besar kepada negara-negara berkembang, serta perancangan ulang arsitektur keuangan internasional.

    Baca: Jelang COP 30, PBB serukan masyarakat global lebih serius lakukan aksi iklim

  • Dari SNDC yang Masuk, Emisi Gas Rumah Kaca Global Akan Turun 12 Persen pada 2035

    Dari SNDC yang Masuk, Emisi Gas Rumah Kaca Global Akan Turun 12 Persen pada 2035

    7cloud.asia – Laporan terbaru tentang janji iklim negara-negara penandatangan Perjanjian Paris mengungkapkan bahwa emisi gas rumah kaca yang ditambahkan ke atmosfer dapat menurun 12 persen pada tahun 2035 dibandingkan tingkat tahun 2019.

    Angka yang direvisi ini sedikit lebih tinggi daripada yang disajikan dalam analisis bulan lalu, karena memperhitungkan janji iklim yang diajukan sejak batas waktu analisis sebelumnya.

    Laporan baru ini, yang diluncurkan Senin (10/11/2025) oleh Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), memperhitungkan 86 rencana iklim yang diajukan oleh 113 Pihak antara 1 Januari 2024 dan 9 November 2025.

    Secara keseluruhan, rencana-rencana ini yang dituangkan dalam Second Nationally Determined Contribution– menempatkan dunia pada jalur yang tepat untuk mengurangi emisi sebesar 12 persen emisi gas rumh kaca dalam 10 tahun ke depan. ⁠

    Baca: UNFCCC tegaskan transisi yang berkeadilan tak bisa ditunda

    Tanpa Perjanjian Paris, Bumi akan mengalami peningkatan emisi antara 20-48 persen pada tahun 2035 dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 2019, tambah laporan tersebut.

    Negara-negara penandatangan Perjanjian Paris diwajibkan untuk secara berkala menyerahkan NDC kepada UNFCCC. NDC tersebut merinci tujuan mitigasi dan adaptasi, dan membentuk fondasi bagi upaya kolektif dunia untuk mengatasi perubahan iklim.

    NDC harus diperbarui setiap lima tahun, yang mencerminkan ambisi yang semakin tinggi dan mempertimbangkan kapasitas masing-masing negara.

    “Perjanjian Paris menghasilkan kemajuan nyata,” ujar Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell kepada para delegasi di Belém, Brasil, pada hari pertama KTT iklim COP 30 PBB.

    “Itu merupakan pencapaian besar. Kita sekarang sedang menurunkan kurva emisi pemanasan global untuk pertama kalinya,” kata Stiell.

    Baca: Isu utama yang menjadi sorotan dalam penyelenggaraan COP 30

  • Langkah Kecil Turunkan Emisi Berkontribusi Besar dalam Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

    Langkah Kecil Turunkan Emisi Berkontribusi Besar dalam Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Lebih dari satu dekade setelah Perjanjian Paris ditandatangani, masyarakat dunia terus mengeluarkan emisi gas rumah kaca dengan kecepatan yang luar biasa

    Emisi gas rumah kaca –-yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil– memanaskan planet Bumi secara berlebihan dan mengakibatkan perubahan iklim dengan cara yang seringkali membawa bencana.

    Namun para ahli mengatakan umat manusia masih memiliki waktu untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca dan menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim. Dan, kita, saya dan Anda dapat berkontribusi dalam upaya ini.

    “Pemerintah dan bisnis, karena ukuran dan pengaruhnya, harus menanggung sebagian besar beban untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Hongpeng Lei, Kepala Mitigasi Perubahan Iklim di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    “Tetapi Anda dan saya juga memiliki peran penting untuk dimainkan. Setiap sepersekian derajat pemanasan yang dapat kita hindari akan membuat planet ini menjadi tempat yang lebih sehat dan lebih layak huni.”

    Para ahli mengatakan sangat penting bagi orang-orang terkaya di dunia untuk serius tentang emisi karbon mereka. Hanya 10 persen dari populasi planet ini bertanggung jawab atas hampir setengah dari emisi.

    Baca: Mematikan Mesin Saat Lampu Merah Efektif Turunkan Emisi Karbon

    Jadi, jika ingin menjalani hidup yang lebih ramah lingkungan, berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

    1. Utamakan jalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi publik
    Transportasi adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar, sebagian besar berasal dari mengemudi.

    Oleh karena itu, untuk perjalanan singkat, para ahli merekomendasikan berjalan kaki atau bersepeda. Selain mengurangi emisi, pilihan tersebut akan mengurangi polusi, mengurangi kemacetan, dan meningkatkan kesehatan Anda.

    Untuk perjalanan yang lebih jauh, cobalah transportasi publik atau berbagi kendaraan.Tidak menggunakan mobil dapat menghemat hingga 2 ton emisi karbon dioksida per tahun.

    2. Hemat dengan penggunaan energi Anda
    Menggunakan lebih sedikit listrik — yang sebagian besar masih berasal dari pembakaran bahan bakar fosil — adalah salah satu cara tercepat dan termurah untuk mengurangi emisi. Sebagai manfaat tambahan, ini juga akan menurunkan tagihan listrik Anda.

    “Hal-hal sederhana, seperti beralih ke LED dan peralatan hemat energi, mencuci pakaian dengan air dingin, dan mengeringkan pakaian dengan udara, dapat membuat perbedaan yang signifikan,” kata Lei.

    Baca: Investasi di Sektor Transportasi Publik Berdampak Signifikan pada Lingkungan

    “Kebiasaan kecil akan memberikan dampak besar.”

    Perangkat elektronik kita juga bisa boros energi, jadi para ahli menyarankan untuk membatasi penggunaan data yang tidak perlu dan memilih teknologi yang efisien, jika memungkinkan.

    Karena produksi barang-barang seperti telepon dan komputer juga merupakan proses yang intensif energi, pertimbangkan untuk menyimpan perangkat Anda lebih lama dan memperbaikinya ketika rusak, daripada membuangnya.

    3. Jadikan rumah lebih efisien
    Sistem pemanas dan pendingin, seperti tungku dan AC, adalah konsumen energi yang rakus. Jadi, pertimbangkan untuk sedikit menyesuaikan termostat Anda – baik naik atau turun – untuk meminimalkan penggunaan energi.

    Jika suhu panas menjadi masalah, investasikan pada apa yang dikenal sebagai pendinginan pasif. Hal-hal seperti atap reflektif, ventilasi silang, dan naungan alami dapat menurunkan suhu dalam ruangan hingga 8°C.

    Untuk dampak yang lebih besar pada emisi, tingkatkan isolasi rumah Anda atau beralih ke pompa panas, jenis sistem pemanas dan pendingin rumah yang sangat efisien.

    Peningkatan ini dapat mengurangi emisi karbon Anda sekitar 900 kilogram per tahun dan menurunkan tagihan energi Anda pada saat yang bersamaan.

  • Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Isi Piring Kamu

    Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Isi Piring Kamu

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim, kini kian terasa nyata, dan emisi gas rumah kaca menjadi penyebab itu semua.

    Kepala Mitigasi Perubahan Iklim di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Hongpeng Lei mengatakan, karena ukuran dan pengaruhnya, pemerintah dan bisnis harus menanggung sebagian besar beban untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Namun, setiap warga dunia dapat berkontribusi dengan menurunkan jejak karbon mereka.

    “Tetapi Anda dan saya juga memiliki peran penting untuk dimainkan. Setiap sepersekian derajat pemanasan yang dapat kita hindari akan membuat planet ini menjadi tempat yang lebih sehat dan lebih layak huni,” ujar Lei seperti dikutip dari laman resmi unep.org, Rabu (20/5/2026).

    Dalam tulisan sebelumnya, telah diulas bagaimana kita bisa berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca lewat transportasi dan konsumsi energi kita.

    Dalam tulisan ini kita akan melihat apa yang bisa dilakukan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dengan cara kita mengonsumsi pangan dan kebutuhan lainnya.

    Baca: Langkah Kecil Turunkan Emisi Berkontribusi Besar dalam Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

    Jadi, jika ingin menjalani hidup yang lebih ramah lingkungan, berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

    1. Ubah pola makan Anda
    Pilihan makanan sangat penting dalam kampanye melawan perubahan iklim. Makanan berbasis hewan, terutama daging merah, produk susu, dan udang budidaya, dikaitkan dengan emisi gas rumah kaca tertinggi.

    Sementara itu, makanan nabati, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, kacang polong, dan lentil, umumnya lebih ramah terhadap iklim. (Makanan nabati juga menggunakan lebih sedikit lahan dan air.)

    Jadi, cobalah mengonsumsi makanan yang lebih kaya nabati, yang menyediakan energi dan nutrisi dari beberapa kelompok makanan yang berbeda.

    2. Jangan membuang makanan
    Rumah tangga di seluruh dunia membuang lebih dari 1 miliar makanan setiap hari. Membuang makanan berarti menyia-nyiakan energi, lahan, dan pupuk yang digunakan untuk memproduksinya.

    “Merencanakan makanan, hanya membeli apa yang Anda butuhkan, menyimpan makanan dengan benar, dan menggunakan sisa makanan dapat membantu mengurangi pemborosan,” kata Lei.

    Baca: Industri Peternakan Sumbang 41 Persen Deforestasi atau Penebangan Hutan Dunia

    “Dengan melakukan perubahan kecil ini, Anda tidak hanya akan menurunkan emisi dan melestarikan sumber daya untuk generasi mendatang, tetapi juga menghemat uang.”

    Jika Anda perlu membuang makanan, pertimbangkan untuk mengompos sisa makanan Anda. Hal ini dapat secara signifikan mengurangi jumlah metana dan karbon dioksida – dua gas rumah kaca umum – yang dilepaskan oleh limbah organik.

    3. Beli lebih sedikit barang, gunakan lebih lama
    Semua yang kita beli memiliki harga karbon. Misalnya, dibutuhkan energi – yang seringkali berasal dari bahan bakar fosil – untuk mengekstrak bahan mentah, memproduksi suatu produk, dan mengirimkannya ke seluruh dunia.

    Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi emisi adalah dengan mengurangi konsumsi. Perbaiki apa yang bisa Anda perbaiki, gunakan kembali apa yang Anda miliki, dan daur ulang jika memungkinkan.

    Hal ini sangat penting di negara-negara berpenghasilan tinggi, di mana konsumsi sangat mencolok dan emisi gas rumah kaca per kapita seringkali jauh lebih tinggi daripada negara-negara berkembang.

    Sebagai contoh, rata-rata orang di Amerika Utara mengeluarkan sekitar 20 ton karbon per tahun, dibandingkan dengan 1,6 ton untuk seseorang di Afrika Sub-Sahara.

    Baca: Mematikan Mesin Saat Lampu Merah, Efektif Memangkas Emisi Gas Rumah Kaca

  • Setiap Orang Dapat Berkontribusi: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Setiap Orang Dapat Berkontribusi: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim yang dipicu emisi gas rumah kaca kian nyata. Karena itu dibutuhkan langkah segera agar kondisi ini tidak semakin membruk.

    Karena ukuran dan pengaruhnya, pemerintah dan pelaku usaha sudah seharusnya menanggung sebagian besar beban untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ini.

    Namun demikian, Kepala Mitigasi Perubahan Iklim di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Hongpeng Lei mengatakan bahwa setiap warga dunia dapat berkontribusi dengan menurunkan jejak karbon mereka.

    “Anda dan saya juga memiliki peran penting untuk dimainkan. Setiap sepersekian derajat pemanasan yang dapat kita hindari akan membuat planet ini menjadi tempat yang lebih sehat dan lebih layak huni,” ujar Lei seperti dikutip dari laman resmi unep.org, Rabu (20/5/2026).

    Dalam tulisan sebelumnya, telah diulas bagaimana kita bisa berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca lewat transportasi, penggunaan energi dan pola konsumsi pangan.

    Baca: Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Isi Piring Kamu

    Dalam tulisan ini kita akan melihat apa yang bisa dilakukan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dengan cara kita mempengaruhi pengambil kebijakan dengan sumber daya yang dimiliki.

    “Tindakan kita dapat membantu mengubah norma dan sistem dari waktu ke waktu. Tetapi dibutuhkan kerja sama semua orang.” tandasnya.

    1. Beli lebih sedikit barang, gunakan lebih lama
    Semua barang yang kita beli dan alat yang kita gunakan memiliki harga karbon. Misalnya, dibutuhkan energi – yang seringkali berasal dari bahan bakar fosil – untuk mengekstrak bahan mentah, memproduksi produk, dan mengirimkannya ke seluruh dunia.

    Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi emisi adalah dengan mengurangi konsumsi. Perbaiki apa yang bisa Anda perbaiki, gunakan kembali apa yang Anda miliki, dan daur ulang jika memungkinkan.

    Hal ini sangat penting di negara-negara berpenghasilan tinggi, di mana konsumsi sangat mencolok dan emisi gas rumah kaca per kapita seringkali jauh lebih besar daripada negara-negara berkembang.

    Baca: Langkah Kecil Turunkan Emisi Berkontribusi Besar dalam Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

    Misalnya, rata-rata orang di Amerika Utara mengeluarkan sekitar 20 ton karbon per tahun, dibandingkan dengan 1,6 ton untuk seseorang di Afrika Sub-Sahara.

    2. Pilih barang yang ramah lingkungan
    Anda juga dapat berkontribusi pada pengurangan emisi rumah kaca dengan mengonsumsi barang yang proses produksinya memperhatikan kelestarian lingkungan.

    Mengonsumsi produksi lokal atau pangan lokal adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Karena dengan mengonsumsi produk lokal artinya lebih sedikit emisi gas rumah kaca karena jarak distribusi yang pendek.

    Anda juga dapat menghindari membeli barang yang dalam proses produksinya harus merusak lingkungan dan menghasilkan banyak polutan.

     

    3. Lindungi hutan di sekitar Anda
    Hutan sangat penting dalam perjuangan melawan perubahan iklim. Hutan menyimpan sejumlah besar karbon yang menyebabkan pemanasan global, yang jika dilepaskan ke atmosfer dapat memperburuk krisis iklim.

    Anda dapat melindungi ekosistem penting ini dengan memilih produk kayu dan kertas yang berkelanjutan, dan mendukung upaya untuk menghidupkan kembali hutan.

    4. Gunakan suara dan dompet Anda.
    Dengan bersuara, mendukung kebijakan ramah iklim, dan membuat pilihan sadar sebagai konsumen, pemilih, dan anggota masyarakat, individu dapat mendorong perubahan yang lebih luas.

    Konsumen juga memiliki pengaruh melalui produk yang mereka beli, perusahaan yang mereka dukung, dan pemimpin yang mereka pilih, bahkan bank yang mereka pilih—karena lembaga keuangan mendanai proyek-proyek yang membentuk masa depan kita.

    “Meskipun individu saja tidak dapat menyelesaikan krisis iklim, pilihan pribadi dapat membantu mengurangi emisi, memengaruhi pasar, dan membangun dukungan untuk tindakan yang lebih luas,” kata Lei.