7cloud.asia – Sebuah laporan PBB yang dirilis Selasa (4/11/2025) menyebut bahwa emisi gas rumah kaca global pada 2024 meningkat sebesar 2,3 persen dan mencatat rekor tertinggi yakni 57,7 miliar ton.
Emisi gas rumah kaca tersebut jauh melebihi target yang ditetapkan dalam perjanjian iklim Paris 2015 untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius (°C) di atas tingkat pra-industri.
Laporan tersebut juga memperingatkan suhu global dapat meningkat hingga 2,8°C pada abad ini kecuali ada tindakan cepat untuk mengatasinya.
Bahkan jika semua negara yang terlibat Perjanjian Paris mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca mereka pada 2035, suhu global diproyeksikan akan naik sebesar 2,3 hingga 2,5°C, menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP).
“Ini akan sulit untuk dibalikkan –memerlukan pengurangan tambahan yang lebih cepat dan lebih besar untuk emisi gas rumah kaca guna meminimalkan kelebihan emisi– dan mengurangi kerusakan terhadap kehidupan dan perekonomian,” demikian laporan itu memperingatkan.
Jika Amerika Serikat secara resmi menarik diri dari Perjanjian Paris, suhu global berpotensi naik sebesar 0,1°C tambahan, kata laporan itu
China tercatat memiliki emisi gas rumah kaca tertinggi pada 2024, yaitu 15,6 miliar ton. Amerika Serikat menyusul dengan 5,9 miliar ton, India dengan 4,4 miliar ton, Uni Eropa dengan 3,2 miliar ton, dan Rusia dengan 2,6 miliar ton.
Kelompok 20 negara dengan perekonomian besar (G20), tidak termasuk Uni Afrika, menyumbang 77 persen dari total emisi gas rumah kaca dan tindakan yang lebih ambisius dituntut dari negara-negara anggotanya.
Namun, mengingat skala pengurangan yang diperlukan dan waktu yang tersisa untuk mencapainya, suhu global rata-rata sangat mungkin melebihi 1,5°C dalam dekade berikutnya.
Untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C pada 2035, dibutuhkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 55 persen dibanding emisi pada tahun 2019.
Namun, bahkan meskipun semua negara memenuhi target mereka saat ini, pengurangan tersebut diproyeksikan hanya mencapai sekitar 15 persen, menurut laporan tersebut.
“Selama 10 tahun Perjanjian Paris, telah terjadi penurunan suhu yang cukup besar.Oleh karena itu, komunitas internasional sebaiknya mempercepat aksi iklim… Namun, kemauan politik untuk melakukannya masih kurang,” kata laporan itu.
Sekarang, fokus dunia akan beralih ke Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, yang dikenal sebagai COP 30, di Brasil bulan ini, terkait apakah diskusi di sana dapat menghasilkan penguatan aksi iklim dunia.
Sumber: Antaranews.com/Kyodo-OANA

Leave a Reply